Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

Asal-usul dan perkembangan historis Hari Perempuan Pekerja Internasional

Dipublikasi 18 March 2026 | Oleh : Miguel Jimenez

Seiring berkembangnya kapitalisme dan produksi pabrik, keduanya mulai menghancurkan peran tradisional kirche, küche, kinder (gereja, dapur, anak-anak), yang oleh masyarakat tani lama diperuntukkan bagi perempuan di desa-desa dalam tatanan feodal lama yang sedang mengalami kemunduran.

Seiring dengan munculnya gerakan buruh yang terorganisir, abad ke-19 menyaksikan buruh perempuan di kedua sisi Atlantik memainkan peran yang sangat penting dalam berbagai perjuangan utama, yang kemudian melahirkan suatu tradisi yang sepenuhnya baru.

“Perempuan telah menjadi bagian aktif dari produksi sosial kita. Siapa pun yang mengetahui sejarah memahami bahwa perubahan sosial yang besar tidak mungkin terjadi tanpa gejolak di antara kaum perempuan,” tulis Marx kepada Kügelman, yang merujuk pada, di antara hal-hal lain, perjuangan besar kaum perempuan selama Revolusi Prancis.

Pada 1871, Marx dan Engels mengajukan ketentuan dalam Internasional Pertama yang merekomendasikan pembentukan seksi-seksi perempuan, tanpa menutup kemungkinan bahwa kedua jenis kelamin dapat berpartisipasi di dalamnya. Pada masa itu, kondisi keterbelakangan masih jauh lebih dominan di Eropa dibandingkan saat ini. Sikap seksis mendominasi, di mana perempuan yang secara aktif mengambil bagian dalam politik dipandang rendah. Dalam karyanya Women and Socialism, August Bebel, murid Marx dan Engels sekaligus pendiri gerakan sosialis di Jerman, menyerukan agar kaum sosialis melawan kecenderungan-kecenderungan seksis tersebut di dalam gerakan buruh.

Dari lingkungan ini, dengan segala kontradiksinya, muncul sosok besar Rosa Luxemburg. Ia berdiri sebagai salah satu pemimpin sosialis besar pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang berjuang dan mengalahkan kecenderungan kompromistis yang mulai berkembang di dalam gerakan sosialis.

Clara Zetkin

Sejak awal, kaum sosial demokrat (sebutan untuk kaum Marxis pada saat itu) memulai agitasi yang khusus dan sistematis mengenai persoalan perempuan: organisasi-organisasi sosialis (dan anarkis) di Eropa mulai melakukan kerja semacam ini sejak paruh kedua abad ke-19. Di Jerman saja, sebelum Perang Dunia Pertama, terdapat lebih dari 100.000 orang yang berlangganan koran-koran dan majalah-majalah Sosial Demokrasi Jerman yang khususnya ditujukan untuk isu perempuan. Tokoh yang paling dikenal dalam kerja ini adalah sosialis Jerman, Clara Zetkin.

Tonggak pertama menuju penetapan Hari Perempuan Pekerja Internasional terjadi pada Konferensi Internasional Perempuan Sosialis Pertama, yang diselenggarakan di Stuttgart pada 1907. Clara Zetkin, pendiri majalah perempuan sosialis Equality, mengajukan sebuah resolusi yang ditulis bersama Alexandra Kollontai dan Rosa Luxemburg. Resolusi tersebut mendesak semua partai sosialis untuk mengkampanyekan hak pilih bagi perempuan, selain memperjuangkan hak-hak sosial mereka secara penuh. Internasional Kedua mendukung kesepakatan ini, yang merupakan puncak dari kerja puluhan tahun sebelumnya. Meskipun kaum suffragette berjuang untuk hak pilih di Amerika Utara, Inggris, dan negara-negara lain (yang dipimpin oleh perempuan dari latar belakang kelas atas dan menengah), perjuangan untuk emansipasi penuh perempuan (baik sosial maupun politik) lahir sebagai bagian integral dari gerakan sosialis internasional.

Pada 3 Mei 1908, Federasi Klub Perempuan Sosialis Chicago mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan Hari Perempuan di sebuah teater di kota tersebut. Hari Perempuan nasional pertama kemudian diadopsi oleh Partai Sosialis Amerika Utara pada tahun berikutnya, yang diselenggarakan di berbagai kota dan pada tanggal yang berbeda-beda. Tujuan utamanya adalah “untuk memperoleh hak pilih dan menghapus perbudakan seksual.”

Perayaan pada tahun berikutnya, 1910, ditandai oleh peningkatan partisipasi yang sangat besar. Para penjahit perempuan di kota tersebut baru saja mengakhiri pemogokan panjang untuk menuntut pengakuan atas serikat mereka. Pemogokan itu berlangsung dari 22 November 1909 hingga 15 Februari 1910, hampir bertepatan dengan Hari Perempuan. Pemogokan tersebut panjang dan berat, dengan barisan piket yang kuat, yang direpresi keras oleh polisi, yang menangkap lebih dari 600 orang. Setelah pemogokan berakhir, para penjahit perempuan secara aktif berpartisipasi dalam persiapan dan pelaksanaan Hari Perempuan, yang diselenggarakan oleh Partai Sosialis Amerika Utara. Partai tersebut kemudian mengusulkan kepada Internasional Kedua agar hari perjuangan ini dilembagakan dalam gerakan buruh sebagai hari aksi global.

Pada 1910, Konferensi Internasional Kedua Perempuan Sosialis, dengan perwakilan dari 17 negara, menetapkan hari perjuangan perempuan sedunia. Meskipun mereka tidak menentukan tanggal tertentu, sejak saat itu Hari Perempuan Kelas Pekerja Internasional mulai diperingati di berbagai negara di Eropa. Perayaan internasional pertama berlangsung pada 1911 dan terutama sangat kuat di negara-negara seperti Austria, Denmark, Jerman, dan Swedia. Lebih dari satu juta buruh perempuan dan laki-laki berpartisipasi dalam berbagai kegiatan publik yang menuntut persamaan hak dalam hukum perdata, hak untuk bekerja, dan diakhirinya diskriminasi dalam pekerjaan. Beberapa minggu kemudian, pada 25 Maret, sebanyak 146 buruh tekstil, yang sebagian besar adalah perempuan imigran dari Italia dan Eropa Timur, meninggal dalam kebakaran di pabrik Triangle Shirtwaist di New York karena mereka dikurung dan tidak dapat melarikan diri dari tempat kerja mereka ketika kebakaran hebat terjadi. Penghormatan terhadap para buruh ini, yang merupakan lapisan kelas pekerja yang paling tereksploitasi, kemudian menjadi bagian dari Hari Perempuan Kelas Pekerja Internasional.

Kesetaraan dan hak-hak sipil

Pengakuan pertama di Eropa terhadap tanggal 8 Maret terjadi pada 1914, dan kemudian diadopsi secara bertahap oleh beberapa negara di benua tersebut.

Pecahnya Perang Dunia Pertama mendorong proletarisasi jutaan perempuan. Di satu sisi, situasi perempuan memburuk, karena banyak yang ditinggalkan sendirian untuk mengurus keluarga mereka, di samping harus menghadapi kelangkaan pangan dan meningkatnya biaya hidup. Namun, buruh perempuan turut berpartisipasi dalam banyak pemogokan dan demonstrasi untuk memprotes kesulitan-kesulitan tersebut, yang meningkatkan kesadaran politik mereka, memperluas pemahaman mereka, dan menumbuhkan kepercayaan diri yang lebih besar. Proses sosial ini, bersama dengan perjuangan dan protes sebelumnya, mengarah pada disahkannya undang-undang tentang hak pilih bagi perempuan di negara-negara Nordik dan wilayah antipoda (Australia dan Selandia Baru). Bukan kebetulan di negara-negara tersebut partai-partai sosialis (atau buruh) meraup suara besar di pemilu.

Namun, 8 Maret yang paling dikenang terjadi pada 1917 di Petrograd (sekarang Saint Petersburg). Trotsky menjelaskan bagaimana, dimulai dari para buruh perempuan tekstil yang tereksploitasi, api pemberontakan dinyalakan:

“23 Februari [8 Maret dalam kalender modern] adalah Hari Perempuan Internasional. Lingkaran-lingkaran sosial demokrat bermaksud memperingati hari ini secara umum: melalui pertemuan, pidato, dan selebaran. Tidak seorang pun membayangkan bahwa hari itu akan menjadi hari pertama revolusi. Tidak satu pun organisasi menyerukan pemogokan pada hari itu. Lebih dari itu, bahkan sebuah organisasi Bolshevik, dan itupun yang paling militan — yakni komite distrik Vyborg, yang seluruh anggotanya adalah buruh — justru menentang pemogokan. Suasana massa, menurut Kayurov, salah satu pemimpin di distrik buruh, sangat tegang; setiap pemogokan berisiko berubah menjadi pertempuran terbuka. Namun, karena komite menganggap waktunya belum matang untuk aksi militan, partai belum cukup kuat dan buruh memiliki terlalu sedikit hubungan dengan para tentara, mereka memutuskan untuk tidak menyerukan pemogokan, melainkan mempersiapkan aksi revolusioner pada suatu waktu yang belum ditentukan di masa depan. Demikianlah sikap yang diambil komite Vyborg menjelang 23 Februari, dan semua orang tampaknya menerimanya. Namun, keesokan paginya, terlepas dari semua arahan, buruh perempuan tekstil di beberapa pabrik melakukan pemogokan dan mengirim delegasi ke buruh-buruh logam untuk meminta dukungan. ‘Dengan enggan,’ tulis Kayurov, ‘kaum Bolshevik menyetujui ini, dan mereka diikuti oleh buruh – baik buruh Menshevik maupun Sosialis Revolusioner. Tetapi begitu terjadi pemogokan massa, kita harus menyerukan semua orang turun ke jalan dan mengambil kepemimpinan.’ Itulah keputusan Kayurov, dan komite Vyborg harus menyetujuinya. ‘Gagasan untuk turun ke jalan telah lama matang di kalangan buruh; hanya saja pada saat itu, tidak seorang pun membayangkan ke mana hal itu akan mengarah.’”

Sebanyak 90.000 buruh perempuan dan laki-laki melakukan pemogokan, yang menandai dimulainya Revolusi Februari yang meruntuhkan autokrasi tertua di Eropa. Peristiwa bersejarah ini menetapkan 8 Maret sebagai peringatan tahunan perjuangan perempuan kelas pekerja: dari tahun ke tahun, dan dari dekade ke dekade, hingga hari ini.

Pencapaian-pencapaian Revolusi Rusia

Revolusi Oktober di Rusia menjamin hak-hak politik penuh bagi perempuan. Soviet mengakui hak perempuan bukan hanya untuk memilih, seperti yang telah terjadi di negara-negara lain sebelumnya, tetapi juga untuk dipilih sebagai deputi atau menteri. Ini terwujud dalam diri Alexandra Kollontai, komisaris (menteri) perempuan pertama dalam sejarah dunia. Peran ini bukanlah sekadar simbolis, sebagaimana yang kemudian sering terjadi di masa-masa berikutnya. Siapa pun yang memiliki pengetahuan dasar tentang sejarah Partai Bolshevik mengetahui peran kunci yang secara tak terbantahkan dimainkan oleh Kollontai dan perempuan lainnya, termasuk Inessa Armand dan Nadezhda Krupskaya.

Revolusi Rusia, di tengah kelangkaan, memberikan segala yang dimilikinya untuk meletakkan dasar bagi emansipasi sosial perempuan. Perempuan tidak lagi diwajibkan untuk tinggal bersama suami mereka atau mengikuti mereka jika berpindah pekerjaan. Mereka memiliki hak yang sama untuk menjadi kepala keluarga dan menikmati upah yang setara. Perhatian besar diberikan pada peran ibu, dan undang-undang disahkan untuk melarang perempuan hamil bekerja lembur. Cuti melahirkan dengan gaji diberikan, dan keluarga dapat memanfaatkan pusat penitipan anak. Aborsi dilegalkan pada 1920, proses perceraian dipermudah, dan perkawinan cukup didaftarkan dalam catatan sipil. Konsep anak tidak sah juga dihapuskan.

Dalam kata-kata Lenin:

“Secara harfiah, kami tidak menyisakan satu pun batu bata dari hukum-hukum tercela yang menempatkan perempuan dalam posisi inferior dibandingkan laki-laki.”

Kemajuan material selanjutnya memfasilitasi keterlibatan penuh perempuan dalam seluruh bidang kehidupan sosial, ekonomi, dan politik—termasuk makanan sekolah gratis, susu gratis bagi anak-anak, makanan, pakaian, pusat maternitas, pusat penitipan anak, dan berbagai fasilitas lainnya.

Dalam buku Revolusi yang Dikhianati, Trotsky menulis:

Revolusi telah mengambil langkah heroik untuk menghancurkan apa yang disebut ‘keluarga tradisional’ – institusi usang yang jenuh dan stagnan itu, di mana perempuan kelas pekerja menjadi budak domestik semenjak kecil hingga mati. Keluarga sebagai unit ekonomi kecil yang terisolasi akan digantikan, seturut rencana, oleh sistem perawatan dan akomodasi sosial yang komprehensif: rumah bersalin, tempat penitipan anak, taman kanak-kanak, sekolah, ruang makan sosial, binatu sosial, puskesmas, rumah sakit, sanatorium, klub olahraga, teater, bioskop, dll. Fungsi-fungsi rumah tangga akan diserap sepenuhnya oleh institusi-institusi masyarakat sosialis, yang akan menyatukan seluruh generasi dalam semangat solidaritas dan gotong royong dan akan membawa pembebasan sejati bagi perempuan, dan dengan demikian juga bagi setiap pasangan yang saling mencintai, dari belenggu yang telah merantai mereka selama ribuan tahun.

Gerakan buruh komunis, sosialis, dan anarkis sedunia memainkan peran yang militan, tanpa pamrih, dan heroik pada periode antar perang. Dalam gerakan ini, para aktivis perempuan merupakan partisipan yang luar biasa, misalnya dalam Revolusi Spanyol pada 1930-an.

Peran Stalinisme

Pada 1943, Stalin memulai perundingan dengan para pemimpin Barat untuk membagi dunia ke dalam wilayah-wilayah pengaruh, dengan tujuan mencapai konsensus yang stabil dengan imperialisme Inggris dan Amerika, dan untuk itu ia membubarkan Internasional Komunis.

Uni Soviet pada saat itu menunjukkan kebenaran dari pernyataan lama sosialis utopis Fourier, yang diparafrasekan oleh Trotsky ketika menulis:

“Kedudukan perempuan adalah indikator yang paling jelas dan paling baik untuk menilai suatu rezim sosial dan kebijakan negara. (…) Dipandu oleh naluri konservatifnya, birokrasi menjadi cemas terhadap ‘disintegrasi keluarga’. Mereka mulai menyanyikan pujian bagi makan malam keluarga dan pekerjaan mencuci, yakni perbudakan domestik perempuan. Untuk melengkapi semuanya, birokrasi memulihkan hukuman pidana terhadap aborsi, yang secara resmi mengembalikan perempuan ke status hewan beban. Dalam kontradiksi sepenuhnya dengan ABC Komunisme, kasta penguasa dengan demikian memulihkan inti paling reaksioner dan paling tidak tercerahkan dari rezim kelas, yaitu keluarga borjuis kecil.” (Trotsky, Twenty Years of Stalinist Degeneration)

Setelah kematian Stalin pada 1953, reformasi seperti legalisasi aborsi kembali diperkenalkan, tetapi situasi perempuan di Uni Soviet tidak pernah pulih ke tingkat yang telah dicapai di bawah Lenin dan Trotsky. Setelah bertahun-tahun pembangunan ekonomi yang menjadikannya negara kedua terkuat di dunia, tokoh mana lagi seperti Armand, Krupskaya, Kollontai, atau Zetkin yang muncul ke puncak rezim Stalinis? Ada sikap macho yang baru, pada tingkat kultural dan ideologis, yang telah berkembang.

Meski demikian, kaum perempuan Soviet memiliki banyak keunggulan dibandingkan perempuan di Barat. Pertumbuhan ekonomi pascaperang—yang dicapai berkat ekonomi nasional yang direncanakan dan dinasionalisasi—memungkinkan berbagai perbaikan umum: pensiun di usia 55 tahun; hak bagi perempuan hamil untuk mengurangi jam kerja dengan tetap menerima gaji penuh; serta cuti melahirkan selama 56 hari sebelum dan 56 hari setelah persalinan. Pada tahun 1927, sebanyak 28 persen perempuan menempuh pendidikan tinggi; pada tahun 1960, 43 persen; dan pada tahun 1970, 49 persen. Satu-satunya negara di dunia pada tahun tersebut di mana perempuan mencakup lebih dari 40 persen dari total mahasiswa pendidikan tinggi adalah Finlandia, Prancis, dan Amerika Serikat.

Dari 8 Maret sampai hari ini

Birokratisasi Stalinis membuat 8 Maret menjadi karikatur di negara-negara poros Uni Soviet, sementara kemajuan kapitalisme Barat dan stabilisasinya oleh sosial demokrasi (yang semakin hari semakin jauh dari sosialisme) tidak tertarik memperingati 8 Maret.

Namun, revolusi tetap hidup melampaui kantor-kantor para birokrat Soviet. Generasi baru diguncang pada tahun 1960-an dan 1970-an oleh revolusi-revolusi kolonial, di mana puluhan negara mencapai kemerdekaan dari para penindas mereka. Perjuangan rakyat Vietnam; Revolusi Kuba; dan bahkan Tiongkok di bawah Mao (yang berusaha menampilkan diri sebagai ideal yang lebih murni dibandingkan Stalinisme Soviet yang telah lapuk) membangkitkan imajinasi kaum muda dan kelas pekerja.

Cangkang stabilitas di Barat mulai retak bahkan sebelum krisis ekonomi tahun 1973. Pada saat itu, telah muncul gejolak yang mendorong semakin banyak orang untuk mempertanyakan hubungan-hubungan sosial di semua tingkatan. Perempuan di negara-negara terkaya punya pil kontrasepsi, sementara di dunia ketiga mereka mengangkat senapan mesin dan AK-47 dalam perjuangan yang berlangsung hingga awal 1980-an. Menghadapi stagnasi relatif dalam perjuangan kelas di negara-negara paling maju, perhatian kemudian beralih ke berbagai “isme” lain: lingkunganhidupisme, pasifisme, dan feminisme.

IWD hari ini telah terkooptasi dan dilucuti dari radikalismenya. PBB melembagakan tanggal ini demi kepentingan kelas penguasa, dan mengganti namanya menjadi sekadar Hari Perempuan, dengan menghapus semua rujukan pada “perempuan pekerja”. Dengan demikian, mereka menyembunyikan kelas sosial – yaitu kelas pekerja – yang telah berjuang untuk membela lapisannya yang paling tertindas.

Fakta bahwa 8 Maret sesungguhnya berasal dari sebuah pemogokan kemudian dikaburkan oleh tragedi 25 Maret 1911. Tanggal dan peristiwa ini dicampur aduk, dan bahkan menjadi narasi yang kuat di dalam gerakan-gerakan yang mengaku komunis. Namun faktanya tetap bahwa 8 Maret lahir dari perjuangan melawan kapitalisme, yang selama beberapa dekade sebelum 1917 diperjuangkan oleh jutaan aktivis militan: laki-laki dan perempuan yang dipersatukan oleh cita-cita revolusioner untuk menghapus eksploitasi dan keterasingan manusia oleh manusia, serta perempuan oleh laki-laki. Para pejuang kelas ini percaya bahwa orang yang memiliki lebih banyak hak punya kewajiban membela mereka yang memiliki lebih sedikit hak. Mereka yakin bahwa jika kita bersatu, kita bisa mencapai lebih banyak daripada jika berjuang sendirian. Kelas yang sekarang memegang kekuasaan ingin kita tetap terpecah—kelas yang sama inilah yang sudah berkuasa sejak 1908 dan 1917.

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Dunia 2025: Dunia Terjungkir Balik – Sistem Kapitalisme dalam Krisis
    Perspektif Politik 2025: Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme