Seperti api dalam sekam, kemarahan rakyat kepada kelas penguasa kini akhirnya meledak dan nyalanya tidak bisa dipadamkan. Dari penolakan kenaikan pajak dalam gerakan yang diawali oleh rakyat pekerja Pati, melompat dengan cepat ke penolakan tunjangan anggota DPR, kini menjadi kemarahan yang membuncah-buncah terhadap kekerasan polisi yang telah membunuh Affan Kurniawan. Sungguh hari ini terlalu banyak jerami kering yang mudah terbakar, sehingga sedikit tiupan angin saja dapat mengobarkan api perlawanan ke mana-mana. Pentungan, gas air mata dan penangkapan tidak menyurutkan nyali mereka yang melawan kelas penguasa. Satu martir mati di tangan polisi. Massa belajar cepat melalui pengalaman. Inilah situasi yang merangkum demonstrasi pada 28 Agustus, yang merupakan lanjutan dari demonstrasi sebelumnya Senin kemarin.
Bersama dengan mahasiswa dan pelajar, serikat buruh juga melakukan demonstrasi dengan tuntutan kenaikan upah. Namun jelas para pemimpin reformis serikat buruh ini takut demonstrasi ini meledak di luar kendali. Said Iqbal pun mewanti-wanti agar elemen yang dianggap ‘anarkis’ tidak bergabung dengan demo buruh. Bahkan demonstrasi dipulangkan lebih awal untuk mencegah buruh bersatu dengan mahasiswa dan pelajar. Said Iqbal dengan demikian menjadi pelayan kelas penguasa untuk mengerem perjuangan buruh. Dia berupaya mengisolasi perjuangan buruh dengan perjuangan rakyat secara keseluruhan. Tetapi rakyat pekerja, terutama elemen-elemen mudanya, tidak menggubris serikat-serikat buruh kuning yang tidak berguna itu. Mereka meluncurkan perjuangan militan mereka sendiri.
Di tengah banyaknya PHK, inflasi, kenaikan pajak, upah yang stagnan dan kemuakan terhadap kelas penguasa, semua orang dengan cepat mengambil kesimpulan yang sama dengan mahasiswa dan pelajar yang bertempur di jalanan. Negosiasi dan demo-demo damai yang lembek tidak akan membuat kelas penguasa paham. Hari ini perjuangan untuk taraf hidup yang lebih baik hanya dapat dicapai melalui pertempuran jalanan, dengan aksi massa yang militan. Inilah yang coba dihindari para pemimpin reformis seperti Said Iqbal.
Begitu pula pemimpin buruh lainnya seperti Andi Gani. Dia menyerukan kepada jajaran serikat buruh dari atas hingga bawah agar ‘menjaga kondusifitas dan keamanan’ dan menunda semua kegiatan yang melibatkan massa anggota dalam jumlah besar. Para pemimpin buruh ini sangat takut militansi mahasiswa dan pelajar akan menginfeksi anggota-anggota buruh mereka dan memantik aksi-aksi industri. Alih-alih menggunakan kesempatan ini untuk memobilisasi buruh akar rumput dan bersatu dengan mahasiswa pelajar, pemimpin buruh ini justru menjadi rem bagi perkembangan situasi revolusioner.
Tetapi sekarang massa jauh lebih revolusioner dibanding para pemimpin buruh ini. Massa belajar lebih cepat dalam satu hari perjuangan dibandingkan selama bertahun-tahun dalam keadaan damai. Tanpa belajar dari Lenin, massa belajar bahwa Negara adalah badan khusus orang-orang bersenjata yang membela kelas penguasa. Represi dan penangkapan semakin membuat jelas pernyataan ini.
Gerakan ini terus meraih momentumnya. Dalam dua tiga hari terakhir, demonstrasi berlangsung terus menerus hingga dini hari. Satu hal yang luar biasa adalah dukungan dari warga sekitar. Beberapa video yang tersebar di media sosial menunjukkan warga melindungi para demonstran dan memberikan dukungan konsumsi bagi mereka. Ada simpati yang luas terhadap para demonstran kendati usaha pemerintah, para buzzer, influencer, dan media untuk menggambarkan para demonstran ini sebagai elemen anarko. Fitnah hitam ini sudah tidak mempan. Kaum muda menjadi semakin berani karena merasakan dukungan massa luas di belakang mereka. Mereka tidak lagi berhenti di tuntutan batalkan tunjangan DPR, tetapi sudah menolak keberadaan DPR itu sendiri dengan slogan #BubarkanDPR dan aksi nyata mereka menyerang dan membakar kantor “perwakilan rakyat” mereka. Di Makassar, gedung DPRD terbakar habis serta mobil-mobil mewah para anggota DPRD yang dilihat tidak berguna itu oleh rakyat.
Jauh dari redup demonstrasi ini semakin hari semakin mengambil karakter yang meledak-ledak. Gerakan terus menemukan energi baru. Kita harus mengakui keterlibatan kaum muda pelajar dalam hal ini telah menghancurkan kerak-kerak konservatisme gerakan, entah dari BEM maupun serikat buruh. Merekalah yang terus menjaga api ini tetap hidup.
Tewasnya pengemudi ojol yang dilindas mobil taktis polisi membawa babak baru gerakan ini. Markas Brimob di Kwitang dikepung oleh demonstran dari malam hingga keesokan paginya. Meskipun polisi membubarkan dengan tembakan gas air mata, tetapi massa pengemudi ojol terus berdatangan menuntut keadilan. Tuntutan sekarang bukan lagi #BubarkanDPR melainkan lebih luas lagi #BubarkanPolisi. Kekejaman polisi ini hanya menyiram bensin pada kemarahan dan kemuakan terhadap kelas penguasa.
Prabowo mencoba menenangkan situasi dengan menjanjikan penyelidikan atas terbunuhnya Affan Kurniawan. Kapolri pun minta maaf dengan meneteskan air mata buaya. Namun rakyat semakin dapat melihat kemunafikan dalam pernyataan-pernyataan ini dan tidak menghentikan mobilisasi mereka. Demonstrasi terus berlanjut sampai hari ini. Tidak hanya di Mako Brimob Kwitang, sejumlah kantor polisi lainnya di berbagai daerah juga dikepung dan jadi sasaran kemarahan rakyat.
Untuk bisa maju lebih lanjut, gerakan ini harus diorganisir dengan lebih luas lagi lewat pembentukan komite-komite aksi yang melibatkan lebih banyak lagi lapisan rakyat pekerja. Gerakan harus diorganisir dengan rapat dan dengan pertahanan diri agar tidak mudah begitu saja direpresi oleh polisi. Kita tidak bisa membiarkan adanya Affan ke-2 atau ke-3 nantinya.
Kenaikan pajak, kehidupan pejabat yang mentereng sementara rakyat menjerit, kekerasan polisi, pengangguran, inflasi, perusakan lingkungan, penyerobotan tanah, upah murah, outsourcing, semua ini bukan isu terpisah tetapi tidak lain merupakan konsekuensi tak terelakkan dari krisis kapitalisme. Kontradiksi kapitalisme inilah yang menciptakan situasi yang meledak-ledak, yang dengan cepat bergerak dari karakter semi-insureksioner menjadi insureksioner terbuka hanya dalam hitungan jam. Bukan kaum revolusioner yang menciptakan revolusi, tetapi kapitalisme itu sendiri. Ada lompatan besar dalam kesadaran, dan yang kita saksikan di sini adalah gambaran sekilas revolusi.
Batalkan semua kenaikan pajak yang membebani rakyat!
Hapus semua tunjangan anggota DPR! Gaji mereka seperti gaji buruh!
Pecat semua anggota DPR!
Lawan kekerasan polisi! Mereka semua pembunuh rakyat!
Keadilan untuk Affan Kurniawan!
Kapitalisme telah gagal! Berjuanglah untuk Sosialisme!
#BubarkanDPR #Bubarkan Kapitalisme