Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

Revolusi Iran 1979 yang Dikhianati

Dipublikasi 6 July 2026 | Oleh : Moses Kabelen

Perang AS-Israel terhadap Iran hari ini membawa kembali banyak pertanyaan mengenai Revolusi Iran 1979. Di tengah agresi militer, embargo, dan ancaman perubahan rezim dari imperialisme Barat, problem karakter Republik Islam Iran dan akar sejarah kemunculannya jadi sorotan banyak orang yang ingin memahami apa yang tengah terjadi.

Sebagai kaum revolusioner, kita menolak agresi imperialisme AS dan Israel terhadap Iran. Kita menentang perang, sanksi, dan intervensi yang bertujuan mempertahankan dominasi imperialisme AS di Timur Tengah. Sikap kita tegas dan jelas: ini adalah agresi imperialis yang bersifat predator, yang dilancarkan untuk menundukkan atau menghancurkan Iran demi kepentingan imperialis AS dan Israel.

Tetapi pada saat yang sama, penolakan terhadap agresi ini tidak berarti dukungan politik terhadap rezim teokrasi Iran. Rezim yang ada hari ini merupakan rezim yang berdiri di atas tumpukan mayat para martir revolusioner buruh dan kaum muda Iran. Dalam sejarah, kelas pekerja Iran telah berkali-kali bangkit melawan rejim Islam yang dibenci ini.

Pada 1979, kelas pekerja Iran memiliki kesempatan emas untuk menumbangkan kapitalisme dan membangun negara sosialis. Ini seharusnya dapat sepenuhnya mengubah wajah Timur Tengah. Tetapi karena pengkhianatan apa-yang-disebut para pemimpin ‘komunis’ Partai Tudeh – yang tidak ada kesamaan sama sekali dengan partai Bolshevik-nya Lenin – revolusi ini dibajak oleh kaum klerus dan berakhir dengan kekalahan tragis. Mau tidak mau kaum revolusioner perlu mempelajari kembali revolusi yang terjadi pada saat itu sehingga tidak mengulangi kesalahan serupa di hari depan.  

Sejarah Dominasi Imperialisme di Iran

Hingga 1979 sejarah Iran adalah sejarah dominasi imperialis. Negeri ini diperlakukan sebagai negeri semi-koloni terutama karena sumber daya alam penting mereka: minyak. Sejak awal abad ke-20, dominasi Inggris atas minyak Iran telah memperkaya imperialisme Inggris dalam skala yang luar biasa. Melalui Anglo-Iranian Oil Company—yang kemudian menjadi BP—keuntungan raksasa dari minyak Iran mengalir ke London, membiayai industri, armada militer, dan kekuatan global Imperium Inggris.

Iran benar-benar dijarah imperialis Inggris saat itu. Sangat sedikit keuntungan dari eksploitasi minyak mengalir ke Iran. Pada 1933, perusahaan itu telah memperoleh keuntungan sekitar 200 juta pound sterling, sementara itu Iran bahkan tidak menerima seluruh bagian kecil yang dijanjikan dalam kontrak tersebut. Juga pada 1947, misalnya, keuntungan setelah pajak perusahaan mencapai sekitar £40 juta, tetapi Iran hanya menerima sekitar £7 juta — sekitar 17,5 persen saja.[1] Di tengah keberlimpahan minyak, rakyat Iran hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan.

Memfasilitasi penjarahan ini adalah rejim monarki Shah yang korup, tidak kompeten, dan anti-demokratik. Shah Iran yang kelima, Mozaffar al-Din Shah Qajar,menjual hak atas ladang minyak Iran yang luas kepada perusahaan asing. Rakus dan berpikiran sempit, Shah dan kroninya menggunakan uang hasil penjualan tersebut untuk memperkaya diri dan foya-foya belaka. Rejim Shah ini dipandang rakyat sebagai kacung imperialis. Merasa muak dan diperas oleh imperialisme dan kacungnya yang setia itu, rakyat Iran bangkit melawan pada 1906, dalam apa yang dikenal sebagai Revolusi Konstitusional Iran.

Terinspirasi Revolusi Rusia 1905, rakyat Iran bangkit melawan penguasa mereka. Lenin menggambarkan pemberontakan ini, “Setelah gerakan tahun 1905 di Rusia, revolusi demokrasi menyebar ke seluruh Asia—ke Turki, Persia, Tiongkok. Gejolak juga tumbuh di India Britania.”[2]

Ancaman revolusi dari bawah awalnya memaksa Shah memberikan reforma dari atas. Ia mengabulkan tuntutan pembentukan parlemen dan pendirian monarki konstitusional. Namun, dengan cepat menjadi jelas bahwa revolusi ini dapat mengancam keseluruhan sistem yang ada serta kepentingan imperialis di sana. Rakyat menuntut tidak hanya demokrasi tetapi juga kedaulatan penuh, yang berarti mengusir imperialis dari sana. Maka dari itu kelas penguasa Iran tidak dapat memberikan konsesi serius apa pun, bahkan parlemen boneka, konstitusi, apalagi demokrasi itu sendiri.

Setelah pulih dari syok awal revolusi, Shah segera meluncurkan pukulan baik. Penguasa Iran menggalang dukungan dari imperialis Inggris dan Rusia untuk menghancurkan revolusi tersebut. Rusia menginvasi Iran. Pasukan Rusia — terutama melalui Brigade Cossack Persia yang mereka latih — secara aktif mengintervensi untuk mendukung Shah melawan gerakan konstitusional. Pers-pers liberal Barat bungkam atas peristiwa ini. Dalam hal ini kita melihat bagaimana kekuatan koalisi kontra-revolusi Eropa yang dikenal ‘beradab’ dan ‘demokratis’ bekerja sama dengan kekuatan reaksi melawan kebangkitan demokrasi di Iran.

Semuanya ini memiliki alasan yang jelas. Mereka takut kebangkitan rakyat Iran saat itu akan memberi dorongan bagi kebangkitan proletariat di negara-negara Eropa. Inilah alasan mengapa mereka bahu-membahu mencekik aspirasi demokrasi rakyat Iran saat itu.

Pada 1911, Shah akhirnya menang. Ia membubarkan parlemen dan menangkap semua anggotanya. Dan ini mengakhiri apa yang disebut sebagai eksperimen demokrasi pertama di Iran. Namun kemenangan Shah ini bukan berarti kembalinya kestabilan. Sebaliknya, kemenangan ini disusul oleh krisis politik yang akhirnya membuka jalan bagi kediktatoran kejam Reza Shah.

Reza Khan, Reformasi dan Ketidakpuasan yang Mengikutinya

Pada 1921, seorang perwira militer bernama Reza Khan merebut kekuasaan melalui kudeta dari raja Iran yang berkuasa. Pada 1925 ia menobatkan dirinya sebagai raja dan mengambil gelar Reza Shah. Ia juga mengubah nama keluarganya menjadi Pahlavi. Sebagai perwira Brigade Kosak Persia, ia memanfaatkan kelemahan Dinasti Qajar. Seperti Napoleon yang bangkit setelah kekacauan pasca-Revolusi Prancis, Reza Khan memanfaatkan kelelahan rakyat terhadap ketidakstabilan politik dan mendirikan kediktatoran militer.

Fenomena Bonapartisme ini sering kali muncul di negeri-negeri terbelakang, di mana borjuasi nasional mereka terlalu lemah dan sangat bergantung sama modal asing. Ini berlaku juga dalam sejarah Iran. Dinasti Qajar begitu membusuk. Tidak ada kekuatan sosial yang siap menerima buah tersebut. Kelas borjuasi Iran yang seharusnya mengemban tugas demokratik untuk menghapus monarki terbukti impoten dan terlalu lemah. Semua kondisi ini memungkinkan munculnya sosok Bonapartis dalam sejarah Iran.

Setelah menyelamatkan kelas penguasa dari ancaman revolusi, diktator ini memaksa mereka menyerahkan gelar dan sebagian hak istimewa politik. Tidak hanya itu saja dia memusatkan kekayaan di tangannya sendiri. Ada 3 juta pound sterling dan lahan pertanian seluas 3 juta hektar yang ia kumpulkan dari penyitaan langsung dan pengalihan dari negara.[3]

Bonapartisme adalah pemerintahan yang boros dengan tentara dan birokrasinya yang luas. Pada pertengahan 1970-an, Iran memiliki sembilan belas kementerian dengan 560.000 pegawai negeri yang mengurusi semua aspek kehidupan Iran. Begitu pula tentaranya, yang digunakan untuk menjaga ketertiban masyarakat. Tentara Iran tumbuh dari 23.000 pada 1920 menjadi 410.000 pada 1977.[4] Semua ini dibutuhkan untuk memperkuat rezim dan menekan oposisi. Mesin negara yang boros ini merupakan harga yang harus dibayar oleh borjuasi yang terlambat ke panggung sejarah.

Meskipun Reza Shah memberi borjuasi Iran yang sedang berkembang fondasi negara modern—seperti kode hukum sekuler, birokrasi terpusat, dan jaringan komunikasi nasional—tetapi dia tetap mempertahankan semua ciri despot di masa lalu. Ia mengangkat dirinya sebagai “Shah Reza Agung, Shah dari Para Shah, Bayangan Yang Mahakuasa, Wakil Tuhan dan Pusat Alam Semesta”.[5]

Muda, ambisius, dan kejam, Reza memulai program ekstensif untuk memodernisasi Iran. Ia bertekad untuk mengurangi kekuatan tradisi kuno dalam budaya Iran. Menurutnya, tradisi-tradisi ini menghambat kemajuan yang dinikmati oleh negara-negara Eropa. Orang asing tidak diperbolehkan menggunakan nama kuno Persia untuk negara itu, tetapi harus menyebutnya Iran. Wisatawan asing dilarang mengambil foto unta, dengan alasan Iran tidak boleh dilihat sebagai negara primitif tanpa kendaraan modern.

Diktator ini rakus dan gila hormat. Ia sangat terobsesi dengan modernisasi. Ia ingin Iran memiliki tentara yang kuat. Selain itu dia juga tidak ingin ada kekuasaan selain dirinya yang menikmati kehormatan. Itulah mengapa dia berambisi melemahkan pengaruh para mullah atas rakyat.

Saking cerobohnya, ia melarang pakaian tradisional Iran, memaksa penduduk untuk mengadopsi pakaian Eropa, memerintahkan polisi untuk merobek cadar dari perempuan, dan banyak tindakan penindasan bodoh lainnya. Semua ini dilakukan menjauhkan rakyat dari masjid-masjid.

Di bawah tekanan imperialisme, Iran dipaksa melakukan langkah-langkah modernisasi dan memperkenalkan bentuk awal kapitalisme. Pada 1960an, Shah memperkenalkan reforma agraria. Reforma agraria ini seharusnya membebaskan para petani dari dominasi tuan tanah tradisional dan membuka jalan bagi modernisasi pedesaan Iran. Tapi sebaliknya, reformasi tersebut justru memperkuat konsolidasi kekuasaan negara, keluarga kerajaan, dan lingkaran elite yang dekat dengan rezim Reza Pahlavi. Banyak tanah memang dipecah dari kepemilikan feodal lama, tetapi para petani menerima lahan yang terlalu kecil, kekurangan modal, dan tidak didukung infrastruktur yang memadai untuk bertahan secara subsisten.

Reformasi itu menghancurkan kekuatan tuan tanah tradisional tanpa benar-benar menciptakan basis ekonomi pengganti yang stabil bagi kaum tani. Sebagian besar petani akhirnya jatuh ke dalam kubangan utang, kehilangan tanahnya, dan terpaksa bermigrasi ke kota-kota besar sebagai buruh murah. Dari tahun 1950-an hingga akhir 1970-an, populasi perkotaan tumbuh dari 20% menjadi 50% dari total populasi. Sementara itu, negara dan kelompok kapitalis yang dekat dengan istana memperoleh ruang lebih besar untuk menguasai ekonomi pertanian modern, industri pangan, dan investasi pedesaan.

Dukungan AS melalui program modernisasi dan stabilisasi ekonomi mendorong pergeseran investasi menuju industrialisasi serta kapitalisme modern. Reforma agraria telah menghancurkan basis ekonomi aristokrasi lama. Banyak tuan tanah lama dipaksa mengalihkan modal mereka ke sektor industri, perbankan, dan perdagangan modern yang berkembang pesat di kota-kota besar. Di sini kapitalisme dicangkokkan ke keterbelakangan tandus ekonomi Iran.

Selain itu rejim ini juga menghancurkan pedagang-pedagang kecil lapisan marginal yang menjadi penyokong utama para mullah. Kelompok Bazaari,yang terdiri dari pedagang grosir, pemilik toko, dan anggota serikat pekerja yang beroperasi di pasar tradisional diserang secara besar-besaran.

Sejumlah besar lahan masjid disita. Rejim ini mendirikan lembaga-lembaga keagamaan sendiri untuk menantang otoritas ulama. Para pedagang pasar diserang dengan praktik dumping harga yang besar, pajak yang mencekik, dan pendirian supermarket negara yang membeli produk langsung dari produsen, yang menghilangkan peran perantara alam, yaitu pedagang pasar.

Modernisasi Shah, yang dilakukan demi kepentingan imperialis Barat dan untuk memperkaya kapitalis besar Iran, menciptakan gemuruh besar di bawah fondasi masyarakat. Ini akhirnya meledak pada 1978-79.

Revolusi Dimulai

Tidak sulit menemukan alasan mengapa rejim ini untuk sementara waktu dapat berdiri kokoh. Rezim ini menikmati keuntungan dari harga minyak yang tinggi dan bantuan militer dari AS. Ada boom ekonomi paska-perang yang menciptakan kondisi di mana rejim ini merasa dapat membangun sesuatu dan mampu mengonsolidasikan posisi Iran di pasar dunia. 

Tetapi situasinya berubah. Pada paruh kedua tahun 1970-an, perekonomian di banyak negara maju dilanda stagflasi – stagnasi dan inflasi, yang menandai berakhirnya boom paska-perang. Ini berdampak pada Iran, dengan krisis ekonomi dan inflasi yang meroket. Para pekerja dan kaum miskin kini terdorong ke dalam kemiskinan, dan kemuakan terhadap rejim semakin meningkat. Dari tahun 1971-1976, harga sewa rumah di Teheran naik hingga 300 persen.[6] Sebuah keluarga kelas menengah bisa menghabiskan hingga 50% dari pendapatan tahunan mereka hanya untuk ini. Semua program sosial dihentikan atau dipangkas secara substansial; pengangguran melonjak. Standar hidup masyarakat semakin memburuk dengan cepat.

Keretakan dalam blok pendukung Mohammad Reza Pahlavi pada akhir 1970-an terjadi di hampir seluruh lapisan elite yang sebelumnya menopang rezim: pedagang bazar, sebagian borjuasi nasional, teknokrat, birokrasi negara, bahkan unsur dalam keluarga kerajaan dan militer. Untuk meredam kemarahan rakyat, Shah meluncurkan kampanye anti-“korupsi” dan anti-“pencatutan harga”. Namun  yang disasar adalah para pedagang bazar (bazaari).

Pemerintah menyerbu toko-toko bazar di Teheran, memaksa pedagang menurunkan harga, menangkap ribuan orang, dan mempermalukan mereka di depan publik karena dituduh “penghisap rakyat.” Banyak pedagang merasa dijadikan kambing hitam atas krisis ekonomi yang sebenarnya berasal dari kebijakan negara sendiri. Sebaliknya, sejumlah perusahaan besar dan kroni kerajaan yang terlibat korupsi berskala jauh lebih besar justru dilindungi. Akibatnya, kelompok bazaar yang sebelumnya konservatif mulai berbalik menentang rezim dan menjalin hubungan lebih erat dengan lapisan ulama yang juga termarjinalisasi.

Beberapa teknokrat dan pejabat mulai khawatir bahwa gaya pemerintahan Shah yang semakin represif justru memperburuk krisis. Bahkan sekutu-sekutu Barat Iran mulai melihat rezim kehilangan legitimasi sosial. Pada saat demonstrasi massal membesar tahun 1978, sebagian elite penguasa mulai saling menyalahkan dan kehilangan keyakinan bahwa monarki dapat bertahan. Dalam banyak memoar dan laporan diplomatik Barat, suasana istana digambarkan penuh kepanikan, rumor, dan kebingungan—sebuah tanda blok kekuasaan Shah mulai retak.

Di bawah rezim yang pengap, represif, dan tanpa saluran oposisi, perpecahan di dalam kelompok penguasa menciptakan peluang bagi massa untuk menerobos celah-celah ini. Seperti halnya di Indonesia pada peristiwa Kuda Tuli 1997 dan Peristiwa Banjarmasin, di mana massa menggunakan konflik antar sayap penguasa untuk menyalurkan kemarahan mereka.

Para penulis, penyair, intelektual, mahasiswa, dan pedagang pasar kelas menengah berada di garis depan pada awalnya. Terutama para pedagang pasar, yang paling menjadi sasaran serangan kebijakan anti-“pencatutan harga” rejim.

Mulai awal tahun 1978, pemogokan dan demonstrasi menjadi hal yang biasa. Tuntutan demokratis seperti pembebasan tahanan politik dan kebebasan berekspresi kini menjadi tuntutan utama gerakan.

Pada awal September 1978, gerakan mogok dimulai. Ini menandai masuknya proletariat ke arena perjuangan, sebuah peristiwa yang menentukan dalam Revolusi Iran. Setelah beberapa demonstran ditembak mati, para pekerja mesin perkakas di Tabriz dan pekerja kilang minyak di Teheran melakukan mogok kerja. Inilah percikan yang menyulut api. Di pabrik baja Isfahan, 30.000 orang melakukan mogok kerja; dan di seluruh negeri, ratusan ribu pekerja industri melakukan aksi mogok.

Pekerja minyak menjadi batalion utama pemogokan ini. Mogok kerja mereka menyebar ke semua kilang, yang secara efektif menjadi pemogokan umum. Mogok kerja ini merugikan rezim lebih dari 50 juta dolar AS per hari. Pemogokan ini melumpuhkan rezim, memutus semua pasokan uang dan barang. Ini adalah faktor penentu, yang membuat rezim bertekuk lutut. Pemogokan umum tidak hanya melumpuhkan rezim secara ekonomi; tetapi juga secara konkret mengajukan pertanyaan tentang kekuasaan. Siapa yang berhak memerintah? Tidak ada bohlam bersinar, tidak ada mesin berjalan tanpa seizin kelas pekerja.

Pemogokan di sektor minyak ini mendorong buruh di sektor lain ke dalam perjuangan: pekerja dari sektor publik—guru, dokter, pekerja rumah sakit, pegawai, pekerja pos, pekerja telepon dan televisi, serta karyawan dari transportasi, kereta api, bandara domestik, dan bank semuanya bergabung bersama kelas mereka. Pekerja kerah putih dengan sedikit atau tanpa pengalaman berjuang juga terseret dalam pemogokan ini.

Pada Januari 1979, rejim Shah ditumbangkan oleh revolusi. Elite penguasa dan kroni Shah lari tunggang-langgang meninggalkan Iran dan membawa uang mereka. Shah sendiri telah mentransfer sekitar 1 miliar dolar AS ke Amerika Serikat—di luar sekitar 1 miliar dolar lainnya yang disimpan di bank-bank di Bonn, Swiss, dan berbagai pusat keuangan dunia lainnya.

Apakah ini “Revolusi Islam”?

Sebagian orang, bahkan tidak sedikit dari sejarawan, menyebut Revolusi Iran sebagai “Revolusi Islam” karena pada akhirnya dipimpin oleh Khomeini dan kaum ulama. Tetapi itu hanya akhir dari cerita, bukan keseluruhan cerita yang mendasari revolusi. Faktor utama revolusi tersebut bagaimanapun adalah kelas buruh. Tanpa kelas buruh yang melakukan pemogokan, Shah tidak mungkin tergulingkan.

Basis utama pemogokan umum tersebut berada di industri minyak, sebuah industri dengan tradisi komunis yang kuat. Masuknya batalion buruh dalam perjuangan ini menyebabkan mesin diktator yang dibenci runtuh dalam semalam. Situasi objektif untuk revolusi sosialis sangat matang di Iran dan ini ditunjukkan oleh lahirnya dewan-dewan pekerja Shura di seluruh negeri. Dewan-dewan pekerja ini merupakan embrio negara buruh, seperti Soviet-soviet pada Revolusi 1917 di Rusia. Dalam kata lain, Revolusi Iran memiliki potensi nyata untuk menjadi Revolusi Oktober.

Sejarah revolusi telah menunjukkan kepada kita bahwa setiap revolusi memiliki pola-pola umum yang sering kali kita saksikan. Di Iran revolusi ini memunculkan kekuatan ganda. Di satu sisi pemerintahan yang ada yang mewakili status quo telah dilemahkan oleh revolusi, di sisi lain lahir kekuatan masa depan embrio negara buruh yang tengah berjuang untuk kekuasaan. Ketika rejim Shah roboh pada 1979, kelas buruh Iran sesungguhnya telah memegang kekuasaan di tangan mereka, tetapi mereka tidak menyadarinya. Mereka tahu apa yang tidak mereka inginkan, tetapi mereka belumlah tahu sepenuhnya apa yang mereka inginkan.

Dalam kondisi ini, perlu sebuah partai revolusioner yang benar-benar dapat menjembatani program Marxis yang sudah selesai dengan gerakan massa yang nyata dan hidup. Bila partai ini memperoleh otoritas di kalangan buruh dan kaum muda, maka sejarah revolusi Iran akan berbeda. Revolusi sosialis yang berhasil di Iran akan menjadi pemicu revolusi di Timur Tengah dan dunia.

Tetapi yang harus disesalkan adalah meskipun dengan segala keberanian luar biasa, kelas buruh dan kaum muda tidak memiliki faktor subjektif ini. Alam membenci kevakuman, begitu pula revolusi. Faktor inilah yang menyebabkan kekosongan ini diisi oleh para ulama.

Partai komunis Tudeh yang seharusnya memainkan peran kepemimpinan ini tidak siap membawa revolusi ini ke kemenangan kelas buruh. Mereka tidak memiliki tujuan revolusi sosialis melainkan revolusi demokratis. Dewan-dewan pekerja yang sudah terbentuk tidak mereka dorong untuk mengambil kekuasaan, tetapi justru diarahkan menjadi serikat buruh semata. Kelas buruh diminta oleh Tudeh untuk tidak mengambil kekuasaan, tetapi membatasi diri mereka revolusi demokratik. Seperti yang tertulis dalam program partai Tudeh yang diadopsi pada pleno ke-15 mereka, tugas revolusi ini adalah “memindahkan kekuasaan … ke kelas-kelas dan strata-strata nasional dan demokratik.” Siapa kelas-kelas “nasional dan demokratik” ini? “Buruh, tani, borjuis kecil, kaum intelektual patriotik, dan juga strata borjuis nasional.” Kebijakan kolaborasi kelas ini terbukti melucuti kelas buruh, padahal merekalah satu-satunya kelas yang bisa membebaskan masyarakat dari penindasan dan penghisapan.

Kepemimpinan Partai Tudeh mengadopsi Teori Dua Tahap  — Revolusi Demokratik dengan borjuis nasional terlebih dahulu, dan nantinya di masa depan entah kapan Revolusi Sosialis – yang telah terbukti fatal dalam keseluruhan sejarah revolusi-revolusi kolonial. Teori yang sama juga menjadi alasan kekalahan PKI pada 1965. Sungguh teori Stalinis ini telah menjerumuskan banyak revolusi ke kekalahan.

Partai tersebut sama sekali tidak menyerukan perlunya penggulingan kapitalisme dan mempersiapkan kelas pekerja melawan Khomeini. Sebaliknya mereka justru memberikan dukungan kepada Khomeini dan para mullah, yang mereka anggap sebagai kekuatan nasional demokratik, sebagai borjuis ‘progresif’. Bahkan ketika Khomeini bergerak melawan kelas buruh dan organisasi komunis, Partai Tudeh masih berpegang erat pada aliansi dengan kaum ulama.

Teori Dua Tahap mereka membingungkan kelas pekerja, sehingga pada akhirnya Khomeini berbalik melawan dan membantai ribuan militan Komunis serta melarang partai tersebut. Revolusi Iran dibajak oleh mullah, yang dengan cerdik menggunakan retorika “anti imperialis” sementara tetap mempertahankan kapitalisme dan relasi penghisapan yang menyertainya. Partai Tudeh berusaha keras menyangkal perspektif Revolusi Sosialis, dan yang mereka dapati akhirnya adalah “Revolusi Islam”.

Bagi kelas kapitalis Iran, mereka memilih berada di bawah kekuasaan teokrasi Islam daripada di bawah kekuasaan buruh. Selama kapitalisme masih utuh, tidak peduli bila yang memerintah adalah para mullah. Ini jauh lebih baik daripada sosialisme.

Sesungguhnya, Khomeini pada awalnya adalah mullah yang tidak dikenal luas. Dia bisa mengisi vakum kekuasaan di Iran dengan dukungan dari imperialis AS, Inggris dan Prancis. Setelah Barat melihat posisi Shah yang sudah sangat rentan dan tidak bisa lagi diselamatkan, mereka mendorong kekuatan Islam untuk membendung kekuatan sosialis yang semakin menguat. Ini sesuai dengan kebijakan imperialis di Timur Tengah yang mendukung kaum Islamis untuk melawan kaum komunis. Contoh lainnya yang paling dikenal adalah dukungan AS terhadap Mujahidin di Afghanistan untuk melawan Revolusi Saur pada 1978 yang dipimpin oleh kaum komunis. Mujahidin inilah yang nantinya menjadi Taliban. Lebih baik Islamis yang berkuasa daripada komunis. Kaum kapitalis memahami pentingnya menggunakan prasangka religius untuk menangkal gagasan sosialis.

Jalan ke depan

Kelas buruh dan kaum muda Iran membayar harga mahal dari kekalahan revolusi itu. Ribuan aktivis, pekerja, mahasiswa, dan kaum kiri dipenjara, disiksa, atau dieksekusi ketika rezim baru mengonsolidasikan kekuasaannya pada awal 1980-an. Dewan-dewan pekerja dihancurkan dan kebebasan berpendapat direpresi. Ini adalah masa-masa gelap dalam sejarah Iran.

Tetapi kapitalisme tidak abadi. Begitu pula rezim mullah yang berkuasa hari ini. Mereka tidak dapat mencegah datangnya musim semi revolusi yang akan menumbangkan mereka.

Berkali-kali kaum muda, perempuan, dan kelas pekerja Iran bangkit kembali melawan rezim. Dari gelombang protes mahasiswa 1999, Gerakan Hijau 2009, pemberontakan 2017–2019, hingga gelombang Woman, Life, Freedom setelah kematian Mahsa Amini pada 2022, generasi baru pejuang kelas terus lahir. Mereka menolak tunduk pada penindasan politik dan krisis ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir saja, pemogokan pekerja minyak, sopir truk, guru, pensiunan, dan buruh kontrak kembali mengguncang negeri itu. Memori Revolusi 1979 masih melekat di jutaan rakyat Iran.

Sejarah revolusi tidak bergerak dalam garis lurus. Kekalahan dapat menunda perjuangan selama bertahun-tahun, tetapi juga meninggalkan pengalaman, pelajaran, dan tradisi yang diwariskan ke generasi berikutnya. Dari batu kekalahan itu, kelas pekerja Iran akan kembali memasuki sejarah. Lapisan pelopor Iran harus mempersiapkan dirinya membangun partai revolusioner yang siap mengemban tugas ini, seperti partainya Bolshevik-nya Lenin dan Trotsky dalam Revolusi Rusia 1917. Bila itu terjadi, maka revolusi berikutnya akan jauh melampaui Revolusi 1979.


[1] Stephen Kinzer, All the Shah’s Men: An American Coup and the Roots of Middle East Terror (Hoboken, NJ: John Wiley & Sons, 2003), hlm. 47.

[2] V. I. Lenin, Lenin Collected Works, Vol. 19 (Moskow: Progress Publishers, 1977), hlm. 85–86

[3] Ervand Abrahamian, A History of Modern Iran (Cambridge: Cambridge University Press, 2008), hlm. 103.

[4] “The Pahlavi Shahs Attempt to Modernize Iran,” EBSCO Research Starters, 2021, EBSCO Research Starters, diakses 25 Mei 2026

[5] Ryszard Kapuściński, Shah of Shahs (New York: Vintage International, 2006), hlm. 21.

[6] Ervand Abrahamian, Iran Between Two Revolutions (Princeton: Princeton University Press, 1982), hlm. 497

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Dunia 2025: Dunia Terjungkir Balik – Sistem Kapitalisme dalam Krisis
    Perspektif Politik 2025: Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme