Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

Prabowo Menghasut Gelombang Kekerasan Transfobik, Apa Artinya?

Dipublikasi 14 August 2026 | Oleh : Moses Kabelen

Gelombang transphobia sedang dihembuskan kelas penguasa. Di Bogor sekelompok pemuda-pemuda bodoh mengejar dan memburu waria. Di Palu juga sama. Mereka menyerang siapa pun yang mereka anggap sebagai “boty’. Mereka mempertontonkan kekerasan ini di media sosial. Apa yang awalnya santer di media sosial kini meluas ke tindakan barbar yang riil. Tidak sulit menemukan siapa di balik semua ini. Rezim kapitalis Prabowo-Gibran yang terkutuk telah menghasut kekerasan ini.

Para agamawan bersorban hingga berpeci berdiri paling di depan dalam hingar bingar ini. Mereka bersatu padu menghembuskan kebencian terhadap kaum trans. Mereka mengutuk kaum LGBT sebagai penyimpangan moral, bahkan mengubah sebutan LGBT menjadi LGSP (Lesbian, Gay, Sodomi, dan Pencabulan). Tetapi para pembela moral ini bungkam ketika terjadi banyak pencabulan di pesantren dan gereja. Mereka bungkam terhadap korupsi dan kemiskinan. Dalam hal ini, mereka yang kaya dan berkuasa-lah yang berhak mengatakan mana yang bermoral dan yang tidak.

Tetapi semua ini ada alasannya. Kelas penguasa sedang terancam oleh gejolak sosial. Mereka gagal menyelesaikan masalah kemiskinan, pengangguran, gelombang PHK. Tontonan korupsi yang ugal-ugalan telah membuat rakyat geram. Mereka ingin mengalihkan kemarahan massa kepada sesamanya. Melalui media-media dan pers mereka menghasut massa lumpen – yakni lapisan masyarakat yang paling terbelakang – untuk mengalihkan perhatian dari akar sebenarnya dari krisis.

Ini bukan kasus khusus di Indonesia. Di AS, Trump mengalihkan kemarahan ini pada migran. Melalui agen ICE, mereka meneror migran. Migran dijadikan kambing hitam. Mereka dituduh sebagai penyebab pengangguran, kriminalitas, dan kemerosotan kondisi hidup, sementara akar persoalannya justru terletak kelas penguasa dan sistem kapitalis mereka. Di India juga sama. Orang-orang muslim dijadikan kambing hitam dan sasaran kekerasan atas berbagai persoalan sosial, sementara pemerintah gagal mengatasi ketimpangan dan persoalan ekonomi.

Siapa pun yang berjuang melawan penindasan harus berjuang melawan pogrom terhadap kaum trans. Kelas penguasa sedang mengadu-domba kita.

Ketika krisis kapitalisme semakin dalam, kelas penguasa mencari kelompok yang dapat dijadikan kambing hitam untuk mengalihkan kemarahan rakyat dari persoalan yang sebenarnya: pengangguran, kemiskinan, PHK massal, dan biaya hidup yang tinggi. Kekayaan terus mengalir di tangan segelintir orang dan para pejabat yang korup, sementara rakyat miskin di adu domba satu sama lain.

Kaum trans dijadikan sasaran ini karena mereka minoritas kecil dan lebih mudah diserang. Mereka berusaha membuat rakyat percaya bahwa persoalan hidup mereka disebabkan oleh keberadaan kaum trans, seolah-olah identitas seseorang merupakan ancaman terhadap kehidupan kita. Ini adalah kebohongan yang sengaja dihasut oleh kelas penguasa kepada kita.

Padahal yang moralnya paling bejat adalah para koruptor dengan 74 kilo emas haram mereka, kelas Epstein yang membeli anak-anak di bawah umur untuk memuaskan nafsu birahi mereka, yang berpesta pora di pulau-pulau pribadi mereka dengan orgi seks yang tak kenal malu. Mereka yang bergelimang emas dapat membeli moral yang mereka inginkan. Dengan bantuan para pemuka agama yang telah mereka suap, mereka secara munafik memaksakan nilai-nilai moral yang mereka sendiri langgar.

Kebencian terhadap trans ini akan terus ditanamkan oleh kelas penguasa selama mereka belum digulingkan. Musuh kita sebenarnya adalah kelas kapitalis bukan sesama rakyat miskin dan tertindas. Kelas kapitalis di semua negara akan menabur kebencian di antara rakyat melalui agama, ras, identitas, serta gender.

Kita menolak segala bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap kaum trans. Namun perjuangan ini tidak boleh berhenti pada seruan moral. Kita harus menghubungkannya dengan perjuangan melawan sistem kapitalisme yang terus membutuhkan kambing hitam.

Mereka yang miskin dan tertindas memiliki banyak kesamaan dibanding kelas penguasa yang kaya dan korup. Kepentingan kelas pekerja memiliki musuh yang sama: kelas penguasa dan sistem kapitalisme mereka. Kita harus menggulingkan mereka semua!

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Politik 2026: Terus Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme