Istana Versailles menjadi pilihan yang menarik dari Donald Trump sebagai lokasi penandatanganan kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran. Namun, mengingat dokumen yang ditandatanganinya pada dasarnya merupakan de facto penyerahan, pemilihan tempat tersebut bukanlah sesuatu yang tidak tepat.
Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang terdiri atas 14 poin antara Amerika Serikat dan Iran ini merupakan tamparan besar yang memalukan bagi Trump, kekalahan strategis bagi imperialisme Amerika Serikat, sekaligus titik balik dalam dinamika politik dunia. Bagi Israel, yang tidak dilibatkan dalam perundingan maupun menjadi pihak penandatangan, tetapi tetap terikat oleh isi kesepakatan tersebut, dampaknya berpotensi jauh lebih serius.
Majalah Foreign Policy bahkan menyebutnya sebagai “kekalahan yang lebih besar daripada Vietnam”. Penilaian itu didasarkan pada kenyataan bahwa, meskipun perang melawan Iran berlangsung lebih singkat dan tidak seberat Perang Vietnam, konsekuensi strategis yang ditimbulkannya dalam banyak hal justru jauh lebih luas.
Kendali atas Selat Hormuz kini berada di tangan Iran. Negara-negara penghasil minyak di kawasan itu telah terdorong ke posisi yang harus memberikan upeti dan merendahkan diri di hadapan Iran.
Rusia dan Tiongkok muncul sebagai pihak yang diuntungkan. Keduanya adalah satu-satunya negara yang memiliki pengaruh terhadap Iran. Sebagian besar proses perundingan juga dimediasi oleh Pakistan, sekutu dekat Tiongkok. Dalam skala global, perimbangan kekuatan diperkirakan akan bergeser, karena baik sekutu maupun lawan Amerika Serikat sama-sama menyadari bahwa posisi tawar Washington tidak lagi sekuat sebelumnya.
Di Israel, kabar ini bagaikan ledakan yang mengguncang. Jika kesepakatan tersebut benar-benar bertahan, hal itu dapat menandai berakhirnya kepemimpinan Benjamin Netanyahu. Bahkan, masa depan hubungan AS dan Israel sendiri ikut dipertanyakan. Namun, bukan tidak mungkin Netanyahu masih memiliki langkah lain untuk mempertahankan posisinya, yang berarti kawasan itu berpotensi kembali menghadapi babak baru kekerasan.
Orang yang berada dalam keadaan terdesak kerap mengambil langkah-langkah yang nekat. Ketika tulisan ini dibuat, Netanyahu sedang melancarkan serangan ke Lebanon dalam upaya jelas untuk menggagalkan kesepakatan tersebut. Di Amerika Serikat, terdapat kalangan neokonservatif yang kemungkinan akan terus mendorong Netanyahu melakukan tindakan itu.
Kabar terbaru menyebutkan bahwa Israel akhirnya dipaksa menyetujui gencatan senjata dengan Hezbollah. Meskipun situasinya masih belum sepenuhnya pasti, satu hal dapat dikatakan: tidak ada kesepakatan yang lebih menguntungkan bagi Trump daripada ini. Walaupun syarat-syarat yang disepakati pada dasarnya merupakan bentuk penyerahan, itulah hasil terbaik yang masih dapat diharapkan oleh imperialisme Amerika Serikat.
Isi Memorandum
Mari kita cermati isi kesepakatannya.
Poin pertama secara tegas menyatakan bahwa semua pihak “menyatakan penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon…” serta menjamin “keutuhan wilayah” Lebanon.
Artinya, Iran bukan hanya berhasil memperoleh perdamaian dengan Amerika Serikat, tetapi kesepakatan ini juga mengikat Israel untuk tidak sekadar menghentikan pertempuran, melainkan juga menarik mundur pasukannya dari Lebanon.
Dengan berakhirnya perang ini, dimulailah masa perundingan selama 60 hari untuk mencapai kesepakatan final, yang “dapat diperpanjang atas persetujuan bersama”. Dalam periode tersebut, semua pihak diharapkan menyelesaikan persoalan yang paling rumit, yakni mengenai uranium kaya milik Iran. Jika kesepakatan itu benar-benar tercapai, Iran dijanjikan investasi sebesar 300 miliar dolar AS, penghapusan permanen seluruh sanksi, serta penarikan penuh armada laut Amerika Serikat.
Trump memang menyatakan bahwa dana investasi sebesar 300 miliar dolar AS itu tidak akan datang dari pembayar pajak Amerika, melainkan dari investor kawasan dan lainnya. Namun, kenyataannya hal itu tetap mencerminkan Amerika Serikat yang telah kalah dan harus membayar semacam kompensasi perang.
Bahkan sebelum kesepakatan akhir tercapai, Memorandum tersebut sudah memberlakukan pengecualian terhadap pembatasan ekspor minyak mentah Iran, produk minyak bumi beserta turunannya, serta seluruh layanan yang terkait, termasuk transaksi perbankan, asuransi, transportasi, dan layanan pendukung lainnya.
Dengan kata lain, dalam praktiknya Nota Kesepahaman ini sejak hari pertama secara efektif telah menghapus seluruh sanksi terhadap Iran.
Terlepas dari bagaimana hasil perundingan selanjutnya, Memorandum tersebut secara langsung menjamin:
- Berakhirnya agresi Israel terhadap Lebanon.
- Penghapusan sanksi secara de facto.
- Pengakuan atas hak Iran untuk menguasai Selat Hormuz.
- Pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan, bernilai miliaran dolar.
Yang tidak kalah penting adalah apa yang justru tidak tercantum dalam Memorandum tersebut.
Tidak ada satu pun ketentuan mengenai pergantian rezim di Iran. Tidak ada pembahasan mengenai kelompok-kelompok proksi Iran. Tidak ada larangan bagi Iran untuk mengenakan tarif terhadap lalu lintas pelayaran yang melintasi Selat Hormuz. Tidak pula ada ketentuan mengenai rudal balistik Iran. Mengenai rudal balistik, Trump bahkan mengatakan, “Kalau negara lain memilikinya, rasanya tidak adil jika Iran tidak boleh memiliki rudal semacam itu.” Dia tidak keliru.
Bahkan, tidak satu pun dari berbagai tujuan perang yang sebelumnya berkali-kali disampaikan Trump, baik menjelang maupun selama konflik berlangsung, dimasukkan ke dalam Memorandum ini.
Lalu, apa yang diperoleh Amerika Serikat sebagai imbalannya?
Iran hanya memberikan janji untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, komitmen yang selama ini memang selalu mereka nyatakan, ditambah sejumlah rumusan diplomatik yang bersifat simbolis, serta satu konsesi yang benar-benar nyata, yaitu dibukanya kembali Selat Hormuz. Padahal, sebelum perang dimulai selat tersebut tidak pernah ditutup, dan setelah kesepakatan ini berlaku, pengelolaannya tetap berada di bawah kendali Iran.
Apa Artinya Ini Bagi Amerika Serikat?
Bahkan seorang anak berusia enam tahun pun dapat melihat bahwa kesepakatan ini menunjukkan Amerika Serikat telah menyerah.
Alasannya jelas. Meskipun telah menguras persediaan rudalnya dalam jumlah besar, Amerika Serikat tetap gagal menundukkan Iran, baik melalui tekanan militer maupun ekonomi. Empat bulan telah berlalu sejak Iran menutup Selat Hormuz. Selama periode itu, Amerika terus menguras cadangan minyak strategisnya untuk menjaga harga minyak tetap rendah. Kini cadangan tersebut mulai menipis, sementara ancaman bencana ekonomi semakin nyata.
Trump sendiri mengakui hal itu dengan terus terang. “Saya tidak ingin melihat terjadinya bencana ekonomi. Jika situasi ini terus berlanjut, hal itu bisa saja terjadi.” Setelah Selat Hormuz kembali dibuka, harga minyak turun ke kisaran 80 dolar AS per barel, sementara pasar saham melonjak.
Nota Kesepahaman ini memang menuai banyak kritik. Namun, bagi Trump, fakta bahwa pasar saham menyambutnya secara positif merupakan kabar yang menggembirakan. “Pasar saham lebih cerdas daripada siapa pun yang ada di sini, termasuk orang-orang yang berdiri di panggung ini. Tentu saja, kecuali saya,” ujarnya sambil tersenyum. Sementara itu, politisi lain, termasuk Marco Rubio, tampak canggung.
Kini Trump tampak jauh lebih lega dan kembali percaya diri. Namun, dampak dari perang ini akan terus dirasakan Amerika Serikat selama bertahun-tahun mendatang.
Dalam waktu dekat, kesepakatan ini akan memicu kemarahan kalangan neokonservatif di Partai Republik. Mereka sangat geram. Bagi sebagian elite politik Amerika Serikat, sulit secara psikologis menerima kenyataan bahwa negara yang selama ini dipandang sebagai adidaya justru dapat mengalami kekalahan, terlebih dengan cara yang begitu telak.
Pertentangan di dalam kubu MAGA diperkirakan akan semakin tajam. Jika kalangan neokonservatif tidak mampu segera menggagalkan perdamaian ini, mereka kemungkinan akan mencari kesempatan untuk membalas dendam, mungkin setelah terlebih dahulu memperkuat kembali kapasitas militernya.
Dampaknya juga akan terasa luas di dalam masyarakat Amerika. Ketika Trump berusaha membingkai kesepakatan ini, bahkan menyebutnya sebagai “penyerahan tanpa syarat” dari pihak Teheran, yang terjadi justru memperlihatkan sisi yang menggelikan dari apa yang dipandang sebagai penghinaan terhadap Amerika Serikat.
Situasi ini bukanlah kekalahan heroik seperti pertempuran Alamo [perang antara Republik Texas melawan Meksiko pada 1836, yang berakhir dengan kekalahan Texas], yang pada masa lalu dapat membangkitkan semangat patriotik rakyat Amerika. Sebaliknya, sikap Trump, seperti penyelenggaraan pertunjukan UFC dan atraksi sepeda motor di halaman Gedung Putih untuk memperingati 250 tahun berdirinya republik Amerika, justru menghilangkan sedikit wibawa yang masih dimiliki negara tersebut. Upaya Trump untuk menyelamatkan citra dirinya sendiri hanya menimbulkan rasa sinis dan kebencian.
Dalam pengalaman berbagai negara imperialis yang sedang mengalami kemunduran, pola semacam ini pernah terjadi sebelumnya: kekalahan di luar negeri menjadi pemicu meningkatnya konflik kelas di dalam negeri. Kekalahan Prancis di Aljazair menjadi salah satu landasan yang membuka jalan menuju peristiwa Mei 1968. Di Portugal, perang yang mahal di Afrika turut menjadi faktor yang melatarbelakangi Revolusi Anyelir pada 1974. Peristiwa ini akan mempercepat kecenderungan meningkatnya perjuangan kelas di Amerika Serikat.
Dampak Regional
Di Iran sendiri, kesepakatan ini juga menuai kritik. Menariknya, para pengkritik justru menilai bahwa Iran terlalu mudah melepaskan posisi tawarnya dan seharusnya memaksa Amerika Serikat menerima kekalahan absolut. Menurut mereka, itu berarti Amerika harus menarik seluruh pasukannya dari Timur Tengah serta mengakui hak Iran untuk tetap memiliki uranium kaya.
Fakta bahwa kepemimpinan Republik Islam tidak menuntut lebih jauh menunjukkan besarnya tekanan yang mereka hadapi, terutama dari Rusia dan Tiongkok. Kedua negara tersebut memiliki kepentingan agar dunia tidak terjerumus ke dalam krisis ekonomi yang lebih dalam.
Namun, Iran sebenarnya tidak perlu memaksakan tuntutan tersebut. Bahkan tanpa adanya penarikan resmi pasukan Amerika Serikat dari Timur Tengah, posisi Washington tetap akan lebih lemah dibanding sebelumnya.
Pangkalan-pangkalan militernya telah mengalami kerusakan berat. Di seluruh kawasan, berbagai pihak kini telah menyaksikan secara langsung kelemahan Amerika Serikat dan kekuatan Iran. Sejumlah negara Teluk pun mulai menjalin kesepakatan masing-masing dengan Iran.
Setelah mengalami kerusakan besar akibat serangan Iran pada tahap awal perang, Uni Emirat Arab dilaporkan bersedia membayar Iran antara 10 hingga 20 miliar dolar AS, dengan sekitar 3 miliar dolar AS disebut telah dibayarkan. Qatar juga dikatakan mencapai kesepakatan serupa. Sementara itu, Arab Saudi diperkirakan akan segera mengambil langkah yang sama. Pembayaran tersebut pada hakikatnya merupakan bentuk upeti.
Di sisi lain, jaringan aliansi Amerika Serikat di kawasan, yang sebelumnya memang telah mulai melemah, semakin rapuh setelah perang berlangsung. Sejak konflik dimulai, Uni Emirat Arab menarik diri dari OPEC, yang secara efektif mengakhiri peran kartel tersebut sekaligus mempertegas perpecahan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Hubungan yang memang telah memburuk antara Turki dan Israel pun disebut semakin merenggang.
Adapun bagi Israel, sekutu utama Amerika Serikat di kawasan, perkembangan ini merupakan skenario yang paling mengkhawatirkan bagi kelas penguasanya.
Pecundang Terbesar: Israel
Selama puluhan tahun, kelas penguasa Israel telah lama menginginkan konfrontasi langsung dengan Iran. Sasaran mereka bukan sekadar pergantian rezim atau penghentian program nuklir Iran. Mereka menginginkan kehancuran Iran sebagai negara-bangsa, sebagai langkah menuju penataan ulang secara menyeluruh peta Timur Tengah.
Ketika perang pecah, mereka menganggap itulah kesempatan yang telah lama dinantikan. Mereka membayangkan mampu menghancurkan semua negara-bangsa di kawasan tersebut, kecuali Israel sendiri, sehingga menyisakan barbarisme yang kemudian dapat mereka kuasai.
Pada pertengahan Maret, ketika perang dengan Iran sedang mencapai puncaknya, Naftali Bennett bahkan telah mengalihkan perhatiannya ke masa depan dengan menyebut Turki sebagai “Iran baru”. Ironisnya, Bennett yang sama kini justru menjadi kandidat yang paling diunggulkan kalangan liberal untuk menantang Netanyahu dalam pemilu mendatang.
Selama Februari hingga Maret, kelas penguasa Israel hanyut dalam suasana euforia, mabuk dengan ilusinya sendiri.
Namun, dari puncak optimisme tersebut, mereka kini jatuh kembali ke kenyataan dengan sangat keras.
Saat ini, di berbagai kalangan elite Zionis, MoU tersebut disebut sebagai “kapitulasi yang katastrofik”. Mereka mengecam Netanyahu karena dinilai melakukan kesalahan strategis dengan membiarkan persoalan Lebanon dikaitkan dengan perang melawan Iran.
Namun, justru keterkaitan itulah yang menjadi inti strategi Netanyahu. Seperti telah kami jelaskan di tempat lain, Israel selama ini terbiasa menekan patronnya Amerika Serikat hingga Washington tidak memiliki banyak pilihan selain terus mendukung kebijakan Israel.
Netanyahu melancarkan invasi ke Lebanon bersamaan dengan pecahnya perang melawan Iran, dengan tujuan menghubungkan kedua konflik tersebut. Perhitungannya, jika Amerika Serikat berusaha mundur atau mencapai kesepakatan dengan Iran, Israel masih dapat terus memprovokasi Iran melalui front Lebanon sehingga Amerika tetap terseret dalam perang dengan biaya apa pun.
Namun, strategi itu justru berbalik menjadi masalah. Karena Netanyahu telah mengaitkan kedua konflik tersebut, Trump kini tidak memiliki pilihan selain mengakhiri keterlibatan Israel di Lebanon agar Amerika Serikat dapat melepaskan diri dari perang ini.
Kalangan elite penguasa Israel terkejut dan panik. Bagi Netanyahu sendiri, situasinya bahkan lebih buruk. Kekalahan dalam perang ini dapat mengakhiri karier politiknya, dengan kemungkinan kehilangan jabatan dan bahkan menghadapi hukuman penjara.
Bisakah Netanyahu Menghentikan Perjanjian Ini?
Sejumlah sekutu Netanyahu bersikeras bahwa Israel mampu bertindak sendiri. “Kesepakatan Trump tidak mengikat kami. Israel bukan bawahan Amerika Serikat,” kata Ben Gvir. “Kami adalah negara yang merdeka dan berdaulat.”
Namun benarkah demikian? JD Vance memberikan tanggapan tegas:
“Pertama, Donald J. Trump adalah satu-satunya kepala negara di dunia saat ini yang masih bersimpati kepada Israel. Dan ialah pemimpin negara adidaya dunia. Kalau saya menjadi anggota kabinet pemerintah Israel, saya tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih saya miliki di dunia.
“Kedua, selama tiga bulan terakhir, dua pertiga sistem pertahanan yang melindungi tanah air Anda dibuat oleh tangan-tangan Amerika dan dibiayai oleh uang pembayar pajak Amerika.”
Pernyataan tersebut merupakan ancaman yang nyaris tidak lagi disamarkan: “Jangan mempertaruhkan hubunganmu dengan kami, Bibi. Jika melakukannya, kamu akan menyesal.”
Meski demikian, Netanyahu selama ini dikenal mampu keluar dari berbagai situasi politik yang sulit. Karena itu, ia akan kembali berusaha mencari jalan untuk lolos dari krisis kali ini. Pertanyaannya adalah, apakah ia masih mampu melakukannya?
Masih banyak faktor yang belum dapat dipastikan serta banyak tokoh yang sulit diprediksi. Namun, dalam waktu dekat, setidaknya satu dari beberapa hal berikut tampaknya akan mengalami guncangan besar: perekonomian dunia, hubungan antara Israel dan Amerika Serikat, masyarakat Israel sendiri, atau bahkan ketiganya sekaligus.
Skenario 1: Ekonomi Dunia Hancur
Apabila Netanyahu dan kalangan neokonservatif berhasil mendorong Trump untuk kembali memulai perang ini, perimbangan militer pada dasarnya tidak akan berubah. Persediaan amunisi berteknologi tinggi yang mahal telah menipis hingga tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Karena itu, apabila Iran kembali melancarkan serangan ke Israel, Amerika Serikat tidak lagi memiliki cukup rudal pertahanan udara untuk melindungi sekutunya, sekalipun mereka ingin melakukannya.
Dalam skenario terbaik sekalipun, yang mungkin terjadi adalah penutupan kembali Selat Hormuz, yang akan memicu guncangan besar terhadap perekonomian dunia. Namun, Iran juga memiliki kemampuan untuk memperburuk keadaan dengan menutup Selat Bab el-Mandeb melalui pengerahan sekutunya, kelompok Houthi di Yaman. Langkah tersebut akan menghambat jalur utama perdagangan antara Eropa dan Asia melalui Laut Merah.
Hingga saat ini, perekonomian global masih berada dalam kondisi yang sangat rapuh. Perlu dicatat bahwa sekalipun situasi telah mereda, perusahaan-perusahaan pelayaran kemungkinan masih memerlukan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, untuk mengatasi dampak logistik yang ditimbulkan serta memperoleh kembali keyakinan untuk melintasi Selat Hormuz dalam skala normal.
Selain itu, banyak fasilitas produksi minyak dan gas di kawasan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki sebelum kembali mampu memasok pasar dunia. Sementara itu, menipisnya cadangan strategis membuat perekonomian global menjadi jauh lebih rentan terhadap guncangan baru. Di sisi lain, permintaan energi juga diperkirakan meningkat karena berbagai negara perlu mengisi kembali cadangan strategis mereka.
Semua ini menjadi bahan pemikiran penting bagi Trump.
Skenario 2: Hubungan AS-Israel Hancur
Hal itu belum tentu menghentikan Netanyahu untuk terus mendorong situasi hingga batasnya. Saat ini ia telah berupaya memancing ketegangan di Lebanon. Meski untuk sementara harus menyetujui gencatan senjata, ia kemungkinan akan terus mencari alasan untuk melanggarnya. Bahkan sehari setelah Nota Kesepahaman ditandatangani, Netanyahu mengumumkan pembentukan “zona penyangga” berupa pendudukan permanen Israel di Lebanon, yang secara langsung melanggar isi kesepakatan tersebut.
Namun, dengan langkah itu, Netanyahu juga berisiko mempertaruhkan hubungan antara AS dan Israel.
Netanyahu sendiri tampaknya telah menyadari logika kebijakannya yang berpotensi memicu keretakan dengan AS. Sampai batas tertentu, ia bahkan telah berusaha mempersiapkan masyarakat Israel secara psikologis untuk kemungkinan tersebut. Tahun lalu, ia berbicara tentang perlunya mengurangi ketergantungan Israel pada bantuan AS dalam satu dekade ke depan dan mengubah Israel menjadi semacam “Super Sparta” yang mampu berperang dengan kekuatannya sendiri.
Mungkin saja ia akan mencoba menempuh jalan itu. Namun, putusnya hubungan dengan AS akan menjadi problem eksistensial Israel, yang pada akhirnya tetap akan berujung pada kekalahan.
Skenario 3: Israel Hancur
Kemungkinan terakhir adalah Netanyahu terpaksa menerima keadaan. Namun, jika itu terjadi, semua kontradiksi dalam masyarakat Israel, yang pernah meledak dalam aksi protes terhadap reformasi peradilan pada 2023, dan yang beberapa kali meledak dalam demonstrasi menuntut pemulangan para sandera, akan kembali mencuat.
Sejak 7 Oktober 2023, Netanyahu berupaya mengalihkan kontradiksi dalam masyarakat Israel ke arah konflik eksternal. Kontradiksi-kontradiksi ini akan kembali.
Tiga tahun perang telah meninggalkan dampak yang sangat besar bagi masyarakat Israel. Sejak 2024, jumlah warga yang menjalani perawatan kesehatan mental meningkat hingga 240 persen. Kaum muda berada di medan perang, sementara para investor di sektor teknologi telah meninggalkan negara itu.
Militer Israel bahkan berhenti mempublikasikan jumlah personel yang diberhentikan akibat gangguan stres pascatrauma (PTSD), karena angkanya dinilai terlalu tinggi. Seorang veteran sekaligus tenaga profesional di bidang kesehatan mental mengatakan kepada Al Jazeera, “Masyarakat telah kehilangan kepercayaan terhadap negara, pemerintah, dan lembaga-lembaganya.”
Menurut sejumlah perkiraan, lebih dari separuh pasukan cadangan tidak memenuhi panggilan ketika dimobilisasi.
Seluruh persoalan tersebut berpotensi kembali meledak sewaktu-waktu. Setelah selama ini bertumpu pada kelompok-kelompok religius konservatif di Israel, Netanyahu kini justru menghadapi gelombang protes besar dari komunitas Yahudi Ultra-Ortodoks yang menolak wajib militer.
Aksi protes besar telah terjadi, termasuk pemblokiran jalan raya. Kerusuhan juga berlangsung di depan rumah para hakim Mahkamah Agung. Sejumlah komandan IDF bahkan menghadapi upaya penyerbuan ke kediaman mereka. Sementara itu, Shin Bet mulai menyusun laporan intelijen mengenai terorisme Yahudi sayap kanan.
Berbagai kontradiksi di dalam Israel dapat meledak dengan arah yang sulit diperkirakan.
Hal itu menjadi alasan tambahan bagi Netanyahu untuk kembali mengalihkan perhatian ke luar negeri. Jika bukan di Lebanon, lalu di mana? Serangan IDF di Gaza dilaporkan semakin meningkat. Dalam sepekan terakhir, Smotrich juga mulai melakukan berbagai tindakan provokatif di kota Hebron, Tepi Barat. Mungkinkah mereka akan mempercepat proses aneksasi Tepi Barat?
Sementara itu, tokoh lain seperti Menteri Likud Amichai Chikli berjanji bahwa Israel dalam waktu dekat akan berperang dengan Suriah sebagai bagian dari apa yang semakin sering disebut kalangan penguasa Israel sebagai “Poros Kejahatan Sunni Radikal” yang dipimpin Turki. Jika terikat oleh kesepakatan dengan AS untuk tidak menyerang Iran maupun sekutu-sekutunya, mungkinkah Israel justru akan menyerang sekutu-sekutu regional Amerika sendiri?
Hasilnya
Ironisnya, salah satu dampak perang ini justru membuat AS semakin bergantung pada Israel sebagai proksinya, karena posisi Amerika di kawasan secara umum semakin melemah. Jika Israel terus bergerak tanpa kendali, negara itu masih dapat memicu konflik-konflik baru dan semakin menyeret Amerika Serikat ke dalamnya.
Namun, mari melihat gambaran yang lebih luas dan menegaskan poin-poin utamanya.
Iran keluar dari perang ini dalam posisi yang lebih kuat, baik secara politik maupun militer. Dengan terbukanya kembali akses terhadap miliaran dolar asetnya, posisinya juga berpeluang menguat secara ekonomi dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Sebaliknya, bagi AS dan sekutu-sekutunya, hasil ini merupakan bencana besar. Perkembangan ini akan mengekspos semua kontradiksi di dalam Amerika Serikat, Israel, dan seluruh dunia Barat. Selain itu, pengaruh AS di kawasan, bahkan di berbagai belahan dunia lainnya, mengalami kemunduran yang sangat besar.
Di Asia Tenggara, Filipina, Australia, Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand, Myanmar, dan Bangladesh mengirimkan delegasi ke Tiongkok selama perang berlangsung untuk memohon pasokan pupuk, minyak, dan berbagai komoditas penting lainnya. Negara-negara Eropa juga melakukan hal yang sama. Demikian pula Trump, yang belum lama ini berada di Tiongkok, dengan tujuan menekan Xi agar memengaruhi Iran.
Perlu diingat pula bahwa sejak perang ini dimulai, AS menunjukkan kemarahan atas apa yang dianggapnya sebagai kurangnya dukungan dari negara-negara Eropa. Sebagai akibatnya, Washington mengurangi kehadiran militernya di benua tersebut. Peristiwa ini menjadi satu lagi pukulan terhadap apa yang selama ini disebut sebagai “Barat kolektif”.
Sementara itu, perekonomian dunia menjadi semakin rapuh. Iran kini diakui sebagai pihak yang menguasai Selat Hormuz, sedangkan negara-negara Eropa melakukan tindakan yang mereka sebut sebagai pembajakan terhadap apa yang dikenal sebagai “armada bayangan” Rusia. Kondisi ini semakin mengganggu perdagangan dunia serta semakin mendorong munculnya proteksionisme dan militerisme.
Di sisi lain, perkembangan ini menjadi pukulan besar bagi kekuatan imperialis terbesar di dunia. Hingga kini imperialisme AS masih terus menggunakan tekanan dan intimidasi, terutama di kawasan belahan barat. Sebelumnya, banyak orang mungkin menerima keadaan itu dengan sikap pasrah karena menganggap tidak ada yang mampu mengalahkan kekuatan besar imperialisme AS. Kini, anggapan tersebut telah terpatahkan.
Dalam gambaran sejarah yang lebih luas, kekalahan ini akan dipandang sebagai salah satu titik balik penting dalam kemunduran imperialisme AS.
