Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

Asal Usul Penindasan Perempuan

Dipublikasi 6 March 2026 | Oleh : Rob Sewell

“Well ye know

What woman is, for none of woman born

Can choose but drain the bitter dregs of woe

Which ever to the oppressed from the oppressors flow.”

-SHELLEY

Penindasan terhadap perempuan selalu menjadi persoalan sentral bagi Marxisme. Bukan tanpa alasan: perempuan adalah separuh dari umat manusia, namun sepanjang sejarah terus didiskriminasi dan direndahkan dalam hampir setiap sisi kehidupan. Di Dunia Ketiga, penindasan ini telah mencapai taraf yang menjijikkan: prostitusi anak, perbudakan utang, dan perbudakan. Di sinilah kapitalisme menampakkan dirinya dalam bentuk paling telanjang dan kasar. Belum lama ini, sebuah pengadilan Islam di Iran menyatakan seorang perempuan bersalah atas tuduhan zina. Atas perbuatan yang dianggap sebagai kejahatan keji tersebut, ia dijatuhi hukuman mati dengan dirajam. Dalam kekejaman yang demikian telanjang, kita melihat cerminan paling brutal dari watak dasar masyarakat kelas. Sementara itu, di Barat yang mengklaim diri “beradab”, perempuan kelas pekerja tetap diperlakukan sebagai warga kelas dua. Banyak dari mereka didorong ke pekerjaan rendahan dengan upah yang minim. Bahkan setelah undang-undang kesetaraan upah diberlakukan, pengusaha masih terus mendiskriminasi perempuan, baik dalam soal gaji maupun kondisi kerja.

Berbeda dengan kaum feminis borjuis-kecil yang melihat penindasan terhadap perempuan sebagai sifat biologis bawaan laki-laki, Marxisme memahami bahwa akar penindasan perempuan tidak terletak pada biologi, melainkan pada kondisi-kondisi sosial. Kaum feminis menyalahkan laki-laki atas seluruh penderitaan perempuan, sementara Marxisme justru memandang pembebasan perempuan kelas pekerja sebagai bagian tak terpisahkan dari perjuangan pembebasan kelas pekerja secara keseluruhan. Kaum feminis mempertentangkan perempuan dengan laki-laki, sementara gerakan sosialis berupaya membangun solidaritas antara buruh laki-laki dan buruh perempuan dalam perjuangan bersama melawan eksploitasi kapitalis. Pembebasan perempuan tidak akan pernah dapat diwujudkan di bawah masyarakat kapitalis, yakni sebuah tatanan yang menundukkan kaum pekerja, baik perempuan maupun laki-laki, ke dalam relasi penindasan.

Marxisme memikul kewajiban untuk menarik kaum perempuan pekerja terbaik ke dalam panjinya. Sebab justru dari lapisan yang paling tertindas ini, “budak dari seorang budak”, jika meminjam ungkapan Engels, akan lahir para pejuang kelas paling militan bagi revolusi sosialis. Bukan kebetulan Revolusi Rusia 1917 diawali oleh aksi perempuan pada Hari Perempuan Internasional.

Penindasan terhadap perempuan tidak selalu ada. Dalam sejarah, penindasan terhadap perempuan merupakan fenomena yang relatif baru. Ia muncul bersamaan dengan pembelahan masyarakat ke dalam kelas-kelas dan lahirnya masyarakat berkelas sekitar enam ribu tahun yang lalu. Sebelumnya, pada periode yang oleh antropolog Amerika Lewis Henry Morgan disebut sebagai “komunisme primitif”, tidak terdapat kelas, negara, kepemilikan pribadi, maupun keluarga. Pada masa itu, tidak ada dominasi laki-laki atas perempuan, sebagaimana tidak ada dominasi manusia atas manusia. Karena tidak ada surplus yang dihasilkan, di mana produksi hanya cukup untuk bertahan hidup, maka tidak terdapat eksploitasi. Eksploitasi baru muncul kemudian, seiring berkembangnya kekaisaran-kekaisaran berbasis perbudakan di Mesopotamia, Mesir, Yunani, dan Roma.

Engels menulis “Asal Mula Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara” dengan terutama  menggunakan temuan-temuan Lewis Morgan, meskipun juga dilengkapi oleh penelitiannya sendiri, yang menelaah persoalan ini dari sudut pandang ilmiah. Para pendiri antropologi modern, khususnya Morgan dan rekan sezamannya dari Inggris, Edward Tylor, menghimpun bahan yang sangat besar dari suku-suku primitif, laporan para misionaris dan pelancong, serta berbagai sumber lainnya, dalam upaya merekonstruksi gambaran tentang masyarakat primitif. Morgan sendiri selama bertahun-tahun hidup di tengah suku Indian Iroquois, yang pada masa itu masih berada pada tahap tertinggi dari apa yang disebut sebagai kebiadaban.

Mereka benar-benar terperangah ketika mendapati bahwa masyarakat primitif sama sekali tidak memiliki kemiripan apa pun, baik dalam struktur sosial, adat-istiadat, maupun institusinya, dengan masyarakat modern yang disebut beradab. Ia berbeda secara fundamental.

Masyarakat Tanpa Kelas

Pandangan umum yang dianut oleh komunitas ilmiah hingga saat itu menganggap bahwa kehidupan primitif hanyalah versi yang lebih sederhana dan belum berkembang dari kehidupan modern. Menurut anggapan ini, seluruh institusi masyarakat kelas yang kita kenal sekarang sudah ada sejak awal, hanya dalam bentuk yang lebih belum matang. Pandangan semacam ini sepenuhnya cocok bagi para pembela masyarakat kapitalis, yang memandang eksploitasi, kelas, dan pembelahan sosial sebagai sesuatu yang abadi. Namun anggapan tersebut runtuh sepenuhnya. Kepemilikan pribadi, keluarga, dan negara sama sekali tidak ada dalam masyarakat primitif. Tidak terdapat kelas penguasa maupun kelas pekerja. Tidak ada dominasi atau perendahan perempuan oleh laki-laki, maupun manusia oleh manusia. Masyarakat tanpa kelas ini berdiri di atas landasan yang sepenuhnya berbeda, yakni landasan yang egaliter.

Menurut Morgan, sebelum lahirnya masyarakat kelas, yang mencakup sekitar 99 persen dari seluruh perkembangan umat manusia, ada dua fase berbeda dalam sejarah masyarakat manusia. Pertama, Kebiadaban, yang berdasarkan ekonomi berburu dan meramu, dan berkaitan dengan Zaman Batu Tua. Kedua, Barbarisme, yang berdasarkan pertanian dan peternakan, yakni Zaman Batu Baru. Sepanjang rentang waktu yang amat panjang ini, struktur masyarakat, yang sepenuhnya berbeda dari masyarakat kita sekarang, dibangun di atas sistem klan atau suku. Sistem ini pada gilirannya bertumpu pada hubungan kekerabatan, di mana perempuan sangatlah dihormati dan memainkan peran utama di dalam klan. Produksi dan distribusi dijalankan secara bersama. Tidak ada privilese maupun elite. Perempuan dipandang mulia, karena merekalah pembawa kehidupan dan masa depan klan.

Meminjam kata-kata Engels:

“Rumah tangga komunistis, di mana sebagian besar atau seluruh perempuan berasal dari satu gens (klan) yang sama, sementara laki-laki datang dari berbagai gens (klan) yang berbeda, merupakan landasan material dari supremasi perempuan yang bersifat umum pada masa-masa primitif.”

Baik Morgan maupun Engels berutang pada pemikir Jerman, Bachofen, yang melalui bukunya Der Mutterrecht (Hak Ibu) menyajikan sejarah keluarga berdasarkan mitos dan legenda masa lampau. Karya ini menunjukkan bahwa dalam sistem klan, perempuan menempati posisi yang sangat dihormati. Dalam masyarakat primitif tersebut, relasi seksual didasarkan pada bentuk perkawinan primitif, di mana pembuahan diyakini terjadi melalui campur tangan ilahi. Bentuk perkawinan primitif ini mengalami berbagai perubahan, hingga mencapai suatu tahap perkawinan kelompok yang didasarkan pada kekerabatan. Dalam kondisi semacam itu, ayah biologis seorang anak tidak diketahui, sehingga garis keturunan ditarik melalui pihak ibu. Ini merupakan satu-satunya cara garis keturunan dapat ditentukan. Keadaan inilah yang menempatkan perempuan pada peran yang menentukan dalam masyarakat, sekaligus membentuk watak matriarkal dari sistem klan.

Perawatan Ibu

Pentingnya posisi perempuan dalam masyarakat bersumber, di antara hal-hal lainnya, dari peran mereka dalam melahirkan dan merawat anak, sebuah peran yang esensial bagi kelangsungan hidup bukan hanya klan, tetapi juga seluruh spesies manusia. Bukan suatu kebetulan bahwa dalam mitos dan legenda penciptaan paling awal, perempuan digambarkan sebagai pembawa kehidupan. Demikian pula, para dewa awal semuanya berwujud perempuan. Baru dengan munculnya masyarakat kelas dan relasi patriarkal yang dominan, kita melihat lahirnya dewa-dewa besar dengan jenis kelamin laki-laki dalam dunia kuno.

Seiring berjalannya waktu, diperkenalkan suatu sistem tabu yang berbeda, dengan hukuman-hukuman berat bagi mereka yang melanggarnya, untuk mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan. Larangan inses diciptakan untuk memberikan stabilitas bagi suku. Di dalam klan, setiap orang adalah “saudara” dan “saudari”, sekaligus “ibu” dan “ayah” bagi semua. Anak-anak dipandang sebagai anak milik bersama dan dibesarkan dalam komunitas matriarkal yang komunal ini. Hubungan seksual dilarang antara laki-laki dan perempuan dari klan yang sama, sehingga mencegah persaingan di antara laki-laki untuk memperebutkan perempuan. Laki-laki harus mencari pasangan seksual di klan lain dan kemudian diadopsi ke dalam klan tersebut, sementara perempuan tetap berada di klan asalnya. Di atas segalanya, di dalam klan yang bersifat komunistis ini, hubungan antar anggota bersifat persaudaraan. Kini, hubungan-hubungan tersebut didasarkan pada kekuasaan kelas dan mencerminkan dominasi, subordinasi, serta eksploitasi.

Sebagaimana dikemukakan Morgan: “Seluruh anggota dari suatu gens Iroquois adalah pribadi-pribadi yang bebas, dan mereka terikat untuk saling mempertahankan kebebasan satu sama lain; mereka setara dalam privilese maupun hak-hak pribadi, sementara para sachem dan kepala suku tidak mengklaim keunggulan apa pun; dan mereka merupakan suatu persaudaraan yang dipersatukan oleh ikatan kekerabatan. Kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan, meskipun tidak pernah dirumuskan secara eksplisit, merupakan prinsip-prinsip pokok dari gens tersebut.”

Istilah “ibu” bukanlah istilah keluarga sebagaimana kita memahaminya hari ini, melainkan istilah sosial. Dalam sistem klan matriarkal, tidak terdapat istilah untuk “ayah” maupun “keluarga”, karena konsep-konsep tersebut tidak dapat dipahami dalam kerangka itu. Hubungan biologis berada di bawah hubungan kolektif-klan. Dalam masyarakat klan, saudara laki-laki dari pihak ibu juga dipandang sebagai “ibu laki-laki”

Sebagian besar antropolog modern menolak konsep matriarki komunis. Menurut mereka, seluruh bukti yang ditemukan di antara suku-suku pemburu–peramu masa kini, paling banter hanya menunjukkan adanya garis keturunan matrilineal, dan tidak lebih dari itu. Mereka gagal melihat bahwa garis-garis matrilineal yang masih bertahan tersebut merupakan sisa-sisa dari masa prasejarah, ketika perempuan memainkan peran kunci di seluruh ranah kehidupan. Secara logis, bentuk-bentuk patriarkal tidak mungkin mendahului bentuk-bentuk matriarkal, karena tidak ada yang bisa tahu siapa ayahnya. Tentu saja, matriarki awal bukanlah cerminan kebalikan dari masyarakat patriarkal masa kini. Masyarakat primitif bersifat komunistis dan egaliter. Tidak ada kelas maupun dominasi seperti yang ada saat ini.

“Keluarga” muncul di dalam sistem klan pada tahap Barbarisme dan seiring berkembangnya komunitas-komunitas yang menetap. Keluarga “berpasangan” merupakan embrio dari keluarga modern, yang mula-mula muncul sebagai keluarga matrilineal, lalu berkembang menjadi keluarga patrilineal. Perkembangan ini bertepatan dengan apa yang oleh Gordon Childe disebut sebagai “Revolusi Neolitik”. Ia juga bertepatan dengan meningkatnya produktivitas dan kekayaan yang dihasilkan. Penemuan bajak besi membuka jalan bagi surplus hasil gandum. Metode-metode baru dalam pembiakan ternak memperbesar jumlah kawanan. Hal ini, pada gilirannya, melahirkan kekuatan-kekuatan sosial yang mulai menggerogoti sistem klan atau kesukuan. Muncullah kepemilikan pribadi, yang pada awalnya masih berada dalam lingkup klan, namun seiring pembagian kerja semakin jatuh ke tangan laki-laki. “Karena itu,” tulis Engels, “ternak menjadi miliknya, begitu pula komoditas dan budak-budak yang diperoleh sebagai pertukaran atas ternak tersebut. Seluruh surplus yang kini dihasilkan dari pemenuhan kebutuhan hidup jatuh ke tangan laki-laki; perempuan turut menikmati hasilnya, tetapi tidak memiliki bagian dalam kepemilikannya.”

Namun, anak-anak, yang ada di bawah asuhan klan ibu, tidak dapat mewarisi kekayaan dari ayah mereka, yang datang dari klan berbeda di mana properti mereka harus tetap berada. Jadi, dengan kekayaan baru muncul pula kontradiksi baru. Seperti yang dijelaskan Engels: “Dengan demikian, di satu sisi, seiring dengan meningkatnya kekayaan, posisi laki-laki dalam keluarga menjadi semakin lebih penting dibandingkan posisi perempuan, dan di sisi lain ini menciptakan dorongan untuk memanfaatkan posisinya yang kuat ini untuk menumbangkan norma warisan tradisional demi anak-anaknya. Namun, ini mustahil selama garis keturunan ditarik dari garis ibu. Garis keturunan ibu (matrilineal) oleh karenanya harus ditumbangkan, dan akhirnya memang ditumbangkan.” Seperti yang ditambahkan Engels, penumbangan ini merupakan “kekalahan historis-dunia bagi kaum perempuan”.

Klan Maternal

Bersamaan dengan munculnya kepemilikan pribadi, klan-klan maternal yang bersifat komunistis dihancurkan. Sebagai gantinya lahirlah masyarakat kelas, negara, dan keluarga patriarkal. Bentuk perkawinan berubah dari poligami menjadi monogami, guna memastikan bahwa anak-anak yang lahir dalam perkawinan adalah anak sang suami. Perkawinan pun menjadi sarana untuk mengonsolidasikan kekayaan dan kekuasaan keluarga. Bukan kaum laki-laki yang diuntungkan, karena mayoritas dari mereka masih di bawah rantai perbudakan. Yang diuntungkan hanyalah lapisan elite kelas penguasa. Sementara, lapisan luas masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, ditundukkan di bawah kekuasaan kelas. Hanya dengan penghapusan masyarakat kelas maka umat manusia dapat terbebas dari perbudakan ini. Pembebasan perempuan telah menjadi masalah kelas, yang tak terpisahkan dari transformasi sosialis atas masyarakat.

Lalu, bagaimana dengan keluarga? Di bawah sosialisme, kerja rumah tangga yang bersifat privat akan ditransformasikan menjadi industri sosial. Perawatan dan pendidikan anak-anak akan menjadi urusan publik. Dominasi relasi uang akan berakhir, dan laki-laki serta perempuan akan menemukan hubungan yang sungguh-sungguh manusiawi. Meminjam kata-kata Engels: “Begitu orang-orang semacam itu muncul, mereka tidak akan peduli sedikit pun pada apa yang hari ini kita anggap sebagai norma dan tradisi. Mereka akan menetapkan praktik mereka sendiri dan opini publik mereka sendiri yang selaras dengannya, berdasarkan praktik tiap individu – dan begitu saja.” Masyarakat sosialis akan membebaskan kita dari relasi sosial yang tidak manusiawi di bawah kapitalisme dan ekonomi pasar, serta membuka cakrawala baru bagi perkembangan manusia. Ia akan mewujudkan pembebasan bagi laki-laki dan perempuan.

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Dunia 2025: Dunia Terjungkir Balik – Sistem Kapitalisme dalam Krisis
    Perspektif Politik 2025: Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme