Asal-usul dan perkembangan historis Hari Perempuan Pekerja Internasional
Sejarah 8 Maret mengajarkan bahwa pembebasan perempuan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan perjuangan yang lebih luas melawan kapitalisme.
Sejarah 8 Maret mengajarkan bahwa pembebasan perempuan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan perjuangan yang lebih luas melawan kapitalisme.
Penindasan perempuan setua masyarakat berkelas, dan cara mengakhiri penindasan perempuan adalah mengakhiri masyarakat berkelas itu sendiri.
Marxisme mengajukan bahwa pembebasan perempuan tidak hanya berfokus pada pemberantasan diskriminasi, tetapi juga pada perubahan struktural dalam kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Proses pembebasan ini memerlukan transformasi mendalam dalam kondisi material.
Lewis Henry Morgan, salah satu antropolog perintis, mengemukakan gagasan revolusioner bahwa perempuan dalam masyarakat awal bebas dan setara, dan bahwa asal mula penindasan perempuan dapat ditemukan dalam kemunculan kepemilikan pribadi dan keluarga monogami.
Prostitusi merupakan tindakan kekerasan terhadap perempuan demi kebutuhan hidup. Selama sistem yang menciptakan kekurangan kebutuhan hidup terutama bagi kaum perempuan tetap ada, maka upaya menghapuskan prostitusi sampai ke akar-akarnya tidak pernah bisa tercapai
Bagaimana kita bisa meningkatkan partipasi kaum perempuan dalam politik? Apakah kebijakan afirmatif adalah jawabannya?
Gerakan perempuan revolusioner yang sudah dihancurkan oleh kontra-revolusi 1965 harus dibangun kembali, karena Sosialisme akan mustahil kalau tidak melibatkan perjuangan kaum perempuan, sebagai lapisan kelas pekerja yang paling tertindas.
Bagi kaum Marxis, akar masalah dari segala bentuk penindasan terdiri dalam pembagian masyarakat ke dalam kelas. Tapi penindasan dapat mengambil banyak bentuk. Di samping penindasan kelas, kita menemukan penindasan satu bangsa di atas yang lain, penindasan rasial, dan penindasan terhadap perempuan.
“To alter the position of woman at the root is possible only if all the conditions of social, family, and domestic existence are altered.” (Trotsky)
Diskursus pembebasan perempuan yang lahir dari feminisme liberal, yang hari ini sebagai diskursus mainstream, telah membawa angin segar bagi perubahan nasib perempuan di Indonesia. Paradigma berpikir feminisme liberal telah menginspirasi banyak gerakan perempuan di Indonesia untuk mencapai kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Tetapi ternyata, pola pikir dari arus feminisme yang lahir di Barat tersebut, ditinjau dari perspektif kelas, setidaknya, akan memunculkan dua cacat politik.
Sejak Marx dan Engels, Sosialisme selalu berkomitmen terhadap pembebasan perempuan. Dalam hal ini, Sosialisme sejalan dengan gerakan-gerakan perempuan yang lazim dinamakan Feminisme. Tapi Sosialisme dan Feminisme memiliki pendekatan dan visi yang sangat berbeda.