bolshevisme bab 30Masalah Kongres Soviet

Dari sudut pandang logika formal, bertahan dan menyerang adalah dua hal yang bertentangan. Namun, dalam praktiknya, mereka sering kali berkait kelindan. Perjuangan defensif, dalam kondisi tertentu, dapat diubah menjadi perjuangan ofensif, dan sebaliknya. Ada banyak kesamaan antara perang antar bangsa dan perang antar kelas. Tapi ada juga perbedaan. Angkatan bersenjata borjuis dipersiapkan, dibiayai, dan dipersenjatai selama puluhan tahun untuk keperluan perang. Staf jendral dapat memilih kapan dan di mana perang dimulai. Tentu saja, bahkan di sini, ini bukan murni masalah militer saja. Clausewitz menjelaskan bahwa perang adalah kelanjutan dari politik dengan cara lain. Kebijakan militer pemerintah borjuis ditentukan oleh kepentingan kelas borjuasi. Untuk alasan ini, kaum Marxis selalu menunjukkan bahwa masalah siapa yang menembak terlebih dahulu adalah pertimbangan yang sepenuhnya sekunder, yang tidak ada kaitannya dengan karakter konkret dari sebuah perang.

Setiap pemerintah dalam setiap perang selalu berusaha untuk menyalahkan musuh mereka sebagai pihak yang memulainya. Ini bukan kebetulan. Perang bukanlah hanya masalah militer, tetapi melibatkan politik. Mobilisasi opini publik, di dalam dan di luar negeri, untuk mendukung perang adalah masalah fundamental, yang hanya dapat diselesaikan di ranah politik. Napoleon menjelaskan, bahwa dalam peperangan moral memiliki signifikansi tiga kali lipat dibandingkan kekuatan fisik. Oleh karena itu, tugas fundamental dari diplomasi adalah untuk meyakinkan opini publik bahwa tentara mereka bertindak hanya untuk membela diri, yang merespons provokasi yang tidak dapat ditoleransi, yang merespons agresi musuh, dan sebagainya. Sebuah pemerintah yang tidak bertindak dengan cara ini akan melakukan kesalahan fatal, dan dapat merusak upaya perangnya.

Semua ini seribu kali lebih benar dalam revolusi sosialis. Proletariat, tidak seperti kelas penguasa, tidak memiliki tentara, dan tidak akan pernah memiliki angkatan bersenjata yang mampu melawan kekuatan negara borjuis, selama negara borjuis itu tetap utuh. Sementara perang konvensional terutama merupakan problem militer, di mana diplomasi memainkan peran penting tetapi subordinat, tugas revolusi sosialis terutama adalah tugas politik untuk memenangkan massa dan angkatan bersenjata.

Faktanya, mayoritas besar perjuangan kelas buruh dimulai sebagai perjuangan defensif: perjuangan untuk mempertahankan standar hidup, pekerjaan, hak-hak demokrasi, dll. Dalam keadaan tertentu, terutama dengan kepemimpinan yang tepat, perjuangan defensif ini dapat mempersiapkan jalan untuk serangan ofensif, termasuk pemogokan umum, yang mengajukan masalah kekuasaan. Namun, bahkan selama revolusi, kita harus menempatkan semua tanggung jawab atas kekerasan di pundak kelas penguasa, guna memenangkan massa, tidak hanya kelas buruh, tetapi juga borjuasi kecil. Oleh karena itu, tidak hanya benar, tetapi juga mutlak penting bahwa gerakan revolusi harus dipresentasikan sebagai upaya defensif. Sejak bulan Juni Lenin menulis:

“Kaum proletariat sosialis dan partai kita harus berkepala dingin dan bersikap setenang mungkin, harus menunjukkan keteguhan dan kewaspadaan terbesar. Biarkan kaum Cavaignac nantinya yang memulai dulu. Konferensi Partai kita telah memberikan peringatan tentang kedatangan mereka. Kaum buruh Petrograd tidak akan memberi mereka kesempatan untuk melepaskan tanggung jawab. Mereka akan menunggu waktu mereka, menghimpun kekuatan mereka dan mempersiapkan perlawanan ketika tuan-tuan terhormat itu memutuskan untuk beralih dari kata-kata ke tindakan.”[1]

Sejarah Revolusi Rusia, sebelum, selama, dan setelah Oktober, cukup untuk mendemonstrasikan hal ini. Menjelang Revolusi Oktober, ada perbedaan pendapat antara Lenin dan Trotsky mengenai tanggal pemberontakan. Lenin ingin melangkah langsung ke perebutan kekuasaan pada bulan September, sedangkan Trotsky mendukung penundaan pemberontakan sampai Kongres Soviet. Mengapa Trotsky mengambil posisi ini? Apakah dia tidak memiliki keberanian? Sama sekali tidak. Trotsky memahami bahwa, bahkan dalam sebuah revolusi, masalah legalitas sangat penting bagi massa. Trotsky yakin bahwa Partai Bolshevik akan mendapatkan mayoritas di Kongres, dan oleh karena itu dapat tampil di hadapan massa sebagai kekuasaan yang sah dalam masyarakat. Ini bukan masalah sekunder, tetapi merupakan faktor penting untuk memastikan peralihan kekuasaan secara damai. Sekali lagi, elemen esensialnya bukanlah militer, tetapi politik. Maka dari itu, kaum Bolshevik menyajikan pemberontakan Oktober sebagai tindakan defensif untuk mencegah Rusia terperosok ke dalam kekacauan dan perang saudara. Dan ini bukan kebetulan. Bahkan ketika kita berada dalam posisi untuk menyerang (yang tidak selalu terjadi), selalu perlu untuk bertindak dan berbicara seolah-olah kita sedang bertahan, dan menempatkan semua tanggung jawab atas kekerasan di tangan musuh.

Kamenev dan Zinoviev menentang pengambilalihan kekuasaan karena mereka dipengaruhi oleh tekanan opini publik borjuis dan kehilangan keberanian mereka. Mereka melebih-lebihkan kekuatan musuh dan memiliki penilaian pesimistis akan potensi daya tempur kelas buruh. Bagi mereka, penundaan berarti untuk selamanya. Sikap Kamenev ditunjukkan oleh percakapannya dengan Raskolnikov hanya beberapa minggu sebelum pemberontakan:

“Ketika saya bertemu kawan lama saya, L.B. Kamenev, saya langsung berdiskusi dengannya tentang ‘perbedaan kita’. Titik awal argumen Lev Borisovich adalah bahwa Partai kita belum siap untuk pemberontakan. Benar, kita memiliki massa besar dari berbagai lapisan di belakang kita, dan mereka siap sedia mensahkan resolusi-resolusi kita, tetapi masih ada jalan panjang yang harus ditempuh dari pemungutan suara ‘kertas’ ke partisipasi aktif dalam pemberontakan bersenjata. Tidak pasti bahwa garnisun Petrograd akan menunjukkan tekadnya dalam pertempuran, siap untuk menaklukkan kekuasaan atau mati. Ketika dihadapkan dengan keadaan kritis yang pertama, para prajurit akan meninggalkan kita dan melarikan diri.”

“‘Pemerintah, di sisi lain,’ kata Kamerad Kamenev, ‘memiliki pasukan yang terorganisir dengan sangat baik yang dapat digunakannya, yang setia di sisinya – pasukan Cossack dan kadet yang sangat menentang kita dan akan berjuang mati-matian sampai akhir’.”

“Menarik dari semua kesimpulan yang muram ini tentang peluang kemenangan kita, Kamerad Kamenev telah sampai pada pandangan bahwa upaya pemberontakan yang gagal akan mengakibatkan kekalahan dan keruntuhan Partai kita, yang akan melempar mundur kita dan menunda untuk waktu yang lama perkembangan revolusi.”[2]

Lenin begitu mendesak akan perlunya mengambil alih kekuasaan dengan segera, karena dia takut, dan ketakutannya bukan tanpa alasan, bahwa kaum Bolshevik Konsiliator akan membiarkan kesempatan itu hilang sama sekali. Tetapi keberatan Lenin terhadap penundaan pemberontakan sampai Kongres Soviet tidak memiliki alasan yang kokoh. Trotsky mendukung penundaan ini tidak hanya untuk memenangkan elemen-elemen yang goyah di KP, tetapi juga untuk alasan taktis yang masuk akal. Mayoritas buruh dan tentara masih patuh pada otoritas Soviet. Mereka akan mendukung perebutan kekuasaan atas dasar bahwa ini dilakukan atas nama Soviet, tetapi belum tentu akan mendukungnya kalau perebutan kekuasaan ini dilakukan atas nama Bolshevik saja. Oleh karena itu, pemberontakan harus bertepatan dengan Kongres Soviet, di mana kaum Bolshevik dan sekutu-sekutu mereka yakin dapat memenangkan mayoritas. Lenin ragu dengan siasat ini. Bukankah ini contoh lain dari keragu-raguan dan kretinisme parlementer yang legalistik?

Namun, posisi Trotsky jelas benar. Dia memahami kebutuhan untuk melanjutkan pekerjaan memenangkan Soviet sampai pada momen pemberontakan, untuk memobilisasi kekuatan maksimum untuk pemberontakan, dan meminimalkan perlawanan. Inilah sebabnya dia menentang Lenin dan mendukung penundaan pemberontakan agar bertepatan dengan Kongres Soviet di mana kaum Bolshevik akan memenangkan mayoritas. Jadi, bahkan selama pemberontakan, masalah legalitas, jauh dari diturunkan ke posisi yang tidak penting, mengambil peran penting dalam memenangkan lapisan massa yang lebih lembam. Seperti yang diusulkan Trotsky, pemberontakan meletus bertepatan dengan Kongres Soviet. Itu, tentu saja, tidak menghalangi kaum Stalinis untuk menebar fitnah bahwa proposal Trotsky “dalam praktiknya berarti mengacaukan pemberontakan dan memberi Pemerintahan Provisional kesempatan untuk mengerahkan pasukannya untuk menumpas pemberontakan pada hari Kongres dibuka.”[3]

Keputusan untuk mengorganisir pemberontakan diambil oleh Komite Pusat, atas desakan Lenin, pada 10 Oktober. Tampak jelas bahwa Lenin bermaksud memanfaatkan Kongres Soviet Wilayah Utara, yang berlangsung di Petrograd dari 11 hingga 13 Oktober, untuk memulai pemberontakan. Menurut Latsis, seorang Bolshevik dari Latvia, rencananya Kongres Utara akan mendeklarasikan dirinya sebagai pemerintah, dan ini akan menjadi tembakan awal pemberontakan. Ini adalah salah satu dari banyak kongres regional Soviet yang diadakan untuk persiapan Kongres Seluruh Rusia yang akan datang. Kongres ini didominasi oleh kaum kiri: 51 Bolshevik, 24 SR Kiri, empat Maximalis (sebuah kelompok teroris kecil, pecahan SR), seorang Menshevik Internasionalis, dan hanya sepuluh SR dan empat Menshevik, yang langsung walkout. Awalnya direncanakan akan diadakan di Helsingfors, Finlandia, Kongres ini lalu dipindahkan ke ibu kota sebagai tempat yang lebih cocok untuk memulai pemberontakan.

Dalam sebuah pesan kepada para delegasi Bolshevik untuk Kongres Wilayah Utara, Lenin menulis bahwa mereka akan menjadi “pengkhianat terhadap Internasional” jika mereka membatasi diri pada “resolusi belaka”. Tapi Kongres tidak memutuskan untuk meluncurkan pemberontakan segera. Sebaliknya, Kongres ini menelurkan sebuah resolusi yang mendeklarasikan pemerintah Soviet, tetapi menghubungkannya dengan Kongres Seluruh Rusia yang akan datang. Ini adalah mood umum pada saat itu. Laporan dari banyak daerah menunjukkan gambaran yang sama: bahwa kaum buruh akan siap untuk berjuang untuk pembentukan pemerintahan Soviet jika diproklamasikan oleh Kongres Soviet, tetapi belum tentu jika diproklamasikan oleh satu partai saja, Partai Bolshevik, tanpa otoritas Soviet. Selain itu, laporan-laporan internal, terutama dari Organisasi Militer Bolshevik, mengungkapkan kondisi ketidaksiapan yang mengecewakan dan “kekurangan-kekurangan yang mencolok”. Mungkin laporan-laporan ini dilebih-lebihkan. Organisasi Militer selalu cenderung terlalu mementingkan sisi teknis-militer saja, padahal dalam praktiknya, sisi politik sangat menentukan. Namun demikian, laporan-laporan ini memang mengungkapkan sesuatu. Setelah pengalaman pahit Hari-hari Juli, para aktivis Bolshevik takut terisolasi dan cenderung berhati-hati – mungkin terlalu berhati-hati. Namun demikian, menjadi semakin jelas bahwa partai belumlah siap baik secara psikologis maupun organisasional untuk mengambil lompatan yang menentukan. Perlu waktu beberapa minggu lagi. Dan itu sudah berarti bahwa pemberontakan akan bertepatan dengan Kongres Soviet Seluruh Rusia Kedua.

Bab Akhir Perebutan Kekuasaan

Dengan taktik yang terampil dan fleksibel, kaum Bolshevik berhasil secara drastis meningkatkan pengaruh mereka di Soviet-soviet pada bulan-bulan sebelum Oktober, sampai titik di mana, bersama dengan sekutu mereka, mereka memiliki mayoritas di Kongres Soviet. Fakta itulah yang menjelaskan karakter pemberontakan Oktober yang relatif damai. Alasan utamanya bukanlah militer, tetapi bahwa sembilan per sepuluh tugas revolusi telah dituntaskan sebelumnya. Arena perjuangan yang paling vital adalah di Soviet itu sendiri. Sejarawan Oskar Anweiler memberikan rincian berikut tentang hubungan antara partai-partai di Soviet pada malam menjelang pemberontakan:

“1) Dalam soviet-soviet buruh di hampir semua kota industri besar, kaum Bolshevik memiliki mayoritas, dan begitu juga di mayoritas soviet tentara di resimen-resimen. Titik-titik penting pengaruh mereka terpusat di:”

“a) Finlandia, Estonia, Petersburg dan wilayah sekitarnya, sebagian Front Utara dan angkatan laut; b) Zona industri pusat di sekitar Moskow; c) Ural; d) Siberia di mana mereka seimbang dengan SR.”

“2) Di soviet-soviet tani dan di soviet-soviet garis depan kaum SR masih merupakan kekuatan yang dominan. Sebuah sayap kiri yang kuat, yang akhirnya memisahkan diri dari partai SR dalam minggu-minggu menjelang Oktober, berada di sisi Bolshevik dan kerap membantu mereka untuk mendapatkan mayoritas di sebagian besar Soviet. SR moderat paling kuat di:”

“a) Wilayah Laut Hitam dan Volga Tengah; b) Ukraina (bersama dengan partai-partai Sosialis nasionalis); c) Front Timur, Tenggara dan Rumania.”

“3) Kaum Menshevik telah kehilangan posisi dominan mereka dalam soviet-soviet buruh hampir di mana-mana setelah bulan-bulan pertama revolusi. Hanya di Kaukasus, terutama di Georgia, di mana mereka juga memiliki basis tani, mereka jauh lebih kuat daripada kaum Bolshevik pada Oktober 1917.”

“4) Untuk pertama kalinya kelompok Maximalis dan anarkis memainkan peran penting di beberapa soviet. Mereka mendukung kaum Bolshevik pada bulan Oktober dan secara signifikan berkontribusi pada radikalisasi massa.”[4]

Anweiler melebih-lebihkan peran kaum anarkis dan maximalis, yang merupakan minoritas kecil, yang mewakili kecenderungan ultra-kiri yang selalu ada, tetapi tidak dapat memainkan peran nyata apa pun. Pertumbuhan kecil dari tendensi-tendensi semacam itu dalam sebuah revolusi adalah sesuatu yang normal. Lenin sendiri menjelaskan bahwa massa sudah mulai lelah menunggu. Satu dua buruh atau kadang-kadang kelompok-kelompok kecil buruh yang telah bergerak terlalu jauh di depan kelas mereka dapat tertarik pada slogan-slogan ultra-kiri yang terdengar radikal. Tetapi untuk setiap buruh seperti ini, ada 50, 100, atau 1.000 yang akan bergerak ke organisasi massa tradisional, bahkan bila organisasi massa ini berada di bawah kepemimpinan reformis. Alasan mengapa kaum anarkis tidak memainkan peran penting dalam Revolusi Rusia adalah karena adanya Partai Bolshevik. Dalam karya State and Revolution, Lenin menulis dengan simpatik tentang buruh anarkis, sambil mengkritik gagasan setengah matang mereka tentang negara, dan Lenin menunjukkan bahwa anarkisme (dan ultra-kiri pada umumnya) adalah harga yang harus dibayar oleh gerakan untuk oportunisme para pemimpin buruh reformis.

Di bawah kondisi Rusia, reformisme selalu merupakan tanaman yang lemah dan sakit-sakitan. Tidak ada tradisi serikat buruh dan Partai Buruh reformis yang kuat seperti di Eropa Barat. Namun demikian, untuk alasan-alasan yang telah diuraikan sebelumnya, kaum buruh Rusia pada bulan Februari, bahkan ketika mereka mendirikan Soviet, mengambil jalan yang paling mudah dan mendukung partai-partai reformis di Soviet. Hanya dengan melalui peristiwa-peristiwa besar massa menolak para pemimpin ini dan bergerak ke arah Bolshevisme. Tetapi proses ini tidak mudah atau otomatis. Itu hanya dimungkinkan oleh kebijakan dan taktik Bolshevik yang secara umum tepat, dan di atas segalanya, orientasi mereka yang jelas ke organisasi-organisasi massa (Soviet dan serikat buruh) yang telah diciptakan oleh buruh dan yang, pada akhirnya, memiliki daya tarik yang luar biasa, terlepas dari kebijakan-kebijakan para pemimpinnya.

Bagaimana kaum buruh terus percaya pada organisasi massa yang mapan terungkap secara mencolok sebelum Revolusi Oktober oleh kontroversi seputar tanggal pemberontakan dan Kongres Soviet. Lenin benar-benar khawatir akan kretinisme konstitusional dan parlementer para pemimpin Bolshevik seperti Kamenev dan Zinoviev. Lenin khawatir akan penundaan tanggal revolusi, karena setiap hari yang berlalu memberikan waktu dan kesempatan kepada kaum kontra-revolusioner untuk berhimpun kembali dan meluncurkan serangan baru. Ada desas-desus yang terus terdengar (yang kemudian terbukti benar) bahwa Kerensky berencana memindahkan pusat pemerintahan ke Moskow. Ada kemungkinan bahwa Pemerintahan Provisional akan membiarkan Petrograd jatuh ke tangan Jerman, daripada melihatnya jatuh ke tangan Bolshevik. Ada banyak bukti bahwa borjuasi di ibukota sedang menunggu tibanya tentara Jerman sebagai penyelamat. Pada saat pemberontakan Kornilov, Jerman telah merebut Riga. Kemudian mereka menduduki dua pulau strategis di Baltik, yang menempatkan mereka dalam posisi yang strategis untuk menyerang Petrograd. Bahayanya cukup nyata.

Mikhail Rodzianko, mantan kepala Duma, jelas-jelas mengaku bahwa akan lebih baik bagi Jerman untuk menduduki Petrograd:

“Petrograd tampaknya terancam (oleh Jerman) ... Menurut saya, persetan dengan Petrograd ... Orang-orang takut institusi-institusi pusat kita di Petrograd akan dihancurkan. Mengenai ini, izinkan saya mengatakan bahwa saya akan senang jika institusi-institusi ini dihancurkan karena mereka tidak membawa apapun kepada Rusia selain kesedihan.”[5]

Paling tidak, Kerensky sedang bersiap untuk menyingkirkan garnisun Petrograd yang membangkang, dengan alasan ancaman Jerman. Namun, seiring dengan semakin lebarnya jurang pemisah antar kelas, ancaman bahwa Soviet akan dibubarkan oleh kekuatan reaksi semakin besar.

Argumen utama yang digunakan untuk membantah Lenin adalah “kita harus menunggu Kongres Soviet”. Tapi Lenin khawatir Kongres akan ditunda. Para pemimpin Soviet telah menundanya sekali, karena takut kehilangan kendali. Tidak ada alasan mengapa mereka tidak akan menundanya sekali lagi. Kemudian para penentang pemberontakan memiliki argumen lain. Mengapa tidak menunggu pertemuan Majelis Konstituante yang dijanjikan? Mereka selalu mencari dalih atau alasan lain untuk menunda pemberontakan. Di sini sekali lagi Lenin berpikir bahwa ada kemungkinan besar Pemerintah Provisional akan menunda atau membatalkan penyelenggaraan pemilihan Majelis Konstituante. Oleh karena itu, dia sangat tidak setuju dengan taktik menunda pemberontakan sampai Kongres Soviet, atau alasan lainnya.

Ketidaksabaran Lenin, dan kekhawatirannya yang tak henti-henti, bahwa para pemimpin Bolshevik tengah menyeret kaki mereka, sebagian disebabkan oleh keragu-raguan Kamenev dan Zinoviev. Dan bukan hanya Kamenev dan Zinoviev saja. Tetapi ini juga sebagian disebabkan oleh keterisolasian Lenin. Trotsky, yang lebih berhubungan dengan situasi di lapangan, mendukung persiapan pemberontakan, tetapi meluncurkannya bertepatan dengan Kongres Soviet, yang akan memberikan legitimasi yang diperlukan di mata massa. Ini menunjukkan pemahaman yang tajam akan psikologi massa. Bolshevik jelas telah membuat kemajuan luar biasa sejak musim panas. Pertumbuhan keanggotaan Partai sekarang begitu pesat sehingga membuat kewalahan kapasitas aparatur partai, yang tidak mampu mengimbanginya. Pada bulan Agustus, pada saat Kongres Keenam, keanggotaan mencapai sekitar 240.000.[6] Pada pertemuan Komite Pusat pada 16 Oktober, Sverdlov melaporkan bahwa “pertumbuhan partai telah mencapai proporsi yang sangat besar: pada saat ini setidaknya dapat diperkirakan mencapai 400.000.”[7]

Bahkan, akan mustahil untuk mengetahui jumlah pasti keanggotaan partai saat ini. Aparatus Partai Bolshevik masih relatif lemah dan terus-menerus kewalahan dengan pekerjaan yang ada. Dalam sebuah revolusi, tugas-tugas mendesak harus didahulukan daripada tugas-tugas kecil seperti mencatat jumlah keanggotaan agar terus up-to-date. Oleh karena itu, estimasi apa pun akan bersifat kondisional. Lenin sendiri mengakui, mustahil mendapatkan gambaran yang akurat tentang keanggotaan partai pada bulan September, tetapi mengacu pada peningkatan sumbangan dari buruh sebagai bukti pertumbuhan pesat partai:

“Dengan tidak adanya statistik mengenai fluktuasi keanggotaan partai, kehadiran di rapat, dll., dukungan sadar dari massa untuk partai dapat dinilai hanya dari data-data yang dipublikasikan mengenai penggalangan dana untuk partai. Data ini menunjukkan kepahlawanan luar biasa dari buruh-buruh Bolshevik dalam mengumpulkan uang untuk Pravda, untuk surat-surat kabar yang telah dibredel, dst. Laporan-laporan tentang penggalangan semacam itu selalu diterbitkan.”[8]

Apa yang tidak dipertanyakan adalah fakta bahwa Partai Bolshevik, yang memulai tahun ini sebagai sebuah organisasi kecil, telah berkembang pesat menjadi kekuatan dominan dalam kelas buruh. Tetapi bahkan dengan jumlah keanggotaan 400.000, Partai Bolshevik tidak akan pernah mampu memimpin jutaan buruh dan tentara untuk merebut kekuasaan tanpa taktik dan metode yang fleksibel dan orientasi yang tepat ke organisasi massa. Kemajuan partai di dalam Soviet-soviet telah disinggung. Tetapi ini tidak menceritakan keseluruhan cerita. Sementara slogan-slogan Bolshevik menemukan gaung yang siap di antara kaum buruh, namun kaum buruh masih mengandalkan Soviet untuk mempraktikkan slogan-slogan ini. Hubungan ini bersifat dialektis. Tanpa kebijakan Partai Bolshevik, Soviet tidak berguna. Bahkan sesungguhnya, di bawah kepemimpinan reformis sayap kanan, Soviet dapat dikatakan bersifat kontra-revolusioner. Tetapi dari sudut pandang lain, kebijakan Bolshevik, tanpa Soviet, belum tentu dapat memenangkan telinga massa, yang masih memiliki ilusi mendalam terhadap organisasi-organisasi yang mereka bangun sendiri, di mana mereka terbiasa mengharapkan solusi untuk problem mereka. Ide-ide Bolshevisme hanya memperoleh kekuatan yang tak terbendung ketika mereka dihubungkan di benak massa dengan Soviet, yakni organisasi yang telah memperoleh kesetiaan massa.

Perebutan Kekuasaan

Momen untuk tindakan yang menentukan telah tiba. Pada saat ini, buruh akar-rumput Bolshevik sendiri semakin tidak sabar karena kurangnya tindakan tegas dari atas. Pada 19 Oktober (1 November), di pertemuan rahasia KP yang diperluas, Lenin kembali membacakan pernyataan tertulis tentang perlunya memulai pemberontakan dengan segera. Dengan hanya dua suara menentang – Kamenev dan Zinoviev – diputuskan bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan revolusi dari kehancuran adalah pemberontakan bersenjata. Dua kawan perjuangan lama Lenin ini merasa yakin bahwa pemberontakan akan menjadi malapetaka bagi partai dan revolusi, dan oleh karenanya dengan panik memulai kampanye untuk menghentikannya. Pada 18 Oktober, mereka bahkan menerbitkan artikel di koran non-partai, Novaya Zhizn yang dikelola Maxim Gorky, yang secara terbuka menentang pengorganisasian pemberontakan sebagai “tindakan putus asa” yang akan membawa “konsekuensi paling merusak bagi partai, bagi proletariat, bagi nasib revolusi”. Yang signifikan, surat itu, yang terbit atas nama Kamenev, mengklaim tidak hanya mewakili dua anggota KP, tetapi juga sejumlah besar “pekerja praktis partai [atau perangkat partai]” (yang tidak disebutkan nama-namanya):

“Bukan hanya saya dan Kamerad Zinoviev saja, tetapi sejumlah kamerad pekerja praktis partai [atau perangkat partai] meyakini bahwa untuk mengambil inisiatif meluncurkan pemberontakan bersenjata pada saat ini, di bawah korelasi kekuatan sosial saat ini, secara mandiri dari Kongres Soviet, dan beberapa hari sebelumnya, akan menjadi langkah yang tidak dapat diterima, yang berbahaya bagi proletariat.”[9]

Ini adalah pelanggaran disiplin yang paling serius. Dalam menyampaikan argumen mereka yang menentang insureksi bersenjata, Kamenev dan Zinoviev telah membocorkan keputusan penting partai mengenai insureksi ini, yang jelas-jelas dimaksudkan untuk dirahasiakan. Marah atas tindakan ini, Lenin, dalam tindakan yang tidak seperti biasanya, menulis surat dengan nada marah ke KP, yang mengecam Kamenev dan Zinoviev sebagai perusak pemogokan dan menuntut pemecatan mereka.[10] Namun, Komite Pusat tidak melaksanakan usulan Lenin. Kamenev (tetapi bukan Zinoviev) mengundurkan diri dari KP, dan keduanya dilarang membuat pernyataan lebih lanjut yang bertentangan dengan keputusan KP. Tetapi mereka tidak dipecat atau diminta untuk menarik kembali tindakan mereka. Metode Stalinis yang memaksa orang untuk mengakui kesalahan mereka dan mengubah posisi mereka belumlah tiba. Walaupun kesalahan mereka sangat serius, ini tidak membuat mereka dikucilkan atau disingkirkan. Sehari setelah insureksi, Kamenev dan Zinoviev hadir di markas Bolshevik dan diberi posisi penting dalam partai dan pemerintahan Soviet.

Perkara Kamenev-Zinoviev tidak menyebabkan kerusakan permanen. Air pasang sudah mengalir deras ke arah pemberontakan. Dalam kondisi seperti itu, kesalahan kaum revolusioner biasanya dapat diperbaiki oleh kepemimpinan yang tangkas dan berkepala dingin. Tetapi, di kubu reaksi, justru sebaliknya yang terjadi. Diliputi masalah di semua sisi, terjebak dalam kekacauan kontradiksi, para politisi yang kemarin tampaknya tidak bisa berbuat salah, tiba-tiba menemukan diri mereka tidak bisa melakukan apapun dengan benar. Inilah yang menjelaskan beragam komentar yang sering kita dengar mengenai ‘ketidakmampuan’, ‘kekeraskepalaan’, dan ‘kebodohan’ Kerensky, Tsar Nicholas, Raja Louis, Marie Antoinette dan Charles I, dan banyak tokoh-tokoh serupa lainnya. Orang Yunani Kuno pernah mengatakan: “Quos Deus vult perdere, prius dementat.” Yang artinya: “Siapa yang ingin dihancurkan oleh para dewa, akan dibuat gila terlebih dahulu.” Tapi, jika diamati lebih dekat, kegilaan ini berakar pada situasi objektif. Sistem sosial yang sudah di tepi jurang akan menghasilkan sebuah rezim yang dilanda dengan krisis. Rezim semacam ini tidak memiliki banyak pilihan dan ruang lingkup kesalahannya berlipat ganda. Di masa sejarah yang penuh kemakmuran dan kondusif, bahkan seorang yang bodoh dan medioker dapat memerintah dengan sukses (dan sering kali demikian). Tetapi ketika sebuah rezim dan sistem sosial tengah sekarat dan hampir mati, bahkan talenta dari menteri yang paling cakap sekali pun tidak akan cukup untuk menyelamatkannya. Rezim seperti itu mau tidak mau dilanda krisis internal dan perpecahan di puncak. Selapisan kelas penguasa mencoba mencegah bencana dengan memberi konsesi, sementara yang lain mencoba menghentikan gelombang pemberontakan dengan represi. Hasilnya, rezim ini tampak bimbang dan tidak kompeten, dan sesungguhnya memang demikian. Ini bukan berarti bahwa kualitas kepemimpinan revolusioner tidak penting. Bahkan kondisi yang paling menguntungkan pun dapat menjadi mubazir dalam perang dan revolusi. Seandainya Zinoviev, Kamenev, dan Stalin memimpin Partai Bolshevik alih-alih Lenin dan Trotsky, kesempatan ini pasti akan mubazir. Kemudian semua sejarawan pintar yang sekarang mengeluh mengenai kebodohan Kerensky dan Tsar Nicholas karena tidak melakukan ini atau itu akan menulis tesis doktoral mereka tentang betapa cerdas dan bijaknya mereka, dan betapa utopisnya Lenin dan Trotsky karena membayangkan bahwa kaum buruh bisa mengambil alih kekuasaan.

Kecelakaan tentu dapat memainkan peran dalam sejarah, termasuk kesalahan, dan rezim yang berada di ambang jurang sangat rentan membuat kesalahan. Pemerintah Provisional melakukan kesalahan yang teramat besar ketika mereka memberi perintah pengiriman dua pertiga dari garnisun Petrograd ke garis depan. Ini adalah upaya ceroboh untuk melemahkan garnisun revolusioner di ibu kota, tetapi sebaliknya ini adalah anugerah bagi Partai Bolshevik, untuk dua alasan. Pertama, ini memicu gelombang kemarahan di barak, yang mendorong bahkan lapisan yang paling terbelakang ke arah Bolshevik. Bahkan resimen-resimen yang berpartisipasi dalam menumpas demonstrasi Juli mengeluarkan resolusi yang mengecam Pemerintah Provisional dan menyerukan Soviet untuk mengambil alih kekuasaan. Kedua, ini menunjukkan bahwa pemerintah sedang bersiap untuk melakukan ofensif terhadap Petrograd Merah. Revolusi berhak mengambil tindakan membela diri. Ini adalah sesuatu yang dapat dipahami oleh setiap buruh dan prajurit. Dan ini membungkam pihak-pihak yang bimbang di jajaran Bolshevik. Bahkan para pemimpin reformis terpaksa mengambil posisi semi-oposisi terhadap pemerintah.

Eksekutif Soviet sendiri terpaksa menolak membubuhkan tanda tangannya pada perintah ini. Bolshevik memimpin agitasi menentang perintah ini, dan menuntut pembentukan Komite Militer Revolusioner (KMR)[11] Petrograd, sebuah badan resmi Soviet yang segera memperoleh kekuatan besar dan praktis menjadi ujung tombak Revolusi Oktober. KMR menunjuk komisar untuk setiap gudang dan depot senjata tanpa perlawanan. Sejak saat itu, tidak ada senjata yang bisa dipindahkan tanpa seizin Komite ini. Perintah Trotsky ke pabrik senjata Sestroretsky Small Arms untuk mengirim 5.000 senapan ke Garda Merah memicu kepanikan di kalangan borjuasi, yang menyebar hingar bingar mengenai kaum Bolshevik yang ingin membantai borjuasi; tapi senapan tetap dikirim. Dengan demikian, persiapan pemberontakan terjadi di depan hidung pihak otoritas yang tidak berdaya untuk mencegahnya.

Namun jumlah Garda Merah di Petrograd sangat kecil. Perkiraan bervariasi dari 23.000 sampai sekecil 12.000. Kekuatan sekecil itu tidak akan pernah bisa mengalahkan kekuatan penuh aparatus negara borjuasi. Tetapi, yang paling penting adalah fakta bahwa kerja politik kaum Bolshevik dalam sembilan bulan sebelum Oktober telah berhasil memenangkan massa, dan dengan demikian juga lapisan tentara yang menentukan. Sebagai pemimpin Komite Militer Revolusioner Petrograd, Trotsky secara pribadi bertanggung jawab dalam memenangkan garnisun Petrograd, seperti yang dikemukakan Marcel Liebman:

“Pada 23 Oktober para pemimpin pemberontakan mengetahui bahwa garnisun benteng menolak untuk mengakui otoritas Komite Militer Revolusioner. Antonov-Ovseyenko mengusulkan untuk mengirim satu batalion revolusioner untuk melucuti garnisun ini dan menggantikannya. Namun Trotsky mendesak, alih-alih melakukan operasi yang berisiko ini, lebih baik menggunakan metode Bolshevik dan sosialis seperti biasanya, yaitu agitasi politik. Dia pergi sendiri ke benteng, menggelar rapat umum dengan para prajurit, berbicara di hadapan mereka, memenangkan mereka, dan membujuk mereka untuk mengeluarkan resolusi yang mengumumkan kesiapan mereka untuk menggulingkan Pemerintah Provisional.”

“Meskipun persiapan militer untuk insureksi ini masih banyak kekurangan, persiapan politiknya, selama beberapa hari dan jam terakhir sebelum dimulai, sangat intens dan patut diteladani. Resimen-resimen yang ditempatkan di ibu kota mendukung pemberontakan setelah mendengarkan pidato berapi-api oleh para delegasi Bolshevik; aula-aula pertemuan besar di Petrograd, seperti Modern Circus, tidak pernah kosong, dan para orator Bolshevik (yang paling terutama Trotsky) menggunakannya untuk mempertahankan atau membangkitkan semangat revolusioner para buruh, kelasi, dan tentara. Seluruh bulan Oktober, di Petrograd dan begitu juga di provinsi-provinsi lainnya, penuh dengan aktivitas politik yang tak ada henti-hentinya. Soviet-soviet dari berbagai daerah berkumpul dalam konferensi dan kongres; Partai Bolshevik, yang terpaksa menunda kongres luar biasa mereka yang sebelumnya direncanakan untuk akhir bulan, juga melakukan hal yang sama. Pada Oktober 1917, revolusi permanen mengambil bentuk konkret dalam perdebatan permanen. Dan jika massa tidak terlibat langsung dalam insureksi ini, ini karena, dalam analisa terakhir, mereka tidak perlu melakukannya. Dukungan mereka terhadap kebijakan Bolshevik telah mampu menemukan sarana ekspresi lainnya, yang sesuai dengan karakter proletar dan demokrasi dari insureksi ini, dan sesuai dengan tradisi sosialis.”[12]

Tampak seperti sebuah paradoks bahwa, dibandingkan dengan semua persiapan yang telah dilakukan sebelumnya, aksi perebutan kekuasaan yang sebenarnya terjadi dengan begitu mulus. Dalam karya monumentalnya, The History of the Russian Revolution, Trotsky menjelaskan secara rinci bagaimana mudahnya Petrograd dikuasai. Karakter damai dari Revolusi Oktober telah dijamin oleh kenyataan bahwa Partai Bolshevik, di bawah kepemimpinan Trotsky, telah memenangkan garnisun Petrograd. Dalam bab The Conquest of the Capital, Trotsky menjelaskan bagaimana kaum buruh merebut benteng Peter dan Paul yang kunci itu:

“Semua pasukan garnisun benteng Peter dan Paul menerima dengan puas penangkapan komandan mereka, tetapi pasukan sepeda[13] mengelak. Apa yang bersembunyi di balik keheningan mereka yang bersungut: rasa permusuhan yang tersembunyi atau keragu-raguan terakhir? ‘Kami memutuskan untuk menggelar rapat khusus dengan tentara pasukan sepeda,” tulis Blagonravov, “dan mengundang agitator terbaik kami, dan terutama Trotsky, yang memiliki otoritas dan pengaruh besar atas massa tentara.’ Pada pukul empat sore seluruh batalion bertemu di gedung Cirque Moderne yang ada di sebelahnya. Sebagai lawan pemerintah, Jendral Quartermaster Poradelov, yang dianggap sebagai seorang Sosialis-Revolusioner, berbicara di hadapan massa. Keberatannya [terhadap Pemerintah Provisional] begitu berhati-hati sehingga tampak kurang tegas; dan ini membuat serangan para perwakilan Komite [Militer Revolusioner] terhadap pemerintah menjadi bahkan tampak lebih tajam. Pertempuran antar orator untuk memenangkan benteng Peter dan Paul ini berakhir seperti yang telah diperkirakan sebelumnya: dengan semua suara kecuali tiga puluh, batalion [pasukan sepeda] mendukung resolusi Trotsky. Satu lagi potensi konflik berdarah diselesaikan sebelum pertempuran dan tanpa pertumpahan darah. Itulah insureksi Oktober. Begitulah gayanya.[14]

Sejak awal Lenin telah menekankan bahwa pemberontakan ini harus dilakukan atas dasar gerakan massa. Sesaat sebelum Revolusi Oktober, ia menulis bahwa “pemberontakan tidak boleh bergantung pada konspirasi dan pada sebuah partai, tetapi bergantung pada kelas yang maju ... Pemberontakan harus bergantung pada kebangkitan revolusioner rakyat.”[15]

Apakah Revolusi Oktober adalah sebuah kudeta?

Para kritikus Bolshevisme sering menggambarkan Revolusi Oktober sebagai kudeta. Argumen itu keliru dari atas hingga bawah. Revolusi Rusia berlangsung selama sembilan bulan, di mana Partai Bolshevik, dengan menggunakan metode-metode yang paling demokratis, memenangkan mayoritas menentukan buruh dan tani miskin. Fakta bahwa mereka dengan mudah berhasil mematahkan perlawanan pasukan Kerensky hanya dapat dijelaskan oleh fakta ini. Terlebih lagi, seperti yang akan kita lihat, tidak mungkin kaum Bolshevik mampu mempertahankan kekuasaan tanpa dukungan mayoritas besar masyarakat. Di setiap tahap, peran yang menentukan dimainkan oleh intervensi aktif massa. Inilah yang menentukan keseluruhan proses revolusi. Kelas penguasa dan perwakilan politik dan militernya hanya bisa menggertakkan gigi mereka, tetapi tidak berdaya mencegah kekuasaan lolos dari tangan mereka. Benar, mereka terus meluncurkan konspirasi untuk memadamkan revolusi, termasuk pemberontakan bersenjata Jenderal Kornilov, yang bertujuan menggulingkan Kerensky dan menegakkan kediktatoran militer, tetapi semua ini kandas tatkala dihadapkan dengan gerakan massa.

Semua orang pada saat itu, termasuk musuh bebuyutan revolusi, menerima fakta bahwa Partai Bolshevik didukung oleh massa. Tentu saja, mereka mengatakan bahwa ini disebabkan oleh berbagai macam pengaruh jahat, ‘demagogi’, ketidakdewasaan buruh dan tani, kebodohan mereka, dan semua argumen lainnya yang pada dasarnya menolak demokrasi itu sendiri. Bagaimana bisa massa hanya menjadi bodoh dan tidak dewasa ketika mereka berhenti mendukung Pemerintahan Provisional? Ini adalah salah satu misteri terbesar sejak Santo Paulus melihat cahaya terang di langit dalam perjalanannya menuju Damaskus. Tetapi jika kita kesampingkan motivasi jelas dari rasa dengki, benci, dan kemarahan, kita dapat melihat bahwa kutipan berikut dari sebuah surat kabar sayap kanan adalah pengakuan berharga bahwa kaum Bolshevik memang menikmati dukungan massa. Pada 28 Oktober, surat kabar borjuis Russkaya Volya menulis sebagai berikut:

“Apa peluang keberhasilan Bolshevik? Sulit untuk menjawab pertanyaan itu, karena dukungan utama mereka adalah ... kebodohan massa rakyat. Mereka bertaruh dengannya, mereka mengelolanya dengan demagogi yang tidak dapat dihentikan oleh apa pun.”[16]

Mustahil untuk memahami apa yang terjadi pada tahun 1917 tanpa mempertimbangkan peran fundamental massa. Demikian juga dengan Revolusi Prancis 1789-94, peran massa sering sekali gagal dipahami oleh sejarawan (ada pengecualian, terutama Kropotkin, dan, di zaman kita, George Rudé). Tetapi di sini untuk pertama kalinya dalam sejarah, jika kita mengecualikan episode Komune Paris yang singkat namun luar biasa itu, kelas buruh sungguh-sungguh berhasil mengambil alih kekuasaan dan setidaknya memulai transformasi sosialis masyarakat. Itulah mengapa musuh-musuh sosialisme terpaksa berbohong tentang Revolusi Oktober dan memfitnahnya. Mereka tidak dapat memaafkan Lenin dan Partai Bolshevik karena telah berhasil memimpin revolusi sosialis pertama yang berhasil, dan membuktikan bahwa revolusi itu dapat terjadi, dan karena itu menunjukkan jalan bagi generasi masa depan. Preseden seperti itu berbahaya! Oleh karena itu perlu ‘dibuktikan’ (dengan bantuan dari akademisi-akademisi yang ‘objektif’) bahwa ini semua adalah peristiwa yang teramat buruk, dan tidak boleh diulang.

Klaim bahwa Revolusi Oktober hanyalah sebuah kudeta sering kali mendapat pembenaran dengan menunjuk pada fakta bahwa jumlah orang yang terlibat dalam insureksi tersebut relatif kecil. Argumen ini ternyata dangkal bila diperhatikan dengan seksama. Pertama-tama, argumen ini tidak memahami perbedaan antara insureksi bersenjata dengan revolusi, dalam kata lain, ia mengacaukan bagian dengan keseluruhan. Pada kenyataannya, insureksi hanyalah satu bagian dari revolusi – bagian yang sangat penting, itu benar. Trotsky menyamakannya dengan puncak gelombang. Sesungguhnya, jumlah pertempuran yang terjadi di Petrograd sangatlah kecil. Dan bahkan dapat dikatakan tidak ada pertumpahan darah. Ini karena 90 persen tugas telah diselesaikan sebelumnya, dengan memenangkan mayoritas buruh dan tentara yang menentukan. Masihlah perlu menggunakan kekuatan bersenjata untuk menumpas perlawanan orde lama. Tidak ada kelas penguasa yang pernah menyerahkan kekuasaan mereka tanpa perlawanan. Tapi perlawanan ini sangat minim. Pemerintah runtuh seperti rumah kartu, karena tidak ada seorangpun yang bersedia mempertahankannya .

Di Moskow, terutama karena kesalahan kaum Bolshevik di sana, yang tidak bertindak dengan ketegasan yang diperlukan, kaum Junker [bangsawan] kontra-revolusioner mengambil inisiatif ofensif dan melakukan pembantaian. Meskipun demikian, yang luar biasa, mereka dibebaskan setelah berjanji tidak akan berpartisipasi dalam tindakan kekerasan lebih lanjut terhadap rejim Soviet. Kemurahan hati semacam ini sangatlah tipikal selama masa-masa awal revolusi, yang dicirikan oleh kenaifan massa, yang belum memahami betapa dahsyatnya kekerasan yang sanggup diluncurkan nantinya oleh para pembela orde lama. Tidak seperti yang digambarkan oleh musuh mereka sebagai rejim teror yang haus darah, Revolusi Oktober adalah peristiwa yang sangatlah damai – sampai kontra-revolusi menunjukkan sifat aslinya. Jenderal Tentara Putih Krasnov adalah salah satu yang pertama memimpin pemberontakan melawan Bolshevik, dengan memimpin pasukan Cossack. Dia dikalahkan oleh Garda Merah dan ditangkap oleh pasukan Cossack-nya sendiri, tetapi sekali lagi dibebaskan dengan pembebasan bersyarat. Tentang ini, Victor Serge benar ketika dia menulis:

“Revolusi membuat kesalahan dengan menunjukkan belas kasihan kepada pemimpin serangan Cossack [Jenderal Krasnov]. Dia seharusnya ditembak di tempat. Beberapa hari kemudian [setelah ditangkap] dia dibebaskan, setelah berjanji untuk tidak pernah mengangkat senjata lagi melawan revolusi. Tapi berapa nilai janji yang dibuat kepada musuh tanah air dan properti? Dia kemudian berangkat ke wilayah Don dan mengobarkan perang pemberontakan di sana.”[17]

Apakah jumlah orang yang relatif kecil yang terlibat langsung dalam insureksi berarti bahwa Revolusi Oktober adalah kudeta? Ada banyak kesamaan antara perang kelas dan perang antar negara. Dalam perang antar negara, hanya sebagian kecil populasi ada di dalam angkatan bersenjata. Dan hanya minoritas kecil tentara yang berada di garis depan. Di garis depan, bahkan dalam pertempuran besar, hanya sebagian kecil prajurit yang biasanya terlibat dalam pertempuran pada waktu tertentu. Prajurit yang berpengalaman tahu bahwa banyak waktu dihabiskan untuk menunggu sebagai pasukan cadangan, bahkan selama pertempuran. Sering kali pasukan cadangan tidak pernah dikerahkan untuk bertempur. Namun tanpa pasukan cadangan, seorang jendral yang baik tidak akan memerintahkan menyerang lawan mereka. Selain itu, mustahil mengobarkan perang dengan sukses tanpa dukungan penuh populasi bangsa, meskipun mereka tidak secara langsung berpartisipasi dalam pertempuran. Pelajaran ini terpatri dengan dalam bagi AS selama periode terakhir perang Vietnam.

Kebangkitan massa, partisipasi aktif mereka, inisiatif dan kekuatan kreatif mereka, dapat ditemukan di kedalaman sanubari setiap revolusi besar. Semua ini tampil dengan teramat luar biasa selama sembilan bulan yang memisahkan Revolusi Februari dari Revolusi Oktober. Berkali-kali, di bulan Februari, di bulan Mei, di bulan Juni, di bulan Juli, di bulan September, massa bergerak untuk merombak masyarakat. Jika mereka tidak segera berhasil, itu bukan karena mereka kurang berusaha, tetapi karena setiap kali mereka dihalangi oleh pemimpin mereka, yang dengan keras kepala menolak untuk mengambil alih kekuasaan saat kekuasaan disajikan kepada mereka di atas piring. Sudah berapa kali kita saksikan ini dalam sejarah? Di Jerman pada 1918, 1920, dan 1923; di Inggris pada 1926 dan 1945; di Spanyol pada 1936; di Prancis pada 1936 dan lagi pada 1968; di Portugal pada 1974–75; di Italia pada 1919–20, pada 1943 dan pada 1969, dan sepanjang 1970-an; di Pakistan pada 1968–69; di Chili pada 1970-1973, dan di banyak negeri lainnya di seluruh dunia. Di setiap kasus, setelah kepemimpinan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengubah masyarakat bahkan dengan cara damai dan mempersiapkan kemenangan reaksi, orang-orang sinis yang sama ini lalu menggunakan argumen lama yang itu-itu lagi: bahwa situasi objektif belum matang; bahwa perimbangan kekuatan tidak menguntungkan; bahwa massa belum siap; bahwa negara terlalu kuat, dst., dst. Yang selalu disalahkan untuk kekalahan ini adalah prajurit yang bertempur, tetapi tidak pernah jenderal-jenderal yang menolak untuk memimpin. Dan bila kepemimpinan Partai Bolshevik tidak berada di tangan Lenin dan Trotsky, tetapi berada di tangan Stalin, Zinoviev, dan Kamenev, tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang sama ini sekarang akan menulis, dengan bertumpuk-tumpuk fakta yang mengesankan, bagaimana Revolusi Rusia itu ditakdirkan kalah sejak awal, karena situasi objektif yang tidak ada harapan, perimbangan kekuatan kelas yang tidak menguntungkan, dan ‘ketidakdewasaan’ massa.

Sesungguhnya, massa menunjukkan kedewasaan dan inisiatif yang amat besar, seperti yang telah mereka tunjukkan di setiap revolusi. Kebangkitan massa, tingkat kesadaran mereka yang tinggi, martabat yang baru saja mereka temukan sebagai manusia yang mampu berpikir dimanifestasikan dalam seribu cara. Ini semua terungkap dengan sangat baik bukan lewat statistik yang hambar, tetapi justru lewat anekdot-anekdot yang menghembus kehidupan ke dalam statistik, seperti yang dikutip oleh pengamat Revolusi Rusia yang paling perseptif, John Reed:

“Di sekeliling mereka, Rusia tengah hamil tua dengan dunia yang baru. Para pelayan yang biasanya diperlakukan layaknya binatang dan diupah sangat rendah, mulai menjadi mandiri. Sepasang sepatu harganya lebih dari 100 rubel, dan karena upah rata-rata sekitar 35 rubel per bulan, para pelayan menolak untuk mengantre [di pasar untuk membeli sayur untuk tuan-nyonya mereka] karena ini dapat membuat aus sepatu mereka. Tapi lebih dari itu. Di Rusia yang baru, setiap laki-laki dan perempuan dapat memilih; telah terbit koran-koran kelas buruh, yang mengatakan hal-hal yang baru dan mengejutkan; ada Soviet-soviet; dan ada Serikat-serikat buruh. Sopir-sopir taksi (izvoshchiki) kini berserikat; mereka juga diwakili di Soviet Petrograd. Para pelayan dan pekerja hotel berorganisasi, dan menolak uang tip [karena uang tip adalah sesuatu yang menghina]. Di dinding-dinding restoran mereka memasang pengumuman yang bertuliskan ‘Tidak menerima tip di sini’ atau, ‘Hanya karena seseorang harus mencari nafkah menjadi pelayan restoran, bukan alasan untuk menghinanya dengan menawarkan tip’.”[18]

Tuduhan bahwa Partai Bolshevik mampu mengambil alih kekuasaan tanpa massa (lewat kudeta) biasanya dikaitkan dengan gagasan bahwa kekuasaan direbut, bukan oleh kelas buruh, tetapi oleh partai. Sekali lagi, tuduhan ini sepenuhnya keliru. Tanpa organisasi – serikat buruh dan partai – kelas buruh hanyalah bahan mentah untuk dieksploitasi. Ini sudah ditunjukkan oleh Marx sejak lama. Benar, proletariat memiliki kekuatan yang amat besar. Tidak ada roda yang berputar, tidak ada bola lampu yang bersinar, tanpa seizinnya. Tetapi tanpa organisasi, kekuatan ini tetap hanya potensi belaka. Demikian juga uap adalah kekuatan yang sangat besar, tetapi tanpa kotak piston, uap akan terlepas ke udara begitu saja. Agar kekuatan kelas buruh berhenti menjadi potensi belaka dan menjadi kenyataan, kekuatan ini harus diorganisir dan dipusatkan pada satu titik. Ini hanya dapat tercapai melalui partai politik dengan kepemimpinan yang berani dan berwawasan jauh serta program yang tepat. Partai Bolshevik, di bawah kepemimpinan Lenin dan Trotsky, adalah partai seperti itu. Mendasarkan diri mereka pada gerakan massa yang luar biasa, mereka memberi gerakan ini bentuk, tujuan dan suara. Itulah dosa utama kaum Bolshevik dari sudut pandang kelas penguasa. Dosa itulah yang ada di balik kebencian dan kedengkian mereka terhadap Bolshevisme, sikap mereka yang kejam dan penuh benci terhadapnya, yang sepenuhnya mengondisikan sikap mereka bahkan tiga generasi kemudian.

Jauh dari mengendap-endap di belakang massa, Partai Bolshevik adalah partai yang memberikan ekspresi sadar pada perjuangan kelas buruh untuk mengubah masyarakat. Sesungguhnya, sepanjang tahun 1917, justru Partai Bolshevik sering tertinggal di belakang mood revolusioner massa, sebuah fakta yang dengan cepat dipahami oleh Lenin, dan yang dapat kita saksikan dari berbagai sumber, seperti kutipan berikut dari memoar seorang aktivis Bolshevik terkemuka, sang pelaut Raskolnikov, yang mengisahkan sebuah rapat akbar tentara yang dia hadiri sesaat sebelum pemberontakan:

“Saya takjub pada suasana ketidaksabaran revolusioner yang saya temui di pertemuan ini. Saya merasa bahwa setiap orang dari ribuan tentara dan buruh ini siap sekarang juga untuk turun ke jalan, dengan senjata di tangan. Semangat mereka yang meluap-luap, kebencian mereka yang membara terhadap Pemerintahan Provisional sama sekali tidak menunjukkan kepasifan. Hanya di Kronstadt, menjelang Hari-hari Juli, saya mengamati semangat revolusioner yang meledak-meledak seperti ini, yang menuntut tindakan. Ini semakin memperkuat keyakinan saya yang mendalam bahwa perjuangan revolusi proletariat ada di jalan yang benar.”[19]

Perlu ditambahkan bahwa di setiap tahap kaum Bolshevik selalu memiliki perspektif revolusi internasional. Mereka tidak pernah percaya bahwa mereka dapat mempertahankan kekuasaan di Rusia dengan sendirinya. Semangat internasionalisme yang bergelora ini mengalir seperti benang merah di semua artikel dan pidato Lenin. Pada 24 Oktober, Lenin menulis kepada para pemimpin partai sebuah seruan aksi yang berapi-api:

“Dengan seluruh kekuatan saya, saya memohon kepada kamerad-kamerad sekalian untuk menyadari bahwa sekarang semua berada di ujung tanduk; bahwa kita dihadapkan pada problem-problem yang tidak akan dapat diselesaikan dengan konferensi ataupun kongres (bahkan kongres Soviet), tetapi hanya oleh rakyat, oleh massa, oleh perjuangan rakyat bersenjata.”[20]

Kemenangan Bolshevisme

Perebutan kekuasaan yang sebenarnya berlangsung begitu mulus sehingga banyak orang yang tidak menyadarinya. Untuk alasan ini, musuh-musuh Revolusi Oktober mencecarnya sebagai sebuah kudeta. Sebenarnya, ada dua alasan mengapa perebutan kekuasaan ini berjalan begitu mulus – yang pertama alasan teknis, yang kedua alasan politik. Persiapan teknis untuk serangan terakhir ini dilakukan dengan cermat oleh Komite Revolusioner Militer di bawah kepemimpinan Trotsky. Seperti halnya dalam peperangan, aturan dasarnya adalah memusatkan seluruh kekuatan, pada waktu yang menentukan dan pada titik yang menentukan, dan kemudian memukul dengan keras. Tetapi ini saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah taktik dalam pemberontakan. Unsur kejutan dan manuver guna menipu musuh mengenai maksud sebenarnya kaum revolusioner memiliki peran di sini, seperti halnya dalam operasi militer mana pun. Setiap langkah disajikan sebagai langkah defensif, tetapi dalam praktiknya, karakter pemberontakan ini tentu saja ofensif, yang menyergap dengan lincah untuk menguasai satu demi satu posisi, dan membuat musuh tidak sadar dan lengah.

Tetapi alasan sebenarnya mengapa pemberontakan ini dapat dituntaskan dengan begitu cepat dan hampir-hampir tanpa pertumpahan darah adalah politik, dan bukanlah militer ataupun teknis. Sembilan persepuluh dari tugas pemberontakan telah dituntaskan sebelumnya – dengan memenangkan mayoritas besar di dalam soviet-soviet buruh dan tentara. Pada momen kebenaran, Pemerintahan Provisional, seperti rezim tsar pada bulan Februari, tidak memiliki satu pun pendukung yang siap membelanya. Perimbangan kekuatan yang sesungguhnya pada momen pemberontakan terungkap dalam pernyataan dari salah satu aktor utama drama ini, yakni Kerensky. Dalam sebuah kutipan yang penuh dengan ironi yang tidak dia sadari, ia menulis:

“Malam hari tanggal 24-25 Oktober adalah waktu yang penuh dengan pengharapan yang menegangkan. Kami sedang menunggu pasukan yang akan datang dari garis depan. Mereka telah saya perintahkan untuk datang sedari awal dan rencananya akan tiba di Petrograd pada pagi hari tanggal 25 Oktober. Tetapi alih-alih pasukan, yang kami dapati hanyalah telegram-telegram dan pesan-pesan telepon yang mengatakan bahwa rel-rel kereta api telah disabotase.”

“Hingga pagi (25 Oktober) pasukan belum juga tiba. Kantor penyambung telepon, kantor pos, dan sebagian besar gedung pemerintah telah diduduki oleh detasemen Garda Merah. Gedung tempat duduknya Dewan Republik, yang kemarin hari gaduh dengan debat kusir yang bodoh, juga telah diduduki pasukan Garda Merah.”[21]

Kerensky yang sebelumnya membual kepada duta besar Inggris bahwa dia hanya sedang menunggu kaum Bolshevik bergerak, untuk lalu menumpas mereka, sekarang mendapati dirinya tanpa pasukan untuk melakukan itu dan terpaksa melarikan diri dari Petrograd dengan sebuah mobil yang dipinjamkan dengan murah hati oleh kedutaan Amerika.

Di sini bukanlah tempatnya untuk mengulang sejarah insureksi Oktober, yang cukup diketahui dari tulisan-tulisan John Reed dan Leon Trotsky. Apa yang menakjubkan tentang Revolusi Oktober adalah bagaimana revolusi ini digelar secara terbuka dengan perhatian penuh dari rakyat. Jika ada orang yang tidak menyadari bahwa Partai Bolshevik bermaksud untuk mengambil alih kekuasaan, maka deklarasi publik Kamenev dan Zinoviev akan segera membuat mereka sadar akan fakta tersebut. Koran Prancis Entente, yang diterbitkan di Petrograd pada 15 November, satu minggu setelah revolusi, berkomentar:

“Pemerintah Kerensky berdiskusi dan ragu-ragu. Pemerintah Lenin dan Trotsky menyerang dan bertindak.”

“Yang belakangan ini disebut Pemerintahan Konspirator, tapi itu tidak benar. Pemerintah yang merampas kekuasaan, ya, seperti halnya semua Pemerintah revolusioner yang menang atas musuh-musuh mereka. Konspirator - tidak!”

“Tidak! Mereka tidak berkonspirasi. Sebaliknya, secara terbuka, dengan berani, tanpa basa-basi, tanpa menyamarkan niat mereka, mereka melipatgandakan agitasi mereka, mengintensifkan propaganda mereka di pabrik-pabrik, barak-barak, di garis depan, di pedesaan, di mana-mana, bahkan menetapkan di muka tanggal mereka akan mengangkat senjata, tanggal perebutan kekuasaan mereka ...”

Mereka – konspirator? Tidak pernah ...”[22]

Menjelang malam tanggal 24 Oktober, Garda Merah mulai menduduki kantor-kantor percetakan pers borjuis, di mana mereka mencetak sejumlah besar proklamasi revolusioner serta koran-koran Bolshevik seperti Rabochy Put’ dan Soldat. Tentara-tentara yang diperintahkan untuk menyerang kantor-kantor percetakan tersebut menolak untuk mematuhi perintah. Ini adalah gambaran umum di Petrograd. Praktis tidak ada perlawanan. Sementara para delegasi Kongres yang mengantuk menyaksikan dari pintu – beberapa dengan waspada, yang lainnya dengan pengharapan – detasemen tentara dan pelaut berangkat dari Istana Smolny ke titik-titik penting kota. Pada pukul satu dini hari, mereka telah menduduki kantor telegraf. Setengah jam kemudian, kantor pos sudah diamankan. Pada pukul lima, kantor penghubung telepon menyusul. Pada pukul sepuluh pagi, garis pertahanan didirikan mengelilingi Istana Musim Dingin, dan orang-orang mengantisipasi sejumlah perlawanan. Namun pada kenyataannya, garis pertahanan ini kolaps begitu saja, tanpa perlawanan berarti.  

Pemberontakan Oktober hanya melegitimasi apa yang telah menjadi kenyataan yang tak terbantahkan. Semua orang tahu bahwa Partai Bolshevik dan sekutu-sekutu mereka akan memiliki mayoritas yang menentukan di Kongres Soviet. Oleh karena itu, diputuskan agar pemberontakan bertepatan dengan hari pembukaan Kongres. Aspek formal ini jelas harus menempati urutan kedua setelah urgensi operasi militer. Gagasan bahwa masalah pemberontakan bersenjata harus ditentukan oleh hasil debat publik di Kongres Soviet adalah hal yang menggelikan, sama menggelikannya dengan tuntutan bahwa rencana pertempuran harus diperdebatkan secara publik di parlemen pada saat perang. Siapa pun yang menuntut hal seperti itu pasti akan dicap sebagai pengkhianat dan mungkin dikurung di rumah sakit jiwa. Namun ini tidak mencegah para kritikus Revolusi Oktober untuk mengeluh bahwa Lenin dan Trotsky tidak menunggu persetujuan resmi dari Kongres Soviet sebelum meluncurkan serangan ke Istana Musim Dingin. Argumen semacam itu tidak memiliki validitas sedikit pun. Opini mayoritas besar buruh dan tentara sudah diketahui dengan baik: bahwa Soviet harus mengambil alih kekuasaan. Masalah itu sudah dituntaskan sebelumnya, dan Kongres hanya membubuhkan stempel di atasnya. Setelah masalah sentral ini diselesaikan, masalah kapan dan bagaimana pemberontakan ini harus dilakukan – yang merupakan keputusan yang murni teknis dan militer – harus ditentukan oleh badan-badan yang sesuai, dalam hal ini Komite Revolusioner Militer, seturut hukum-hukum perang, bukan demokrasi formal.

Pukul 14.35, Trotsky membuka sesi darurat Soviet Petrograd. Melangkah naik ke podium, dia mengumandangkan kata-kata yang sudah ditunggu-tunggu semua orang:

“Atas nama Komite Revolusioner Militer, saya menyatakan bahwa Pemerintahan Provisional sudah dibubarkan! Hidup Komite Revolusioner Militer!”

Satu demi satu, dia mendaftar titik-titik yang telah ditaklukkan oleh pemberontakan, dan berhenti hanya untuk menjelaskan situasi di Istana Musim Dingin:

“Istana Musim Dingin belum direbut, tetapi nasibnya akan ditentukan tidak lama lagi ... Dalam sejarah gerakan revolusioner, saya tidak tahu contoh lain di mana massa sebesar itu terlibat dan revolusi berkembang tanpa pertumpahan darah. Kekuasaan Pemerintahan Provisional yang dipimpin oleh Kerensky telah mati dan menunggu hantaman sapu sejarah yang harus menyingkirkannya ... Warga tidur dengan nyenyak dan tidak tahu bahwa saat ini satu kekuasaan telah digantikan oleh yang lain.”[23]

Pada saat itu, Lenin memasuki aula, masih menyamar sebagai buruh. Di tengah pidatonya, Trotsky berhenti dan menoleh ke sosok yang kini telah menyatu dengannya sebagai kawan seperjuangan. Semua perbedaan masa lalu terlupakan dalam panasnya api perjuangan. “Hidup Kamerad Lenin, yang telah kembali lagi bersama kita,” adalah kata-kata Trotsky saat dia menyerahkan podium kepada Lenin, yang sekarang berbicara kepada para delegasi untuk pertama kalinya. Dalam pidato bersejarahnya di Kongres Soviet pada tanggal 25 Oktober 1917, dia berkata:

“Kamerad sekalian, kaum Bolshevik selalu berbicara mengenai perlunya revolusi buruh dan tani, dan kini revolusi ini telah tercapai.”

“Apa signifikansi dari revolusi buruh dan tani ini? Signifikansinya adalah, pertama-tama, bahwa kita akan memiliki pemerintahan Soviet, organ kekuasaan kita sendiri, di mana borjuasi tidak akan memiliki bagian apa pun. Massa tertindas akan dengan sendirinya menciptakan kekuasaan. Aparatus negara yang lama akan dihancurkan sampai ke akar-akarnya dan sebuah aparatus administrasi baru akan didirikan dalam bentuk organisasi-organisasi Soviet.”

“Mulai sekarang, fase baru dalam sejarah Rusia dimulai, dan ini, Revolusi Rusia yang ketiga [yang pertama Revolusi 1905, yang kedua Revolusi Februari 1917], pada akhirnya harus mengarah pada kemenangan sosialisme.”

“Salah satu tugas mendesak kita adalah segera mengakhiri perang. Jelas bagi semua orang bahwa untuk mengakhiri perang ini, yang terkait erat dengan sistem kapitalis saat ini, kapital itu sendiri harus diperangi.”

“Kita akan dibantu dalam hal ini oleh gerakan kelas buruh dunia, yang sudah mulai berkembang di Italia, Inggris dan Jerman.”

“Proposal yang kita ajukan kepada demokrasi internasional untuk perdamaian yang adil dan segera akan membangkitkan tanggapan yang bersemangat di antara massa proletar internasional di mana-mana. Semua perjanjian rahasia harus segera dipublikasikan untuk memperkuat kepercayaan kaum proletar.”

“Di Rusia, sebagian besar kaum tani telah mengatakan bahwa mereka telah cukup lama bersabar dengan kaum kapitalis, dan sekarang akan berbaris dengan kaum buruh. Satu dekrit yang mengakhiri kepemilikan pribadi atas tanah akan memenangkan kepercayaan kaum tani. Kaum tani akan mengerti bahwa keselamatan kaum tani hanya dapat ditemukan dalam aliansi dengan kaum buruh. Kita akan mencanangkan kontrol buruh yang sejati atas produksi.”

“Kita sekarang telah belajar untuk melakukan upaya bersama. Revolusi yang baru saja dicapai ini adalah buktinya. Kita memiliki kekuatan organisasi massa, yang akan mengatasi segala rintangan dan memimpin proletariat menuju revolusi dunia.”

“Sekarang kita harus mulai membangun negara sosialis proletar di Rusia.”

“Hidup revolusi sosialis dunia! (tepuk tangan meriah.)”[24]

Perjuangan di Kongres

Secara de facto, pemberontakan telah meraih kemenangan. Satu-satunya gol yang belum tercapai adalah merebut Istana Musim Dingin, yang masih berada di tangan pasukan yang setia pada pemerintah. Lenin, yang berharap bahwa pemberontakan akan berakhir sebelum pembukaan Kongres Soviet, menjadi tidak sabar dengan keterlambatan ini, yang disebabkan oleh kurangnya pengalaman para pemberontak. Persiapan politik untuk pemberontakan telah dilakukan dengan profesionalisme yang jauh lebih baik daripada persiapan teknis, yang jauh dari sempurna. Ada banyak problem organisasional. Pasukan datang terlambat karena pipa lokomotif pecah; peluru untuk meriam ternyata salah ukuran; mereka tidak dapat menemukan lentera merah untuk menandai dimulainya serangan, dan seterusnya. Tetapi pada akhirnya, tidak ada satupun problem-problem ini yang menentukan. Anekdot-anekdot semacam itu termasuk dalam kategori aksiden sejarah. Apa yang menentukan adalah keberhasilan memenangkan massa, yang membuat Pemerintahan Provisional terisolasi dan tak berdaya pada momen kebenaran. Maka dari itu, meskipun awalnya ada 3.000 prajurit di dalam Istana Musim Dingin, mereka meluluh begitu saja pada malam harinya. Situasi yang sebenarnya dipahami oleh perwira-perwira yang ada di dalam. Sebuah dewan perang digelar, di mana Laksamana Verderevsky membuat pengamatan yang paling relevan: “Saya tidak tahu mengapa sesi ini diadakan,” katanya. “Kita tidak memiliki kekuatan militer yang nyata dan oleh karenanya tidak mampu mengambil tindakan apa pun.”

Perebutan Istana Musim Dingin berlangsung tanpa pertumpahan darah, dan lebih menyerupai operasi polisi. Ketika tembakan peringatan ditembakkan dari kapal penjelajah Aurora, garnisun Istana Musim Dingin meluluh begitu saja di malam hari. Menteri Pertanian SR Kanan, Semyon Maslov, menelepon Duma dalam keadaan putus asa:

“Demokrasi mengirim kami ke dalam Pemerintahan Provisional; kami tidak menginginkan jabatan ini, tapi kami menerimanya. Namun sekarang, ketika tragedi datang, ketika kami ditembaki, tidak ada seorangpun yang mendukung kami.[25]

Ketika serangan itu akhirnya diluncurkan, tidak ada perlawanan. Sekitar pukul 2 pagi, sementara anggota-anggota kabinet Pemerintahan Sementara yang sudah lelah dan patah semangat menunggu di sekitar meja, pintu terbuka dan, menurut kesaksian dari salah satu dari mereka:

“Seorang lelaki berperawakan kecil merangsek masuk ke dalam ruangan, seperti kayu kecil yang dihempaskan gelombang, terdorong oleh kerumunan massa yang mengalir masuk dan langsung menyebar, seperti air bah yang memenuhi seluruh sudut ruangan.”

Lelaki berperawakan kecil itu adalah Antonov-Ovseyenko dari Komite Revolusioner Militer. “Pemerintahan Provisional ada di sini – apa yang Anda inginkan?” tanya Menteri Konovalov. “Kalian semua ditahan,” jawabnya dengan tegas.

Kongres Soviet dijadwalkan mulai pada pukul 2 siang, tetapi ditunda, dan akhirnya dibuka pada pukul 10.40 malam, sementara pengepungan Istana Musim Dingin masih berlangsung. Perdebatan terkadang diselingi oleh suara tembakan. Di dalam Kongres, sebuah adegan dramatis tengah berlangsung.

Itu adalah sesi yang penting. Atas nama Komite Revolusioner Militer Trotsky menyatakan bahwa Pemerintahan Provisional sudah dibubarkan. Dia mengatakan:

“Ciri khas pemerintah borjuis adalah menipu rakyat. Kita, Soviet Deputi Buruh, Tentara, dan Tani, akan mencoba sebuah eksperimen unik dalam sejarah; kita akan mendirikan sebuah kekuasaan yang tidak memiliki tujuan lain selain untuk memenuhi kebutuhan tentara, buruh, dan petani.”

Kekuatan suara di Kongres memberi Bolshevik dan sekutu mereka SR Kiri mayoritas yang jelas. Dari total 670 delegasi, ada 300 Bolshevik, 193 SR – lebih dari setengahnya adalah SR Kiri – dan 82 Menshevik – 14 di antaranya adalah Menshevik Internasionalis. Seperti yang telah kita lihat, kaum Bolshevik memiliki dominasi kuat di pusat-pusat industri utama di utara dan barat. Dan dukungan mereka terus bertambah. Kongres dibuka dengan pemilihan presidium Soviet. Bolshevik mengajukan daftar kandidat bersama dengan SR Kiri dan Menshevik Internasionalis. Hasilnya adalah: 14 Bolshevik, 7 SR, dan empat Menshevik. Namun, Menshevik menolak untuk mengambil kursi yang dialokasikan untuk mereka. Mayoritas Kongres menyetujui pembentukan pemerintahan Soviet.

Kemarahan kaum Menshevik dan SR tidak mengenal batas. Ketika Trotsky mengumumkan bahwa pemberontakan telah menang, bahwa pasukan yang setia kepada Pemerintahan Provisional sedang bergerak menuju Petrograd, dan bahwa sebuah delegasi harus dikirim ke pasukan itu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, terdengar teriakan “Anda mengantisipasi kehendak Kongres Soviet!” Tapi waktu untuk basa-basi formal sudah lama berlalu. Trotsky menjawab dengan dingin: “Kehendak Kongres Soviet Seluruh Rusia telah diantisipasi dengan bangkitnya buruh dan tentara Petrograd.”

Kaum Menshevik dan SR tidak sendirian dalam menentang pemberontakan Oktober. Bahkan pada jam-jam terakhir ini, kaum Konsiliator Bolshevik masih menentang pengambilalihan kekuasaan. John Reed menceritakan pertemuannya dengan Ryazanov, wakil ketua serikat buruh, yang “tampak suram dan menggigit janggut abu-abunya. ‘Ini gila! Gila!’ dia memaki. ‘Kelas buruh Eropa tidak akan bergerak! Seluruh Rusia ...’ Dia melambaikan tangannya tidak keruan dan pergi.” Martov, yang sekarang menderita penyakit berat, mempertahankan kebimbangannya sampai akhir. Harapan Lenin bahwa Martov pada akhirnya akan mampu menemukan jalannya ke kubu revolusioner terbukti sia-sia. Martov bersikeras bahwa mereka harus membentuk sebuah pemerintahan koalisi dengan para pemimpin sosialis sayap kanan “untuk mencegah perang saudara”. Proposal ini secara efektif akan menafikan pemberontakan Oktober dan memutar balik waktu, dan ini adalah sesuatu yang tidak dapat diterima. Lenin dan Trotsky sama-sama menentangnya, tetapi kaum konsiliator mendukung proposal Martov. Atas nama kontingen Bolshevik, Lunacharsky mengumumkan bahwa dia tidak menentang proposal tersebut, yang sebenarnya telah disahkan. Tetapi kaum Menshevik segera menunjukkan bagaimana proposal tersebut hampa belaka, saat mereka mengecam penggulingan Pemerintahan Provisional dan melakukan walkout dari sidang Kongres. Saat mereka berjalan keluar dari ruang sidang, di tengah cemoohan dan siulan dari para delegasi, suara Trotsky menggelegar di belakang mereka:

“Semua kaum kompromis Sosialis ini, kaum Menshevik, Sosialis Revolusioner, Bund yang pengecut – biarkan mereka pergi! Mereka hanyalah sampah yang akan tersapu ke dalam tumpukan sampah sejarah!”[26]

Kemenangan pemberontakan Oktober bukanlah episode terakhir dari Revolusi Bolshevik. Kekuatan reaksi berhimpun dan mencoba meluncurkan serangan balik yang berhasil dipatahkan. Kemudian perang saudara yang berdarah-darah meletus, yang berlangsung selama empat tahun. Dalam konflik ini kekuasaan Soviet berhadap-hadapan dengan kekuatan imperialisme dunia dalam bentuk intervensi dari 21 tentara asing. Di satu saat, semua wilayah yang tersisa di tangan pemerintahan Bolshevik adalah wilayah di sekitar Moskow dan Petrograd – kira-kira setara dengan wilayah Muscovy lama. Namun satu demi satu musuh revolusi dipukul mundur. Dari reruntuhan tentara Tsar lama, Trotsky membangun sebuah kekuatan proletar baru, Tentara Merah, yang mengejutkan dunia dengan kemenangannya. Kepahlawanan, organisasi, dan disiplin Tentara Merah adalah kunci kemenangan, tetapi mereka tidak akan pernah berhasil tanpa seruan internasionalis yang dikumandangkan oleh Revolusi Bolshevik. Lewat Komunis Internasional, Lenin dan Trotsky mengeluarkan seruan kepada kaum buruh seluruh dunia, yang disambut dengan antusias. Buruh-buruh pelabuhan Inggris menolak memuat senjata ke kapal-kapal yang ditujukan untuk rejim kontra-revolusioner Polandia. Ada pemberontakan tentara di setiap pasukan asing yang dikirim untuk melawan Bolshevik. Kekuasaan Soviet mengejutkan semua orang dengan kemampuannya untuk bertahan, dan menunjukkan kepada dunia untuk pertama kalinya bahwa adalah mungkin untuk mengelola masyarakat tanpa kapitalis, bankir, dan tuan tanah. Memang benar, di bawah kondisi keterbelakangan ekonomi dan budaya yang mengerikan, Revolusi Rusia menderita proses degenerasi birokratik. Kendati demikian, Revolusi ini membuktikan secara gemilang potensi luar biasa dari ekonomi terencana yang dinasionalisasi.

Leon Trotsky menulis:

“Kemajuan historis umat manusia secara keseluruhan dapat diringkas sebagai serangkaian kemenangan kesadaran manusia selangkah demi selangkah atas kekuatan-kekuatan buta yang bisa ditemui dalam alam, masyarakat, dan bahkan dalam diri manusia itu sendiri. Pemikiran kritis dan kreatif dapat membanggakan kemenangan-kemenangan terbesarnya sampai hari ini dalam perjuangan melawan alam. Ilmu kimia-fisika telah mencapai titik di mana manusia jelas akan menjadi penguasa atas materi. Tetapi hubungan-hubungan sosial yang ada masihlah sangat tertinggal. Parlementerisme hanya menerangi permukaan masyarakat, dan bahkan dengan cahaya yang artifisial. Dibandingkan dengan monarki dan masyarakat-masyarakat tua lainnya ketika manusia masihlah kanibal dan menghuni gua-gua, demokrasi tentu saja merupakan sebuah pencapaian besar. Tetapi demokrasi membiarkan kekuatan-kekuatan buta merajalela dalam hubungan-hubungan sosial manusia. Revolusi Oktober adalah yang pertama menumbangkan ranah ketidaksadaran yang mengakar ini. Sistem Soviet bercita-cita membangun fondasi masyarakat yang berdasarkan tujuan dan rencana, di mana sampai hari ini hanya akumulasi konsekuensi yang berkuasa.”[27]

Kami akan serahkan kata terakhir kepada tokoh revolusioner besar yang terlalu sering digambarkan secara keliru sebagai musuh bebuyutan Lenin dan Bolshevisme. Dari sel penjaranya di Jerman, Rosa Luxemburg menyambut Revolusi Oktober dengan kata-kata berikut:

“Hanya sebuah partai yang tahu bagaimana memimpin, dalam kata lain, bagaimana melangkah maju keluar dari kebuntuan, akan dapat memenangkan dukungan di masa-masa penuh badai. Pada momen yang menentukan, dengan penuh keyakinan Lenin dan kamerad-kameradnya menawarkan satu-satunya solusi untuk melangkah maju (‘Seluruh kekuasaan di tangan proletariat dan tani’), dan ini dengan sekejap mengubah mereka dari minoritas yang dipersekusi, difitnah, dan dilarang, yang pemimpinnya harus bersembunyi seperti Marat di gudang bawah tanah, menjadi penguasa mutlak.”

“Terlebih lagi, kaum Bolshevik segera menetapkan tujuan perebutan kekuasaan ini, yakni menjalankan program revolusioner yang lengkap dan berjangkauan luas: bukan untuk mempertahankan demokrasi borjuis, tetapi untuk menegakkan kediktatoran proletariat guna mewujudkan sosialisme. Dengan demikian mereka memenangkan bagi diri mereka sendiri kehormatan historis yang tak akan pernah luntur sebagai yang pertama memproklamirkan tujuan akhir sosialisme sebagai program langsung politik praktis.”

“Lenin, Trotsky, dan kamerad-kamerad lainnya telah menunjukkan keberanian, wawasan revolusioner, dan konsistensi selama momen historis ini. Semua kehormatan dan kapasitas revolusioner yang tidak dimiliki oleh Sosial Demokrasi Barat telah diwakili oleh kaum Bolshevik. Pemberontakan Oktober mereka bukanlah hanya keselamatan untuk Revolusi Rusia saja, tetapi juga keselamatan bagi kehormatan sosialisme internasional.”

Penilaian final dari Rosa Luxemburg meringkas dengan sangat baik sejarah Partai Bolshevik, partai revolusioner yang paling megah dalam sejarah:

“Yang perlu dilakukan sekarang adalah membedakan yang esensial dari yang non-esensial, membedakan esensi kebijakan-kebijakan Bolshevik dari ekses-ekses lainnya yang aksidental. Di masa sekarang, tatkala kita menghadapi perjuangan penghabisan yang menentukan di seluruh dunia, problem sosialisme yang paling penting adalah masalah yang paling mendesak hari ini. Ini bukanlah masalah taktik ini atau itu yang sekunder, tetapi masalah kapasitas aksi kelas proletariat, kekuatannya untuk bertindak, hasratnya untuk merebut kekuasaan demi sosialisme. Lenin dan Trotsky dan kamerad-kamerad mereka adalah yang pertama melangkah maju menjadi teladan bagi proletariat seluruh dunia; mereka masihlah satu-satunya yang sampai sekarang mampu menyerukan pekikan perang Hutten[28]: ‘Ich hab’s gewagt’ (Saya telah berani!)”

“Inilah yang esensial dan abadi dalam kebijakan Bolshevik. Dengan cara ini, mereka telah memberikan pelayanan yang historis dan abadi dengan memimpin proletariat dunia dalam menaklukkan kekuasaan politik dan menempatkan secara praktis problem realisasi sosialisme, dan mengambil langkah besar dalam menuntaskan antagonisme antara kapital dan buruh di seluruh dunia. Di Rusia, problem ini hanya dapat diajukan. Ini tidak dapat diselesaikan di Rusia. Dan dalam pengertian ini, masa depan di mana-mana adalah milik ‘Bolshevisme’.”[29]

 

[1] LCWThe Turning Point, vol. 25, hal. 83.

[2] F.F. Raskolnikov, Kronstadt and Petrograd in 1917, hal. 256-57.

[3] LCW, vol. 26, hal. 547, catatan 79.

[4] O. Anweiler, Los Soviets en Rusia: 1905-1921, hal. 194.

[5] Dikutip di A. Rabinowitch, The Bolsheviks Come to Power, hal. 226.

[6] Liebman memberi angka 240.000 anggota. Schapiro, mengutip sumber lain, memberi angka 200.000.

[7] M. Liebman, Leninism Under Lenin, hal. 158.

[8] LCWThe Russian Revolution and Civil War, vol. 26, hal. 32.

[9] Protokoly Tsentral’nogo Komitera RSDRP b, hal. 116.

[10] LCWLetter to the CC of the RSDLP(B), vol. 26, hal. 223-27.

[11] Setelah Lenin meninggal, Stalin memelintir sejarah dengan menciptakan legenda bahwa dialah yang mengorganisir dan memimpin operasi militer Revolusi Oktober lewat organisasi “Sentra Militer Revolusioner” (SRM). SRM dibentuk pada pertemuan Komite Pusat pada 16 Oktober 1917, dengan beranggotakan Sverdlov, Stalin, Bubnov, Uritsky dan Dzerzhinsky. Dalam keputusan Komite Pusat, SRM akan menjadi bagian dari Komite Militer Revolusioner (KMR) yang dipimpin oleh Trotsky, tetapi pada kenyataannya SRM tidak pernah berfungsi sama sekali. Secara praktis kerja pengorganisiran operasi militer diarahkan oleh Soviet Petrograd lewat Komite Militer Revolusioner.

Dalam notulen rapat-rapat Komite Pusat selanjutnya, pada 20, 21, dan 24 Oktober, SRM tidak pernah lagi disebut ataupun memberi laporan kerja apapun. Sebaliknya, pada rapat KP 24 Oktober, ketiga anggota KP Bubnov, Uritsky dan Dzerzhinsky dimasukkan ke dalam KMR, seakan-akan keputusan 16 Oktober dimana ketiganya adalah anggota SRM tidak pernah terjadi. Pendeknya,

Selama Lenin masih hidup, semua catatan sejarah dan memoar tidak pernah menyebutkan nama Stalin ataupun menyebut SMR sebagai organisator insureksi Oktober. Misalnya, pada edisi pertama Lenin’s Works, tertera catatan: “Setelah Soviet Petersburg berada di tangan Bolshevik, Trotsky terpilih sebagai Presidennya dan dengan demikian mengorganisir dan memimpin insureksi pada 25 Oktober.”

Dan Stalin sendiri pada 1918, di artikel peringatan 1 tahun Revolusi Oktober, mengakui peran sentral Trotsky dan Komite Revolusioner Militer, tatkala dia menulis: “Semua kerja praktis pengorganisiran insureksi dilaksanakan di bawah kepemimpinan langsung Presiden Soviet Petrograd, Kamerad Trotsky. Bahkan dapat kita katakan dengan pasti bahwa bergesernya dukungan garnisun [Petrograd] ke sisi Soviet, dan eksekusi tegas dari kerja Komite Militer Revolusioner, Partai berhutang budi terutama dan di atas segalanya pada Kamerad Trotsky. Kamerad Antonov dan Podvoisky adalah asisten utama Kamerad Trotsky.”

Buku Sejarah Partai Bolshevik terbitan 1938 akhirnya menjungkirbalikkan semua fakta, dimana Trotsky digambarkan sebagai penentang utama Revolusi Oktober, dan Stalin sebagai organisatornya. Untuk bisa menciptakan legenda ini, Stalin dan birokrasi mengeksekusi mayoritas generasi Bolshevik Tua yang hidup melalui Revolusi Oktober. [Catatan Penerjemah]

[12] M. Liebman, Leninism Under Lenin, hal. 179-80.

[13] Pasukan sepeda umumnya direkrut dari kelas menengah, sehingga menjadi lapisan angkatan bersenjata yang paling konservatif.

[14] L. Trotsky, The History of the Russian Revolution, vol. 3, hal. 211-12, penekanan saya.

[15] LCWMarxism and Insurrection, vol. 26, hal. 22.

[16] Quoted in J. Reed, Ten Days that Shook the World, hal. 298, penekanan saya.

[17] V. Serge, Year One of the Russian Revolution, hal. 87.

[18] J. Reed, Ten Days That Shook the World, hal. 14.

[19] F.F. Raskolnikov, Kronstadt and Petrograd in 1917, hal. 266.

[20] LCWLetter to the Central Committee Members, vol. 26, hal. 234.

[21] A. Kerensky, Memoirs, hal. 437.

[22] Quoted by J. Reed in Ten Days That Shook the World, hal. 107.

[23] Quoted in A. Rabinowitch, The Bolsheviks Come to Power, hal. 278.

[24] LCWMeeting of the Petrograd Soviet of Workers’ and Soldiers Deputies, 25 October (7 November), 1917, vol. 26, hal. 239-40.

[25] A. Rabinowitch, The Bolsheviks Come to Power, hal. 284 dan hal. 290, penekanan saya.

[26] J. Reed, Ten Days That Shook the World, hal. 122-23, hal. 123 dan hal. 131.

[27] L. Trotsky, The History of the Russian Revolution, hal. 1191.

[28] Ulrich von Hutten (1488-1523) adalah seorang ksatria, pujangga, dan satiris Jerman, yang menjadi pendukung gerakan Reformasi Martin Luther. Sebagai pemimpin Pasukan Imperial Gereja Katolik, dia meluncurkan pemberontakan militer melawan Gereja Katolik pada 1522-23 yang dikenal sebagai “Poor Barons’ Rebellion”, yang lalu memicu Perang Tani Jerman 1524-26. Setelah kekalahan pemberontakan ini, dia meninggal dalam pengasingan. Motonya yang terkenal “Ich hab’s gewagt” (Saya telah berani), menjadi pekikan perang terhadap Gereja Katolik.

[29] R. Luxemburg, The Russian Revolution, hal. 39-40 dan hal. 80.