Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

Perang Iran jadi Vietnamnya Trump dan Dampaknya bagi Dunia

Dipublikasi 14 May 2026 | Oleh : Fahri Anam

Perang Iran telah menjadi Vietnamnya Trump. Mengira bahwa Iran akan bisa dia taklukkan seperti Venezuela sebelumnya, Trump dengan sembrono memajukan taruhan besar. Ini telah berubah menjadi kekalahan strategis bagi AS, yang mengekspos limit kekuatan imperialisme AS dan telah memiliki konsekuensi besar dalam perekonomian dan perpolitikan dunia. Dampak perang Iran telah menjadi faktor penting dalam menajamnya perjuangan kelas di berbagai negara.

Perang kerap memberikan impuls besar pada berputarnya roda sejarah. Di awal perang, mata rakyat mungkin dibutakan oleh sentimen nasionalisme yang dikobarkan oleh kelas penguasa. Telinga mereka pekak oleh genderang perang yang terus ditabuh oleh rejim. Tetapi pada saat yang sama, perang mendorong lapisan demi lapisan rakyat pekerja menjadi lebih peka terhadap semua peristiwa politik yang kini bergulir dengan cepatnya. Tidak bisa tidak. Kehidupan rutin mereka yang awalnya damai kini terganggu oleh peristiwa besar dan konsekuensinya pada kondisi sehari-hari mereka menjadi tak terelakkan. Perang, yang sendirinya adalah manifestasi kontradiksi kapitalisme yang meledak ke permukaan, kini menjadi faktor yang mempertajam kontradiksi itu sendiri.

Sedari awal Perang Iran bahkan tidak menginspirasi sentimen nasionalisme di antara rakyat pekerja AS seperti misalnya perang Irak atau Afghanistan. Tidak ada selera untuk perang baru di antara massa setelah blunder di Irak dan Afghanistan. Trump sendiri terpilih karena dia menjanjikan kepada para pemilihnya akan menghentikan perang-perang yang menghamburkan uang. Sumber daya ekonomi AS katanya akan digunakan untuk menyejahterakan rakyat Amerika sendiri. Sehingga, ketika dia meluncurkan agresi militer ke Iran, yang sampai hari ini telah menghabiskan US$29 miliar,[1] basis MAGAnya langsung retak.

Dalam survei Economist/YouGov bulan lalu, hanya 34 persen penduduk AS yang mendukung perang ini, sementara 53 persen menolaknya.[2] Yang lebih indikatif lagi, hanya 67 persen pemilih Trump yang mendukungnya. Jutaan pemilih Trump merasa dikhianati dan telah mencampakkannya. Tingkat ketidaksetujuan ini telah mencapai level yang sama seperti perang Vietnam dan Irak.[3] Sungguh, perang ini telah menjadi Vietnamnya Trump dan kita tahu apa implikasi perang Vietnam pada perjuangan kelas di AS dan di dunia selama periode tersebut.

Perbedaannya ini. Perang Vietnam diluncurkan ketika kekuatan kapitalisme dunia sedang ada di puncak-puncaknya. Tidak demikian hari ini. Kapitalisme sedang memasuki krisisnya yang terdalam. Selain itu, perang Vietnam hampir-hampir tidak memiliki dampak pada perekonomian global. Perang Iran, di sisi lain, telah menutup jalur perdagangan migas (dan pupuk) yang penting. Harga energi dan pupuk yang meningkat pesat – masing-masing sekitar 30 persen dan 70 persen – sudah terasa dampak politiknya di seluruh dunia.  

Kelemahan Imperialisme AS terkuak

Beberapa bulan sebelum Trump meluncurkan perang Iran, administrasinya menerbitkan dokumen Strategi Keamanan Nasional. Salah satu pilar dokumen tersebut adalah pengakuan bahwa AS tidak bisa lagi menjadi polisi dunia dan terjebak dalam “perang abadi” seperti sebelumnya di Irak, Afghanistan, dan Ukraina. Ini merupakan pengakuan akan pelemahan relatif imperialisme AS, yang sudah bukan lagi hegemon absolut dalam relasi dunia seperti dulu.

Menguatkan posisi AS di Belahan Barat dan memenangkan kompetisi ekonomi dan teknologi melawan China akan menjadi perhatian utama AS. Inilah strategi utama yang disajikan oleh dokumen tersebut. Namun, tinta dokumen ini belum lagi kering dan bom-bom sudah berjatuhan di Tehran, dalam perang yang sekarang telah memasuki bulan ke-3.

Mengapa Trump meluncurkan perang baru di Timur Tengah ketika dokumen strategi nasionalnya mengatakan akan mengalihkan sumber dayanya untuk menguatkan Belahan Barat? Di sinilah paradoksnya. Semakin AS harus bergeser dari Timur Tengah, semakin ia harus mengandalkan Israel sebagai sekutunya; sementara bagi Netanyahu perang dengan Iran adalah prioritasnya untuk memperkuat imperialisme Israel di sana. Selain itu, puluhan tahun intervensi di Timur Tengah, dengan kepentingan imperialis yang sangat dalam di sana, tidak memungkinkan AS untuk meninggalkan wilayah pengaruh mereka di sana begitu saja.

Trump ingin menarik AS dari Timur Tengah, setidaknya dari intervensi langsungnya seperti yang sering dilakukan oleh para pendahulunya. Tetapi ini bukan sesuatu yang begitu saja dapat diubah dengan jentikan jari tangan. Ia mungkin adalah orang yang paling berkuasa di dunia, tetapi dia tidaklah maha kuasa.

Meninggalkan Timur Tengah berarti memberi ruang bagi Iran untuk memperkuat cengkeramannya sebagai kekuatan regional di sana, yang tidak akan bisa diterima oleh Israel sebagai satu-satunya sekutu AS di sana. Kepentingan imperialis Israel berbenturan dengan keberadaan Iran sebagai kekuatan regional yang signifikan. Selain itu, keselamatan politik Netanyahu bergantung pada pengobaran perang yang tak ada hentinya, untuk mengalihkan perhatian kelas pekerja Israel dari krisis kapitalisme Israel dan tentunya berbagai skandal politik dia sendiri. Kelas penguasa Israel harus terus menciptakan musuh eksternal yang katanya mengancam keberadaan seluruh kaum Yahudi – dari Hamas, Hezbollah, Ayatollah, dst – supaya rakyat terus berada dalam cengkeramannya. Ini pun akan menemui limitnya cepat atau lambat, karena tidak ada bangsa yang bisa terus dalam kondisi perang selama bertahun-tahun.

Beberapa minggu sebelum perang ini dimulai, Netanyahu mengunjungi Trump untuk meyakinkan dia menyerang Iran.[4] Setelah gelombang demonstrasi terbesar selama beberapa dekade terakhir mengguncang rejim Iran pada Desember tahun lalu, Netanyahu berhasil menyajikan klaim liar bahwa rejim Iran akan roboh begitu mudahnya bila saja AS meluncurkan serangan militer. Ditambah keberhasilan AS menculik Maduro dan menaklukkan Venezuela yang kini praktis jadi negeri semi-koloni AS, Trump yang mabuk sukses memberikan lampu hijau.

Dia mengira hanya dalam beberapa hari, dengan serangan kilat yang berhasil membunuh para petinggi Iran, perang ini akan selesai dengan kemenangan besar. Namun Venezuela bukanlah Iran. Memasuki bulan ke-3, rejim Iran masih berdiri dan bahkan lebih kuat secara politik.  Ketidakmampuan AS untuk memenangkan perang ini membuatnya praktis kalah. Iran menang hanya dengan bertahan, terutama dengan kontrolnya atas selat Hormuz.

Tidak hanya itu. Walaupun sebagian besar kapasitas militernya telah hancur, Iran masih cukup kuat untuk memblokir selat Hormuz dan menyerang target-target militer serta instalasi-instalasi migas di Israel dan negara-negara Teluk sekutu AS. Kekuatan militer Iran jelas tidak cukup untuk mengalahkan AS bila berhadapan secara langsung, tetapi cukup untuk menaruh AS dan Israel dalam posisi yang semakin hari semakin sulit.

Ini telah mengungkap lebih lanjut kelemahan imperialisme AS. Kendati bualan besar Trump, AS ada dalam posisi terjepit.

Pertama, tidak ada satupun tujuan AS yang tercapai: menghentikan program nuklir Iran; menghentikan program misil balistiknya; menghentikan dukungannya pada kelompok-kelompok pro-Iran di wilayah Timur Tengah (yang berarti berhenti menjadi kekuatan regional); dan perubahan rejim. Iran tidak akan pernah menyetujui ini karena ini berarti meletakkan senjata dan membiarkan AS-Israel mendominasinya. Bagi rejim mullah perang ini adalah perang eksistensial. Rejim ini akan berjuang sampai titik darah penghabisan, tetapi ini bukan sesuatu yang siap dilakukan AS karena biayanya terlalu besar baginya, secara ekonomi dan politik. Tidak ada tentara AS yang siap mengorbankan nyawanya untuk perang ini.

Kedua, negara-negara Teluk menjadi semakin ragu dengan persekutuan mereka dengan AS, karena mereka menanggung beban besar dari perang yang tidak mereka mulai itu, dan perang yang sedari awal tidak menguntungkan mereka. Produk migas mereka tertahan di selat Hormuz dan negara mereka jadi sasaran militer Iran. Di benak para penguasa Teluk, mereka mulai memikirkan ulang basis-basis militer AS yang ada di sana, yang telah menjadi liabilitas bagi mereka. Ini akan semakin melemahkan posisi AS di sana.

Ketiga, dukungan terhadap pemerintah Trump di dalam negeri semakin tergerus karena biaya energi yang semakin tinggi. Inflasi pada bulan April mencapai 3,8 persen, tertinggi selama 3 tiga tahun terakhir.[5] Menurut satu studi, perang ini akan menyebabkan perekonomian AS kehilangan $631 miliar, atau $5000 per rumah tangga, bila menghitung harga energi dan makanan yang meningkat.

Keempat, perang ini telah menguatkan Rusia dan China lebih lanjut. Untuk memastikan suplai migas, AS terpaksa melonggarkan sanksi migas terhadap Rusia. Harga minyak yang melejit telah memberi Rusia pemasukan besar. Krisis energi yang semakin parah di Eropa juga memperkuat gagasan untuk kembali mengimpor energi dari Rusia.

Bagi China, perang ini memberinya posisi diplomatik yang lebih kuat di dunia. Kekacauan yang disebabkan oleh agresi AS ke Iran akan dan telah mendorong sejumlah negara untuk lebih merapat ke China.

Semua ini mengarah pada pelemahan lebih lanjut imperialisme AS. Fakta ini akan semakin mengguncang relasi dunia di hari depan.

Tidak ada jalan keluar

Semua zig zag dan pernyataan yang kontradiktif yang keluar dari mulut Trump selama perang ini bukanlah refleksi memburuknya kapasitas mental Trump. Ini adalah refleksi dari kebuntuan yang dihadapi Trump. Dia telah memulai perang yang tidak bisa dia menangkan atau hentikan tanpa menderita kemaluan besar. Semakin lama perang ini bergulir, semakin tak tertanggungkan biaya ekonomi dan politik yang disebabkannya. Inilah yang menyebabkan kepanikannya, dengan bualan-bualan yang semakin tak keruan.

Cepat atau lambat, perang ini akan berakhir. Namun, bagaimanapun perang ini berakhir, entah lewat kesepakatan secara eksplisit ataupun implisit, ini akan melemahkan posisi AS lebih lanjut. Ini adalah kekalahan besar bagi Trump khususnya, dan bagi imperialisme AS umumnya. Kesepakatan perdamaian mungkin akan tercapai, tetapi ini hanya menyiapkan perang selanjutnya, karena kapitalisme tidak akan pernah bisa menghindari perang.

Kekuatan imperialisme Barat terpecah dalam menyikapi perang Iran. Bukan karena Eropa cinta perdamaian, tetapi karena mereka memahami dengan jelas konsekuensi dari agresi militer ke Iran, yang jelas tidak menguntungkan mereka. Tidak heran Inggris, Jerman, Prancis, Spanyol, dll. menolak ajakan Trump untuk mengamankan selat Hormuz. Kanselir Jerman bahkan baru-baru ini mengatakan bahwa AS telah dipermalukan di Iran, yang pada gilirannya memprovokasi Trump menarik 5000 tentara AS dari Jerman. Perang Iran hanya memperlebar keretakan lebih lanjut antara AS dan Eropa. Relasi dunia semakin menegang.

Tidak ada jalan keluar yang baik bagi kelas penguasa di mana pun. Entah bagaimanapun perang ini mencapai kesimpulannya, dampaknya pada penajaman perjuangan kelas akan terus terasa selama bulan-bulan bahkan tahun-tahun selanjutnya. Para pengamat ekonomi telah memberikan peringatan bahwa dampak kenaikan harga minyak belum sepenuhnya terasa, dan terbukanya selat Hormuz tidak berarti kita akan kembali ke minyak murah. Dampak kenaikan harga pupuk pada suplai makanan juga baru akan terasa tahun depan. Krisis biaya hidup yang menjadi berlipat ini akan menumpuk jerami kering revolusi yang semakin tinggi, yang kapan pun siap terbakar bahkan oleh sulutan api terkecil sekalipun.


[1] “Pentagon gives new $29bn Iran war price tag, downplays munitions concerns”, Aljazeera, 12 May 2026.

[2] “The U.S.’s war with Iran remains unpopular”, YouGov, 7 April 2026.

[3] “Poll: Trump’s Iran war reaches Iraq- and Vietnam-era disapproval levels”, The Washington Post, 1 May 2026.

[4] “6 takeaways from the story of Trump’s decision to go to war with Iran”, The New York Times, 7 April, 2026.

[5] “Inflation accelerates after weeks of war in Iran”, The New York Times, 12 Mei 2026.

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Dunia 2025: Dunia Terjungkir Balik – Sistem Kapitalisme dalam Krisis
    Perspektif Politik 2025: Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme