Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

Lenin, Sosialisme dan Emansipasi Perempuan

Dipublikasi 3 June 2026 | Oleh : Marie Frederiksen

Bagi sebagian besar perempuan di dunia saat ini, pencapaian kesetaraan, apalagi pembebasan yang sejati, masihlah sangat jauh. Kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan memang menjadi salah satu indikator ketimpangan. Namun, ketidaksetaraan dan penindasan terhadap perempuan jauh melampaui persoalan gaji semata. Mulai dari rasa takut meninggalkan minuman tanpa pengawasan saat berada di bar; kecemasan berjalan pulang sendirian, dan harus menghadapi komentar dan tatapan seksis yang terus-menerus; beban pekerjaan rumah tangga yang sebagian besar masih dipikul perempuan; para dokter yang tidak serius dalam menangani penyakit perempuan dan secara umum dianggap kurang bernilai, daftarnya seakan tak ada habisnya.

Ketidaksetaraan dan penindasan begitu mengakar dalam struktur masyarakat sehingga meresap ke seluruh aspek kehidupan perempuan, di mana pun mereka berada. Dalam sistem kapitalisme, ketimpangan itu menemukan ekspresinya sendiri yang menjijikkan. Namun, problem ketidaksetaraan perempuan sesungguhnya telah diwariskan selama ribuan tahun dalam sejarah masyarakat kelas.

Solusi-solusi yang ditawarkan para politisi dan elite kekuasaan pun jauh dari kata memadai. Pendekatan yang diusung cenderung individualistis, yang menolak perjuangan kelas dan perubahan sistemik. Sebagai gantinya, yang dipromosikan adalah ideologi “girl boss”, gagasan bahwa seksisme dan penindasan dapat diatasi oleh individu-individu perempuan dalam kerangka kapitalisme itu sendiri.

Padahal, kemajuan terbesar dalam pembebasan perempuan tidak lahir dari pencerahan individual atau perjuangan personal melawan sistem yang timpang. Ia tumbuh dari perjuangan kolektif yang bersifat revolusioner, yang bertujuan mengubah masyarakat secara mendasar.

Dalam konteks itu, sulit untuk menyebut tokoh lain yang memiliki dampak lebih besar terhadap pembebasan perempuan selain Lenin. Klaim ini mungkin membuat sebagian kalangan feminis mengernyitkan dahi. Apa relevansi seorang “laki-laki Rusia kulit putih yang telah lama wafat” terhadap perjuangan pembebasan perempuan hari ini? Namun, Revolusi Rusia yang dipimpin Lenin menunjukkan bahwa sistem kapitalisme dapat digulingkan dan digantikan dengan upaya membangun masyarakat tanpa ketimpangan dan penindasan. Untuk pertama kalinya, pembebasan perempuan benar-benar menjadi agenda politik yang konkret. Pembebasan perempuan ini tidak dibebankan semata pada perjuangan individu, melainkan menjadi bagian dari perjuangan kolektif seluruh lapisan masyarakat yang tertindas. Sebelum 1917, Rusia merupakan masyarakat dengan budaya patriarkal yang sangat menindas. Revolusi Oktober menjadi gempa besar yang mengguncang fondasi budaya tersebut. Dalam waktu singkat, seluruh undang-undang yang menempatkan perempuan pada posisi lebih rendah dari laki-laki dihapuskan, dan homoseksualitas didekriminalisasi. Itu baru permulaan.

Peringatan 100 tahun wafatnya Lenin secara tidak mengejutkan disertai kampanye hitam dari pers kapitalis. Tetapi, Lenin juga dicibir oleh banyak aktivis feminis yang mengklaim diri progresif. Mereka mencap Lenin, serta Marx dan Engels, “laki-laki kulit putih tua”. Namun pada kenyataannya mereka justru membantu kelas penguasa secara politik. Dengan menolak Lenin, mereka menolak gagasan revolusioner bahwa untuk menghapus penindasan terhadap perempuan kita harus menghapus masyarakat kelas. Ini hanya menguntungkan kaum kaya, yakni mereka yang kekuasaan dan privilese-nya bertumpu pada sistem yang menjadikan ketimpangan dan penindasan sebagai bagian yang melekat di dalamnya.

Perjuangan Perempuan dan Revolusi

Seluruh perjuangan politik Lenin diarahkan pada satu tujuan utama: penggulingan revolusioner masyarakat kelas dan pembangunan tatanan sosial yang sepenuhnya baru, masyarakat tanpa ketimpangan dan penindasan, yakni masyarakat sosialis. Kebencian kelas kapitalis terhadap Lenin bukan tanpa alasan. Ia memimpin satu-satunya revolusi pekerja yang berhasil dalam sejarah dunia: sebuah revolusi di mana kelas pekerja merebut kekuasaan dan membuktikan bahwa masyarakat dapat diorganisasi berdasarkan kebutuhan manusia, bukan profit.

Revolusi Rusia melangkah lebih jauh dibanding peristiwa mana pun dalam sejarah manusia dalam upaya membebaskan perempuan dari “perbudakan” masyarakat kelas. Kaum Bolshevik mengambil langkah-langkah besar menuju emansipasi perempuan yang nyata. Dampaknya mengguncang dunia, meresahkan penguasa, dan menginspirasi perempuan, serta laki-laki, kelas pekerja di seluruh dunia. Bukan kebetulan jika dalam tahun-tahun setelah Revolusi Oktober, perempuan di banyak belahan dunia mulai memperoleh hak pilih dan berbagai hak lainnya.

Hingga hari ini, Revolusi Rusia tetap menjadi kontribusi paling signifikan dalam perjuangan melawan penindasan perempuan dalam sejarah dunia. Lebih dari satu abad kemudian, kebijakan-kebijakan yang diambil Lenin dan Partai Bolshevik setelah revolusi masih tergolong yang paling progresif dalam sejarah.

Kaum Bolshevik menghapus seluruh undang-undang yang melegalkan ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan memperoleh hak atas perceraian dan aborsi, sementara pembedaan status antara anak yang lahir di dalam maupun di luar pernikahan dihapuskan. Sebagai perbandingan, hak perceraian di Denmark baru diperkenalkan pada 1925, dan hak aborsi pada 1973. Di sekolah-sekolah Denmark, siswa diajarkan bahwa Nina Bang adalah menteri perempuan pertama di dunia. Namun, ia baru menjabat pada 1924, tujuh tahun setelah Alexandra Kollontai diangkat sebagai Komisar Rakyat (setara menteri) di Uni Soviet.

Salah satu dekret pertama yang dikeluarkan Alexandra Kollontai berkaitan dengan hak maternitas. Kebijakan itu, antara lain, memperkenalkan cuti melahirkan berbayar selama 16 minggu serta membatasi hari kerja bagi ibu menyusui menjadi hanya empat hari. Perlu diingat, pada masa itu hak maternitas hampir tidak dikenal di sebagian besar dunia. Di Denmark, undang-undang cuti melahirkan yang mencakup seluruh pekerja perempuan baru diberlakukan pada 1960, itu pun hanya selama 14 minggu dan bukan dengan upah penuh, melainkan setara tunjangan pengangguran. Bahkan hingga hari ini, 16 minggu cuti melahirkan berbayar masih melampaui hak yang diterima perempuan di negara terkaya di dunia, Amerika Serikat, di mana perempuan hanya berhak atas 12 minggu cuti tanpa upah.

Namun, kesetaraan di hadapan hukum hanyalah langkah awal yang diambil kaum Bolshevik. Itu baru prasyarat formal untuk menghapus ketimpangan. Untuk mewujudkan kesetaraan yang nyata, tidak cukup sekadar menuliskan undang-undang baru di atas kertas. Diperlukan perubahan radikal dalam kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Di sinilah kerja nyata kaum Bolshevik dalam membebaskan perempuan dimulai: kerja mengubah kondisi material yang menjadi akar ketidaksetaraan, yakni pembelahan kelas dalam masyarakat. Hal itu menuntut penghapusan kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi, yakni kepemilikan pabrik, perusahaan, dan tanah oleh kaum kapitalis serta tuan tanah. Sebagai gantinya, mereka mulai membangun perencanaan produksi yang demokratis, yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sosial mayoritas rakyat, terutama kelas pekerja dan petani miskin.

Setelah langkah pertama berupa kesetaraan di hadapan hukum dicapai, Lenin menjelaskan tugas selanjutnya sebagai berikut:

“Langkah kedua dan yang paling penting adalah penghapusan kepemilikan pribadi atas tanah dan pabrik-pabrik. Inilah, dan hanya inilah, yang membuka jalan menuju pembebasan perempuan yang sepenuhnya dan nyata, membebaskannya dari ‘perbudakan rumah tangga’ melalui peralihan dari pengelolaan rumah tangga kecil yang bersifat individual menuju layanan domestik tersosialisasi dalam skala besar.

“Peralihan ini merupakan hal yang sulit, karena ia menyangkut pembentukan ulang tatanan yang paling mengakar, paling membatu, paling kaku dan usang (ketidaksenonohan dan kebiadaban mungkin lebih mendekati kenyataan). Namun peralihan itu telah dimulai, prosesnya telah digerakkan, dan kita telah menapaki jalan yang baru.” (Lenin, International Working Women’s Day, 1921)

Agar perempuan benar-benar merdeka, kerja rumah tangga harus diakhiri, atau, dalam kata-kata Lenin, membebaskan perempuan dari “perbudakan domestik”. Pekerjaan rumah tangga perlu disosialisasikan. Secara konkret, ini berarti membangun fasilitas seperti tempat penitipan anak, taman kanak-kanak, dapur umum, layanan laundry publik, dan berbagai layanan kolektif lainnya.

Sejak lahirnya masyarakat kelas, yakni selama ribuan tahun, perempuan telah dirantai pada ranah domestik. Kapitalisme memang berperan dalam menarik perempuan keluar dari rumah untuk bekerja, sekaligus menjadikan mereka bagian dari perjuangan kelas. Namun sistem ini gagal menghapus perbudakan domestik terhadap perempuan. Akibatnya, perempuan pekerja di bawah kapitalisme memikul beban ganda: sebagai pekerja dan sekaligus sebagai perempuan.

Bahkan di negara-negara kapitalis maju, sebagian besar pekerjaan rumah tangga tetap dibebankan kepada perempuan. Di Denmark saat ini, di mana tingkat partisipasi kerja perempuan hampir setara dengan laki-laki, perempuan rata-rata menghabiskan satu jam lebih banyak per hari untuk pekerjaan rumah tangga dibandingkan laki-laki. Ketika anak lahir, dampaknya terasa signifikan terhadap gaji dan pensiun perempuan, serta, yang tak kalah penting, terhadap waktu yang mereka miliki untuk kegiatan di luar keluarga, seperti aktivitas budaya atau partisipasi politik.

Terbatas oleh Kondisi Material

Namun, ambisi kaum Bolshevik tidak dapat melampaui realitas material Republik Soviet saat itu. Sejak awal, Lenin telah menegaskan bahwa revolusi harus menyebar ke negara-negara kapitalis yang lebih maju agar sosialisme dapat benar-benar dibangun. Sayangnya, Revolusi Rusia tetap terisolasi. Pada tahun-tahun pertama setelah 1917, negara Soviet yang masih muda berjuang untuk bertahan hidup di tengah perang saudara yang dikobarkan oleh negara-negara kapitalis paling kuat, sekaligus menghadapi ancaman kelaparan.

Sumber daya sangat terbatas, demikian pula kemampuan untuk merealisasikan rencana sosialisasi pekerjaan rumah tangga. Dalam konteks tersebut, pencapaian apa pun yang berhasil diraih negara Soviet sudah merupakan hal yang mengesankan. Namun, setelah pengambilalihan kekuasaan secara diktatorial oleh Stalin, banyak kemajuan yang sebelumnya dicapai perempuan pasca-revolusi justru dibatalkan, misalnya dalam hal hak atas aborsi dan perceraian.

Meski mengalami kemunduran dan degenerasi di bawah Stalin dan para penerusnya, ekonomi terencana tetap membawa kemajuan besar bagi perempuan. Angka harapan hidup perempuan meningkat lebih dari dua kali lipat, dari sekitar 30 tahun pada masa Tsar menjadi 74 tahun pada 1970-an. Pada 1971, tersedia lebih dari lima juta tempat di taman kanak-kanak, dan 49 persen mahasiswa pendidikan tinggi adalah perempuan. Saat itu, hanya sedikit negara lain di mana perempuan mencakup lebih dari 40 persen mahasiswa pendidikan tinggi, yakni Finlandia, Prancis, Swedia, dan Amerika Serikat.

Gagasan politik Lenin bertumpu pada landasan filsafat materialis, yakni pemahaman bahwa kondisi materiallah yang menentukan kesadaran, cara berpikir, ideologi, budaya, dan seterusnya.

Karena itu, prasyarat untuk menghapus budaya seksis dan misoginis yang selama ribuan tahun merendahkan perempuan serta menyingkirkan mereka dari ruang publik adalah perubahan dalam kondisi material tersebut. Artinya, kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi harus dihapuskan.

Namun, kaum Bolshevik tidak tinggal diam setelah menasionalisasi perekonomian. Mereka menjalankan kerja luas untuk melawan budaya sauvinis yang mengakar di Rusia. Program-program khusus diluncurkan untuk memberantas buta huruf di kalangan perempuan dan melibatkan mereka secara aktif dalam kepemimpinan negara maupun partai. Pada saat yang sama, Bolshevik berupaya meningkatkan tingkat kebudayaan secara umum, sekaligus mengikis prasangka keagamaan dan berbagai bentuk sauvinisme lainnya.

Lenin memimpin perjuangan untuk kesetaraan perempuan bukan hanya di mata hukum, tetapi di semua bidang kehidupan. Karena itu, kita kaum sosialis memandang diri kita sebagai pembela emansipasi perempuan yang paling konsisten. Berbeda dengan feminis liberal, Lenin tidak membatasi perjuangannya dalam kerangka kapitalisme. Dalam sistem ini, capaian paling jauh hanyalah kesetaraan formal di mata hukum. Dan seperti dapat disaksikan di negara-negara Skandinavia, di mana kesetaraan hukum telah lama ditegakkan, penghapusan penindasan terhadap perempuan masihlah sangat jauh. Feminisme liberal berhasil meraih kesetaraan formal, namun pada saat yang sama turut mempertahankan ketimpangan sosial dan kultural yang tetap dominan.

Bagi Lenin, titik sentral perjuangan perempuan adalah persoalan kelas. Kelaslah yang melintasi seluruh bentuk penindasan lainnya, sekaligus menjadi poros tempat berbagai bentuk ketidakadilan itu berputar. Kelas penguasa hanyalah minoritas kecil dalam masyarakat. Namun, mereka berupaya memecah belah kelas pekerja dengan memanfaatkan perbedaan gender, etnis, agama, dan sebagainya, demi mengadu domba berbagai kelompok pekerja satu sama lain.

Kaum Sosialis dan Perjuangan Perempuan

Bagi Lenin, diperlukan revolusi untuk pembebasan perempuan. Namun, selain itu, partisipasi perempuan juga menjadi faktor penentu keberhasilan revolusi itu sendiri. Ini bukan persoalan sekunder.

Perempuan pekerjalah yang memantik Revolusi Rusia ketika mereka melakukan pemogokan pada Hari Perempuan Internasional tahun 1917. Sepanjang proses revolusi menuju Oktober, Lenin berulang kali menegaskan pentingnya mengorganisasi perempuan dalam perjuangan. Dalam salah satu Letters from Afar, yang ditulis sebelum ia kembali dari pengasingan pada 1917, ia menulis: “Jika perempuan tidak dilibatkan dalam pelayanan publik, dalam milisi, dalam kehidupan politik; jika perempuan tidak ditarik keluar dari lingkungan rumah dan dapur yang membius, maka mustahil menjamin kebebasan yang nyata; bahkan mustahil membangun demokrasi, apalagi sosialisme.” (Lenin, Letters from Afar, third letter, ‘Concerning a Proletarian Militia’)

Tanpa partisipasi perempuan, revolusi tidak mungkin bisa menang. Bagi Lenin, persoalan mengorganisasi perempuan kelas pekerja dalam perjuangan menuju sosialisme tidak hanya krusial menjelang Revolusi Oktober, tetapi juga setelahnya, termasuk dalam pembangunan Internasional Ketiga sebagai alat untuk menyebarkan revolusi ke seluruh dunia.

Namun, penindasan terhadap perempuan di bawah kapitalisme juga menyebabkan jumlah perempuan yang terorganisasi dalam perjuangan umumnya lebih sedikit dibanding laki-laki. Masalah ini pun menjadi perhatian Lenin. Dalam percakapannya yang dicatat oleh Clara Zetkin, ia menyatakan:

“Mengapa di mana pun jumlah perempuan dalam Partai tidak sebanyak laki-laki, bahkan tidak juga di Soviet Rusia? Mengapa jumlah perempuan dalam serikat buruh begitu kecil? Fakta-fakta ini memberi kita bahan untuk berpikir. […] Kita tidak dapat menjalankan kediktatoran proletariat tanpa jutaan perempuan di pihak kita. Kita juga tidak dapat membangun sosialisme tanpa mereka. Kita harus menemukan cara untuk menjangkau mereka. Kita harus mempelajari dan mencari cara itu.

“Karena itu, sangat tepat bagi kita untuk mengajukan tuntutan-tuntutan yang menguntungkan perempuan. […] Hak-hak dan langkah-langkah sosial yang kita tuntut dari masyarakat borjuis bagi perempuan merupakan bukti bahwa kita memahami posisi dan kepentingan perempuan, dan bahwa kita akan memperhatikannya di bawah kediktatoran proletariat. Tentu saja, bukan sebagai reformis yang membius dan bersikap patronistik. Tidak, sama sekali bukan. Melainkan sebagai kaum revolusioner yang mengajak perempuan untuk turut serta sebagai pihak yang setara dalam rekonstruksi ekonomi dan bangunan ideologis masyarakat.” (Clara Zetkin, Lenin on the Women’s Question)

Lenin berulang kali menegaskan bahwa perjuangan pembebasan perempuan pekerja tidak dapat dipisahkan dari perjuangan untuk revolusi sosialis. Ketimpangan dan penindasan tidak akan berakhir tanpa mengakhiri masyarakat kelas. Namun, itu tidak berarti ia menolak perjuangan atas tuntutan-tuntutan perempuan sebelum revolusi terjadi.

Kaum sosialis kerap dituduh mengabaikan perjuangan perempuan dengan alasan bahwa semuanya akan terselesaikan setelah revolusi. Tuduhan ini jelas tidak benar. Memang benar revolusi adalah satu-satunya jalan untuk menghapus penindasan terhadap perempuan secara tuntas. Namun, itu tidak berarti kita menolak perjuangan untuk tuntutan demokratis sekarang.

Kaum sosialis tidak duduk diam menunggu revolusi, melainkan terlibat dalam perjuangan sehari-hari. Seperti dijelaskan Lenin, kaum pekerja dapat dimobilisasi melalui perjuangan sehari-hari untuk reforma dan tuntutan demokratis. Melalui perjuangan tersebut, batas-batas demokrasi kapitalis menjadi semakin nyata. Tugas kaum sosialis adalah memanfaatkan perjuangan sehari-hari itu untuk menunjukkan kepada rakyat pekerja akan perlunya revolusi. Lenin menjelaskan bahwa semakin bebas dan demokratis suatu masyarakat, semakin jelas pula bahwa persoalannya bukan sekadar undang-undang tertentu, melainkan kapitalisme itu sendiri:

“Dalam banyak kasus, hak atas perceraian tidak dijalankan di bawah kapitalisme, karena jenis kelamin yang tertindas dihimpit secara ekonomi; karena, betapapun demokratisnya negara, perempuan tetap menjadi ‘budak domestik’ di bawah kapitalisme, budak kamar tidur, kamar anak, dan dapur. […]

“Hanya mereka yang sama sekali tidak mampu berpikir, atau yang sepenuhnya tidak memahami Marxisme, yang akan menyimpulkan bahwa karena itu republik tidak berguna, kebebasan perceraian tidak berguna, demokrasi tidak berguna, hak penentuan nasib sendiri bangsa-bangsa tidak berguna! Kaum Marxis memahami bahwa demokrasi tidak menghapus penindasan kelas, melainkan hanya membuat perjuangan kelas menjadi lebih jelas, lebih luas, lebih terbuka, dan lebih tajam; dan justru itulah yang kita inginkan. Semakin penuh kebebasan perceraian, semakin jelas bagi perempuan bahwa sumber ‘perbudakan domestik’ mereka bukanlah ketiadaan hak, melainkan kapitalisme. Semakin demokratis sistem pemerintahan, semakin jelas bagi kaum pekerja bahwa akar persoalan bukanlah kurangnya hak, melainkan kapitalisme. […] Dan seterusnya.” ( Lenin, A Caricature of Marxism and Imperialist Economism)

Semakin komprehensif demokrasi diterapkan, semakin jelas bahwa penindasan bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya demokrasi. Akar persoalannya jauh lebih dalam: pada kapitalisme dan struktur dasar masyarakat kelas itu sendiri.

Seperti telah disebutkan, penindasan terhadap perempuan sama sekali belum lenyap di negara-negara Skandinavia, meskipun hak-hak demokratis yang setara antara laki-laki dan perempuan telah diakui. Semakin banyak perempuan menyadari bahwa solusi atas seksisme, kekerasan terhadap perempuan, dan posisi mereka sebagai warga kelas dua tidak terletak di parlemen, melainkan pada perombakan yang lebih mendasar terhadap struktur masyarakat. Tugas kita sebagai kaum sosialis adalah terjun dalam perjuangan perempuan sehari-hari, sekaligus menunjukkan bagaimana persoalan tersebut berkaitan dengan penindasan kelas dan kebutuhan untuk melawan kapitalisme.

Lenin menegaskan bahwa kerja penting untuk menarik perempuan yang sadar kelas ke dalam gerakan revolusioner bukanlah tugas perempuan semata, dan ia menentang pembentukan gerakan perempuan sosialis yang terpisah. Tugas ini ada di pundak seluruh partai. Semua kamerad sosialis, termasuk laki-laki, harus dididik dan dilibatkan dalam memahami persoalan penindasan perempuan serta pentingnya kerja revolusioner di kalangan perempuan, jika ingin pekerjaan tersebut berhasil. Hal ini bahkan berarti harus menghadapi resistensi dari sebagian kamerad laki-laki. Sebagaimana dikenang oleh Marxis Jerman Clara Zetkin, Lenin pernah mengatakan:

“Mereka menganggap agitasi dan propaganda di kalangan perempuan serta tugas membangkitkan dan merevolusionerkan mereka sebagai sesuatu yang sekunder, sebagai pekerjaan khusus bagi perempuan-sosialis saja. Hanya perempuan sosialis yang ditegur karena gerakan perempuan tidak bergerak lebih cepat dan lebih kuat. Ini keliru, secara mendasar keliru! Ini benar-benar separatisme. Ini adalah ‘kesetaraan perempuan terbalik’, seperti kata orang Prancis. […]

“Sangat sedikit suami, bahkan di kalangan proletar, yang berpikir betapa besar beban dan kekhawatiran istri mereka dapat diringankan, atau bahkan dihapuskan, jika mereka mau membantu dalam ‘pekerjaan perempuan’ ini. Tetapi tidak, itu akan bertentangan dengan ‘privilese dan martabat suami’. Ia menuntut istirahat dan kenyamanan. Kehidupan domestik perempuan adalah pengorbanan diri setiap hari untuk seribu hal kecil yang sepele. Hak-hak kuno suaminya, sang tuan dan majikannya, bertahan tanpa disadari. Secara objektif, budaknya melakukan pembalasan. Juga dalam bentuk terselubung. Keterbelakangannya dan kurangnya pemahaman terhadap cita-cita revolusioner suaminya menjadi beban bagi semangat juangnya, bagi tekadnya untuk berjuang. Semua itu seperti cacing-cacing kecil yang menggerogoti dan merusak secara tak terlihat, perlahan tetapi pasti. Saya mengenal kehidupan kaum pekerja, dan bukan hanya dari buku. Kerja sosialis kita di kalangan massa perempuan, dan kerja politik kita secara umum, mencakup pekerjaan pendidikan yang besar di kalangan laki-laki. Kita harus menyerabut sampai ke akar-akarnya cara pandang pemilik-budak yang tua ini, baik di dalam Partai maupun di kalangan massa. Itu adalah salah satu tugas politik kita, tugas yang sama mendesaknya dengan pembentukan staf yang terdiri dari kamerad laki-laki dan perempuan, dengan pelatihan teoretis dan praktis yang menyeluruh untuk kerja Partai di kalangan perempuan pekerja.”(Clara Zetkin, Lenin on the Women’s Question)

Perjuangan Perempuan dan Sosialisme

Kapitalisme tengah berada dalam krisis yang mendalam. Bukan sekadar krisis ekonomi, melainkan krisis historis yang meresap ke setiap sendi kehidupan sosial. Di manapun kita layangkan pandangan kita, dunia tengah terperosok ke dalam perang dan bencana iklim. Seksisme, rasisme, transfobia, serta berbagai bentuk diskriminasi dan penindasan lainnya semakin marak. Krisis ini dirasakan secara tajam terutama oleh kaum muda, yang mengalaminya dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Dampaknya terlihat pada kemerosotan budaya, kualitas relasi antar-manusia, hingga kondisi psikologis, sebagaimana tercermin dalam meningkatnya krisis kesehatan mental.

Yang ditawarkan kepada kaum muda dan kelas pekerja hanyalah pesimisme mendalam serta solusi-solusi individual. Namun, krisis kapitalisme tidak hanya melahirkan keputusasaan. Kebuntuan sistem ini juga memicu perubahan kualitatif dalam kesadaran semakin banyak orang yang tidak lagi puas dengan solusi-solusi individual. Mereka tengah mencari gagasan yang mampu menawarkan jalan keluar dari krisis. Jutaan perempuan dan laki-laki di seluruh dunia sedang termobilisasi dalam perjuangan melawan ketimpangan dan penindasan.

Alternatif terhadap pesimisme dan solusi-solusi individual ini dapat ditemukan dalam Lenin dan kaum Bolshevik. Jawaban mereka adalah perjuangan kolektif melawan keseluruhan sistem. Mereka tidak berhenti dalam batas-batas kapitalisme, melainkan berupaya mencabut akar penindasan dan ketimpangan itu sendiri.

Tradisi inilah yang sedang kita bangun hari ini sebagai kaum sosialis. Kita terlibat dalam perjuangan perempuan, namun dengan perspektif tegas bahwa perjuangan tersebut tidak dapat dipisahkan dari perjuangan menuju sosialisme. Siapa pun yang ingin secara serius melawan penindasan terhadap perempuan, menurut pandangan ini, harus mengorganisasi diri dalam perjuangan menuju sosialisme. Lenin dan kaum Bolshevik memulai perjuangan itu; tugas generasi sekaranglah untuk menuntaskannya dan membangun masyarakat di mana perempuan dan laki-laki dapat hidup secara manusiawi, tanpa ketimpangan dan penindasan.

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Dunia 2025: Dunia Terjungkir Balik – Sistem Kapitalisme dalam Krisis
    Perspektif Politik 2025: Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme