Tahun ini Amerika Serikat merayakan harlah ke-250. Di bawah pemerintahan Trump, perayaan ini jadi ajang pemeragaan patriotisme yang paling reaksioner. Slogan “America First” dan “Make America Great Again” terpampang dengan begitu sombongnya di tengah perang yang diluncurkan imperialisme AS terhadap Iran. Namun, seperempat milenia yang lalu, Revolusi Amerika 1776 merupakan peristiwa yang teramat revolusioner, yang bahkan menjadi salah satu sumber inspirasi Proklamasi Indonesia.
Mungkin bagi khalayak ramai dewasa ini, bagaimana mungkin kita bisa menyandingkan kata “Revolusi” dan “Amerika”? AS adalah benteng reaksi, yang telah menenggelamkan lebih banyak revolusi ke dalam kubangan darah dibandingkan bangsa atau peradaban mana pun dalam sejarah dunia. Sebut saja tragedi 1965 di negeri kita sendiri. Oleh karenanya, tampaknya kelahiran Amerika Serikat pada 4 Juli 1776 itu tidaklah berbeda dari hari kelahiran Adolf Hitler: kesalahan terbesar dalam sejarah.
Kita bisa memaklumi rasa benci terhadap imperialisme AS ini. Sayangnya, rasa benci saja tidak akan membantu kita mengakhiri imperialisme. Sebaliknya, bila rasa benci ini dijadikan kebajikan, kita akan berakhir dengan ketidaktahuan.
Postmodernisme, misalnya, telah menjadikan ketidaktahuan semacam ini sebuah sistem pemikiran. Mereka menyaksikan horor kapitalisme, kebengisan imperialisme AS, dan dengan lambaian tangan mereka menyangkal Pencerahan. Mereka mengutuk revolusi borjuis – dan Revolusi Amerika – sebagai tidak lebih dari sengketa antar pemilik budak.
Tetapi kita adalah Marxis dan kaum Marxis adalah murid revolusi, dan memang harus demikian. Faktanya demikian, bahwa setiap orang paling banter hanya akan memperoleh satu kesempatan untuk revolusi. Dua kali bila kita beruntung. Oleh karenanya, setiap revolusi yang kita pelajari, dan terutama revolusi yang begitu kaya dan kompleks seperti Revolusi Amerika, akan membantu kita untuk mempertajam naluri revolusi kita. Setiap revolusi adalah laboratorium riil yang dapat mempersiapkan kita untuk menghadapi revolusi di hari mendatang.
Menyambut 250 tahun Revolusi Amerika, seorang pemikir dan aktivis revolusioner John Peterson menerbitkan buku Revolution and Counterrevolution in America: A Marxist Perspective. Karya ini menguraikan dinamika revolusi dan kontra-revolusi yang pelik dalam sejarah AS. Dalam membaca karya ini, kita tidak bisa menghindari paralel antara Perang Kemerdekaan AS dan Perang Kemerdekaan Indonesia.
Seratus tujuh puluh tahun kemudian setelah Revolusi Amerika, Indonesia juga meluncurkan perjuangan untuk membebaskan dirinya dari kolonialisme, dengan George Washington dan John Adams-nya sendiri, yakni dalam diri Sukarno dan Hatta. Mereka menulis dan menandatangani Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan menyebut Deklarasi Kemerdekaan AS sebagai salah satu sumber inspirasi mereka.
Seperti Revolusi Amerika, kemerdekaan Indonesia juga merupakan revolusi sosial dan politik yang mendalam. Massa luas bergerak untuk menghancurkan semua relasi feodal dan pra-kapitalis lama, dan bahkan berupaya bergerak melampaui batas-batas kepemilikan borjuis. Dua peristiwa, yang dipisahkan oleh bentang samudra yang luas dan rentang waktu hampir dua abad, memiliki kesamaan yang luar biasa. Inilah mengapa kita mempelajari sejarah revolusi, sebagai kaum materialis historis, untuk menemukan hukum-hukum umum revolusi.
Namun, kesamaan tersebut berhenti di sana. Sebagai kaum materialis historis, kita mempelajari proses dalam kekonkretannya, dalam partikularitasnya, supaya bisa menarik pemahaman umum yang lebih dalam dan kaya. Apa-apa saja partikularitas ini? Mari kita periksa sejenak.
Pertama, borjuasi Amerika pada 1776 adalah kelas yang muda dan segar, yang penuh dengan elan revolusioner, yang meluncurkan revolusi borjuis demokratik dalam skala yang belum pernah terlihat dalam sejarah. Tidak begitu dengan borjuasi Indonesia yang muncul 150 tahun kemudian ketika kapitalisme sudah tua dan uzur. Kapitalisme semacam ini hanya bisa menghasilkan borjuasi yang pengecut.
Kepengecutan ini terpampang jelas selama peristiwa perumusan dan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Setelah Jepang menyerah, massa rakyat mafhum bahwa waktunya sudah tiba untuk membebaskan bangsa ini dari rantai imperialisme. Tetapi George Washington kita menolak untuk memproklamirkan kemerdekaan ini. Mereka hendak meminta ijin terlebih dahulu dari Jepang yang telah kalah. Para pemuda revolusioner pun menculik Sukarno dan Hatta, dan memaksa mereka untuk menulis naskah proklamasi dan mendeklarasikannya.
Kepengecutan ini tidak berhenti di sini. Setelah naskah ini dengan enggan ditulis oleh Sukarno dan Hatta, para pemuda memberitahu mereka bahwa massa telah diarahkan untuk berkumpul di lapangan Ikada untuk mendengarkan Proklamasi Kemerdekaan. Ini akan menjadi rapat akbar dengan puluhan ribu massa, yang akan membuka bab baru bagi bangsa ini.
Namun, Sukarno dan Hatta menolak. Rapat massa seperti ini menurut mereka dapat memprovokasi militer Jepang karena ini belum dikoordinasikan dengan mereka. Lagi-lagi, kaki mereka gemetar. “Lebih baik dilakukan di tempat kediaman saya di Pegangsaan Timur. Pekarangan di depan rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita harus memancing-mancing insiden?” elak Sukarno.
Ini bukan masalah “memancing insiden”. Insiden sudah terpancing sedari awal: 350 tahun penjajahan, kekalahan Jepang, dan kesiapan rakyat untuk berjuang demi kemerdekaan. Yang kita saksikan di sini sesungguhnya merupakan perwujudan dari kepengecutan borjuasi Indonesia, karakter yang senantiasa menyertai kelas ini sejak lahir hingga hari ini.
Sementara Deklarasi Kemerdekaan AS ditulis dengan begitu beraninya dan dibacakan dengan begitu megahnya di hadapan ribuan orang di Aula Kemerdekaan di Philadelphia, Proklamasi kita dibacakan di pekarangan orang di hadapan segelintir orang. Seluruh peristiwa bersejarah ini begitu penuh dengan keragu-raguan dari awal hingga akhir.
Sungguh tidak bisa dibandingkan dengan Deklarasi Kemerdekaan AS dan para pemimpin Revolusi Amerika. Sungguh tidak bisa dibandingkan dengan keberanian rakyat yang siap menyerahkan jiwa raga mereka demi kebebasan. Dan sungguh pengorbanan besar yang rakyat berikan selama 4 tahun perang kemerdekaan. Dengan hanya bersenjatakan bambu, mereka menghadapi pasukan Belanda yang bersenjatakan lengkap. Dua ratus ribu pejuang meregang nyawa mereka, dibandingkan 4,000 tentara Belanda. Kontras ini menunjukkan perbedaan kekuatan militer yang ada, tetapi juga menunjukkan keberanian rakyat.
Partikularitas kedua adalah perbedaan karakter kedua revolusi tersebut, yang berlangsung di dua fase kapitalisme yang berbeda.
Revolusi Amerika adalah revolusi borjuis demokratik, yang menuntaskan tugas-tugas mengenyahkan dominasi kolonial Inggris, menghancurkan sisa-sisa feodalisme dan kekuasaan monarki Inggris, serta mendirikan republik demokratik. Tidak hanya itu. Rakyat Amerika yang sudah digerakkan oleh cita-cita kebebasan dan keadilan juga menghendaki masyarakat tanpa tuan. Selapisan rakyat Amerika mendambakan demokrasi politik dan ekonomi yang sejati untuk semua orang tanpa terkecuali. Pemberontakan Shays mewakili tendensi ini, seperti halnya kaum Levellers dan Diggers selama Revolusi Inggris (1640-60), atau pemberontakan tani revolusioner (1524-25) di bawah kepemimpinan pendeta Thomas Muntzer. Namun semua perjuangan ini utopis dan ditakdirkan kalah sejak awal karena landasan material untuknya memang tidak ada. Dua ratus tahun yang lalu, kapitalisme Amerika masihlah dalam fase progresifnya. Dalam kata lain, kapitalisme masihlah mampu mengembangkan kekuatan produktif, sehingga satu-satunya bentuk demokrasi yang memungkinkan saat itu adalah demokrasi borjuis.
Seratus tujuh puluh tahun kemudian, Revolusi Indonesia juga membuka gerbang bagi luapan massa, yang menginginkan kemerdekaan sejati. Dengan slogan Merdeka 100%, rakyat pekerja menuntut semua properti Belanda dinasionalisasi, yang praktis berarti semua tuas ekonomi penting dibebaskan dari kepemilikan pribadi. Ini berarti melangkah melampaui kapitalisme. Namun kali ini, perjuangan ini sudah tidak lagi utopis karena basis material untuknya sudah matang. Pertama, kapitalisme sudah bukan lagi kekuatan yang progresif dalam sejarah. Ia telah memasuki fase imperialis, fasenya yang paling reaksioner. Kapitalisme sudah membusuk dan siap ditumbangkan. Kedua, dalam pembusukannya ini, kapitalisme hanya mampu melahirkan borjuasi Indonesia yang pengecut, yang tidak mumpuni, tidak berniat, dan tidak tertarik untuk menuntaskan revolusi demokratik nasional. Ketiga, di Indonesia telah lahir proletariat, yang walaupun jumlahnya kecil tetapi memimpin seluruh rakyat pekerja tertindas lainnya. Proletariat adalah satu-satunya kelas yang mampu menuntaskan tugas-tugas demokratik nasional dengan mulai melangkah ke sosialisme. Keempat, proletariat Indonesia memiliki teladan yang begitu gemilang dari Revolusi Oktober.
Gerakan revolusioner ini akhirnya dikhianati oleh pemerintahan republik Sukarno dan Hatta yang meraih kesepakatan dengan Belanda untuk mengembalikan semua properti mereka dan bahkan membayar biaya reparasi perang. Dengan demikian, kapitalisme selamat.
Dan siapa yang berdiri di belakang Sukarno sampai akhir? Kepemimpinan Stalinis Partai Komunis Indonesia. Sampai pada 1965, mereka menganggap sama Sukarno dengan George Washington, menganggap sama borjuasi Indonesia abad ke-20 dengan borjuasi Amerika abad ke-18. Mereka terus mengekor pada apa yang mereka sebut “borjuasi progresif” dan menolak berjuang demi revolusi sosialis. Hasilnya fatal. Dua juta rakyat dibantai pada 1965. Inilah akibat dari pemahaman yang dangkal mengenai sejarah revolusi.
Di negara-negara eks-kolonial seperti Indonesia, kredo kebebasan, keadilan, dan pengejaran kebahagiaan hanya dapat diwujudkan dengan kemenangan sosialisme. Ini benar pada 1945, dan 100 kali lebih benar hari ini.
Samuel Adams, salah satu pemimpin terkemuka Revolusi Amerika yang bisa dibilang adalah Lenin dan Trotsky-nya Amerika pada abad ke-18, pernah mengatakan: “We cannot make Events. Our business is to wisely improve them.” (Kita tidak bisa menciptakan peristiwa. Tugas kita adalah dengan bijaksana membuat mereka menjadi lebih baik.)
Ini sungguh pengamatan yang luar biasa. Bukan kaum revolusioner yang menciptakan revolusi. Kondisi historis-lah yang akan menciptakan revolusi. Tugas kaum revolusioner adalah membawa revolusi ini ke kemenangan.
Bila ada satu pelajaran yang bisa kita tarik dari para pemimpin Revolusi Amerika, ini adalah keberanian mereka untuk berjuang demi cita-cita yang tampaknya saat itu mustahil, di hadapan musuh yang tampaknya tidak bisa dikalahkan. Ketika hari ini gerakan kita dipenuhi dengan aktivis yang selalu “realistis”, kita semakin membutuhkan keberanian Revolusi Amerika, namun kali ini untuk menaklukkan kapitalisme dan memenuhi cita-cita “mustahil” revolusi sosialis.
