Gerakan mahasiswa kembali berdiri di garis depan dalam perjuangan melawan rejim Prabowo-Gibran. Walaupun gelombang demonstrasi yang dimulai pada 12 Juni ini telah surut, gebrakan singkatnya cukup membuat rejim cemas karena mengingatkan mereka pada insureksi Agustus tahun lalu. Taktik lain pun digunakan kali ini. Tidak ada lagi mulut besar macam Sahroni. DPR pura-pura mendengar dan bahkan bersuara akan merombak ulang MBG. Di belakang layar, puluhan miliar rupiah entah dari mana menggerakkan massa bayaran pro-MBG dan buzzerRP, dan bahkan menyuap sejumlah pemimpin mahasiswa seperti yang terkuak di BEM UBK.
Gerakan mahasiswa memang memiliki tradisi panjang di Indonesia, sehingga kerap dijuluki “penyambung lidah rakyat”. Memang dalam sejarah sudah lazim kaum muda itu menjadi barometer mood rakyat. Mereka yang umumnya lebih berpendidikan sehingga bisa mengartikulasikan secara politik segala keresahan yang belum bisa diartikulasikan oleh rakyat pekerja. Selain itu, energi muda mereka yang meledak-ledak senantiasa mendorong mereka ke depan dengan segala keberanian mereka, sementara rakyat luas umumnya masih dipenuhi rasa takut dengan aparat. Inilah mengapa sering kali kaum muda terlebih dahulu bergerak.
Tetapi sudah saatnya mahasiswa tidak hanya menjadi penyambung lidah rakyat, tetapi juga secara aktif melebur menjadi bagian dari rakyat pekerja. Istilah “penyambung” berarti ada semacam sekat pemisah: rakyat sebagai objek pasif, sementara mahasiswa sebagai subjek aktif yang berbicara atas nama rakyat. Sekat ini harus dihancurkan. Sudah saatnya gerbang kampus dibuka lebar-lebar untuk rakyat pekerja. Mahasiswa harus menjadikan kampus sentra-sentra perlawanan terbuka, dengan memberikan akses terbuka kepada seluruh elemen gerakan rakyat pekerja ke dalamnya. Organisir rapat-rapat akbar dan mass vergadering yang terbuka di kampus, sebagai alat mobilisasi tidak hanya mahasiswa tetapi seluruh rakyat pekerja.
Ini akan memberi dorongan besar bagi gerakan mahasiswa itu sendiri. Seberani apapun mahasiswa, mereka adalah bagian populasi yang sangat kecil. Mereka tidak akan bisa menang dengan sendirinya. Kekuatan moral gerakan mahasiswa sesungguhnya datang dari dukungan rakyat, tetapi sudah saatnya dukungan rakyat ini dijadikan kekuatan yang aktif berpartisipasi. Dalam konteks ini, mahasiswa dapat menggunakan privilese mereka, yakni kampus mereka, sebagai lokasi sentra perlawanan.
Sementara BEM itu sendiri, sebagai organisasi mahasiswa, terlalu sempit pengaruhnya untuk bisa memenangkan pertempuran melawan rejim. BEM umumnya bukan organisasi yang memang didesain untuk perjuangan. Dalam momen damai, BEM lebih seperti organisasi untuk advokasi dan pelayanan, dan oleh karenanya sering kali diisi bukan oleh kaum muda radikal yang memiliki kesadaran politik tinggi. Ketika lalu ada gerakan mahasiswa, para pemimpin BEM yang ada sering kali terbukti mumpuni. Bahkan dalam kasus Universitas Bung Karno, mereka bisa disuap untuk meredam gerakan mahasiswa. Oleh karenanya, BEM harus pecah dari rutinitasnya. Ketika gerakan mahasiswa mulai bergulir, BEM harus membuka dirinya, misalnya dengan rapat-rapat terbuka. Biarkan mahasiswa luas dan juga komunitas di luar kampus terlibat langsung dalam pengorganisiran dan pengambilan keputusan.
Selalu ada ketakutan terhadap penyusup. Ini alasan yang biasanya digunakan untuk membenarkan gagasan bahwa gerakan mahasiswa harus murni mahasiswa, dan bahkan fakultas dan kampus spesifik. Tetapi penyusupnya tidak jarang bukan orang luar, tetapi orang sendiri. Kasus penyuapan BEM UBK menjadi contoh gamblang. Penyusupan juga bukan melulu terjadi dengan begitu vulgar: intel yang menyamar, penyuapan, dll. Penyusupan terutama adalah gagasan borjuis dan apa yang disebut “tekanan opini publik” yang dibangun oleh kelas penguasa. Opini publik seperti “jangan terlalu radikal”, “kita harus realistis dalam berjuang”, “kapitalisme bisa diperbaiki”, “kita dapat mengubah dari dalam”, dst. terus menggempur semangat revolusioner kaum muda. Opini publik inilah yang misalnya membuat ketua BEM UBK sedia menerima suap.
Gagasan borjuis sesungguhnya jauh lebih kuat di lingkungan kampus karena posisi universitas sebagai lembaga pengetahuan kapitalis. Seperti yang Marx katakan, ide yang mendominasi adalah ide kelas yang berkuasa, dan universitas oleh karenanya adalah lembaga ideologi kelas yang berkuasa. Kendati rekam jejak gerakan mahasiswa sebagai kaum muda yang kerap melompat ke depan untuk melawan penguasa yang tak adil, secara paradoks posisi menara gading universitas membuatnya lebih dekat dengan ideologi penguasa. Untuk melawan penyusupan diam-diam ideologi dan sentimen borjuis ini, maka gerbang kampus harus dibuka lebar-lebar kepada rakyat pekerja. Kelas pekerja dapat menjadi jangkar ideologi bagi mahasiswa, agar gerakan ini tidak lalu terlepas dari basis rakyatnya yang sejati, tidak terseret hanyut oleh opini publik borjuis.
Dengan membuka gerbang kampus, ini akan meluaskan gerakan mahasiswa melampaui batas-batas sempitnya. Ada dukungan luas dari rakyat pekerja kepada gerakan mahasiswa, yang salut pada mereka sebagai anak-anak muda pemberani. Dukungan ini harus dimanfaatkan dan diubah menjadi partisipasi aktif, karena pada akhirnya hanya kelas pekerja yang dapat mengalahkan rejim kapitalis ini. Mahasiswa bisa saja terus berdemo, tetapi dengan sendirinya mereka tidak akan bisa mengalahkan rejim ini. Pertama, jumlah mereka terlalu kecil; kedua mereka tidak memiliki bobot ekonomi seperti kelas pekerja. Kelas pekerja adalah mayoritas besar, dan merekalah yang menggerakkan roda ekonomi. Dengan senjata mogok, mereka bisa menghantarkan pukulan mematikan pada rejim kapitalis. Oleh karenanya mahasiswa harus membangun hubungan dengan kelas pekerja. Membuka gerbang kampus ke rakyat pekerja bisa menjadi langkah pertama untuk membangun hubungan ini.
Kaum muda memang adalah barometer sensitif terhadap tekanan sosial dalam masyarakat, tekanan yang di tengah krisis kapitalisme kini telah mengumpul dan kapanpun siap meledak. Namun kita harus ingat, tekanan ini energinya datang dari kelas pekerja.
Pada akhirnya, gerakan mahasiswa hanya akan mencapai kemenangannya dalam memperjuangkan nasib rakyat, untuk mengakhiri kemiskinan dan penindasan, untuk membersihkan pemerintah dari KKN, untuk melindungi alam dari rakusnya perusahaan tambang dan perkebunan sawit, bila gerakan ini mengadopsi ideologinya gerakan kelas pekerja, yakni Sosialisme Ilmiah. Sosialisme merupakan ideologi historis kelas pekerja, satu-satunya yang bisa menjelaskan kontradiksi kapitalisme dan menawarkan jalan ke depan. Kawan-kawan mahasiswa sekalian, kalian harus memahami bahwa kalian sesungguhnya adalah bagian dari kelas pekerja. Lingkungan universitas yang elitis telah menanamkan dalam benak kalian bahwasanya kalian adalah lapisan terdidik yang akan menaiki tangga sosial, bahwa kalian adalah kaum intelektual yang berdiri di atas pekerja fisik. Berbekal ijazah, kalian dijanjikan hidup yang nyaman, yang bebas dari kerja manual yang meletihkan. Tetapi lihatlah nasib kalian hari ini: lebih dari 1 juta sarjana kini menganggur, dan bila pun bekerja hanya mendapat kerja kontrak yang tak menentu dan berupah rendah. Teknologi AI mengancam membuat ijazah kalian tidak berguna dan menghempaskan kalian ke jalanan. Nasib kalian tidak berbeda dengan nasib buruh yang ditindas oleh kapital. Maka dari itu, berjuanglah bersama kelas pekerja untuk kemenangan sosialisme!
