facebooklogocolour

Lenin studiedPada musim gugur 1914 Lenin memulai studi rinci atas Hegel. Catatan-catatannya mengandung wawasan cemerlang mengenai metode dialektis, yang merupakan keahliannya. Dalam artikel ini, Hamid Alizadeh menguraikan aspek-aspek penting metode ini dan menggarisbawahi pentingnya teori bagi gerakan revolusioner.

Pada musim panas 1914, perang pecah di Eropa dan alur sejarah dunia berubah dalam sekejap. Dengan restu para pemimpin sosial-demokrasi yang berkhianat, kaum borjuis Eropa menyeret umat manusia ke dalam jurang pembantaian yang mengerikan, yang mana puluhan juta buruh dan tani dijagal.

Pengkhianatan kepemimpinan sosial demokrasi telah menghancurkan Internasional Kedua, organisasi utama gerakan buruh internasional, dan membuat proletariat dunia tidak berdaya ketika reaksi muncul di mana-mana. Sementara itu, kekuatan Marxisme revolusioner telah tereduksi menjadi minoritas kecil, yang berserakan di seluruh Eropa dan tanpa platform atau arahan yang jelas.

Lenin mendapati dirinya terdampar di Polandia ketika perang meletus dan harus segera pindah ke Swiss. Dia tidak mengantisipasi pengkhianatan para pemimpin Internasional Kedua dan awalnya terkejut mendengar berita bahwa partai Jerman telah mendukung anggaran perang di Reichstag. Kini Internasional Kedua telah menjadi puing belaka, perjuangan kelas di Rusia meredup akibat perang dan Lenin terisolasi dari semua orang kecuali segelintir kameradnya.

Namun, justru pada momen ini, ketika tugas-tugas organisasi dan politik tampak lebih besar dari sebelumnya, Lenin terjun ke dalam studi mendalam tentang filsafat Hegel. Sejumlah orang mungkin bertanya: di masa krisis seperti itu, mengapa repot-repot membenamkan diri dalam masalah teori yang abstrak? Bagi mereka yang berpikir secara mekanis, ini mungkin tampak aneh dan bahkan menggelikan. Bagaimana dengan ‘kebutuhan’ partai? Semestinya tugas yang mendesak sekarang adalah fokus pada persoalan praktis yang ada di depan mata!

Respons seperti ini tentunya akan selaras dengan bagaimana kaum borjuis secara kasar mencitrakan Lenin sebagai seorang filistin, yang hanya mementingkan aksi; seorang ‘konspirator ulung’ yang tegas dan tidak memikirkan hal-hal sepele seperti kontemplasi filosofis – sebuah pencitraan yang tidak jauh dari karikatur Stalinis tentang Lenin.

Pada kenyataannya, pandangan seperti itu sangat kontras dengan metode Lenin dan Marxisme pada umumnya. Apa yang membedakan Lenin dari para pemimpin Internasional Kedua lainnya adalah, pertama-tama, kejelasan dan posisi kelasnya yang konsisten – kualitas yang semata-mata didasarkan pada wawasan teoritisnya.

Pada 1914, perang memorak-porandakan dunia seperti tornado raksasa dan menghancurkan segala sesuatu. Setiap negara dilanda kekacauan hebat. Semua tren politik diuji dan kelemahan sekecil apa pun tersingkap dengan kejam. Dalam kondisi seperti itu, improvisasi yang impresionistik tidak akan menghasilkan apa-apa.

Kaum Marxis telah meramalkan meletusnya perang imperialis ini. Namun ini adalah situasi baru yang memerlukan reorientasi partai yang cakap. Dalam konteks inilah Lenin memulai perjalanan baru ke dalam filsafat sebagai sarana untuk memperdalam pemahamannya tentang hukum alam dan masyarakat.

Buku catatan filsafatnya pada periode ini, dan khususnya catatannya tentang Science of Logic Hegel, tidak hanya merupakan harta karun ide, tetapi juga memberi kita pemahaman yang sangat instruktif tentang pendekatan dan sikap Lenin terhadap teori.

Metode Lenin

Lenin tidak asing dengan Hegel atau filsafat pada umumnya. Ia mempelajari karya-karya filosofis Marx dan Engels dengan cermat, serta tulisan-tulisan filosofis Plekhanov, yang memainkan peran penting dalam mengembangkan embrio awal kaum Marxis revolusioner di Rusia.

Ia juga memulai periode studi filsafat yang serius setelah Revolusi 1905, dan menulis sebuah buku, Materialism and Empirio-Criticism, yang menentang ide-ide revisionis Bogdanov, seorang pemimpin Bolshevik yang telah terjerumus ke dalam orbit filsafat borjuis reaksioner.

Jadi, seperti yang diungkapkan oleh buku catatan filsafatnya, Lenin sudah menguasai dialektika sebelum tahun 1914. Meskipun demikian, dia tidak pernah sedikit pun merasa puas dengan level politik dan teorinya. Sepanjang hidupnya, sebagaimana halnya semua ahli, Lenin mendekati teori dengan kerendahan hati dan ketekunan seorang siswa.

Dia secara metodis mempelajari Science of Logic Hegel, mencatat secara rinci dan merenungkan setiap konsep yang disajikan di dalamnya. Ini bukanlah tugas yang mudah. Dalam kata-katanya sendiri, sebagian karya Hegel ini tampaknya adalah “cara terbaik untuk sakit kepala!”[1] Namun tidak ada hal berharga yang bisa dicapai tanpa perjuangan, dan pemahaman akan ide-ide yang paling maju tentu saja memerlukan kerja keras.

Dalam catatannya kita dapat melihat bagaimana Lenin, seperti seorang ahli anatomi, dengan cermat membedah dan mengevaluasi setiap bagian karya Hegel, sebelum menyatukannya dan merenungkan gagasannya secara keseluruhan. Dengan melakukan ini, ia tidak hanya menguasai metode Hegel, namun juga mengkritiknya, memisahkan inti yang hidup dari kulitnya yang mati. Metode studi Lenin sendiri merupakan sebuah masterclass dalam dialektika. Trotsky menyimpulkan pendekatan ini dalam artikelnya How Lenin Studied Marx:

“Studi, yang bukan sekadar pengulangan secara mekanis, juga melibatkan upaya kreatif, tetapi dengan cara terbalik: Meringkas karya orang lain berarti menyingkapkan kerangka logikanya, membersihkan darinya bukti-bukti, ilustrasi, dan penyimpangan. Dengan gembira dan penuh semangat Vladimir melangkah maju menapaki jalan yang sulit ini, merangkum setiap bab, terkadang satu halaman, saat dia membaca dan memikirkan serta memverifikasi struktur logis, transisi dialektis, dan terminologi. Dengan memahami hasilnya, dia mengasimilasi metode berpikir. Dia menaiki anak tangga sistem orang lain selangkah demi selangkah, seolah-olah dia sendiri yang membangunnya kembali. Semua itu tertanam kuat dalam otak yang sangat tertata rapi, yang tersimpan di bawah kubah tengkorak yang kokoh.”[2]

Buku catatan filosofis Lenin menjadi bukti keteguhan pikirannya, yang tak henti-hentinya mencari ide dan sudut pandang baru yang dapat memperluas pemahamannya tentang dunia di sekitarnya. Meskipun ia menghadapi masalah organisasi dengan sangat fleksibel, kejelasan teoritisnya adalah hal yang membedakannya sebagai pemimpin yang luar biasa, dan Partai Bolshevik sebagai satu-satunya tendensi revolusioner yang konsisten pada masanya.

Apakah kita memerlukan filsafat?

“Tanpa teori revolusioner tidak akan ada gerakan revolusioner. Gagasan ini mesti ditekankan sekuat-kuatnya ketika ajaran oportunisme yang sedang populer berjalan seiring dengan kegemaran terhadap bentuk-bentuk aktivitas praktis yang paling sempit.”[3]

Banyak kaum revolusioner yang dapat mengutip kata-kata terkenal Lenin ini, atau setidaknya kalimat pertamanya. Namun apakah itu berarti mereka memahami sepenuhnya signifikansi kalimat tersebut? Keakraban bisa berbahaya. Ini dapat meninabobokan orang ke dalam ilusi kepastian yang palsu dan dengan demikian menghalangi mereka untuk memahami kedalaman hal ihwal.

Di sini kita melihat perbedaan antara Marxisme dan empirisme yang menjadi ciri filsafat borjuis saat ini. Bagi kaum Marxis, materi yang segera ada di depan mata kita saat ini hanyalah satu potret singkat; satu bagian atau aspek dari fenomena tertentu, yang harus dipelajari, diungkap, dan dipahami dalam totalitas konkretnya. Bagi kaum empiris, yang segera ada di depan mata adalah segala sesuatu yang ada, dan semua yang lain tertutup bagi mereka.

Kaum reformis secara tidak kritis mengadopsi filsafat borjuis dan, seperti tuan mereka, menundukkan kepala dan bertekuk lutut pada apa yang disebut ‘fakta yang ada’. Di sinilah kita temui akar filosofis oportunisme.

Pendekatan kaum reformis terhadap Perang Dunia Pertama merupakan contoh yang baik. Kelas-kelas penguasa di Eropa mendekati perang ini dari sudut pandang kepentingan nasional mereka yang sempit, yang mereka benarkan dengan mengacu pada abstraksi megah, seperti ‘membela tanah air’ atau ‘hak bangsa untuk menentukan nasib sendiri’.

Dan dengan abstraksi seperti itulah kelas penguasa dari satu negara ke negara lain meluncurkan perang setelah pembunuhan Archduke Franz Ferdinand, masing-masing saling menyalahkan sebagai pihak yang memprovokasi. Sejauh itulah kaum borjuis memahami Perang Dunia Pertama: sebagai serangkaian keputusan yang dibuat oleh serangkaian penguasa. Di permukaan, rangkaian peristiwa ini memang benar-benar terjadi, namun ada yang lebih penting daripada penampakannya di permukaan.

Kaum sosial demokrat pada saat itu juga berpendapat serupa, meskipun dengan retorika yang berhaluan kiri. Kaum sosial demokrat Austria juga menggaungkan sentimen anti-Rusia dan anti-Serbia yang sama seperti kelas penguasa. Plekhanov dan kaum oportunis Sosial Demokrasi Rusia berbicara tentang ancaman imperialisme Jerman yang reaksioner dan perlunya membantu Serbia yang tertindas. Sementara itu, Partai Sosial Demokrat Jerman mendukung anggaran perang dengan dalih perlunya menghentikan imperialisme reaksioner Rusia, dan seterusnya.

Mereka semua memandang perang hanya dari sudut pandang kelas kapitalis nasional mereka sendiri, dan atas dasar ini mereka bergegas ‘membela tanah air’ mereka, dan dengan penuh semangat mendukung mengirim jutaan pekerja ke liang kubur mereka.

Lenin, sebaliknya, menjelaskan bahwa perang adalah produk dari seluruh periode perkembangan kapitalis sebelumnya. Bangkitnya monopoli industri raksasa dan dominasi kapital finansial menandai babak baru dalam sejarah kapitalisme, di mana kebutuhan untuk terus mengekspor kapital telah mendorong negara-negara maju dan imperialis ke dalam pertikaian sengit untuk membagi dan membagi kembali dunia, demi mengamankan lahan investasi, pasar, dan lingkup pengaruh.

Dalam kondisi seperti ini, jelas Lenin, ‘membela tanah air’ hanyalah kedok untuk membela kepentingan sempit kelas penguasa tiap-tiap negara – yaitu kepentingan kelas yang mengeksploitasi dan menindas kaum proletar dan rakyat pekerja miskin.

Di sini kita melihat dalam praktik, perbedaan antara menerima secara buta filsafat dominan kelas penguasa dan menerima sudut pandang filsafat revolusioner secara sadar.

Selama periode kebangkitan kapitalisme, filsafat borjuis digunakan sebagai senjata ampuh melawan feodalisme dan pembela ideologinya di Gereja Katolik. Di bawah panji sains dan nalar, kapitalisme mengekspos kemunafikan dan irasionalitas masyarakat feodal.

Namun ketika kelas kapitalis berada di jalan buntu, watak filsafat mereka juga berubah dan menjadi sepenuhnya konservatif. Seperti dogma-dogma gereja yang pernah dilawannya di masa lalu, doktrin-doktrin borjuis di zaman kita adalah pembela status quo.

Jika doktrin-doktrin gereja lama menetapkan iman dan kitab suci sebagai jalan menuju kebenaran, maka akademisi dan para pakar bayaran kaum borjuis mengajarkan irasionalitas alam dan masyarakat dan mengangkat pengalaman subjektif langsung – tentu saja pengalaman subjektif mereka! – menjadi segala-galanya.

Di masa lalu, para pendeta berkhotbah tentang ‘tatanan ilahi’’, dengan raja di atas, diikuti oleh para penguasa feodal, dan di paling bawah, kelas-kelas bawah. Hari ini, para pendeta kapital berkhotbah tentang kapitalisme yang keramat – pasar, kepemilikan pribadi, negara-bangsa, dan semua kotoran moral reaksioner yang menyertainya – sebagai esensi umat manusia yang tidak dapat diubah.

Filsafat borjuis telah berubah menjadi kebalikannya. Alih-alih mengungkapkan kebenaran, tujuan sebenarnya dari ide-ide borjuis yang kini disebarluaskan melalui agama resmi, media, sekolah, dan lain-lain adalah untuk menabiri kebenaran.

Oleh karena itu, kebenaran adalah senjata kelas pekerja yang paling penting. Seperti semua kelas revolusioner sebelumnya, proletariat harus mengadopsi filsafat revolusioner secara sadar jika mereka ingin memahami cara kerja kapitalisme dan bagaimana sistem tersebut dapat dihapuskan.

Pemikiran abstrak

“Kebenaran itu konkret,”[4] Lenin sering mengatakan ini, dengan mengutip Hegel. Dan Marxisme pertama-tama berurusan dengan kebenaran. Namun ini bukan berarti pemikiran abstrak tidak benar. Jauh dari itu.

Seperti yang ditulis Lenin dalam konspektusnya tentang Logic Hegel :

“Pemikiran yang berjalan dari yang konkret ke yang abstrak — asalkan benar (NB) (…) — tidak menyimpang dari kebenaran tetapi malah mendekatinya. Abstraksi materi, abstraksi hukum alam, abstraksi nilai, dsb., singkatnya, semua abstraksi ilmiah (yang benar, serius, tidak absurd) mencerminkan alam secara lebih dalam, lebih benar, dan lebih lengkap.”[5]

Pengetahuan yang sejati bukan sekedar menumpuk fakta satu di atas yang lain. Intinya adalah memahami relasi yang ada antara fakta-fakta tersebut. Itulah peran filsafat: membekali kita dengan cara pandang dunia, sebuah metode dalam mendekati alam dan masyarakat di sekitar kita. Pemikiran abstrak adalah benar sejauh mencerminkan realitas. Pertanyaan utamanya tentu saja adalah bagaimana kita bisa mencapai kebenaran tersebut?

Dialektika

Revolusi filsafat Hegel didasarkan pada Objektivismenya – yaitu keyakinannya bahwa dunia ada secara independen dari umat manusia, dan bahwa dunia diatur berdasarkan hukum-hukum inherennya. Atas dasar ini, tugas sains dan filsafat bukanlah untuk menciptakan suatu sistem yang secara paksa diterapkan ke dunia, namun menyelidiki dunia sebagaimana adanya, dan dengan demikian menarik darinya hukum-hukum yang mengaturnya.

Dalam Logic-nya, Hegel dengan cemerlang mengkaji pemikiran ilmiah itu sendiri. Selangkah demi selangkah, ia memulai dengan menelusuri pemikiran manusia sebagaimana yang terungkap dengan sendirinya. Dimulai dengan konsep yang paling sederhana dan umum, ia lalu memaparkan hukum-hukum yang mengatur pemikiran rasional.

Dalam kata pengantar bukunya, ia mengajak kita merenungkan konsep sederhana ‘Wujud Murni’ (Pure Being). Di sini, Hegel memaknai ‘murni’ dalam arti bahwa ia sepenuhnya tidak dapat ditentukan (indeterminate) dan tidak dapat dibedakan (undifferentiated), tanpa batas, tanpa karakteristik khusus dan tidak ada satupun hal partikular yang mendefinisikannya. Seperti yang dikatakan Hegel, tidak peduli seberapa keras kita mencoba memikirkannya, kita tidak dapat mengatakan apa pun tentang wujud seperti itu, karena apa pun yang kita katakan akan membatasi dan mendefinisikannya, dan karenanya ia tidak lagi ‘murni’.

Maka dari itu, dalam bentuk yang murni ini, pada kenyataannya kita tidak dapat berbicara tentang wujud apa pun. Oleh karenanya kita sampai pada kesimpulan bahwa Wujud Murni tidaklah berbeda dengan Ketiadaan. Dengan kata lain, gagasan tentang Wujud Murni segera membawa kita pada gagasan tentang Ketiadaan (Nothing).

Namun setelah direnungkan, kita mendapati bahwa ini bukanlah tujuan akhir kita. Ternyata, gagasan tentang ‘ketiadaan yang murni’ (pure nothing), dalam kekosongan dan ketidakpastiannya, tidak berbeda dengan Wujud Murni.

Oleh karena itu, kedua konsep tersebut bertransisi satu sama lain segera setelah kita mencoba memantapkannya dalam pikiran kita: “masing-masing segera lenyap dalam kebalikannya”, tulis Hegel.[6] Dan di sinilah, dalam kesatuan Wujud dan Ketiadaan inilah kita bertemu dengan sebuah konsep atau kategori baru, yaitu Menjadi (Becoming), yaitu konsep yang lebih tinggi, yang mengikutsertakan Wujud dan Ketiadaan di dalamnya.

Dalam contoh atau eksperimen pemikiran yang sederhana ini, Hegel telah menguraikan benih dari semua dialektika yang dimulai dengan prinsip dasar bahwa segala sesuatu berada dalam keadaan perubahan yang tidak terinterupsi, dalam keadaan mengada dan melenyap. (coming into being and passing away)

“Cerdas dan pintar!” Lenin berkomentar, “Hegel menganalisis konsep-konsep yang biasanya tampak mati dan menunjukkan adanya pergerakan di dalamnya. Terbatas? Itu berarti bergerak menuju akhir! Sesuatu? -- berarti bukan Yang Lain. Menjadi secara umum?—berarti ketidakpastian sehingga Menjadi = tidak-Menjadi.”[7]

Jalan perubahan

“Gerak dan ‘gerak-diri’ (NB ini! gerakan yang arbitrari (independen), spontan, diperlukan-secara-internal), ‘perubahan,’ ‘gerakan dan vitalitas,’ ‘prinsip semua gerak-diri,’ ‘impuls’ (Trieb) pada ‘gerak’ dan ‘aktivitas’ — kebalikan dari ‘Wujud mati’ – siapa yang akan percaya bahwa ini adalah inti dari ‘Hegelianisme’, dari Hegelianisme yang abstrak dan muskil (bertele-tele, absurd?)?? Inti ini harus ditemukan, dipahami, [digali], diungkapkan, disempurnakan, dan itulah yang dilakukan oleh Marx dan Engels.”[8]

Bagi kaum empiris borjuis kecil, segala sesuatunya tetap sama, atau paling banter bergerak dalam spiral. Karena hari ini seperti kemarin, maka besok akan sama lagi. Hal-ihwal yang ada saat ini tampak maha kuasa di hadapannya dan karena itu ia tidak melihat pilihan selain terus-menerus mengeluh tentangnya, sementara menolak segala upaya untuk pecah darinya.

Dia akan selalu menemukan cara untuk membuktikan bahwa kapitalisme akan tetap ada, bahwa kelas buruh tidak akan pernah bergerak, atau bahwa partai revolusioner tidak dapat atau tidak boleh dibangun, dan seterusnya. Sejauh ia menerima perubahan, ia mengaitkannya dengan kekuatan eksternal. Pada akhirnya, dia menyerah pada status quo, karena dia tidak bisa membayangkan status quo berubah. Namun pada kenyataannya, perkembangan tersebut tidak bisa dihindari.

“Baik di surga maupun di bumi,” tulis Hegel, “tidak ada satu hal pun yang tidak mengandung keberadaan dan ketiadaan di dalam dirinya sendiri.”[9] Meskipun Hegel tidak memberi kita contoh dari surga, dunia sudah dipenuhi dengan contoh-contoh tersebut.

Perubahan adalah moda keberadaan fundamental semua materi. Segala sesuatu yang muncul membawa benih kehancuran di dalam dirinya. Perjuangan antara yang lama dan yang baru, antara wujud (being) dan ketiadaan (nothing), merupakan inti dari perkembangan – dan kapitalisme tidak terkecuali.

Kekuatan-kekuatan yang menyebabkan jatuhnya sistem kapitalisme sepenuhnya berasal dari dalam rahimnya sendiri, yaitu proletariat modern. Karakteristik utama proletariat adalah bahwa ia merupakan sebuah kelas yang tidak memiliki properti apapun dan terpaksa menjual daya kerjanya (labour power) kepada kapitalis agar dapat bertahan hidup. Kepentingannya bertentangan langsung dengan pilar-pilar penting kapitalisme: kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi dan negara-bangsa. Setiap langkah maju dalam perkembangan kapitalisme menempa kaum buruh menjadi kelas yang tangguh untuk melawan kaum borjuis, dan dengan demikian mempersiapkan kejatuhan kelas penguasa tersebut.

Namun ini bukanlah proses yang linier dan gradual. Bagi kaum kapitalis, revolusi adalah hasil persekongkolan para pemimpin yang licik dan karismatik yang tiba-tiba muncul di panggung, seperti halnya pemogokan dianggap sebagai kerja para penghasut. Pada kenyataannya, setiap revolusi adalah hasil dari periode panjang menajamnya kontradiksi sosial, di mana kepentingan kelas penguasa berbenturan dengan kepentingan proletariat.

Selama bertahun-tahun rezim penguasa tampaknya ajek. Kaum buruh menundukkan kepala dan menerima perintah para bos dengan patuh. Namun, cepat atau lambat, sebuah titik kritis akan tercapai ketika sebuah aksiden akan melepaskan semua kegeraman yang terpendam: bendungan jebol dan massa membanjiri kancah politik.

Stabilitas yang awalnya tampak di permukaan digantikan oleh gejolak paling intens. Sementara, kekuatan-kekuatan revolusioner, yang hingga kemarin berada di pinggiran gerakan buruh, tiba-tiba menemukan diri mereka berada di tengah panggung. Semua ini terjadi dengan sangat tiba-tiba dan penuh kekerasan, tampaknya tanpa peringatan.

Kaum reformis yang kemarin mengabaikan kelas pekerja karena apa yang mereka sebut ‘tingkat kesadaran yang rendah’ dan organisasi yang lemah, tercengang oleh peristiwa yang tidak mereka duga dan tidak dapat mereka kendalikan. Ini hanya menyingkap pendekatan mereka yang dangkal.

“Orang-orang mengatakan tidak ada lompatan di alam,” tulis Hegel, dalam sebuah bagian yang sangat digarisbawahi oleh Lenin, “dan imajinasi awam, ketika ia harus memahami kemunculan atau kelenyapan, ia berpikir telah memahaminya (...) sebagai kemunculan atau kelenyapan secara perlahan.”[10] 

Pada kenyataannya, yang terjadi justru sebaliknya. Perkembangan tidak hanya berjalan secara linier atau gradual. Di satu sisi, perkembangan mencakup periode-periode dengan perubahan kuantitatif kecil dan gradual, yang pada gilirannya memberi jalan bagi lompatan kualitatif tajam yang tiba-tiba; dan di sisi lain pergeseran kualitatif, yang memberi jalan bagi ledakan kuantitatif.

Hegel melanjutkan:

“Air yang didinginkan tidak sedikit demi sedikit menjadi keras, lambat laun mencapai kekentalan es setelah melewati kekentalan pasta, melainkan tiba-tiba menjadi keras; bila air sudah cukup mencapai titik beku, ia mungkin (jika diam saja) seluruhnya cair, dan sedikit guncangan saja akan membuatnya menjadi keras.”[11]

Peralihan dari kuantitas ke kualitas dan sebaliknya – atau, dengan kata lain, lompatan – adalah ciri mendasar dari semua perkembangan. Namun, untuk memahami kekuatan yang mendorong perubahan ini dan ke arah mana perkembangan ini akan menuju, kita harus melampaui sudut pandang ‘akal sehat’. Kita harus memeriksa dengan lebih dekat kekuatan-kekuatan dan arus bawah yang tidak kasat mata.

Di bawah permukaan

Di atas permukaan, saat kita menjalani kehidupan sehari-hari, kita menganggap segala sesuatunya sederhana dan tetap. Kita yakin bahwa laki-laki tetaplah laki-laki, anjing tetaplah anjing, ini adalah ini, itu adalah itu, dan seterusnya. Namun, begitu kita memfokuskan pandangan kita, kepastian ini lenyap. Karena dalam pencarian kita akan anjing yang arketipal, kita harus mengakui bahwa tidak ada anjing seperti itu; semua anjing berbeda.

Bahkan jika kita mengamati seekor anjing secara singular, katakanlah bernama Fido, kita akan melihat bahwa Fido hari ini tidak sepenuhnya seperti Fido kemarin. Dia jauh berbeda dari anak anjing yang kita kenal beberapa tahun lalu, dan suatu saat, dia akan berbeda dari Fido saat ini. Begitu kita mencoba mengingatnya dalam pikiran kita, semua konsep yang baku dan kaku akan terlepas dari genggaman kita dan larut ke dalam dunia dengan variasi tak-terhingga.

Kaum postmodernis berhenti pada titik ini dan mendeklarasikan ‘Perbedaan’ sebagai esensi dunia. Segala sesuatu berbeda dari segala sesuatu, begitu pernyataan mereka, dan oleh karena itu konsep dan kategori umum kita hanyalah ‘konstruksi’ khayalan belaka.

Tapi mereka berkesimpulan terlalu tergesa-gesa. Karena begitu kita mengalihkan pandangan kita ke dunia dengan perbedaan yang tak-terhingga ini, apa yang langsung mencolok adalah bahwa meskipun segala sesuatunya selalu berubah, dengan kejelasan yang luar biasa di semua tingkatan, kita akan temui pola dan hukum serupa yang terus mengulang, yang berkuasa dengan tangan besi.

Sekilas, tidak ada dua anjing yang sama. Namun beberapa atribut penting muncul pada semua anjing, yang menjadikan mereka anjing. Dan meskipun setiap sel, molekul, dan atom tubuh Fido berada dalam keadaan gerak dan transformasi yang konstan, masih ada sesuatu yang esensial yang melampaui semua yang aksidental dan fana dalam anjing kita ini. Identitas sesuatu tidak eksis terpisahkan dari perbedaannya, melainkan melalui perbedaan tersebut.

Dalam filsafat Platonis kuno, esensi segala sesuatu adalah arketipe ideal, yang berdiri di atas atau bertentangan dengan dunia yang dinamis dan beraneka ragam yang kita alami. Bagi kaum postmodernis, esensi segala sesuatu hanyalah konstruksi mental umat manusia yang arbitrari, yang kita proyeksikan ke dalam realitas eksternal.

Mengenai masalah ini, Lenin menulis:

“Para filsuf yang lebih picik memperdebatkan mana yang harus dijadikan dasar: esensi atau apa yang segera tampak (Kant, Hume, semua kaum Machis). Alih-alih ‘atau’, Hegel menempatkan ‘dan’, dengan menjelaskan isi konkret dari ‘dan’ ini.”[12]

Sebagaimana telah berulang kali dibuktikan oleh sains modern, esensi segala sesuatu – yang menjadikannya sebagaimana adanya – hanyalah relasi inheren dari segala sesuatu itu sendiri. Ini adalah dinamika internal materi, yang muncul dari dan mengekspresikan dirinya dalam bentuk dan konfigurasi tak-terhingga yang ada di alam sekitar kita.

Charles Darwin, dalam teorinya tentang evolusi biologi, menjelaskan bagaimana semua organisme berkembang melalui seleksi alam berupa mutasi yang meningkatkan kemampuannya untuk bertahan hidup dan bereproduksi. “Dari awal yang sederhana,” tulisnya, “bentuk-bentuk terindah dan paling luar biasa yang tiada habisnya telah, dan sedang, berevolusi.”[13] 

Hukum evolusi tidak terpisah dari organisme hidup. Hukum evolusi adalah moda perkembangan mereka. Apa yang membedakan umat manusia dari binatang lain adalah kemampuan kita untuk mengabstraksikan aspek-aspek hal-ihwal ini, aspek-aspek yang tidak segera terlihat dengan mata telanjang, untuk merenungkannya dan dengan demikian mencapai pemahaman yang lebih dalam mengenai fenomena tersebut secara keseluruhan. Dengan kata lain, Ide-ide dan konsepsi umum kita merupakan aproksimasi terhadap hukum dan relasi nyata yang mengatur dunia.

Semakin dalam kita dapat menyelami hal-ihwal, semakin banyak relasi yang dapat kita ungkapkan, semakin tepat ide-ide kita mencerminkan esensi dari hal-ihwal itu sendiri.

Seperti yang ditulis Lenin:

“Alam itu konkret dan abstrak, fenomena dan esensi, momen dan relasi. Konsep-konsep manusia bersifat subjektif dalam keabstrakannya, keterpisahannya, namun objektif secara keseluruhan, dalam prosesnya, dalam jumlah totalnya, dalam kecenderungannya, dalam sumbernya.”[14]

Kontradiksi

Pemikiran awam menangkap satu aspek langsung dari suatu fenomena dan membandingkannya dengan aspek lainnya. Untuk keperluan sehari-hari, metode itu benar. Namun jika kita periksa lebih dekat, kita akan melihat bahwa alam tidaklah satu-sisi dan sederhana, melainkan banyak sisi dan kontradiktif.

Abstraksi satu-sisi itu mati, jelas Hegel dalam paragraf yang digarisbawahi oleh Lenin, “tetapi Kontradiksi adalah akar dari semua gerak dan vitalitas, dan hanya sejauh ia mengandung Kontradiksi maka segala sesuatu bergerak dan mempunyai impuls dan aktivitas.”[15]

“Sesuatu bergerak,” kata Hegel kepada kita, “bukan karena ia berada di sini pada suatu waktu dan berada di sana pada waktu yang lain, melainkan karena pada waktu yang sama ia berada di sini dan bukan di sini, dan di sini keduanya ada dan tidak ada.”[16] Demikianlah alur semua gerak dan perkembangan.

Dialektika tidak mengesampingkan pandangan dunia yang satu-sisi dalam pemikiran sehari-hari; ia menyerapnya sebagai salah satu aspek dari kebenaran yang lebih tinggi. Ia mencakup semua aspek dari suatu fenomena – relasi eksternal dan internalnya – dan menempatkan keduanya dalam kontradiksi sebagai satu kesatuan yang kompleks.

Begitu kita memahami ini, sebuah dunia baru terbuka bagi kita. Dunia yang saling terhubung di mana bagian-bagiannya ada dalam relasi timbal balik dengan keseluruhan; di mana wujud mengalir ke dalam ketiadaan dan sebaliknya; di mana kuantitas mengalir ke kualitas dan sebaliknya; di mana identitas dan perbedaan saling merasuki satu sama lain; di mana bentuk dan isinya terus bergulat tiada-henti; di mana prinsip-prinsip sederhana menjadi basis dari proses yang paling kompleks, dan seterusnya.

“Syarat bagi pengetahuan tentang semua proses di dunia dalam ‘gerak-diri’ mereka, dalam perkembangan spontan mereka, dalam kehidupan riil mereka, adalah pengetahuan tentang proses-proses tersebut sebagai kutub-kutub berlawanan yang tersatukan (a unity of opposites),” tulis Lenin, sambil menambahkan: “Perkembangan adalah ‘pergulatan’ antara kutub-kutub yang berlawanan.”[17]

Kepatuhan pada Hukum

Semakin dalam kita mampu memenetrasi suatu fenomena dan semakin baik kita dapat menelusuri relasi-relasi kontradiktif internalnya, maka semakin tidak serampangan atau arbitrari fenomena tersebut tampak di mata kita. Sebaliknya, apa yang secara perlahan-lahan akan terbentuk adalah alur perkembangan yang niscaya – atau dengan kata lain, alur perkembangan yang mematuhi hukum.

Di sini kita mempunyai cara pandang yang sama sekali berbeda dengan kategori-kategori filsafat borjuis yang kaku dan tidak hidup. Pandangan dialektis tidak hanya mencerminkan sifat-sifat eksternal suatu fenomena atau tahapan-tahapan transiennya, namun keseluruhan perkembangannya dalam tahapan-tahapan yang suksesif, dari mengada hingga niscaya melenyap. Metode ini merupakan inti dari Marxisme.

Lenin menulis:

“Dalam Kapital, Marx pertama-tama menganalisis relasi masyarakat borjuis (atau masyarakat komoditas) yang paling sederhana, paling biasa dan mendasar, paling umum dan sehari-hari, sebuah relasi yang ditemui miliaran kali, yakni, pertukaran komoditas. Dalam fenomena yang sangat sederhana ini (dalam ‘sel’ masyarakat borjuis ini), analisis mengungkap seluruh kontradiksi (atau bibit semua kontradiksi) masyarakat modern. Eksposisi berikutnya menunjukkan kepada kita perkembangan (baik pertumbuhan maupun pergerakan) kontradiksi-kontradiksi ini dan perkembangan masyarakat ini dalam [jumlah total] bagian-bagian individualnya. Dari awal hingga akhir. (...) Metode eksposisi (yaitu studi) dialektika secara umum juga harus demikian (karena menurut Marx, dialektika masyarakat borjuis hanyalah salah satu kasus dialektika tertentu).”[18]

Melalui penerapan metode dialektika, Marx mengungkap hukum kapitalisme. Dan atas dasar ini dia mampu memprediksi secara akurat, secara garis besar, seluruh perkembangan masyarakat kapitalis; sebuah perkembangan yang tentu saja mengarah pada berkuasanya kaum proletar dan penghapusan kepemilikan pribadi dan negara-bangsa.

Atas dasar perspektif ini, yang awalnya dikembangkan oleh Marx dan Engels, yang berdasarkan studi sejarah manusia, dan yang terbukti benar setiap hari, maka program Revolusioner dirumuskan.

Oleh karena itu, Lenin menulis: “Mustahil untuk sepenuhnya memahami Kapital  Marx dan khususnya bab pertamanya, tanpa secara utuh mempelajari dan memahami keseluruhan Logic Hegel. Sebagai konsekuensinya, setengah abad kemudian tidak ada satupun kaum Marxis yang memahami Marx!!”[19]

Membaca Hegel yang Dijungkirbalikkan

Hegel dengan brilian mengembangkan eksposisi dialektika yang paling komprehensif sebagai ilmu tentang gerak dan perubahan. Sampai hari ini, ide-idenya jauh lebih unggul dibandingkan doktrin filsafat resmi kelas kapitalis.

Namun di tangan Hegel, dialektika diberi bentuk yang mistis dan idealis. Di sini yang dimaksud bukanlah hukum-hukum inheren perkembangan alam, melainkan hukum-hukum perkembangan dari apa yang disebutnya Roh Absolut atau Ide Absolut. Ide “menjadi pencipta Alam,” tulisnya – yang kemudian dibalas oleh Lenin dengan tawa: “!!Ha ha!”[20]

Bagi Hegel, kategori-kategori logis, seperti Wujud, Ketiadaan, Mengada, Kuantitas, Kualitas, Esensi, Penampilan, dan lain-lain, mempunyai eksistensi yang independen sebagai bagian-bagian komponen dari Ide yang mencakup semua ini, yang pada gilirannya telah mengekspresikan dirinya melalui alam. Ketika Ide telah mengekspresikan dirinya ke dalam alam, maka Ide Absolut menemukan bentuk tertingginya dalam pemikiran rasional, yang mencapai puncaknya pada filsafat Hegelian itu sendiri.

Hegel menekankan keutamaan pemikiran abstrak yang berdiri di atas aktivitas manusia. Sejauh dia mengikutsertakan aktivitas sebagai komponen kunci logikanya, ini pertama-tama menjadi bagian di dalam kategori logis. Dalam keseluruhan logikanya ia menegaskan bahwa pembaca harus meninggalkan dunia luar dan  menetap dalam alam “pemikiran murni”.

Namun, dia terpaksa, lagi dan lagi, belok ke arah materialisme, dengan logikanya sendiri dan untuk membuktikan pendapatnya. Seperti yang dicatat oleh Lenin: “[Dalam] karya Hegel yang paling idealis ini, terdapat sedikit sekali idealisme dan banyak sekali materialisme. ‘Kontradiktif’, tapi fakta!”[21]

Hegel adalah seorang filsuf idealis, yang berpendapat bahwa pikiran adalah komponen utama realitas dan bahwa dunia eksternal, dalam satu atau lain cara, merupakan turunan atau refleksi dari pikiran. Semua agama termasuk dalam kubu filsafat idealisme dan Hegel tidak merahasiakan bahwa ia sedang merumuskan sistem religius.

Kaum Marxis adalah filsuf materialis. Berbeda dengan kaum idealis, kami percaya bahwa hanya ada satu dunia, yaitu dunia material yang dapat kita rasakan, dan kita bisa berinteraksi dengan dunia tersebut. Pikiran manusia adalah produk dunia material ini dan gagasan kita hanyalah refleksi dunia material ini.

“Saya secara umum mencoba membaca Hegel secara materialistis.” tulis Lenin. “Hegel adalah materialisme yang berdiri terbalik di atas kepalanya […] – artinya, saya sebagian besar mengesampingkan Tuhan, Absolut, Ide Murni, dan sebagainya.”[22]

Lenin dapat melakukan ini karena konsep Ide Absolut tidak memainkan peran fundamental apa pun dalam aspek-aspek esensial ide Hegel. Pada kenyataannya, seperti dicatat oleh Friedrich Engels, Hegel “tidak menjelaskan apa pun”[23] tentang Ide Absolut.

Kaum Marxis tidak percaya bahwa dialektika memiliki eksistensi yang terpisah dari alam. Hukum dialektika bukanlah hukum gagasan, namun mencerminkan hukum alam itu sendiri pada tingkat yang paling umum. Melalui interaksi kita dengan dunia, kita sebagai manusia dapat menemukan hukum-hukum ini pada tingkat yang semakin dalam. Itulah basis filsafat Marxis: materialisme dialektis.

“Logika bukanlah ilmu tentang bentuk-bentuk pemikiran eksternal,” tulis Lenin, “melainkan tentang hukum-hukum perkembangan ‘segala sesuatu yang bersifat material, natural, dan spiritual’, yaitu tentang perkembangan seluruh isi dunia yang konkret dan kognisinya, yaitu, jumlah-total, kesimpulan dari Sejarah pengetahuan dunia.”[24]

Salah satu pencapaian besar Marx dan Engels adalah menyelamatkan dialektika dari belenggu idealisme Hegel dan ‘menjungkirbalikkannya’. Dan sementara dialektika alam ditunjukkan setiap hari melalui kemajuan sains dan kebudayaan, idealisme Hegel – yaitu Roh Absolutnya – hanya tersisa sebagai kerangka luar yang tak bernyawa, yang harus dirombak agar organisme hidup nyata di bawahnya dapat terus berkembang.

Teori dan praktik

Dari mana datangnya ide? Fantasi memesona ini berkeliaran di dunia batin kita; asal muasal spesifiknya telah lama dilupakan, dan oleh karena itu, selama ribuan tahun manusia telah mengilhami ide dengan kualitas mistis. Dalam idealisme, gagasan berhadapan dengan umat manusia sebagai kekuatan dahsyat yang berdiri di atas alam dan masyarakat.

Namun ide tidak mempunyai keberadaan yang independen. Ide juga bukan merupakan tembok kokoh yang memisahkan manusia dan dunia luar, seperti yang dibayangkan oleh kaum subjektivis. Pikiran adalah fungsi regulator spesies kita, yang melalui kerja menjembatani kita dan alam di sekitar kita.

“Produksi gagasan, konsepsi, kesadaran, pada awalnya secara langsung terjalin dengan aktivitas material dan relasi antar-manusia yang material, bahasa kehidupan nyata,” jelas Marx.[25] Dari interaksi kita yang terus-menerus dengan dunia di sekitar kita, yang disebut Marx sebagai “metabolisme antara manusia dan alam”, muncullah konsepsi yang memungkinkan kita memahami dunia di sekitar kita dan mengubahnya sesuai kebutuhan kita. Dengan melakukan ini, kita juga mengubah diri kita sendiri. Ide-ide kita, seperti kategori logika, bukanlah fenomena supernatural; mereka hanya mencerminkan alam itu sendiri dan asal usulnya terletak pada aktivitas sosial manusia .

“Bagi Hegel”, tulis Lenin, “tindakan, praktik, adalah sebuah ‘silogisme’ logis, sebuah bentuk logika. Dan itu benar! Tentu saja tidak dalam artian bahwa bentuk logika mempunyai wujud lain dalam praktik manusia (=idealisme absolut), namun sebaliknya: praktik manusia, yang terulang ribuan juta kali, dikonsolidasikan dalam kesadaran manusia oleh bentuk logika. Justru (dan hanya) karena pengulangan ribuan juta kali ini, bentuk-bentuk logika ini memperoleh stabilitas prasangka dan karakter aksiomatik.”[26]

Dalam kata lain, karakter dialektis pemikiran yang dipetakan Hegel dalam Logic hanyalah cerminan dari alam, yang mana manusia berinteraksi dengannya. Lenin yang memparafrasekan Hegel menulis: “Alam, totalitas langsung ini, terungkap dalam Ide Logika.” Dia melanjutkan:

“Logika adalah ilmu kognisi. Logika adalah teori pengetahuan. Pengetahuan adalah cerminan alam oleh manusia. Namun ini bukanlah cerminan yang sederhana, yang segera, yang utuh, melainkan proses serangkaian abstraksi, pembentukan dan pengembangan konsep, hukum, dan lain-lain, dan konsep-konsep ini (pemikiran, ilmu = ‘Ide logis’) mencakup secara kondisional, secara aproksimasi, karakter alam semesta yang terus bergerak dan berkembang, yang bersifat universal dan diatur oleh hukum.”[27]

Melalui ribuan tahun trial-and-error, kita telah mengembangkan ide dan konsepsi umum yang menyelami lebih dalam berbagai aspek alam, ide-ide yang telah menjadi esensi terkonsentrasi dari pengalaman manusia. Dialektika adalah puncak perkembangan ini sejauh ini.

Namun pengetahuan bukanlah arus satu arah, yang menanamkan hasil aktivitas kita di otak kita. Ada pula proses yang berjalan secara simultan dan terbalik: setelah menyimpulkan berbagai aspek dari dunia yang diatur oleh hukum, pemikiran abstrak memungkinkan kita untuk merenungkan dan memperdalam ide kita guna memperbaiki praktik kita lebih jauh lagi.

Lewat praktik ide-ide kita berhadapan dengan dunia objektif yang ingin kita ubah. Dan melalui proses inilah mereka memperoleh objektivitas: “Kesatuan gagasan teoritis (pengetahuan) dan praktik – NB ini – dan kesatuan ini tepatnya dalam teori pengetahuan, karena jumlah total yang dihasilkan adalah [gagasan objektif].”[28]

Bagi kaum filistin, mereka hanya tertarik pada teori sebagai pemuas rasa ingin tahu. Namun justru interaksi dialektis antara teori dan praktik, yang satu mengarah ke yang lain, yang mencirikan “proses pendalaman pengetahuan manusia yang tak ada habisnya tentang hal-ihwal, fenomena, proses, dsb., dari penampilan hingga esensi dan dari esensi yang tidak mendalam hingga esensi yang lebih mendalam.”[29]

Ini merupakan proses yang sekaligus meningkatkan dan memperluas penguasaan manusia atas alam. Semakin dalam pengetahuan yang kita miliki mengenai hukum-hukum yang mengatur dunia kita, maka semakin efisien kita dapat mencapai tujuan dan aspirasi kita. Dan di sini kita melihat pentingnya teori bagi kaum Revolusioner.

Seperti yang dijelaskan Trotsky:

“Siapa yang memandang teori sebagai panduan aksi, dia akan lebih teliti, cermat, dan seimbang. Orang yang skeptis mungkin akan mencemooh ilmu kedokteran, namun ahli bedah tidak bisa hidup dalam suasana ketidakpastian ilmiah. Semakin besar kebutuhan kaum revolusioner akan teori sebagai pedoman aksi, semakin keras pula ia menjaga teori tersebut. Vladimir Ulyanov tidak mempercayai kepicikan dan membenci penipu intelektual. Apa yang dia hargai di atas segalanya dalam Marxisme adalah disiplin ketat dan otoritas metodenya.”[30]

Wawasan ke depan

Trotsky pernah mendefinisikan teori Marxis sebagai keunggulan “wawasan ke depan dibandingkan keterkejutan”. Dan dengan wawasan ke depan dan pemahaman mendalam inilah Lenin dan kaum Bolshevik dapat menang di tengah-tengah situasi yang teramat sulit.

Pada awal Perang Dunia Pertama, kaum Bolshevik adalah – dalam hal kekuatan, pengaruh dan sumber daya – salah satu aliran politik terlemah di Eropa. Di bawah pengaruh gelombang patriotisme, yang dikobarkan oleh rejim Tsar, partai Bolshevik kehilangan sebagian besar dukungannya di kalangan kelas buruh Rusia. Gelombang revolusioner yang muncul di Rusia sebelum perang segera padam dan tsarisme untuk sementara menguat.

Unsur-unsur revolusioner sekali lagi terdorong ke pinggiran. Lebih parah lagi, banyak buruh terbaik dikirim ke garis depan sebagai hukuman atas aktivisme mereka di pabrik. Para pemimpin utama Bolshevik, sebagian besar, berada di pengasingan di Eropa di mana jalur komunikasi terputus atau sangat terganggu akibat perang.

Reaksi mulai muncul dan menguat di mana-mana di Eropa, dan kelas buruh mengalami kemunduran. Dengan senapan, tank, dan bom, kaum borjuis Eropa meluncurkan pembantaian di seluruh benua – dan siapa pun yang menghalangi mereka dapat dengan mudah disingkirkan atau, jika perlu, dikirim ke garis depan. Sementara itu, para pemimpin sosial-demokrasi Eropa, yang mendukung kelas penguasa mereka sendiri, tampaknya duduk dengan nyaman di pangkuan tuan borjuis mereka.

Bagi kaum Bolshevik, yang kondisi keuangannya payah, aparatusnya sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali, dan organisasi partainya berantakan akibat perang, gagasan merebut kekuasaan mungkin tampak semakin mustahil. Namun, hanya tiga tahun lebih setelah dimulainya perang, semua ini berubah menjadi kebalikannya dan Partai Bolshevik memimpin kaum buruh dan tani Rusia ke tampuk kekuasaan dalam Revolusi Oktober 1917. Ini adalah contoh terbaik dialektika.

Di sini kita melihat kekuatan ide dalam praktiknya. Keberhasilan kaum Bolshevik dapat direduksi menjadi keberhasilan metode Marxis, yaitu metode materialisme dialektis.

Lenin dan Bolshevik bersikeras mempertahankan posisi kelas buruh dan menolak memberikan konsesi sedikit pun terhadap sauvinisme nasional. Meskipun perang pada awalnya memperkuat kelas penguasa, perang yang sama kemudian menjadi kekuatan pendorong terbesar revolusi dengan secara tajam memunculkan kontradiksi kelas dalam masyarakat.

Dengan demikian, program revolusioner kaum Bolshevik, yang sama sekali tidak mendapat tanggapan populer pada masa-masa awal perang, menjadi seruan massa Rusia, dan menyebarkan teror di kalangan kelas penguasa dunia.

Oportunisme adalah pengabaian perspektif jangka panjang demi tujuan jangka pendek. Dialektika adalah ilmu yang melampaui hal-hal yang segera; sebaliknya dialektika adalah ilmu yang memahami proses-proses jangka panjang yang rumit dalam keseluruhannya. Dedikasinya terhadap teori dan penguasaannya atas dialektika memberi Lenin keunggulan besar dibandingkan musuh-musuhnya.

Dalam dunia politik, kegemaran akan apa yang tampak secara langsung di permukaan akan menghasilkan slogan yang sembrono dan “kegemaran terhadap bentuk-bentuk aktivitas praktis yang paling sempit”. Lenin dan Bolshevik mampu melihat melampaui apa yang tampak di permukaan dan memahami esensi permasalahan yang ada, terlepas dari dampak langsungnya terhadap partai, karena mereka tahu bahwa pada akhirnya hanya kebenaran yang akan membawa mereka lebih dekat pada kemenangan kelas buruh. Inilah kunci kesuksesan mereka.

Leon Trotsky menyimpulkan inti permasalahannya:

“Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa revolusi terbesar sepanjang sejarah tidak dipimpin oleh partai yang memulai dengan bom, melainkan oleh partai yang memulai dengan materialisme dialektika.”[31]

 

[1] V I Lenin, “Conspectus of Hegel’s Book ‘The Science of Logic’”, Lenin Collected Works, Vol. 38, Progress Publishers, 1961, hal. 176

[2] L Trotsky, “How Lenin Studied Marx”, Fourth International, Vol.11, No.4, July-August 1950, hal. 126

[3] V I Lenin, What is to be done?, Wellred Books, 2018, hal. 26

[4] V I Lenin, “One Step Forward, Two Steps Back”, Lenin Collected Works, Vol. 7, Progress Publishers, 1961, hal. 412

[5] V I Lenin, “Conspectus of Hegel’s Book ‘The Science of Logic’”, Lenin Collected Works, Vol. 38, Progress Publishers, 1961, hal. 171, emphasis in original throughout

[6] G W F Hegel, The Science of Logic, Cambridge University Press, 2010, hal. 60

[7] V I Lenin, “Conspectus of Hegel’s Book ‘The Science of Logic’”, Lenin Collected Works, Vol. 38, Progress Publishers, 1961, hal. 110

[8] ibid. hal. 141

[9] G W F Hegel, The Science of Logic, Cambridge University Press, 2010, hal. 61

[10] V I Lenin, “Conspectus of Hegel’s Book ‘The Science of Logic’”, Lenin Collected Works, Vol. 38, Progress Publishers, 1961, hal. 123

[11] ibid. hal. 124

[12] ibid. hal. 134

[13] C Darwin, The Origin of Species, P F Collier and Son, 1909, hal. 529

[14] V I Lenin, “Conspectus of Hegel’s Book ‘The Science of Logic’”, Lenin Collected Works, Vol. 38, Progress Publishers, 1961, hal. 208

[15] ibid. hal. 139

[16] G W F Hegel, The Science of Logic, Cambridge University Press, 2010, hal. 382

[17] V I Lenin, “On the Question of Dialectics”, Lenin Collected Works, Vol. 38, Progress Publishers, 1961, hal. 360

[18] ibid. hal. 360-361

[19] V I Lenin, “Conspectus of Hegel’s Book ‘The Science of Logic’”, Lenin Collected Works, Vol. 38, Progress Publishers, 1961, hal. 180

[20] ibid. hal. 174

[21] ibid. hal. 234

[22] ibid. hal. 104

[23] F Engels, “Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy”, Karl Marx Frederick Engels Collected Works, Vol. 26, Progress Publishers, 1990, hal. 360

[24] ibid. hal. 92-93

[25] K Marx, The German Ideology, International Publishers, 1947, hal. 13-14

[26] V I Lenin, “Conspectus of Hegel’s Book ‘The Science of Logic’”, Lenin Collected Works, Vol. 38, Progress Publishers, 1961, hal. 217

[27] ibid. hal. 182

[28] ibid. hal. 219

[29] ibid. hal. 222

[30] L Trotsky, “How Lenin Studied Marx”, Fourth International, Vol.11, No.4, July-August 1950, hal. 127

[31] L Trotsky, In Defence of Marxism, Wellred Books, 2019, hal. 106