Di depan gedung DPR RI pada Kamis kemarin massa tumpah ruah. Aksi yang diinisiasi oleh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) membawa dua tuntutan utama yaitu: Sahkan RUU Perampasan Aset dan Hukum Mati Koruptor. Maraknya korupsi dalam rezim kapitalis saat ini menjadi latar belakang demonstrasi ini. Lapisan kaum muda dan rakyat pekerja di Jakarta sangat antusias menyambutnya karena seluruh kemarahan mereka pada sistem kapitalisme sekarang mengerucut pada isu korupsi.
Aksi ini diisi dengan berbagai orasi politik yang disampaikan oleh peserta aksi yang hadir sejak pagi. Salah satu kelompok mahasiswa yang ikut dalam aksi ini adalah Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) yang menyoroti situasi ekonomi, pendidikan, penanganan bencana, dan korupsi. Ada 10 tuntutan yang mereka bawakan terhadap rezim Prabowo-Gibran.
Selain itu, ada kelompok Ojol dan kurir online, yang mogok kerja demi menghadiri aksi ini. Salah satu pekerja Ojol mengaku berhenti beroperasi karena “demi menuntut keadilan” dan ini merupakan “inisiatif pribadi”.
Hadir pula serikat buruh KASBI dengan orasi yang menyinggung mengenai ruang demokrasi yang semakin menyempit dan korupsi yang semakin menggila.
Hingga sore hari, massa terus berbondong-bondong memadati titik aksi, termasuk dari kalangan pelajar.
Selain orasi-orasi politik yang mewarnai aksi ini, massa juga hadir membawa berbagai atribut seperti poster dan spanduk yang berisi tulisan yang mengutuk tindakan korupsi oleh para pejabat yang selama ini sibuk memperkaya diri mereka dan kroni-kroninya.
Di sela mendengarkan orasi, ada pula diskusi di antara peserta aksi mengenai sejarah 1998, krisis ekonomi, bagaimana mengorganisir aksi yang efektif dan berbagai masalah sosial yang sedang terjadi dalam masyarakat. Mereka berdebat ringan di antara mereka namun masih dalam nuansa perlawanan. Ada kehausan teori di antara kaum muda dan rakyat yang mengikuti demonstrasi ini. Mereka datang bukan hanya ingin melemparkan batu ke polisi, tetapi juga mencari jawaban atas keresahan mereka. Kehadiran organisasi revolusioner dengan literatur, dengan materi agitasi dan propaganda, dengan kader-kader yang siap menginisiasi diskusi, menjadi krusial untuk terus mendorong maju kesadaran kelas massa.
Saat ini rezim sedang dilanda ketakutan atas kemarahan dari rakyat miskin. Ini tampak jelas dari respons pemerintah. Mereka langsung memberikan janji kepada massa aksi bahwa RUU Perampasan Aset akan disahkan pada 15 Desember, bila tidak katanya mereka akan turun. Namun janji manis ini diberikan hanya untuk meredam aksi dan meyakinkan massa Pati untuk pulang.
Rakyat Pati telah menjadi sorotan nasional dari rakyat seluruh Indonesia, yang melihat mereka sebagai perwakilan dari semua kegeraman mereka pada pemerintahan kapitalis yang ada. Dengan janji palsu yang sayangnya berhasil membujuk massa Pati untuk mundur dari aksi demonstrasi, maka dengan mudah penguasa dapat mengatakan bahwa aksi ini sudah selesai, pemerintah sudah mendengarkan aspirasi rakyat, dan yang masih bertahan adalah orang-orang yang hanya ingin rusuh. Momentum besar yang sudah terbangun berhasil digembosi oleh penguasa.
Kelas penguasa juga mengerahkan aparatus sebanyak 18.500 personil untuk mengawal aksi ini. Tidak hanya itu, ormas-ormas preman juga diturunkan oleh penguasa untuk memukuli massa. Sembari memberi konsesi dengan satu tangan, tangan yang lain selalu siap menggebuk massa. Demikianlah taktik penguasa di mana pun.
Aparat mencoba menahan massa yang hadir belakangan menuju depan gedung DPR. Namun pada akhirnya massa yang menyusul semakin membludak hingga berhasil mendobrak masuk menuju titik aksi untuk bergabung dengan massa lainnya dengan yel-yel dan nyanyian. Ada semangat besar yang menyala-nyala.
Selain itu, untuk mencegah eskalasi aksi yang lebih besar dan meluas, aparat membatasi sinyal internet di area titik aksi dengan radius hingga kurang lebih 1 kilometer. Ini menyulitkan para peserta aksi untuk mengupdate informasi secara real time di media sosial maupun media daring lainnya. Rezim melakukan hal ini karena mereka belajar bahwa media sosial dapat menyulut kemarahan rakyat menyala dan menjalar lebih cepat. Tetapi mereka lupa bahwa kemarahan rakyat terhadap kelas penguasa sama sekali tidak dapat dipadamkan karena sumbernya datang dari sistem yang hari ini mereka berlakukan, yaitu kapitalisme.
Aksi terus berlangsung hingga malam hari dengan tensi yang lebih tinggi. Bentrokan-bentrokan terjadi sepanjang malam. Ratusan preman juga Grib Jaya dikerahkan untuk memukuli dan meneror massa, tetapi rakyat berbalik membakar lima truk yang membawa mereka. Ketika media massa mencoba menggambarkan massa demonstran sebagai perusuh, biang kerok kekerasan sesungguhnya adalah polisi dan preman bayaran rezim.
Janji memang sudah diberikan oleh DPR, tetapi kaum muda telah belajar dari aksi-aksi sebelumnya, bahwa kelas penguasa hari ini sama sekali tidak pernah memenuhi janji-janji manis mereka. Ingat, RUU Perampasan Aset ini sudah 18 tahun mangkrak. Dan ingat pula, apakah mungkin maling ayam diminta untuk menjaga kandang ayam?
Massa sedang menunjukkan kemarahan mereka atas krisis biaya hidup yang dialaminya. Dengan potensi kekuatan yang ada di tangan mereka, ekspresi kemarahan ini dapat menjadi lebih besar, dan menjadi api revolusi yang tidak dapat dibendung oleh kekuatan apapun. Inilah yang ditakuti penguasa.
Proses molekuler revolusi sedang terjadi. Ada selapisan kaum muda dan kelas pekerja yang kini terus teradikalisasi kesadarannya. Mereka mulai memahami bahwa ada yang tidak beres dengan tatanan masyarakat kapitalis hari ini, yang tidak bisa lagi hanya diotak-atik saja.
Ketika kami ada di lapangan, seorang peserta aksi berdiskusi dengan kami, dan mengatakan: “Aksi ini ga cukup, kita butuh revolusi. Ini ga bisa lagi dibenahi. Ini harus revolusi. Tetapi saya tidak tahu mulainya dari mana.” Yang menarik di sini adalah dia bukanlah mahasiswa, bukan kaum muda, bukan aktivis, hanya rakyat jelata yang datang ke aksi karena hati nuraninya yang terusik. Dia pria setengah baya, lapisan yang biasanya cenderung konservatif.
Selain dia, kami juga temui banyak pemuda yang mengatakan hal serupa, bahwa aksi seperti ini saja tidak cukup, kita butuh revolusi! Inilah mood yang kini menginfeksi para pemuda. Mereka semua benar. Reformasi sudah mati, dan yang diperlukan adalah revolusi; dan untuk memenangkan revolusi kita butuh partai revolusioner, yang harus kita bangun sekarang juga.
Reformasi sudah mati! Hidup Revolusi!
Hukum mati koruptor! Gantung mereka semua di tribune rakyat!
Nasionalisasi semua kekayaan koruptor dan kapitalis yang terlibat!
Basmi Korupsi dengan Membasmi Kapitalisme!
