Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

AS mulai menjual minyak Venezuela dan akan mengelola profitnya: kesepakatan semi-kolonial

Dipublikasi 20 January 2026 | Oleh : Jorge Martin

Laporan pers pada 14 Januari mengungkapkan Amerika Serikat telah mulai menjual minyak Venezuela dan akan mengendalikan uang yang diperoleh dari penjualan tersebut. Ini adalah kesepakatan semi-kolonial yang keterlaluan, yang memberi Trump kendali atas sumber daya negara yang secara formal berdaulat. Apa tanggapan pemerintah Venezuela terhadap pemerasan ini?

Pada 14 Januari, berlangsung percakapan telepon antara Presiden AS Trump dan Presiden Venezuela Delcy Rodríguez. Nada percakapan tersebut, seperti yang dijelaskan oleh kedua pihak, menimbulkan kehebohan dan memicu komentar di media sosial.

‘Saling menghormati’

Inilah yang dikatakan Trump tentang Delcy Rodríguez:

“Kami baru saja melakukan percakapan yang sangat baik hari ini. Dia [Dercy Rodriquez] adalah orang yang luar biasa, yang telah bekerja sama dengan kami dengan sangat baik. Marco Rubio sedang berurusan dengannya. Saya berbicara dengannya pagi ini, kami berdiskusi panjang. Kami membahas banyak hal dan saya pikir kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan Venezuela.”

Beberapa saat kemudian, dia memposting komentar yang bahkan lebih memuji di media sosial:

“Pagi ini saya melakukan percakapan yang sangat baik dengan Presiden Sementara Venezuela, Delcy Rodríguez. Kami membuat kemajuan yang luar biasa, dalam membantu Venezuela menjadi stabil dan pulih. Banyak topik yang dibahas, termasuk Minyak, Mineral, Perdagangan dan, tentu saja, Keamanan Nasional. Kemitraan antara Amerika Serikat dan Venezuela ini akan menjadi kemitraan yang spektakuler BAGI SEMUA. Venezuela akan segera menjadi hebat dan makmur kembali, mungkin lebih dari sebelumnya!”

Tak lama kemudian, Delcy Rodríguez mengkonfirmasi panggilan tersebut dalam pesan ini:

“Saya telah melakukan percakapan telepon yang panjang dan bersahabat dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dilakukan dalam semangat saling menghormati, di mana kami membahas agenda kerja bilateral untuk kepentingan rakyat kita, serta isu-isu yang belum terselesaikan antara pemerintah kita.”

Apa yang dianggap skandal oleh banyak orang, di luar keunikan dan ‘gaya’ komunikasi Trump, adalah pernyataan Delcy. AS baru saja melancarkan serangan militer ke Venezuela, menewaskan lebih dari 100 orang untuk menangkap kepala negara dan istrinya, memberlakukan blokade angkatan laut yang mencekik, dan Trump mengatakan dia akan ‘mengelola’ negara itu… Bagaimana bisa dikatakan bahwa percakapan itu berlangsung dalam semangat ‘saling menghormati’?

Saya juga bertanya-tanya, dalam konteks ini, apa yang dimaksud dengan “agenda kerja bilateral untuk kepentingan rakyat kita”, yang disebut oleh Delcy dalam pernyataannya?

Yang paling serius adalah bahwa dalam uraian Delcy tentang percakapan telepon tersebut, tidak disebutkan apakah mereka membahas penculikan presiden Maduro (!!!). Sebaliknya, di bagian akhir dan hampir sambil lalu, dikatakan bahwa mereka membahas “isu-isu yang belum terselesaikan antara pemerintah kita”, dalam kata lain, ini hanya detail ‘tidak penting’ dalam agenda pertemuan tersebut.

Pada 12 Januari, dalam pertemuan dengan para jurnalis Venezuela, Delcy menyatakan bahwa “kadang-kadang langkah-langkah taktis diambil, yang terkadang dapat menghasilkan tindakan yang sulit dipahami”, tetapi mereka tidak perlu khawatir karena “kami juga memiliki strategi”.

Jelas, ini pasti salah satu kasus seperti itu. Tindakan-tindakan ini tentu saja tidak dapat dipahami, meskipun saya tidak lagi yakin “langkah taktis” atau “kesabaran dan kehati-hatian strategis” macam apa yang sedang dipraktikkan di sini.

Fakta yang ada

Banyak orang yang bertanya-tanya: ‘apa sebenarnya arti semua ini?’. Bukankah sudah dua minggu sejak AS melancarkan serangan imperialis brutal terhadap Venezuela, dan sekarang kita semua berteman lagi?

Para komentator banyak memperdebatkan apakah pembebasan tahanan baru-baru ini di Venezuela diperintahkan oleh Rubio, atau memang sudah menjadi kebijakan Maduro, dan apakah pembukaan kedutaan AS diperlukan untuk memberikan bantuan konsuler kepada Presiden Maduro. Tetapi lebih dari sekadar pencitraan publik hubungan antara kedua pemimpin ini, bagi saya – sebagai seorang materialis – hal terpenting adalah fakta, bukan ‘pertarungan narasi’.

Apa saja fakta-fakta yang terbaru?

Dua perusahaan internasional, Vitol dan Trafigura, telah ditunjuk dan diberi wewenang oleh AS (karena sanksi masih berlaku) untuk menjual minyak Venezuela (sekitar 30 atau 50 juta barel yang disimpan di darat atau di laut karena blokade kriminal oleh AS). Mereka telah menandatangani kontrak.

Dua kapal tanker yang bermuatan total 3,6 juta barel minyak Venezuela telah meninggalkan pantai Venezuela menuju para pembelinya.

Vitol telah mengirim nafta ke Venezuela (pelarut yang dibutuhkan untuk memproses minyak Venezuela).

AS menyatakan bahwa nilai penjualan pertama ini adalah 500 juta dolar AS.

AS menyatakan bahwa uang hasil penjualan akan disetorkan ke rekening-rekening bank yang dikelola dan dikendalikan oleh AS.

Sumber resmi AS mengatakan kepada website Semafor bahwa rekening-rekening bank ini sudah ada dan salah satunya berbasis di Qatar.

Pemerintah Venezuela tidak mengatakan apa pun tentang semua ini. Sama sekali tidak. Semua yang kita ketahui berasal dari pernyataan singkat dan steril yang dikeluarkan oleh PDVSA (perusahaan minyak negara Venezuela) pada 7 Januari. Pernyataan itu menyebutkan bahwa negosiasi sedang berlangsung dengan AS untuk penjualan minyak Venezuela dan bahwa prosesnya dilakukan dengan cara yang serupa dengan lisensi Chevron.

Bagi yang belum tahu, perusahaan minyak multinasional Chevron memiliki izin khusus untuk beroperasi di Venezuela, kendati sanksi unilateral yang diberlakukan oleh AS. Perusahaan ini mengoperasikan empat usaha patungan dengan PDVSA, di mana Chevron memiliki saham minoritas: Petroboscan, Petroindependiente, Petroiar, dan Petroindependencia.

Dengan lisensi ini, Chevron dapat menjual minyak yang diproduksi (sekitar 240.000 barel per hari, 25 persen dari total produksi Venezuela), tetapi tidak dapat meningkatkan produksinya, memulai operasi baru, atau memberikan uang tunai kepada pemerintah Venezuela.

Chevron menjual minyak yang diproduksi, membayar biaya pemeliharaan dan operasional, dan menggunakan porsi keuntungan yang seharusnya diterima PDVSA dan pemerintah Venezuela (pajak dan royalti) untuk melunasi utang PDVSA kepada Chevron (sekitar $3 miliar). Porsi yang seharusnya diterima PDVSA dibayarkan dalam bentuk minyak mentah, yang kemudian dijual kembali oleh PDVSA di pasar dunia.

Kita tidak banyak mengetahui detail dari ‘kesepakatan energi’ yang diumumkan oleh Trump ini, selain apa yang tercantum dalam US Fact Sheet pada 7 Januari, dan Perintah Eksekutif Presiden Trump pada 9 Januari tentang ‘Melindungi Pendapatan Minyak Venezuela Demi Kebaikan Rakyat Amerika dan Venezuela’, serta beberapa pernyataan lain kepada pers.

Singkatnya: AS akan menjual minyak Venezuela, dan hasil penjualan akan masuk ke rekening bank yang dikelola oleh AS, yang akan menyalurkan uang tersebut sesuai kebijakannya. Kreditur Venezuela tidak akan menerima uang ini. AS bermaksud agar uang ini digunakan oleh Venezuela untuk membeli produk-produk AS (kemungkinan pelarut untuk industri minyak, peralatan untuk industri minyak, peralatan energi, ‘bantuan kemanusiaan’, dll.). Uang ini hanya akan dilepaskan di bawah kendali AS dan untuk tujuan tertentu.

Bagaimanapun Anda melihatnya, AS secara de facto telah menguasai sumber daya terpenting Venezuela (melalui agresi militer dan dengan memberlakukan blokade minyak maritim), dan akan menggunakannya sebagai alat tawar untuk menentukan kebijakan anggaran Venezuela.

Ini adalah penjajahan semi-kolonial. Tidak ada cara lain untuk menggambarkannya.

“Dari perbuatan merekalah kamu akan mengenal mereka.”

Sebagian orang mengatakan, “jangan hiraukan pernyataan Trump, kita tahu seperti apa dia”. Baiklah, tetapi sekarang bukan hanya pernyataan, melainkan fakta. Minyak sedang dijual oleh AS. Yang tersisa hanyalah mengkonfirmasi secara praktis ke mana uang itu mengalir dan siapa yang mengelolanya.

Saya juga diberi tahu, “hanya dengarkan apa yang dikatakan pemerintah Venezuela”. Tetapi sejauh ini, pemerintah Venezuela belum menjelaskan apa pun tentang perjanjian ini, yang jelas-jelas ada karena minyak sudah mengalir. Tampaknya yang diminta adalah kepercayaan buta. “Meragukan berarti mengkhianati,” kata mereka.

Namun saya lebih memilih berpedoman pada pepatah Alkitab: “dari perbuatan merekalah kamu akan mengenal mereka”.

Menghadapi penjajahan kolonial ini, ada kaum Kiri yang membandingkannya dengan Perjanjian Brest-Litovsk – dan apa yang dikatakan Lenin pada waktu itu tentang dibenarkannya membuat kesepakatan dengan seorang perampok yang menyerang kita dengan senjata – untuk membenarkan ‘kompromi’ yang dibuat oleh pemerintah Venezuela.

Namun perbedaannya adalah baik Lenin maupun Trotsky tidak pernah berpikir untuk mengatakan kepada kaum buruh dan tani Rusia, “kami telah mengadakan diskusi yang sopan dengan Kaiser untuk membahas agenda yang saling menguntungkan bagi rakyat Jerman dan Rusia”, di samping “beberapa isu yang belum diselesaikan antara Republik Soviet dan Kekaisaran Jerman’.

Mereka tidak pernah menyembunyikan isi konsesi teritorial yang terpaksa mereka berikan. Mereka dengan jelas memberi tahu rakyat Rusia situasi sebenarnya yang memaksa mereka untuk menyerah. Dan di atas itu semua, mereka terus menyerukan revolusi internasional, dan khususnya revolusi di Jerman (yang tidak lama kemudian terjadi).

Trotsky mungkin bersikap sopan kepada perunding Jerman dalam negosiasi (yang terkadang meletakkan sepatu bot militernya di atas meja), tetapi dia jelas menggunakan negosiasi tersebut sebagai platform untuk agitasi revolusioner, untuk mengungkap tujuan agresif pemerintah Jerman, dan untuk menyerukan revolusi di Jerman. Dan pada akhirnya, tentu saja, Soviet terpaksa menandatanganinya.

Dan tentu saja, Lenin dan Trotsky tidak pernah mengatakan, “ikuti kata kepemimpinan secara buta meskipun kalian tidak mengerti”, apalagi mengatakan “meragukan berarti mengkhianati”. Ada perdebatan publik yang sengit tentang negosiasi Brest-Litovsk dengan tiga posisi yang berbeda: Lenin, yang ingin segera menandatangani perjanjian damai karena khawatir dipaksa untuk membuat konsesi yang bahkan lebih berat; Bukharin, yang menganjurkan untuk melancarkan perang revolusioner; dan Trotsky, yang berupaya mengulur negosiasi ini selama mungkin untuk membeli waktu mempropagandakan revolusi di Jerman. Dan selama perdebatan itu, mereka melakukan voting beberapa kali. Hingga akhirnya, posisi Lenin yang menang.

Bika Venezuela terpaksa membuat konsesi di bawah ancaman kekuatan militer (dan saya tidak ragu bahwa ini adalah situasi sebenarnya), hal terbaik dari sudut pandang strategi dan moral dalam perjuangan ini adalah mengatakan kebenaran ini secara terbuka dan mempersiapkan perlawanan.

Menyamarkan realitas, mencoba menyamarkan penindasan kolonial sebagai kedaulatan dan martabat, bukan hanya tidak menipu siapa pun, tetapi juga secara langsung menyebabkan kebingungan, demoralisasi, dan semakin melemahkan Venezuela serta gerakan solidaritas internasional dalam menghadapi agresi imperialis.

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Dunia 2025: Dunia Terjungkir Balik – Sistem Kapitalisme dalam Krisis
    Perspektif Politik 2025: Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme