Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

Neraca Awal Demonstrasi 27 Agustus

Dipublikasi 28 August 2026 | Oleh : Redaksi Sosialis Revolusioner

Gerakan anti korupsi yang diinisiasi rakyat Pati kemarin telah menjadi titik mobilisasi kemarahan massa terhadap semua kejahatan kapitalisme. Di tengah-tengah kemuakan terhadap rejim, gerakan ini menjadi oase. Sejak gerakan ini dimulai, massa sudah menunjukkan simpati dan dukungan yang besar. Ada momentum besar yang terkumpul.

Gerakan ini tidak hanya menginspirasi rakyat di kota-kota, tetapi juga di pelosok kabupaten yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Dari berbagai daerah rakyat berbondong-bondong datang ke Senayan.

Pengemudi ojol memberikan dukungan mereka. Donasi — entah dalam bentuk uang maupun logistik — datang dari berbagai penjuru.

Rejim ketakutan menghadapi gerakan ini. Mereka paham gerakan ini berpotensi menjadi pengulangan insureksi Agustus tahun lalu. Ada bara sekam kemarahan telah tertumpuk sejak lama. Pemantik kecil saja dapat membuat revolusi.

Kelas penguasa pun segera melakukan operasi penangkapan menjelang demo. Lebih dari 60 orang terduga “anarko” ditangkapi. Gelombang represi dilakukan untuk mencegah gerakan ini semakin meluas. Kelas penguasa belajar dari tahun lalu: mereka tahu bagaimana api liar revolusi dapat lepas dari kendali dan mulai menjilat-jilat seluruh negeri. Kini mereka tidak ingin lagi kecolongan.

Mereka mengerahkan 18.504 personel tentara dan polisi. Penjagaan ketat dilakukan. Mereka ingin memastikan massa tidak masuk ke kompleks Senayan. Tetapi semua ini tidak dapat mencegah massa yang ingin berpartisipasi.

Para aktivis Pati, yang sebelumnya memperoleh kepercayaan diri setelah berhasil menduduki DPRD Pati, kini ingin mengekspor keberhasilan mereka untuk memaksa DPR di Jakarta memenuhi tuntutan mereka. Ketika di Pati, para pejuang Pati dengan berani menghadapi tekanan opini publik borjuis. Namun, ini berbeda ketika gerakan dibawa ke jantung kekuasaan. Di Jakarta, para aktivis Pati menghadapi tekanan opini publik yang jauh lebih besar, yang diciptakan kelas penguasa dan seluruh medianya untuk menakuti-nakuti mereka.

Tekanan opini publik borjuis adalah senjata kelas penguasa yang paling ampuh. Mereka mengatakan gerakan akan ditunggangi dan berubah menjadi kerusuhan, dibekingi ini itu, tidak murni, dsb. Semua spekulasi dimunculkan untuk menakut-nakuti aktivis Pati akan konsekuensi dari demonstrasi yang telah mereka inisiasi. Inilah mengapa dalam statemennya untuk menjelaskan keputusan mundur mereka kawan Botok menulis mengenai “situasi tidak kondusif”, “tidak ada niatan untuk MEMBUAT KERUSUHAN”, “tidak mau dibenturkan dengan massa bayaran”, tidak ingin membuat “Jakarta CAOS”. Yang menyebarkan narasi kerusuhan dan chaos ini adalah pemerintah. Biang kerok kerusuhan adalah polisi dan preman-preman bayaran mereka. Namun kelas penguasa dengan lihai menaruh tanggung jawab kekerasan ke pundak para aktivis Pati. 

Ketika para aktivis Pati ini diundang masuk ke gedung DPR, ini juga dilakukan untuk memisahkan mereka dari massa yang ada di luar, sehingga mereka lebih mudah ditekan untuk menerima janji DPR untuk mengesahkan RUU Perampasan Aset.

“Kalian telah berjuang dengan sangat baik, maka terimalah konsesi ini.” “Lihat, kalian telah menang dengan mendapatkan audiensi langsung dari DPR, ini sudah hebat.” “Perjuangan itu panjang, tidak perlu terburu-buru, tidak bisa instan, tunggu saja sampai 15 Desember.” dst. dst. Demikianlah bisik-bisik tekanan opini publik yang menekan kawan Botok dkk., tidak hanya dari pemerintah tetapi juga dari banyak kaum liberal. Dan pada akhirnya mereka pun tunduk pada tekanan ini dan menerima janji manis dari DPR, janji manis yang sebenarnya hanya diberikan untuk menggembosi momentum gerakan ini.

Peluang membawa gerakan ini ke tingkatan yang lebih tinggi menguap begitu saja. Bila kita saksikan di bawah permukaan, ada banyak kemuakan dan kemarahan. Tidak ada partai oposisi mana pun yang menangkap kemuakan dan kemarahan ini. Partai-partai yang ada sudah bersatu di belakang rezim. Partai yang berlagak oposisi seperti PDIP bungkam karena kartu As mereka telah dipegang rejim. Apalagi Partai Buruh. Semua saluran oposisi dibungkam. Oposisi liberal juga tidak kalah impotennya. Semua ini menciptakan vakum dalam gerakan. Seperti alam, politik juga membenci kevakuman. Inilah yang diisi oleh Gerakan Pati.

Demonstrasi kemarin telah menunjukkan kepada kita elan revolusioner dari massa. Terlepas AMPB menerima janji DPR, massa sama sekali tidak mempercayai DPR dan semua lembaga-lembaga pemerintahan.

Ada peluang besar gerakan ini memobilisasi jutaan orang di dalamnya. Tetapi sekali lagi gerakan mundur, bukan karena massa tidak berani dan kurang militan. Massa sangat berani. Ini ditunjukkan dalam pertempuran jalanan dengan aparat dan ormas bayaran mereka.

Tetapi masalahnya gerakan ini dipimpin oleh figur-figur aksidental. Mereka tidak sepenuhnya memahami kekuatan yang mereka gerakkan, sehingga menjadi ragu dan takut ketika gerakan mereka didukung oleh jutaan orang yang marah dan muak terhadap rejim dan sistem kapitalisme. Ini bukan pertama kalinya pemimpin yang awalnya berani, yang jujur dan tulus, ditundukkan oleh seluruh kekuatan kelas penguasa, dengan trik, manuver, dan beragam mekanisme tipu-daya yang telah mereka sempurnakan.

Keterbatasan individu-individu aksidental ini harus kita atasi bila kita ingin gerakan memenuhi cita-citanya dalam mengakhiri penindasan manusia atas manusia. Sebagai individu, pengetahuan kita memang terbatas. Tetapi bila individu ini dihubungkan dengan pengalaman historis perjuangan kelas pekerja selama 200 tahun terakhir, maka kita dapat mendobrak keterbatasan tersebut. Wadah untuk pengalaman perjuangan ini, serta semua kesimpulan darinya, adalah partai revolusioner, yang mampu secara sistematis melatih individu-individu pejuang dalam seni perang kelas dan menyatukan mereka ke dalam satu tubuh kolektif.

Selama kapitalisme terus ada dalam krisis, kondisi untuk perlawanan massa dan bahkan revolusi akan terus ada. Protes-protes yang sama seperti ini akan menjadi pemandangan normal kita di hari-hari depan. Figur-figur aksidental akan muncul dan tenggelam seiring absennya partai revolusioner.

Kita kaum revolusioner bukan pemandu sorak gerakan massa dan revolusi. Gerakan perlu dibawa ke kesimpulan akhir revolusi sosialis, dan oleh karenanya kita harus berbicara terus terang. Tidak hanya terseret ke dalam euforia.

Hubungan antara revolusi dan partai revolusioner seperti hubungan antara uap dan piston dalam mesin uap. Uap adalah sumber tenaga yang menggerakkan mesin, tetapi pistonlah yang mengubah tenaga itu menjadi gerak yang terarah. Demikian pula, revolusi memperoleh kekuatannya dari gerakan massa, tetapi partai revolusioner diperlukan untuk meneruskan, memusatkan, dan mengarahkan kekuatan tersebut menuju perebutan kekuasaan dan keberhasilan revolusi sosialis.

Tanpa itu gerakan akan kembali pada pengulangan 1998 dimana yang diperoleh pergantian kosmetik saja. Bila gerakan massa saja cukup membawa pada revolusi sosialis, kita tidak perlu repot-repot membangun partai revolusioner. Revolusi Gen Z di Nepal, Sri Lanka dan Bangladesh sebelumnya telah menujukkan fakta ini. Meskipun mereka telah berhasil menumbangkan rejim, tapi kapitalisme masih berdiri. Massa masih hidup dalam kemiskinan dan penderitaan yang sama. 

Selama kita belum membangun partai revolusioner, gelombang revolusi akan tergelincir dan berakhir dengan kekalahan dan kekecewaan. Diperlukan partai revolusioner untuk membawa revolusi ke kesimpulan akhir revolusi sosialis. Krisis kapitalisme di depan mata kita akan melahirkan berkali-kali protes dan gerakan besar. Peristiwa ini akan bergulir ada atau tanpa partai revolusioner. Maka dari itu menjadi tugas mendesak kita untuk mempersiapkan partai revolusioner tersebut.

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Politik 2026: Terus Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme