Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

Said Iqbal, Agen Kelas Kapitalis dalam Gerakan Buruh

Dipublikasi 17 June 2026 | Oleh : Moses Kabelen

Said Iqbal baru saja dilantik sebagai penasehat ketenagakerjaan presiden. Sebagian orang mungkin merasa heran mengapa Said Iqbal terang-terangan berpihak kepada rezim yang hari ini begitu dibenci. Namun sesungguhnya ini merupakan kesimpulan logis dari reformisme, yaitu paham bahwa kesejahteraan buruh bisa tercapai di dalam kerangka kapitalisme. Sedari awal Said Iqbal telah dengan jelas menyatakan tujuannya dalam membangun harmoni kelas dengan borjuasi, yang terangkum dalam slogannya “Anda boleh kaya asal jangan memiskinkan kami.” Tetapi fakta telah berbicara lain: yang kaya semakin kaya dengan memiskinkan yang miskin. Maka kita harus menyebut Said Iqbal apa adanya, yaitu agen kelas kapitalis dalam gerakan buruh.

Setelah bertahun-tahun penantian akhirnya Said Iqbal mendapatkan jatah dalam kabinet Prabowo. Partai Buruh dengan perolehan pemilu yang hampir nol persen dan terpinggirkan dalam perhitungan kelas penguasa kini tiba-tiba dibutuhkan. Ini bukan tanpa sebab.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, Said Iqbal ditunjuk karena “rekam jejaknya dalam gerakan buruh.” Apa rekam jejak ini? Selama bertahun-tahun, Said Iqbal telah menunjukkan kemampuannya mengalihkan gejolak perjuangan buruh ke saluran-saluran yang aman dan terkendali. Rekam jejak inilah yang membuat kelas penguasa menaruh kepercayaan penuh kepadanya.

Selain itu, Mensegneg Prasetyo Hadi menambahkan: ”Secara esensi yang diharapkan sama. Terjadi komunikasi yang jauh lebih lancar, jauh lebih intens, tidak birokratis dalam hal kita memperjuangkan apa yang selama ini diharapkan kawan-kawan buruh. Apalagi dalam situasi ekonomi yang sekarang ini.” Kalimat terakhir “apalagi dalam situasi ekonomi sekarang” membantu kita melihat benang merahnya.

Situasi ekonomi seperti apa sekarang yang sedang kita hadapi? Ada defisit anggaran yang semakin besar, yang pada gilirannya melemahkan rupiah sampai level terendah dalam sejarah. Para bankir dan kreditor menuntut pemerintah untuk mengetatkan ikat pinggang rakyat pekerja. Ada gelombang diindustrialisasi yang masif. PHK di mana-mana. Ada 23 ribu lebih pekerja yang telah ter-PHK di 6 bulan pertama 2026 saja. Inflasi meroket. Mereka yang bekerja tidak lebih baik karena upahnya rendah. “Kelas menengah” – yakni pekerja yang berupah lebih baik – jumlahnya menyusut. Selain itu, pajak memukul usaha-usaha kecil dan menengah, yang memperluas ketidakpuasan di setiap lapisan sosial bawah. Perang Iran telah memperlebar defisit dan akhirnya mendorong kenaikan harga BBM. Sementara, kapitalisme dunia masih ada dalam kondisi empot-empotan. Semua ini adalah badai yang sempurna yang dapat memicu revolusi. Demikianlah situasi ekonomi hari ini, yang bisa dirangkum sebagai krisis kapitalisme yang terdalam.

Di tingkatan akar rumput gerakan buruh, kondisi ini dapat memicu aksi-aksi industri dan pemogokan. Dalam situasi ini, pemerintah memerlukan para pemimpin buruh yang dapat mereka gunakan untuk mengendalikan gerakan buruh, salah satunya Said Iqbal yang masih membawahi Partai Buruh dan serikat-serikat buruh. Dalam beberapa kesempatan—ketika ada dorongan dari massa bawah—dia masih bersuara dan seringkali mengancam dengan aksi massa dan pemogokan. Meskipun kita tahu ini hanya gertak sambal, tetapi dalam situasi ekonomi sekarang bahkan gertakan-gertakan semacam ini ditakutkan kelas penguasa dapat memicu buruh akar-rumput untuk meluncurkan aksi mogok yang lebih luas daripada yang diharapkan oleh para pemimpin mereka sendiri. Prabowo ingin memastikan bahwa tulang yang dia berikan kepada Said Iqbal mampu membuat dia berhenti menggonggong.

Masih segar di ingatan kelas penguasa akan insureksi Agustus 2025 kemarin. Krisis kapitalis telah menekan tengkuk kelas penguasa. Mereka merasakan ancaman revolusi dari bawah. Kelas penguasa sangat sadar akan hal ini dan mereka memerlukan pemimpin buruh yang dapat membawa agenda mereka. Komunikasi “lebih lancar” dan “tidak birokratis” artinya negosiasi antara pemerintah dan pemimpin-pemimpin ini bisa lebih mulus tanpa harus melalui pintu serikat buruh. Selain itu, dengan kooptasi Said Iqbal, ini setidaknya memberi kedok bahwa pemerintah mendengar aspirasi buruh.

Said Iqbal dan para birokrat serikat bawahannya telah menyempurnakan seni menjinakkan dan mengendalikan gerakan buruh. Pelayanan ini sangat diperlukan bagi presiden. Dia berjanji akan kritis dan memberi nasihat, tetapi nasehat itu bukan demi buruh melainkan untuk mengingatkan sang raja agar tidak gegabah memicu kemarahan publik, agar lebih berhati-hati mengambil kebijakan anti-buruh dalam kondisi ekonomi sekarang.

Meskipun Said Iqbal bersumpah berjuang demi kepentingan buruh, dalam setiap tindakannya dia telah menjadi rem bagi perjuangan kelas buruh. Perjuangan buruh sejatinya adalah perjuangan untuk menghapuskan perbudakan upah. Pada poin inilah kepentingan sejati kelas buruh seringkali dikaburkan oleh pemimpin reformis yang membatasi gerakan pada tuntutan-tuntutan ekonomi semata. Namun, problemnya, bahkan para pemimpin reformis ini tidak bisa memenangkan tuntutan-tuntutan ekonomi. Upah riil buruh selama dekade terakhir terus turun. Outsourcing dan kerja kontrak semakin marak.

Gagasan reformis mendikte para pemimpin reformis untuk terus berada di ketek kekuasaan demi mendapatkan remah-remah perbaikan (dan remah-remah pun tak mereka dapatkan). Alih-alih menghubungkan perjuangan ekonomi dengan perjuangan untuk menggulingkan kapitalisme, mereka menciptakan ilusi bahwa kapitalisme bisa diperbaiki, bahwa negara kapitalis bisa menciptakan kesejahteraan.

Negara hari ini adalah negara milik kelas kapitalis dan akan selamanya melayani kepentingan mereka. Negara tidak dapat melayani kepentingan kelas buruh selama kekuasaan ekonomi dan politik tetap berada di tangan segelintir kaum kapitalis. Sama seperti halnya negara budak di Romawi, ini adalah negaranya para pemilik budak modern. Negara hari ini adalah negaranya kapitalis.

Berapa banyak aktivis gerakan yang telah masuk ke dalam pemerintahan sejak 1998? Tidak sedikit. Namun, apakah kondisi kaum buruh, tani, dan rakyat miskin berubah secara mendasar? Tidak! Mereka yang masuk ke dalam mesin negara kapitalis pada akhirnya harus tunduk pada logika dan kepentingan sistem yang ada. Bila Anda setuju dengan kapitalisme, maka Anda harus setuju dengan A, B, C, D dan seterusnya. Bila kapitalisme mengalami krisis, maka tugas Anda adalah menyelamatkannya. Inilah peran dari kaum reformis.

Tocqueville pernah mengatakan bahwa sistem sosial yang membusuk itu layaknya rumah kartu yang diterpa angin. Di antara kartu-kartu yang menyokong kekuasaan itu salah satunya adalah reformisme. Kita tidak tahu kartu mana yang akan jatuh duluan, tetapi rumah kartu tersebut akan dan pasti runtuh. Sangat menyedihkan sebenarnya karena kaum reformis ini yang justru paling awal runtuh di saat rezim hari ini membusuk dan dibenci banyak orang. Ketika kaum muda dan rakyat pekerja sudah mulai bergerak untuk melawan rejim ini, para pemimpin buruh justru memasuki pemerintahan untuk menopangnya.

Reformisme layaknya bangkai berbau busuk. Kebusukan mereka mencemari udara dan membuat pesimis. Sebagian orang mungkin akan kecewa dan kehilangan harapan melihat kenyataan ini. Tetapi ini hanyalah sisi negatifnya. Sisi positifnya, bau busuk yang sama akan menjauhkan kaum muda – pekerja maupun pelajar – dari reformisme dan mempersiapkan ayunan tajam ke gagasan revolusioner.

Gemuruh revolusi semakin mendekat dan kian hari kian mengekspos kebangkrutan dan pengkhianatan mereka. Ini bisa kita lihat dari tanggapan yang kritis dari banyak buruh akar-rumput terhadap jabatan yang diperoleh oleh Said Iqbal. Para perangkat FSPMI dan KSPI terpaksa mengunggah banyak pesan di halaman-halaman media sosial mereka untuk membenarkan masuknya Said Iqbal ke pemerintah, dan mayoritas responsnya begitu tajam. Ini beberapa contoh komentar Facebook yang bisa kita baca:

“Sudah bisa dipastikan, pasti akan melempem”

“Sudah tercapai cita-cita nya”

“Masuk ke pemerintahan tidak langsung menghilangkan sikap kritis benar sekali, tapi ada pertanyaan apa mungkin jongos akan melawan juragan nya yang kasih dia makan dan jabatan? realistis dalam berpikir itu penting, agar tidak terlalu berharap banyak, nanti kecewa”

“GILA JABATAN”

“rata2 yg di parlemen itu mantan aktivis 98 , ada perubahan ngk negri itu sekarang ???”

“Sudah kebagian apem penguasa.”

Akhirnya, lapisan termaju kelas pekerja dan kaum muda jadi mafhum bahwa Said Iqbal dkk. tidak lebih adalah agen kelas kapitalis dalam gerakan buruh. Kaum buruh harus mengenyahkan agen-agen kapitalis ini dari organisasi mereka.

Krisis kapitalisme yang mencekik rakyat luas di mana-mana tidak dapat diselesaikan dengan janji dan kata-kata manis ‘mengubah dari dalam’ dan ‘kritis’. Diperlukan aksi massa yang militan di jalanan dan aksi pemogokan area-area industri. Bara kemarahan dan kemuakan ada di mana-mana. Pada Agustus tahun lalu, bara ini meluap jadi api revolusi, sebagai bagian dari Revolusi Gen-Z di dunia. Api ini memang cepat padam, tetapi baranya masih membara dalam sekam. Sudah ada tanda-tanda bahwa bara kemarahan ini akan meledak kembali, dengan aksi-aksi mahasiswa yang baru saja dimulai Jumat kemarin (12 Juni), yang kini menyebar ke banyak kota. Untuk bisa mendorong aksi ini menjadi pukulan telak mematikan bagi rejim Prabowo-Gibran, kaum buruh harus meluncurkan pemogokan umum, dengan mengambil contoh Getok Monas 2012 (Baca Setelah Getok Monas, Lalu Kemana?). Ini tidak akan bisa mereka lakukan dengan kepemimpinan yang sekarang ada, dan oleh karenanya perjuangan internal untuk mengenyahkan para pemimpin ini dan mendorong kepemimpinan muda yang baru, yang militan dan revolusioner, diperlukan.

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Dunia 2025: Dunia Terjungkir Balik – Sistem Kapitalisme dalam Krisis
    Perspektif Politik 2025: Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme