Burung-burung bangkai imperialis Barat sedang mengintai rezim Iran. Donald Trump telah mengancam akan mengintervensi Iran tiga kali sejak gerakan protes di sana dimulai. Sementara itu, Israel telah mengirim pesan-pesan yang mengancam melalui akun Farsi X Mossad, termasuk: “Mari kita turun ke jalan bersama-sama. Waktunya telah tiba. Kami bersama Kalian. Bukan hanya dari jauh dan secara verbal. Kami bersama kalian di lapangan juga”.
Imperialisme Barat adalah kekuatan paling reaksioner di dunia. Mereka telah menghancurkan sebagian besar wilayah Timur Tengah dan sekarang mengancam akan melakukan hal yang sama di Iran.
Sudah lebih dari 16 hari sejak protes meletus di Iran. Namun sejak Kamis malam (8/1), rezim telah memadamkan internet. Laporan terakhir menyebutkan ada protes di 46 kota, dan pemogokan bazaar (pasar) di hampir seluruh wilayah Kurdi, bahkan menyebar ke Tabriz, Teheran, Kermanshah, dan kota-kota lainnya.
Laporan-laporan sporadis yang muncul sejak pemadaman internet menunjukkan kekacauan total, dengan banyak bentrokan dengan pasukan keamanan. Kerumunan besar terlihat di Teheran, Karaj (kota industri besar di dekat Teheran), Mashhad, dan kota-kota lainnya, termasuk kota-kota Kurdi seperti Saqqez, Abdalan, dan lainnya. Kaum muda sekali lagi mendirikan barikade di jalan-jalan, membakar ban dan mobil, serta menyerang simbol-simbol rezim, seperti barak, kantor pemerintah, dan sebagainya.
Pemutusan akses internet oleh rezim menunjukkan keputusan rezim untuk mulai meluncurkan kampanye membunuhi para demonstran dan melenyapkan saksi mata. HRANA telah mengkonfirmasi 544 orang tewas – meskipun angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi. Angka-angka ini berdasarkan laporan dari nakes yang kredibel. Sementara itu, lebih dari 10.681 orang telah ditangkap. Sebelum internet dipadamkan, hanya beberapa lusin orang yang tewas. Sekarang ada laporan bahwa di Teheran saja, 200 orang telah tewas. Meskipun sulit untuk diverifikasi saat ini, jumlah ini jelas meningkat dengan pesat dan akan menjadikan represi paling mematikan sejak gelombang pemberontakan, pemogokan, dan protes dimulai pada tahun 2018.
Situasi sudah tegang sebelum hari Kamis. Di kota-kota seperti Qazvin, Bojnourd, Hamedan, dan lainnya, protes telah berkembang jauh lebih besar. Demikian pula di provinsi-provinsi Kurdi, gelombang demonstrasi bahkan mencapai dimensi yang lebih besar. Di kota Ilam dan Abdalan, para demonstran untuk sementara waktu mengusir pasukan keamanan. Di Ilam, massa menyatakan seorang remaja yang ikut serta dalam protes sebagai gubernur baru sebagai bentuk ejekan terhadap rezim.
Di kota Kurdi Saqqez – kampung halaman Mahsa Amini yang dibunuh, yang kematiannya memicu pemberontakan tahun 2022 – pertempuran jalanan pecah pada Rabu malam sebagai antisipasi pemogokan umum di bazaar-bazaar di wilayah Kurdi.
Di kota-kota, seperti Teheran, Mashhad, Kermanshah, dan lainnya, massa turun ke jalan. Namun, protes ini dengan cepat berubah menjadi pertempuran jalanan yang sporadis. Kelas pekerja di kota-kota besar tidak berpartisipasi secara massal seperti yang kita lihat di daerah dan kota-kota kecil. Mereka takut, meskipun mereka membenci rezim, karena mereka tidak melihat alternatif revolusioner yang jelas, hanya ancaman intervensi imperialis.
Penting juga untuk dicatat bahwa protes mulai meletus di provinsi Khuzestan dan Bushehr tepat sebelum internet mati. Bazaar-bazaar di kota Ahwaz dan Abadan, keduanya di provinsi Khuzestan, bergabung dalam aksi mogok bazaar dan turun ke jalan, yang berubah menjadi bentrokan sporadis dengan pasukan keamanan.
Ini adalah provinsi-provinsi penting dengan instalasi petrokimia utama. Selama periode perjuangan kelas sejak 2018, provinsi-provinsi ini menjadi titik fokus perjuangan kelas, dengan pemogokan buruh minyak yang hampir terjadi setiap tahun dan pemberontakan serta protes masif. Di Bandar Kangan, sekelompok kecil buruh minyak yang mogok kerja bahkan ikut bergabung dalam protes tersebut.
Kemungkinan besar, di kota-kota besar dan di Khuzestan, telah terjadi protes besar-besaran yang mungkin melibatkan kaum buruh muda. Di kota-kota Kurdi, ada kemungkinan bahwa para pemuda telah berhasil mengusir pasukan rezim dari kota dan desa mereka. Selama pemberontakan tahun 2022, rezim kehilangan kendali atas kota-kota Kurdi selama tiga bulan, yang menciptakan situasi seperti perang sipil.
Sekarang, seperti pada tahun 2022, hanya kelas buruh yang dapat memberikan pukulan telak untuk mengubah pemberontakan kaum muda menjadi revolusi yang sesungguhnya.
Sirkus media imperialis dan ancaman intervensi militer
Sementara rakyat Iran menumpahkan darah mereka dan mengorbankan nyawa mereka, kaum imperialis Barat mencium peluang untuk melemahkan atau bahkan menghancurkan musuh mereka di Timur Tengah. Hampir setiap politisi borjuis Barat terkemuka telah menyatakan solidaritas mereka dengan rakyat Iran. Ini adalah kemunafikan yang menjijikkan. Sanksi terhadap Iran yang diterapkan oleh AS dan Barat, bersamaan dengan eksploitasi oleh kelas penguasa Iran, bertanggung jawab atas penderitaan ekonomi rakyat pekerja Iran.
Kaum imperialis yang biadab ini membuat klaim paling menggelikan tentang protes yang sedang berlangsung. Pada 9 Januari, Donald Trump membagikan klaim dari Channel 13 Israel di Truth Social: “Lebih dari satu juta orang berdemonstrasi: kota terbesar kedua di Iran telah jatuh di bawah kendali para pengunjuk rasa, pasukan rezim telah meninggalkan kota.” Mashhad memiliki populasi 2,4 juta jiwa dan, pada saat itu, protes tersebut melibatkan paling banyak puluhan ribu orang yang tersebar di seluruh kota besar tersebut.
Bahkan akun Farsi X milik Kementerian Luar Negeri Israel pun memposting: “Qom, Mashhad, Teheran, Dezful – seluruh Iran akan segera menjadi milik rakyat Iran.” Mereka tidak peduli dengan kebenaran atau rakyat Iran. Mereka melihat gerakan rakyat Iran hanya sebagai bidak catur dalam permainan mereka untuk mengukuhkan dominasi mereka di Timur Tengah.
Pers imperialis mengulang setiap pernyataan yang dilebih-lebihkan karena mereka tidak kompeten dan tunduk pada kepentingan imperialis. Ini termasuk menjadi corong suara kaum monarkis Iran reaksioner yang dipimpin oleh Reza Pahlavi, mantan putra mahkota dan putra Shah pro-Barat yang digulingkan oleh revolusi Iran 1979. Di tengah protes yang sedang berlangsung, Reza Pahlavi telah diwawancarai di Washington Post dan Wall Street Journal. Ini bukan hal baru dan telah berlangsung sejak tahun 2022, sementara suara-suara sejati massa Iran dibungkam.
Berbagai media asing berbahasa Persia yang didanai oleh imperialisme Saudi, Amerika, dan Inggris, seperti BBC Persian, Iran International, Manato, dan Radio Farda, tidak lebih baik. Iran International adalah yang terburuk dan terbesar di antara mereka. Media ini secara terbuka mendukung kaum monarkis Iran dan intervensi militer.
Kaum imperialis dan pers pelacur mereka sedang mempersiapkan landasan untuk kemungkinan intervensi militer di Iran. Sekali lagi, ini bukan hal baru, terutama sejak perang di Gaza dimulai. Imperialisme Amerika tidak pernah memaafkan massa Iran atas revolusi 1979. Mereka menginginkan kembali wilayah jajahannya. Israel ingin memastikan dominasinya atas Timur Tengah.
Trump telah menggelar rapat kabinet pada hari Selasa untuk membahas opsi intervensi. Tetapi opsi itu penuh dengan masalah: invasi militer penuh mustahil dilakukan. Iran sangat luas dan bergunung-gunung. Hampir setiap kota terletak di lembah. Ada juga kemungkinan bahwa massa Iran akan bersatu untuk membela tanah air mereka dari invasi asing. Ada kebencian yang kuat dan mengakar terhadap imperialisme Barat di Iran, yang telah mengakar selama seratus tahun perjuangan anti-imperialis.
Bahkan serangan udara pun akan berisiko. Rezim Iran telah mengancam akan membalas intervensi militer apapun. Dalam kondisi terpojok, rezim Iran tidak akan ragu untuk menyerang Israel dan mungkin bahkan pangkalan militer AS. Ini akan berbeda dengan Perang 12 Hari, ketika Iran, untuk menghindari eskalasi, menggunakan rudal balistik tertuanya untuk menyerang Israel dan menghindari serangan terhadap pangkalan AS. Bahkan saat itu, serangan terbatas tersebut menyebabkan kerusakan serius. Bila rezim Iran ada dalam kondisi berjuang untuk keberlangsungan hidupnya, AS akan menghadapi situasi yang berbeda.
Reza Pahlavi dan para badut monarkis
Kaum imperialis punya pilihan lain: Reza Pahlavi, yang pada tahun 2022 menunjuk dirinya sendiri sebagai pemimpin oposisi. Sebuah lembaga think-tank Iran-Amerika, National Union for ‘Democracy’ in Iran (NUFDI), telah menerbitkan rencana terperinci di mana katanya dia akan memimpin ‘transisi menuju demokrasi’. Menurut rencana ini, Reza Pahlavi akan memimpin pemerintahan transisi, dengan kekuasaan penuh untuk menunjuk para anggota parlemen transisional dan para hakim transisional (yang secara harfiah disebut ‘peradilan kerajaan’).
Para pendukung monarkis menunjuk pada janji-janji Reza Pahlavi tentang referendum dan majelis konstituen sebagai bukti kredibilitas demokrasinya.
Pada1979, kaum Islamis juga menyatakan diri mereka sendiri sebagai pemimpin revolusi. Mereka bahkan menerima bantuan, awalnya dari imperialis Barat, yang berusaha mengendalikan situasi di Iran, dan kemudian menerima bantuan dari sisa-sisa aparatus negara Pahlavi, yang berusaha menyelamatkan diri. Mereka juga memilih majelis konstituen dan mengadakan referendum pada Maret 1979. Tetapi ini hanyalah kedok demokrasi. Setelah rezim mengkonsolidasikan kekuasaan, sayap kiri – yang sebagian besar terisolasi karena kekeliruan posisi Stalinis mereka yang sangat blunder – dibantai.
Program ekonomi Reza Pahlavi sederhana: privatisasi besar-besaran, termasuk sumber daya alam Iran (kemungkinan tidak termasuk minyak), dan membuka Iran untuk imperialisme asing. Ini akan melayani kepentingan para penguasa imperialisnya dan boneka-boneka Iran mereka.
Sementara itu, Reza Pahlavi tidak punya otoritas apapun untuk mengadili kroni-kroni Republik Islam. Dia dan seluruh rezim Pahlavi lama adalah penjahat terbesar; misalnya, mereka mencuri miliaran dolar ketika mereka melarikan diri dari Iran – keluarga Pahlavi sendiri mencuri 2 miliar dolar.
Terlepas dari fantasi prematur untuk merebut kekuasaan – yang akan disambut dengan perlawanan ekstrem dari rakyat Iran – satu-satunya aktivitas nyata Reza Pahlavi sebagai ‘pemimpin’ adalah mengambil kredit atas perjuangan massa Iran. Eskalasi saat ini, misalnya, termasuk pemogokan umum Kurdi, bukanlah diinisiasi oleh putra Shah ini, tetapi oleh partai-partai komunis Kurdi, yang masih memiliki otoritas di wilayah tersebut.
Demikian juga dengan seruan pemogokan umum baik sekarang maupun pada 2022. Kaum buruh, kaum revolusioner, dan rakyat Kurdi adalah orang-orang terakhir yang akan menerima perintah dari seorang Pahlavi. Ayahnya adalah seorang supremasis Persia yang menumpas berbagai pemberontakan Kurdi dan mengeksekusi, memenjarakan, serta menyiksa kaum revolusioner.
Reza Pahlavi, seperti ayahnya, juga seorang penjilat imperialisme Barat yang setia. Berharap untuk mengambil hati dan diakui sebagai ‘pemimpin’, ia berterima kasih kepada Donald Trump. Tetapi ketika Trump ditanya apakah ia akan bertemu dengan Pahlavi, ia menjawab: “Saya pikir kita harus menunggu dan melihat siapa yang muncul. Saya tidak yakin apakah itu [bertemu dengan Reza Pahlavi] hal yang tepat untuk dilakukan”.
Banyak sekali politisi Partai Republik yang menginginkan perubahan rezim dan mendukung keluarga Pahlavi. Namun, keengganan Trump untuk mengakui Pahlavi menunjukkan kehati-hatian sebagian besar kelas penguasa AS untuk tidak memberikan dukungan penuh kepada Pahlavi. Ia hanya bisa berkuasa dengan bantuan intervensi AS. Dan mereka telah belajar dari apa yang terjadi di Irak, Suriah, dan Afghanistan: ini dapat menciptakan kekacauan, keruntuhan negara, dan bahkan perang saudara, dengan semua implikasi yang akan ditimbulkannya bagi kepentingan regional AS dan ekonomi dunia.
Meskipun mungkin tidak secara resmi diakui oleh Trump, sebagian besar elit Pahlavi yang diasingkan ada di AS, dan mereka memiliki hubungan erat dengan elite-elite partai Republik.
Pahlavi kemudian menarik kembali pernyataannya dan mengklarifikasi bahwa ia tidak mendukung intervensi militer oleh Trump. Namun, ia kemudian mengubah pandangannya lagi, dan pada 9 Januari, menyerukan intervensi saat berbicara dengan Donald Trump. Ini selalu menjadi tujuannya, hanya saja tidak selalu secara terbuka. Rakyat Iran memahami hal ini. Bahkan ketika ia menyerukan pemberontakan selama Perang 12 Hari, semua orang di Iran mengabaikannya. Mayoritas besar rakyat Iran dengan tepat menganggapnya sebagai pengkhianat.
Pendukung setia Pahlavi adalah Israel dan Benjamin Netanyahu. Reza Pahlavi mengunjungi Israel pada 2023 dan para anggota kelompok lobi monarkis Persatuan Nasional untuk Demokrasi di Iran secara reguler mengunjungi Israel. Surat kabar Israel Haaretz telah mengekspos bagaimana, sejak tahun 2022, negara Israel telah mendukung kaum monarkis dengan chatbots, infiltrasi melalui Telegram dan platform media sosial lainnya, dan sebagainya. Sesungguhnya, hubungan ini kemungkinan besar jauh lebih dalam. Bantuan besar ini – bersama dengan keputusasaan selapisan massa – menjelaskan mengapa kaum monarkis tiba-tiba menjadi lebih banyak terlihat di jalanan.
Rakyat Iran telah berulang kali menyatakan dengan jelas bahwa mereka tidak ingin terlibat dengan Reza Pahlavi atau kaum imperialis. Baru-baru ini, Haft Tappeh Sugarcane Workers’ Union (Serikat Pekerja Tebu Haft Tappeh), sebuah serikat pekerja militan yang memimpin perjuangan untuk kontrol buruh dan secara konsisten mendukung setiap pemberontakan di Iran, mengeluarkan pernyataan berikut:
“Keluarga Pahlavi dapat mengandalkan kapitalisme, tetapi kaum buruh dan rakyat yang mendambakan kebebasan dan kesetaraan tidak bisa. Para pemuja Shah, para pemuja Imam, dan penyembah berhala dapat berbohong serta menyebarkan berita palsu di media massa bayaran mereka, mereka menghina kecerdasan rakyat dan mengaburkan batas antara kebenaran dan kebohongan. Tetapi dunia ini tidak dipalsukan, hanya para pembohong yang tidak memiliki reputasi yang akan bertambah.”
The Workers’ Union of Tehran and Suburbs Bus Company mengeluarkan pernyataan berikut:
“Kami telah berkali-kali mengatakan dan kami ulangi lagi: jalan menuju pembebasan buruh dan rakyat pekerja bukanlah melalui seorang pemimpin yang diturunkan dari atas, bukan pula melalui ketergantungan pada kekuatan asing, atau melalui faksi-faksi di dalam pemerintahan, melainkan melalui jalan persatuan, solidaritas, dan pembentukan organisasi-organisasi independen di tempat kerja dan di tingkat nasional. Kita tidak boleh membiarkan diri kita menjadi korban permainan bandar kepentingan dan kepentingan kelas penguasa sekali lagi.”
“Serikat kami juga mengutuk keras segala bentuk propaganda, justifikasi, atau dukungan terhadap intervensi militer oleh pemerintah asing, termasuk Amerika Serikat dan Israel. Intervensi semacam itu tidak hanya menyebabkan kehancuran masyarakat sipil dan jatuhnya korban, tetapi juga memberikan dalih bagi pemerintah untuk melanjutkan kampanye kekerasan dan represi mereka. Pengalaman masa lalu telah menunjukkan bahwa pemerintah Barat sama sekali tidak menghargai kebebasan, kehidupan, dan hak-hak rakyat Iran.”
Para mahasiswa di Iran, baik sekarang maupun pada tahun 2022, secara konsisten menyebarkan slogan: “Matilah semua tiran – baik itu Shah atau Mullah”. Kaum muda Kurdi dan revolusioner lainnya memekikkan slogan versi mereka sendiri: “kami tidak menginginkan Shah atau Mullah, tetapi pemerintahan oleh Soviet”.
Ini menunjukkan dengan tepat bagaimana revolusi ini dapat diselesaikan! Kelas buruh Iran harus mengambil alih kekuasaan, yang hanya dapat dilakukan melalui soviet atau organisasi serupa (yang disebut dalam revolusi 1979 sebagai ‘ shurah’). Namun, saat ini, soviet atau shurah belum ada. Slogan yang harus kita majukan adalah bentuk soviet atau shurah terlebih dahulu !
Slogan soviet (atau ‘shurah ‘, komite pertahanan, komite pemogokan, komite lingkungan, dll.) pada gilirannya harus dikaitkan dengan program tuntutan kelas yang jelas. Kaum buruh membutuhkan soviet sebagai organisasi paling efektif untuk memenangkan tuntutan mereka dan melanjutkan perjuangan untuk menjatuhkan rezim. Shurah ini harus dibentuk oleh aksi kelas pekerja dalam perjuangan, dan bukan lewat proklamasi semata.
Slogan-slogan dominan dalam protes yang sedang berlangsung adalah slogan ekonomi, seperti “Matilah harga tinggi!”, dan “Kemiskinan, korupsi, harga tinggi: kami akan menggulingkanmu!”, bersama dengan slogan-slogan demokrasi dan anti-rezim seperti, “kebebasan, kebebasan, kebebasan”, “Matilah Khamenei/sang diktator/ seluruh sistem/ Republik Islam!”, dan, “Khamenei adalah pembunuh, pemerintahannya tidak sah!”
Ada kaum monarkis di Iran, tetapi mereka adalah minoritas kecil, yang terdiri dari kaum borjuis kecil, dan mungkin bahkan kaum lumpenproletar. Mereka melakukan aksi-aksi yang aneh, seperti, misalnya, memasang rambu jalan baru di Jalan Ghorji (dahulu Jalan Eisenhower), mengubah namanya menjadi “Jalan Donald Trump” mengikuti contoh pemimpin mereka, Reza Pahlavi, yang difoto dengan billboard yang memuji Trump.
Di Barat, kaum monarkis yang sama gilanya menggelar demonstrasi dan mengibarkan bendera Israel, Amerika, dan Iran Monarkis (bahkan kadang-kadang bendera Derafsh Kaviani, yakni bendera Iran dari akhir zaman kuno) di samping potret Shah dan bahkan Donald Trump. Seperti Shah mereka, beberapa dari mereka meniru slogan Trump dari Perang 12 Hari, “Make Iran Great Again”, dalam upaya untuk menyanjungnya.
Kaum monarkis tidak memiliki basis massa, tetapi ini tidak menghentikan Reza Pahlavi dan para pendukungnya yang fanatik di luar negeri untuk menyebarkan video-video protes palsu, beberapa dengan slogan yang diedit, dan yang lainnya sepenuhnya dibuat dengan AI. Meskipun beberapa video tersebut mungkin asli, dengan level disinformasi yang tinggi ini membuat sulit untuk mengetahui mana yang asli dan mana yang palsu, dengan X dan Instagram dibanjiri dengan omong kosong monarkis. Bahkan media Barat pun menyebarkan berita palsu. Satu-satunya sumber yang dapat diandalkan adalah saluran Telegram berbasis di Iran yang dikelola oleh kaum muda dan buruh revolusioner di Iran.
Hands off Iran! Matilah para tiran – baik itu Shah atau para mullah!
Semua ini hanya menjadi amunisi bagi Republik Islam. Rezim Iran mengklaim bahwa protes ini merupakan infiltrasi asing. Mereka bahkan menyiarkan langsung pengakuan palsu dari orang-orang yang mengaku sebagai kaum monarkis. Meskipun banyak dari pengakuan tersebut telah terbukti palsu, ini tetap memiliki dampaknya.
Dengan memanfaatkan ketakutan nyata massa, rezim mampu memobilisasi ribuan orang untuk turun ke jalan dalam protes pro-rezim di kota besar Isfahan sebelum pemadaman internet. Dengan masa berkabung tiga hari dan unjuk rasa pro-rezim baru yang dijadwalkan pada hari Minggu, kita akan liat bagaimana kekuatan mereka.
Campur tangan Barat dan kaum monarkis menciptakan kebingungan di antara massa. Mereka mengingat rezim Shah, sebuah kediktatoran brutal di mana mereka tidak memiliki hak-hak demokratis; sebuah rezim yang penuh dengan ketidaksetaraan dan korupsi ekstrem; sebuah rezim yang membiarkan kaum imperialis menjarah Iran.
Massa memahami dengan tepat bahwa kaum imperialis ingin mengembalikan Iran ke statusnya sebagai budak. Mereka telah menyaksikan horor yang telah disebabkan oleh imperialisme di kawasan ini: kemiskinan; kehancuran Irak, Suriah, dan Yaman; genosida terhadap warga Palestina, dan sebagainya.
Kebingungan ini lalu menciptakan situasi chaos di jalanan, yang membuat takut dan khawatir selapisan massa, meredam protes, dan memberi rezim celah untuk meluncurkan represi brutal. Ketiadaan kepemimpinan yang jelas telah memungkinkan terjadinya kekacauan ini. Seandainya kepemimpinan revolusioner ini telah terbentuk, massa Iran akan mampu menggulingkan Republik Islam berkali-kali sejak 2018. Sebaliknya, perjuangan kelas telah menjadi berkepanjangan dan berdarah-darah.
Kaum revolusioner Iran harus segera membangun alternatif revolusioner yang jelas dengan program untuk memenangkan kelas buruh Iran. Tanpa kepemimpinan seperti itu, situasi dapat dengan cepat memburuk. Intervensi militer akan menjadi bencana bagi rakyat, tetapi tidak jelas apakah intervensi ini akan berhasil menggulingkan rezim. Kemungkinan lain adalah kudeta istana oleh elemen-elemen rezim yang mencoba menyelamatkan diri.
Terlepas dari bagaimana peristiwa akan berkembang, jelas Republik Islam ini sudah ada di ambang kehancuran. Situasinya sudah memburuk sejak 2018, dengan pemogokan dan protes ekonomi yang terus-menerus serta pemberontakan kaum muda yang penuh kekerasan, dengan ratusan orang tewas dan ribuan ditangkap hampir setiap beberapa tahun sekali. Namun, ancaman imperialis dan ketiadaan alternatif revolusioner yang jelas tidak hanya menciptakan situasi yang chaos dan berdarah-darah, tetapi sekarang mengancam terpecah-belahnya Iran sebagai sebuah bangsa.
Sekalipun rezim ini digulingkan, tidak cukup hanya mengganti orang-orang yang berkuasa. Masalahnya bukan para mullah atau Pahlavi. Mereka hanyalah faksi-faksi dari kelas penguasa parasit yang sama. Kapitalisme Iran, karena keterbelakangannya, telah berulang kali menciptakan kondisi bagi kediktatoran dan kemiskinan. Hanya perebutan kekuasaan oleh kelas buruh yang dapat mengakhiri siklus ini.
Kaum revolusioner Iran harus membangun fondasi bagi partai revolusioner yang, setelah rezim ini jatuh, harus bisa tumbuh pesat. Sementara itu, kelas buruh di negara-negara imperialis Barat harus menggunakan posisi dan kekuatannya untuk mencegah intervensi imperialis di Iran. Oleh karena itu, adalah tugas kaum revolusioner di Barat untuk secara aktif mengekspos kelas penguasa mereka sendiri.
