Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

Mereka yang Berperang, Kelas Pekerja yang Membayar

Dipublikasi 30 June 2026 | Oleh : Jason Wijaya

Perang antara AS dan Iran yang telah berlangsung lebih dari 3 bulan belum mereda sampai saat ini. Meski ada upaya perundingan, belum ada kesepakatan yang dicapai. Pasukan dari kedua pihak masih saling berbalas serangan di lapangan di sela proses negosiasi. Bahkan Trump mengancam akan menyerang Oman, salah satu sekutu AS, jika negara tersebut berkolaborasi dengan Iran. Belum ada kejelasan kapan perang ini akan berakhir. Namun yang pasti perang ini telah memperburuk situasi perekonomian dunia. Semakin lama perang ini berlangsung, semakin parah dampaknya. Taraf hidup kelas pekerja akan tertekan lebih parah dari serangan kebijakan kelas kapitalis.

Sejak perang ini dimulai, Iran mengambil langkah strategis menutup selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur lalu lintas kapal-kapal tanker minyak yang menyuplai 20% kebutuhan minyak dunia. Ditutupnya selat Hormuz telah memicu kenaikan drastis harga minyak dunia. Harga minyak telah meningkat dari sebelumnya rata-rata USD 70 menjadi sekitar USD 100 per barel, bahkan beberapa kali di atas angka tersebut. Sebagai akibatnya terjadi peningkatan inflasi secara global. IMF mengeluarkan pernyataan bahwa akan ada perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia di tahun ini.

Negara-negara di Asia sangat terdampak oleh perang ini. Hampir 90 persen suplai minyak dan gas untuk Asia melewati jalur ini. Pada 2025 Asia menyerap sekitar 87 persen minyak mentah dan 86 persen LNG yang melewati selat tersebut. Ini berarti daya rusak ekonominya sangat besar. Selain menjadi sumber energi utama, migas merupakan bahan baku industri petrokimia. Salah satu contoh pengaruh langsungnya adalah melejitnya harga pupuk, yang berdampak pada pertanian.

Negara seperti China mempunyai cadangan minyak paling banyak, namun juga tetap harus mengambil langkah penyesuaian di berbagai sektor. Sementara Jepang, salah satu negara yang ekonominya cukup kuat di Asia, kini telah mengalami lonjakan biaya hidup. Berbagai industri di Jepang mengalami guncangan karena 70 persen suplai migasnya melalui selat Hormuz. Sementara negara-negara kategori Lower-Middle Income mengalami tekanan yang lebih besar. Asia Tenggara mayoritas masuk dalam kategori ini, termasuk Indonesia.

Indonesia dalam “Survival Mode”

Ekonomi Indonesia sangat terpukul oleh perang ini. Menteri keuangan telah mengakui bagaimana pemerintah kini berada dalam Survival Mode:

“Artinya kita nggak boleh main-main lagi. Artinya kalau kita enggak ada ruang atau untuk bermain-main lagi segala kemewahan di mana ada peluang yang kita bisa buat. Kalau pajaknya main-main, hancur kita kira-kira gitu. Kalau programnya main-main, kita akan digiling bangsa lain. Jadi kita survival mode.”

Kini Purbaya tampaknya lebih serius. Ia seakan mengakui bahwa sebelumnya ia berlagak seperti koboi yang hanya bermain-main dengan kudanya tanpa senjata. Kini raut wajah Purbaya tidak lagi sumringah seperti di masa awal dia menjabat.

Untuk memenuhi kebutuhan nasional, Indonesia masih banyak bergantung pada impor. Rata-rata 60 persen suplai BBM masih harus diimpor.  Selain BBM, bahan-bahan pangan pun diimpor dengan angka yang cukup besar. Komoditas-komoditas tersebut seperti beras, daging, bawang putih, gandum, garam dan lain sebagainya, termasuk juga plastik. Harga komoditas-komoditas impor ini pun telah mengalami tren kenaikan. Sementara ekspor masih lemah untuk mengimbangi laju impor.

Situasi inilah yang berkontribusi pada meningkatnya permintaan dolar untuk membiayai impor. Sebagai akibatnya, nilai mata uang rupiah melemah dengan laju yang lebih cepat dibanding periode sebelumnya—terlepas dari penyempitan devisa karena pembayaran utang dan faktor eksternal yang juga menentukan nilai kurs rupiah. Nilai rupiah sempat tembus Rp.17.906 per dolar AS. Dalam tiga tahun terakhir pelemahan rupiah atas dolar AS telah mencapai 19 persen, selama 12 bulan terakhir sebesar 8,89 persen, dan sebulan terakhir 2,93 persen.

Dalam menanggapi ini, Prabowo mengeluarkan pernyataan yang sangat bodoh. Ia mengatakan orang desa tidak menggunakan dolar dalam bertransaksi. Padahal, banyak kebutuhan penduduk desa bergantung pada impor, terutama pupuk. Melemahnya rupiah berarti kenaikan harga untuk barang-barang tersebut.

Harga pupuk telah mengalami kenaikan secara global sebesar 40 persen. Untuk menghindari keresahan sosial, pemerintah meningkatkan subsidi pupuk hingga menurunkan harganya sebesar 20 persen dari sebelumnya. Namun subsidi ini terbatas untuk petani dengan lahan di bawah 2 hektar. Dengan demikian, banyak sekali petani yang tetap harus membayar lebih untuk mendapatkan pupuk. Petani di banyak daerah telah mengeluh mengenai harga pokok penjualan yang tidak naik, sementara biaya produksi sangat besar.

Selain itu, harga plastik telah melonjak 50 hingga100 persen. Kedelai impor harganya meningkat 22 persen. Harga avtur meningkat dan menyebabkan kenaikan harga tiket pesawat. 3 jenis BBM non-subsidi meningkat masing-masing 64 persen untuk Pertamina Dex, 66 persen untuk Dexlite dan 48 persen untuk Pertamax Turbo. Sementara itu LPG 5,5 kg harganya meningkat 14 hingga 18 persen. LPG 12 kg meningkat 18 hingga 24 persen. Ini semua berkontribusi pada inflasi tahunan 2,42 persen.

Saat ini biaya makanan di Indonesia meningkat 3,06 persen pada bulan April 2026 dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Menurut model makro global Trading Economics dan ekspektasi analis, Inflasi pangan di Indonesia diperkirakan mencapai 4,40 persen pada akhir kuartal ini.

Di tengah kondisi seperti ini, ada tontonan yang sangat menjijikkan bagi mayoritas kaum buruh dan petani miskin. Tontonan tersebut adalah praktik spekulasi jual beli dolar untuk meraup keuntungan di tengah melemahnya rupiah. Kapitalis bahkan bisa mengail di air sekeruh apapun. Sementara dalam situasi ekonomi yang menghimpit seperti ini kelas pekerja terpaksa mengencangkan ikat pinggang.  

Defisit Anggaran.

Untuk menjaga stabilitas politik, pemerintah terpaksa mempertahankan harga BBM bersubsidi. Ini artinya pemerintah harus memperlebar defisit anggaran.

Proyeksi defisit anggaran 2026 awalnya masih di bawah angka 3 persen dari PDB, dengan asumsi harga minyak dunia 70 dolar AS per barel dan nilai tukar Rp 16.500 per dolar. Namun asumsi sudah terjungkir balik. Kini dengan harga minyak yang melambung dan pelemahan rupiah, perkiraan defisit sudah jauh melampaui 3 persen. Pemerintah terpaksa menambah utang yang  pada akhirnya harus dibayar oleh kelas pekerja dengan program penghematan. Situasi serupa dihadapi juga oleh banyak negara lainnya.

Di tengah kenaikan harga energi, plastik, serta melemahnya rupiah, banyak perusahaan yang semakin harus mengetatkan anggaran. Ini berarti semakin banyak buruh yang kena PHK. Dari bulan Januari hingga April 2026 buruh yang di-PHK telah mencapai angka 15.425 orang. Dengan kondisi tingginya biaya produksi akibat perang ini, ancaman PHK semakin besar. Laporan riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksikan tambahan PHK bisa mencapai 15.300 hingga 20.300 pekerja apabila tekanan biaya impor bahan baku dan pelemahan rupiah terus berlangsung. Seperti yang dilaporkan Kompas, 67 persen perusahaan di Indonesia tidak menambah tenaga kerja baru.

Dalam kondisi yang semakin sulit ini, semakin banyak rakyat yang terpaksa mengurangi kualitas makanan yang dikonsumsinya. Sebagian bahkan harus mengurangi frekuensi makan dalam sehari. Sementara orang-orang kaya dapat mengambil keuntungan dari jual beli dolar atau mendapat suntikan dana dari negara dengan alasan terancam bangkrut.

Kelas penguasa hari ini masih terus beretorika seakan kondisi ekonomi Indonesia baik-baik saja. Namun seluruh pidato para pejabat tersebut tidak dapat mengubah fakta naiknya harga sembako di pasar. Ilusi yang disebar para pejabat di media-media tidak juga mengubah fakta perubahan daftar harga makanan di warteg, atau tempat-tempat dimana tukang ojol, sopir truk, buruh pabrik dll., berbelanja. Perang AS-Iran cepat atau lambat akan berakhir. Tetapi satu yang jelas perang ini telah menambah bensin ke dalam api perjuangan kelas. Kelas penguasa Indonesia duduk di atas tungku api kemarahan yang telah diproduksi oleh krisis ini. Mereka tidak dapat terus menjaga keseimbangan ekonomi tanpa merusak keseimbangan politik. Ada masa di mana kelas pekerja dan kaum miskin tidak dapat lagi menolerir semua ini. Bila hari itu datang, maka kelas penguasa akan dihadapkan dengan insureksi Agustus yang lain.

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Dunia 2025: Dunia Terjungkir Balik – Sistem Kapitalisme dalam Krisis
    Perspektif Politik 2025: Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme