Invasi AS-Israel ke Iran telah berlangsung selama satu minggu. Dan dalam satu minggu ini, AS telah menghabiskan 6 miliar dolar untuk membom Iran. Kira-kira 1 miliar per hari, atau setara dengan Rp 200 juta per detiknya. Sungguh perang yang sangat memboroskan. Trump pun telah mengatakan bahwa perang ini bisa berlangsung berminggu-minggu.
Kita diingatkan kembali pada petualangan militer Bush di Irak pada 2003. Walaupun sudah menyatakan “Mission Accomplished” 8 minggu setelahnya, ini ternyata adalah pernyataan yang terlalu prematur. AS akhirnya terjebak dalam perang abadi di Irak yang menghabiskan 1,9 triliun dolar, menewaskan ribuan tentara AS dan ratusan ribu warga. Tidak hanya itu, alih-alih membawa demokrasi dan kestabilan seperti yang dijanjikan, Irak jadi sarang ISIS. Tidak ada demokrasi, tidak ada kestabilan. Trump tampaknya akan mengulang skenario yang sama.
Trump terpilih dengan janji akan menjadi presiden perdamaian. Dia begitu bernafsu memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian sampai-sampai kacungnya Maria Machado – pemimpin oposisi borjuis Venezuela – mempersembahkan medali Nobelnya kepadanya. Dalam Dokumen Strategi Nasional yang belum lama ini terbit, rejim Trump kembali menggarisbawahi perubahan kebijakan luar negeri mereka. AS tidak akan lagi menjadi polisi dunia, karena kekuatannya yang telah melemah tidaklah memungkinkannya memainkan peran ini. Untuk menghadapi musuh besarnya sekarang, China, AS akan mengamankan Belahan Barat dan menarik dirinya keluar dari perang-perang abadi.
Namun menyatakan niat bukan berarti mampu mewujudkan niat tersebut. Perubahan kebijakan asing ini, yang sangatlah drastis, bukanlah perkara mudah seperti membalikkan telapak tangan. Trump dan selapisan kelas penguasa AS jelas ingin memusatkan perhatiannya pada China dan halaman belakang mereka, tetapi puluhan tahun kebijakan imperialis yang telah mereka terapkan tidak bisa begitu saja mereka campakkan tanpa konsekuensi.
AS tidak bisa begitu saja mencampakkan wilayah pengaruhnya di Timur Tengah. Justru, semakin AS berniat mengambil sedikit langkah mundur dari Timur Tengah, semakin ia harus bergantung pada sekutunya Israel. Fakta ini digunakan dengan sangat baik oleh Netanyahu, yang tahu bahwa entah bagaimanapun AS terpaksa harus terus mendukungnya. Perang dengan Iran ini sejatinya adalah provokasi Netanyahu.
Di sisi lain, setelah gelombang demonstrasi pada Desember kemarin, dan juga keberhasilan invasi ke Venezuela, Trump merasa begitu percaya diri dia bisa menaklukkan Iran. Awalnya dengan ancaman kerahan aset-aset militer. Tetapi Iran bukanlah Venezuela. Rejim reaksioner Iran mungkin saja sudah dilemahkan oleh gejolak sosial dan krisis ekonomi, tetapi intervensi imperialis AS justru semakin memperkuatnya karena ada sentimen anti-imperialis yang begitu kuat di antara massa luas. Pada hari pertama, Trump menyerukan rakyat Iran untuk turun ke jalan dan menumbangkan rejim Iran, tetapi seruannya tidak mendapat gubrisan. Laporan intelijen memberi tahu Trump bahwa invasi militernya tidaklah menjadi pemicu gerakan massa, tetapi justru sebaliknya. Inilah mengapa sejak itu dia tidak pernah lagi mengeluarkan seruan yang sama.
Prestise Amerika Serikat – dan Trump pribadi – jadi taruhan. Setelah mengancam akan menyerang, mereka pun terpaksa menyerang ketika rejim Iran tidak menuruti ancaman mereka. Kalau tidak, ancaman mereka akan jadi bualan kosong. Trump adalah pejudi, dan dia bertaruh bahwa ancaman militernya akan cukup untuk mendorong Iran ke bawah jempolnya. Taruhannya gagal, dan dia pun melipatgandakan taruhannya (atau doubledown) dengan sungguh-sungguh menyerbu Iran. Ini sesuatu yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh Joe Biden, presiden AS yang begitu keblinger memicu Perang Ukraina-Rusia.
Pada hari pertama, AS dan Israel berhasil membunuh seluruh jajaran kepemimpinan atas Iran, bahkan sampai membunuh lapisan moderat yang sesungguhnya ingin dijadikan pengganti oleh AS. Serangan ini justru menguatkan kelompok garis keras yang tidak akan memberi konsesi apapun pada AS. Dalam kata lain, AS semakin terjebak dalam perang ini. Inilah yang membuat pemerintahan Trump kini agak kelabakan.
Taruhan Trump gagal, dan yang membayar adalah rakyat pekerja Iran dan seluruh kawasan tersebut, dan bahkan seluruh dunia. Perang ini telah mendorong harga minyak tembus 100 dolar per barel, yang berarti kenaikan harga-harga barang. Inflasi akan menggerogoti daya beli rakyat di mana-mana. Miliar dolar yang dihabiskan untuk perang ini harus dibayar dengan memangkas anggaran sosial. Basis Trump yang sebelumnya memilihnya karena janji perdamaiannya, janjinya untuk menyelesaikan krisis biaya hidup, akan mulai melihat kebenaran yang terungkap dari perang ini, bahwa Trump tidak berbeda dari Biden, dari Obama. Perang ini telah menyebar dan mulai menarik semakin banyak negara terlibat di dalamnya. Inilah kapitalisme. Horor tanpa akhir. Tidak ada solusi selain berjuang untuk menumbangkannya.
