Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

Bagaimana Kita Bisa Bebas? Kritik Marxis terhadap “The Dawn of Everything”

Dipublikasi 30 April 2026 | Oleh : Joel Bergman

The Dawn of Everything, karya antropolog anarkis David Graeber dan arkeolog David Wengrow telah mendapat banyak sorotan sebagai pandangan radikal baru tentang sejarah manusia, baik di media arus utama maupun di kalangan kiri. Dalam tulisan ini, Joel Bergman memberikan kritik Marxis yang tajam terhadap buku tersebut, dan mengungkap kelemahan mendasar yang melekat dalam pandangan sejarah idealis yang diusung oleh para penulisnya.

Pada musim gugur 2021, sebuah buku baru berjudul The Dawn of Everything: A New History of Humanity karya antropolog David Graeber dan arkeolog David Wengrow diterbitkan dan langsung mendapat sambutan hangat dari media arus utama. Mengingat Graeber adalah seorang anarkis yang dikenal luas karena perannya dalam gerakan #Occupy dan meninggal pada 2020, buku ini pun disambut antusias oleh banyak kalangan kiri. Namun, jika dicermati lebih jauh, The Dawn of Everything ternyata merupakan bentuk apologi konservatif terhadap tatanan yang ada, yang pada akhirnya merusak kemampuan kita untuk memahami masyarakat dan mengubahnya.

Sebuah Ilmu Sejarah Baru?

The Dawn of Everything menawarkan janji yang sangatlah besar dan berani. Para penulisnya mengklaim bahwa mereka telah “menjungkirbalikkan narasi konvensional” dan lebih jauh lagi, mereka “tidak hanya menyajikan sejarah baru umat manusia, tetapi juga mengajak pembaca memasuki sebuah ilmu sejarah yang baru, yang mengembalikan kemanusiaan penuh pada para leluhur kita.” (Graeber dan Wengrow, The Dawn of Everything, Allen Lane, 2021, hal. 24)

Tesis utama dalam buku ini adalah bahwa manusia bisa mengubah struktur sosial kita tanpa bergantung pada kondisi material. Seluruh pendekatan buku ini bertumpu pada argumen bahwa ‘agensi manusia’ – yakni kehendak bebas – serta gagasan adalah faktor penentu dalam perkembangan sejarah. Hukum-hukum sejarah, menurut mereka, hanyalah hukum “yang kita ciptakan sendiri.” (hal. 5)

Sepanjang mayoritas besar sejarah umat manusia, kata mereka, kita “bergerak maju mundur dengan luwes di antara berbagai tatanan sosial, membentuk dan membongkar hierarki setiap harinya.” (hal. 115) Maka dari itu, menurut mereka, pendekatan ilmiah yang mencoba mencari faktor penentu perkembangan sosial di luar kesadaran manusia tidak hanya mengingkari agensi para leluhur kita – dan dengan itu ‘kemanusiaan’ mereka – melainkan juga dibangun atas dasar asumsi keliru yang harus ditinggalkan.

Sebagai akibatnya, berbagai penjelasan materialis yang selama ini diajukan untuk memahami fenomena seperti munculnya kekuasaan raja, eksploitasi kelas, dan penindasan terhadap perempuan, dianggap tidak lebih dari sekadar ‘mitos’ yang justru mengaburkan pemahaman kita tentang masa lalu. Sebaliknya, menurut mereka, yang perlu kita tanyakan adalah “bagaimana kita bisa terjebak” dalam keyakinan bahwa masyarakat tidak bisa diatur dengan cara yang berbeda. (hal 112) Titik perubahan inilah yang disebut sebagai ‘Fajar Dari Segala Sesuatu’ – yang menjadi judul buku ini – yakni momen ketika semua gagasan tentang bagaimana masyarakat seharusnya diorganisir menjadi kaku dan mapan.

Ini merupakan serangan besar terhadap studi ilmiah tentang sejarah, dan seperti yang akan terlihat, terhadap Marxisme secara khusus, meskipun disampaikan secara lebih halus. Namun bahkan jika dinilai dari kerangka yang mereka gunakan sendiri, metode idealis yang dianut membuat Graeber dan Wengrow tak mampu memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan. Tidak mengherankan, dari lebih dari 600 halaman teks dan catatan, para penulis tidak pernah benar-benar menjelaskan bagaimana kita “terjebak”.

Kehendak Bebas dan Determinisme

Pertentangan antara ‘kebebasan’ dan apa yang disebut Graeber dan Wengrow sebagai ‘determinisme’ sebenarnya membawa kita kembali pada perdebatan filsafat lama tentang hubungan antara kebebasan dan keniscayaan. Ketika diterapkan pada sejarah umat manusia, perdebatan ini menyangkut sejauh mana peristiwa dan institusi yang muncul sepanjang sejarah dibentuk oleh pilihan bebas individu-individu dalam masyarakat, atau oleh hukum-hukum objektif yang berada di luar kesadaran dan kendali mereka.

Selama ribuan tahun, para filsuf dan sejarawan telah mencoba memahami kontradiksi ini: Di satu sisi, peristiwa-peristiwa sejarah terdiri dari tindakan individu-individu yang sadar, yang digerakkan oleh kehendak mereka sendiri; namun di sisi lain, perkembangan masyarakat manusia secara keseluruhan menunjukkan pola yang cukup seragam, yang mengisyaratkan bahwa sejarah digerakkan oleh hukum-hukum yang berdiri di luar kehendak individu.

Marx telah menyelesaikan kontradiksi ini dengan menyatakan: “Manusia membuat sejarah mereka sendiri, tetapi mereka tidak membuatnya sekehendak hati mereka; mereka tidak membuatnya di bawah kondisi-kondisi yang mereka pilih sendiri, melainkan di bawah kondisi-kondisi yang sudah ada, yang disampaikan dan diwariskan dari masa lalu.” (Marx, Brumaire ke-18)

Para sejarawan terdahulu telah menyadari bahwa gagasan-gagasan kita tidak jatuh begitu saja dari langit, melainkan dibentuk oleh lingkungan kita, termasuk kondisi-kondisi sosial di mana kita dilahirkan. Namun, mereka kemudian terjebak dalam siklus yang tak berujung saat mencoba menjelaskan asal-usul dari kondisi-kondisi tersebut.

Lembaga-lembaga seperti negara dan kepemilikan pribadi dianggap sebagai hasil dari konstitusi masyarakat-masyarakat yang ada sepanjang sejarah. Lalu apa yang menentukan kebiasaan-kebiasaan dalam konstitusi tersebut? Gagasan ‘orang-orang besar’ yang menuliskannya. Gagasan-gagasan ini pun dijelaskan lagi dengan merujuk pada gagasan yang lebih tua, dan seterusnya, hingga akhirnya semua itu bermuara pada satu penyebab utama sejarah: kodrat manusia, atau Tuhan.

Marx-lah yang menemukan jalan keluar dari kebuntuan ini. Ia menetapkan satu kenyataan mendasar: bahwa perkembangan masyarakat manusia pada dasarnya bergantung pada perkembangan kekuatan produktif. Dengan kata lain, cara manusia berinteraksi dengan lingkungannya untuk menghasilkan kebutuhan-kebutuhan material hidup adalah fondasi yang melandasi bagaimana masyarakat manusia dibangun.

Marx menyebut cara manusia memenuhi kebutuhan hidupnya itu sebagai ‘moda produksi’, sebuah proses yang bersifat sosial, di mana manusia memasuki relasi-relasi tertentu yang “tak terelakkan dan independen dari kehendak mereka.” Di atas fondasi material inilah muncul kebudayaan, politik, dan ideologi. Seperti yang dijelaskan Marx: “Moda produksi kehidupan material mengkondisikan proses kehidupan sosial, politik, dan intelektual secara umum. Bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, tetapi keberadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka.” (Marx, Preface to A Contribution to the Critique of Political Economy)

Bagi Marx, relasi produksi bukanlah sesuatu yang ditentukan selamanya oleh kodrat manusia atau sebab lainnya. Relasi itu berubah seiring perkembangan produksi itu sendiri. Karena itu, munculnya gagasan-gagasan baru tentang bagaimana masyarakat seharusnya diatur, dan revolusi-revolusi besar yang menggulingkan cara tatanan lama yang sebelumnya mendominasi, bukanlah peristiwa acak atau hasil dari satu tokoh jenius semata, melainkan, pada analisa terakhir, cerminan dari perubahan mendalam pada fondasi material masyarakat.

Namun, ini bukan berarti manusia kehilangan ‘agensinya’. Pada akhirnya, sejarah tak lain adalah rangkaian tindakan dan pilihan yang dibuat manusia. Yang ditolak oleh pandangan Marxis tentang sejarah adalah gagasan kekuatan adikodrati yang selama ini keliru ditempatkan sebagai pengganti dari aktivitas manusia yang nyata.

Seperti yang dijelaskan Engels: “Kebebasan tidak terletak pada angan-angan untuk terbebas dari hukum-hukum alam, melainkan pada pengetahuan tentang hukum-hukum tersebut, dan pada kemungkinan yang lahir darinya untuk secara sistematis membuat hukum-hukum itu bekerja demi tujuan-tujuan tertentu.” (Engels, Anti Duhring) Dengan cara inilah, studi tentang masyarakat manusia untuk pertama kalinya diletakkan di atas basis ilmiah yang sejati.

Sayangnya, menurut Graeber dan Wengrow, justru pendekatan ilmiah inilah – yang paling dikembangkan oleh Marx dan Engels – yang telah menyesatkan kita. Tapi bagaimana mereka mendekati persoalan ini? Dengan memparafrasekan Marx, mereka memulai dengan menyatakan, “Kita membuat sejarah kita sendiri, tapi tidak dalam kondisi yang kita pilih sendiri.” (hal. 206) Namun, mereka kemudian sepenuhnya menyangkal gagasan tersebut dengan mengklaim bahwa, karena “tidak ada cara untuk mengetahui” seberapa besar peran yang dimainkan oleh agensi manusia, maka “di mana seseorang ingin menetapkan skala antara kebebasan dan determinisme pada dasarnya hanyalah soal selera.” (hal. 206) Dengan demikian, di balik berbagai pernyataan samar yang membingungkan ini, Graeber dan Wengrow pada dasarnya menyerahkan sepenuhnya sejarah manusia kepada ‘kehendak bebas’ sebagai faktor penentu utama.

Mereka menjelaskan, “Karena buku ini terutama membahas soal kebebasan, maka rasanya tepat untuk menggeser skala ini sedikit lebih ke kiri dari biasanya,” (hal. 206) dengan pengertian bahwa “kiri” lebih condong ke kebebasan daripada determinisme. Sepanjang buku ini, yang kita temukan tak lebih dari rangkaian upaya yang agak dipaksakan untuk membuktikan asumsi yang sejak awal telah mereka tetapkan seenaknya.

Dengan cara seperti itu, pada akhirnya mustahil untuk menjelaskan apa pun. Jika setiap jawaban atas pertanyaan “Mengapa suatu masyarakat hidup dengan cara tertentu?” selalu saja berbunyi “Karena mereka memilihnya,” maka pertanyaan berikutnya pun tak terelakkan: “Mengapa mereka memilihnya?” Jawaban Graeber dan Wengrow atas pertanyaan itu hanyalah berupa daftar berbagai gagasan yang dimiliki masyarakat tentang bagaimana seharusnya manusia hidup. Tetapi pada akhirnya, itu hanya berarti: mereka hidup seperti itu karena menganggapnya sebagai cara hidup yang benar.

Jika ini kedengaran seperti cara berpikir yang berputar-putar, memang begitulah kenyataannya. Cacat fatal dari idealisme historis terletak pada kenyataan bahwa hal yang seharusnya dijelaskan – yakni gagasan manusia – malah dijadikan titik tolak penyelidikan. Masalah ini mencapai puncaknya dalam metode ‘analisis’ yang digunakan sepanjang buku, di mana hasil penyelidikan sebenarnya sudah ditentukan sejak awal oleh ide-ide favorit atau prasangka yang ingin mereka tonjolkan. Satu-satunya hal yang mengejutkan adalah betapa berbelit-belitnya cara mereka memutarbalikkan fakta agar cocok dengan teori.

Tentu dibutuhkan ratusan halaman untuk menanggapi setiap studi kasus yang dikemukakan atau dimisrepresentasikan dalam buku tersebut. Karena itu, ulasan ini hanya akan fokus pada argumen-argumen paling penting dan paling representatif yang diajukan oleh para penulis.

‘Eksperimen Sosial yang Berani’

Dalam bab pertama yang berjudul ‘Farewell to Humanity’s Childhood’, Graeber dan Wengrow menentang pandangan umum di kalangan antropolog bahwa masyarakat berburu-meramu awal bersifat egaliter, tanpa ketimpangan kekayaan maupun kekuasaan. Mereka menyebut pandangan semacam itu sebagai bentuk “memperlakukan manusia awal seperti anak kecil”, yang secara tidak langsung merampas ‘agensi’ mereka.

Sebaliknya, mereka mengklaim bahwa sepanjang sebagian besar sejarah spesies manusia, masyarakat telah menjalani “eksperimen-eksperimen sosial yang berani,” dan bahwa bentuk-bentuk masyarakat di masa lalu menyerupai “parade karnaval tatanan politik” (hal 4.), yang menurut mereka membuktikan bahwa manusia bebas memilih struktur sosialnya, terlepas dari kondisi material. Namun, premis ini tidak pernah benar-benar dibuktikan.

Argumen terkuat yang mereka ajukan untuk mendukung klaim bahwa masyarakat dapat “bergerak secara lentur di antara berbagai bentuk sosial” hanyalah contoh-contoh masyarakat berburu-meramu yang mengubah struktur sosialnya mengikuti musim. (hal. 115) Mereka merujuk pada masyarakat Nambikwara di hutan Amazon, suku Lakota di dataran Amerika Utara, serta Inuit di Kanada Utara, Greenland, dan Alaska.

Menurut Graeber dan Wengrow, ketiga masyarakat tersebut – Nambikwara, Lakota, dan Inuit – mengadopsi struktur sosial yang kurang lebih hierarkis pada waktu-waktu tertentu dalam setahun. Mengambil contoh dari Inuit, para antropolog melaporkan bahwa mereka memiliki dua bentuk struktur sosial yang berbeda: satu untuk musim panas dan satu lagi untuk musim dingin. Pada musim panas, Inuit hidup tersebar dalam kelompok-kelompok keluarga kecil di bawah hierarki yang ketat yang dipimpin oleh kepala keluarga laki-laki; sementara pada musim dingin, mereka berkumpul dalam komunitas yang lebih besar dengan gaya hidup yang lebih egaliter.

Untuk mendukung teori umum mereka bahwa manusia secara sadar memilih struktur sosialnya, Graeber dan Wengrow menyatakan bahwa Inuit melakukan hal tersebut “dengan pemahaman bahwa tidak ada tatanan sosial tertentu yang bersifat tetap atau tak bisa diubah.” Mereka mengutip antropolog Prancis Marcel Mauss yang meneliti masyarakat Inuit dan menyimpulkan bahwa: “Sebagian besar, ia menyimpulkan, suku Inuit hidup sebagaimana mereka hidup karena mereka merasa begitulah seharusnya manusia hidup.” Wah, betapa revolusionernya wawasan ini! Masalahnya, itu sama sekali bukan apa yang dikemukakan oleh Mauss.

Ketika membahas perubahan musiman dalam masyarakat Inuit, Mauss menjelaskan bahwa: “Musim panas membuka wilayah yang nyaris tak terbatas untuk berburu dan memancing, sementara musim dingin membatasi wilayah ini secara ketat. Alternasi ini memberikan ritme konsentrasi dan penyebaran bagi organisasi morfologis masyarakat Eskimo. Populasi berkumpul atau menyebar seperti hewan buruan. Gerakan yang menghidupkan masyarakat Eskimo tersinkronisasi dengan kehidupan di sekeliling mereka.” (M Mauss, Seasonal Variations of the Eskimo, Routledge, 2004, pg 55-56)

Dengan kata lain, suku Inuit menyesuaikan organisasi sosial mereka dengan lingkungan alam dan sumber daya yang tersedia untuk mereka pada waktu-waktu yang berbeda dalam setahun. Bahkan spiritualitas mereka pun terstruktur oleh kondisi-kondisi berbeda dalam memperoleh makanan, tergantung apakah makanan melimpah atau langka. Di musim dingin, yang bisa berlangsung hingga sembilan bulan di wilayah Arktik, kepercayaan spiritual mereka berpusat pada upaya untuk tidak menyinggung roh binatang agar perburuan berjalan sukses. Pada masa ini, berlaku berbagai macam pantangan dan ada aturan ketat dalam membagi makanan. Jika aturan ini tidak diikuti, besar kemungkinan masyarakat akan musnah. Kelompok-kelompok yang berhasil membangun tradisi seperti inilah yang mampu bertahan hidup di lingkungan yang keras tersebut.

Namun, selama musim panas yang singkat, keluarga-keluarga akan berpencar untuk memanfaatkan peluang berburu dan memancing yang melimpah, sekaligus mengumpulkan cadangan makanan sebagai bekal menghadapi musim dingin. Di wilayah Arktik, tumbuhan hampir tidak tumbuh, sehingga sebagian besar kebutuhan kalori berasal dari hasil buruan besar. Aktivitas ini biasanya dilakukan oleh laki-laki, yang karena itu mengambil peran kepemimpinan dalam unit keluarga yang untuk sementara direorganisasi demi kelancaran perburuan.

Jauh dari menjadi contoh masyarakat yang secara sadar berpindah antar tahap perkembangan sosial, masyarakat Inuit sepanjang waktu tetap merupakan komunitas berburu-meramu yang komunalistik, yang mengadopsi bentuk kepemimpinan yang lebih kaku secara sementara dan terbatas, semata-mata untuk menjamin kelangsungan produksi dan reproduksi kehidupan. Bahwa orang Inuit “merasa begitulah seharusnya manusia hidup” tentu tidak mengejutkan, namun perasaan itu sama sekali tidak membantah fakta bahwa cara hidup mereka sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan material mereka dan oleh moda produksi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Sebagaimana akan kita lihat, fenomena serupa muncul berulang kali dalam buku ini: para penulis memelintir pandangan para antropolog, mendistorsi fakta, dan mengabaikan segala hal yang tak cocok dengan narasi mereka.

Tanpa Asal-Usul?

Setelah sebelumnya berargumen bahwa masyarakat dapat mengadopsi berbagai bentuk politik tanpa bergantung pada tahap perkembangan ekonominya, Graeber dan Wengrow kemudian mengarahkan perhatian mereka pada pertanyaan yang mungkin lebih mendasar: apakah nenek moyang prasejarah kita hidup secara komunalistik?

Dalam bukunya The Origin of the Family, Private Property and the State, Engels menunjukkan bahwa kepemilikan pribadi, negara, dan keluarga patriarkal bukanlah karakter bawaan masyarakat manusia, bukanlah sesuatu yang selalu ada. Dengan merujuk pada studi antropologi modern pada zamannya – terutama karya Lewis Henry Morgan tentang masyarakat Iroquois di Negara Bagian New York – Engels menyimpulkan bahwa nenek moyang kita hidup dalam sistem yang ia sebut sebagai komunisme primitif. Dalam masyarakat semacam ini, konsep kepemilikan pribadi nyaris tidak dikenal, dan semua hal di luar barang-barang personal dipandang sebagai milik bersama.

Sejak Engels menerbitkan karyanya, para antropolog dan arkeolog telah meneliti ratusan, bahkan ribuan situs prasejarah serta masyarakat berburu-meramu modern. Mayoritas besar penelitian ini menguatkan kesimpulan bahwa masyarakat manusia awal kemungkinan besar bersifat komunal atau ‘egaliter’, sejalan dengan temuan Engels. Bahkan The Dawn of Everything pun mengutip antropolog Amerika Christopher Boehm dan antropolog Inggris James Woodburn, yang secara terpisah meneliti puluhan masyarakat berburu-meramu dan sama-sama menyimpulkan bahwa manusia awal hidup dalam tatanan egaliter.

Segalanya mulai berubah ketika masyarakat manusia beralih dari pola hidup berburu dan meramu ke sistem pertanian dan peternakan – sebuah transformasi yang oleh arkeolog Marxis, Vere Gordon Childe, disebut ‘Revolusi Neolitik’. Masa ini menandai lompatan besar dalam perkembangan kekuatan produktif manusia: untuk pertama kalinya, surplus yang stabil menjadi mungkin. Bersamaan dengan itu, benih kepemilikan pribadi dan masyarakat berkelas mulai tumbuh. Pada akhirnya, lahirlah kelas penguasa yang mengambil alih surplus hasil produksi, dan menegakkan eksploitasi terhadap massa yang bekerja, serta membentuk aparatus negara yang represif untuk mempertahankan posisi istimewa mereka. Proses ini berlangsung secara independen dan dalam waktu yang berbeda-beda di berbagai belahan dunia.

Penjelasan seperti ini menjadi problem bagi Graeber dan Wengrow, sebab ini menyiratkan bahwa masyarakat yang mengadopsi institusi masyarakat berkelas melakukannya bukan semata karena mereka ‘memilih’ untuk melakukan ini, tetapi karena dorongan kondisi material – yakni perkembangan kekuatan produktif dan moda produksi kehidupan material. Oleh karenanya, hampir seluruh buku The Dawn of Everything berupaya membongkar ‘mitos’ ini.

Hal pertama yang mereka serang adalah gagasan bahwa masyarakat berburu-meramu prasejarah itu komunistik sejak awal. Graeber dan Wengrow berpendapat bahwa stratifikasi sosial dan ketimpangan telah selalu ada, sehingga masyarakat prasejarah tidak bisa dikatakan benar-benar komunistik atau egaliter. Namun seperti yang akan kita lihat, alih-alih membangun teori dari kenyataan, mereka justru mencoba memaksa kenyataan agar sesuai dengan teori mereka.

Terlepas dari semua pernyataan mereka yang terlewat yakin, satu-satunya “bukti” yang diajukan The Dawn of Everything untuk menunjukkan bahwa ketimpangan selalu ada hanyalah beberapa situs pemakaman di wilayah barat Eurasia dari zaman paleolitik atas, yang mereka sebut sebagai “pemakaman pangeran.” (hal. 87) Namun, bahkan di bagian selanjutnya buku tersebut, mereka terpaksa mengakui bahwa orang-orang yang dimakamkan di situs-situs itu kemungkinan besar dihormati karena kondisi fisik mereka yang tidak biasa, dan sama sekali tidak mewakili suatu kelas atas yang berkuasa. Para penulis sendiri harus mengakui bahwa sangat kecil kemungkinan masyarakat pada masa itu telah terbelah “berdasarkan status, kelas, dan kekuasaan yang diwariskan,” ribuan tahun sebelum munculnya pertanian. (hal. 88)

Mereka kemudian bermain-main dengan definisi, misalnya dengan menyatakan bahwa karena tidak ada definisi universal atas kata ‘egaliter’, maka masa lalu yang egaliter pun tidak pernah ada. Permainan serupa mereka lakukan terkait asal-usul kepemilikan pribadi. Dalam bab empat mereka menyatakan: “Jika kepemilikan pribadi punya ‘asal-usul’, maka ide itu setua gagasan tentang apa itu yang sakral.” (hal. 163). Mereka kemudian menjelaskan bahwa masyarakat Amazon meyakini bahwa “hampir segalanya di sekitar mereka memiliki pemilik, atau berpotensi untuk dimiliki, mulai dari danau dan gunung, hingga tanaman budidaya, rumpun liana, dan hewan.” (hal. 161)

Namun siapa yang ‘memiliki’ semua itu? Bukan individu, bahkan bukan kelompok secara kolektif, melainkan entitas supranatural. Para penulis sendiri mengakui bahwa dalam masyarakat berburu-meramu lainnya, “sering kali, ‘pemilik’ sesungguhnya atas tanah atau sumber daya alam adalah dewa atau roh; manusia fana hanyalah penyusup, pemburu gelap, atau paling banter penjaga sementara.” (hal. 160)

Permainan kata ini tidak mengubah kenyataan bahwa pandangan spiritual umum di kalangan masyarakat berburu-meramu – yakni bahwa makhluk suci ‘memiliki’ hutan, danau, sungai, gunung, dan sebagainya – sebenarnya berarti kebalikan dari apa yang ingin ditunjukkan oleh Graeber dan Wengrow: bahwa semua itu tidak dapat dimiliki oleh siapa pun. Sebab masyarakat-masyarakat ini adalah masyarakat berburu-meramu komunistik, dan ini sepenuhnya sesuai dengan apa yang diprediksi oleh teori materialis tentang evolusi sosial.

‘Kritik Masyarakat Adat’

Dalam bab kedua yang diberi judul ‘Wicked Liberty: The Indigenous critique and the myth of progress’ (Kebebasan yang Jahat: Kritik Masyarakat Adat dan Mitos Kemajuan), Graeber dan Wengrow berupaya membantah keberadaan komunisme primitif dengan mengandalkan kesaksian langsung dari masyarakat yang menjadi dasar teori Morgan dan Engels.

Sebagian besar isi bab ini membahas apa yang mereka sebut sebagai “kritik masyarakat adat” terhadap masyarakat kapitalis Eropa, yang disuarakan oleh pemimpin suku Huron-Wendat pada akhir abad ke-17, Kandiaronk. Mereka mengutip kritik Kandiaronk terhadap masyarakat Prancis:

“Aku tegaskan bahwa apa yang kalian sebut ‘uang’ adalah iblis dari segala iblis, tiran bagi orang Prancis, sumber segala kejahatan, penghancur jiwa dan rumah jagal bagi yang hidup. Membayangkan seseorang bisa hidup di negeri uang dan tetap menjaga jiwanya, sama saja dengan membayangkan seseorang bisa tetap hidup di dasar danau. Uang adalah bapak dari kemewahan, nafsu bejat, intrik, tipu daya, kebohongan, pengkhianatan, ketidakjujuran – dari segala perilaku terburuk di dunia. Ayah menjual anaknya, suami menjual istrinya, istri mengkhianati suaminya, saudara membunuh saudaranya, teman bersikap palsu – dan semua itu karena uang.” (hal. 54-55)

Kandiaronk melanjutkan:

“Aku telah menguraikan sifat-sifat yang menurut kami, orang Wendat, seharusnya mendefinisikan kemanusiaan: kebijaksanaan, akal budi, keadilan, dan sebagainya. Saya telah jelaskan bahwa kepentingan materiil yang terpisah-pisah menghancurkan semuanya itu. Seorang manusia yang digerakkan oleh kepentingan tidak bisa menjadi manusia yang berakal.” (hal. 56)

Ia kembali mengkritik masyarakat Eropa, dengan mengatakan bahwa, “segala macam kejahatan terjadi karena adanya gagasan tentang milikku dan milikmu,” dan menyarankan agar bangsa Prancis mencontoh orang-orang Wendat:

“Jika kalian meninggalkan gagasan tentang kepemilikan – tentang milikku dan milikmu – ya, maka segala perbedaan antara manusia akan lenyap; kesetaraan yang merata akan hadir di tengah kalian sebagaimana hal itu telah hadir di tengah masyarakat Wendat.” (hal. 56)

Apa lagi maknanya ini kalau bukan sebuah kritik komunis terhadap masyarakat kelas? Hal ini seharusnya tidak mengejutkan, karena Kandiaronk hidup dalam masyarakat tanpa kelas, di mana kekayaan dimiliki secara komunal. Namun yang mengejutkan, Graeber dan Wengrow justru berusaha memutarbalikkan makna yang begitu jelas dari kata-kata Kandiaronk. Dalam satu paragraf mereka, yang menolak argumen bahwa perbedaan kekayaan pada akhirnya akan berubah menjadi perbedaan kekuasaan, para penulis menyatakan: “Ingat bahwa kritik dari masyarakat adat Amerika, sebagaimana kami uraikan dalam Bab Dua, pada awalnya menyasar hal yang sangat berbeda: kegagalan masyarakat Eropa dalam mendorong bantuan timbal balik (mutual aid) dan melindungi kebebasan pribadi.” (hal. 130) Namun ini sama sekali bukan yang dikatakan oleh Kandiaronk.

Para penulis mengklaim bahwa Kandiaronk “bahkan kesulitan membayangkan bahwa perbedaan kekayaan dapat diterjemahkan menjadi ketimpangan kekuasaan yang sistematis.” (hal. 130) Namun Kandiaronk sendiri tampaknya memiliki pemahaman yang cukup baik tentang bagaimana kondisi material – terutama “kepentingan material yang terpisah”  –  membentuk struktur sosial masyarakat Eropa pada masa itu.

Ini merupakan penerapan metode idealis yang tidak jujur, di mana mereka mengembangkan sebuah gagasan secara a priori dan kemudian mencoba memaksakan fakta agar sesuai dengannya. (hal. 5)

Faktanya, dalam masyarakat Huron-Wendat, alat produksi dimiliki secara komunal dan struktur sosialnya relatif egaliter, tanpa kelas penguasa atau struktur negara seperti yang kita kenal.

Peran Agrikultur

Para penulis kemudian menyerang gagasan bahwa kemunculan pertanian dan domestikasi hewan menjadi basis material bagi munculnya kelas sosial. Mereka menjelaskan, “juga diasumsikan bahwa tanpa aset produktif (tanah, ternak) dan surplus yang ditimbun (gandum, wol, produk susu, dll.) yang dimungkinkan oleh pertanian, tidak ada basis material yang nyata bagi seseorang untuk menguasai yang lain.” (hal. 127) Mereka lalu menolak ‘asumsi’ ini dengan menunjuk pada contoh masyarakat adat di pantai barat laut Kanada, Kwakiutl (atau Kwakwa̱ka̱ʼwakw), yang mempraktikkan perbudakan, sebagai bukti adanya ketimpangan sosial tanpa pertanian atau peternakan, dan karenanya tanpa basis dalam produksi.

Kasus Kwakiutl memang menarik, sebagai contoh bagaimana suatu pengecualian terhadap jalannya perkembangan yang lebih umum justru menegaskan peran produksi dalam perkembangan sosial. Aktivitas produktif utama masyarakat di pantai barat laut Kanada bukanlah pertanian, melainkan penangkapan ikan salmon, yang tampaknya bertentangan dengan gagasan bahwa masyarakat kelas muncul bersamaan dengan berkembangnya pertanian.

Dari sini, para penulis menarik kesimpulan bahwa “penyebab utama perbudakan” tidak terletak pada cara produksi Kwakiutl, melainkan pada “konsep masyarakat pantai barat laut tentang tatanan sosial yang seharusnya.” (hal. 197) Marilah kita mundur sejenak untuk mengagumi mutiara kebijaksanaan ini: tatanan sosial masyarakat pantai barat laut ternyata merupakan hasil dari konsep mereka sendiri tentang bagaimana masyarakat seharusnya diatur!

Namun ini sama sekali tidak menjelaskan mengapa Kwakiutl menganggap tatanan sosial seperti itu sebagai tatanan yang seharusnya, yang bahkan diakui oleh para penulis bukanlah kondisi yang berlangsung sepanjang waktu. Faktanya, penjelajah Eropa awal mencatat bahwa “arus salmon begitu besar hingga air pun nyaris tak terlihat karena banyaknya ikan.” (hal. 197) Ketika musim salmon datang, jutaan salmon melintasi daerah tangkapan.

Begitu kemampuan untuk menangkap dan menyimpan ikan dalam jumlah besar berkembang, penguasaan atas arus salmon dan surplus yang dihasilkannya menjadi sumber kekuasaan dan kekayaan yang luar biasa, mirip dengan penguasaan atas lahan pertanian subur yang menjadi tumpuan hidup masyarakat. Dengan kata lain, kehadiran surplus produksi yang signifikan mulai memungkinkan sebagian masyarakat untuk mengangkat dirinya di atas yang lain dan bertahan melalui eksploitasi tenaga kerja manusia. Ini sebenarnya lebih menyerupai masyarakat berbasis pertanian daripada yang ingin diakui oleh para penulis.

Alih-alih menjadi pengecualian yang membantah konsep Revolusi Neolitik, kasus Kwakiutl justru memperdalam pemahaman kita tentang perkembangan produksi yang diperlukan untuk melahirkan perbudakan dan kelas sosial. Tentu saja, jika seseorang benar-benar ingin memahami proses ini dan tidak menyelimutinya dengan kabut mistifikasi.

Negara

Dalam semangat yang sama, bab sepuluh diberi judul ‘Why the state has no origin’ (Mengapa negara tidak memiliki asal-usul). Di situ kita akan membaca: “Sama halnya dengan pencarian ‘asal-usul ketimpangan’, pencarian asal-usul negara tak lebih dari sekadar mengejar bayangan semu.” (hal. 427)

Mereka menyatakan: “Sering diasumsikan bahwa negara dimulai ketika fungsi-fungsi kunci pemerintahan – militer, administratif, dan yudisial  –  beralih ke tangan para spesialis tetap. Ini masuk akal jika kita menerima narasi bahwa surplus pertanian ‘membebaskan’ sebagian besar penduduk dari beban berat mencari makanan yang cukup.” (hal. 428) Dengan kata lain, menurut mereka ini hanya soal menerima suatu ‘narasi’. Namun bagaimana mungkin negara bisa muncul tanpa kondisi tersebut, tak pernah dijelaskan oleh mereka.

Mereka membahas isu ketimpangan dengan permainan postmodern, yakni dengan mengklaim bahwa tidak ada “konsensus” mengenai “apa sebenarnya” yang dimaksud dengan negara. (hal. 359) Meskipun mereka memperkenalkan definisi Marxis mengenai negara – tanpa mengutip satu pun sumber atau pernyataan Marx, tentu saja – yakni bahwa “negara pertama kali muncul dalam sejarah untuk melindungi kekuasaan kelas penguasa yang sedang tumbuh”, mereka segera menyingkirkannya. Menurut mereka, definisi Marxis ini justru menimbulkan “masalah konseptual baru, seperti bagaimana mendefinisikan eksploitasi,” sebuah persoalan yang tampaknya begitu sulit hingga mereka sama sekali tidak berusaha membahasnya. Lebih parah lagi, mereka menambahkan bahwa definisi itu “tidak bisa diterima oleh kalangan liberal,” termasuk, tampaknya, para penulis The Dawn of Everything sendiri. (hal. 360)

Mengacu pada buku sebelumnya yang ditulis Graeber bersama antropolog Marshall Sahlins pada 2017 berjudul On Kings, para penulis mengusulkan bahwa, “Raja-raja pertama mungkin hanyalah raja main-main. Lalu mereka menjadi raja sungguhan.” (hal. 117) Mengenai bagaimana mereka menjadi raja sungguhan, kita diberitahu: “Raja main-main berhenti menjadi raja main-main persis ketika mereka mulai membunuh orang.” Namun bahkan jika teori kekanak-kanakan yang sembrono ini benar, yang sama sekali tidak pernah dibuktikan dalam buku tersebut, ini tidak sedikit pun memperdalam pemahaman kita tentang bagaimana raja sungguhan benar-benar muncul.

Graeber dan Wengrow dengan jelas menyatakan bahwa menurut mereka perlu untuk menyingkirkan “abstraksi membosankan dari teori evolusioner,” seperti ‘tahapan’ atau ‘mode produksi’. (hal. 4)  Namun pada akhirnya mereka sendiri terpaksa menggunakan bentuk abstraksi mereka sendiri. Terjebak dalam jalan buntu filosofis tanpa dasar faktual untuk teori mereka, mereka ‘membuktikan’ keberadaan negara yang abadi melalui eksperimen pemikiran berikut (perhatikan baik-baik!):

Bayangkan Kim Kardashian memiliki “kalung berlian senilai jutaan dolar” dan ingin mencegah orang lain mengambilnya. Bagaimana ia akan melakukannya?

“Pengawal pribadi bersenjata, yang terlatih menghadapi pencuri potensial” mungkin bisa menjadi solusinya. Tapi bagaimana jika semua orang “meminum ramuan yang membuat mereka tidak bisa menyakiti siapa pun”?

Dalam kasus itu, mungkin Kim akan menyembunyikan kalungnya “dalam brankas, dengan kombinasi yang hanya ia ketahui dan hanya diberitahu kepada orang-orang terpercaya dalam acara yang tidak diumumkan sebelumnya.” Masalah selesai? Mungkin, kecuali jika “semua orang di dunia meminum ramuan lain yang membuat mereka tidak bisa menyimpan rahasia, tetapi tetap tidak mampu menyakiti satu sama lain secara fisik.”

Dihadapkan dengan orang-orang yang tidak bisa disakiti dan selalu berkata jujur, satu-satunya harapan Kim adalah “meyakinkan semua orang bahwa, sebagai Kim Kardashian, ia adalah sosok yang begitu unik dan luar biasa hingga ia memang pantas memiliki sesuatu yang tidak bisa dimiliki orang lain.” (hal 364-365)

Setelah menjalankan ‘eksperimen’ mereka hingga mencapai kesimpulan akhir, para penulis menyimpulkan bahwa apa yang kita sebut sebagai ‘negara’ sebenarnya hanyalah gabungan yang kurang lebih arbitrer dari tiga “prinsip”: kontrol atas kekerasan, kontrol atas informasi, dan kharisma individu. Mereka kemudian berargumen bahwa di mana pun kita menemukan salah satu dari “unsur-unsur” ini, maka di sanalah terdapat negara. (hal 365-368)

Terlepas dari kenyataan bahwa ‘pembuktian’ ini sudah mengandaikan keberadaan kepemilikan pribadi dan ketimpangan, keseluruhan argumennya bersifat melingkar. Kriteria yang digunakan dibuat se-abstrak mungkin agar bisa ditemukan di mana saja. Inilah kekuatan dari apa yang mereka sebut sebagai “ilmu sejarah yang baru”.

Namun yang luar biasa, setelah ‘membuktikan’ keberadaan abadi negara, mereka sendiri membantahnya saat harus kembali pada fakta, dengan mengakui bahwa sebelum zaman Neolitikum kita tidak melihat adanya “atribut umum kekuasaan terpusat: benteng, lumbung, istana.” Mereka menambahkan, “Sebaliknya, selama puluhan ribu tahun, yang kita lihat adalah monumen dan pemakaman megah, namun sangat sedikit yang mengindikasikan pertumbuhan masyarakat berjenjang, apalagi sesuatu yang menyerupai ‘negara’.” (hal. 92)

Jadi setelah diajak berputar-putar, pada akhirnya kita kembali ke teori yang justru ingin dibantah oleh Graeber dan Wengrow: bahwa negara tidak selalu ada, bahwa ia memiliki sebuah ‘asal-usul’, dan bahwa asal-usul tersebut dapat ditemukan dalam munculnya surplus produksi yang kemudian melahirkan kelas-kelas sosial.

Perjuangan Kelas

Kita telah melihat sejauh ini bagaimana Graeber dan Wengrow terjebak dalam tautologi mereka sendiri. Tapi bagaimana umat manusia bisa “terjebak” dalam “belenggu konseptual” kita saat ini? Menurut Graeber dan Wengrow, pada titik tertentu, manusia tiba-tiba berhenti bereksperimen dan berhenti bermain-main dengan bentuk-bentuk sosial. Sayangnya, alasan mengapa seluruh umat manusia akhirnya mengalami nasib ini tetap menjadi misteri bagi para penulis The Dawn of Everything. Namun mereka sangat bangga karena berhasil mengajukan pertanyaannya.

Padahal, kunci untuk menjawab pertanyaan ini sebenarnya sudah terkandung dalam beberapa kasus yang mereka bahas, namun secara konsisten dikaburkan sepanjang buku: perjuangan kelas. Absennya perjuangan kelas dalam The Dawn of Everything adalah alasan mengapa argumen mereka tentang agensi manusia dan ‘kebebasan’ terdengar begitu sepihak dan abstrak. Masyarakat kelas, negara, penindasan, dan eksploitasi bukan sekadar ‘dipilih’, melainkan dipaksakan oleh satu bagian masyarakat terhadap bagian lainnya.

Mengambil contoh masyarakat adat di pantai barat laut Kanada yang telah disebut sebelumnya, Graeber dan Wengrow mengklaim bahwa perbudakan hanya dipilih karena mereka menganggapnya sebagai “tatanan masyarakat yang seharusnya.” Namun kita bisa melihat bahwa alasan sebenarnya dari munculnya perbudakan adalah karena teknik produksi penangkapan salmon berkembang sedemikian rupa sehingga pada titik tertentu mereka mampu menghasilkan surplus yang signifikan di luar kebutuhan hidup langsung. Ini tidak hanya menciptakan kemungkinan diferensiasi kelas yang semakin tajam, tetapi yang lebih penting, juga menciptakan kebutuhan riil akan tenaga kerja intensif untuk ‘memanen’ dan mengolah salmon dalam jumlah besar guna mempertahankan surplus tersebut.

Pada akhirnya, mereka yang menguasai jalur-jalur migrasi salmon memiliki kepentingan material untuk memperbudak tawanan perang, alih-alih mengadopsi mereka ke dalam suku. Maka tidak mengherankan, seperti yang dijelaskan oleh para penulis, para budak “terutama terlibat dalam kegiatan panen massal, pembersihan, dan pengolahan salmon serta ikan anadromus lainnya.” (hal. 185)

Kita melihat proses serupa dengan munculnya pertanian intensif di Mesopotamia, Mesir, Mesoamerika, dan tempat-tempat lain di dunia. Sejak saat itu, seperti yang dijelaskan Marx dan Engels, “sejarah dari seluruh masyarakat adalah sejarah perjuangan kelas.” Bukan kebetulan, periode di mana kita mulai “terjebak” justru bertepatan dengan kemunculan dan menyebarnya masyarakat kelas.

Contoh kota Teotihuacan dan Uruk yang diangkat dalam The Dawn of Everything juga menunjukkan bahwa hasil dari perjuangan kelas tertentu tidaklah ditentukan sebelumnya; itu adalah perjuangan kekuatan-kekuatan hidup yang nyata.

Graeber dan Wengrow menggambarkan bagaimana, ketika kota Teotihuacan (yang terletak di Meksiko modern) berkembang sekitar tahun 100 SM, kota tersebut mulai “bergerak ke arah kekuasaan otoriter,” ditandai dengan arsitektur monumental yang mengesankan, seperti Piramida Matahari dan Bulan yang terkenal, serta praktik pengorbanan manusia, mirip dengan peradaban Mesoamerika lainnya seperti Maya. Namun kemudian, sekitar tahun 300 M, kota ini “tiba-tiba berubah haluan.” Mereka menambahkan kesimpulan penting berikut: “mungkin terjadi semacam revolusi, diikuti dengan distribusi sumber daya kota yang lebih merata dan pembentukan semacam ‘pemerintahan kolektif’.” (hal. 332)

Kota Uruk di Sumeria juga menyaksikan kebangkitan birokrasi kuil yang berprivilese, diikuti oleh periode ketidakstabilan dan keruntuhan pada akhir milenium ke-4 SM. Namun berbeda dengan Teotihuacan, birokrasi kuil di Uruk muncul kembali dalam catatan arkeologis, bersama dengan raja-raja, istana, dan seluruh atribut masyarakat kelas.

Perbandingan antara dua kasus ini, yang dipisahkan oleh ruang dan waktu yang begitu jauh, memberi kita pelajaran penting. Sangat mungkin bahwa di mana pun ada upaya dari kelas-kelas baru yang tengah muncul – seperti birokrasi kuil di Teotihuacan dan Uruk – untuk mengkonsolidasikan posisi mereka ke dalam tatanan sosial yang tetap, upaya tersebut menghadapi perlawanan dari massa yang dieksploitasi. Kadang-kadang perjuangan ini berakhir dengan konsolidasi negara, yang mempertahankan ketertiban berdasarkan tatanan tersebut, dan dengan menggunakan kekerasan menekan segala upaya untuk ‘membayangkan ulang’ masyarakat, seperti yang terjadi di Sumeria kuno.

Di mana pun masyarakat kelas dan negara berhasil menegakkan dirinya – seperti di Sumeria Masa Dinasti Awal atau kota-negara Maya – muncullah ideologi kekuasaan yang kuat, yang membenarkan tatanan baru ini sebagai “tatanan masyarakat yang seharusnya”. Seperti yang dikatakan Marx: “Ide-ide dari kelas penguasa adalah dalam setiap zaman merupakan ide-ide yang berkuasa.” Agama, misalnya, ikut berubah menjadi semakin hierarkis.

Namun hasil dari perjuangan antara kelas-kelas yang tengah muncul ini tidak selalu berakhir dengan cara yang sama. Contoh Teotihuacan menunjukkan bahwa pada waktu-waktu tertentu, kelas penguasa yang baru justru dikalahkan, dan masyarakat kembali ke tatanan yang lebih egaliter. Namun pada akhirnya, kembalinya masyarakat ke bentuk komunisme primitif diikuti oleh disintegrasi kota-kota yang menempuh jalan tersebut, dan digantikan oleh pemukiman-pemukiman yang lebih kecil atau oleh masyarakat kelas dan negara yang lebih berkembang – menunjukkan bahwa ada kebutuhan yang lebih dalam yang sedang bekerja.

Di Teotihuacan, sekitar tahun 550 M, “jaringan sosial kota mulai terurai di setiap ujungnya… Segalanya tampaknya hancur dari dalam. Hampir secepat saat kota ini pernah menyatu lima abad sebelumnya, populasinya pun kembali tercerai-berai…”

Semua ini menegaskan poin utama yang berulang kali dicoba untuk disangkal oleh Graeber dan Wengrow: bahwa meskipun nasib masyarakat tertentu merupakan hasil dari perjuangan kekuatan-kekuatan hidup dengan berbagai kemungkinan hasil, garis perkembangan secara keseluruhan di seluruh dunia justru menuju penguatan kekuasaan kelas dan negara, yang berkulminasi pada kondisi kita hari ini, di mana ketimpangan, eksploitasi, dan penindasan menjadi universal.

Bagaimana Kita Bisa Bebas?

Karena itulah perjuangan kelas menjadi kunci untuk memahami bagaimana kita bisa “terjebak”. Tapi perjuangan kelas ini juga menunjukkan jalan bagaimana kita bisa membebaskan diri.

Graeber dan Wengrow mengatakan bahwa kita perlu “menemukan kembali kebebasan-kebebasan yang membuat kita manusia sejak awal,” dimulai dengan membaca buku mereka. (hal. 8) Seiring waktu, mereka berharap kalangan akademisi akan diyakinkan untuk meninggalkan semua teori-teori materialis sebelumnya tentang perkembangan sosial, dan menerima “kebenaran-kebenaran baru” mereka sebagai sesuatu yang sudah jelas. “Kami adalah kaum optimis. Kami ingin percaya bahwa ini tidak akan memakan waktu terlalu lama,” tambah mereka. (hal. 525) Namun jika penaklukan kebebasan manusia bergantung pada kritik akademik, maka sayangnya kita akan menunggu selamanya.

Sebenarnya, justru dalam perjuangan melawan penindasan dan eksploitasi itulah jalan menuju kebebasan manusia dapat ditemukan. Seperti yang telah disampaikan oleh Marx dan Engels lebih dari seratus tahun yang lalu:

“… bentuk-bentuk dan produk-produk kesadaran tidak dapat dihancurkan hanya melalui kritik mental, dengan mereduksinya menjadi ‘kesadaran-diri’ atau mengubahnya menjadi ‘bayangan’, ‘hantu’, ‘khayalan’, dan sebagainya, melainkan hanya melalui penggulingan praktis atas relasi-relasi sosial nyata yang melahirkan tipu-daya idealistis tersebut; bahwa bukan kritik, melainkan revolusi yang menjadi penggerak sejarah – termasuk sejarah agama, filsafat, dan segala bentuk teori lainnya.” (Marx, Ideologi Jerman)

Di tengah krisis terdalam sistem kapitalis sejak Depresi Besar, kebencian terhadap sistem ini meluas, disertai dengan tumbuhnya gerakan perlawanan terhadap ketimpangan dan kebijakan penghematan. Banyak anak muda mulai menyadari bahwa, jika kita ingin keluar dari mimpi buruk ini, maka sistem kapitalisme harus digulingkan. Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa 29 persen dari kelompok usia 18–34 tahun di Inggris menganggap komunisme sebagai “sistem ekonomi ideal”. Bukankah ini mencerminkan upaya manusia untuk ‘membayangkan ulang’ suatu tatanan sosial baru?

Apa sumbangan buku ini bagi gerakan yang sedang tumbuh ini? Hal pertama yang diajukan oleh para ‘anarkis’ radikal ini adalah bahwa kita sebaiknya mencampakkan perjuangan untuk komunisme sama sekali: kepemilikan pribadi dan ketimpangan tidak akan bisa dihilangkan. Sebagai gantinya, mereka mengusulkan agar kita sekadar mendefinisikan ulang ‘komunisme’, “bukan sebagai sistem kepemilikan, tetapi dalam makna aslinya: ‘dari masing-masing menurut kemampuannya, kepada masing-masing menurut kebutuhannya.’” (hal. 47)

Prinsip terkenal dari komunisme ini ditafsirkan oleh Graeber, baik dalam The Dawn of Everything maupun karya lainnya, sebagai ‘komunisme dasar’, yang berarti setiap tindakan berbagi, kepedulian, atau kebaikan dalam masyarakat, seperti ‘bantuan timbal balik’ atau, secara lebih konkret, melemparkan tali kepada seseorang yang tenggelam (contoh yang digunakan oleh Graeber). Dengan cara ini, sebagaimana teori mereka tentang negara, ‘komunisme’ didefinisikan ulang menjadi apa pun yang mereka inginkan.

Namun memisahkan komunisme dari gagasan kepemilikan bersama, lalu menyajikannya sebagai ‘makna aslinya’, merupakan bentuk distorsi lain yang tipikal. Komunisme sejak awal selalu dikaitkan dengan kepemilikan bersama. Bahkan frasa “dari masing-masing menurut kemampuannya, kepada masing-masing menurut kebutuhannya” diyakini berasal dari Morelly, seorang Prancis, yang secara tegas menyatakan bahwa dalam komunisme, semua barang akan dimiliki secara kolektif. Tidak pernah dalam sejarah, komunisme hanya berarti perilaku baik, atau sekadar menyelamatkan orang yang tenggelam.

Sebenarnya, apa yang disebut Graeber sebagai ‘komunisme dasar’ tak lain adalah liberalisme kiri yang dibungkus dengan bahasa yang seolah-olah radikal:

“Pertanyaan utama dalam sejarah manusia, seperti yang akan kita lihat, bukanlah tentang akses yang setara terhadap sumber daya material (tanah, kalori, alat produksi) – meskipun hal-hal ini jelas penting – melainkan tentang kemampuan yang setara untuk berkontribusi dalam menentukan bagaimana kita hidup bersama.” (hal. 8)

Alih-alih mengakhiri ketimpangan, kita justru diajak untuk menata ulang masyarakat agar tak ada lagi orang yang “diberi tahu bahwa kebutuhan mereka tidak penting, dan hidup mereka tak punya nilai intrinsik.” (hal. 8)  Alih-alih mengakhiri eksploitasi, penderitaan kaum miskin cukup diobati dengan ‘bantuan timbal balik’. Alih-alih memperjuangkan penghancuran negara borjuis – dan akhirnya menghapus negara itu sendiri – yang ditawarkan adalah cita-cita bahwa semua orang punya hak bicara yang setara. Ini adalah visi masyarakat yang bisa dengan mudah diterima oleh LSM mana pun, bahkan Paus sekalipun.

Ini bukan sekadar perdebatan akademik. Semua teori berfungsi sebagai panduan aksi, dan dalam hal ini, The Dawn of Everything justru melucuti kita dalam menghadapi perjuangan kelas yang akan datang. Jika masyarakat ingin secara kolektif menemukan jalan keluar bersama dari mimpi buruk kapitalisme, tak ada jalan lain selain perjuangan sadar kelas buruh untuk mengubah tatanan sosial.

Dalam perjuangan ini, kelas buruh tidak bisa mengandalkan kekuasaan negara yang menindas, tidak pula kekayaan tak terbatas para miliarder, atau kontrak buku yang menggiurkan dan sorotan media arus utama. Pada akhirnya, kekuatan satu-satunya yang bisa diandalkan oleh kaum buruh adalah kekuatan organisasi dan pemahaman yang paling jernih dan ilmiah tentang masyarakat.

Inilah sebabnya mengapa, terlepas dari semua klaimnya yang ‘radikal’, The Dawn of Everything justru merupakan pil yang sangat beracun. Dalam usahanya memperjuangkan kebebasan yang fiktif, dan permusuhannya terhadap penyelidikan ilmiah sejati atas sejarah kita, filsafat yang dikedepankan buku ini bukan hanya tidak konsisten dan menyesatkan secara mendasar, tapi juga reaksioner – ia menjadi musuh dari kebebasan manusia yang sejatinya ia klaim bela.

Kita memang harus menjadi optimis, tapi bukan karena alasan yang diyakini oleh Graeber dan Wengrow. Saat tulisan ini dibuat, jutaan buruh tengah berjuang melawan sistem kapitalisme – bukan karena mereka ‘memilih’ demikian, tetapi karena mereka tidak punya pilihan lain. Mereka, yang merupakan mayoritas, memiliki kepentingan material langsung dalam penggulingan kapitalisme dan penguasaan alat produksi oleh masyarakat secara kolektif demi kesejahteraan bersama. Mereka memiliki kekuatan untuk mewujudkannya, dan semakin menyadari kekuatan itu seiring mereka menggunakannya dalam perjuangan.

Inilah bagaimana kita bisa bebas. Dengan kontrol demokratis atas perekonomian, umat manusia untuk pertama kalinya akan menjadi penguasa yang sadar atas relasi sosial kita sendiri:

“Organisasi sosial manusia, yang sampai sekarang adalah keniscayaan yang dipaksakan oleh Alam dan sejarah, sekarang menjadi hasil tindakan bebasnya sendiri. Kekuatan-kekuatan objektif dari luar yang sampai sekarang telah menentukan alur sejarah kini ada di bawah kendali manusia. Hanya pada titik inilah manusia sendiri, dengan semakin sadar, akan membuat sejarahnya sendiri. Hanya pada titik inilah sebab-sebab sosial yang digerakkan oleh manusia akan memberikan – pada hakikatnya dan dalam proporsi yang semakin meningkat – hasil yang diharapkannya. Ini adalah pendakian manusia dari kerajaan keniscayaan ke kerajaan kebebasan.” (Engels, Anti-Duhring)

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Dunia 2025: Dunia Terjungkir Balik – Sistem Kapitalisme dalam Krisis
    Perspektif Politik 2025: Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme