Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

Seminggu setelah agresi militer AS: ke mana Venezuela melangkah?

Dipublikasi 13 January 2026 | Oleh : Jorge Martín

Peristiwa di Venezuela berlangsung dengan sangat cepat menyusul serangan pada 3 Januari dan penculikan Nicolás Maduro dan Cilia Flores. AS bergerak sangat cepat untuk menegaskan kendalinya atas Venezuela dan sumber daya alamnya, sementara pemerintah Venezuela tampaknya tidak bersedia atau tidak mampu melawan. Tentu saja, banyak orang yang mulai bertanya.

AS telah menyatakan dengan jelas bahwa mereka akan mengelola negara tersebut. Trump menambahkan bahwa mereka akan menyita antara 30 dan 50 juta barel minyak (total produksi minyak Venezuela satu atau dua bulan). Penjualan minyak tersebut (yang sebagian disimpan di darat, sebagian disimpan di kapal tanker karena blokade angkatan laut AS, dan sebagian lagi belum diekstraksi) akan dilakukan di AS, dengan harga pasar, dan AS akan mengontrol penggunaan uang tersebut (“demi kepentingan warga Venezuela dan AS,” menurut Trump).

Menteri Energi AS Wright menambahkan bahwa prosedur ini akan diperpanjang tanpa batas waktu. Dengan kata lain, AS telah mengumumkan bahwa mereka sekarang mengendalikan penjualan minyak Venezuela dan uang hasil penjualannya.

Oh, dan ngomong-ngomong, Trump menambahkan bahwa dengan uang dari penjualan minyak, Venezuela akan secara eksklusif membeli produk-produk AS!!

Selain itu, Washington telah berulang kali mengancam akan meluncurkan tindakan militer lebih lanjut terhadap Venezuela kecuali bila pemerintah di Caracas sepenuhnya mematuhi tuntutan tersebut. Ancaman ini, yang diutarakan setelah serangan militer pada 3 Januari, bukanlah ancaman kosong.

Pemerintah Venezuela di bawah presiden sementara Delcy Rodríguez menanggapi hal ini dengan pernyataan yang mengumumkan bahwa mereka sedang “bernegosiasi” dengan AS untuk mencapai kesepakatan tentang penjualan minyak, dan bahwa mereka “membangun aliansi yang mendorong pembangunan nasional demi kepentingan rakyat Venezuela”.

Marco Rubio juga menyatakan bahwa rencana untuk Venezuela memiliki tiga tahap:

1. Stabilisasi, di mana AS mempertahankan blokade untuk memastikan “keunggulannya” (baca: kapasitasnya untuk memeras Venezuela) dan menjual 50 juta barel;

2. Pemulihan, di mana perusahaan-perusahaan AS dan Barat memiliki “akses yang adil” ke Venezuela dan ada proses “rekonsiliasi nasional “;

3. Transisi, akhirnya menuju pemilu yang demokratis.

Pada akhir transisi ini, ia membayangkan sebuah negara “yang bersahabat dengan Amerika Serikat, yang bukan merupakan pijakan bagi musuh-musuh kami, yang melayani kepentingan kami”. Dengan kata lain, sebuah koloni atau protektorat Amerika Serikat.

Rubio telah menuntut pembebasan para tahanan. Pemerintah Venezuela mengumumkan akan membebaskan sejumlah besar tahanan (menurut laporan, 88 orang), tetapi sejauh ini hanya 13 orang yang telah dibebaskan, termasuk lima warga negara Spanyol dan beberapa orang lain yang dekat dengan Enrique Márquez (seorang kandidat dalam pemilihan presiden 2024 yang, meskipun merupakan kandidat borjuis, didukung oleh PCV, Partai Komunis Venezuela). Sejauh ini, belum ada satu pun tokoh terkemuka dari oposisi kontra-revolusioner di sekitar María Corina Machado yang dibebaskan.

Pemerintah juga tengah mengambil sejumlah langkah untuk membuka kembali kedutaan besar AS di Venezuela, yang tidak diragukan lagi akan menjadi markas untuk menegakkan otoritas kolonial AS di negara tersebut. Venezuela mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa ini dilakukan “dengan tujuan untuk menjawab konsekuensi agresi dan penculikan presiden” dan “agenda kerja yang saling menguntungkan” (!!!!).

Dengan kata lain, AS menginvasi negara tersebut secara militer, menculik presiden… dan tanggapannya adalah membangun kembali hubungan diplomatik untuk menjawab konsekuensi dan agenda kepentingan bersama. Kepentingan bersama apa yang mungkin ada antara agresor dan korban?!

Jujur saja, saya sangat marah. Apa yang terjadi dengan semua pernyataan yang dibuat oleh kepemimpinan Venezuela sebelum 3 Januari? Menteri Diosdado saat itu mengatakan bahwa jika terjadi agresi militer, Venezuela tidak akan mengirimkan “setetes pun minyak ke AS”. Maduro mengumumkan “mogok umum revolusioner”. Delcy menyatakan bahwa mereka tidak akan menyerah pada pemerasan dan bahwa minyak itu milik Venezuela.

AS melelang minyak Venezuela.

Pada hari Jumat, 9 Januari, Trump menggelar pertemuan/konferensi pers dengan para eksekutif dari semua perusahaan minyak Amerika dan Barat. Pertemuan yang digelar di siang bolong ini adalah tontonan yang hampir tidak ada presedennya dalam sejarah. Ini mengingatkan saya pada Konferensi Berlin tahun 1884, ketika kekuatan-kekuatan Eropa membagi Afrika.

Yang terjadi di sini adalah pemerintah AS melelang minyak Venezuela kepada penawar tertinggi. Ini yang sungguh-sungguh Trump lakukan. Trump mengatakan kepada Exxon: “Jika kalian tidak berniat ke Venezuela, bilang saja, karena ada 25 perusahaan lainnya yang mengantre.”

Beberapa perusahaan (yang dipimpin oleh Exxon) tidak terlalu antusias. Yang mereka inginkan adalah jaminan. Mereka ingin dibayar sesuai dengan apa yang mereka klaim sebagai hak mereka (antara $2 miliar dan $12 miliar ) dan, yang terpenting, mereka secara eksplisit menyatakan bahwa mereka menginginkan kerangka hukum yang menguntungkan mereka, termasuk pencabutan undang-undang hidrokarbon Chávez.

Namun, perusahaan-perusahaan lainnya menunjukkan antusiasme, termasuk Chevron, yang terus beroperasi di Venezuela selama bertahun-tahun sambil menunggu momen ini, dan perusahaan lain yang tetap berada di negara tersebut dengan volume produksi yang lebih rendah (seperti Repsol dari Spanyol). Mereka mengatakan bahwa produksi dapat berlipat ganda dalam beberapa tahun ke depan.

Selama lelang/konferensi pers tersebut, Trump ditanya apakah ia menganggap pemerintahan Delcy sebagai sekutu. Jawabannya: “Mereka bertindak sebagai sekutu, dan saya percaya mereka akan terus menjadi sekutu.”

Sejauh yang saya ketahui, belum ada tanggapan dari pemerintah Venezuela terkait lelang skandal yang dilakukan Trump atas sesuatu yang bukan miliknya. Dua pejabat Venezuela ada di Washington pada hari yang sama untuk membahas minyak.

Pada hari yang sama dengan lelang publik minyak Venezuela oleh AS, Angkatan Laut AS meluncurkan pembajakan baru dengan mengambil alih kapal tanker Olina (yang sebelumnya bernama Minerva), yang berangkat dari Venezuela dengan muatan minyak Venezuela yang ditujukan untuk “pelanggan di Asia”, dan mengirimkannya kembali ke Venezuela.

Jelas, terjadi kehebohan di media sosial. Media pemerintah Venezuela (La Iguana) dan Kuba (Cubadebate) dengan tepat menggambarkannya sebagai pencurian dan tindakan pembajakan.

Namun ada satu detail penting. Trump, saat membuat pengumuman publik, mengatakan bahwa operasi tersebut telah dilakukan “dengan berkoordinasi dengan pemerintahan interim Venezuela”.

Tak lama kemudian, PDVSA mengeluarkan pernyataan yang memalukan yang mengklaim bahwa pembajakan tersebut adalah “operasi gabungan yang sukses” dengan otoritas AS untuk mencapai “pengembalian” kapal tersebut, yang telah berlayar “tanpa izin atau pembayaran”.

Namun jika kita membaca di antara baris-barisnya, hanya ada satu interpretasi yang mungkin kita capai. Blokade minyak ini memberi AS kendali seperti yang dikatakan oleh Marco Rubio. Jika AS mengendalikan ekspor minyak, mereka dapat mengendalikan penjualannya dan uang hasil penjualannya.

Namun kini ternyata pemerintah Delcy mengatakan bahwa semua itu adalah bagian dari kesepakatan bersama… Dengan kata lain, mereka berkolaborasi, tetapi bukan sebagai mitra yang setara, melainkan sebagai subjek kolonial. Ini seperti ketika kita dicegat oleh perampok yang mencuri barang kita, dan lalu kita mengadakan konferensi pers yang mengatakan bahwa barang kita telah ‘dibawa ke kediaman pencuri tersebut sebagai bagian dari operasi bersama yang sukses’!

Menanggapi semua pernyataan arogan dan tindakan AS yang menempatkan Venezuela dalam posisi ketertundukan, pemerintah Delcy menyatakan bahwa mereka tidak menginginkan “balas dendam” tetapi akan menanggapinya dengan “diplomasi perdamaian Bolivarian,” yang, katanya, telah mereka pelajari dari sang El Libertador.

Ini cukup untuk membuat kita menangis. Simón Bolívar mengangkat senjata melawan kolonialisme Spanyol! Dia tidak menggunakan ‘diplomasi perdamaian’ tetapi justru mengeluarkan dekrit perang sampai mati, memperingatkan, “Wahai orang Spanyol dan penduduk Kepulauan Canary, bersiaplah menghadapi kematian jika kalian tidak secara aktif memperjuangkan kebebasan Amerika.”

Apa penjelasan untuk semua ini?

Sejumlah orang mengklaim bahwa semua ini sebenarnya hanyalah ‘perang narasi’. Menurut teori ini, Trump mengklaim bahwa ia ‘mengendalikan Venezuela,’ tetapi itu tidak benar, karena kepemimpinan politik dan militer di Caracas masih dipegang orang yang sama. Dengan kata lain, Trump hanya meraih ‘kemenangan semu’ yang telah menggulingkan Maduro tetapi tidak akan mengubah arah pemerintahan Venezuela.

Yang lain bahkan lebih jauh lagi mengklaim bahwa semua ini adalah bagian dari ‘rencana Maduro’ yang ia buat untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi padanya. Mereka mengklaim bahwa ‘kemakmuran yang akan dicapai negara ini adalah berkat rencana yang disetujui oleh Presiden’. Bahwa apa yang diusulkan Trump terkait minyak sejalan dengan ‘model lisensi Chevron’. Bahwa pembukaan kedutaan AS sebenarnya diperlukan untuk membantu sang Presiden dan Ibu Negara, yang dipenjara di New York.

Tampaknya para pejabat di Venezuela telah terperosok jauh ke dalam dunia realisme magis, di mana semua hal terjungkir balik.

Mantan Menlu Venezuela, Jorge Arreaza, mengklaim bahwa “rakyat jelata memahami situasi yang ada dan mendukung langkah-langkah taktis yang diperlukan untuk memastikan tercapainya tujuan-tujuan nasional utama.”

Faktanya, rakyat jelata tidak mengerti, dan justru itulah masalahnya. Tidak ada yang mengerti karena tidak ada yang dijelaskan.

Bagaimana menjelaskan serangan 3 Januari?

Sudah genap seminggu sejak serangan 3 Januari, dan tak seorang pun dari kepemimpinan politik atau militer Venezuela yang dapat menjelaskan apa yang terjadi pada hari itu. Bukan hanya tidak ada penjelasan, justru sekarang pun mengajukan pertanyaan ini telah dilarang. “Meragukan berarti berkhianat” adalah slogan baru yang datang dari kepemimpinan.

Kurangnya penjelasan inilah yang memicu desas-desus, karena tampaknya tidak ada penjelasan logis dan masuk akal mengapa tidak ada perlawanan ketika AS menculik Maduro, selain tindakan heroik pasukan pengawal presiden.

Bagaimana dengan 5.000 Igla MANPADS (peluncur rudal anti-pesawat) yang seharusnya didistribusikan ke seluruh negeri? Sistem pertahanan anti-pesawat Rusia? Radar Tiongkok?

Saya bukan ahli militer. Saya telah membaca beberapa analisis dari berbagai sudut pandang. Kesimpulan saya, singkatnya, adalah ini:

1) AS menggunakan peperangan elektromagnetik untuk menekan radar dan pertahanan anti-pesawat, yang telah mereka temukan dalam operasi selama berminggu-minggu dengan pesawat Growler (pesawat peperangan elektromagnetik yang menyebabkan radar memancarkan sinyalnya, sehingga dapat dideteksi) yang telah secara provokatif terbang di atas Venezuela selama beberapa minggu.

2) Sistem pertahanan anti-pesawat Venezuela sebagian sudah usang (merupakan varian dari S300 Rusia, yang terutama ditujukan untuk rudal balistik, bukan pesawat terbang-rendah).

3) AS menggunakan pesawat terbang-rendah dan interferensi elektromagnetik, serta serangan lokal terhadap baterai rudal anti-pesawat (BUK) di titik-titik tertentu untuk membuka koridor aman bagi helikopter serang.

4) Ada elemen inefisiensi dalam angkatan darat Venezuela (baterai anti-pesawat tanpa kamuflase atau perlindungan, dalam posisi statis), yang mungkin dikombinasikan dengan elemen terlalu percaya diri yang fatal (Menurut mereka, “Trump hanya fokus pada blokade minyak, dia tidak mungkin menyerang”).

5) Setidaknya ada satu peluncuran rudal (yang gagal) dari baterai BUK di Catia la Mar, dan tampaknya ada satu Igla juga ditembakkan di Caracas. AS mengklaim bahwa salah satu helikopter terkena tembakan tetapi tidak lumpuh. Helikopter-helikopter ini memiliki sistem elektromagnetik untuk menangkis proyektil yang menyerang mereka.

6) Ada spekulasi bahwa pasukan Venezuela diberikan izin libur Natal-Tahun Baru seperti biasa, meskipun situasinya sudah semakin genting.

Apakah faktor-faktor ini menentukan dan menjelaskan semuanya? Sulit untuk mengatakannya. Ada sejumlah pertanyaan yang masih tersisa. Mengapa angkatan udara Venezuela tidak merespons dari Maracay, misalnya – sebuah pangkalan yang tidak diserang? Mengapa tidak ada serangan lebih lanjut terhadap helikopter-helikopter yang terbang rendah, lambat, dan dalam waktu lama?

Ada sejumlah orang yang berpendapat bahwa angkatan udara tidak dapat merespons karena radar dan pusat komando mereka telah dinonaktifkan, dan bahwa militer Venezuela ‘buta’.

Beberapa pakar militer menunjuk pada kesepakatan diam-diam antara AS dan angkatan bersenjata Venezuela, yang dengan satu atau lain cara mencerminkan ketidakseimbangan kekuatan antara keduanya: ‘kami tidak akan menyerang kalian secara luas, tetapi hanya di lokasi tertentu, dan kalian tidak akan memberikan perlawanan yang meluas yang hanya akan berujung pada kehancuran total kalian.’

Setidaknya satu hal yang jelas: CIA memiliki informasi akurat dari seorang informan tentang lokasi Maduro dan denah kediamannya. Ini dikonfirmasi oleh Trump dan sesuai dengan fakta. Kepala pengawal kehormatan presiden dan kepala intelijen militer (DGCIM), Mayor Jenderal Javier Marcano Tábata, telah diberhentikan (beberapa mengatakan ditangkap).

Namun ini kebanyakan hanyalah spekulasi, karena tidak ada penjelasan resmi, dan justru itulah yang memicu rumor: ‘Delcy menyerahkan Maduro.’ ‘Maduro menyerahkan diri sebagai bagian dari rencana.’

Cara termudah bagi kepemimpinan Venezuela untuk mengakhiri rumor ini adalah dengan memberikan penjelasan yang jelas tentang apa yang terjadi. Ada yang berpendapat bahwa ‘kita tidak dapat mengungkapkan kelemahan kita.’ Tetapi problemnya sekarang musuh sudah mengetahui kelemahan kita secara detail! Justru kitalah, rakyat jelata anti-imperialis, yang tidak tahu apapun.

Strategi menyerah

Yang kita ketahui sekarang adalah ada kontak dan komunikasi diplomatik antara Venezuela dan AS, khususnya dengan tokoh-tokoh di industri minyak, dan beberapa kontak ini terjadi melalui Qatar. Kita tahu bahwa Delcy Rodríguez, sebagai kepala sektor minyak, berada di pusat banyak kontak tersebut. Beberapa dari kita ingat bahwa, pada tahun 2017, perusahaan minyak yang berbasis di AS, CITGO (anak perusahaan PDVSA dan saat itu berada di bawah kendali Venezuela) menyumbangkan setengah juta dolar untuk pelantikan Trump, ketika Delcy Rodríguez menjabat sebagai menteri luar negeri.

Bahasa dan tindakan pemerintah Venezuela pimpinan Delcy Rodríguez dalam beberapa hari terakhir hanya dapat diinterpretasikan dengan dua cara:

1. Entah mereka dipaksa bertindak seperti ini di bawah tekanan dari AS, tetapi pada kenyataannya mereka mencoba mencari ruang untuk bermanuver (dengan berbicara dengan Spanyol, Kolombia, dan Brasil);

2. Atau, mereka menjual minyak negara dan kedaulatan nasional karena mereka telah memutuskan bahwa ini adalah pilihan yang paling tidak buruk dari sudut pandang kepentingan pribadi mereka sendiri (mempertahankan kekuasaan dan privilese mereka).

Dalam kedua kasus tersebut, realitasnya adalah sumber daya alam dan kedaulatan nasional negara tersebut sedang direbut oleh Amerika Serikat, dan semua upaya untuk “mengubah narasi” tidak akan bisa mengubah realitas tersebut. Ini adalah strategi menyerah, dengan dibumbui sedikit retorika melawan yang terutama ditujukan kepada rakyat jelata.

Menurut saya, ‘strategi’ ini benar-benar membawa bencana bagi kedaulatan nasional Venezuela dan perjuangan melawan imperialisme (sesuatu yang tidak hanya memengaruhi Venezuela tetapi juga negara-negara lain di kawasan ini).

Ini adalah strategi yang tidak membantu menggalang massa untuk perlawanan, melainkan malah membingungkan mereka. Ucapan tidak sesuai dengan perbuatan. Trump dan Rubio berperilaku arogan dan menjijikkan seperti penjajah, dan Caracas menanggapi dengan deklarasi perdamaian ‘Bolivarian’ dan ‘ kesepakatan yang saling menguntungkan’. Ini hanya akan menyebabkan sinisme dan demoralisasi.

Pertanyaannya adalah, apakah ada strategi lain yang lebih baik?

Ya, ada. Semuanya dimulai dengan mengakui fakta. Kepemimpinan yang mengatakan, “Kita telah terpukul keras (dan menjelaskan bagaimana), kondisinya tidak kondusif sekarang untuk berperang, kita akan mengorganisir kembali kekuatan kita”, dan menawarkan perspektif yang jelas untuk perjuangan, akan memenangkan otoritas politik dan mampu mempersiapkan fase selanjutnya.

Perjuangan melawan imperialisme pada dasarnya adalah masalah politik. Tentu saja, perjuangan ini memiliki aspek teknis-militer yang sangat penting. Tetapi tanpa kejernihan politik, aspek militer tersebut tidak banyak berguna.

Pada dasarnya, Vietnam mengalahkan AS dan Aljazair mengalahkan Prancis bukan karena keahlian militer Front Pembebasan Nasional mereka, tetapi terutama karena mereka adalah dua bangsa yang berjuang untuk pembebasan mereka dari kuk imperialisme.

Kehancuran Revolusi Bolivarian di bawah Maduro

Di Venezuela, hambatan utama perlawanan terhadap imperialisme bukanlah militer, melainkan politik. Sejak kematian Chávez, kepemimpinan Bolivarian telah menempuh kebijakan yang melemahkan Revolusi Bolivarian secara politik.

Alih-alih mengindahkan peringatan Chávez di Golpe de Timón (bahwa kita harus “membangun ekonomi sosialis” dan “menghancurkan negara borjuis”), yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih kebijakan internasionalis revolusioner, geopolitik ‘multipolar’ menjadi kebijakan yang lebih dipilih.

Kontrol buruh dihancurkan, perusahaan diprivatisasi, tanah diambil dari para petani, semua struktur partisipasi dibirokratisasi, dan lain sebagainya.

Menghadapi keruntuhan ekonomi, jatuhnya harga minyak, dan sanksi ekonomi, kepemimpinan memutuskan untuk mencampakkan kebijakan Keynesian tentang ekspansi moneter dan regulasi pasar, dan menerapkan paket monetaris brutal yang membebankan krisis kepada kelas pekerja. Perundingan kolektif dihancurkan, dan pemerintah memenjarakan para aktivis serikat buruh yang berjuang untuk membela pencapaian sebelumnya. Jutaan orang terpaksa beremigrasi.

Semua ini dilakukan secara sinis atas nama Chávez, Bolivarianisme, revolusi, dan sosialisme, padahal kenyataannya mereka bergerak ke arah yang berlawanan.

Kontra-revolusi Thermidorian inilah, yang dipimpin oleh Maduro, yang menghancurkan konten revolusi Bolivarian dan menyebabkan bencana pada tahun 2024.

Mereka yang belum memahami proses ini kini kebingungan.

Dan yang lebih parah lagi, setelah berjanji “melawan imperialisme sampai mati”. pada tanggal 3 Januari, ketika serangan itu datang, para pemimpin ini justru tidak berkutik, dan rencana darurat tidak diaktifkan. Ketika mereka akhirnya buka suara, justru seruan yang terdengar adalah untuk menjaga ketenangan dan perdamaian.

Tugas utama kaum revolusioner saat ini adalah memobilisasi diri dengan segenap kekuatan kita melawan agresi imperialis di Venezuela, di seluruh Amerika Latin, dan di seluruh dunia. Kita harus melakukan segala daya upaya untuk melawan cengkeraman Washington yang mencekik Venezuela. Itulah tugas mendasar kita.

Namun, kita tidak akan memenuhi kewajiban kita, jika kita juga tidak membuka debat politik tentang bagaimana dan mengapa kita sampai pada titik ini dan bagaimana cara terbaik untuk memerangi imperialisme.

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Dunia 2025: Dunia Terjungkir Balik – Sistem Kapitalisme dalam Krisis
    Perspektif Politik 2025: Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme