Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

ASEAN di Antara Dua Hegemoni

Dipublikasi 18 February 2026 | Oleh : Moses Kabelen

Dunia sedang mengalami pergeseran kekuatan yang jarang terjadi dalam dunia modern. Kita tengah menyaksikan pergeseran tektonik dalam hubungan dunia. Tiongkok telah menjadi kekuatan yang menyaingi Amerika Serikat. Hubungan Eropa dan AS yang konon ajeg mulai retak. Amerika Latin yang dahulunya di bawah AS kini perdagangan dan investasinya mulai digantikan Tiongkok. Selain itu hubungan AS di Asia Tenggara juga mulai berubah. Semua yang padat larut ke udara. Oleh karena itu, memahami kebangkitan Tiongkok dapat membantu kita memperjelas konflik-konflik yang tengah terjadi saat ini dan yang akan datang.

Selama puluhan tahun setelah Perang Dunia II, dan terutama setelah runtuhnya Uni Soviet, AS mendominasi dunia. Semua negara di dunia tunduk pada supremasi AS, pada globalisasi dan “demokrasinya”. Selama periode tersebut tidak ada kekuatan yang menandingi AS. AS menjadi satu-satunya contoh “demokrasi” bagi seluruh dunia. Tetapi demokrasi ini menutupi fakta telanjang bahwa selama ini AS telah menjadi kekuatan dominan di seluruh dunia dengan pangkalan militernya yang tersebar di seluruh dunia.

Namun fase itu kini sedang memasuki krisis. Doktrin kedamaian melalui kekuatan (peace through power) ini diungkapkan dengan baik oleh Trump yang dengan blak-blakan menyingkap tabir imperialisme AS. Tabir ini harus disingkap karena kini AS telah menemui rival yang mengancamnya, dan sebagai konsekuensinya AS harus menegaskan kepentingannya secara terbuka.

Tiongkok telah muncul sebagai kekuatan saingan AS. Imperialis muda ini telah mengembangkan kekuatannya. Ia bukan lagi negara terdominasi. Sejak awal 2000-an, Tiongkok tumbuh menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia. Transformasi industrialnya mengubahnya dari “pabrik dunia” menjadi pusat manufaktur berteknologi menengah dan tinggi. Lebih penting lagi, Beijing mulai mengekspor modal secara besar-besaran. Ini merupakan ciri klasik negara imperialis dalam pengertian Lenin: ekspor kapital ke luar negeri untuk mencari keuntungan lebih tinggi dan memperluas pengaruh geopolitik.

Melalui Belt and Road Initiative (BRI), Tiongkok membangun pelabuhan, jalur kereta, pembangkit listrik, dan kawasan industri di puluhan negara. Infrastruktur ini bukan sekadar proyek ekonomi; ia menciptakan jaringan ketergantungan jangka panjang.

Rivalitas ini kemudian memuncak dalam perang tarif dan pembatasan teknologi sejak 2018. Amerika Serikat berupaya menahan kebangkitan pesaingnya melalui tarif impor, pembatasan chip semikonduktor, dan strategi “de-risking” rantai pasok. Namun kebijakan ini tidak menghentikan integrasi ekonomi Tiongkok dengan kawasan sekitarnya, terutama ASEAN.

Kendati serangan tarif AS, perdagangan Tiongkok meningkat 5.5 persen pada tahun 2025. Beijing juga mengambil langkah strategis untuk mengamankan pasokan bijih besi yang selama ini berada di bawah dominasi eksportir Australia dan Brasil. Ini hanya salah satunya. Mari kita lihat bagaimana perkembangan mereka sejauh ini di Asia Tenggara, wilayah yang sebelumnya didominasi AS.

Pengaruh Beijing di ASEAN

ASEAN diinisiasi oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand pada tahun 1967 sebagai benteng untuk melawan penyebaran komunisme di Asia. Sejak awal berdirinya, ASEAN digunakan untuk memperkuat hubungan investasi dan pertahanan imperialis AS dan mempererat hubungan antara keduanya. Washington melihat ASEAN sebagai alat utama untuk membatasi pengaruh Tiongkok.

Namun hari ini peta ekonominya sudah berubah. Perdagangan Tiongkok dengan ASEAN meningkat lebih dari dua kali lipat dalam satu dekade terakhir. Dari sekitar US$470 miliar pada awal 2010-an, nilainya melonjak mendekati US$1 triliun pada 2022. Pangsa Tiongkok dalam total perdagangan ASEAN mencapai hampir 20 persen, yang menjadikannya mitra dagang terbesar kawasan tersebut.

Artinya jelas: secara perdagangan, ASEAN semakin terintegrasi dengan ekonomi Tiongkok. Namun perdagangan bukan satu-satunya indikator kekuatan. Jika kita melihat investasi langsung (FDI), gambarnya lebih kompleks.

Stok investasi langsung Amerika Serikat di ASEAN masih jauh lebih besar dibandingkan Tiongkok. Akumulasi FDI AS di kawasan ini diperkirakan berada di atas US$400 miliar, sementara stok FDI Tiongkok sekitar sepertiganya. Perusahaan-perusahaan Amerika telah lama tertanam dalam sektor keuangan, energi, teknologi, dan jasa bernilai tambah tinggi.

Sebaliknya, FDI Tiongkok tumbuh pesat dalam satu dekade terakhir, terutama di manufaktur, pertambangan, energi, dan infrastruktur. Proyek-proyek BRI memperkuat kehadiran fisik dan strategis Beijing di kawasan tersebut.

Dengan demikian, terdapat kontradiksi struktural, yakni perdagangan ASEAN semakin condong ke Tiongkok, tetapi struktur kepemilikan modal jangka panjang masih kuat dipengaruhi Amerika. Inilah inti perebutan hegemoni di Asia Tenggara.

Pada masa jabatan Trump yang pertama di 2017, AS keluar dari Trans-Pacific Partnership. Ini semakin ditekankan dalam Dokumen Keamanan Nasional mereka yang menempatkan Belahan Barat sebagai fokus regional utamanya, mengalihkan perhatian ke arah penguatan pertahanan dalam negeri serta menghalau pengaruh Tiongkok.

Bila Trump dengan jelas mengungkapkan kepentingan AS di Belahan Dunia Barat, Beijing secara nyata mulai menggeser kekuatan AS di Asia Tenggara. Investasi luar negeri dan hubungan perdagangan yang besar memberinya pengaruh ekonomi yang lebih besar di kawasan tersebut.

Menurut Lowy Institute, sebuah lembaga think-tank Australia, pengaruh Amerika di ASEAN telah melemah selama lima tahun terakhir, sementara pengaruh China justru meningkat. Lembaga tersebut membandingkan kedua negara tersebut berdasarkan 42 indikator dalam empat kategori: hubungan ekonomi, jaringan pertahanan, pengaruh diplomatik, dan pengaruh budaya. Mereka memberikan kedua kekuatan tersebut masing-masing 100 poin berdasarkan seberapa baik kinerja mereka. Pada 2018, China memperoleh 52 poin dan Amerika 48 poin. Pada tahun 2022, China memperoleh 54 poin.

Kekuatan kedua negara mencerminkan prioritas strategis masing-masing. Walaupun sejumlah anggota ASEAN mulai mempertanyakan motif Beijing, besarnya investasi luar negeri dan intensitas hubungan dagang China tetap memberinya pengaruh ekonomi yang lebih kuat di kawasan tersebut. Dalam ranah diplomatik, jangkauan dan konsistensi pendekatan Tiongkok juga terlihat lebih dominan dibandingkan upaya Amerika yang relatif kurang terkoordinasi.

Sebaliknya, Amerika Serikat masih mempertahankan keunggulan dalam aspek keamanan. Jaringan aliansi militernya dengan sejumlah negara ASEAN masihlah kuat, khususnya dengan sekutu perjanjian seperti Filipina dan Thailand, serta kemitraannya dengan Singapura. Ini memberi AS posisi yang lebih kokoh dalam arsitektur pertahanan regional. Di bidang pengaruh budaya, Washington juga masih sedikit berada di depan Beijing, meskipun jaraknya semakin menyempit.

Secara keseluruhan, pengaruh Amerika tampak menyusut di Brunei, Indonesia, dan Malaysia, sementara peningkatan yang berarti hanya terlihat di Laos, negara yang selama ini justru menjadi salah satu titik pengaruh terkuat China. Filipina dan Singapura menjadi pengecualian, sebagai dua negara di mana pengaruh Amerika setara atau bahkan melampaui Tiongkok.

Asia Tenggara menjadi salah satu medan pertempuran utama dalam persaingan antara AS dan Tiongkok. ASEAN bukan blok homogen. Setiap negara memiliki kalkulasi berbeda. Filipina memperkuat kerja sama militernya dengan Washington. Singapura mempertahankan hubungan pertahanan yang erat dengan AS sekaligus hubungan ekonomi intensif dengan Tiongkok. Laos dan Kamboja sangat bergantung pada investasi dan bantuan Tiongkok. Indonesia dan Malaysia mencoba strategi “hedging”, tidak memihak secara terbuka tetapi menjaga hubungan dengan keduanya. Vietnam berhati-hati terhadap Beijing karena sejarah konflik, namun tetap terintegrasi dalam rantai pasok regional yang dipimpin Tiongkok.

Strategi “bermain dua kaki” ini mencerminkan realitas bahwa tidak ada satu negara pun di ASEAN yang ingin terjebak dalam konflik blok terbuka. Mereka berupaya memaksimalkan keuntungan ekonomi sambil meminimalkan risiko politik.

Namun ruang manuver itu tidak tak terbatas. Jika rivalitas meningkat menjadi blok ekonomi dan militer yang lebih keras, tekanan untuk memilih pihak akan semakin kuat. Akan ada masa dimana kelas penguasa di negara-negara Asia Tenggara pada akhirnya harus memilih salah satu di antara kedua kekuatan imperialis ini. Perpecahan di antara mereka sendiri menjadi tak terelakkan.

Apa artinya bagi kelas pekerja?

Kebangkitan Tiongkok menandai berubahnya tatanan paska Perang Dunia Kedua. Guncangan ini mencairkan kembali hubungan lama di atasnya. Persaingan antar kekuatan besar ini berpotensi memicu fragmentasi rantai pasok global, blok-blok perdagangan, dan bahkan konflik regional.

Bagi kelas pekerja di seluruh dunia, rivalitas ini – yang kini sering disebut dunia multipolar – bukan berarti kita akan hidup di dunia yang lebih baik karena tidak lagi didominasi oleh satu kekuatan tunggal. Baik imperialis AS maupun imperialis Tiongkok beroperasi dalam logika akumulasi keuntungan. Tidak ada yang progresif dari konflik dua kekuatan imperialis yang bersaing ini. Persaingan mereka memperburuk eksploitasi tenaga kerja, meningkatkan militerisasi, dan menekan anggaran sosial demi perlombaan teknologi serta persenjataan dan meningkatkan konflik dan peperangan.

Kebangkitan Tiongkok dan kelemahan relatif AS bukan sekadar soal siapa yang akan menjadi hegemon berikutnya. Ia adalah gambaran dari krisis mendalam dalam sistem kapitalisme global itu sendiri. Pergeseran tektonik global ini masih berlangsung. Hasil akhirnya belum pasti. Tetapi satu hal tidak dapat disangkal: tatanan lama telah retak, dan Asia Tenggara berada tepat di garis patahan itu.

Dunia tidak lagi berada dalam tatanan lama, dan konflik-konflik serta ketidakstabilan akan semakin meruncing. Kelas penguasa akan terpecah atas dasar ini. Mereka akan menggunakan retorika nasionalisme, perdamaian dan segala macamnya untuk mendukung satu di antara imperialis ini. Tugas kaum revolusioner bukanlah untuk menjadi pemandu sorak dan mendukung salah satu di antara kekuatan imperialis ini. Kita adalah kaum anti-imperialis yang konsisten. Tugas kita jelas: musuh ada di rumah kita sendiri. Tugas melawan imperialisme terikat erat dengan tugas melawan borjuasi di negara kita sendiri.

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Dunia 2025: Dunia Terjungkir Balik – Sistem Kapitalisme dalam Krisis
    Perspektif Politik 2025: Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme