Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

Perang di Timur Tengah: ‘Tatanan’ Dunia Menghadapi Badai Sempurna

Dipublikasi 19 October 2026 | Oleh : Alan Woods

Artikel ini ditulis pada 25 September 2026, tidak lama setelah runtuhnya kesepakatan Memorandum of Understanding di bulan sebelumnya. Ketika artikel ini ditulis, perang AS-Iran telah berlangsung lebih dari setengah tahun.

Setiap hari, genderang perang yang terus ditabuh di Timur Tengah terdengar semakin keras dan mengancam. Dalam beberapa pekan terakhir, tampak adanya pergeseran yang nyaris tak terbendung menuju kembali pecahnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Unsur-unsur baru terus masuk ke dalam situasi yang kompleks ini, seiring pihak-pihak yang berlawanan menempatkan bidak-bidak baru pada papan catur penuh darah yang sarat kekerasan dan kekacauan, menghasilkan spiral eskalasi yang mematikan.

Namun, seluruh situasi penuh dengan kebingungan yang tak masuk akal, ketika satu pernyataan mengejutkan dari Presiden Amerika Serikat bisa seketika dibantah oleh pernyataan lain yang sama sekali berbeda.

Menurut mantra yang terus-menerus diulang oleh penghuni White House, kekuatan militer Iran telah dihancurkan secara menyeluruh dan tuntas, setidaknya belasan kali, oleh keunggulan kekuatan udara Amerika Serikat.

Donald Trump telah mengancam bahwa jika Iran tidak menyetujui kesepakatan, ia akan melenyapkan peradaban di negara itu. “Jika Iran menolak persyaratan kami, target berikutnya adalah pembangkit listrik, jembatan, serta infrastruktur minyak dan energi mereka,” ujar Hegseth.

Namun, sama sekali tidak ada bukti bahwa Iran telah menyetujui kesepakatan dengan Amerika. Justru, Teheran secara terbuka menyatakan bahwa tidak ada negosiasi apa pun yang berlangsung dengan pihak Amerika.

Dan karena alasan aneh yang hingga kini belum dijelaskan oleh sang penghuni Gedung Putih, Iran terus meluncurkan rentetan rudal balistik ke berbagai sasaran di Timur Tengah, terutama serangan baru-baru ini ke sebuah pangkalan Amerika di Yordania.

Tingkat kerusakan yang sebenarnya ditimbulkan oleh serangan-serangan ini tidak pernah dijelaskan secara gamblang. Namun, dampaknya pasti cukup besar, sampai-sampai Amerika menarik mundur pasukan mereka dari berbagai pangkalan di kawasan tersebut.

Theodore Roosevelt memiliki sebuah moto yang menarik: “bicaralah dengan lembut, dan bawalah tongkat yang besar.” Donald J. Trump mengatakan hal yang sebaliknya: berteriak sekeras-kerasnya, lontarkan ancaman yang paling mengerikan, dan acungkan pedang kertas.

Satu-satunya hasil dari kebijakan konyol ini, yang saat ini dianggap sebagai diplomasi di Amerika Serikat, adalah runtuhnya kredibilitas Amerika di mata dunia.

Sudah berapa kali presiden Amerika mengancam akan melancarkan serangan bom dahsyat yang akan mengubah Iran menjadi tumpukan puing yang berasap? Sudah berapa banyak tenggat waktu yang ia tetapkan untuk serangan apokaliptik ini?

Tak terhitung jumlahnya. Namun, tenggat waktu yang ditetapkan Trump datang dan berlalu begitu saja. Dan selalu saja, di saat-saat terakhir, ia berbalik arah dan melupakan semuanya.

Sayangnya bagi dia, musuh-musuhnya tidak melupakan ataupun memaafkan. Mereka dengan tepat menafsirkan perubahan sikap yang terus-menerus ini sebagai tanda kelemahan yang jelas, dan bertindak sesuai dengan penilaian tersebut.

Perang ini telah “sepenuhnya” menghancurkan kemampuan Iran untuk membangun rudal dan persenjataan canggih lainnya, demikian klaim Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada April lalu.

“Kami telah sepenuhnya menghancurkan basis industri pertahanan Iran, salah satu pilar utama misi kami,” ujar Hegseth kepada para wartawan.

“Mereka tidak lagi mampu memproduksi rudal, roket, peluncur, ataupun membuat [drone] – pabrik-pabrik mereka telah rata dengan tanah dan mengalami kemunduran besar dalam skala historis,” katanya.

Namun, pernyataan Trump dan Hegseth yang sombong dan absurd itu dibantah oleh fakta yang ada.

Bahkan pada saat itu, sumber-sumber militer Israel mengatakan bahwa Iran memiliki persediaan rudal yang sangat besar – kemungkinan lebih dari seribu unit – dan terus meningkatkan produksinya.

Menyadari keraguan dan kebimbangan di Gedung Putih, Iran menjadi semakin percaya diri dan agresif.

Alih-alih membuka Selat Hormuz, pasukan Garda Revolusi Iran, yang pada kenyataannya merupakan kekuatan paling kuat di Iran saat ini, justru merespons dengan menyatakan bahwa mereka akan memperketat pengawasan atas Hormuz dengan memperluas zona kendali ke sebelah barat selat tersebut.

Berbeda dengan presiden Amerika, Garda Revolusi Iran selalu menindaklanjuti ancaman mereka dengan tindakan nyata. Setiap kapal tanker yang mencoba mendekati Selat Hormuz dapat diserang oleh Iran dari jarak jauh, kecuali mereka memperoleh izin Iran untuk melintas.

Parahnya lagi, seperti yang kami bahas, Iran meluncurkan rentetan rudal dan drone ke pangkalan-pangkalan Amerika di Yordania serta wilayah lain di kawasan tersebut.

Alasan di balik serangan-serangan Iran ini cukup jelas. Tujuannya bukan semata-mata untuk menimbulkan kerusakan material, melainkan untuk memancing respons Amerika, yang dengan demikian akan menghabiskan persediaan rudal pertahanan udara mereka yang berharga dan semakin menipis.

Tujuan ini tampaknya berhasil dicapai oleh serangan-serangan baru-baru ini, yang dibalas Amerika Serikat dengan meluncurkan 60 rudal pencegat Patriot PAC-3.

Mengingat perkiraan total persediaan rudal ini sekitar satu bulan lalu adalah 640 unit, ini jelas secara signifikan mengurangi inventaris rudal Patriot Amerika yang memang sudah terbatas.

Rudal-rudal yang harganya sangat mahal ini memiliki sistem yang amat rumit, dan banyak komponen utamanya tampaknya sebagian besar dibuat secara manual. AS membutuhkan waktu dua tahun untuk memproduksi satu rudal semacam ini. Artinya, bahkan jika Amerika berencana meningkatkan produksi rudal pencegat Patriot PAC-3, mereka tidak akan mampu memproduksinya cukup cepat untuk mengimbangi laju pemakaiannya sekarang.

Perkembangan yang jauh lebih mengkhawatirkan bagi Amerika adalah fakta bahwa akurasi dan jangkauan rudal Iran telah meningkat secara luar biasa.

Mereka secara rutin berhasil mengenai sasaran, termasuk pangkalan Amerika, dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi serta pemahaman yang tepat mengenai titik-titik terlemah dalam pertahanan Amerika, yang hanya mungkin diperoleh melalui bantuan langsung dari Rusia, dan mungkin juga dari Tiongkok.

Perkembangan ini membuat semua orang cemas di Pentagon, karena teknologi ini membuat rudal Iran jauh lebih berbahaya bagi kapal-kapal perang Amerika dan pangkalan-pangkalan mereka di kawasan tersebut.

Menurut The Wall Street Journal, ada sebuah pertemuan di Gedung Putih di mana, terlepas dari berbagai pernyataan berani yang terus diucapkan Presiden Trump mengenai kemenangan AS dalam perang ini, Trump tampaknya secara pribadi diberi tahu bahwa perang dengan Iran dapat terus berlangsung hingga sisa masa jabatannya.

Fakta inilah, dan bukan keinginan untuk berdamai, yang menjelaskan kegagalan Trump – setidaknya untuk saat ini – dalam merealisasikan ancamannya untuk melancarkan serangan dahsyat terhadap Iran.

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan

Situasi ini sudah cukup buruk. Namun, menambah beban bagi Trump, tiba-tiba terdengar kabar mengenai perkembangan yang sangat mengkhawatirkan dari wilayah penting lain di kawasan tersebut.

Di tengah konflik yang terus berlangsung antara Iran dan AS, serta masih tertutupnya Selat Hormuz, konflik baru tiba-tiba meletus antara Saudi dan gerakan Houthi di Yaman.

Kemajuan yang dicapai Houthi yang didukung Iran ini merupakan bagian dari perang saudara mereka yang terus berlangsung di Yaman melawan Dewan Kepemimpinan Presiden yang didukung Saudi.

Sejak 2015 hingga penandatanganan gencatan senjata yang rapuh pada 2022, Arab Saudi merupakan kekuatan utama di balik kampanye udara dan darat yang brutal terhadap Houthi. Gencatan senjata yang rapuh itu bertahan hingga tahun ini.

Namun, gencatan senjata tersebut dipatahkan oleh serangan tanpa provokasi dari pesawat pembom Saudi terhadap bandara Sanaa, ibu kota wilayah kekuasaan Houthi. Kini, gencatan senjata itu telah hancur total oleh ofensif Houthi yang bergerak cepat dan tampaknya tak terbendung.

Sulit untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai perang ini, tetapi tampaknya sudah pasti bahwa Houthi bergerak dengan kecepatan kilat, merebut sebagian besar wilayah dan, yang paling penting, menduduki wilayah yang luas, menyapu bersih perlawanan yang tidak efektif dari pasukan pemerintah dan bergerak ke selatan. Kini, mereka telah mencapai ujung paling selatan Yaman di sepanjang pesisir Laut Merah.

Pemerintah Yaman yang didukung Saudi kini hanya dapat berupaya untuk merebut kembali wilayah yang telah direbut para militan Houthi akibat pergerakan cepat mereka beberapa hari terakhir.

Beberapa laporan menyatakan bahwa sebagian lawan Houthi melancarkan serangan balasan di tempat-tempat lain. Namun, terlepas dari itu, Houthi tampaknya merupakan kekuatan militer paling kuat di Yaman saat ini.

Sebenarnya, jika ada pasukan yang ada dalam kondisi kacau-balau di Yaman, itu bukan pasukan Houthi. Justru pasukan-pasukan anti-Houthi – sebagian didukung Arab Saudi, sebagian lainnya oleh Uni Emirat Arab – yang, di tengah perang, terlalu sibuk saling bertempur dan saling membunuh demi memperebutkan lebih banyak rampasan perang sehingga mereka tidak dapat memusatkan perhatian mereka untuk menghadapi Houthi.

Kemajuan pasukan Houthi  membuat mereka kini mengendalikan seluruh pesisir Laut Merah Yaman. Kini mereka hanya 32 kilometer jauhnya dari pangkalan militer Amerika Serikat di Djibouti, negara kecil di Tanduk Afrika, di seberang Selat Bab el-Mandeb, bagian selatan Laut Merah.

Pada 15 September, The Guardian mengungkapkan kekhawatiran yang semakin besar dari pemerintah-pemerintah Barat mengenai konsekuensi serangan pasukan Houthi:

“Kelompok militan Houthi Yaman telah merebut dua pulau strategis di Laut Merah, memperkuat kemampuan kelompok yang didukung Iran ini untuk mengendalikan jalur pelayaran vital, di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa dunia sedang menghadapi krisis pasokan minyak baru.

“Perebutan Pulau Hanish Besar dan Hanish Kecil merupakan perkembangan terbaru dari pergerakan cepat kelompok militan tersebut di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman, setelah mereka merebut pelabuhan Mokha dan Pulau Perim di Selat Bab-al-Mandeb.

“Pulau-pulau tersebut terletak 160 km di sebelah utara selat, yang merupakan titik sempit (chokepoint) yang menghubungkan Laut Merah dengan lautan terbuka dan pasar-pasar utama Saudi di Asia.”

Selat ini merupakan titik sempit yang krusial di sepanjang jalur laut yang menghubungkan Laut Mediterania dengan Samudra Hindia. Dengan ditutupnya Teluk Hormuz secara de facto, selat ini menjadi satu-satunya alternatif untuk pergerakan minyak, LNG, dan berbagai barang lain yang keluar dari atau transit melalui kawasan tersebut.

Arab Saudi, khususnya, telah mengalihkan sekitar 64 persen ekspor minyaknya melalui jaringan pipa darat yang membentang dari timur ke barat, yang menyalurkan minyak ke Pelabuhan Yanbu dan kemudian mengirimnya melalui Selat Bab el-Mandeb.

Pipa ini sangatlah penting karena digunakan oleh Saudi untuk mengalirkan minyak ke pelabuhan-pelabuhan di Laut Merah. Namun, pipa tersebut diserang oleh rudal, yang tampaknya diluncurkan oleh kelompok militan pro-Iran di Irak, yang telah menggunakan rudal balistik dan drone untuk menyerang target-target militer dan ekonomi vital.

Kerusakan serius yang ditimbulkan terhadap pipa-pipa minya tersebut pada praktiknya telah melumpuhkan ekspor minyak Saudi ke Asia. Pemerintah Saudi secara efektif telah mengonfirmasi besarnya kerusakan tersebut dengan menutup seluruh operasional pipa itu. Dan kerusakan ini akan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk diperbaiki – itu pun jika tidak ada serangan susulan yang kembali merusaknya.

Kemajuan ini telah meningkatkan secara luar biasa potensi kendali Houthi atas jalur keluarnya kapal tanker melalui Selat Bab el-Mandeb.

Kelompok Houthi mengatakan bahwa sasaran mereka adalah kapal-kapal Saudi dan minyak Saudi – mereka telah melancarkan serangan terhadap truk dan fasilitas minyak di dalam wilayah Arab Saudi.

Padahal, negara-negara di seluruh Eropa, Asia, dan Afrika sangat bergantung pada arus barang yang melewati Selat Bab el-Mandeb. Pasokan dari Arab Saudi, eksportir minyak terbesar di dunia, sangat vital bagi perekonomian Afrika dan Asia, yang mengandalkan impor minyak dari Timur Tengah.

Namun, hal ini menjadi ancaman bagi perekonomian dan perdagangan dunia secara lebih luas. Pemberontak Houthi kini berada dalam posisi untuk mengganggu, bahkan mengendalikan, lalu lintas pelayaran global yang keluar-masuk selat tersebut. Dengan menggunakan metode asimetris yang ringan seperti drone, rudal anti-kapal, dan kapal serang cepat, lalu lintas maritim dapat dihentikan dalam waktu singkat.

MbS Dalam Kondisi Panik

Ini merupakan krisis terbesar yang dihadapi Arab Saudi sejak berdirinya kerajaan tersebut pada tahun 1930-an. Krisis ini menimbulkan kegelisahan di kalangan penguasa Arab Saudi, khususnya Putra Mahkota sekaligus penguasa de facto, Mohammed bin Salman Al Saud, yang juga dikenal sebagai MbS.

Penguasa Saudi itu ternyata berkaki tanah liat. Bahkan, ia sedang panik. Alasannya pun mudah dipahami.

Kini sudah menjadi rahasia umum bahwa sebelum Amerika melancarkan serangannya terhadap Iran pada 28 Februari, MbS dan para pemimpin Arab Teluk lainnya telah mendesak Trump untuk mengambil tindakan tersebut. Hal itu merupakan salah satu faktor yang memengaruhi keputusan Donald Trump untuk melanjutkannya. MbS jelas berasumsi bahwa serangan Amerika akan berakhir dengan kemenangan cepat dan keruntuhan rezim Iran.

Namun, kenyataannya justru sangat berbeda. Rezim Iran tidak digulingkan, tetapi justru diperkuat. Selat Hormuz ditutup dan fasilitas minyak Saudi diserang. Kini krisis telah menyebar ke Yaman, dan akses ke Laut Merah dari arah selatan terancam oleh pasukan Houthi. Pipa minyak vital yang menjadi tumpuan Arab Saudi telah dilumpuhkan.

Kelompok Houthi semakin sering menyerang fasilitas minyak Saudi, yang akan semakin sulit dilindungi Saudi, mengingat kelangkaan rudal pencegat Patriot PAC-3.

Dalam keputusasaan, MbS “secara pribadi mendesak Presiden Trump untuk mengambil tindakan militer terhadap kelompok Houthi yang didukung Iran ketika pasukan Houthi bergerak cepat di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman, […] seraya menambahkan bahwa Trump dan sang putra mahkota telah berbicara beberapa kali dalam beberapa hari terakhir mengenai situasi yang semakin memanas ini.”

Namun, semua permohonan ini tak digubris, lanjut artikel tersebut:

“Terlepas dari desakan bin Salman, Trump sejauh ini menolak melibatkan militer AS secara langsung, dan sebagai gantinya menawarkan bantuan dalam bentuk dukungan intelijen dan penetapan target.”

Kesalahan terbesar yang dapat dilakukan seseorang dalam perang adalah meremehkan musuh. Dan Amerika telah melakukan kesalahan ini berkali-kali.

Mereka meremehkan Rusia ketika mereka memprovokasi perang yang tak masuk akal, menggunakan rakyat Ukraina sebagai umpan meriam. Hasilnya kini dapat dilihat dengan jelas.

Mereka secara konsisten berusaha mengecilkan kekuatan dan pencapaian ekonomi Tiongkok, yang kini merupakan negara paling kuat secara industri di dunia, dengan tingkat teknologi yang setidaknya setara – dan kemungkinan lebih unggul – daripada Amerika Serikat.

Mereka juga meremehkan Taliban di Afghanistan, di mana mereka menderita kekalahan yang memalukan, dan hingga kini mereka meremehkan Houthi. Media Barat terus menggambarkan Houthi sebagai pasukan compang-camping yang tidak terorganisir, tanpa keterampilan militer atau kemampuan untuk menghadapi kekuatan dan persenjataan canggih yang luar biasa dari negara seperti Amerika Serikat.

Namun, pengalaman menunjukkan bahwa gambaran ini sepenuhnya salah – merupakan produk arogansi imperialis dan rasa superioritas bawaan yang keliru terhadap bangsa yang dianggap ‘terbelakang’. Karikatur absurd dan jahat yang disajikan media ini sangat bertolak belakang dengan fakta-fakta yang diketahui.

Sesungguhnya, Houthi merupakan kekuatan militer yang sangat disiplin, dengan pejuang-perjuang tangguh dan tak kenal lelah. Selain fanatik dan tangguh, mereka menguasai taktik dan strategi militer. Mereka terus bertempur, kendati dibombardir dari udara, laut, maupun darat. Bertahun-tahun perang telah mengubah mereka menjadi kekuatan militer yang tangguh.

Terlebih lagi, dengan bantuan Iran – dan tak diragukan lagi Rusia serta Tiongkok – mereka kini memiliki sistem pertahanan udara sendiri yang efektif, sehingga setiap serangan udara kini akan menuntut harga yang sangat mahal.

Fakta-fakta ini baru belakangan dipahami oleh Pentagon, yang akhirnya mulai memahami pentingnya sikap hati-hati dalam perang. Mereka telah menyampaikan keraguan mereka, tak diragukan lagi dengan cara yang sangat tegas, kepada presiden sendiri.

Donald Trump melihat situasi tersebut sekilas dan berkata: ‘Terima kasih, tapi tidak!’ Amerika sudah kewalahan dengan satu perang (yang sebenarnya dua perang) dan tidak ingin terseret ke dalam konflik bersenjata lain, yang belum pasti dapat mereka menangkan. Itulah, tentu saja, posisi Pentagon, jika bukan posisi Donald Trump sendiri.

Penolakan ini pasti menghantam MbS seperti pukulan telak di ulu hati. Ia kini pasti merasa sangat ketakutan, ditinggalkan oleh sekutunya di Gedung Putih, dan dipaksa menghadapi musuh yang kejam dan tak kenal kompromi tanpa harapan nyata akan bantuan.

Yang paling mendesak dibutuhkan MbS adalah memperkuat pertahanannya. Seperti Zelensky, ia memohon pengiriman lebih banyak rudal Patriot. Namun, seperti telah kita lihat, persediaan rudal ini sangat terbatas. Permintaannya kemungkinan besar tidak akan dipenuhi, apalagi dalam jumlah yang ia butuhkan.

Urusan yang Belum Tuntas

Perebutan jalur pelayaran vital di Laut Merah oleh kelompok Houthi menandai titik balik dalam konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Meskipun Iran tidak pernah mengakui keterlibatan apa pun, tampaknya tidak terpikirkan bahwa Houthi akan bertindak tanpa persetujuan eksplisit dari Teheran.

Iran dan Houthi kini sama-sama memiliki cengkeraman atas dua jalur vital bagi pelayaran global. Hal ini memberi mereka daya tawar yang sangat kuat atas musuh-musuh mereka melalui tekanan terhadap perekonomian global, dan khususnya terhadap Amerika Serikat.

Fakta ini menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi dari Iran maupun Houthi: semua ini menunjukkan bahwa mereka tidak akan gentar menghadapi perang berkepanjangan dengan Amerika Serikat.

Trump telah menyatakan keengganannya untuk lebih jauh melibatkan militer Amerika ‘kecuali diperlukan’. Namun, apa sebenarnya yang ia maksud dengan kata ‘diperlukan’?

Setelah menolak permintaan Putra Mahkota Saudi untuk bergabung dalam serangan Saudi terhadap target-target Houthi di Yaman, Trump melaporkan bahwa Houthi telah meminta Amerika Serikat untuk tidak melakukan intervensi.

Apakah ini berarti bahwa pada akhirnya sikap yang lebih tenang dan rasional telah menang di Ruang Oval? Apakah kita berhak menyimpulkan bahwa Trump telah menutup kemungkinan perang baru?

Walaupun akan menyenangkan untuk berpikir demikian, pengalaman masa lalu telah mengajarkan kita untuk sangat berhati-hati dalam menarik kesimpulan mengenai tindakan Trump di masa depan.

Bukankah mungkin bahwa, terlepas dari seluruh bukti yang ada, karena khawatir akan konsekuensi keruntuhan Saudi, Trump pada akhirnya memutuskan untuk campur tangan secara langsung, terlepas dari konsekuensinya?

Pernyataan-pernyataan yang keluar dari Washington sama samar dan gelapnya dengan ucapan misterius Oracle Delphi. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan bahwa Amerika Serikat memantau situasi di Yaman “dengan sangat dekat.” Namun, Departemen Luar Negeri tetap bungkam mengenai apa sebenarnya yang tersirat dari pernyataan-pernyataan tersebut.

Laksamana Bradley Cooper, komandan Komando Pusat Amerika Serikat, berada di Arab Saudi pekan lalu untuk mendiskusikan koordinasi. Apa yang dibicarakan dalam pertemuan-pertemuan itu? Tampaknya tidak ada yang tahu. Bagaimanapun juga, tidak ada pernyataan publik mengenai hal tersebut.

Seorang pejabat senior pemerintahan mengatakan bahwa Amerika Serikat “fokus pada perlindungan kepentingan keamanan nasional utama – seperti memastikan kebebasan navigasi di Laut Merah – sambil memberdayakan mitra-mitra regional kami untuk memimpin dalam mengelola dan menyelesaikan tantangan keamanan regional.”

Pejabat tersebut mengatakan bahwa Amerika Serikat “terus berdialog dengan Arab Saudi dan Pemerintah Republik Yaman mengenai stabilitas regional.” Namun, apa artinya dalam praktiknya?

Saudi sedang mati-matian berusaha membangun koalisi melawan kelompok Houthi dan melindungi kerajaan ini dari serangan Iran.

Betapapun tergodanya Trump untuk menghindari keterlibatan dalam konflik tambahan, ia pasti memahami bahwa tindakan semacam itu akan dianggap sebagai pengkhianatan, bukan hanya oleh pihak Saudi tetapi juga oleh setiap negara Teluk yang selama ini secara tradisional mendukung Amerika Serikat.

Kekalahan Saudi di tangan Houthi dan Iran adalah sesuatu yang sama sekali tidak dapat diterima oleh Trump dan Amerika Serikat.

Karena alasan itu, Trump kemungkinan tidak punya pilihan selain mengerahkan kekuatan militernya untuk membantu Arab Saudi. Dalam pidatonya baru-baru ini di konvensi Republik menjelang pemilu sela, Trump mengatakan:

“Kita telah membangun militer terkuat di dunia. Kita menggunakannya sedikit lebih sering daripada yang saya perkirakan. Namun, kita tidak boleh membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, dan mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.”

Ini jelas menunjukkan bahwa Donald J. Trump berpikir Amerika Serikat masih memiliki urusan yang belum selesai di Timur Tengah yang harus dibereskan.

Terlepas dari semua nasihat Pentagon, Trump sama sekali belum mencampakkan rencananya untuk memperbarui serangan terhadap Iran, demi memaksa Teheran tunduk pada kehendaknya.

Pembahasan terus-menerus tentang senjata nuklir hanyalah pengalih perhatian untuk menyembunyikan tujuan yang sebenarnya – yaitu, tentu saja, membuka kembali Selat Hormuz dan, jika mungkin, melakukan pergantian rezim di Iran.

Salah satu definisi kegilaan adalah terus mengulangi kesalahan yang sama yang telah berulang kali gagal, dengan keyakinan bahwa pada akhirnya mereka akan berhasil. Dari sudut pandang ini, perilaku Donald Trump secara harfiah dapat disebut gila.

Namun, ini tidak pernah menghentikannya sebelumnya. Dan tidak ada alasan untuk menganggap bahwa ini akan menghentikannya sekarang dalam mengejar tindakan yang ia anggap ‘diperlukan’, usai berakhirnya pemilu sela.

Apa pun rencana yang mungkin berputar-putar dalam benak Presiden yang rumit dan hiperaktif itu, satu hal sudah sangat jelas: ia tidak akan pernah mencapai tujuannya melalui cara-cara militer. Jika hal itu mungkin dilakukan, ia pasti sudah mencapainya sejak lama.

Saudi dan sekutu-sekutunya telah berulang kali membombardir kelompok Houthi tanpa ampun. Amerika mengerahkan banyak persenjataan yang mahal untuk menyerang Houthi pada musim semi tahun 2025, dengan hasil yang sangat minim.

Itu sama sekali tidak mematahkan semangat mereka. Karena itu, sungguh bodoh membayangkan bahwa pemboman kembali akan mengubah arah perang di Yaman.

Kini sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Amerika Serikat mulai kehabisan senjata-senjata penting, seperti pencegat Patriot, rudal THAAD, dan rudal jelajah, yang akan sangat penting dalam konflik berkepanjangan apa pun.

Bagaimanapun juga, seluruh sejarah menunjukkan bahwa perang tidak pernah dapat dimenangkan hanya dengan menggunakan kekuatan udara. Setiap kampanye militer serius terhadap Houthi pada akhirnya akan melibatkan pengerahan pasukan darat – strategi yang benar-benar sangat berisiko.

Council on Foreign Relations Amerika Serikat menerbitkan sebuah artikel pada 22 September yang dengan tepat menunjukkan bahwa:

“Kampanye udara terhadap Houthi dan Iran telah menunjukkan bahwa ada batas-batas dalam jenis peperangan seperti ini. Jika Trump dan Saudi ingin menyelesaikan persoalan Houthi, mereka akan membutuhkan jauh lebih banyak daripada sekadar serangan udara.”

Dan artikel tersebut menambahkan:

“Setiap upaya militer Amerika Serikat harus mencakup operasi darat yang signifikan dan terkoordinasi untuk menyingkirkan Houthi dari wilayah-wilayah yang mereka kuasai di Selat Bab el-Mandeb. Itu merupakan tugas yang sangat berat mengingat lemahnya pasukan pemerintah Yaman dan keengganan Arab Saudi untuk mengerahkan militernya sendiri ke dalam pertempuran.”

Dalam jangka pendek, serangan udara terhadap Houthi di Yaman mungkin saja menyelamatkan Saudi dari kekalahan yang sudah di depan mata. Namun, hal itu akan membawa konsekuensi lain yang jauh lebih serius.

Konsekuensinya

Semakin jelas bahwa tindakan-tindakan yang diusulkan Donald Trump memiliki konsekuensi yang entah tidak mampu atau tidak mau ia lihat.

Setiap serangan akan mendorong Iran dan Houthi serta sekutu-sekutu regional mereka – milisi Syiah di Irak dan Hezbollah di Lebanon – untuk melakukan pembalasan yang jauh lebih drastis.

Ketika mereka meminta Amerika untuk tidak ikut campur dalam konflik, kepemimpinan Houthi berusaha keras meyakinkan Washington bahwa mereka tidak bermaksud memblokir seluruh pelayaran komersial di Laut Merah, melainkan hanya kapal-kapal yang memiliki hubungan dengan Saudi.

Jika Houthi diserang oleh Amerika Serikat, kemungkinan besar Iran akan memutuskan bahwa mereka juga harus membalas, karena tidak melakukannya akan dianggap sebagai pengkhianatan terhadap Houthi, sesuatu yang tidak dapat mereka toleransi. Hal ini tentu bahkan lebih mungkin terjadi jika serangan langsung dilancarkan terhadap Iran.

Pada titik itu, tak akan ada lagi batasan. Houthi tidak akan ragu menutup Laut Merah bagi pelayaran Amerika dan negara-negara Barat lainnya, sehingga membawa krisis ekonomi dunia ke tingkat yang jauh lebih parah.

Iran mungkin merespons bukan hanya dengan menyerang fasilitas minyak Saudi (tangki penyimpanan, pelabuhan, kapal tanker, dan jaringan pipa yang rentan), tetapi juga – yang jauh lebih serius – fasilitas-fasilitas vital seperti instalasi desalinasi air. Hal ini akan menimbulkan konsekuensi katastropik bagi Arab Saudi dan setiap sekutunya di kawasan Teluk.

Akankah Ini Menjadi Perang Singkat?

Satu hal sudah pasti. Begitu perang meluas, tidak akan ada akhirnya. Gagasan mengenai semacam kampanye militer singkat dan sukses merupakan fatamorgana konyol yang bertentangan dengan seluruh fakta yang ada.

Baik Iran maupun Houthi telah menunjukkan kemampuan mereka untuk bertahan menghadapi bahkan perang yang paling brutal sekalipun. Mereka tidak kekurangan kemauan maupun kemampuan, dalam hal kapasitas militer, untuk melancarkan perang yang berkepanjangan.

Sebaliknya, Amerika Serikat tidak memiliki kedua hal tersebut. Dari sudut pandang militer, perang semacam itu akan menjadi bencana bagi Amerika Serikat. Para pemimpin Pentagon telah berulang kali memperingatkannya.

The Washington Post melaporkan bahwa para komandan senior militer Amerika telah memperingatkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth bahwa operasi berskala besar terhadap Iran tidak dapat dipertahankan tanpa batas waktu, dan bahwa terus memusatkan pasukan di Timur Tengah dapat melemahkan kemampuan militer Amerika untuk merespons ancaman di tempat lain di dunia, termasuk mempertahankan Amerika Serikat itu sendiri.

Kekhawatiran Pentagon sepenuhnya beralasan. Namun, dampak yang paling serius akan terasa dalam ranah politik dan dalam kesadaran jutaan orang.

Perang Iran tidak mendapat dukungan dari opini publik di Amerika Serikat. Sekitar 60 persen rakyat Amerika menentang tindakan militer tersebut, menjadikannya salah satu konflik besar yang paling tidak populer dalam sejarah belakangan ini.

Penolakan ini juga tersebar luas di kalangan basis pemilih Trump, yang tidak melupakan janjinya untuk mengakhiri ‘perang tanpa akhir’, khususnya di Timur Tengah.

Segala sesuatu menunjuk pada siklus eskalasi besar di Timur Tengah, di mana sebab menjadi akibat, dan akibat menjadi sebab dalam spiral kekerasan dan kekacauan yang mengerikan. Siapa yang dapat mengatakan ke mana arah semua ini?

Gejolak dalam Perekonomian Dunia

Sementara itu, perekonomian global menghadapi kenaikan harga bahan bakar yang tak terkendali dan inflasi yang melonjak.

Harga minyak kembali menembus $100 per barel. Dan ini baru permulaan. The Guardian, pada 15 September, menyatakan:

“Perusahaan riset Rystad Energy mengatakan pada hari Senin bahwa sejak akhir Agustus, rata-rata 2,6 juta hingga 4 juta barel minyak per hari bergerak melalui jaringan pipa dan keluar dari Pelabuhan Yanbu – volume yang menurut mereka kini berisiko ‘menghilang dari pasar’.

“Pada Selasa pagi, harga minyak mentah Brent naik 1,17 persen menjadi $106,92 per barel. Harga rata-rata diesel di AS mencapai $6 per galon untuk pertama kalinya pada minggu lalu.”

Jadi bahkan sebelum pemilu sela November, harga bensin dan diesel di Amerika telah mencapai level nominal tertinggi sepanjang sejarah.

Dan kelangkaan minyak global akan semakin memburuk. Bank of America memperkirakan harga minyak mencapai $150 per barel. Jika ditinjau kembali, prediksi ini mungkin malah terlalu optimistis. Jika keadaan terus memburuk, harga minyak bisa saja menembus $200 per barel.

Krisis di Timur Tengah, kenaikan harga energi, dan masalah di pasar obligasi berarti setiap pemerintah (kecuali Rusia dan Tiongkok) akan menghadapi krisis yang serius dan semakin membesar. Pecahnya kembali perang di kawasan tersebut, dan akibat runtuhnya produksi serta distribusi minyak, akan memperparah semua masalah ini secara luar biasa.

Bank-bank sentral akan terpaksa menaikkan suku bunga. Hal ini, pada gilirannya, akan menyebabkan kontraksi tajam dalam permintaan, memicu pergeseran yang tak terbendung menuju resesi, penurunan laba, runtuhnya kepercayaan investor, dan krisis pasar saham.

Penutupan pabrik, lonjakan pengangguran, serta penurunan taraf hidup dan penerimaan pajak akan disertai pemangkasan besar-besaran belanja publik untuk pendidikan, kesehatan, dan tunjangan sosial lainnya.

Pergeseran Tajam dalam Kesadaran

Ini terutama berlaku bagi Eropa, di mana cadangan gas alam sudah sangat tipis dan mengkhawatirkan. Kepanikan mengenai kekurangan gas di Eropa sudah meningkat, tetapi pemerintah-pemerintah Eropa menghindari membicarakannya karena khawatir memicu keresahan publik.

Rakyat Eropa harus bersiap menghadapi musim dingin yang sangat berat. Awan badai sedang berkumpul dan tampak semakin pekat.

Tentu saja, para pemimpin Eropa mungkin mencoba mengalihkan perhatian dari krisis ekonomi di dalam negeri dengan melibatkan diri dalam perang di Timur Tengah, dengan dalih ‘membela kebebasan laut’.

Hal ini mengingatkan kita pada pepatah terkenal bahwa orang bodoh nekat memasuki tempat yang bahkan ditakuti para malaikat. Setelah melakukan setiap kesalahan yang mungkin dibayangkan dalam kebijakan luar negeri – dan cukup banyak kesalahan yang sejujurnya bahkan tak terbayangkan – orang-orang dungu ini sangat mungkin menceburkan diri ke dalam petualangan militer pada saat tentara mereka sendiri berada dalam kondisi menyedihkan, kas negara kosong, dan masyarakat sama sekali tidak berminat mendukung petualangan semacam itu.

Namun lagi-lagi, tampaknya kebodohan orang-orang ini benar-benar tidak mengenal batas.

Tetapi petualangan militer semacam itu tak pelak akan menimbulkan konsekuensi politik yang sangat serius bagi setiap negara di Eropa.

Perubahan situasi yang tajam dan mendadak sudah tersirat dalam keseluruhan situasi. Semua itu merupakan manifestasi paling nyata dari ketidakstabilan inheren dalam sistem sosial-ekonomi yang sudah usang dan merintangi kemajuan umat manusia.

Namun, semua ini juga akan membawa perubahan yang sama mendadak dan tajam dalam kesadaran. Dengan tidak adanya alternatif sayap kiri yang layak, jalan terbuka bagi para demagog sayap kanan seperti Trump atau AfD di Jerman.

Para demagog sayap kanan ini dapat muncul secara tiba-tiba dan meraih keberhasilan untuk sementara waktu. Namun, pada akhirnya mereka akan berhadapan dengan kontradiksi-kontradiksi kapitalisme yang sama dan mereka tidak punya solusi untuk memecahkan kontradiksi tersebut. Mereka akan runtuh secepat mereka muncul.

Kini kita dapat melihat betapa cepat ilusi terhadap Trump (yang sebelumnya cukup besar) mulai menguap dan berubah menjadi mood kemarahan, khususnya mengenai perang melawan Iran.

Perang yang tidak memiliki tujuan yang jelas, dan tanpa adanya kepastian kapan akan berakhir, akan menciptakan kemarahan publik dan demonstrasi massal yang belum terlihat sejak Perang Vietnam. Ini akan menandai kehancuran total karier politik Trump.

Seperti dalam mekanika dasar, demikian pula dalam politik, setiap tindakan menghasilkan reaksi yang sama besar dan berlawanan arah. Begitu pesona Trumpisme pecah, pintu bendungan akan terbuka, menciptakan arus deras radikalisme yang akan mengguncang masyarakat Amerika hingga ke fondasinya, membuka jalan bagi ayunan tajam pendulum dari kanan ke kiri.

Prediksi apokaliptik Trump mengenai bangkitnya komunisme di Amerika Serikat tidak akan lagi dipandang seperti selama ini – ocehan delirium seorang politikus bangkrut yang putus asa mencari cara untuk mengalihkan perhatian publik dari masalah-masalah nyata yang dihadapi rakyat Amerika Serikat.

Sebaliknya, semua itu akan dipandang sebagai antisipasi yang akurat terhadap meningkatnya radikalisasi ke kiri di kalangan luas kaum muda, serta meningkatnya minat terhadap gagasan komunisme dan revolusi.

Fenomena yang sama akan terlihat di banyak negara lainnya. Pemilu baru-baru ini di Jerman merupakan peringatan bahwa ada keresahan yang semakin besar di antara rakyat; kekecewaan terhadap partai, pemimpin, dan pemerintahan yang ada semakin besar; dan sikap apati kini sedang digantikan oleh semangat pemberontakan yang baru dan penuh semangat.

Singkatnya, kondisi saat ini tengah menjadi resep pasti untuk meledaknya perjuangan kelas dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Politik 2026: Terus Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme