Belajar dari 250 Tahun Revolusi Amerika
Revolusi Amerika 1776 menjadi inspirasi bagi proklamasi kemerdekaan, namun ada perbedaan yang mencolok: borjuasi Indonesia adalah pengecut yang tidak mampu menuntaskan revolusi nasional.
Revolusi Amerika 1776 menjadi inspirasi bagi proklamasi kemerdekaan, namun ada perbedaan yang mencolok: borjuasi Indonesia adalah pengecut yang tidak mampu menuntaskan revolusi nasional.
Perang Iran menguji kejernihan politik gerakan kiri untuk melawan agresi imperialisme Amerika Serikat dan Israel tanpa menjadi pendukung rezim Iran.
Untuk memahami Iran hari ini, kita perlu kembali ke Revolusi 1979, sebuah ledakan perjuangan rakyat yang membuka kemungkinan besar bagi revolusi sosialis, tetapi berakhir tragis ketika kepemimpinan revolusioner gagal menuntaskan tugas sejarahnya.
Dalam gambaran yang lebih luas, hasil perang ini menegaskan melemahnya dominasi AS dan bergesernya keseimbangan kekuatan dunia.
Perang Iran telah menjadi Vietnamnya Trump, dengan dampak besar pada perjuangan kelas di berbagai negara.
Kesalahan besar akan terjadi jika kita melihat borjuasi Indonesia sebagai pihak yang tertindas oleh modal asing, karena mereka justru berkolaborasi dengan kekuatan imperialisme.
Invasi AS-Israel ke Iran memiliki konsekuensi serius terhadap ekonomi dunia. Solusi sejati hanya datang dengan menggulingkan sistem ini.
Pemerintah kapitalis Xanana Gusmão, dengan kebijakan yang mengutamakan proyek infrastruktur dan kapital asing, telah membiarkan rakyat Timor-Leste menderita akibat DBD, menjadikan mereka korban pembunuhan sosial.
Bagi kaum buruh di seluruh dunia, tidak ada yang patut dirayakan dari persaingan sengit antara Washington dan Beijing. Baik imperialisme AS maupun Tiongkok sama-sama beroperasi di atas logika kapitalisme.
Krisis Iran sedang diperebutkan: rakyat bergerak, imperialisme mengintai, elit bersiap menyelamatkan diri. Tanpa alternatif revolusioner yang jelas, Iran hanya akan masuk babak chaos baru; jawabannya adalah organisasi buruh dan perebutan kekuasaan.