Selama sepuluh tahun terakhir, Indonesia menjadi produsen nikel terbesar di dunia. Pada 2024 negara ini menyumbang 50 persen pasokan nikel di pasar global. Dilaporkan juga bahwa Indonesia mempunyai cadangan terbesar di dunia. Dengan kondisi alam yang kaya akan mineral, Indonesia menjadi target ekspansi kapital oleh negara-negara imperialis. Salah satu negara tersebut adalah Tiongkok.
Permintaan nikel yang begitu tinggi di pasar global mendorong para investor berlomba-lomba meraup profit dari komoditas ini. Realisasi investasi Tiongkok selama 6 tahun terakhir telah mencapai sekitar US$ 35,3 miliar. Porsi terbesar dari nilai investasi tersebut adalah pengolahan logam dasar, dengan nilai sebesar US$ 15,5 miliar. Komoditas nikel termasuk di dalamnya. Berikut 4 dari belasan perusahaan Tiongkok yang mendominasi di sektor nikel: Tsingshan Steel Holding (IMIP), Virtue Dragon Nickel Industry, Thingshan Group (IWIP) dan Zhenshi Holding Group. Masing masing beroperasi di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.
Masuknya kapital di sebuah negara tidak serta merta membawa kesejahteraan bagi rakyatnya. Kapital dapat beroperasi dengan lancar apabila iklim investasi di negara tersebut positif. Iklim positif yang dimaksud di sini artinya manusia dan alamnya wajib ditumbalkan atas nama profit untuk kapitalis. Dengan demikian, tidak heran bila modal dan manusia – yakni rakyat jelata – pun berbenturan karena kepentingan mereka tak terdamaikan.
Polemik Dan Represi
Dalam catatan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) dari tahun 2020-2025, angka konflik agraria di sektor pertambangan terus mengalami peningkatan. Tanah rakyat diserobot, hutan asri dibabat, dan limbah kimia mencemari lingkungan. Semua ini secara tak terelakkan memicu semakin banyak perlawanan dari rakyat.
Dalam laporan tahunan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) 2025, sepanjang tahun terjadi serangkaian aksi protes yang intens terhadap perusahaan tambang yang beroperasi di Maluku Utara. Aksi-aksi tersebut berujung 115 warga direpresi oleh aparatus negara. Sebagian mengalami intimidasi, penangkapan, hingga diglandang ke meja hijau.
Salah satu aksi tersebut terjadi pada Mei 2025 oleh masyarakat adat Maba Sangaji. Mereka melakukan upaya mempertahankan tanah dan lingkungan mereka yang telah dirampas dan dirusak oleh aktivitas tambang PT Position — anak perusahaan PT Harum Energy yang bermitra dengan Eternal Tsingshan Group Limited dari Tiongkok. Rakyat menggunakan ritual adat sebagai simbol perlawanan terhadap tindakan perusahaan yang merugikan mereka. Namun aksi ini berujung 11 warga divonis bersalah dan dijatuhi hukuman penjara.
Di Sulawesi Tengah, Morowali, pada 2024 warga lokal berhadapan dengan PT Baoshuo Taman Industri Investment Group (BTIIG), yang berafiliasi langsung ke perusahaan Zhenshi Holding Group. BTIIG sedang membangun dan mengelola Indonesia Huabao Industrial Park (IHIP), sebuah kawasan yang direncanakan akan dibangun seluas 20.000 hektar. Warga protes atas perampasan lahan yang sewenang-wenang. Kurang lebih 500 warga terlibat dalam aksi blokade jalan tani yang dirampas oleh perusahaan. Aksi ini berujung pemanggilan terhadap 5 warga yang terlibat.
Di awal tahun ini, terjadi penangkapan disertai kekerasan oleh aparat kepolisian terhadap 2 orang aktivis. Kedua aktivis tersebut mendampingi warga Bungku Pesisir-Morowali yang sedang menghadapi konflik lahan dengan perusahaan tambang PT Raihan Catur Putra yang berstatus Penanaman Modal Asing. Pemimpin perusahaan seorang WNA dari Tiongkok. Ia digadang-gadang salah satu pemilik saham perusahaan PT BTIIG morowali. Konflik serupa terjadi juga di Sulawesi Selatan maupun Sulawesi Tenggara.
Kondisi buruh kawasan industri nikel
Seringkali perusahaan-perusahaan di kawasan industri nikel memoles citranya di media dengan sangat positif. Mereka menunjukan seakan relasi mereka harmonis dengan buruh yang mereka pekerjakan. Faktanya tidak seindah polesan yang mereka umbar-umbar. Kondisi kaum buruh di industri nikel sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Di penghujung tahun kemarin, kawasan industri Morowali diwarnai aksi-aksi demonstrasi buruh yang sangat militan. Persatuan buruh PT CTLI melawan kebijakan perusahaan mengenai beban kerja berlebihan, standar kerja yang buruk, serta PHK sepihak.
Saat artikel ini ditulis, terjadi lagi sebuah demonstrasi buruh di Morowali yang berujung kekerasan terhadap seorang wartawan oleh aparat keamanan perusahaan.
Dalam catatan dari sebuah serikat pekerja, upah pokok tahun 2025 yang diperoleh buruh di Morowali 3-3,6 juta rupiah. Upah tersebut berada di bawah UMK Morowali. Sementara biaya kebutuhan hidup layak buruh di wilayah tersebut dikalkulasi mencapai 7,5 juta rupiah. Di lain sisi jam kerja buruh ditetapkan jauh dari standar 8 jam kerja atau 40 jam per-minggu. Buruh diharuskan bekerja rata-rata 56-60 jam dalam seminggu.
Dalam kondisi yang sangat mengenaskan ini, buruh perempuan yang paling menderita. Buruh perempuan tidak mendapatkan cuti haid. Yang didapatkan hanya cuti melahirkan selama 5 bulan tetapi 2 bulan tidak berbayar. Seringkali terjadi kasus pelecehan seksual yang dialami baik secara verbal maupun fisik. Kondisi kesehatan mereka sangat rentan karena standar keamanan kerja yang buruk.
Selama 2016-2023, di IMIP telah terjadi banyak kecelakaan kerja yang menelan korban 82 orang luka-luka dan 39 orang meninggal dunia.
Tidak berbeda jauh dengan Morowali, buruh-buruh di PT IWIP juga mengalami hal yang serupa. Sepanjang tahun 2018-2022 korban kecelakaan kerja 125 orang. Di antara angka korban tersebut 26 orang meninggal dunia.
Konflik horizontal
Seringkali terjadi konflik antara buruh lokal dan buruh WNA Tiongkok di kawasan industri. Bentrokan antar buruh tersebut bukan hanya berbentuk remeh, namun perkelahian, pengeroyokan hingga dalam level yang menelan korban meninggal dunia dari kedua belah pihak.
Hal ini terjadi karena akumulasi ketidakpuasan yang ‘dipelihara’ sejak awal oleh perusahaan, mulai dari disparitas pendapatan hingga diskriminasi terhadap salah satu pihak dan lain-lain. Buruh yang senasib sepenanggung dibenturkan satu sama lain. Ini adalah taktik pecah belah yang biasa dilakukan kelas penguasa. Buruh pun terdistraksi dari musuh sebenarnya, yaitu kelas majikan mereka yang selama ini memeras keringat dan darah mereka atas nama profit.
Kapitalis memandang kelas buruh bukan sebagai manusia. Mereka direduksi derajatnya selevel dengan mesin, bahan baku dan faktor produksi lainnya.
Dampak lingkungan
Aktivitas perluasan pertambangan dan pengelolaan nikel menyisakan kerusakan lingkungan yang sangat parah. Aktivitas tersebut berkontribusi pada deforestasi yang sangat masif. Selama 2 dekade terakhir, wilayah Halmahera telah kehilangan 163.200 hektar tutupan hutan. Demikian juga Morowali dan Papua Barat. Kedua wilayah tersebut masing-masing telah kehilangan tutupan hutan sebanyak 170.000 dan 340.000 hektar. Diperkirakan laju deforestasi yang terjadi dalam 1 dekade terakhir meningkat 234%.
Salah satu di antara berbagai akibat lainnya adalah lenyapnya wilayah resapan air hujan di daerah-daerah tersebut. Volume air yang mengalir ke sungai tidak ada lagi hambatan alaminya. Kondisi ini membuat wilayah-wilayah hilir rentan terhadap banjir bandang. Hal inilah yang dialami oleh warga hilir di Halmahera Tengah saat banjir bandang pada pertengahan tahun 2024 dan Morowali Utara di awal tahun 2025. Curah hujan yang tinggi dengan mudah menyebabkan sungai meluap karena jumlah debit yang besar.
Selain itu, terjadi juga pencemaran lingkungan yang sangat mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan oleh limbah dari aktivitas tambang hingga pengelolaannya. Sungai, laut dan udara di wilayah-wilayah tambang ini telah terkontaminasi cukup parah. Masalah ini dapat ditelusuri dari seberapa besar kondisi tubuh masyarakat lokal terpapar. Salah satu contoh kasusnya warga bajau di Kabaena, Sulawesi Tenggara. Dari aktivitas biomonitoring melalui urin warga bajau, ditemui kadar konsentrasi nikel yang sangat besar. Mereka telah terpapar 5 hingga 30 kali lipat dibanding populasi umum. Penyakit kulit dan Ispa masuk dalam 10 penyakit terbanyak yang dialami oleh masyarakat Kabaena. Ini akan menjadi masalah kesehatan yang lebih kronis di kemudian hari apabila warga terus terpapar dalam jangka waktu yang panjang.
“Modal menetes dari kepala hingga kaki, dari setiap pori, dengan darah dan kotoran,” demikianlah kata Marx. Kapital beroperasi di atas perang, perbudakan, kolonialisme, eksploitasi, kemiskinan, hingga kehancuran alam.
Peran negara
Di mana posisi keberpihakan negara atas masalah yang timbul dari beroperasinya kapital di sektor komoditas nikel ini?
Marx dan Engels menulis: “Lembaga eksekutif Negara modern tidak lain adalah komite untuk mengelola masalah bersama seluruh borjuasi.” Lenin, dalam Negara dan Revolusi, menambahkan: “negara adalah organ kekuasaan kelas, organ penindas satu kelas terhadap kelas yang lain.”
Dua kutipan di atas bukanlah pepesan kosong. Realitanya, negara bukanlah sebuah entitas yang netral. Negara yang ada adalah negaranya kelas kapitalis, yang bekerja demi kepentingan mereka dengan menindas kelas pekerja. Negara hadir untuk melanggengkan penghisapan terhadap rakyat pekerja dan alam di mana mereka hidup.
Kapital bisa bertahan hanya melalui eksploitasi terhadap rakyat pekerja, akumulasi dan ekspansinya ke seluruh ranah kehidupan. Negara memastikan ini. Dalam konteks pertambangan nikel, pemerintah melakukan segalanya untuk memastikan masuknya modal asing – terutama China hari ini – dan menjamin modal tersebut dapat beroperasi dan menghisap profit sebanyak mungkin.
Rezim Prabowo maupun rezim-rezim sebelumnya kerap berbicara mengenai Indonesia yang mandiri berdaulat demi kemakmuran bersama. Tetapi kenyataannya mereka selalu siap mengobral seluruh kekayaan alam ke negara-negara asing. Mereka tunduk pada perjanjian-perjanjian dagang dan utang dengan negara-negara imperialis. Semua kebijakan mengobral ini sesungguhnya mencerminkan kepatuhan terhadap alur mekanisme pasar dunia. Regulasi-regulasi yang dibuat, seperti Omnibus law dan UU Minerba, memberi karpet merah bagi kapitalis nasional dan asing untuk dapat menanamkan investasi di Indonesia dengan keuntungan yang menjanjikan. Mereka memberi jaminan ‘kemudahan’ dan ‘stabilitas’ agar kapital ini beroperasi tanpa ada hambatan. Kemudahan yang dimaksud adalah mengesampingkan AMDAL.
Stabilitas artinya siapapun yang menolak, melawan, dan menghalangi akan digebuk oleh aparatus represif negara.
Indonesia telah melewati boom berbagai komoditas di pasar global; minyak dan gas, timah, bauksit, emas, karet, batu bara, sawit dan sekarang nikel. Hasil dari kekayaan ini terkonsentrasi pada segelintir orang, yaitu kelas kapitalis, diboyong entah ke bursa saham Jakarta, New York, Tokyo, Singapura, dan Beijing. Itu semua dibayar dengan penderitaan oleh kelas buruh, tani dan masyarakat adat, serta kerusakan lingkungan.
Kelas kapitalis nasional pada dasarnya memiliki kepentingan yang sama dengan kapitalis Tiongkok dan seluruh kapitalis di dunia yaitu profit. Bahkan, sesungguhnya mereka tunduk pada modal asing. Demikianlah tabiat kapitalis kita sedari awal, dan ini tercerminkan dalam kebijakan “lembaga eksekutif” mereka. Negara borjuis bersama aparatusnya wajib melayani kepentingan mereka dengan tujuan menundukkan buruh untuk patuh saat dicuri nilai lebihnya.
Jalan keluar
Pada akhirnya, kelas buruh dan kaum tertindas lainnya memerlukan jalan keluar untuk bebas dari kekangan dan kekerasan sehari-hari negara borjuis. Jalan keluar tersebut adalah sosialisme. Kelas buruh harus menunaikan tugas historisnya, yaitu memimpin kaum tertindas lainnya untuk mengambil alih kekuasaan guna menentukan nasib hidupnya sendiri. Seluruh tuas-tuas ekonomi yang menguasasi hajat hidup orang banyak harus dinasionalisasi dan direncanakan secara rasional di bawah kontrol buruh. Dengan demikian, seluruh kekayaan yang dihasilkan dapat diorientasikan bukan lagi untuk profit, tapi untuk kepentingan bersama.
Kekuatan kelas buruh terletak dalam fakta bahwa buruhlah yang menciptakan kekayaan dan menggerakkan roda ekonomi. Tidak ada satu hal apapun yang dapat menghalangi kekuatan ini ketika kelas ini mulai sadar dan bergerak. Kelas kapitalis di seluruh negeri baik itu di negeri terbelakang maupun di negara-negara imperialis merupakan kelas minoritas yang selama ini menjadi parasit.
Memenangkan sosialisme kini telah menjadi agenda mendesak umat manusia. Sistem ini merupakan sistem yang boros. Konsekuensinya menciptakan over produksi yang mempunyai multi efek yang buruk terhadap umat manusia dan alam. Kini sistem ini telah mencapai limitnya dan menjadi penghalang bagi kemajuan umat manusia. Krisis terjadi di segala penjuru dunia, melahirkan gejala barbarisme sebagai fitur utama dalam tatanan masyarakat hari ini. Hanya ada satu solusinya; tumbangkan sistem kapitalisme dengan memenangkan revolusi sosialis.
Cita-cita kemakmuran kelas buruh dan kaum miskin lainnya tidak dapat tercapai jika diserahkan pada logika kapital. Kemakmuran yang sejati hanya dapat diwujudkan di bawah sosialisme—bukan kapitalisme dan negaranya yang di banggakan oleh rezim hari ini.
