Polisi, brimob dan ormas dikerahkan. Barikade didirikan. Opini publik diciptakan. Bahkan sampai akun bank dan media sosial aktivis diblokir. Semua dilakukan pemerintah untuk menghadang beberapa lusin warga dari sebuah kota kecil di pelosok yang ingin menyampaikan aspirasi mereka. Kelewatan? Tidak juga. Masih segar di ingatan penguasa apa yang terjadi tahun lalu pada 25 Agustus: sebuah insureksi yang meledak tanpa disangka oleh siapapun. Maka dari itu, kita tidak perlu heran pada penguasa yang bereaksi terhadap ketakutan mereka pada rakyat yang mereka zalimi.
Ada makna penting dalam gerakan rakyat Pati yang membuat penguasa cemas hari ini. Demonstrasi 100 ribu rakyat di Pati pada 10 Agustus adalah pembukaan bagi demonstrasi 25 Agustus tahun lalu. Rakyat Pati-lah yang melepaskan tembakan pertama Insureksi Agustus. Apakah ini akan terjadi kembali? Begitu tanya mereka.
Alih-alih mereka-reka pengulangan sejarah, penguasa pun sigap untuk mencegahnya dengan cara apapun. Di tangan mereka adalah kekuatan seluruh aparatus negara. Kendali mereka terhadap sarana kekerasan, komunikasi, media massa, dan ekonomi pun bukan tanpa alasan. Padamkan percik api perlawanan sebelum menjadi api liar.
Namun pemerintah perlu belajar tidak hanya dari sejarah tetapi juga dari gelombang kebakaran hutan yang kini melanda Eropa. Tidak ada yang bisa menghentikan api liar yang memang sudah jadi keniscayaan. Selama puluhan tahun telah tertumpuk dedaunan dan ranting kering di bawah tegakan hutan, bak kegeraman massa yang telah terpendam lama di bawah permukaan karena penindasan, kesewenang-wenangan penguasa, dan kemiskinan yang tak berkesudahan yang mereka rasakan. Selain itu, krisis iklim telah menciptakan gelombang panas ekstrem, layaknya krisis kapitalisme yang terus menciptakan ketegangan ekonomi, politik, sosial, dan diplomatik. Para petugas pemadam kebakaran memandang kesia-siaan upaya mereka untuk menghentikan kebakaran hutan, seperti halnya tidak ada satu pun kekuatan yang bisa menghentikan api liar revolusi yang mulai menjilat-jilat.
Alam sedang memberontak. Rakyat sedang memberontak. Nalar manusia pun memberontak. Inilah zaman yang sedang kita masuki. 1000 tahun kemudian zaman ini akan tercatat dalam sejarah sebagai zaman pemberontakan di tengah kemunduran dan pembusukan kapitalisme. Insureksi Agustus akan tercatat sebagai satu dari sekian pemberontakan yang membuka jalan bagi berakhirnya kapitalisme. Inilah yang ditakuti oleh kelas penguasa, yang tengah menatap masa depan mereka yang penuh ketidakpastian, penuh ancaman dari kelas pekerja yang telah lama mereka tekan.
Oposisi loyal kelas penguasa pun tidak mau ketinggalan. Dalam menyambut satu tahun insureksi Agustus, mereka meluncurkan kabinet bayangan. Bukan untuk “makar” kata kaum liberal kita ini, tetapi untuk memenuhi “fungsi pengawasan parlemen”. Namun, pada insureksi Agustus kemarin, rakyat pekerja sudah bergerak melampaui pengawasan. Mereka sudah menuntut pembubaran parlemen yang busuk, bukan dengan bayangan tetapi dengan aksi massa langsung yang membuat jantung para penguasa hampir saja berhenti. Maka dari itu, kabinet bayangan sebenarnya merupakan langkah mundur, dan memang ditujukan demikian untuk mengekang aksi massa. Tokoh-tokoh masyarakat sipil ini punya satu fungsi: selamatkan kapitalisme dari dirinya sendiri dan cegah terulangnya Insureksi Agustus. Ini pun akan jadi kesia-siaan.
Selama setahun terakhir pemburuan besar-besaran telah diluncurkan kelas penguasa. Ratusan pemuda dijebloskan ke penjara karena keterlibatan mereka dalam Insureksi Agustus. Tetapi ini tidak menyurutkan tekad kita kaum muda untuk memperjuangkan revolusi. Ini karena Insureksi Agustus telah memberi kita semua gambaran sekilas masa depan revolusi di hari depan.
Yang lain mungkin penuh pesimisme. Mereka melihat demonstrasi Agustus tidak membuahkan hasil. Tetapi kaum muda revolusioner yang memiliki perspektif politik yang jernih selalu diisi dengan optimisme yang tidak pernah surut dan justru terus berlipat. Ini karena kita paham bahwa Insureksi Agustus 2025 – sebagai bagian dari Revolusi Gen-Z di dunia – merupakan respons terhadap krisis kapitalisme di seluruh dunia. Satu tahun telah berlalu dan krisis kapitalisme ini tidak membaik, dan justru semakin memburuk. Massa akan belajar, dan semakin banyak yang telah belajar, bahwa rintangan yang harus mereka dobrak adalah kapitalisme itu sendiri. Dari situ kita menarik kepercayaan kita pada masa depan revolusi dan kemenangannya.
