Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

Demonstrasi 28 Oktober: Apa yang bisa kita lakukan agar kita menang?

Dipublikasi 31 October 2026 | Oleh : Redaksi Sosialis Revolusioner

Aksi 28 Oktober sekali lagi menunjukkan keberanian mahasiswa dalam melawan rezim. Di Jakarta, ribuan orang memadati Bundaran HI. Sejauh mata memandang terlihat lautan massa memenuhi Bundaran HI hingga tumpah ruah di ruas jalan Sudirman dan Thamrin. Di Yogyakarta, demonstran dihadapkan dengan preman bayaran dan pertempuran jalan tidak dapat dihindari. Di Bandung, selusinan pemuda ditangkapi. Mood massa sangat radikal. Sepanjang jalan mereka berteriak, “Revolusi! Revolusi! Revolusi!”. Yah, ini mood kaum muda yang ada juga di Prancis, Albania, Spanyol, India dan banyak negara lainnya hari ini.

Jangan tanyakan bagaimana media mainstream meliput ini. Mereka menyebut ini hanya protes ratusan orang saja dan mengecilkan skala protes. Banyak yang bungkam, bahkan kalau ada yang disorot, mereka hanya menyoroti apa yang mereka anggap sebagai ‘kekacauan’ dan ‘anarki’. Padahal sumber anarki sebenarnya adalah kelas penguasa melalui preman-preman bayaran, polisi dan tentara mereka. Apa peduli media terhadap masalah ini. Tidak ada!

Rejim ini gagal menyelesaikan karhutla, tingginya biaya hidup, pengangguran dan kemiskinan. Media yang ada adalah medianya kelas penguasa, dimiliki bisnis besar dan kapitalis. Tujuan mereka adalah meredam suara protes ini supaya tidak menyebar dai diketahui rakyat pekerja luas.

Ini merupakan protes terbesar mahasiswa dari rangkaian demonstrasi sebelumnya, dan bukan satu-satunya yang akan kita lihat di hari depan. Ada kemarahan, kemuakan dan kebencian yang mendalam terhadap rejim hari ini.

Seperti yang diungkapkan oleh seorang ibu rumah tangga yang terlibat dalam demonstrasi ini. Ia mengeluh tidak dapat menyekolahkan anak-anak karena biaya terlalu tinggi.

“Harus kerja dari pagi hingga malam hanya untuk bayar pajak doang!” tukasnya. “Ayolah Prabowo! Ada uang trilliunan bisa menyelesaikan karhutla. Ada bayi usia 1 tahun meninggal. Itu nyawa. Itu ulah bapak. Sudah jangan bodoh-bodohin rakyat.”

Meskipun demonstrasi ini lebih besar dari yang sebelumnya, rejim tidak menggubris. Prabowo berharap gerakan mahasiswa ini akan melempem dengan sendirinya. Penguasa mengerahkan media dan para politisi bayaran mereka untuk membela rejim korup ini. Dalam debat dengan pemimpin BEM UI Fathimah, Budiman berupaya membela Prabowo yang dulu menculiknya: “Masalahnya Pak Prabowo tidak punya waktu dengan lima tahun, kalau bisa kepilih lagi bagus, karena apa yang dilakukan tidak bisa panennya dalam satu periode.” Ini sendiri merupakan pengakuan bahwa rejim ini telah gagal untuk menyejahterakan rakyat, seperti halnya pendahulu-pendahulunya.

Untuk dapat mengakhiri karhutla, tingginya biaya hidup, kemiskinan, pengangguran dan korupsi, kita tidak dapat bersandar pada rejim kapitalis ini. Gerakan harus dimobilisasi lebih besar lagi untuk melibatkan kelas pekerja. Ini harus menyebar menjadi aksi-aksi industri dan pada akhirnya pemogokan umum. Di Prancis, gerakan mahasiswa yang diawali dari sekolah-sekolah, kampus serta pertempuran jalanan sekarang telah mendorong aksi kelas pekerja. Pemogokan umum di Prancis ada dalam agenda. Revolusi Gen-Z di Prancis telah menunjukkan langkah yang harus kita ambil.

Mahasiswa dan pelajar dapat memainkan peran penting dalam gerakan karena energi mereka yang meledak-ledak merupakan inspirasi bagi segenap rakyat pekerja. Tetapi rejim hanya dapat sepenuhnya terpukul ketika pabrik-pabrik tidak lagi beroperasi, ketika transportasi tidak berjalan, ketika listrik tidak menyala, dan pada akhirnya kekuatan itu ada di tangan kelas pekerja. Pemogokan pekerja akan melumpuhkan rejim kapitalis ini dan memaksa mereka menerima tuntutan kita. Inilah senjata yang paling pamungkas. Untuk mengarah ke sana, mahasiswa perlu membawa gerakan ini ke kelas buruh dan memulai persiapan-persiapan yang diperlukan.

Gerbang-gerbang kampus perlu dibuka untuk menggelar rapat-rapat umum yang melibatkan rakyat pekerja luas. Kirim delegasi-delegasi mahasiswa ke pabrik-pabrik untuk bertemu dengan buruh, dengan membagi selebaran, menggelar mimbar-mimbar bebas, dsb. Ada mood kemarahan di antara rakyat pekerja luas, dan ini harus dimobilisasi. Untuk sekarang, gerakan mahasiswa adalah yang lebih terorganisir dan maju dalam perjuangan melawan rejim Prabowo-Gibran, sementara mayoritas serikat-serikat buruh yang ada kepemimpinannya telah menjadi bagian dari rejim. Kita tidak bisa menunggu serikat-serikat ini dan kepemimpinan mereka yang memble, yang jelas sangat tertinggal dari mood para anggotanya. Kaum muda dan mahasiswa harus langsung membangun hubungan dengan kaum pekerja dan membangun persatuan yang diperlukan. Inilah yang ditakuti oleh pemerintah: kekuatan kaum muda dan pekerja.

Hubungkan gerakan mahasiswa ini dengan keresahan pekerja seputar masalah upah, inflasi, krisis biaya hidup, PHK, dan pengangguran; yang juga merupakan problem sama yang dihadapi kaum muda. Hubungkan problem korupsi dan pelanggaran hak-hak demokrasi dengan problem-problem ekonomi kelas pekerja. Pada akhirnya mereka semua berkait kelindan, dan biang kerok dari semuanya adalah krisis kapitalisme. Perspektif demikianlah yang absen dari gerakan mahasiswa hari ini.

Rakyat pekerja luas telah melihat ada yang tidak beres dengan sistem ini dengan berbagai problem yang datang dari segala penjuru, seperti dunia sedang akan kiamat: kebakaran hutan, korupsi, upah rendah, inflasi tak terkendali, kelangkaan BBM, perang, pemangkasan anggaran sosial, pengangguran, dst. Benang merah yang mengikat ini semua adalah kapitalisme yang sedang memasuki krisisnya yang terdalam. Kita memerlukan gerakan yang bisa mengartikulasi aspirasi rakyat yang mendambakan perubahan fundamental dalam sistem ini.

Gerakan mahasiswa dan pelajar Prancis selama sebulan terakhir telah menunjukkan jalan ke depan. Gerakan yang semula hanya melibatkan pelajar kini telah menjadi gerakan umum kelas pekerja. Pemogokan umum akan diluncurkan di Prancis pada 5 November, dan ini memiliki potensi revolusioner yang dapat menjatuhkan Macron. Kaum muda dan pekerja Prancis telah menunjukkan langkah yang perlu kita ambil.

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Politik 2026: Terus Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme