Selama beberapa minggu terakhir ini, pemerintah dan media massa ribut mengutuk pembunuhan terhadap tiga ASN dan seorang supir di tangan apa yang mereka sebut “kelompok kriminal bersenjata”. Kampanye ini begitu berisik, yang memang disengaja agar mata dan telinga rakyat Indonesia tertutup dari siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas kekerasan di Papua lebih dari separuh abad, siapa penindas dan siapa yang tertindas. Ini selalu menjadi taktik imperialis dari masa ke masa.
3 ASN dan 1 sopir.
828 warga Israel, termasuk 36 anak-anak saat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Ratusan perempuan dan anak-anak warga Inggris pada 1857 dalam pemberontakan India.
Kaum revolusioner tidak akan mengutuk “kekerasan” ini sama sekali, karena seperti kata Karl Marx saat dia membela para pemberontak India pada 1857, “ini adalah refleks dalam bentuk yang terkonsentrasi atas perilaku [kolonialisme] Inggris di India.” Apa perilaku kolonialisme Inggris, Israel, dan Indonesia selama puluhan tahun? Kekerasan yang paling barbar, yang berbanding terbalik dengan klaim peradaban mereka, yang telah membunuh jutaan manusia, mencuri tanah mereka, menghina mereka, menghilangkan harkat mereka sebagai manusia.
Ketika penguasa dan media mereka meminta kita untuk mengutuk “kekerasan” tersebut, mereka sedang mempersiapkan opini publik untuk meluncurkan kampanye genosida yang lebih kejam lagi terhadap rakyat yang terjajah. Kolonialisme Inggris membantai 800 ribu rakyat India setelah pemberontakan 1857. Israel meratakan seluruh Gaza, dengan 100 ribu korban jiwa, termasuk lebih dari 20 ribu anak-anak.
Ketika Netanyahu meluncurkan kampanye genosida mereka ke Gaza, seluruh media dan politisi kapitalis selalu memulai dengan pertanyaan: “Apakah Anda mengutuk kekerasan Hamas?” Kaum revolusioner tidak akan menjawabnya, dan sebaliknya membalas: “Kami mengutuk penjajahan Israel atas Palestina yang telah membunuh dan mengusir jutaan rakyat Palestina.”
Kami mengutuk penjajahan Indonesia atas Papua. Itu saja yang perlu kita katakan. Bila ada pihak yang perlu dikutuk atas kematian rakyat sipil pendatang, itu adalah pemerintahan kapitalis kolonial Indonesia yang telah menciptakan situasi perang di Papua, satu-satunya yang bertanggung jawab atas atmosfer kekerasan di Papua.
Ketika kapitalis datang dengan mesin-mesin berat mereka untuk mengeruk kekayaan Papua – dan mereka datang pula dengan centeng-centeng militer mereka untuk melindungi operasi bisnis mereka – mereka telah memulai perang tanpa memikirkan nasib rakyat kecil di sana, baik orang asli Papua maupun pendatang. Jadi, ketika pemerintah kini meneteskan air mata untuk keempat warga sipil yang jadi korban perang ini, ini adalah air mata buaya. Pemerintah yang sama telah mengerahkan polisi dan tentara untuk menyerobot tanah petani, membubarkan aksi buruh, dan memukuli mahasiswa di seluruh bumi Indonesia.
Ini bukan masalah balas dendam. Ini masalah memahami siapa yang menciptakan dan melanggengkan atmosfer kekerasan yang ada di Papua.
Sebagai kaum revolusioner, kita memegang prinsip buruh sedunia bersatulah. Hanya dengan persatuan kelas pekerja Indonesia dan Papua maka kita akan dapat membebaskan seluruh rakyat dari penindasan dan penjajahan. Tetapi prinsip ini bekerja di dunia nyata. Selama gerakan proletariat Indonesia – yang sesungguhnya merupakan satu-satunya kekuatan yang bisa merebut kekuasaan secara revolusioner dari kapitalis dan centeng militer mereka, dan setelah berkuasa dapat menghentikan penjajahan di Papua dan menjamin hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua – masihlah terlalu lemah, maka gerakan pembebasan nasional di Papua akan mengambil berbagai bentuk selain perjuangan kelas yang tersatukan. Salah satu bentuknya adalah perjuangan bersenjata gerilya, yang datang dengan segala konsekuensinya. Inilah salah satu kondisi objektif yang kita hadapi.
Kaum sosialis revolusioner berjuang sesuai kaidah Sosialisme Ilmiah, yang dalam ideologi, strategi dan taktik jelas tidaklah selaras misalnya dengan Hamas atau perjuangan pembebasan nasional yang berdasarkan gerilyaisme. Tetapi ketidaksetujuan kami bukanlah karena mereka melakukan kekerasan, melainkan karena basis ideologi dan organisasi mereka tidak akan bisa menghasilkan kemerdekaan sejati Palestina ataupun Papua dari imperialisme. Akan ada tempatnya untuk mengkritik keterbatasan mereka, tetapi tidak dengan mengutuk kekerasan – dalam kasus ini terbunuhnya 4 warga sipil pendatang – seperti yang kini dilakukan oleh banyak kaum liberal. Tugas terutama kaum revolusioner adalah mengekspos kemunafikan rejim kapitalis Indonesia, dan meletakkan tanggung jawab kekerasan sepenuh-penuhnya di tangan mereka.
Kita tahu benar, ada satu pihak yang sungguh-sungguh bisa menghentikan semua kekerasan yang ada di Papua, ada satu pihak yang sebenarnya bisa mencegah terbunuhnya keempat warga sipil tersebut. Pihak ini adalah pemerintahan Indonesia. Namun selama pemerintahan ini melayani kepentingan kapitalis yang rakus akan kekayaan alam Papua, mereka tidak akan menjamin hak penentuan nasib sendiri bagi Papua.
