Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

Rocky Gerung Mewakili Siapa?

Dipublikasi 7 October 2026 | Oleh : Paul Rekasa

Ingatan kita masih sangat segar. Selama beberapa tahun terakhir, Rocky Gerung adalah seorang intelektual yang sangat digandrungi oleh berbagai kalangan, mulai dari aktivis, pegiat isu politik, hingga kalangan intelek lainnya. Ia sering berkhotbah di berbagai forum. Dengan kecerdasan dan kepintarannya, ia menggunakan permainan argumen, kalimat, dan kata-kata untuk berdebat, serta seolah-olah bersikap kritis terhadap kelas penguasa. Bahkan, bukan sekali dua kali ia mengutip dan menginterpretasikan Marxisme dengan caranya sendiri.

Akan tetapi suatu hal baru saja terjadi. Rocky Gerung yang dahulu dipuja-puja bak rasul suci yang “jenius” dan keras terhadap pemerintah oleh para pendukungnya kini telah sepenuhnya berbalik arah, dengan dilantiknya ia menjadi bagian dari Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Ia kini menemukan dirinya di dalam kubu yang selalu dia serang sebelumnya. Untuk membenarkan posisinya ini, ia merajut serangkaian retorika, bahwa ia akan tetap kritis dan ini “hanya sekedar pindah posisi” dari luar ke dalam.

Terkooptasinya Rocky Gerung “sang filsuf akal sehat” bukanlah suatu yang mengejutkan bagi kita kaum Marxis. Ia bukan satu-satunya intelektual atau akademisi yang kini menjadi bagian dari sistem kelas penguasa, dengan satu atau cara lain. Klaim netralitas akademis dan “non-afiliasi” yang kerap digembar-gemborkan oleh mereka dan pendukungnya telah mati.

Coba tengok isi wantimpres ini. Siapa saja mereka? Sebagian besar adalah para akademisi dan intelektual liberal, yang sebelumnya telah mengklaim diri sebagai netral dan menyatakan ketidakberpihakan mereka, atau bahkan bersikap seolah-olah sebagai oposisi sejati. Kini, mereka telah melepas topeng wajah “kritis” mereka, yang sebenarnya penuh dengan sofisme belaka dan kebohongan.

Kaum intelektual atau akademisi bukanlah pihak yang netral dan seolah-olah terpisah atau berdiri sendiri. Kita hidup dalam masyarakat kelas, dan ide yang dominan pada akhirnya adalah idenya kelas penguasa. Dari masa ke masa kelas penguasa telah membangun sistem pendidikan dan lingkungan intelektual yang sedemikian rupa untuk melayani kepentingan mereka. Para profesor, pengamat, pakar, mereka semua telah dirasuki dengan cara pandang kelas penguasa.  Beberapa dari mereka, kaum intelektual liberal, bisa saja kritis pada pemerintah, tetapi tetap dalam batas-batas yang bisa diterima oleh kelas penguasa. Klaim netralitas atau ketidakberpihakan akademisi oleh karenanya hanyalah tabir untuk menutupi realitas tersebut.

Ada selapisan kecil intelektual yang menghubungkan dan mendasarkan teorinya dengan perjuangan proletariat, misalnya Marx dan Engels sendiri, Bapak Sosialisme Ilmiah. Mereka adalah perwakilan intelektual kelas tertindas, di mana teori revolusioner yang membebaskan kelas pekerja dari penindasan kapitalis lahir dari buah pemikiran mereka. Namun karena keberanian dan kejujuran intelektual mereka, mereka dikucilkan dari dunia akademisi dan intelektual. Mereka tidaklah seperti akademisi Kiri atau Marxian yang banyak kita temui di universitas, lembaga think-tank ‘progresif’ atau LSM. Mereka adalah pejuang revolusioner.

Kaum intelektual hari ini – dalam berbagai gradasinya, dari yang konservatif hingga liberal, dari yang relijius hingga sekuler – bertugas membantu untuk mempertahankan tatanan serta kepentingan kelas borjuasi. Mereka menjadi pelayan dan menjual kecerdasan dan kebijaksanaan mereka kepada kelas penindas. Mereka siap sedia menggunakan kemampuan mereka untuk membuat kata-kata dan argumentasi yang dirangkai dengan sangat indah demi membela kepentingan kaum borjuasi. Kritik mereka tidak lain adalah nasihat bagi kelas penguasa untuk bagaimana mempertahankan kestabilan status quo.

Inilah watak sesungguhnya kaum intelektual, terutama kaum liberal yang gemar mengenakan lencana oposisi progresif di lapel mereka. Mereka sesungguhnya adalah pembela tatanan borjuis, selayaknya bagaimana kaum Saduki yang menjilat dan membela kepentingan Kaisar Roma. Hal ini tidak hanya berlaku kepada mereka yang telah tergabung ke dalam aparatus negara, tetapi juga mereka yang hingga saat ini belum menunjukkan ‘wajah aslinya’ secara terang-terangan,

Oleh karenanya, mereka bukanlah lapisan atau kelompok yang dapat dipercaya dalam melawan penindasan oleh kelas penguasa. Kaum tertindas tidak boleh bersandar pada pemikiran mereka karena kecenderungan mereka untuk membela status quo dan melayani kepentingan kaum penindas. Kelas tertindas harus menciptakan intelektual mereka sendiri, lewat partai revolusioner yang mereka bangun. Pada akhirnya, beban tugas dan tanggung jawab utama dalam melawan penindasan dan menggulingkan sistem kapitalisme yang bobrok ada di pundak kita sendiri, kaum sosialis revolusioner, bukan kaum intelektual borjuis liberal.  

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Politik 2026: Terus Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme