facebooklogocolour

perspektif bagian 2Berikut adalah (draf) dokumen Perspektif Dunia 2021 yang memaparkan proses-proses fundamental ekonomi, sosial dan politik yang tengah berlangsung di dunia, guna mempersiapkan kaum revolusioner dalam kerja mereka. Dokumen ini akan diterbitkan dalam 6 bagian:

1) Dunia dalam Krisis Tanpa Preseden
2) Amerika Serikat: Prospek Revolusi Mulai Terbuka
3) Eropa & Rusia: Ketidakstabilan Di mana-mana
4) Asia: Badai Pandemi India & Perang Dagang China
5) Apakah Pemulihan Ekonomi Mungkin?
6) Perjuangan Kelas dan Tugas Kita

Amerika Serikat

AS kini menempati posisi sentral dalam perspektif dunia. Selama periode yang sangat lama, revolusi di negeri yang paling kaya dan kuat ini tampak seperti prospek yang sangatlah jauh. Tetapi AS terpukul keras oleh krisis ekonomi dunia dan sekarang semuanya telah terjungkir balik.

40 juta rakyat AS mendaftar untuk tunjangan pengangguran selama pandemi. Dan seperti lazimnya, lapisan yang paling miskin dan paling rentan, terutama kaum kulit berwarna, adalah yang paling menderita. Momok pengangguran paling membebani kaum muda. Separuh warga berumur di bawah 25 tahun kehilangan pekerjaan. Masa depan mereka tiba-tiba direnggut. Mimpi Amerika telah menjadi mimpi buruk Amerika.

Perubahan dramatis ini telah memaksa banyak orang, tua maupun muda, untuk mempertimbangkan ulang apa yang sebelumnya dianggap keramat dan mempertanyakan watak masyarakat dimana mereka hidup. Kemunculan Bernie Sanders di satu kutub spektrum politik dan Donald Trump di kutub lainnya membuat kelas penguasa amat cemas. Hal seperti ini tidak seharusnya terjadi.

Khawatir akan bahaya yang dapat datang dari situasi ini, kelas penguasa terpaksa mengambil langkah-langkah darurat. Mari kita ingatkan diri kita sendiri, bahwa seturut dogma resmi para ekonom borjuis, negara seharusnya tidak boleh campur tangan dalam kehidupan ekonomi.

Tetapi dihadapkan dengan bencana yang mengancam, kelas penguasa terpaksa mencampakkan semua teori ekonomi mereka ke tong sampah. Menurut teori pasar bebas, negara seharusnya hanya memainkan peran kecil atau nol sama sekali dalam kehidupan ekonomi; dan sekarang negara telah menjadi satu-satunya penopang sistem kapitalis.

Di semua negeri, dimulai dari AS, apa yang disebut ekonomi pasar bebas kini sesungguhnya disokong oleh mesin penunjang kehidupan, seperti seorang pasien virus korona. Kebanyakan uang yang digelontorkan oleh pemerintah langsung memenuhi kantung kaum kaya. Tetapi kelas penguasa takut akan konsekuensi politik dari bailout korporasi. Oleh karenanya mereka memberi bantuan langsung tunai ke setiap warga dan secara masif meningkatkan tunjangan pengangguran. Ini melunakkan dampak krisis pandemi yang dirasakan oleh lapisan rakyat termiskin. Cepat atau lambat, bantuan ini akan dikurangi atau dihentikan sepenuhnya.

Kita menyaksikan paradoks dimana kemiskinan yang teramat mengerikan di negeri terkaya di dunia berdampingan dengan kekayaan dan kemewahan yang teramat vulgar. Hingga Oktober 2020, lebih dari satu di antara lima keluarga Amerika tidak punya cukup uang untuk membeli makanan. Food bank (lembaga pemberi bantuan pangan) menjamur di mana-mana.

Ketidaksetaraan dan polarisasi

Tingkat ketidaksetaraan telah memecahkan semua rekor. Jurang antara yang kaya dan yang miskin telah menjadi tak terjangkau lagi. Pada 2020, kekayaan kaum miliarder dunia meningkat sebesar $1,9 triliun. Indeks Nasdaq 100 meningkat 40 persen dibandingkan sebelum pandemi. Nilai ekuitas-ekuitas global yang terdaftar, pada Februari 2021, meningkat sebesar $24 triliun semenjak Maret 2020.

Rata-rata pendapatan eksekutif utama perusahaan S&P 500 adalah 357 kali lipat pendapatan pekerja non-managerial. Rasio ini sekitar 20 kali lipat pada pertengahan 1960an. Pada akhir masa jabatan Ronald Reagan di 1989, rasio ini masih 28 kali lipat.

Untuk mengutip satu contoh saja, Jeff Bezos sekarang meraup lebih banyak uang dalam waktu satu detik dibandingkan upah satu minggu buruh biasa di AS. Ini membawa Amerika kembali ke masa “baron kapitalis perampok” (1870an hingga awal 1900an) yang dikecam oleh Presiden Theodore Roosevelt (1901-1909) sebelum Perang Dunia Pertama.

Dan ini memiliki dampaknya. Semua demagogi mengenai “kepentingan nasional,” “kita harus bersatu untuk melawan virus korona,” “kita semua berlayar dalam satu kapal yang sama,” terbongkar sebagai kemunafikan yang paling keji.

Massa rakyat siap berkorban di bawah situasi tertentu. Di masa perang, rakyat siap bersatu untuk melawan musuh bersama, dan ini benar. Mereka bersedia, setidaknya untuk sementara, untuk menerima taraf hidup yang lebih rendah dan juga, dalam tingkatan tertentu, menerima pengekangan terhadap hak-hak demokratik mereka.

Tetapi jurang yang memisahkan kaum yang berpunya dan kaum yang tak-berpunya tengah memperdalam polarisasi sosial dan politik, dan menciptakan mood yang meledak-ledak dalam masyarakat. Jurang ketidaksetaraan ini melemahkan semua usaha untuk menciptakan kesan persatuan dan solidaritas nasional, yang merupakan garis pertahanan utama bagi kelas penguasa.

Statistik Federal Reserve menunjukkan bahwa 10 orang terkaya di AS memiliki kekayaan bersih sebesar 80,7 triliun dolar AS pada akhir 2020. Ini setara dengan 375% PDB AS dan jauh di atas level historis.

Pajak lima persen terhadap kekayaan tersebut akan memberi kita 4 triliun dolar AS, atau seperlima PDB. Ini dapat membiayai semua pengeluaran pandemi. Tetapi para baron perampok ini tidak berniat membagi jarahan mereka. Kebanyakan dari mereka (termasuk Donald J Trump) menunjukkan kecenderungan tidak ingin membayar pajak sama sekali, apalagi pajak lima persen.

Satu-satunya solusi adalah ekspropriasi kekayaan para bankir dan kapitalis. Gagasan ini niscaya akan meraih semakin banyak dukungan, dan akan menyapu bersih kecurigaan yang masih tersisa terhadap sosialisme dan komunisme, bahkan di antara lapisan buruh yang telah diperdayai oleh demagogi Trump.

Ini telah mencemaskan ahli strategi kapital. Mary Callahan Erdoes, kepala manajemen aset dan kekayaan untuk JP Morgan, menarik kesimpulan yang tak terelakkan: “Kita akan dihadapkan dengan risiko besar ekstremisme dari situasi ini. Kita harus mencari jalan untuk beradaptasi, kalau tidak kita akan terjerumus ke dalam situasi yang sangat berbahaya.”

Penyerbuan Capitol Hill

Penyerbuan Capitol Hill, lokasi gedung Senat AS, pada 6 Januari adalah indikasi paling jelas bahwa krisis yang telah dihadapi oleh AS bukanlah krisis pemerintah semata, tetapi krisis keseluruhan rejim.

Peristiwa ini bukankah kudeta ataupun insureksi, tetapi ini dengan jelas mengungkapkan kegeraman mentah yang ada di kedalaman masyarakat Amerika dan juga munculnya perpecahan yang dalam di dalam pemerintah. Pada dasarnya, penyerbuan ini merupakan indikasi bahwa polarisasi dalam masyarakat telah mencapai titik kritis. Institusi demokrasi borjuis tengah diuji.

Ada kebencian yang membara terhadap kaum kaya dan kaum penguasa, para bankir, Wall Street, dan tatanan Washington secara umum (yang disebut “rawa-rawa”). Kebencian ini dengan cerdik diarahkan oleh demagog sayap-kanan Donald Trump.

Tentu saja, Trump sendiri adalah buaya yang paling licik dan buas yang hidup di rawa-rawa ini. Dia hanya mengejar kepentingannya sendiri. Tetapi dengan melakukan ini, dia dengan serius merusak kepentingan kelas penguasa secara keseluruhan. Dia telah bermain-main dengan api dan mengerahkan kekuatan yang tidak akan bisa dikendalikan olehnya ataupun oleh siapapun.

Dengan perkataan dan perbuatan, Trump telah menghancurkan legitimasi institusi borjuis dan menciptakan ketidakstabilan yang besar. Inilah mengapa kelas penguasa dan para perwakilan politiknya di mana-mana sangatlah gusar dengan tingkah laku Trump.

Pemakzulan (Impeachment)

Kaum Demokrat mencoba memakzulkan Trump, dengan menuduhnya telah mengorganisasi insureksi. Tetapi, seperti yang telah diperkirakan, mereka gagal meyakinkan Senat untuk menyatakan Trump bersalah, yang akan melarangnya untuk berlaga kembali di pilpres.

Kebanyakan senator Republiken sesungguhnya akan dengan senang hati melakukan ini. Mereka membenci dan juga takut pada politisi pemula ini. Dan mereka tahu dengan sangat baik siapa dalang peristiwa pada 6 Januari. Pemimpin Senat Republiken Mitch McConnell memberikan pidato pedas yang mengecam mantan Presiden Trump, setelah memberi suara untuk membebaskannya.

Pada kenyataannya, dia dan para senator Republiken lainnya takut terhadap reaksi dari para pendukung Trump bila mereka melawan Trump. Mereka memutuskan untuk lebih hati-hati, dan dengan menutup hidung mereka menyatakan Trump tidak bersalah.

Tetapi bila penyerbuan Capitol Hill adalah usaha insureksi, maka ini adalah insureksi yang menyedihkan. Alih-alih insureksi, ini lebih seperti kerusuhan besar. Massa pendukung Trump yang geram menyerbu masuk gedung Capitol dengan bantuan yang jelas dari setidaknya beberapa pengawal gedung. Tetapi, setelah dengan mudah menduduki gedung demokrasi borjuis AS yang paling keramat, mereka tidak tahu sama sekali apa yang harus mereka lakukan.

Massa yang tak terorganisir dan tak punya pemimpin ini mondar mandir tanpa tujuan, dan mengobrak-abrik apapun yang tidak mereka sukai dan mengumpati Demokrat Nancy Pelosi, wakil presiden Republiken Mike Pence, dan Mitch McConnell, yang mereka tuduh sebagai pengkhianat. Sementara, sang pemimpin insureksi Donald Trump telah meninggalkan lokasi dengan nyamannya.

Bila sejarah mengulang dirinya, pertama kali sebagai tragedi dan kemudian sebagai lelucon, ini adalah lelucon yang terbaik. Pada akhirnya, tidak ada seorang pun yang digantung atau dipancung. Setelah berteriak ke sana ke mari sampai kecapaian, para “insureksioner” ini pulang ke rumah dengan tertib atau singgah ke bar untuk mabuk dan membual mengenai pencapaian mereka yang berani itu, dan meninggalkan tidak lebih dari setumpukan sampah dan beberapa ego yang terluka.

Kendati demikian, dari sudut pandang kelas penguasa, penyerbuan ini menciptakan preseden berbahaya untuk masa depan. Ray Dalio, pendiri hedge fund terbesar di dunia, Bridgewater Associates, mengatakan ini: “Kita ada di tepi jurang perang sipil yang mencekam. AS ada di ujung tanduk, dan dapat jatuh dari ketegangan internal yang bisa dikelola ke revolusi.” Penyerbuan Capitol Hill adalah tanda peringatan serius bagi kelas penguasa. Dan ini jelas memiliki konsekuensinya. Kendati laporan media yang bermusuhan, 45 persen pemilih Republiken merasa bahwa penyerbuan ini dapat dibenarkan.

Tetapi ini harus dibandingkan dengan satu fakta yang jauh lebih signifikan, yakni 54% dari semua warga AS berpendapat bahwa dibakarnya kantor polisi Minneapolis adalah sesuatu yang dapat dibenarkan. Dan 10 persen dari seluruh populasi AS terlibat dalam gerakan protes Black Lives Matter, yaitu 10 sampai 20 ribu kali lipat lebih besar jumlahnya dibandingkan para demonstran Capitol Hill. Semua ini menunjukkan pesatnya polarisasi sosial dan politik di AS.

Demonstrasi-demonstrasi spontan yang menyapu AS dari barat sampai timur menyusul dibunuhnya George Floyd, dan peristiwa-peristiwa tanpa-preseden sebelum dan sesudah pilpres menandai sebuah titik balik dalam keseluruhan situasi.

Perubahan kesadaran

Kaum liberal dan reformis yang bodoh seperti biasanya tidak memahami apa yang tengah terjadi. Mereka hanya melihat apa yang ada di permukaan, tanpa memahami arus-arus dalam yang sedang mengalir dengan derasnya di bawah permukaan dan mendorong gelombang-gelombang di permukaan.

Mereka terus berteriak mengenai fasisme, yang berarti apapun yang tidak mereka sukai atau yang mereka takuti. Mengenai watak sesungguhnya fasisme, mereka tidak tahu sama sekali. Tetapi dengan terus berbicara mengenai “ancaman terhadap demokrasi” (yang mereka maksud adalah demokrasi borjuis formal), mereka menyebar kebingungan dan mempersiapkan landasan untuk kolaborasi kelas di bawah panji “terbaik dari yang terburuk.” Dukungan mereka terhadap Biden di AS adalah contoh jelas dari kebijakan ini.

Yang harus kita pertimbangkan adalah basis Trump memiliki karakter yang sangat heterogen dan kontradiktif. Basis ini memiliki sayap borjuisnya, yang dikepalai oleh Trump, dan selapisan besar borjuasi kecil reaksioner, kaum fanatik agama dan elemen-elemen yang secara terbuka fasis.

Tetapi kita harus ingat bahwa Trump menerima suara dari 74 juta orang di pilpres sebelumnya, dan banyak dari mereka adalah rakyat kelas pekerja yang sebelumnya memilih Obama tetapi telah menjadi kecewa terhadap Partai Demokrat. Ketika mereka diwawancarai, mereka mengatakan: “Washington tidak peduli dengan kami! Kami adalah rakyat yang terlantar!”

Ada ayunan keras ke kiri dan ke kanan. Alam membenci kekosongan, dan karena kebangkrutan kaum reformis, termasuk kaum reformis kiri, mood kemarahan dan frustrasi ini telah digunakan oleh para demagog sayap-kanan, yang biasa disebut populis. Di AS kita memiliki fenomena Trumpisme, dan di Brasil kita saksikan kebangkitan Bolsonaro.

Tetapi daya tarik para demagog sayap-kanan ini segera menguap ketika bersentuhan dengan realitas pemerintah, seperti yang ditunjukkan oleh Bolsonaro. Trump memang masih didukung jutaan orang, tetapi dia telah disingkirkan dari pemerintah.

Menarik untuk dicatat bahwa beberapa hari sebelum penyerbuan Capitol Hill, senator Missouri Josh Hawley mengatakan: “Para perwakilan Republiken di Washington akan kesulitan untuk memahami ini ... Tetapi masa depannya jelas: kita harus menjadi partainya kelas buruh, dan bukan partainya Wall Street.” (The Guardian).

Lenin mengatakan, sejarah mengenal berbagai macam transformasi yang unik. Kaum Marxis harus mampu memilah apa yang progresif dari apa yang reaksioner. Kita harus memahami bahwa dari semua peristiwa ini, dalam bentuk embrio, ada garis-garis perkembangan revolusioner di AS di masa depan.

Tentu saja, senator Republiken yang reaksioner ini tidak punya niatan sama sekali untuk mendirikan sebuah partai kelas buruh yang sejati di AS, dan partai semacam ini tidak akan muncul dari pecahan sayap-kanan Partai Republiken. Tetapi guncangan dalam sistem dua-partai ini jelas adalah pembukaan untuk sesuatu yang sepenuhnya baru: munculnya partai ketiga yang dapat menantang dominasi Partai Republik dan Partai Demokrat.

Partai semacam ini awalnya akan memiliki sebuah karakter yang sepenuhnya kacau balau dan heterogen. Tetapi elemen anti-kapitalis akan cepat atau lambat mendominasi. Inilah ancaman nyata terhadap tatanan yang ada. Ketika massa mulai secara langsung mengintervensi politik, ketika mereka memutuskan bahwa waktunya sudah tiba bagi mereka untuk menentukan nasib mereka sendiri, ini sendiri adalah gejala perkembangan revolusioner yang akan datang.

Para ahli strategi Kapital yang serius paham akan implikasi berbahaya yang terkandung di dalam gejolak hari ini, dan mereka memahaminya jauh lebih baik daripada kaum borjuasi kecil yang impresionistik dan cepat panik. Pada 30 Desember 2020, Financial Times menerbitkan sebuah editorial yang sangat menarik.

Editorial ini memberikan gambaran mengenai proses yang tengah bergulir, dan ke mana ini akan mengarah, dan kesimpulan-kesimpulan yang ditariknya dari semua ini sangatlah mengkhawatirkan dari sudut pandang kelas borjuasi:

“Lapisan-lapisan yang terlantar dari perubahan ekonomi semakin menyimpulkan bahwa yang berkuasa tidaklah peduli pada nasib mereka – atau lebih parahnya, telah menyiasati ekonomi untuk keuntungan mereka sendiri dan mengorbankan orang-orang yang ada di pinggiran.”

“Perlahan tapi pasti, ini membenturkan kapitalisme dan demokrasi. Semenjak krisis finansial global [2008], perasaan dikhianati ini telah mendorong reaksi perlawanan politik terhadap globalisasi dan institusi demokrasi liberal.”

“Populisme sayap-kanan dapat tumbuh subur di atas reaksi perlawanan ini, sementara tidak menyentuh sama sekali pasar kapitalis.”

“Tetapi karena ‘populisme sayap-kanan’ tidak dapat memenuhi janjinya kepada rakyat yang secara ekonomi tertindas, maka hanya menunggu waktu saja sebelum garpu rumput akan diarahkan untuk melawan kapitalisme itu sendiri, dan kaum kaya yang menikmati keuntungan darinya.”

Artikel editorial ini menunjukkan pemahaman yang sempurna mengenai dinamika perjuangan kelas. Bahkan bahasa yang digunakannya sangat signifikan. Dipersenjatai dengan garpu rumput merupakan analogi dengan Revolusi Prancis, atau Pemberontakan Tani 1381, dimana kaum tani menduduki London.

Penulis editorial ini memahami dengan sangat baik bahwa tumbuhnya populisme sayap-kanan dapat menjadi tahapan pertama sebelum ledakan revolusi. Ayunan keras opini publik ke kanan dapat dengan mudah menjadi persiapan untuk bahkan ayunan yang lebih keras ke kiri oleh massa rakyat yang kecewa yang sedang mencari jalan keluar dari krisis ini

Ini adalah prediksi yang sangat perseptif mengenai bagaimana peristiwa dapat bergulir di periode mendatang. Dan tidak hanya di AS. Gejolak-gejolak besar ini dapat dirasakan pula di banyak negeri lainnya, kalau bukan di setiap negeri. Di bawah permukaan, mood kegeraman, kepahitan dan kebencian terhadap tatanan yang ada tengah berkembang.

Runtuhnya Politik Tengah

Institusi demokrasi borjuis dilandaskan pada asumsi bahwa jurang antara yang kaya dan miskin dapat ditutupi dan dikelola dalam batas-batas yang dapat diterima. Tetapi ini sudah tidak lagi demikian.

Ketidaksetaraan kelas yang semakin menganga telah melahirkan polarisasi sosial sampai pada tingkatan yang tidak pernah terlihat selama puluhan tahun. Ini tengah menguji mekanisme tradisional demokrasi borjuis sampai ambang batasnya, dan melampaui batas-batas tersebut.

Antagonisme antara yang kaya dan miskin terus menajam setiap harinya. Ini menyediakan dorongan besar bagi kekuatan sentrifugal yang semakin memisahkan kelas-kelas. Inilah alasan runtuhnya apa yang disebut Politik Tengah.

Ini membuat cemas kelas penguasa, yang merasa kekuasaan semakin lolos dari cengkeramannya. Partai-partai penguasa di mana-mana dilihat oleh massa identik dengan pemotongan dan serangan terhadap taraf hidup mereka.

Ada perasaan geram dalam masyarakat. Perasaan ini mengekspresikan dirinya dalam runtuhnya kepercayaan terhadap institusi-institusi resmi, partai, pemerintah, politisi, bankir, kaum kaya, polisi, sistem pengadilan, hukum, tradisi, agama, dan moralitas dari sistem yang ada. Orang semakin tidak percaya apa yang mereka baca di koran dan tonton di TV. Mereka dapat melihat perbedaan antara apa yang dikatakan dan apa yang terjadi, dan mereka sadar tengah dibohongi.

Ini tidak selalu demikian. Di masa lalu, kebanyakan orang tidak menaruh perhatian pada politik. Begitu juga dengan buruh. Percakapan di tempat-tempat kerja biasanya mengenai sepak bola, film, dan tayangan acara TV. Politik jarang sekali dibicarakan, dan mungkin hanya pada saat pemilu.

Sekarang, semua ini telah berubah. Massa mulai tertarik pada politik, karena mereka mulai menyadari bahwa politik secara langsung mempengaruhi kehidupan mereka dan keluarga mereka. Ini dalam dirinya sendiri adalah ekspresi dari sebuah gerak menuju revolusi.

Di masa sebelumnya, bila orang mencoblos, biasanya mereka akan mencoblos partai yang sama yang telah dicoblos oleh orang tua dan kakek nenek mereka sebelumnya. Sekarang, pemilu telah menjadi sangat tak bisa diprediksi. Mood para pemilih dipenuhi kemarahan, ketidakpercayaan, dan sangat cepat berubah, mengayun dengan cepat dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri.

Perspektif untuk administrasi Biden

Para ahli strategi Kapital mengenali bahaya besar di dalam polarisasi ini dan dengan putus asa berusaha sekeras mungkin untuk membangun kembali “Politik Tengah.” Tetapi secara objektif tidak ada landasan objektif untuk ini. Dalam individu bernama Joe Biden, mereka tengah bersandar pada pohon yang rapuh.

Wall Street kini menaruh harapan mereka pada administrasi Biden dan kampanye vaksinasinya. Tetapi Biden sedang memerintah di tengah krisis ekonomi dan politik yang dalam, di sebuah bangsa yang terpecah belah dan sedang uzur.

Dia didorong oleh kelas penguasa untuk memperhebat intervensi negara dalam perekonomian, dan dengan cepat dia memproklamirkan rencana paket stimulus ekonomi sebesar 1,9 triliun dolar AS. Bila kita tambahkan paket 900 miliar dolar AS yang sebelumnya telah disetujui oleh Kongres dan dana 3 triliun dolar AS yang telah digelontorkan pada awal pandemi, ini semua menumpuk menjadi gunung hutang. Kelas penguasa tengah berusaha dengan mati-matian untuk memulihkan kestabilan politik.

Profesor Harvard University Kenneth Rogoff berkomentar seperti ini: “Saya sangat simpatik dengan apa yang sedang dilakukan Biden ... Ya, ada risiko kalau kita akan dihadapkan dengan ketidakstabilan ekonomi di hari depan nanti, tetapi kita tengah menghadapi ketidakstabilan politik sekarang.” Semua ini sedang mempersiapkan krisis yang besar di hari depan.

Sementara, jutaan warga bersungut-sungut tidak percaya kalau Biden memenangkan pilpres kemarin. Apapun yang dia lakukan akan dianggap salah oleh mereka. Di sisi lain, harapan besar dari banyak pendukungnya akan menguap seperti setetes air di panci yang panas, setelah perasaan lega akan tersingkirnya Trump telah menghilang. Dan walaupun Biden akan menikmati masa bulan madu untuk sementara, kekecewaan besar akan menyusul, mempersiapkan jalan untuk gejolak dan kekacauan baru.

Amerika Latin

Amerika Latin adalah salah satu wilayah di dunia yang terdampak paling parah oleh Covid-19, dari sudut pandang kesehatan publik dan juga sudut pandang krisis ekonomi.

PDB wilayah ini telah menyusut sebesar 7,7 persen pada 2020, yang merupakan penyusutan terbesar dalam 120 tahun. Ini menyusul satu dekade stagnasi, dengan pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 0,3 persen selama 2014-2019. Wilayah ini diperkirakan hanya akan pulih kembali pada 2024. Tingkat kemiskinan ekstrem telah kembali ke level 1990.

Ini telah menghasilkan gejolak sosial dan politik bahkan sebelum pandemi dimulai. Di Amerika Latin, gerakan pemberontakan 2019 (Ekuador, Chile), yang merupakan bagian dari gerakan di seluruh dunia (Algeria, Sudan, Irak, Lebanon, dsb.), untuk sementara terhentikan oleh pandemi yang menyapu benua ini dengan konsekuensi-konsekuensi yang menghancurkan.

Jumlah kematian di Brasil adalah salah satu yang tertinggi di dunia, dan Peru juga terpukul keras. Di Ekuador peti-peti mati menumpuk di teras rumah-rumah duka yang penuh, dan di sejumlah tempat mayat-mayat bergelimpangan di jalan-jalan tak terurus.

Akan tetapi, pada paruh kedua 2020, kita menyaksikan kembalinya gerakan insureksi massa. Pada September 2020, ada ledakan kegeraman massa di Kolombia yang dipicu oleh pembunuhan yang dilakukan polisi, dengan terbakarnya 40 pos polisi. Di Peru, gerakan massa melengserkan dua pemerintah. Dan gerakan protes di Guatemala berakhir dengan dibakarnya gedung parlemen.

Di Brasil, kaum Kiri dan sektarian ribut mengeluh mengenai kemenangan “fasisme”, tetapi sekarang dukungan terhadap Bolsonaro sudah anjlok. Slogan “Turunkan Bolsonaro” (Fora Bolsonaro) yang awalnya diluncurkan oleh kamerad-kamerad seksi Brasil kita, yang saat itu ditolak oleh Kiri sebagai slogan yang utopis, kini telah diterima.

Begitu lemahnya si “tangan besi” Bolsonaro sampai-sampai dia tidak bisa meluncurkan partainya sendiri. Walaupun dia telah berusaha mati-matian, sampai sekarang dia bahkan masih belum bisa mengumpulkan cukup tandatangan untuk mendaftar.

Masalahnya bukanlah kuatnya Bolsonaro tetapi lemahnya Kiri. Partai Buruh (PT) yang dulu menerima dukungan besar dari buruh, telah kalah secara masif di pemilu baru-baru ini. Di sini juga, masalahnya bukanlah kesulitan-kesulitan objektif tetapi kelemahan faktor subjektif.

Sementara Kuba dihadapkan dengan krisis ekonomi besar, yang dipicu oleh pandemi dan diperparah oleh kebijakan dan sangsi ekonomi Trump. Ekonomi Kuba menurun 11 persen pada 2020.

Ini telah memaksa kepemimpinan pemerintah Kuba untuk menerapkan serangkaian kebijakan pasar kapitalis, yang telah didiskusikan selama 10 tahun terakhir tetapi belum pernah sepenuhnya diterapkan, termasuk unifikasi mata uang, relasi pasar antara BUMN, penutupan BUMN yang merugi, menghapus subsidi bahan pangan pokok, dsb.

Kebijakan-kebijakan ini telah meningkatkan ketidaksetaraan dan menyebabkan kekecewaan. Ini adalah titik balik dalam proses menuju restorasi kapitalisme.

(bersambung ke bagian 3)

Bergabunglah dengan Perhimpunan Sosialis Revolusioner!

Form Pendaftaran

Form by ChronoForms - ChronoEngine.com