Makna Slogan Bubarkan DPR dan Dewan Rakyat Pekerja
Seruan “Bubarkan DPR” meletup dari jalanan tanpa komando — ini menjadi isyarat runtuhnya kepercayaan pada parlemen borjuis sekaligus lahirnya tuntutan baru: jika bukan DPR, apa yang menggantikannya?
Seruan “Bubarkan DPR” meletup dari jalanan tanpa komando — ini menjadi isyarat runtuhnya kepercayaan pada parlemen borjuis sekaligus lahirnya tuntutan baru: jika bukan DPR, apa yang menggantikannya?
Meskipun Revolusi 1998 berhasil menumbangkan Orde Baru, tetapi revolusi ini belum mengakhiri kapitalisme. Di tengah-tengah peristiwa yang penuh gejolak penting bagi kaum revolusioner untuk mempelajari revolusi ini.
Kekuatan rakyat yang terpendam akhirnya mengguncang kekuasaan penguasa. Meskipun pemerintah memberikan konsesi untuk menenangkan massa, itu hanya menunda ledakan yang lebih besar. Krisis semakin tak terelakkan.
Tidak ada revolusi yang mulus. Ia penuh jeda, benturan, dan tarik-menarik antara massa dan penguasa. Apa yang tampak sebagai ketenangan hanyalah fase persiapan, di mana rakyat menimbang langkah berikutnya sementara rezim menata ulang strategi untuk menekan.
Seperti api yang menjalar, demonstrasi di Jakarta dan Palu memicu perlawanan rakyat dengan tuntutan bubarkan DPR. Dari bentrokan di Palmerah hingga bendera One Piece di Bone, kaum muda berani menantang gas air mata dan pentungan polisi.
Sebagai era yang mengangkat rasionalitas dan kebebasan berpikir, Zaman Pencerahan memunculkan pemikiran revolusioner yang menggulingkan sistem feodalisme dan membuka jalan bagi kemajuan di berbagai bidang.
Sejarah organisasi proletariat revolusioner adalah ruang belajar yang luas, penuh pelajaran dan nilai-nilai penting. Memahaminya bukan sekadar kewajiban intelektual, melainkan kebutuhan untuk membentuk kesadaran diri dan arah perjuangan.
Di balik hiruk-pikuk politik dunia yang kita saksikan hari ini, tersembunyi sebuah krisis yang jauh lebih mendalam: keruntuhan sistem ekonomi yang telah menguasai dunia selama berabad-abad, memaksa umat manusia menghadapi pilihan antara transformasi radikal atau kehancuran.
Sejak pelanggaran gencatan senjata pada Maret, Israel melancarkan serangan yang menghancurkan Gaza secara sistematis. Tujuannya jelas: memaksa penduduk Palestina meninggalkan tanah mereka melalui kekerasan dan kebijakan yang bersembunyi di balik kedok “kemanusiaan.”
Demonstrasi yang mengguncang Pati menjadi simbol dari amarah yang terpendam akibat kebijakan kelas penguasa. Ribuan orang turun ke jalan, menuntut perubahan, dan menunjukkan bahwa kemuakan mereka sudah mencapai puncaknya