Mengapa Gaji Kita Makin Memburuk Hari Ini?
Selama kapitalisme dipertahankan, krisis upah dan kerja muncul sebagai masalah, karena akar persoalannya ada pada relasi kepemilikan dibawah struktur sistem.
Selama kapitalisme dipertahankan, krisis upah dan kerja muncul sebagai masalah, karena akar persoalannya ada pada relasi kepemilikan dibawah struktur sistem.
Badai PHK melanda Indonesia dengan intensitas yang semakin meningkat. Dari sektor garmen hingga elektronik, semakin banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan mereka. Bencana ekonomi yang dipicu oleh perang tarif global ini semakin memperburuk kondisi sosial-ekonomi yang sudah rentan, terutama bagi kelas buruh.
Krisis kapitalisme yang memburuk mendorong pemerintahan Prabowo Subianto untuk mengetatkan anggaran, yang tidak hanya berdampak pada sektor-sektor vital, tetapi juga mempertajam ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah.
Dalam kapitalisme finansial hari ini, tidak ada satu pun bank yang bisa membebaskan dirinya dari jejaring finans yang mengikat semua modal.
Di satu sisi, jelas kenaikan suku bunga yang tajam ini akan berdampak pada inflasi. Di sisi lain, ada banyak faktor yang berada di luar kendali bank sentral. Kita telah mengupasnya secara rinci di artikel pada bulan Mei (Crisis, protectionism and inflation: war prepares the way for revolution), tetapi kita akan mengulang poin-poin utamanya di sini.
Para ekonom borjuis, yang tidak bisa melihat melampaui ujung hidung mereka, berhasil meyakinkan diri mereka sendiri bahwa epos inflasi rendah dan suku bunga rendah akan terus berlangsung selama-lamanya. Mereka bahkan mengubah kepercayaan yang tak berlandasan ini menjadi teori, yang berdasarkan asumsi-asumsi yang paling arbitrer dan bodoh. Dan semua teori mereka ternyata keliru.
Kapitalisme ada dalam jalan buntu. Momok resesi global kini menggantung, dan ini adalah resep untuk menajamnya perjuangan kelas.
Kenaikan harga BBM ini hanya bisa dipatahkan dengan aksi mogok nasional, yang tidak hanya melibatkan buruh terorganisir tetapi juga buruh tak-teorganisir.
Perusahaan-perusahaan rintisan ini bisa menjamur di mana-mana karena ditopang oleh uang murah. Untuk menanggulangi krisis kapitalisme, pemerintah di mana-mana menerapkan kebijakan uang murah (terutama quantitative easing serta suku bunga yang hampir mencapai nol). Kebijakan uang murah ini bukannya menghasilkan investasi yang produktif, seperti yang diharapkan oleh para pembuat kebijakan, tetapi digunakan untuk spekulasi dan untuk menopang perusahaan-perusahaan yang seharusnya bangkrut.
Dalam situasi krisis kapitalisme kesadaran bisa dengan cepat berubah. Apa yang hari ini mereka bisa terima, bisa menjadi kebalikannya. Semua tanda-tanda pergolakan revolusioner ada di mana-mana di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia.
Tugas kaum revolusioner adalah mempersiapkan dirinya secepat mungkin membangun organisasi untuk perang kelas di masa depan.