Banyak orang beranggapan bahwa Marxisme dan perjuangan kelas bersifat eurosentris. Argumen yang sering diajukan sederhana: Marxisme lahir di Barat—dikembangkan oleh Karl Marx dari Jerman dan Friedrich Engels dari Inggris. Selain itu, Marx dan Engels kerap menulis tentang perjuangan kelas di Eropa, misalnya dalam The Condition of the Working Class in England, The Peasant War in Germany, dan The Civil War in France. Dari sini muncul kesan bahwa Marxisme adalah teori yang “Eropa-sentris”.
Namun, apakah karena teori ini lahir di Barat maka kelas pekerja di Dunia Selatan tidak perlu mendengarkannya? Apakah gagasan mereka otomatis rasis terhadap kita? Haruskah kelas buruh di Selatan merumuskan perjuangannya sendiri sepenuhnya terpisah? Atau bahkan, apakah kelas buruh itu sendiri tidak ada di luar Eropa?
Jika kita mengikuti logika tersebut, kita juga harus mengatakan bahwa karena Newton menemukan gravitasi di Eropa, maka orang Asia tidak boleh mempelajari hukum gravitasi. Apakah gravitasi hanya berlaku di Eropa karena ditemukan di sana? Tentu tidak. Hukum tersebut berlaku secara universal, tanpa memandang bangsa atau peradaban. Maka pertanyaannya: apakah sebuah gagasan harus ditolak hanya karena lahir di wilayah tertentu?
Kapitalisme lahir di Eropa, tetapi kini telah merasuki seluruh dunia. Sistem ini memiliki sejarah yang berdarah: perkembangan kapitalisme tidak dapat dipisahkan dari kolonialisme Barat dan akumulasi primitif yang menumpahkan darah di Dunia Selatan.
Di negara-negara Selatan, kita diajarkan tentang brutalitas kolonialisme—misalnya penjajahan Belanda selama ratusan tahun. Kita juga menyaksikan bagaimana intervensi imperialisme Barat menghancurkan banyak negara: Libya, Suriah, Irak, Afganistan dan lainnya. Media konservatif Barat kerap memperkuat stereotip dengan menggambarkan imigran sebagai ancaman bagi “kebudayaan Barat”.
Bahkan sebagian intelektual Barat turut memperkuat pandangan ini. Samuel P. Huntington, dalam The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, berargumen bahwa umat manusia pada dasarnya terpisah oleh bangsa dan budaya. Interpretasi dari argumen ini berkonsekuensi reaksioner: manusia dianggap tidak dapat bersatu di bawah hukum universal karena dipisahkan oleh peradaban masing-masing.
Akumulasi pengalaman sejarah ini menumbuhkan kecurigaan terhadap Barat. Banyak intelektual dari Selatan menyimpulkan bahwa orang Eropa tidak dapat menilai masyarakat Timur. Pandangan ini menemukan ekspresinya dalam teori pascakolonial, yang bagi banyak kaum muda tampak revolusioner karena memberi ruang bagi kepercayaan diri sebagai bangsa Selatan.
Salah satu karya penting dalam arus ini adalah Orientalism (1978) karya Edward W. Said. Buku ini menjelaskan bagaimana pandangan rasis tentang Timur direproduksi dalam teks akademik maupun sastra Barat. Said bahkan menulis bahwa hampir setiap orang Eropa yang berbicara tentang Timur membawa bias rasis dan etnosentris.
Konsekuensinya sangat luas: apa pun yang dikatakan orang Eropa tentang Timur—baik memuji maupun mengkritik—tetap dianggap bias. Bahkan Marx pun dikritik sebagai seorang orientalis. Dengan logika ini, setiap orang dari negara imperialis yang berbicara tentang kolonialisme tetap dianggap membawa kepentingan Barat, bahkan jika mereka menentang imperialisme itu sendiri.
Apa metode berpikir yang melahirkan kesimpulan seperti ini? Akar filosofisnya dapat ditelusuri pada idealisme subjektif—pandangan bahwa realitas terutama dibentuk oleh ide, bahasa, dan budaya.
Pendekatan ini cenderung memandang peradaban seolah terpisah satu sama lain. Padahal sejarah menunjukkan sebaliknya: pertukaran ide antarbangsa berlangsung terus-menerus. Filsafat Arab banyak dipengaruhi Yunani, dan filsafat Eropa kemudian banyak menyerap filsafat Arab.
Ironisnya, gagasan “dekolonisasi pikiran” sering bersandar pada tradisi post-strukturalisme dan postmodernisme Eropa—yang sendiri merupakan kelanjutan dari filsafat idealis Barat. Di sinilah muncul paradoks: teori pascakolonial pada akhirnya bergantung pada sumber intelektual yang sama yang ingin ia kritik.
Berbeda dengan pendekatan idealis, Marxisme secara terbuka mengakui bahwa ide lahir dari kondisi material dan perkembangan historis. Marx dan Engels sendiri dipengaruhi sosialisme utopis dan perkembangan kapitalisme.
Sejarah menunjukkan bahwa perjuangan kelas terjadi di berbagai belahan dunia dalam bentuk yang beragam. Pemberontakan Zanj (869–883 M) di dunia Islam memperlihatkan budak Arab dan Afrika bersatu melawan penindasan. Di dunia Romawi, kita mengenal pemberontakan Spartacus. Perbedaan waktu dan tempat tidak meniadakan kesamaan hukum umum perkembangan masyarakat berkelas.
Menolak tuduhan eurosentrisme bukan berarti membela superioritas Barat. Yang ditolak adalah gagasan bahwa teori harus dibatasi oleh asal-usul geografisnya. Universalitas dalam Marxisme bukanlah universalitas budaya, melainkan universalitas kondisi material: keberadaan kapitalisme sebagai sistem global.
Jika sistemnya bersifat global, maka analisis terhadapnya pun memiliki relevansi global. Kapital bergerak melintasi batas negara bangsa; mengapa kritik terhadapnya harus dibatasi oleh batas peradaban?
Kapitalisme hari ini mempersatukan dunia dalam jaringan produksi dan eksploitasi yang sama. Jika kapital bergerak lintas bangsa dan peradaban, maka perlawanan terhadapnya pun memiliki potensi universal.
Sejarah menunjukkan bahwa rakyat tertindas di berbagai tempat selalu bangkit melawan ketidakadilan. Kesadaran ini lahir dari pengalaman material, bukan dari identitas budaya semata. Karena kapitalisme bersifat global, kemungkinan penghapusannya pun bersifat global. Teknologi dan komunikasi modern membuka ruang solidaritas lintas batas yang belum pernah ada sebelumnya. Apa yang dahulu lokal kini dapat menjadi gerakan bersama. Tugas generasi hari ini bukan sekadar memperdebatkan asal-usul teori, tetapi membangun organisasi revolusioner berdasarkan teori revolusioner yang dapat menyatukan kelas pekerja dan lapisan tertindas lainnya di seluruh dunia untuk menumbangkan kapitalisme. Sebagaimana slogan gerakan buruh: Kaum buruh sedunia, bersatulah!
