Ketika Perang Iran dimulai lebih dari 4 bulan yang lalu, gerakan kiri dihadapkan dengan problem yang cukup pelik, yakni bagaimana menyikapi perang ini. Di satu sisi, rejim mullah di Iran adalah rejim anti-buruh – dan tidak ketinggalan, anti-perempuan – yang sangat opresif. Di sisi lain, Iran kini dibombardir oleh imperialisme AS dan Israel, yang dengan terbuka ingin menjadikan Iran negara semi-koloni di bawah jempolnya.
Kaum Sosialis Revolusioner mengambil posisi yang jelas dalam perang ini: kita berdiri menentang agresi imperialisme AS terhadap Iran, tetapi bukan berarti kita lantas menjadi pemandu sorak Ayatullah dan menggambarkan rejim Iran sebagai rejim anti-imperialis seperti banyak aktivis Kiri. Inilah satu-satunya posisi revolusioner yang konsisten.
Iran sebagai rejim kapitalis
Sebagai kaum Sosialis Ilmiah, kita harus terlebih dahulu memeriksa moda produksi yang mendominasi dalam masyarakat Iran. Iran adalah negara kapitalis. Penghasil kekayaan adalah buruh upahan, yang menjual daya kerjanya untuk upah kepada kapitalis. Dari sinilah nilai lebih dihisap. Kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi oleh segelintir, kerja-upahan oleh mayoritas kelas buruh yang tidak memiliki apapun selain daya kerjanya, dan ekonomi produksi komoditas berbasis profit menjadi landasan kehidupan ekonomi masyarakat Iran.
Walaupun negara Iran mengambil bentuk teokrasi Islam, ini tidak mengubah karakter kelas negara ini sebagai negara kapitalis. Negara ini tetap merupakan organ kekuasaan kelas kapitalis untuk menindas kelas buruh dan mempertahankan kapitalisme. Tidak ada yang unik di sini karena dari masa ke masa kapitalisme telah mengadopsi berbagai cangkang politik: monarki absolut (negara-negara Teluk), monarki konstitusional (Thailand), junta militer (Orde Baru), fasisme (Jerman Nazi), kapitalisme negara di bawah “Partai Komunis” (China), republik demokratik seperti di Prancis, dsb.
Rejim Iran jelas memainkan peran besar dalam mengelola perekonomian. Namun, ini bukan sesuatu yang unik pula. Cakupan dan kedalaman peran negara kapitalis dalam mengatur perekonomian juga bisa berubah, dari yang laissez faire (pasar bebas dengan intervensi negara yang sangat minim) sampai kapitalisme negara (peran negara yang maksimum, sampai nasionalisasi bila diperlukan). Tetapi pada intinya, negara kapitalis ini tetaplah memerintah demi kepentingan kapitalisme secara keseluruhan.
Sebagai kaum sosialis, kita berjuang melawan penindasan dan penghisapan kapitalis terhadap buruh. Tujuan kita adalah mengakhiri kapitalisme dan transformasi sosialis masyarakat. Dalam hal ini kita berdiri bersama kelas buruh Iran dalam melawan kaum kapitalis serta negara kapitalis mereka. Kaum mullah membajak Revolusi 1979 yang dimulai oleh kelas buruh, dan tugas kaum buruh Iran adalah menggulingkan rejim Ayatullah dan menuntaskan Revolusi 1979 ke kemenangan sosialisme.
Inilah yang membedakan kaum sosialis dari oposisi liberal di Iran. Yang belakangan ingin mempertahankan eksploitasi kapitalisme, dan oleh karenanya tidak sedikit dari mereka yang menyambut dengan hangat intervensi AS. Musuh dari musuhku adalah temanku, begitu pikir mereka. Sementara kaum sosialis melihat bahwa sekutu kelas buruh Iran bukanlah imperialisme AS, tetapi sesama kelas buruh di AS yang juga tengah berjuang melawan rejim mereka sendiri. Imperialisme Barat bukanlah teman kita. Tujuan kita sepenuhnya berbeda.
Imperialisme AS di Timur Tengah
Imperialisme AS adalah kekuatan yang paling reaksioner, tidak hanya di muka bumi tetapi bahkan di sepanjang sejarah umat manusia. Di mana-mana mereka menancapkan kuku mereka, terutama di Timur Tengah. Tidak pernah ada perdamaian di Timur Tengah, persis karena kepentingan AS di sana yang selalu mengintervensi. Banyak revolusi dipatahkan dengan bantuan intervensi AS dan banyak diktator berdiri ditopang AS, seperti Pinochet, Suharto, Batista, dsb.
Dalam perang antara kekuatan imperialis dan bangsa kecil, posisi kaum revolusioner jelas berdiri di sisi bangsa-bangsa kecil yang terjajah dan tertindas oleh kekuatan imperialis. Kita akan mendukung bangsa-bangsa kecil ini bahkan ketika kelas penguasa mereka adalah rejim kapitalis, kediktatoran militer, dsb. Posisi kaum revolusioner tidaklah netral, atau tak acuh, hanya karena dua sisi yang berperang ini adalah rejim reaksioner yang menindas rakyat pekerja.
Tetapi posisi ini kita ambil bukan karena sentimentalitas semata. Ini karena dalam perang tersebut, kekalahan imperialisme, terutama imperialisme AS, akan menjadi faktor progresif – dan bahkan revolusioner – dalam perjuangan untuk menumbangkan kapitalisme di seluruh dunia. Kekalahan imperialisme AS di Iran – bahkan bila Iran hanya mampu bertahan, dan AS tidak mampu menang – akan pertama-tama menghancurkan mitos keadidayaan kekuatan AS di dunia, dan dengan demikian memperkuat perjuangan anti-imperialis di seluruh dunia.
Dalam 3 bulan terakhir saja, ketidakmampuan AS untuk menang telah menciptakan krisis politik dalam tergerusnya basis dukungan Trump. Di mata rakyat luas, perang ini semakin mengekspos kelemahan imperialisme AS, ketidakpedulian rejim pada krisis biaya hidup yang dihadapi rakyat, serta keangkuhan dan ketidakkompetenan para petinggi negara. Perang Iran telah menjadi Vietnamnya Trump, yakni menjadi faktor penting yang mempertajam perjuangan kelas di sana.
Dan di sini kita harus tegaskan satu hal yang tidak kalah pentingnya. Bila ada satu kekuatan yang akhirnya bisa menggulingkan imperialisme AS, ini adalah kelas buruh AS. Dan bila kelas buruh AS berhasil menumbangkan rejim kapitalis mereka sendiri, maka ini adalah awal dari kemenangan sosialisme di seluruh dunia. Ini akan jadi dorongan besar bagi proses revolusi di dunia.
Tetapi, katakanlah, bila imperialisme AS berhasil memenangkan perang di Iran, ini akan mencederai kepentingan kelas buruh di seluruh dunia. Kita bisa bayangkan, ini akan memperkuat cengkeraman AS di Timur Tengah dan mendorong kepercayaan diri para politisi pengobar-perang seperti Pete Hegseth untuk memperluas intervensi mereka di seluruh dunia. Keberhasilan Trump dalam menculik Maduro dan menaklukkan rejim Venezuela saja sudah menjadi impuls signifikan dalam mendorongnya untuk menyerang Iran. Bisa bayangkan bila dia berhasil menang terhadap salah satu musuh bebuyutan AS. Dari sudut pandang rakyat pekerja, ini akan menciptakan demoralisasi, bahwa AS adalah kekuatan besar yang tidak mungkin bisa dilawan.
Oleh karenanya, bagi kaum sosialis, kita melihat hal ihwal terutama dari kepentingan perjuangan kelas buruh secara internasional.
Perjuangan Kelas Buruh Iran
Tugas kelas buruh Iran tidak pernah mudah. Di satu sisi mereka harus melawan kelas penguasa mereka. Di sisi lain mereka juga harus melawan imperialisme AS, yang kebetulan merupakan musuh besar kelas penguasa mereka.
Dalam menumbangkan rejim Shah, Revolusi 1979 juga menendang keluar imperialisme dari Iran. Para mullah yang membajak Revolusi ini mewarisi fakta tersebut. Iran pun menjadi kekuatan regional yang independen di Timur Tengah. Sejak itu, penguasa Iran menggunakan momok imperialisme AS dan argumen “membela tanah air” dengan sangat berhasil untuk memperkuat cengkeraman mereka. Setiap kali ada demonstrasi atau perlawanan dari rakyat, mereka mengatakan ini tidak lebih dari konspirasi dari AS dan Israel. Mereka akan mengatakan: “Kita ada dalam bahaya dari kekuatan asing, maka dari itu persatuan nasional harus dijaga.”
Rakyat pekerja telah melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana destruktifnya imperialisme AS dan Israel di Timur Tengah selama ini. Tidak heran propaganda nasionalis berbalut retorika anti-imperialis ini cukup berhasil mendorong selapisan besar rakyat pekerja Iran ke pangkuan pemerintah.
Maka dari itu, gerakan buruh Iran mesti menjaga kemandirian kelas mereka. Tidak boleh sedikit pun mereka menerima dukungan dari AS ataupun Israel, secara eksplisit maupun implisit. Ini akan mendiskreditkan perjuangan buruh Iran dalam melawan rejim kapitalis Iran. Kita tidak boleh memberikan amunisi kepada rejim mullah untuk mencap gerakan sosialis sebagai centeng imperialis.
Sehubungan dengan rejim kapitalis mullah, kemandirian kelas ini juga harus dipertahankan di tengah gempuran imperialis hari ini. Ini berarti tidak jatuh ke dalam nasionalisme yang kini dikobarkan oleh pemerintah. Dalam melawan gempuran militer AS-Israel, kaum revolusioner Iran akan menerapkan taktik “memukul bersama, berbaris terpisah”, seraya menggunakan setiap kesempatan untuk terus memajukan gagasan sosialis.
Kelas penguasa Iran, dalam melawan agresi militer AS, akan membebankan biaya perang ini pada rakyat pekerja. Barang kebutuhan pokok akan sulit didapat bagi rakyat kecil, sementara dapur kaum kaya tetap mengepul. Program gerakan buruh Iran harus mengekspos perbedaan kelas ini, dan menekankan kaum kapitalis-lah yang harus membayar, bukan rakyat kecil yang sudah tercekik oleh krisis biaya hidup. Selama perang, sejumlah kapitalis juga akan meraup profit besar dari industri perang dan ini harus terus diekspos. Kemunafikan persatuan nasional yang dimajukan oleh kelas penguasa harus senantiasa dibongkar dengan tuntutan-tuntutan kelas yang konkret, yang diajukan dengan tepat.
Ini bukan tugas yang mudah di tengah-tengah sentimen nasionalis yang saat ini sangatlah kuat dalam masyarakat. Namun, tugas kaum revolusioner tidak pernah mudah. Perang Iran ini jelas telah memperkuat sentimen nasionalis dan mengaburkan perjuangan kelas. Lapisan rakyat yang sebelumnya menentang Ayatullah kini berbalik mendukungnya. Trump mengira dengan menyerang Iran dia akan memicu “revolusi” dari bawah yang akan menumbangkan rejim Iran. Sebaliknya yang terjadi. Rejim Iran menjadi bahkan lebih kokoh secara politik. Di tengah dentuman bom, suara kaum sosialis Iran hampir-hampir tak terdengar.
Namun setelah perang ini usai, kontradiksi kapitalisme Iran akan mencuat kembali ke permukaan. Problem-problem yang dihadapi rakyat pekerja Iran – kesenjangan antara yang kaya dan miskin yang semakin lebar, krisis biaya hidup, inflasi, penindasan perempuan, diberangusnya hak demokrasi, dsb. – akan mendorong mereka kembali ke jalan perjuangan kelas. Selama dekade terakhir, rakyat pekerja Iran – dan terutama kaum mudanya – telah berulang kali mengobarkan aksi massa. Dari gerakan protes Mahsa Amini pada 2022 sampai gelombang demonstrasi revolusioner pada Desember 2025 kemarin. Perang telah menghentikan ini proses ini, tetapi problem-problem yang memicu aksi massa revolusioner tersebut masih ada.
Cara melawan Imperialisme AS
Selama perang ini, tugas kita adalah pertama-tama meluncurkan propaganda tajam menyerang imperialisme AS. Tidak hanya propaganda anti-perang yang dangkal, tetapi propaganda sosialis. Perang ini telah mengungkap mekanisme imperialisme dengan lebih terang lagi dan kita harus bisa menjelaskan kepada kaum muda revolusioner yang menentang perang ini bahwa imperialisme hanya bisa dihapus dengan menggulingkan kapitalisme. Kita bukanlah kaum pasifis liberal yang berkhotbah mengenai perdamaian. Selama kapitalisme masih ada, maka perang menjadi tak terelakkan. Hanya kemenangan revolusi sosialis yang bisa mengakhiri perang imperialis untuk selama-lamanya.
Kita harus mengekspos hubungan erat antara kelas penguasa di negeri kita sendiri dan AS, atau lebih tepatnya hubungan antara kacung dan tuannya. Prabowo sampai hari ini tidak mengutuk agresi militer AS ke Iran, yang berarti dia komplisit padanya. Mungkin saja dampak perang ini tidak mengenakkan baginya, tetapi dia tidak bisa melawan tuannya. Beberapa kali dia mengeluarkan pernyataan agar kedua pihak menahan diri dan memprioritaskan diplomasi, tetapi ini mengasumsikan bahwa kedua pihak ada dalam posisi setara. Pada kenyataannya tidak. AS adalah agresor imperialis yang ingin menundukkan Iran.
Kaum revolusioner tidak netral dalam perang antara kekuatan imperialis dan bangsa tertindas. Simpati kita ada di bangsa tertindas, terlepas rejim kapitalis apa yang berkuasa di sana. Dalam menyikapi perang Iran, maka slogan kita adalah “Hands Off Iran”, “Hancurkan Imperialisme AS-Israel!” Tetapi, tidak seperti kaum nasionalis yang gemar mengumbar kedaulatan nasional, sikap anti-imperialisme kita memiliki landasan revolusioner: penumbangan kapitalisme dan perebutan kekuasaan oleh proletariat.
