facebooklogocolour

Bolshevisme Jalan Menuju Revolusi Bab 26Revolusi Februari

Tahun 1917 disongsong oleh gelombang pemogokan di Petrograd, setelah masa tenang sejenak pada November-Desember 1916. Bulan Januari sendiri saja ada 270.000 buruh mogok, 177.000 di Petrograd, menurut data Inspektorat Pabrik. Perang menciptakan situasi yang semakin tak tertanggungkan bagi massa. Di atas mimpi buruk perang, menumpuk kengerian-kengerian akibat krisis ekonomi yang dalam. Pada Desember 1916, 39 pabrik di Petrograd tutup karena tidak ada lagi suplai bahan bakar dan 11 lagi tutup karena pemotongan listrik. Transportasi kereta api hampir kolaps. Tidak ada daging. Tepung langka. Bencana kelaparan berkeliaran di seluruh penjuru, dan antrean roti menjadi hal yang lazim. Ditambah lagi berita-berita kekalahan militer, serta bau busuk skandal dari istana kerajaan, klik Rasputin, dan rejim monarkis-tuan tanah Black Hundred. Rejim yang didominasi oleh penipu, spekulator, dan beragam bajingan dengan terbuka memperagakan kebusukan mereka di hadapan rakyat yang semakin tidak puas. Kaum liberal borjuis dalam “Blok Progresif” memohon Tsar Nicholas untuk menerapkan reforma, dan mencoba menakut-nakutinya dengan bahaya revolusi.

Di bawah permukaan, mood massa telah perlahan-lahan berubah. Trotsky menjelaskan proses ini sebagai “proses molekular revolusi”. Ini adalah sebuah proses yang berlangsung sangatlah gradual sehingga sering kali tidak kasat mata, bahkan bagi kaum revolusioner, yang terkadang menarik kesimpulan keliru dari penampakan apati massa dan tidak adanya manifestasi konkret dari akumulasi frustrasi, kegeraman dan kepahitan massa. Proses ini serupa dengan mengumpulnya tekanan secara perlahan di bawah permukaan bumi sebelum gempa terjadi. Proses ini juga tak kasat mata bagi pengamat picik yang tidak mampu melihat melampaui permukaan, yang tidak mampu mengkaji proses-proses bergemuruh yang tengah berlangsung di perut bumi. Ketika akhirnya meledak, ini membuat banyak orang terkejut. Berbagai orang “pintar” mencoba memberi penjelasan, yang biasanya hanya menyentuh penyebab langsung saja, yang sesungguhnya tidak menjelaskan apapun. Maka, Revolusi Februari katanya disebabkan oleh kelangkaan roti. Penjelasan ini mengabaikan fakta bahwa, dalam tahun-tahun menyusul Revolusi Oktober, kelangkaan roti bahkan jauh lebih parah, sebagai konsekuensi dari perang sipil yang diprovokasi oleh kontra-revolusi dan invasi oleh 21 pasukan asing. Mengapa ini tidak menghasilkan revolusi baru? Pertanyaan ini tidak pernah dilontarkan, dan tidak akan bisa dijawab bila kita terus mengacaukan insiden-insiden segera yang memicu gerakan dengan akar permasalahan yang lebih dalam; dalam kata lain, mengacaukan aksiden dengan keniscayaan. Seperti buku pelajaran sejarah lama yang menyatakan bahwa Perang Dunia Pertama disebabkan oleh terbunuhnya Archduke Ferdinand di Sarajevo, dan bukan karena akumulasi kontradiksi antar kekuatan-kekuatan imperialis utama sebelum 1914.

Pemogokan pada 9 Januari 1917 adalah pemogokan terbesar di Petrograd sejak meletusnya perang. Di distrik Vyborg dan Nevsky, pemogokannya penuh. Ini terutama memukul keras industri-industri perang. Sekitar 145.000 buruh terlibat, seperti “geladi” untuk revolusi. Pemogokan ini disertai dengan rapat-rapat akbar dan demonstrasi. Petrograd hampir seperti kamp militer, yang diduduki oleh tentara dan polisi, tetapi polisi sudah tidak bisa lagi membendung revolusi. Kaum liberal borjuis, dari sudut pandang mereka, mencoba menghentikan revolusi ini dengan memohon pada Tsar untuk memberikan reforma. Rodzianko memohon Tsar untuk memperpanjang masa hidup Duma dan melakukan perombakan kabinet. Gugus Buruh dari Komite Industri Perang yang didominasi Menshevik menyerukan kepada buruh Petrograd pada 14 Februari – yaitu hari pembukaan sidang Duma – untuk berunjuk rasa di Istana Tauride untuk menunjukkan solidaritas mereka dengan Duma dan mendukung oposisi liberal. Biro KP Bolshevik mengutuk kebijakan kolaborasi kelas ini dan menyerukan pemogokan satu-hari pada hari peringatan pengadilan perwakilan Duma Bolshevik. 90.000 buruh di 58 pabrik merespons seruan mogok ini. Buruh Putilov berdemonstrasi dengan slogan: “Hentikan Perang!” “Turunkan Pemerintah!” “Hidup Republik!” Tidak ada buruh yang ke Istana Tauride. Rodzianko mengaku bahwa Duma hampir seperti “penonton pasif” saat para demonstran melewati mereka di sepanjang Prospekt Nevsky.

“Geladi-geladi” yang berhasil ini – atau lebih tepatnya “aproksimasi progresif” – menunjukkan bahwa mood massa telah mencapai titik didih. Perwakilan dari pabrik Putilov melakukan sweeping ke pabrik-pabrik di distrik Narva dan Vyborg. Ini memicu gerakan umum. Ada kerusuhan roti, dimana sejumlah besar perempuan terlibat.

Pemogokan di pabrik raksasa Putilov awalnya dimulai pada 18 Februari oleh beberapa ratus buruh di salah satu bengkel, yang menuntut upah lebih tinggi dan dipekerjakannya kembali beberapa buruh yang kena PHK. Pemogokan ini mengejutkan kaum revolusioner dan juga buruh-buruh yang terorganisir. 30.000 buruh dari pabrik besar ini membentuk komite pemogokan, turun ke jalan, dan menyerukan ke buruh-buruh lain untuk mendukung mereka. Pada 22 Februari, manajemen pabrik Putilov merespons dengan lockout. Salah besar. Ribuan buruh yang geram justru turun ke jalan-jalan, di saat banyak perempuan kelas-buruh sedang mengantre di jalan-jalan yang dingin beku untuk ransum sesuap roti. Kombinasi ini ternyata lebih eksplosif dibanding meriam yang diproduksi oleh pabrik Putilov. Kebetulan, esok harinya, 23 Februari (penanggalan Rusia lama) adalah Hari Perempuan Internasional. Ini memberi dorongan lebih besar pada gerakan massa ini. Perempuan dan pemuda-pemudi, lapisan yang sebelumnya terbelakang dan tak terorganisir, bergerak seperti kilat, dan ini sekali lagi mengejutkan para aktivis. Seperti yang dijelaskan oleh sejarawan Soviet E.N. Burdzhalov, anak-anak muda kelas-buruh “berbaris di garis depan demonstrasi, hadir di pertemuan-pertemuan, terlibat dalam bentrokan dengan polisi, [dan] ... berperan sebagai mata-mata untuk revolusi, dengan memberitahu para buruh [dewasa] kapan tentara dan polisi akan datang, dsb.”[1]

Pada 24 Februari, 200.000 buruh – lebih dari setengah kelas buruh Petrograd – mogok. Ada rapat-rapat besar di pabrik-pabrik dan demonstrasi-demonstrasi raksasa. Buruh menanggalkan rasa takut mereka dan berdiri menghadapi penindas mereka. Revolusi telah dimulai. Sekali dimulai, gerakan ini meraih momentumnya sendiri, dan menyeret semua yang ada di belakangnya. Demo-demo besar menemani pemogokan, yang menyebar bak api liar dari distrik Vyborg ke kawasan-kawasan industri lainnya. Massa besar bergerak ke tengah kota, tidak menggubris polisi dan tentara yang menghadangnya, bahkan menyeberangi sungai Neva yang membeku, berteriak menuntut “Roti!” “Perdamaian!” dan “Turunkan Tsar!”

Pada Kamis, 23 Februari, pertemuan-pertemuan digelar untuk memprotes perang, tingginya harga kebutuhan pokok, dan kondisi kerja perempuan yang buruk. Ini lalu berkembang menjadi gelombang pemogokan yang baru. Perempuan memainkan peran kunci. Mereka melakukan sweeping ke pabrik-pabrik, dan memanggil buruh-buruh lain untuk keluar pabrik. Demo-demo massa menyusul. Bendera dan spanduk berkibar dengan slogan-slogan revolusioner: “Hentikan Perang!” “Akhiri Kelaparan!” “Hidup Revolusi!” Orator-orator dan agitator-agitator tiba-tiba muncul seperti jatuh dari langit. Banyak dari mereka adalah Bolshevik, tetapi yang lainnya adalah buruh-buruh jelata, baik laki-laki maupun perempuan, yang, setelah bertahun-tahun dibungkam tiba-tiba menemukan bahwa mereka punya lidah di mulut mereka dan otak yang bisa berpikir.

Pagi itu, seorang kelasi berumur 25 tahun, Fyodor Fyodorovich Ilyin (Raskolnikov) menengok ke luar jendela dan bertanya pada dirinya sendiri: “Hari ini Hari Perempuan. Apakah akan ada sesuatu yang terjadi di jalan-jalan hari ini?” Sesuatu memang terjadi. 128.000 buruh mogok. Seluruh kota bergolak.

“Ternyata, Hari Perempuan ditakdirkan menjadi hari pertama revolusi. Buruh perempuan, yang terdorong sampai putus asa oleh kesengsaraan mereka, jadi korban siksaan rasa lapar, adalah yang pertama turun ke jalan-jalan menuntut ‘roti, kebebasan dan perdamaian’.”

“Pada hari itu, saat kami dikurung di kamar kami, kami dapat melihat ke luar dari jendela sebuah pemandangan yang paling luar biasa. Kereta trem tidak berjalan, yang berarti jalan-jalan kosong melompong dan hening tidak seperti biasanya. Tetapi di sudut Prospekt Bolshoi dan Jalan Gavanskaya ada kerumunan-kerumunan perempuan yang terus berkumpul. Polisi berkuda mencoba membubarkan mereka, dengan kasar menabraki mereka dengan moncong kuda-kuda mereka dan memukuli mereka dengan bagian datar pedang mereka yang terhunus. Ketika pasukan kuda tsaris oprichniki[2] menghampiri kerumunan massa di trotoar, massa tanpa kehilangan kesabaran mereka akan bubar untuk sementara, sambil melempar umpatan dan kata-kata kasar ke mereka; tetapi setelah pasukan berkuda ini kembali ke jalan raya, massa langsung berkerumun kembali menjadi satu massa solid. Di beberapa kerumunan ini kita bisa melihat sejumlah laki-laki, tetapi mayoritas besar adalah para buruh perempuan dan istri buruh.”[3]

Pada 25 Februari, 30 sampai 35 pemimpin buruh bertemu di kantor Serikat Koperasi Buruh Petrograd untuk membentuk soviet. Walaupun setengah dari mereka ditangkap pada malam harinya, dua hari kemudian, ketika arus pasang telah berubah, sejumlah dari mereka memproklamirkan diri mereka sebagai Komite Eksekutif Provisional Soviet Petrograd. Perwakilan Duma Menshevik N.S. Chkheidze terpilih sebagai ketua, walaupun jelas-jelas dia tidak mewakili pabrik manapun. Begitu juga dengan mayoritas dari kira-kira 150 orang yang hadir pada pertemuan pendirian Soviet ini, mandat mereka juga diragukan. Soviet ini menyatakan tujuan mereka: “untuk mengorganisasi kekuatan rakyat dan berjuang untuk mengonsolidasi kebebasan politik dan pemerintahan kerakyatan.” Pada malam harinya, Tsar Nicholas memberi instruksi kepada Khabalov untuk “mengakhiri kekacauan di ibukota paling lambat besok”. Besok sorenya, tentara melepas tembakan. Sebuah laporan polisi menulis bahwa: “hanya ketika peluru tajam ditembakkan ke pusat kerumunan barulah mungkin membubarkan massa, namun kebanyakan bersembunyi di pekarangan rumah-rumah sekitar dan lalu kembali lagi ke jalan-jalan setelah penembakan berhenti.” Ketika massa sudah tidak lagi takut mati, maka ajal rejim sudah dekat. Tetapi, bahkan sekarangpun, para pemimpin Bolshevik di Petrograd belum memahami apa yang sesungguhnya sedang terjadi. V. Kayurov, anggota komite Bolshevik di distrik Vyborg, menyimpulkan bahwa “satu hal yang tampak jelas: insureksi ini tengah pupus.”[4] Pada kenyataannya, insureksi ini baru saja dimulai.

Dalam waktu beberapa hari saja, dari 25 sampai 27 Februari, Petrograd ada dalam cengkeraman pemogokan umum. Pemogokan umum mengedepankan secara blak-blakan masalah kekuasaan, tetapi dengan sendirinya tidak akan dapat menyelesaikannya. Pertanyaan muncul dari situasi seperti ini: siapa yang berkuasa? Siapa Tuan di rumah? Cepat atau lambat, pertanyaan ini akan ditentukan oleh kekerasan. Setelah pulih dari kelumpuhan awalnya, rejim mulai merespons. Tsar secara pribadi mengeluarkan perintah: “Saya perintahkan kalian untuk mengakhiri kekacauan di ibukota besok.” Tentara dan polisi diperintah langsung oleh Nicholas Sang Penjagal untuk menembaki para demonstran. Pada 26 Februari, mereka mulai menembak. Kebanyakan serdadu mengarahkan tembakan mereka ke udara, tetapi polisi, yang selalu lebih terbelakang dan reaksioner dibandingkan serdadu, menembaki kerumunan demonstran. Banyak yang mati dan luka-luka. Ini adalah titik balik menentukan dalam kesadaran tentara. Pada hari itu, resimen Pavlovsk, yang diperintah untuk menembaki buruh, justru menembaki polisi. Di atas kertas, rejim memiliki kekuatan yang memadai yang bisa digunakannya. Tetapi pada momen kebenaran, kekuatan-kekuatan ini menguap hilang. Perintah-perintah untuk mendatangkan pasukan tambahan tidak digubris. Trotsky, dalam bukunya The History of Russian Revolution, mengutip komunikasi antara Jendral Ivanov dan Jendral Khabalov pada saat itu:[5]

Jenderal Ivanov: Berapa banyak tentara yang masih tertib dan berapa yang membangkang?

Jenderal Khabalov: Di gedung Angkatan Laut saya memiliki dua kompi Pengawal, lima skuadron kavaleri dan Cossack, dan dua baterai; pasukan-pasukan yang lainnya sudah menyebrang ke sisi kaum revolusioner, atau membuat kesepakatan dengan mereka untuk tetap netral. Para serdadu berkeliaran di kota-kota secara perorangan atau berkelompok untuk melucuti senjata para perwira.

I: Stasiun kereta mana saja yang ada penjagaannya?

K: Semua stasiun kereta ada di tangan kaum revolusioner dan dijaga ketat oleh mereka.

I: Wilayah mana saja di kota [Petrograd] yang aman?

K: Seluruh kota ada di tangan kaum revolusioner. Telepon tidak berfungsi, tidak ada komunikasi antara berbagai wilayah kota.

I: Departemen mana yang bertanggung jawab atas wilayah-wilayah kota ini?

K: Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini.

I: Apa semua kementerian beroperasi dengan layak?

K: Para menteri sudah ditahan oleh kaum revolusioner.

I: Pasukan polisi mana saja yang ada di bawah komando kamu?

K: Tidak ada satupun.

I: Dari Departemen Perang, institusi teknis dan suplai mana yang ada di bawah kendali kamu?

K: Saya tidak punya kendali atas satupun.

I: Berapa persediaan makanan yang kamu miliki?

K: Tidak ada persediaan makanan yang saya miliki. Di kota pada 5 Februari, ada 5.600.000 pon tepung gandum di toko-toko.

I: Berapa banyak senjata, artileri dan gudang senjata yang telah jatuh ke tangan pemberontak?

K: Semua artileri ada di tangan kaum revolusioner.

I: Pasukan dan staf militer mana yang ada di bawah kendali kamu?

K: Kepala Staf Distrik ada di bawah kendali pribadi saya. Dengan administrasi-administrasi distrik lain, saya tidak punya komunikasi.

Ada fraternisasi luas antara para tentara dan para pemogok. Buruh-buruh mengunjungi barak-barak untuk memenangkan saudara-saudara berseragam mereka ke sisi mereka. Di markas-markas Bolshevik, diskusi mengenai taktik terus berlangsung dan sering kali panas, dalam situasi yang terus berubah, bukan dalam hitungan harian tetapi dalam hitungan jam. Shlyapnikov menentang pembentukan detasemen bersenjata, dan menekankan taktik memenangkan tentara. Chugurin dan yang lainnya berpendapat kedua tugas ini diperlukan, dan seterusnya. Yang pasti, situasi bergerak jauh lebih cepat daripada debat-debat para pemimpin Bolshevik di Petrograd. Kaum buruh secara praktis telah merebut kendali kota. Kendati kekurangan senjata dan pelatihan militer, ini mereka tutupi dengan keberanian dan jumlah mereka yang besar.

Setelah 27 Februari, hampir seluruh ibukota ada di tangan buruh dan tentara, termasuk jembatan, persenjataan, stasiun kereta, kantor telegraf, dan kantor pos. Pada momen kebenaran, kekuatan besar yang di atas kertas dimiliki rezim menguap ke udara. Pada malam hari tanggal 28 Februari, Khabalov sudah tidak punya satupun pasukan di bawahnya – seorang jendral tanpa serdadu. Menteri-menteri kabinet Tsar digiring ke Benteng Peter dan Paul, menjadi tahanan revolusi! Mendasarkan diri mereka pada pengalaman Revolusi 1905, kaum buruh mendirikan Soviet untuk menjalankan fungsi-fungsi masyarakat. Kekuasaan ada di tangan kelas buruh dan tentara.

Satu hal yang teramat jelas. Tsarisme ditumbangkan oleh kelas buruh, yang menarik di belakang mereka kaum tani dalam bentuk tentara. Pada kenyataannya, revolusi ini dituntaskan di satu kota – Petrograd – yang hanya mencakup 1/70 populasi Rusia. Di sini, dalam cara yang sangat kentara, kita saksikan bobot menentukan kelas proletariat atas kelas tani, kota atas desa. Revolusi Februari berlangsung relatif damai karena tidak ada satupun kekuatan yang serius yang siap sedia membela rejim tua ini. Ketika kelas proletariat mulai bergerak, tidak ada yang bisa menghentikannya. Sehubungan dengan Revolusi Februari, Trotsky menulis:

“Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa kota Petrograd-lah yang memenangkan Revolusi Februari. Seluruh Rusia mengikutinya. Tidak ada bentrokan di tempat lain selain Petrograd. Tidak akan ditemui di manapun di negeri ini, lapisan populasi, partai, institusi, atau unit militer apa pun yang siap sedia mempertahankan rezim tua ini. Ini menunjukkan betapa keblingernya celoteh terlambat kaum reaksioner yang membayangkan bila saja ada pasukan kavaleri Pengawal Istana di garnisun Petrograd, atau bila saja Jenderal Ivanov mendatangkan satu brigade dari garis depan yang dapat diandalkan, maka nasib monarki ini akan berbeda. Entah di garis depan atau di garis belakang, tidak ada satupun brigade atau resimen yang siap sedia bertempur demi Nicholas II.”[6]

Kekuasaan kini ada di tangan buruh, tetapi, seperti yang Lenin lalu jelaskan, mereka tidak memiliki organisasi yang memadai dan tidak cukup sadar-kelas untuk membawa revolusi ini sampai ke garis finis. Inilah paradoks utama dari Revolusi Februari. Kelas yang mengemban revolusi ini tidak lain adalah kelas buruh, yang menarik di belakang mereka kaum tani yang mengenakan mantel abu-abu tentara. Tetapi, bagaimana bisa ini adalah revolusi borjuis? Benar, dalam program dan tuntutannya, konten objektif dari Revolusi Februari adalah borjuis-demokratik. Tetapi apa peran yang dimainkan oleh kelas borjuasi? Peran kontra-revolusioner, yang hanya digagalkan karena para politisi liberal, seperti rezim Tsar sendiri, tidak punya basis material untuk memenuhi rencana mereka. Setelah memahami kemustahilan untuk menenggelamkan revolusi ini dalam darah, mereka terburu-buru mengimprovisasi “Pemerintah Provisional” agar bisa merebut kendali gerakan ini dan menggelincirkannya. Pemerintahan Provisional muncul dari komite provisional Duma, yang memberi dirinya titel yang menunjukkan jati diri mereka: “Komite untuk Pengembalian Ketertiban dan Relasi dengan Institusi-institusi dan Tokoh-tokoh Publik.” Komite ini dikepalai oleh Mikhail Rodzianko, mantan ketua Duma, yang mengakui bahwa dia meratapi abdikasi Tsar dengan “kesedihan yang tak terkatakan”. Shulgin, salah satu anggota terkemuka Blok Progresif, bermimpi kalau saja ada senapan mesin yang dapat dia gunakan untuk menghadapi massa perusuh. Shulgin tidak sengaja mengungkapkan alasan sesungguhnya dibentuknya Pemerintahan Provisional, ketika dia mengatakan: “Bila kami tidak mengambil kekuasaan, orang lain yang akan mengambilnya, para perusuh itu yang telah memilih bajingan-bajingan di pabrik-pabrik.”[7]

“Bajingan-bajingan di pabrik-pabrik” ini adalah anggota dewan buruh (soviet), komite perjuangan yang berbasis luas, yang terpilih secara demokratis di tempat-tempat kerja, yang dengan segera tampil ke depan. Kaum buruh melanjutkan apa yang sebelumnya terhenti pada 1906. Seiring dengan bergulirnya revolusi, mereka menemukan kembali tradisi-tradisi lama dan membentuk dewan-dewan demokratis di setiap pabrik. Sesungguhnya, kekuasaan sudah ada di tangan mereka pada bulan Februari. Problemnya adalah tidak adanya partai dan kepemimpinan yang memimpin revolusi ini. Para pemimpin reformis, yang menemukan diri mereka terdorong ke muka pada tahapan awal revolusi dan lantas terpilih sebagai mayoritas anggota Komite Eksekutif Soviet, tidak punya perspektif untuk mengambil kekuasaan. Mereka dengan terburu-buru menyerahkan kekuasaan ke kelas borjuasi, walaupun yang belakangan ini tidak punya peran dalam revolusi dan justru takut kepada revolusi.

Kaum liberal tidak punya basis dukungan massa yang riil dalam masyarakat. Satu-satunya alasan Pemerintahan Provisional dapat bertahan adalah karena ditopang oleh para pemimpin Menshevik dan Sosial Revolusioner. Para perwakilan kapitalis besar ini sadar bahwa mereka hanya bisa mempertahankan Pemerintahan Provisional dengan bersandar pada dukungan para pemimpin Soviet. Mereka berharap ini hanya untuk sementara saja. Rakyat akan segera lelah dengan kegilaan ini. Gerakan akan kendor, dan kemudian mereka akan menghantam kaum “sosialis” ini. Tetapi untuk sementara, situasi ini adalah kemalangan yang harus mereka tolerir, karena alternatifnya bisa lebih buruk. Oleh karenanya, mereka harus menelan rasa geram mereka dan melakukan manuver-manuver yang diperlukan. Para pemimpin reformis dengan cepat menyelenggarakan pertemuan di Istana Tauride dengan anggota-anggota Gugus Buruh dari Komite Industri Perang, para perwakilan Duma Menshevik, dan para jurnalis dan intelektual Menshevik. Kaum Menshevik segera mengadopsi posisi kolaborasi kelas. Ini tidak mengherankan, karena ini adalah hasil logis dari keseluruhan evolusi mereka sebelumnya. Organ sentral mereka menerbitkan sebuah deklarasi pada 1 Maret, menyerukan pembentukan sebuah Pemerintahan Provisional “yang akan menyediakan syarat-syarat untuk pembangunan Rusia baru yang bebas.” Kaum buruh telah menumpahkan darah mereka untuk merebut kekuasaan, sementara kaum borjuasi yang ketakutan hanya jadi penonton. Namun, kaum Menshevik – para perwakilan terpilih dari “bajingan-bajingan di pabrik” – ingin menyerahkan kekuasaan ke kaum borjuasi!

Buruh dan tentara tidak mempercayai kaum borjuasi, tetapi mereka percaya pada pemimpin mereka, terutama yang punya citra paling radikal dan “kiri”, seperti Kerensky. Para kariris kelas-menengah dengan retorika pengacara mereka dan bakat retorika teatrikal mereka adalah orang yang paling cocok untuk mengejawantahkan tahapan pertama kebangkitan massa, sebuah tahapan yang masih belum memiliki bentuknya, masih penuh kebingungan, dan naif. Kerensky diizinkan oleh Soviet untuk berpartisipasi sebagai anggota Pemerintahan Provisional. Di sini kita saksikan paradoks sentral Revolusi Februari: revolusi ini mendorong ke tampuk kekuasaan orang-orang yang sama sekali tidak punya peran dalam keberhasilannya dan yang takut kepada revolusi layaknya setan takut kepada air suci – yaitu, Partai Kadet dan sekutu-sekutu Oktobris mereka di Duma. Pada 2 Maret, Pemerintahan Provisional terbentuk. Pemerintahan ini terdiri terutama dari tuan tanah besar dan kapitalis besar. Pangeran Lvov ditunjuk sebagai ketua dewan menteri. Menteri Luar Negeri dijabat oleh ketua Partai Kadet, Milyukov. Menteri Keuangan dijabat oleh pemilik pabrik gula besar dan tuan tanah Tereshchenko. Menteri Perdagangan dan Industri ada di tangan pemilik pabrik garmen Konovalov. Posisi Menteri Perang dan Angkatan Laut diberikan ke Guchkov dari kelompok Oktobris. Pertanian, Shingarev dari Partai Kadet. Kepada geng reaksioner macam inilah Soviet menyerahkan kekuasaan.

Para pemimpin borjuis-kecil Soviet tidak punya kepercayaan pada kemampuan massa untuk menuntaskan revolusi. Mereka benar-benar percaya bahwa kelas borjuasi adalah satu-satunya kelas yang layak berkuasa, dan dengan resah ingin menyerahkan kekuasaan yang telah ditaklukkan oleh buruh dan tentara kepada lapisan kapitalis yang “tercerahkan”. Kaum Menshevik dan SR berusaha meyakinkan massa bahwa memerintah tanpa kelas kapitalis akan “menghancurkan revolusi rakyat” (koran Izvestiya, 2 Maret 1917). Mereka terus mengatakan bahwa kelas buruh terlalu lemah untuk menyelesaikan revolusi dan tidak boleh “mengucilkan” diri mereka. Potresov mengedepankan posisi Menshevik secara blak-blakan ketika dia mengatakan bahwa “pada momen revolusi borjuis ini, kelas yang paling siap, secara sosial dan psikologis, untuk menyelesaikan problem-problem bangsa adalah borjuasi.” Pada 7 Maret, koran Menshevik di Petrograd, Rabochaya Gazeta, menulis: “Wahai Para Anggota Pemerintahan Provisional! Kaum proletariat dan tentara menunggu perintah kalian untuk memperkukuh revolusi dan membuat Rusia menjadi sebuah demokrasi.”[8]

Namun, sesungguhnya harapan ini sangatlah jauh dari benak para pemimpin borjuis Pemerintahan Provisional. Insting pertama mereka, seperti yang telah kita lihat, adalah menggunakan represi, tetapi ini sekarang mustahil. Oleh karenanya, mereka terpaksa bermanuver dan menunggu waktu yang tepat. Jadi, mereka “memberi” massa hanya apa yang telah ditaklukkan oleh buruh dan tentara dalam perjuangan. Tujuan utama kaum liberal adalah menghentikan laju revolusi dengan melakukan beberapa perubahan kosmetik di atas, yang akan mempertahankan sebanyak mungkin rezim lama. Rezim lama, yang telah sangat terpukul dan guncang, masih eksis dalam bentuk kekuatan ekonomi kaum tuan tanah, bankir, dan kapitalis, birokrasi raksasa negara, kasta perwira, Duma, dan monarki. Kaum borjuasi liberal begitu takut kepada revolusi sehingga mereka merangkul erat-erat monarki sebagai benteng pertahanan terkuat atas properti dan ketertiban. Untuk mempertahankan monarki, Pemerintahan Provisional bersekongkol untuk menggantikan Nicholas II dengan anaknya, di bawah perwalian saudara laki-lakinya Pangeran Mikhail, dan berharap menggantikan satu Romanov dengan Romanov lainnya. Dalam komedi yang buruk rupa ini, kaum buruh, yang telah menumpahkan darah mereka untuk menumbangkan keluarga Romanov, menyerahkan kekuasaan kepada para pemimpin mereka, yang, pada gilirannya, menyerahkannya ke kaum liberal borjuis, yang, pada gilirannya, menawarkan kekuasaan ini kembali ke keluarga Romanov!

Semua ini diketahui dengan baik oleh kaum buruh dan tentara, terutama lapisan aktivisnya, yang tidak mempercayai para politisi borjuis di dalam Pemerintahan Provisional. Tetapi mereka percaya pada kepemimpinan mereka, kaum Menshevik dan SR, kaum “sosialis moderat”, yang duduk sebagai mayoritas Komite Eksekutif Soviet dan yang terus mengatakan kepada mereka untuk sabar, bahwa tugas pertama adalah memperkukuh demokrasi, mempersiapkan penyelenggaraan Majelis Konstituante, dan seterusnya. Massa rakyat menyimak dan mempertimbangkan ini. Mungkin, kita harus sabar menunggu. Pemimpin kita yang paling tahu. Tetapi, rasa tidak percaya ini terus mengganggu mereka, dan menjadi semakin intens.

Kaum Bolshevik pada Revolusi Februari

Sejak 1914, kekuatan Partai Bolshevik tergerus, dan juga terpukul parah oleh represi. Tabel di bawah, dari Istoriya, memberi gambaran kekuatan partai pada Februari 1917:

Perkiraan jumlah anggota Partai Bolshevik pada Februari 1917

 

Petrograd

 

2.000

Moskow

600

Ural

500

Yekaterinoslav

400

Nizhny-Novgorod

300

Rostov

170

Tver

120-150

Ivanovo-Voznesensk

150-200

Kharkov

200

Samara

150

Kiev

200

Makeyevsk

180-200

 

(Sumber: Istoriya KPSS)

 

Kalau kita ingat bahwa kita tengah berbicara mengenai sebuah negeri dengan populasi sekitar 150 juta, kita dapat melihat, di awal revolusi, Partai Bolshevik mewakili jumlah yang sangat kecil. Tetapi kita harus mempertimbangkan faktor-faktor lain. Kualitas kader-kader Bolshevik jelas lebih superior dibanding tendensi-tendensi lain. Kebanyakan datang dari kelas buruh, mereka terlatih lebih baik, dan memiliki tingkat kedisiplinan yang lebih tinggi dibandingkan kader-kader Menshevik dan SR. Banyak dari mereka bisa kita sebut “pemimpin alami” di tempat-tempat kerja mereka, elemen-elemen yang paling sadar kelas dan militan, yang dipercaya oleh kawan-kawan buruh mereka. Setiap kader Bolshevik terhubungkan dengan banyak buruh. Di atas segalanya, mereka dapat mendasarkan diri mereka pada tradisi Bolshevik yang tersisa dari 1912-14, terutama di sentra-sentra industri besar. Secara organisasional, kondisi Menshevik dan SR jauh lebih buruk. Dalam hal prinsip, Partai Bolshevik punya keunggulan dibandingkan tendensi-tendensi lain. Sukhanov, yang adalah seorang Menshevik, menganggap kaum Bolshevik sebagai tendensi buruh utama pada Februari. Tetapi, kita juga harus mempertimbangkan kualitas kepemimpinan Bolshevik di Petrograd saat itu. Pada Februari, kader-kader kepemimpinan adalah Shlyapnikov, Zalutsky, dan mahasiswa muda Molotov.

Di jilid pertama dari bukunya mengenai Revolusi Rusia yang informatif dan penuh dengan pengamatan dekat, Sukhanov, yang juga menghadiri pertemuan-pertemuan buruh, menilai bahwa para pemimpin Bolshevik di Petrograd “lamban atau, lebih tepatnya, tidak mampu mengkaji problem politik dan memformulasikannya, dan ini membuat kami kehilangan semangat.”

Sang Menshevik Kiri Sukhanov memberi penilaian berikut mengenai Shlyapnikov, yang adalah salah satu elemen kepemimpinan Bolshevik:

“Seorang patriot partai, dan, bisa kita bilang, seorang fanatik, yang siap mengkaji keseluruhan revolusi dari sudut pandang kesuksesan Partai Bolshevik, seorang konspirator ulung, seorang organisator teknis yang luar biasa dan seorang anggota gerakan profesional yang praktis dan baik, tetapi jelas bukan seorang politisi, yang mampu memahami dan membuat generalisasi esensi situasi yang ada. Bila ada pemikiran politik dalam kepalanya, maka ini hanyalah pola dari resolusi-resolusi lama partai secara umum. Tetapi pemimpin ini, yang bertanggung jawab atas organisasi buruh yang paling berpengaruh, tidak memiliki kemandirian berpikir, ataupun kemampuan atau hasrat untuk memahami esensi momen yang ada dalam keseluruhan kekonkretannya.”[9]

Sukhanov jelas meremehkan kualitas Shlyapnikov, yang disajikannya dari satu sisi saja. Namun, ada sedikit kebenaran dari potret-pena ini, yang meringkas karakter mental dari seorang perangkat Bolshevik yang tipikal. Seperti halnya pada Revolusi 1905, para perangkat Partai kehilangan pijakannya ketika dihadapkan dengan situasi baru dan tertinggal di belakang gerakan, dan mengejarnya hanya setelah Lenin kembali dan mempersenjatai ulang partai dengan perspektif baru. Fakta ini telah lama dikubur oleh karya-karya sejarah resmi Soviet. Misalnya, sejarah Soviet mengklaim Partai menerbitkan sebuah selebaran pada 26 Februari. Tetapi penyelidikan baru-baru ini telah menunjukkan bahwa Komite Petrograd menerbitkan selebaran pertamanya pada 27 Februari. Dan pada hari itu, Petrograd sudah dicengkeram oleh pemogokan umum, dan menyebarnya pemberontakan tentara dan kelasi telah menyegel nasib rejim. Dalam kata lain, kepemimpinan Bolshevik di Petrograd membuntuti gerakan, dan bukan memimpinnya.

Bagaimana reaksi partai terhadap peristiwa-peristiwa Februari? Menurut sejarah yang disajikan oleh Partai Komunis Uni Soviet di bawah Khrushchev, pada pagi hari 25 Februari, Biro Bolshevik melakukan rapat dan memutuskan untuk mengambil langkah-langkah energetik untuk menyebarkan gerakan ini ke seluruh penjuru bangsa. Tetapi, penelitian sejarah yang lain memberikan sebuah gambaran yang berbeda. Revolusi Februari tidak hanya mengejutkan Lenin tetapi juga seluruh Partai. Pada awal revolusi, Partai masih dalam posisi lemah. Begitu lemahnya, seperti yang ditunjukkan oleh Marcel Liebman dalam studinya yang perseptif, Komite Petrograd bahkan tidak mampu menerbitkan selebaran untuk merayakan Minggu Berdarah pada Januari 1917. Namun, dalam waktu beberapa bulan, keanggotaan Partai Bolshevik tumbuh 10 kali lipat, dan mengubahnya menjadi kekuatan yang menentukan dalam kelas buruh. Pertumbuhan Partai Bolshevik pada 1917 mungkin mewakili transformasi paling luar biasa dalam sejarah seluruh partai politik di dunia. Akan tetapi, dalam fase awal revolusi, Partai terbukti sangat tidak siap. Kebangkitan massa membuatnya terkejut dan tak siap. Marcel Liebman menulis, “Tidak memiliki kepemimpinan yang dinamis dan berwawasan jelas, kaum Bolshevik di ibukota merespons demo-demo awal buruh dengan banyak keraguan, dan bahkan dengan rasa curiga seperti sikap mereka pada Januari 1905. Mereka agak terisolasi di pabrik-pabrik dimana mereka bekerja.”

Pada awal revolusi, mereka tertinggal. Begitu tertinggalnya mereka, kaum Bolshevik di Petrograd awalnya mencoba menahan gerakan pada Hari Perempuan. V.N. Kayurov, seorang anggota Komite Distrik Vyborg yang kunci, mengingat bagaimana dia mengintervensi pertemuan buruh perempuan pada 22 Februari:

“Saya menjelaskan arti Hari Perempuan dan gerakan perempuan secara umum, dan ketika saya harus berbicara mengenai situasi sekarang, saya pertama-tama mencoba menahan mereka dari menggelar demonstrasi parsial dan meminta mereka untuk bertindak sesuai dengan instruksi Komite Partai.”

Tetapi para buruh perempuan ini tidak ada dalam mood ingin menunggu. Slogan-slogan partai diabaikan oleh mereka, dan ini membuat Kayurov “terkejut” dan “geram”.

“Saya geram dengan sikap para pemogok. Terutama karena mereka jelas mengabaikan keputusan yang diambil oleh distrik komite Partai, dan lalu oleh saya. Kemarin malam, saya telah menyerukan kepada para buruh perempuan untuk menahan diri dan mengikuti disiplin – dan sekarang, tiba-tiba saja, ada pemogokan ini.”[10]

Dalam bukunya The History of The Russian Revolution, Trotsky menyatakan bahwa “bagi Bolshevisme, bulan-bulan pertama revolusi adalah periode penuh dengan kebingungan dan kebimbangan.”[11] Ada banyak bukti yang menyokong pernyataan ini. Pemimpin-pemimpin yang paling berpengalaman dan matang secara politik ada di penjara, di Siberia, atau di luar negeri. Kepemimpinan Petrograd, seperti yang telah kita saksikan, kurang siap untuk memenuhi tugas-tugas yang ada di hadapan mereka. Biro Rusia beranggotakan Shlyapnikov, Molotov, dan Zalutsky, yang menjaga komunikasi dengan Lenin lewat surat-menyurat. V.N. Kayurov, anggota Komite Distrik Vyborg, mengingat bagaimana mereka “sama sekali tidak menerima bimbingan dari badan-badan kepemimpinan Partai. Komite Petrograd telah ditangkap, dan kamerad Shlyapnikov, yang mewakili Komite Pusat, tidak mampu memberi [mereka] arahan untuk kegiatan ke depan.”[12]

Setelah tertangkap basah tidak siap awalnya, sekali cakupan aksi buruh menjadi jelas, kaum Bolshevik mulai merespons, mendukung pemogokan dan bekerja untuk meluaskannya. Semakin banyak buruh yang terlibat dalam gerakan pemogokan. Pada 25 Februari, 300.000 buruh mogok di Petrograd. Gelombang pemogokan ini telah berubah menjadi pemogokan politik umum. Para buruh kereta trem, pabrik-pabrik kecil, percetakan, bengkel-bengkel, semua tersapu ke dalam aksi yang dimulai oleh buruh perempuan. Selebaran diedarkan dengan slogan: “Semua turut berjuang! Turun ke jalan!” “Turunkan Monarki Tsar!” “Hentikan Perang!”

Perlahan-lahan, kaum Bolshevik di Petrograd mulai pulih dari kebingungan awal mereka dan langsung bekerja. Pada hari ketika polisi mulai menembak, tiga anggota KP Bolshevik ditangkap. Komite Lokal Vyborg mengambil alih fungsi kepemimpinan di Petrograd. Sejak pagi hari tanggal 27 Februari, semua kekuatan organisasi Petrograd dikirim ke pabrik-pabrik dan barak-barak. Gudang-gudang persenjataan diserbu. Aktivis Bolshevik V. Alexeyev mengorganisir buruh-buruh muda dari pabrik Putilov untuk menyerang polisi dan merebut senjata mereka. Pada malam hari tanggal 27 Februari, kepemimpinan Bolshevik, yang terutama terdiri dari Komite Vyborg, bertemu untuk mendiskusikan rencana aksi yang dibutuhkan untuk mengubah pemogokan umum ini menjadi insureksi bersenjata. Perintah disebarkan untuk berfraternisasi dengan tentara dan melucuti senjata polisi, menyerbu gudang-gudang senjata, dan mempersenjatai buruh. Walaupun sesungguhnya, buruh tidak perlu disuruh lagi!

Setelah pulih dari ketidaksiapan mereka, kaum Bolshevik Petrograd mengambil posisi ofensif. Mereka mengutuk kesepakatan dengan kaum liberal borjuis, mengecam kaum defensis dan menyerukan buruh untuk mengambil tindakan langsung. Buruh mengunjungi barak-barak, berfraternisasi dengan tentara, dan di mana-mana mereka diterima dengan solidaritas yang antusias. Mood tentara, dan beberapa dari mereka sebelumnya adalah buruh Putilov, telah menjadi revolusioner. Mereka menyeberang ke sisi revolusi, satu resimen demi satu. Bersama-sama dengan buruh, pasukan pemberontak menduduki gudang persenjataan utama di Petrograd. 40.000 senapan dan 30.000 pistol langsung jadi milik buruh. Menyeberangnya tentara ke sisi revolusi bukanlah sebuah kebetulan, tetapi hasil dari bertahun-tahun pengalaman keras di parit-parit perang, dan selain itu akumulasi kekecewaan kaum tani Rusia yang telah lama hidup menderita, yang muncul ke permukaan karena perang. Tetapi peran dari banyak individu dan pahlawan tak bernama tidak dapat diremehkan.

Para sejarawan borjuis biasanya mengatakan, Revolusi Februari adalah gerakan rakyat yang murni dan spontan, sementara Revolusi Oktober tidaklah lebih dari sebuah “kudeta”. Insinuasinya adalah, revolusi yang pertama mewakili sebuah gerakan yang demokratis, sebuah gerakan dari mayoritas rakyat, sementara revolusi yang kedua adalah konspirasi oleh segelintir minoritas, yang niscaya mengarah ke kediktatoran. Dua-duanya keliru. Revolusi Oktober bukanlah kudeta dan juga bukan konspirasi, tetapi adalah ekspresi terorganisir dari kehendak mayoritas rakyat yang telah berusaha selama sembilan bulan untuk menemukan solusi dari problem-problemnya lewat kekuasaan Soviet. Di sisi lain, menggambarkan Revolusi Februari sebagai peristiwa yang semata “spontan” juga tidak benar sepenuhnya, berat sebelah dan dangkal. Kita hanya bisa mengatakan bahwa Revolusi Februari spontan dalam pengertian tidak ada partai yang mengorganisirnya. Tetapi ini tidak cukup. Ini memberi kesan kebangkitan massa yang buta, seperti hewan ternak yang membabi buta tanpa alasan. Penggunaan kata “spontan” dalam konteks ini tidak menjelaskan apapun, dan hanya menutupi ketiadaan penjelasan, atau, lebih parah lagi, rasa benci terhadap “massa yang bodoh” yang bertindak dengan insting ternak.

Partai Bolshevik, dalam pengertian ini, tidak bisa dikatakan memimpin Revolusi Februari. Namun, ada orang yang memimpinnya. Ada orang yang mengambil inisiatif, menyerukan pemogokan, mengorganisasi demonstrasi. Setiap buruh tahu bahwa mogok barang dua jam pun membutuhkan kepemimpinan. Selalu ada seseorang yang mengambil inisiatif. Harus ada orang yang memasuki kantor manajer untuk menyajikan tuntutan buruh. Orang itu dipilih oleh buruh. Dan pilihan ini bukanlah sesuatu yang spontan, ataupun aksidental. Buruh pasti akan memilih orang yang paling sadar, paling berani dan paling berkomitmen untuk mewakili mereka. Pribadi tersebut punya sejarah, yang tidak dimulai kemarin hari. Dia telah dikenal oleh buruh sebagai orang yang tahu apa yang dia bicarakan. Mereka adalah pemimpin-pemimpin alami kelas buruh. Biasanya, walaupun tidak selalu demikian, kebanyakan dari mereka akan terorganisir dalam serikat buruh atau partai politik sayap-kiri. Dalam kasus Rusia, mereka kebanyakan adalah Bolshevik.

Walaupun jumlah mereka masih sedikit, Partai Bolshevik pada saat itu memiliki beberapa ratus anggota di pabrik-pabrik kunci: sekitar 75-80 di pabrik Old Lessner, sekitar 30 di galang kapal “Russo-Baltik” dan “Izhorsky”, dan kelompok-kelompok yang lebih kecil di pabrik-pabrik lain. Di pabrik Putilov, dengan 26.000 buruh, ada 150 buruh Bolshevik. Ini jumlah yang sangat kecil, tetapi dengan kebijakan kelas mereka yang revolusioner dan tak kenal kompromi, tiap-tiap buruh Bolshevik memainkan peran dengan proporsi yang melampaui jumlah mereka yang kecil selama Revolusi Februari. Tanpa menunggu instruksi dari partai, para buruh Bolshevik di pabrik-pabrik dan barak-barak langsung bergerak, menyediakan kepemimpinan penting untuk para pemogok dan demonstran. Aktivitas politik mereka di masa lalu memberi mereka kapital politik, sehingga mereka jauh lebih maju dibandingkan massa buruh luas di sekeliling mereka.

Tidak bisa diragukan kalau buruh-buruh Bolshevik, sebagai elemen yang paling terorganisir dan militan di pabrik, memainkan peran kunci, dengan memberi slogan-slogan gerakan konten kelas yang revolusioner dan bentuk yang terorganisir, tanpa menunggu instruksi dari kepemimpinan Bolshevik. Mereka tidak membaca banyak teori, dan dalam kebanyakan kasus hanya ingat slogan-slogan dasar partai mengenai perang, tanah, republik, dan 8 jam kerja. Tetapi dengan gagasan yang terbatas ini, yang dihubungkan dengan insting kelas dan semangat revolusioner, ini cukup untuk memberi mereka keunggulan besar dan membuat mereka seperti raksasa di tempat-tempat kerja mereka atau di jalan-jalan. Para agitator partai ini kini diakui.

Para pemimpin lokal ini cukup mampu memimpin buruh untuk menumbangkan Tsarisme, tetapi tidak lebih dari itu. Untuk melangkah lebih jauh, mereka membutuhkan panduan yang tegas dan terang dari kepemimpinan partai. Tetapi kepemimpinan Bolshevik di Petersburg masih tidak bisa melepas slogan “kediktatoran demokratis proletariat dan tani” yang sudah tidak mumpuni dan kedaluwarsa. Mereka tidak punya perspektif perebutan kekuasaan oleh kelas buruh. Bahkan yang paling radikal di antara mereka pun tidak bisa melihat lebih jauh daripada republik borjuis. Penumbangan Tsarisme membuat mereka bingung dan kacau. Maka dari itu, sementara peran kepemimpinan Revolusi Februari dimainkan sebagian besar oleh buruh Bolshevik, para pemimpin Bolshevik di Petrograd kehilangan momen inisiatif karena kebimbangan mereka. Seperti yang sering kali dikatakan Lenin, massa buruh akar rumput terbukti jauh lebih revolusioner dibandingkan partai yang paling revolusioner.

Seperti halnya di pabrik-pabrik, begitu juga di barak-barak, banyak “pemimpin organik” tentara adalah Bolshevik, yang kini diakui, seperti bekas buruh Putilov yang jadi tentara selama perang. Lapisan tentara yang paling maju ada di bawah pengaruh kaum Bolshevik. Waktu tidak berlalu sia-sia. Kebanyakan dari mereka adalah Bolshevik, yang terlatih di sekolah revolusioner selama Revolusi 1905 dan periode 1912-14. Tetapi, massa rakyat luas sepenuhnya berbeda. Perang telah mengubah komposisi pabrik, dengan masuknya dalam jumlah besar lapisan-lapisan rakyat pekerja yang terbelakang, tak terorganisir, dan tak berpengalaman. Agar massa luas yang berjuta-juta ini dapat menarik semua kesimpulan yang diperlukan, mereka harus melalui pengalaman lebih lanjut. Adalah wajar bagi orang-orang untuk mengambil jalan yang paling mudah, bahkan selama revolusi. Persis karena alasan ini, massa selalu memegang erat-erat pada organisasi massa tradisional mereka. Massa berpikir dengan sangat praktis dan hemat: mengapa membuang perkakas lama sebelum kita mencoba menggunakannya? Satu-satunya perbedaan di Rusia pada 1917 adalah, massa luas tidak memiliki sebuah partai yang jelas ataupun sebuah serikat buruh massa. Mereka hanya punya bayangan yang kabur mengenai “kaum Sosial Demokrat”. Memang benar kalau buruh yang paling maju adalah kaum Bolshevik, dan selama periode 1912-14, tepat sebelum pecahnya perang, mayoritas buruh yang terorganisir adalah kaum Bolshevik. Tetapi massa yang baru saja terbangunkan ke kehidupan politik tidak mampu membedakan antara sayap kiri dan sayap kanan Sosial Demokrasi. Mereka tidak peduli dengan detail dan nuansa dalam program Sosial Demokrasi, tetapi tergerak oleh hasrat untuk perubahan. Mereka mampu menggerakkan revolusi, tetapi tidak mampu mencegah lolosnya kekuasaan dari jari jemari mereka. Tindakan-tindakan mereka jauh lebih maju daripada kesadaran mereka. Dibutuhkan pengalaman peristiwa-peristiwa besar dan kerja sabar kaum Bolshevik, sebelum kesadaran massa bisa dibawa ke tingkatan yang dituntut oleh situasi yang ada.

Ini juga menjelaskan mengapa garis pemisah antara buruh Bolshevik dan buruh Menshevik tidak begitu jelas. Tiba-tiba, perbedaan antara mereka tampak tidak lagi penting. Bukankah kedua tendensi ini menginginkan sebuah republik borjuis-demokratik? Karena hasil Revolusi Februari, ada dorongan kuat untuk persatuan. Buruh Menshevik, yang terdorong oleh gelombang revolusioner, berjuang bahu membahu dengan Bolshevik. Gagasan untuk menyatukan semua kelompok revolusioner sangat luas pada saat itu. Di tingkatan akar-rumput, buruh Bolshevik, Menshevik, dan bahkan SR berkolaborasi tanpa kesulitan apapun. Di banyak wilayah, dan bukan untuk pertama kalinya, kelompok-kelompok Sosial Demokratik merger secara spontan. Fakta ini sangatlah penting. Ini menunjukkan bagaimana keras kepalanya ide persatuan di antara kelas buruh, dan juga bagaimana kompleksnya tugas membangun partai revolusioner.

Walaupun pada 1912-14, Partai Bolshevik telah memenangkan lebih dari 80% buruh terorganisir di Rusia, walaupun selama perang Partai Menshevik hampir-hampir tidak memainkan peran sama sekali, namun di hari-hari penuh pergolakan pada Februari-April, kedua faksi ini sekali lagi menyatu menjadi satu organisasi tunggal di semua provinsi, kecuali di Moskow dan Petrograd. Dan memang, di banyak wilayah, mereka terus bersatu sampai pada Revolusi Oktober. Inilah kekuatan dari panji partai tradisional yang lama, Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia, kendati semua yang telah terjadi sebelumnya. Bahkan di Rusia pada 1917, perjuangan Lenin untuk memisahkan tendensi revolusioner yang sejati tidaklah terpenuhi dengan mudah ataupun dengan sekali pukul. Di Rusia, seperti halnya di setiap negeri, kekuatan massa Bolshevisme dan Komunis Internasional tidaklah jatuh dari langit, tetapi terbentuk dari perjuangan antara tendensi-tendensi yang berbenturan di dalam organisasi tradisional kelas buruh yang ada (Sosial Demokrasi). Hanya setelah periode perjuangan yang panjang, dengan melalui banyak transformasi, perpecahan terjadi dan terbentuklah sebuah partai baru. Proses ini, dengan tahapan-tahapan yang kita paparkan dalam karya ini, hanya sungguh-sungguh berakhir pada Revolusi Oktober 1917, saat sayap revolusioner Sosial Demokrasi akhirnya memenangkan mayoritas menentukan dalam Soviet dan memimpin kelas buruh ke perebutan kekuasaan.

Kaum Menshevik dan Revolusi Februari

Seturut wataknya, revolusi mengguncang masyarakat sampai ke kedalamannya, membangkitkan jutaan massa yang secara politik terbelakang dan apati ke kehidupan politik. Terutama di negeri tani yang terbelakang seperti Rusia, ini berarti kebangkitan kaum tani dan lapisan-lapisan borjuasi-kecil lainnya di kota dan pedesaan. Tekanan massa borjuasi-kecil memainkan peran yang tidak proporsional pada tahapan awal revolusi. Ini terekspresikan dalam sistem pemilihan Soviet. Awalnya, buruh diberi satu perwakilan untuk setiap 1000 buruh, dan satu tentara dipilih untuk setiap kompi (atau rota dalam bahasa Rusia) di Petrograd. Sistem pemilihan ini memberikan pengaruh besar kepada tentara, yakni, kaum tani berseragam, dibandingkan buruh. Ada 2000 perwakilan tentara versus 800 perwakilan buruh. Pada awal revolusi, kaum Bolshevik tenggelam dalam lautan tani yang secara politik tidak berpengalaman dan bahkan sering kali buta huruf. Terdorong oleh semangat borjuis-kecil mereka, mereka cenderung memilih sebagai perwakilan mereka “kaum intelektual” dan “tuan-tuan yang tahu bagaimana berbicara”. Mereka terutama terdiri dari kaum demokrat kelas-menengah (banyak dari mereka adalah perwira junior dalam angkatan bersenjata), yang berhimpun di sekitar partai-partai sosialis reformis, yakni Menshevik dan SR.

Pemimpin Menshevik yang paling terkemuka – Dan, Chkheidze, Tsereteli – adalah kaum defensis, tetapi ada sekelompok kecil Menshevik Internasionalis – Martov, Martynov, dll. – yang menentang perang. Elemen-elemen reformis kiri dan sentris ini (sentris, dalam artian berdiri di tengah-tengah antara Marxisme dan reformisme) awalnya bergeser ke kiri, tetapi, secara tipikal, tidak ingin pecah sepenuhnya dari kaum defensis, dan oleh karenanya lalu bergeser kembali ke kanan. Garis politik Menshevik pada 1917, tidak seperti pada 1905, didikte oleh sayap kanannya. Sayap kiri Menshevik tidak punya peran mandiri, dan memang tidak mampu. Satu-satunya tendensi revolusioner yang konsisten adalah Partai Bolshevik, yang, seperti Lenin di kemudian hari katakan, menarik semua elemen-elemen terbaik dalam gerakan buruh Rusia. Elemen terbaik dari reformis kiri, dengan satu cara atau lainnya, menemukan diri mereka di dalam barisan Partai Bolshevik. Yang lainnya tenggelam tanpa jejak.

Para pemimpin Menshevik dan SR mendominasi kepemimpinan Soviet pada awalnya, dan praktis mereka menunjuk diri mereka sendiri. Tetapi, mereka awalnya memiliki sejumlah keunggulan di atas Bolshevik. Partai Menshevik punya “nama-nama besar” dari kelompok Duma, orang-orang yang dikenal luas lewat pers-pers legal selama tahun-tahun peperangan. Mereka juga menawarkan apa yang tampaknya seperti “jalan keluar mudah” bagi massa buruh dan tani yang secara politik tak terdidik, yang kini menyeruak masuk ke panggung politik, serta mabuk dengan ilusi-ilusi demokrasi. Para pemimpin borjuis-kecil ini, dalam hati mereka, takut terhadap revolusi dan dari awal begitu resah ingin menyerahkan kekuasaan ke para pemimpin “alami” masyarakat, yakni kaum borjuasi.[13]

Ada sebab-sebab lain mengapa Menshevik dan SR muncul di depan setelah Revolusi Februari. Proletariat Petrograd, yang pada 1912-16 mayoritas adalah Bolshevik atau pendukung Bolshevik, komposisinya menjadi encer akibat meletusnya perang. Lapisan-lapisan proletariat mentah yang memasuki pabrik-pabrik tidak memiliki tingkat kesadaran atau tradisi yang sama seperti veteran-veteran 1905 yang mereka gantikan. Trotsky menjelaskan:

“Hegemoni kaum intelektual kelas-menengah-bawah pada analisa terakhir adalah ekspresi dari kenyataan bahwa kaum tani, yang tiba-tiba terdorong untuk terlibat dalam kehidupan politik melalui aparatus angkatan bersenjata, dengan jumlah besar mereka mendorong ke samping dan membanjiri kelas proletariat untuk sementara waktu. Terlebih lagi, sejauh para pemimpin kelas-menengah ini telah terangkat ke ketinggian yang menjulang oleh massa tentara yang kuat, kelas buruh sendiri, dengan pengecualian lapisan majunya, tidak dapat tidak terjangkiti dengan semacam perasaan hormat untuk mereka dan mencoba mempertahankan relasi politik dengan mereka karena takut menemukan diri mereka tercerai dari kaum tani. Dan ini adalah masalah yang sangat serius, karena generasi yang lebih tua masih ingat pelajaran Revolusi 1905, ketika proletariat diremukkan, hanya karena pasukan cadangan tani yang masif terlambat memasuki arena pertempuran yang menentukan. Inilah mengapa pada fase pertama Revolusi baru ini, massa proletar menjadi amat terbuka pada ideologi politik SR dan Menshevik – terutama karena Revolusi ini telah membangkitkan massa buruh terbelakang yang sebelumnya tertidur, dan dengan ini membuat radikalisme kabur kaum intelektual sebagai semacam sekolah persiapan bagi mereka.”[14]

Tokoh-tokoh kepemimpinan Soviet Petrograd – Chkheidze, Kerensky, ketua Soviet, dan Skobelev – semua adalah orang Menshevik dan defensis. Di Komite Eksekutif Soviet ada 12 lainnya, tetapi hanya 2 orang Bolshevik: Shlyapnikov dan Zalutsky. Seturut proposal Bolshevik, KE Soviet diperluas untuk mengikutsertakan 3 perwakilan dari tiap partai: Menshevik, Bolshevik dan SR. Dengan cara ini, Molotov dan K.I. Shutko ditambahkan dari Bolshevik, dan P.I. Stuchka dari Sosial Demokrat Latvia. Jumlah kaum Bolshevik di Soviet, pada 9 Maret, adalah 40. Tentara juga diwakili di Soviet. Perwakilan tentara dikirim ke Istana Tauride, termasuk serdadu dari garis depan. Ini berarti, secara efektif, untuk pertama kalinya perwakilan kaum tani duduk bersama saudara proletariat mereka. Ini adalah realisasi praktis persatuan revolusioner antara proletariat dan tani.

Soviet meluncurkan korannya sendiri, Izvestia (Kabar Berita), dengan edisi pertama yang terbit pada 28 Februari di bawah editorial Y.M. Steklov. Di sini, akhirnya, sebuah parlemen rakyat revolusioner yang bersenjata! Tidak ada satupun kekuatan di muka bumi yang dapat mencegahnya dari mengambil alih tanah dan pabrik, dan mendirikan republik rakyat pekerja yang sungguh demokratik. Semua ini bisa tercapai cukup dengan mengehendakinya. Hanya ada satu halangan – buruh dan tani harus sadar akan kekuatan mereka. Tetapi kesadaran ini masih kurang. Dari sinilah lahir “kekuasaan ganda”, sebuah aborsi perebutan kekuasaan oleh proletariat.

Sebab musabab terbentuknya rejim kekuasaan ganda dijelaskan oleh Trotsky:

“‘Front Persatuan’ Partai Menshevik dan Partai Sosial Revolusioner mendominasi Soviet dan sesungguhnya memiliki kekuasaan di tangannya. Kelas borjuasi sepenuhnya lumpuh karena 10 juta tentara, yang sudah letih dengan perang, berdiri dengan bersenjata lengkap di sisi buruh dan tani. Tetapi apa yang paling ditakuti oleh para pemimpin ‘front persatuan’ ini adalah ‘menakuti’ kaum borjuasi, ‘mendorong’ kaum borjuasi ke kamp reaksi. Front persatuan ini tidak berani menyentuh perang imperialis, atau bank-bank, atau kepemilikan tanah feodal, atau toko-toko dan pabrik-pabrik. Mereka menunda-nunda dan membual dengan ungkapan-ungkapan umum, sementara massa sudah habis kesabarannya. Lebih dari itu: Partai Menshevik dan Partai Sosial Revolusioner secara langsung memindahkan kekuasaan ke Partai Kadet, yang ditolak oleh rakyat pekerja dan dibenci oleh mereka.”[15]

Kaum Menshevik dan SR menempel pada kaum liberal borjuis. Yang belakangan menempel pada sisi-sisa orde lama. Buruh dan tani, yang baru saja terbangunkan ke kehidupan politik, berusaha untuk menemukan jalan mereka dan masih kekurangan pengalaman dan kepercayaan diri untuk bersandar pada kekuatan mereka sendiri. Lenin segera memahami signifikansi Soviet sebagai “pemerintahan kerakyatan yang sejati”. Tetapi konsepsi ini tidak dipahami sama sekali oleh para pemimpin dari semua partai, termasuk para pemimpin Bolshevik sendiri. Perhatian pertama kaum liberal borjuis adalah mengembalikan “ketertiban” dan “kembali ke normal”. Namun, buruh dan tentara, seturut insting mereka enggan melucuti diri mereka sendiri atau mengambil langkah mundur, apalagi setelah melangkah sejauh ini. Mereka menuntut bimbingan dan kepemimpinan dari Soviet. Semakin tidak percaya pada para pemimpin mereka, sebuah perutusan perwakilan serdadu dan kelasi mengunjungi Istana Tauride untuk mengantarkan daftar tuntutan mereka ke Soviet. Dua anggota perutusan ini, A.M. Paderin dan A.D. Sadovsky, adalah Bolshevik.

Kebimbangan para pemimpin Bolshevik di Petrograd tidak mencerminkan cara pandang buruh Bolshevik akar-rumput yang lebih bersentuhan dengan mood di pabrik-pabrik dan barak-barak. Kaum Bolshevik di distrik Vyborg menuntut agar kekuasaan diambil alih oleh Soviet. Para pemimpin Soviet menolak dengan dalih bahwa revolusi ini adalah revolusi borjuis dan kelas buruh “tidak siap” untuk mengambil kekuasaan. Para politisi borjuis bersekongkol untuk memancung revolusi. Selapisan kaum defensis yang terbuka ingin membentuk sebuah koalisi antara pemimpin Soviet dengan kaum borjuasi. Kaum defensis yang lebih tahu malu (Chkheidze, Sukhanov, Steklov) tidak menginginkan koalisi ini, tetapi juga tidak ingin mengambil kekuasaan. Alih-alih, Soviet diharapkan menjadi “pengendali” pemerintahan borjuis dari luar. Usaha untuk memadu api dan air ini mengantisipasi posisi yang di kemudian hari diambil oleh kaum sentris Jerman (pada Revolusi Jerman 1918) yang memajukan sebuah konstitusi gabungan dimana dewan buruh (soviet) eksis berdampingan dengan pemerintahan borjuis. Garis serupa di kemudian hari diambil oleh Stalin dan Kamenev (sehubungan dengan sikap Partai Komunis Tiongkok terhadap Partai Koumintang pada 1920an).[16]

Kebijakan Menshevik bertentangan dengan kehendak rakyat, tetapi yang belakangan tidak punya pengalaman politik, naif, dan terlalu mempercayai pemimpin mereka. Para orator Menshevik dan “nama-nama besar” memukau mereka dan menghapus keraguan mereka. Atas nama “persatuan” dan “mempertahankan demokrasi”, persatuan dari semua “kekuatan progresif”, dsb., mereka menggunakan argumen bahwa kelas buruh tidak bisa mengubah masyarakat “dengan sendirinya”, dan berbagai dalih yang biasa diumbar oleh para pemimpin reformis untuk meyakinkan buruh bahwa mereka tidak berdaya untuk mengubah masyarakat, dan maka dari itu harus menerima dengan ikhlas atau terpaksa kekuasaan kapital untuk selama-lamanya. Mereka mengatakan, Soviet dapat “memberi tekanan pada kaum liberal borjuis” untuk bertindak demi kepentingan buruh. xxx

Kaum Bolshevik dan Pemerintahan Provisional

Dihadapi dengan perubahan situasi yang sama sekali baru dan tanpa preseden, para pemimpin Bolshevik di Petrograd kewalahan. Dengan cemas mereka menanti kepulangan para pemimpin eksil untuk memberi mereka arahan. Shlyapnikov mengakui bahwa kaum Bolshevik, yang mengkonsentrasikan seluruh usaha mereka untuk memenangkan pertempuran segera demi kekuasaan, tidak banyak memberi perhatian pada masalah apa makna kekuasaan dan bagaimana, secara konkret, “pemerintahan revolusioner provisional” akan terbentuk. Pada analisa terakhir, ini adalah hasil dari sebuah teori yang keliru, yang teringkas dalam formula “kediktatoran demokratis proletariat dan tani”, yang melucuti dan membuat kebingungan para pemimpin Bolshevik setelah ditumbangkannya Tsarisme. Bahkan yang paling radikal di antara mereka pun tidak punya perspektif lain selain mengkonsolidasikan rezim borjuis. “Revolusi yang mendatang harus hanya berbentuk revolusi borjuis,” tulis Olminsky, dengan menambahkan bahwa “ini adalah premis wajib bagi setiap anggota partai, opini resmi partai, slogan yang terus berlanjut dan tidak berubah sampai pada Februari 1917, dan bahkan beberapa waktu setelahnya.” Gagasan yang sama juga dipaparkan bahkan dengan lebih kasar di Pravda pada 7 Maret, 1917, bahkan sebelum Stalin dan Kamenev membuatnya bahkan lebih kanan: “Tentu saja, di antara kita tidak ada yang memikirkan mengenai keruntuhan kekuasaan kapital, tetapi hanya keruntuhan kekuasaan autokrasi dan feodalisme.”[17]

Buruh Bolshevik akar-rumput di pabrik-pabrik, bertentangan dengan pemimpin mereka, menunjukkan skeptisisme dan rasa tidak percaya yang sehat terhadap Pemerintahan Provisional sejak awal. Cara pandang mereka dibentuk, bukan oleh slogan-slogan lama, tetapi oleh insting kelas dan insting revolusioner mereka. Di setiap tahapan, mereka berdiri di sebelah kiri Komite Pusat, yang, tanpa bimbingan tegas dari Lenin, seringkali goyah. Secara paradoksikal, absennya kepemimpinan Bolshevik di Petrograd pada awalnya memungkinkan suara dari akar-rumput terdengar lebih jelas. Setelah mereka pulih dari disorientasi di tahapan awal, mereka mengambil posisi yang kurang lebih tepat. Dengan ini, pada awalnya, kaum Bolshevik Petrograd menerbitkan sebuah manifesto, yang disambut hangat oleh Lenin, To All the Citizens of Russia, yang menuntut didirikannya sebuah republik demokratis, 8 jam kerja, penyitaan tanah-tanah milik tuan tanah besar, dan diakhirinya dengan segera perang penjarahan ini.

Posisi ini menempatkan Bolshevik dalam jalur bentrokan dengan semua tendensi politik lainnya di dalam “kamp progresif”, yang berusaha melambatkan laju revolusi agar bisa mencapai kesepakatan dengan kaum liberal borjuis. Walaupun manifesto ini tidak merujuk pada Soviet, manifesto ini menyatakan:

“Kaum buruh pabrik dan tentara revolusioner harus segera memilih perwakilan mereka untuk pemerintahan revolusioner provisional, yang harus dibentuk di bawah perlindungan rakyat dan tentara revolusioner.”

Manifesto ini juga menyerukan pembentukan soviet:

“Segera gelar pemilihan komite pemogokan di pabrik-pabrik. Perwakilan terpilih mereka akan menjadi perwakilan Soviet buruh, yang akan mengambil peran mengorganisir gerakan, yang akan membentuk pemerintahan revolusioner provisional.”

Pendirian anggota akar-rumput Bolshevik, yang secara insting revolusioner, dan oposisinya terhadap kebijakan kolaborasi kelas, tercermin dalam posisi radikal yang diambil oleh Pravda selama hari-hari awal Revolusi, sebelum tibanya Stalin dan Kamenev. Pravda pada 9 Maret, 1917, menulis:

“Soviet Buruh dan Tentara harus segera menyingkirkan Pemerintahan Provisional milik kaum borjuasi liberal ini dan memproklamirkan dirinya sebagai pemerintahan provisional revolusioner.”[18]

Akan tetapi, kepulangan kaum eksil segera memperburuk situasi. Karena Lenin terdampar di Swiss, karena Sekutu menolak mengizinkan Lenin melintasi wilayah mereka untuk bisa kembali ke Rusia, maka kaum eksil yang pertama kembali adalah mereka yang telah diasingkan di Siberia, di antaranya Kamenev dan Stalin. Mereka segera menyetir Partai ke kanan, dengan menariknya lebih dekat ke Menshevik.

Para pemimpin Bolshevik di Rusia bergabung dengan Menshevik dan SR dalam mendukung Pemerintahan Provisional yang dipimpin oleh Pangeran Lvov, kendati semua peringatan Lenin yang menentang blok dengan borjuasi liberal. Bahkan sebelum kembalinya Stalin dan Kamenev, sudah ada perbedaan tajam. Saat Molotov, atas nama Biro Komite Pusat, mengajukan ke Komite Petrograd sebuah resolusi yang mengkritik Pemerintahan Provisional, mengutuk kebijakan kontra-revolusionernya dan menuntut penggantiannya oleh sebuah “pemerintahan demokratik”, dia ditampik keras. Alih-alih, Komite Petrograd menyetujui sebuah resolusi dimana mereka setuju untuk tidak menyerang Pemerintahan Provisional “selama tindakan-tindakannya sesuai dengan kepentingan proletariat dan massa rakyat demokratik luas.”[19] Alih-alih tampil sebagai kekuatan revolusioner yang independen, para pemimpin Bolshevik di Petrograd menjadi roda kelima untuk kereta “kaum demokrat progresif”. Ini merefleksikan tekanan dari opini publik borjuis-kecil. Mood publik setelah Tsar tumbang pada Februari adalah euforia dan kegembiraan di mana-mana. Ada tekanan yang intens agar semua “kekuatan progresif” bersatu, dan tekanan ini begitu membebani strata kepemimpinan sayap gerakan yang paling radikal, yang terus didorong untuk mengubah pendiriannya dan ikut bergabung dengan mayoritas. Ini membuat goyah para pemimpin Bolshevik, dan mereka bergeser ke arah akomodasi dengan Menshevik. Di banyak wilayah, komite-komite lokal Bolshevik dan Menshevik dengan spontan terbentuk. Seperti yang diingat Trotsky: xxx

“Tembok pemisah antara kaum Bolshevik dan kaum Menshevik, antara kaum Internasionalis dan kaum Patriot, runtuh. Seluruh bangsa dibanjiri dengan semangat konsiliasi yang meluap-luap, tetapi rabun-jauh dan hampa. Orang-orang terbuai oleh gelombang puja-puji heroisme, elemen utama Revolusi Februari, terutama selama minggu-minggu pertamanya. Kelompok-kelompok eksil kembali dari seluruh penjuru Siberia, menyatu ke dalam satu arus dan mengalir ke barat dalam suasana mabuk kegembiraan.”[20]

Kedatangan kaum eksil dari Siberia langsung memberikan kecenderungan kanan pada posisi politik yang diambil oleh kepemimpinan Bolshevik di Petrograd. Sebelumnya, kepemimpinan lokal, yang terdiri dari Shlyapnikov, Zalutsky, dan Molotov, telah mengambil garis yang lebih radikal. Ketiga pemimpin ini berdiri di sayap kiri partai. Tetapi Kamenev dan Stalin yang baru kembali, menggunakan senioritas mereka untuk mendorong garis partai ke kanan dengan tajam. Ini segera terefleksikan dalam lembar-lembar koran partai. Dalam sebuah editorial di Pravda pada 14 Maret, dua hari setelah kepulangannya, Kamenev menulis dimana dia bertanya: “Apa gunanya mempercepat situasi, ketika situasi sudah bergerak dengan begitu pesatnya?”[21] Esok harinya, dia menulis satu editorial lagi, mengomentari pernyataan Kerensky bahwa Rusia akan “dengan bangga mempertahankan kebebasannya” dan tidak akan “mundur di hadapan bayonet agresor”. Kamenev dengan antusias sepakat, dalam bahasa yang sepenuhnya menolak kebijakan Lenin yang menentang perang:

“Saat dua pasukan tengah berhadap-hadapan perang, akan menjadi kebijakan yang paling tidak waras kalau kita meminta salah satu pasukan ini untuk meletakkan senjata mereka dan pulang. Ini bukan kebijakan perdamaian, tetapi kebijakan perbudakan, yang akan ditolak dengan rasa jijik oleh rakyat yang bebas.”[22]

Stalin memegang posisi yang sama seperti Kamenev, hanya saja dengan lebih hati-hati. Dia menulis sebuah artikel yang menyetujui garis yang diambil oleh Soviet dalam manifestonya (yang Lenin kritik habis-habisan) dan mengatakan bahwa yang diperlukan adalah “menekan Pemerintahan Provisional agar mereka menyatakan persetujuan mereka untuk segera memulai perundingan perdamaian.” Menurut Stalin, “tidak bisa disangkal bahwa slogan kasar ‘Hentikan Perang!’ sama sekali tidak cocok sebagai metode praktis.”[23]

Konferensi Soviet Perwakilan Buruh dan Tani Seluruh Rusia yang pertama diselenggarakan pada akhir Maret 1917. Bersamaan dengan ini, Biro Komite Pusat Bolshevik menggelar Konferensi Seluruh-Rusia untuk para pekerja atau staf partai, yang dibuka pada 28 Maret.[24] Ini adalah konferensi partai pertama sejak tumbangnya Tsarisme. Lenin masih berusaha kembali dari pengasingannya di Swiss, dan oleh karenanya tidak hadir. Pertemuan politik ini, oleh karenanya, memberikan gambaran yang akurat bagaimana para pemimpin Bolshevik di Petrograd memandang revolusi ini. Di antara isu-isu utama yang dirapatkan adalah sikap terhadap perang dan Pemerintahan Provisional, serta relasi dengan partai-partai lain. Laporan mengenai sikap terhadap Pemerintahan Provisional disampaikan oleh Stalin. Keseluruhan laporan ini, yang diresapi sepenuhnya dengan adaptasi oportunis dan konsiliasionisme, bertentangan dengan garis yang diusung keras oleh Lenin.

Gagasan utama di dalam pidato Stalin ini adalah kaum Bolshevik harus memberikan dukungan kritis kepada Pemerintahan Provisional borjuis, bertindak sebagai semacam oposisi yang loyal, yang, sementara berada di luar pemerintahan, dan dengan agak keberatan, tetap mendukungnya:

“Selama Pemerintahan Provisional memperkuat langkah-langkah revolusi, sampai pada tingkatan itu kita harus mendukungnya; tetapi bila Pemerintahan Provisional menjadi kontra-revolusioner, dukungan terhadapnya tidaklah diperbolehkan.”

Posisi ini tidak memperoleh dukungan bulat di Konferensi. Resolusi yang diadopsi oleh Biro Komite Pusat, walaupun tidak memuaskan, setidaknya memuat beberapa poin yang benar:

“Pemerintahan Provisional, yang dibentuk oleh kelas borjuasi moderat dan terhubungkan lewat semua kepentingannya dengan kapitalisme Anglo-Perancis, tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas yang dihadirkan oleh revolusi. …”

“Oleh karenanya, tugas sekarang adalah: konsolidasi semua kekuatan di seputar Soviet Perwakilan Buruh dan Tentara sebagai embrio kekuasaan revolusioner, yang dengan sendirinya mampu mematahkan usaha-usaha kontra-revolusi tsaris dan borjuis, serta mewujudkan tuntutan-tuntutan demokrasi revolusioner dan menjelaskan watak kelas yang sesungguhnya dari pemerintahan sekarang.”

“Tugas yang paling mendesak dan paling penting dari Soviet, yang pemenuhannya akan menjamin kemenangan atas semua kekuatan kontra-revolusioner dan perkembangan serta pendalaman revolusi lebih lanjut, adalah, menurut pendapat Partai, dengan mempersenjatai seluruh rakyat, dan, terutama, pembentukan dengan segera Milisi Merah Buruh di seluruh penjuru tanah air.”

Notulen pertemuan menunjukkan Stalin secara terbuka menjauhkan dirinya dari resolusi Biro:

“Kamerad Stalin membaca resolusi mengenai Pemerintahan Provisional yang diadopsi oleh Biro Komite Pusat, tetapi menyatakan dia tidak sepenuhnya setuju dengan resolusi tersebut, tetapi dia lebih setuju dengan resolusi dari Soviet Perwakilan Buruh dan Tentara Krasnoyarsk.”

Resolusi Krasnoyarsk, yang mencerminkan pemikiran dari daerah yang lebih terbelakang, memiliki karakter yang sepenuhnya oportunis, berdasarkan gagasan bahwa Soviet dapat eksis berdampingan dengan Pemerintahan Provisional borjuis dan, dengan tekanan, dapat membuat Pemerintahan Provisional tunduk pada kehendak Soviet:

“2) Untuk menerangkan sejelas-jelasnya bahwa satu-satunya sumber kekuasaan dan otoritas Pemerintahan Provisional adalah kehendak rakyat yang telah memenangkan revolusi ini dan Pemerintahan Provisional wajib tunduk pada rakyat.”

“3) Untuk juga menerangkan bahwa ketertundukan Pemerintahan Provisional terhadap tuntutan-tuntutan dasar revolusi hanya dapat dijamin lewat tekanan yang tak-pernah-kendor dari kaum proletariat, tani, dan tentara revolusioner, yang harus dengan tenaga yang tak kenal lelah mempertahankan organisasi mereka di seputar Soviet Perwakilan Buruh dan Tentara yang lahir dari revolusi, guna mengubah yang belakangan ini menjadi kekuatan rakyat revolusioner yang ditakuti.”

“4) Untuk mendukung Pemerintahan Provisional dalam aktivitas-aktivitasnya selama Pemerintahan ini memuaskan tuntutan-tuntutan kelas buruh dan kaum tani revolusioner dalam revolusi yang tengah berlangsung.”

Dalam sebuah intervensi yang mencengangkan selama debat ini, Stalin membuat situasi yang sudah buruk bahkan lebih buruk lagi:

“Dalam situasi seperti ini, apakah kita dapat berbicara mengenai mendukung pemerintahan ini? Lebih tepatnya berbicara mengenai Pemerintah yang mendukung kita. Tidaklah logis untuk berbicara mendukung Pemerintahan Provisional, sebaliknya, lebih tepat berbicara bagaimana Pemerintah tidak menghalangi kita dari menerapkan program kita.”

Bagaimana Partai Bolshevik dapat “menerapkan program mereka” sementara mengizinkan pemerintahan borjuis untuk tetap berkuasa? Bagaimana mungkin mendapatkan perdamaian dari sebuah pemerintah yang kaki dan tangannya terikat ke kapital Inggris dan Prancis? Bagaimana tanah bisa diserahkan ke kaum tani oleh sebuah pemerintah yang didominasi oleh “kaum properti”? Gagasan bahwa soviet buruh dan tani dapat hidup berdampingan dengan sebuah negara kapitalis untuk kurun waktu tertentu, apalagi memaksanya untuk bertindak menentang kepentingan vitalnya sendiri, adalah sebuah pelanggaran yang mencolok terhadap ABC Marxisme, dan bahkan akal sehat. Formula yang sama di kemudian hari digunakan oleh para pemimpin Sosial Demokrat Jerman untuk menggelincirkan dan mematahkan Revolusi Jerman pada November 1918. Bila saja garis Stalin dan Kamenev terus ditempuh, Revolusi Rusia sudah pasti akan berakhir dengan kekalahan yang sama.

Kebingungan yang ditemui dalam pidato-pidato dan resolusi-resolusi ini, dan disorientasi yang menjangkiti kaum Bolshevik pada saat itu, akarnya dapat ditemui dari watak tidak jelas dan kontradiktif dari slogan lama Bolshevik “kediktatoran demokratis proletariat dan tani”, yang telah ditunjukkan oleh Trotsky jauh hari sebelumnya. Berangkat dari definisi watak kelas revolusi Rusia sebagai revolusi borjuis-demokratik, kaum Bolshevik kini dihadapkan dengan dilema apa yang harus mereka lakukan, bila kelas buruh tidak semestinya mengambil kekuasaan. Stalin dan Kamenev menyimpulkan, kelas buruh harus mendukung kelas borjuasi “progresif”, walaupun dihiasi dengan banyak “bila” dan “tetapi”.

Kapitulasi pada demokrasi “kelas-menengah” yang diusung oleh Stalin dan Kamenev ini secara efektif mengaburkan garis demarkasi yang memisahkan Bolshevisme dan Menshevisme. Sampai begitu kaburnya, bahkan Konferensi Maret mempertimbangkan gagasan melakukan fusi. Benar, bila garis Stalin-Kamenev diterima, tidak ada alasan serius untuk mempertahankan keberadaan dua partai yang terpisah. Pada sesi tanggal 30 Maret, Kamenev melaporkan komunikasinya dengan kaum Menshevik, seperti yang ditunjukkan dalam notulen:

“Kamenev: Melaporkan bahwa dia telah melakukan negosiasi dengan kaum SR dan Menshevik internasionalis. Selama jelas bahwa Komite Eksekutif [Soviet] akan meloloskan sebuah resolusi yang sama sekali tidak bisa terima, maka kita harus mempertentangkannya dengan sebuah resolusi bersama dengan kaum internasionalis. Kaum SR (22) adalah minoritas nasional. Mereka tidak akan menentang resolusi kaum Bolshevik dan akan menarik mundur resolusi mereka. Kaum Menshevik berusaha mengajukan sebuah resolusi tunggal dan mendukung persatuan untuk mengajukan resolusi bersama.”

Orang-orang yang berdiri di sayap kiri partai, yang angkat bicara dan menentang usaha persatuan ini dan berani mengedepankan masalah perebutan kekuasaan oleh buruh, mereka diabaikan. Ketika Krassikov merespons, dia dipotong oleh ketua konferensi:

“Krassikov: Duduk perkaranya bukanlah dalam amandemen-amandemen, dan bukan dalam presentasi slogan-slogan sosial demokratik, tetapi dalam momen sekarang. Bila kita mengakui Soviet sebagai organ yang mengekspresikan kehendak rakyat, maka masalah di depan kita bukanlah mempertimbangkan apa kebijakan-kebijakan konkret yang harus diambil untuk isu ini atau isu itu. Bila kita percaya bahwa waktunya sudah tiba untuk merealisasikan kediktatoran proletariat, maka kita harus mengajukan masalah ini dengan cara demikian. Tidak bisa disangkal, kita memiliki kekuatan fisik untuk perebutan kekuasaan. Saya yakin kita akan memiliki kekuatan fisik yang memadai di Petrograd dan juga di kota-kota lain. [Keributan di aula pertemuan. Sahutan-sahutan: “Tidak benar”.] Saya ada di …”

“Ketua Pertemuan [menginterupsi]: Masalah yang sedang didiskusikan adalah langkah-langkah praktis untuk hari ini. Masalah kediktatoran proletariat bukanlah subjek diskusi.”

“Krassikov (melanjutkan): Bila kita tidak mengajukan masalah ini dengan cara demikian, maka apakah kita seharusnya mengambil langkah-langkah sehubungan dengan Pemerintahan Provisional yang …”

“Ketua Pertemuan memotong pidatonya.”

Walaupun secara formal proposal Kamenev adalah untuk membangun relasi dengan sayap kiri (internasionalis) Menshevisme, niat dia sesungguhnya adalah untuk melebur menjadi satu partai tunggal. Para pemimpin terkemuka Menshevik seperti Lieber hadir di Konferensi ini, dan berpartisipasi dalamnya. Pada sesi tanggal 1 April, sebuah resolusi persatuan yang ditulis oleh pemimpin Menshevik Georgia, Tsereteli, diajukan ke konferensi. Walaupun perwakilan sayap kiri Bolshevik, termasuk saat itu Molotov, mahasiswa, menentangnya, Stalin mendukungnya:

Topik pembahasan: proposal Tsereteli untuk unifikasi.”

“Stalin: Kita harus hadir [ke pertemuan Menshevik]. Adalah perlu untuk mendefinisikan syarat-syarat persatuan. Unifikasi adalah mungkin seturut garis Zimmerwald-Kienthal.”

“Luganovsky: Komite Kharkov tengah melakukan perundingan persis seturut garis-garis ini.”

“Molotov: Tsereteli ingin menyatukan elemen-elemen yang heterogen. Tsereteli memanggil dirinya seorang Zimmerwaldist dan Kienthalist, dan untuk alasan ini unifikasi seturut garis-garis ini keliru baik secara politik maupun secara organisasional. Akan lebih tepat untuk mengajukan sebuah platform sosialis internasional yang definit. Kita akan menyatukan sebuah minoritas yang rapat.”

“Luganovsky (membantah kamerad Molotov) mengatakan: Pada saat sekarang kami tidak sadar akan adanya perselisihan pendapat apapun. Kaum Menshevik abstain dalam Soviet dan berbicara lebih keras dibandingkan … kaum Bolshevik yang menentangnya. Banyak perselisihan pendapat yang sudah kedaluwarsa. Bukan pada tempatnya sekarang untuk menekankan perbedaan-perbedaan taktikal. Kita dapat menggelar sebuah Kongres bersama dengan kaum Menshevik, Zimmerwaldist, dan Kienthalist.”

Sehubungan dengan kontroversi yang dipicu oleh proposal ini, Stalin sekali lagi melayangkan pendapatnya dalam debat ini, dan jelas membela proposal unifikasi ini, walaupun biasanya dia hati-hati. Dia mengulang kembali komentarnya sebelumnya, dan menyamakan perbedaan antara Bolshevisme dan Menshevisme seperti “badai dalam secangkir teh”:

“Stalin: Tidak ada gunanya berpikir terlalu jauh ke depan dan mengantisipasi perselisihan pendapat. Tidak ada kehidupan partai tanpa perselisihan pendapat. Kita akan tuntaskan perselisihan-perselisihan pendapat remeh temeh di dalam partai. Tetapi ada satu masalah – adalah mustahil untuk menyatukan apa yang tidak bisa disatukan. Kami akan memiliki sebuah partai tunggal dengan orang-orang yang setuju dengan Zimmerwald dan Kienthal …”[25]

Setelah semua yang telah terjadi, untuk menggambarkan perbedaan antara Bolshevisme dan Menshevisme sebagai “perselisihan pendapat remeh temeh” menunjukkan bahwa Stalin, sang “practico” partai, tidak memahami sesungguhnya gagasan fundamental Bolshevisme. “Perselisihan pendapat remeh temeh” ini tidak lain tidak bukan adalah perbedaan antara revolusi dan reformisme, antara kebijakan kemandirian kelas dan kebijakan kolaborasi kelas. Pada akhirnya, Konferensi menyetujui untuk melanjutkan perundingan dengan kaum Menshevik, dan memilih komite perundingan yang terdiri dari Stalin, Kamenev, Nogin, dan Teodorovich.

 

[1] Quoted in J.L.H. Keep, The Rise of the Social Democracy in Russia, p. 59.

[2] Oprichniki adalah pasukan pengawal Tsar yang dibentuk pada abad ke-16 oleh Tsar Ivan The Terrible. Pasukan ini terkenal dengan kekejaman dan keberingasannya.

[3] F.F. Raskolnikov, Kronstadt and Petrograd in 1917, p. 1.

[4] J.L.H. Keep, The Rise of the Social Democracy in Russia, p. 60.

[5] L. Trotsky, The History of the Russian Revolution, pp. 105-6.

[6] Ibid., p. 158.

[7] M. Liebman, Leninism Under Lenin, pp. 119-20.

[8] Quoted in M. Liebman, Leninism Under Lenin, p. 121 and p. 120.

[9] N. Sukhanov, Zapiski o revolutsii, vol. 1, p. 50 and p. 94.

[10] See M. Liebman, Leninism Under Lenin, pp. 117-118.

[11] L. Trotsky, The History of the Russian Revolution, p. 300.

[12] Quoted in M. Liebman, Leninism Under Lenin, p. 117.

[13] Buku Istoriya, (buku sejarah resmi Partai Komunis Uni Soviet), yang menerangkan Revolusi Februari sebagai gerakan yang sepenuhnya Bolshevik, tidak mampu menjelaskan mengapa Menshevik dan SR adalah pihak yang diuntungkan oleh Revolusi Februari.

[14] L. Trotsky, The Russian Revolution, in The Essential Trotsky, pp. 27-28.

[15] L. Trotsky, Lessons of October, in Writings 1935-36, pp. 167-68.

[16] Stalin dan Kamenev, lewat Komunis Internasional, memberi instruksi pada Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk memasuki Partai Koumintang (KMT) dan mendukungnya, dengan dalih bahwa Revolusi China berkarakter revolusi borjuis nasional. “KMT harus menjadi kekuatan sentra dari revolusi nasional dan harus mengambil kepemimpinannya,” tulis manifesto dari Kongres PKC pada Juni 1923, berdasarkan instruksi dari Komintern. Kemandirian kelas PKT disubordinasi di bawah kepentingan revolusi borjuis dan KMT, dan ini berakhir dengan kekalahan tragis Revolusi Tiongkok 1925-27, dimana KMT memainkan peran kontra-revolusioner, berbalik mengkhianati PKT, dengan membantai ribuan komunis.

[17] Quoted in M. Liebman, Leninism Under Lenin, p. 127.

[18] Quoted in Istoriya KPSS, vol. 2, p. 674 and p. 688.

[19] M. Liebman, Leninism Under Lenin, p. 122.

[20] L. Trotsky, Stalin, p. 181.

[21] M. Liebman, Leninism Under Lenin, p. 123.

[22] E.H. Carr, The Bolshevik Revolution, vol. 1, p. 75.

[23] J.V. Stalin, Works, vol. 3, p. 8.

[24] Notulen Konferensi Maret 1917 ini disembunyikan oleh rejim Stalin, karena menunjukkan kekeliruan besar posisi Stalin dalam menyikapi Revolusi Rusia, yakni posisi yang mendukung Pemerintahan Provisional dan mendukung persatuan antara Bolshevik dan Menshevik. Bila saja Lenin tidak kembali dari pengasingan dengan Tesis April, Revolusi Oktober sudah pasti tidak akan terjadi. Leon Trotsky, yang masih memiliki akses ke notulen Konferensi Maret 1917, menerbitkannya dalam bukunya The Stalin School of Falsification.

[25] Notulensi Konferensi Partai pada Maret 1917 ini dikubur oleh rezim Stalin dan tidak pernah diterbitkan, karena mengungkapkan posisi Stalin yang fatal dan keliru selama Revolusi Rusia. Notulensi ini dimuat oleh Leon Trotsky dalam karyanya The Stalin School of Falsification, hal. 239, hal. 240, hal. 241, hal. 242, hal. 255, hal. 256, hal. 258, hal. 274 dan hal. 275..

Bergabunglah dengan Perhimpunan Sosialis Revolusioner!

Form Pendaftaran

Form by ChronoForms - ChronoEngine.com