Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

Marxisme dan Pembebasan Perempuan

Dipublikasi 11 February 2026 | Oleh : Redaksi Sosialis Revolusioner

“Mengubah posisi perempuan secara fundamental hanya mungkin dilakukan jika semua kondisi kehidupan sosial, keluarga, dan rumah tangga diubah.” (Trotsky, Perempuan dan Keluarga)

Kapitalisme ada di jalan buntu. Krisis kapitalisme dalam skala global sangat membebani perempuan dan kaum muda. Bahkan pada abad ke-19, Marx telah menunjukkan kecenderungan kapitalisme untuk meraup super-profit dari eksploitasi perempuan dan anak-anak. Dalam jilid pertama Kapital, Marx menulis:

“Oleh karena itu, tenaga kerja perempuan dan anak-anak adalah hal pertama yang dicari oleh kaum kapitalis yang menggunakan mesin. Perempuan dan anak-anak, yang awalnya adalah sarana untuk menciptakan pengganti buruh, segera diubah menjadi sarana untuk meningkatkan jumlah buruh-upahan dengan melibatkan, di bawah tekanan langsung kapital, setiap anggota keluarga pekerja, tanpa memandang bulu umur atau jenis kelamin. Mereka diwajibkan bekerja untuk kaum kapitalis, dan ini menggantikan tidak hanya waktu bermain anak-anak tetapi juga kerja gratis di rumah dalam batasan tertentu untuk menyokong keluarga.”

Di negara-negara kapitalis maju, perubahan moda produksi, dan upaya konstan kaum kapitalis untuk meningkatkan tingkat profit, telah meningkatkan jumlah perempuan dan anak-anak yang bekerja. Mereka menderita eksploitasi yang paling kejam, bekerja dengan upah rendah dalam kondisi buruk dengan sedikit atau tanpa hak. Di Amerika saja, sekitar 40 juta perempuan telah bergabung ke dalam angkatan kerja selama 50 tahun terakhir; di Eropa sekitar 30 juta. Di AS pada tahun 1950, hanya sekitar sepertiga dari semua perempuan usia kerja yang bekerja sebagai pekerja-upahan; tahun lalu proporsinya hampir mencapai tiga perempat. Menurut statistik, hampir 99 persen perempuan Amerika pernah bekerja untuk mencari nafkah. Masuknya perempuan ke dalam angkatan kerja merupakan perkembangan progresif. Ini adalah prasyarat untuk membebaskan perempuan dari batasan sempit rumah tangga dan keluarga borjuis, dan perkembangan mereka sepenuhnya sebagai manusia dan anggota masyarakat.

Namun, sistem kapitalis hanya menganggap perempuan sebagai sumber tenaga kerja murah dan bagian dari “pasukan buruh cadangan” yang dapat dimanfaatkan ketika ada kekurangan tenaga kerja di bidang produksi tertentu, untuk kemudian dibuang ketika sudah tidak dibutuhkan. Kita menyaksikan ini selama perang dunia pertama dan kedua, ketika perempuan direkrut ke pabrik-pabrik untuk menggantikan laki-laki yang dikirim ke medan perang. Setelah perang berakhir, perempuan pekerja ini dikirim kembali ke rumah. Perempuan kembali didorong untuk memasuki dunia kerja selama periode boom kapitalis tahun 1950-an dan 1960-an, ketika peran mereka serupa dengan buruh migran, yakni sebagai cadangan tenaga kerja murah. Hari ini, jumlah buruh perempuan telah meningkat untuk mengisi vakum dalam proses produksi. Namun, terlepas dari semua pembicaraan tentang “woman’s world” dan “girl power”, dan terlepas dari semua undang-undang yang katanya menjamin kesetaraan, buruh perempuan tetap menjadi lapisan proletariat yang paling dieksploitasi dan tertindas.

Di masa lalu, perempuan dikondisikan oleh masyarakat kelas untuk bersikap tak acuh pada politik, tidak terorganisir, dan pasif, sehingga menjadi basis sosial bagi reaksi. Kaum borjuis, dengan menggunakan agama dan pers (berbagai majalah “Perempuan”, dll.), memanfaatkan lapisan ini untuk mempertahankan kekuasaannya. Namun, situasi telah berubah seiring dengan perubahan peran perempuan dalam masyarakat. Perempuan, setidaknya di negara-negara kapitalis maju, sudah tidak lagi puas untuk tetap berada dalam kondisi ketidaktahuan dan tunduk pada peran tradisional mereka dalam keluarga. Ini adalah fenomena yang sangat progresif. Seperti halnya kaum borjuis di AS, Jepang dan Eropa Barat sudah tidak lagi memiliki basis massa reaksioner di antara kaum tani, demikian pula kaum perempuan sudah bukan lagi basis reaksi seperti di masa lalu. Krisis kapitalisme, yang akan terus menyerang perempuan dan keluarga, akan semakin meradikalisasi kaum perempuan dan mendorong mereka ke arah revolusioner. Kaum Marxis harus memahami potensi revolusioner kaum perempuan dan menggalinya.

Perempuan berpotensi jauh lebih revolusioner daripada laki-laki karena mereka masih segar dan belum tercemar oleh rutinitas konservatif yang umumnya kita temui dalam serikat buruh. Siapa pun yang pernah melihat aksi mogok kerja perempuan dapat merasakan tekad, keberanian, dan semangat mereka yang luar biasa. Merupakan tugas kaum Marxis untuk mendukung setiap kebijakan yang mendorong perempuan untuk bergabung dan berpartisipasi dalam serikat buruh.

Internasional Pertama

Isu perempuan selalu menempati posisi sentral dalam teori dan praktik Marxisme. Internasional Pertama menanggapi perjuangan reforma dengan sangat serius. Berikut ini adalah kuesioner tentang kondisi kerja buruh, yang ditulis oleh Marx pada akhir Agustus 1866, yang dikirimkan oleh Dewan Umum Internasional Pertama kepada semua seksi:

1. Nama industri.

2. Usia dan jenis kelamin buruh.

3. Jumlah buruh.

4. Upah; (a) pekerja magang; (b) upah harian atau upah borongan; skala upah yang dibayarkan oleh perantara. Upah rata-rata mingguan dan tahunan.

5. (a) Jam kerja di pabrik. (b) Jam kerja dengan pengusaha kecil dan di rumah, jika usaha dijalankan dengan cara yang berbeda tersebut. (c) Kerja malam dan kerja siang.

6. Waktu makan dan perawatan.

7. Kondisi kerja: kepadatan berlebihan, ventilasi yang buruk, kurangnya sinar matahari, penggunaan lampu gas, kebersihan, dll.

8. Jenis pekerjaan.

9. Pengaruh kerja terhadap kondisi fisik.

10. Kondisi moral. Pendidikan.

11. Kondisi perdagangan: apakah perdagangan musiman, atau terdistribusi secara merata sepanjang tahun, apakah sangat berfluktuasi, apakah terpapar persaingan asing, apakah terutama ditujukan untuk pasar domestik atau persaingan asing, dll.

Marx menulis dalam Limitation of the working day:

“Prasyarat utama, yang tanpanya semua upaya lebih lanjut untuk perbaikan dan emansipasi akan gagal, adalah pembatasan jam kerja.”

“Pembatasan jam kerja diperlukan untuk memulihkan kesehatan dan energi fisik kelas buruh, yaitu sebagian besar populasi semua negara, serta untuk menjamin bagi buruh kemungkinan perkembangan intelektual, interaksi sosial, aksi sosial dan politik.” (Minutes of the General Council of the First International 1864-1866, hal. 342-3.)

Mereka mengusulkan delapan jam kerja sebagai batas legal jam kerja. Kerja malam hanya diperbolehkan dalam keadaan luar biasa di sektor tertentu. Umumnya kita harus berjuang menghapus kerja malam. Namun, dokumen tersebut melanjutkan: “Paragraf ini hanya merujuk pada orang dewasa, laki-laki atau perempuan, dan yang belakangan, bagaimanapun juga, harus dikecualikan dari semua kerja malam apa pun, dan semua jenis pekerjaan yang membahayakan fisik kaum perempuan, atau yang memaparkan tubuh mereka pada zat beracun dan zat berbahaya lainnya. Yang dimaksud dengan orang dewasa adalah semua orang yang telah mencapai atau di atas usia 18 tahun.” (Ibid., hal. 343.)

Tidak banyak yang tahu bahwa putri Marx, Eleanor, memainkan peran aktif dalam perjuangan buruh perempuan di East End London. Dalam sebuah artikel mengenai “Sweating in Type-Writing Offices”, ia mengusulkan pembentukan serikat buruh baik bagi mereka yang mengetik di rumah maupun di tempat kerja, di mana, seperti yang ia tulis, “jika kita ingin hidup dari hasil kerja kita, kita diharuskan bekerja di bawah tekanan tinggi dan dengan jam kerja yang jauh lebih panjang daripada delapan jam sehari.” (Yvonne Kapp, Eleanor Marx, The Crowded Years, 1884-98, hlm. 364.) Betapa relevannya kalimat ini seratus tahun kemudian!

Titik balik penting dalam gerakan buruh perempuan adalah pemogokan buruh perempuan pabrik korek api London pada 1888, ketika lapisan buruh yang paling terhisap dan tertindas ini memberontak melawan para penindas mereka. Di pabrik di Bow, di kawasan East End yang miskin, semua buruhnya perempuan, mulai dari gadis berusia 13 tahun hingga ibu-ibu dengan keluarga besar. Kondisi barbar di sana mirip dengan yang dialami oleh buruh di Dunia Ketiga saat ini. Penggunaan fosfor putih untuk membuat korek api menyebabkan penyakit mengerikan yang menggerogoti tulang rahang, karena mereka harus makan di lingkungan pabrik yang tercemar. Upah rendah diperparah oleh sistem denda yang tidak adil, yang sering dikenakan untuk kesalahan sepele, yang disebabkan oleh kelelahan. Akibatnya, kapitalis meraup dividen yang besar, yaitu 22 persen.

Mengatasi rasa takut mereka, pada Juli 1888, 672 perempuan mogok kerja. Dalam waktu dua minggu, berkat dukungan serikat buruh dan kampanye publik yang berhasil menggalang dana sebesar £400, buruh-buruh perempuan ini berhasil memenangkan konsesi besar. Mereka lalu mengorganisir Serikat Buruh Pembuat Korek Api – serikat buruh terbesar yang beranggotakan perempuan dan anak perempuan di Inggris. Ini merupakan langkah maju yang besar dalam ledakan “Serikat Buruh Baru” di Inggris ketika, untuk pertama kalinya, kaum proletar yang tidak terampil terorganisir ke dalam serikat buruh. Ini memberikan pelajaran penting bagi masa kini, ketika, seperti 100 tahun yang lalu, sejumlah besar buruh tidak-terampil dan semi-terampil tidak terorganisir, dan sebagian besar dari mereka adalah perempuan.

Kaum Bolshevik dan perempuan

Kaum Bolshevik selalu menanggapi dengan serius problem kerja revolusioner di kalangan buruh perempuan. Lenin, khususnya, sangat memperhatikan masalah ini, terutama selama periode kebangkitan revolusioner 1912-1914, dan selama Perang Dunia Pertama. Pada saat itulah Hari Perempuan Internasional (8 Maret) mulai dirayakan dengan demonstrasi massa buruh. Bukan kebetulan Revolusi Februari dipicu oleh insureksi pada Hari Perempuan, ketika kaum perempuan berdemonstrasi menentang Perang dan tingginya biaya hidup.

Kaum Sosial Demokrat [sebutan untuk kaum Marxis pada saat itu] telah memulai kerja konsisten di antara buruh perempuan selama kebangkitan gerakan tahun 1912-1914. Kaum Bolshevik menggelar pertemuan Hari Perempuan Internasional pertama di Rusia pada 1913. Pada tahun yang sama, Pravda mulai secara reguler menerbitkan sebuah halaman yang membahas isu-isu yang dihadapi perempuan. Kaum Bolshevik meluncurkan surat kabar perempuan, Rabotnitsa (Buruh Perempuan), pada 1914, dengan edisi pertama yang terbit pada Hari Perempuan Internasional, ketika Partai Bolshevik kembali mengorganisir demonstrasi. Koran tersebut dilarang pada bulan Juli bersamaan dengan seluruh pers buruh lainnya. Koran Bolshevik tersebut didukung secara finansial oleh buruh perempuan dan didistribusikan oleh mereka di pabrik. Koran tersebut melaporkan kondisi dan perjuangan buruh perempuan di Rusia dan luar negeri, dan mendorong perempuan untuk bergabung dalam perjuangan bersama kamerad laki-laki mereka. Rabonitsa menyerukan kepada mereka untuk menolak gerakan perempuan yang diprakarsai oleh perempuan borjuis.

Gerakan Sosial Demokrat Revolusioner di Rusia selama Perang Dunia Pertama menghadapi kesulitan yang sangat besar. Partai dan serikat buruh dinyatakan ilegal. Namun pada 1915, gerakan mulai pulih dari represi selama bulan-bulan pertama perang. Salah satu medan kerja di mana gerakan mulai meraih kemajuan penting adalah di antara perempuan, yang semakin banyak bergabung ke dalam angkatan kerja. Saat perang pecah, perempuan mencakup sekitar sepertiga buruh industri, dan bahkan lebih besar lagi di industri tekstil. Jumlah ini meningkat lebih jauh selama perang karena laki-laki dimobilisasi untuk dinas militer. Kondisi perempuan memburuk selama perang karena banyak yang menjadi satu-satunya penopang keluarga mereka dan kebutuhan pokok menjadi semakin langka dan mahal. Buruh perempuan ikut serta dalam banyak pemogokan dan demonstrasi menentang kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh keterlibatan Rusia dalam perang.

Meskipun anggota Partai Bolshevik masih kebanyakan laki-laki (pada Kongres Keenam Bolshevik pada Agustus 1917, perempuan hanya mencakup sekitar 6 persen delegasi), mereka mulai secara signifikan merekrut buruh perempuan sejak 1912-1914. Kutipan berikut diambil dari selebaran berjudul “To the Working Women of Kiev” yang diedarkan oleh kaum Bolshevik di Kiev, Ukraina pada 8 Maret, 1915. Selebaran tersebut memberi kita gambaran tentang bagaimana kaum Bolshevik mengajukan masalah perjuangan perempuan dalam agitasi publik mereka. Seruan mereka menghubungkan penindasan terhadap perempuan dengan eksploitasi yang juga diderita oleh buruh laki-laki, dan dengan program pembebasan semua buruh:

“Sekalipun nasib buruh itu menyedihkan, status perempuan jauh lebih buruk. Di pabrik, di bengkel, ia bekerja untuk majikan kapitalis, di rumah ia bekerja untuk keluarganya.”

“Ribuan perempuan menjual tenaga kerja mereka kepada kapital; ribuan bekerja keras sebagai buruh-upahan; ribuan dan ratusan ribu menderita di bawah kuk penindasan keluarga dan sosial. Dan bagi mayoritas besar perempuan pekerja, ini tampak seperti nasib yang harus mereka terima. Tetapi benarkah perempuan pekerja tidak dapat mengharapkan masa depan yang lebih baik, dan bahwa takdir telah menetapkannya untuk menjalani seluruh hidupnya hanya bekerja siang dan malam, tanpa istirahat?”

“Kamerad, kaum buruh perempuan! Kamerad buruh laki-laki juga bekerja keras bersama kita. Nasib mereka dan nasib kita adalah satu. Tetapi mereka telah lama menemukan satu-satunya jalan menuju kehidupan yang lebih baik – jalan perjuangan buruh terorganisir melawan kapital, jalan perjuangan melawan segala penindasan, kejahatan, dan kekerasan. Kaum buruh perempuan, tidak ada jalan lain bagi kita. Kepentingan kaum buruh laki-laki dan perempuan adalah sama, adalah satu. Hanya dalam perjuangan bersama dengan kaum buruh laki-laki, dalam organisasi buruh bersama – dalam Partai Sosial Demokrat, serikat buruh, organisasi buruh, dan koperasi – kita akan memperoleh hak-hak kita dan memenangkan kehidupan yang lebih baik.” (Lenin’s Struggle for a Revolutionary International, hal. 268.)

Perempuan setelah Revolusi Oktober

Di Rusia Tsar, perempuan secara hukum adalah budak suami mereka. Menurut hukum Tsar: “Istri wajib mematuhi perintah suaminya sebagai kepala keluarga, untuk tetap bersamanya, untuk mencintainya, menghormatinya, dan menaatinya sepenuhnya, untuk melayaninya sepenuhnya, dan menunjukkan setiap kasih sayang kepadanya, sebagai ibu rumah tangga.” Program Partai Bolshevik tahun 1919 menyatakan: “Tugas partai saat ini terutama adalah bekerja di bidang ide dan pendidikan untuk menghancurkan sepenuhnya semua ketidaksetaraan atau prasangka lama, khususnya di antara lapisan proletariat dan petani yang terbelakang. Tidak hanya membatasi dirinya pada kesetaraan formal perempuan, partai berupaya membebaskan mereka dari beban materi pekerjaan rumah tangga yang lama dengan menggantinya dengan rumah komunal, dapur umum, tempat pencucian pakaian terpusat, tempat penitipan anak, dll.”

Namun, kemampuan untuk melaksanakan program ini bergantung pada standar hidup dan budaya masyarakat secara umum, seperti yang dijelaskan Trotsky dalam artikelnya “From the Old Family to the New”, yang dimuat di Pravda pada 13 Juli 1923:

“Persiapan material untuk membangun kondisi kehidupan yang baru dan keluarga yang baru, sekali lagi, pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari pekerjaan umum pembangunan sosialis. Negara buruh harus menjadi lebih kaya agar dapat secara serius menangani pendidikan publik anak-anak dan membebaskan keluarga dari beban dapur dan mencuci. Sosialisasi pekerjaan rumah tangga dan pendidikan publik anak-anak tidak mungkin dilakukan tanpa peningkatan yang signifikan dalam perekonomian kita secara keseluruhan. Kita membutuhkan lebih banyak bentuk ekonomi sosialis. Hanya dalam kondisi seperti itu kita dapat membebaskan keluarga dari fungsi-fungsi rumah tangga yang sekarang menindas dan menghancurkannya. Mencuci baju harus dilakukan oleh binatu umum, memasak oleh restoran umum, menjahit oleh tempat jahit umum. Anak-anak harus dididik di sekolah negeri oleh guru yang baik yang sungguh terpanggil sebagai guru. Hanya dengan demikian maka ikatan suami-istri akan terbebas dari segala sesuatu yang eksternal dan aksidental, dan yang satu akan berhenti menyerap kehidupan yang lain. Kesetaraan sejati akhirnya akan terwujud. Ikatan tersebut akan bergantung pada relasi timbal balik. Dan terutama karena itu, maka ikatan tersebut akan memperoleh kestabilan internal, yang tentu saja tidak sama untuk semua orang, dan juga tidak wajib untuk semua orang.”

Revolusi Bolshevik meletakkan landasan bagi emansipasi sosial perempuan, dan meskipun kontra-revolusi politik Stalinis merupakan kemunduran parsial, tidak dapat disangkal bahwa  kaum perempuan di Uni Soviet telah memenangkan kemajuan besar dalam perjuangan untuk kesetaraan. Perempuan tidak lagi diwajibkan untuk tinggal bersama suami mereka atau menemani mereka bila mereka harus pindah karena pindah pekerjaan. Mereka diberi hak yang sama untuk menjadi kepala rumah tangga dan menerima upah yang sama. Perhatian diberikan pada peran perempuan dalam melahirkan anak dan undang-undang khusus tentang persalinan diperkenalkan yang melarang jam kerja panjang dan kerja malam serta menetapkan cuti hamil berbayar, tunjangan keluarga, dan pusat penitipan anak. Aborsi dilegalkan pada 1920, perceraian disederhanakan, dan pendaftaran perkawinan sipil diperkenalkan. Konsep anak di luar nikah juga dihapuskan. Dalam kata-kata Lenin: “Kita menghapus semua undang-undang terkutuk yang menempatkan perempuan dalam posisi inferior dibandingkan dengan laki-laki.”

Dengan menyediakan perbaikan kondisi secara material, Negara Buruh Soviet memfasilitasi keterlibatan penuh perempuan dalam semua bidang kehidupan sosial, ekonomi, dan politik – yakni dengan menyediakan makanan gratis di sekolah, susu untuk anak-anak, tunjangan makanan dan pakaian khusus untuk anak-anak yang membutuhkan, pusat konsultasi kehamilan, rumah bersalin, tempat penitipan anak, dan fasilitas lainnya.

Dalam buku The Revolution Betrayed, Trotsky menulis:

“Revolusi Oktober dengan jujur memenuhi kewajibannya kepada kaum perempuan. Pemerintah yang masih muda ini tidak hanya memberi kaum perempuan semua hak politik dan hukum yang setara dengan laki-laki, tetapi, yang lebih penting, melakukan segalanya, dan bahkan jauh lebih banyak daripada apa yang pernah dilakukan pemerintah manapun, untuk benar-benar menjamin akses perempuan ke semua bentuk kerja ekonomi dan budaya. Namun, revolusi yang paling berani sekalipun, seperti parlemen Inggris yang “mahakuasa” itu, tidak akan dapat mengubah perempuan menjadi laki-laki – atau, lebih tepatnya, tidak dapat membagi dengan sama rata di antara mereka beban kehamilan, persalinan, menyusui, dan merawat anak. Revolusi telah mengambil langkah heroik untuk menghancurkan apa yang disebut ‘keluarga tradisional’ – institusi usang yang jenuh dan stagnan itu, di mana perempuan kelas pekerja menjadi budak domestik semenjak kecil hingga mati. Keluarga sebagai unit ekonomi kecil yang terisolasi akan digantikan, seturut rencana, oleh sistem perawatan dan akomodasi sosial yang komprehensif: rumah bersalin, tempat penitipan anak, taman kanak-kanak, sekolah, ruang makan sosial, binatu sosial, puskesmas, rumah sakit, sanatorium, klub olahraga, teater, bioskop, dll. Fungsi-fungsi rumah tangga akan diserap sepenuhnya oleh institusi-institusi masyarakat sosialis, yang akan menyatukan seluruh generasi dalam semangat solidaritas dan gotong royong dan akan membawa pembebasan sejati bagi perempuan, dan dengan demikian juga bagi setiap pasangan yang saling mencintai, dari belenggu yang telah merantai mereka selama ribuan tahun.”

Internasional Ketiga

Internasional Ketiga, mengikuti tradisi Partai Bolshevik, sangat mementingkan kerja di antara kaum perempuan dan menginstruksikan semua seksinya untuk “memperluas pengaruh mereka ke lapisan terluas perempuan dengan cara mengorganisir perangkat-perangkat khusus di dalam Partai dan menetapkan metode khusus untuk memenangkan perempuan, dengan tujuan membebaskan mereka dari pengaruh pandangan dunia borjuis atau pengaruh partai-partai kompromis [reformis], dan mendidik mereka untuk menjadi pejuang Sosialis yang teguh dan sebagai konsekuensinya mengembangkan perempuan secara penuh.”

Dengan pembentukan “perangkat-perangkat khusus” untuk bekerja di antara kaum perempuan, yang dimaksud bukanlah membentuk organisasi perempuan yang terpisah. Ini sama kelirunya dengan gagasan membentuk organisasi revolusioner terpisah untuk bangsa-bangsa yang tertindas, orang Yahudi, kaum kulit hitam, dll. – sesuatu yang selalu ditentang oleh Lenin dan Trotsky. Bahkan, tesis Internasional Ketiga menyatakan dengan jelas bahwa “Kongres Ketiga Komintern dengan tegas menentang segala bentuk asosiasi perempuan terpisah di dalam Partai dan serikat buruh atau organisasi perempuan khusus” (Theses, Resolutions and Manifestos of the First Four Congresses of the Third International, hlm. 217).

Yang mereka maksud adalah perlunya mengorganisir badan yang terdiri dari kamerad-kamerad yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam pekerjaan semacam ini, untuk tugas-tugas teknis seperti menyebarkan propaganda, menulis selebaran, dll., dan secara umum untuk mengorganisir pekerjaan ini. Juga ditegaskan bahwa badan-badan tersebut tidak boleh bekerja secara terpisah tetapi di bawah kendali badan-badan kepemimpinan terpilih Partai. Tujuan utama kerja ini dirinci sebagai berikut:

“1. untuk mendidik perempuan dalam ide-ide Sosialis dan menarik mereka ke dalam barisan Partai;

2. untuk memerangi prasangka terhadap perempuan yang dianut oleh sebagian besar kaum proletar laki-laki, dan meningkatkan kesadaran buruh laki-laki dan perempuan bahwa mereka memiliki kepentingan bersama;

3. Memperkuat semangat perjuangan kaum buruh perempuan dengan melibatkan mereka dalam segala bentuk dan jenis konflik sipil, mendorong perempuan di negara-negara borjuis untuk berpartisipasi dalam perjuangan melawan eksploitasi kapitalis, dalam aksi massa melawan tingginya biaya hidup, melawan kekurangan perumahan, pengangguran dan masalah sosial lainnya, serta mendorong perempuan di republik-republik Soviet untuk mengambil bagian dalam pembentukan kepribadian Sosialis dan cara hidup Sosialis;

4. untuk memasukkan ke dalam agenda Partai dan menyertakan dalam usulan legislatif masalah-masalah yang secara langsung berkaitan dengan emansipasi perempuan, menegaskan pembebasan mereka, dan membela kepentingan mereka sebagai ibu;

5. untuk meluncurkan perjuangan melawan kekuatan tradisi, norma borjuis, dan gagasan religius, membuka jalan bagi hubungan yang lebih sehat dan harmonis antara laki-laki dan perempuan, menjamin kesehatan fisik dan moral kaum buruh.” (Ibid., hlm. 218.)

Komintern di bawah kepemimpinan Lenin dan Trotsky tidak pernah lalai atau meremehkan medan kerja yang vital ini. Kongres Ketiga Komintern menyatakan “tanpa partisipasi aktif massa perempuan proletar dan semi-proletar secara luas, maka proletariat tidak akan bisa merebut kekuasaan dan mewujudkan Sosialisme.”

“Pada saat yang sama, Kongres sekali lagi menarik perhatian semua perempuan pada fakta bahwa tanpa dukungan Partai Sosialis untuk semua perjuangan pembebasan perempuan, pengakuan hak-hak perempuan sebagai manusia yang setara dan emansipasi mereka yang sesungguhnya tidak akan dapat diraih dalam praktiknya.” (Ibid., hlm. 213-4.)

Dengan demikian, sejak awal, Komintern di bawah Lenin dan Trotsky menjelaskan peran sentral masalah perempuan, tetapi a) mendekatinya secara eksklusif dari sudut pandang revolusioner dan kelas dan b) menjelaskan bahwa emansipasi perempuan yang sesungguhnya hanya dapat dicapai di bawah sosialisme. Komintern menekankan perlunya mengintegrasikan kerja perempuan dalam kerja Partai secara umum, dan tidak memisahkannya sebagai sesuatu yang terpisah:

“Untuk memperkuat persatuan antara buruh perempuan dan buruh laki-laki, sebaiknya kita tidak menyelenggarakan kelas dan sekolah khusus untuk perempuan Sosialis, tetapi semua sekolah Partai umumnya harus menyertakan kelas tentang metode kerja di kalangan perempuan.” (Ibid., hlm. 227.)

Kongres Keempat Komintern – Kongres terakhir yang sungguh-sungguh Leninis – menyatakan betapa pentingnya pekerjaan ini (dan secara khusus merujuk pada masalah perempuan di negara-negara kolonial terbelakang di Timur), tetapi juga memperjelas bahwa pekerjaan tersebut belum dilakukan dengan cukup energetik oleh sejumlah seksi:

“Organisasi khusus untuk kerja Sosialis di antara perempuan sangat dibutuhkan dan sangat bernilai, dan ini dibuktikan oleh aktivitas Sekretariat Perempuan di Timur, yang telah melakukan kerja yang penting dan sukses di bawah kondisi yang baru dan tidak biasa. Sayangnya, Kongres Dunia Keempat Komintern harus mengakui bahwa sejumlah seksi telah sepenuhnya gagal memenuhi, atau hanya sebagian memenuhi, tanggung jawab mereka untuk memberikan dukungan yang konsisten kepada kerja Sosialis di kalangan perempuan. Hingga hari ini, mereka telah gagal mengambil langkah-langkah untuk mengorganisir perempuan Sosialis di dalam Partai, atau gagal mendirikan organisasi Partai yang vital untuk bekerja di antara massa perempuan dan untuk membangun hubungan dengan mereka.”

“Kongres Keempat mendesak agar Partai-partai ini segera memperbaiki semua kekurangan ini. Kongres menyerukan kepada semua seksi Komintern untuk melakukan segalanya untuk mendorong kerja Sosialis di kalangan perempuan, mengingat pentingnya pekerjaan ini. Front persatuan proletar tidak dapat diwujudkan tanpa partisipasi aktif perempuan yang terdidik. Dalam kondisi tertentu, jika ada hubungan yang tepat dan erat antara Partai-partai Revolusioner dan kaum buruh perempuan, maka perempuan dapat menjadi pelopor front persatuan proletar dan gerakan revolusioner massa.” (Ibid., hlm. 326.)

Peran Stalinisme

Pemikir Sosialis Utopis Prancis, Charles Fourier, menyatakan bahwa posisi perempuan dalam masyarakat adalah indikator paling jelas dari sifat sesungguhnya sebuah rezim sosial. Sementara Revolusi Oktober membebaskan perempuan, kontra-revolusi Stalinis secara drastis memutar balik pencapaian yang telah dimenangkan perempuan. Aborsi dinyatakan ilegal dan perceraian semakin dipersulit. Pelacur ditangkap, padahal kebijakan awal Bolshevik hanya menangkap pemilik rumah bordil dan mengekspos laki-laki yang membeli pelacur serta menyediakan pelatihan kerja sukarela bagi para pelacur. Di bawah rejim Stalin, jam operasional pusat penitipan anak diperpendek dan anak perempuan diajarkan mata pelajaran khusus di sekolah untuk mempersiapkan mereka sebagai ibu rumah tangga.

Pada 1938, Trotsky menggambarkan situasi tersebut:

“Posisi perempuan adalah indikator yang paling gamblang dan jelas untuk mengevaluasi sebuah rezim sosial dan kebijakan negara. Revolusi Oktober mengibarkan panji emansipasi perempuan dan menciptakan undang-undang perkawinan dan keluarga yang paling progresif dalam sejarah. Tentu saja, ini tidak berarti bahwa ‘kehidupan bahagia’ langsung menyambut perempuan Soviet. Emansipasi perempuan yang sejati tidak mungkin terwujud tanpa kemajuan ekonomi dan tingkat budaya secara umum, tanpa menghancurkan unit keluarga ekonomi borjuis-kecil, tanpa memperkenalkan persiapan makanan secara sosial, dan tanpa pendidikan. Sementara itu, dipandu oleh naluri konservatifnya, birokrasi Soviet menjadi khawatir mengenai ‘disintegrasi’ keluarga. Mereka mulai memuji makan malam keluarga dan cucian keluarga, yaitu perbudakan rumah tangga perempuan. Sebagai puncaknya, birokrasi telah memulihkan hukuman pidana untuk aborsi, secara resmi mengembalikan perempuan ke status ternak. Bertentangan sepenuhnya dengan prinsip dasar Sosialisme, kasta birokrasi yang berkuasa ini dengan demikian telah memulihkan nukleus sistem kelas yang paling reaksioner dan terbelakang, yaitu, keluarga borjuis-kecil.” (Trotsky, Writings 1937-38, hal. 129.)

Meskipun setelah kematian Stalin pada 1953 beberapa reforma diberlakukan kembali – seperti legalisasi aborsi – posisi perempuan di Uni Soviet tidak pernah pulih seperti di bawah Lenin dan Trotsky. Namun, mereka masih menikmati banyak keuntungan dibandingkan perempuan di Barat. Pertumbuhan ekonomi pasca-perang yang dimungkinkan oleh ekonomi terencana memungkinkan perbaikan standar hidup: pensiun pada usia 55 tahun, kesetaraan dalam upah dan kondisi kerja, dan perempuan hamil diberi hak untuk pindah ke pekerjaan yang lebih ringan dengan cuti melahirkan berbayar penuh selama 56 hari sebelum dan 56 hari setelah kelahiran anak. Undang-undang baru pada 1970 menghapus kerja malam dan kerja bawah tanah untuk perempuan. Jumlah perempuan di pendidikan tinggi sebagai persentase total populasi meningkat dari 28 persen pada 1927, menjadi 43 persen pada 1960, dan menjadi 49 persen pada 1970. Satu-satunya negara lain di dunia di mana perempuan mencakup lebih dari 40 persen dari total mahasiswa universitas adalah Finlandia, Prancis, dan Amerika Serikat.

Ada perbaikan dalam tempat penitipan anak: pada 1960 terdapat 500.000 tempat, tetapi pada tahun 1971 jumlah ini telah meningkat menjadi lebih dari lima juta. Kemajuan luar biasa ekonomi terencana, dengan peningkatan pelayanan kesehatan, tercermin dalam meningkatnya harapan hidup perempuan sebesar dua kali lipat menjadi 74 tahun dan turunnya angka kematian anak sebesar 90 persen. Pada 1975, perempuan yang bekerja di bidang pendidikan telah meningkat menjadi 73 persen. Pada 1959, sepertiga perempuan berada di pekerjaan di mana 70 persen tenaga kerjanya adalah perempuan, tetapi pada 1970 angka ini telah meningkat menjadi 55 persen. Pada saat itu, 98 persen perawat adalah perempuan, begitu pula 75 persen guru, 95 persen pustakawan, dan 75 persen dokter. Pada 1950, ada 600 penyandang gelar S3 di bidang sains, tetapi pada tahun 1984 jumlahnya telah meningkat menjadi 5.600!

Kontra-revolusi kapitalis

Restorasi kapitalisme di Uni Soviet dengan cepat menghancurkan semua pencapaian masa lalu dan mendorong perempuan kembali ke posisi perbudakan yang hina atas nama keluarga. Beban terbesar yang datang dari krisis restorasi kapitalisme diletakkan di pundak perempuan. Perempuan adalah yang pertama dipecat, untuk menghindari pembayaran tunjangan sosial, seperti tunjangan anak dan tunjangan maternitas. Mengingat fakta bahwa perempuan sebelumnya mencakup 51 persen angkatan kerja Uni Soviet, dan 90 persen perempuan bekerja, melonjaknya tingkat pengangguran telah menyebabkan lebih dari 70 persen pekerja yang menganggur di Rusia sekarang adalah perempuan. Di beberapa daerah, angkanya mencapai 90 persen.

Runtuhnya layanan sosial dan meningkatnya pengangguran berarti bahwa semua pencapaian ekonomi terencana untuk perempuan secara sistematis dihapus. Tumbuhnya pengangguran menjerumuskan lebih banyak orang ke dalam kemiskinan di Rusia daripada di Barat karena banyak tunjangan langsung disediakan dari tempat kerja. The Economist (11/23/93) melaporkan: “Pengangguran masih membawa stigma yang mendalam di Rusia. Baru pada tahun 1991 pengangguran berhenti menjadi kejahatan. Bagi mereka yang tidak memiliki pekerjaan, kemiskinan absolut mengancam. Tunjangan pengangguran dikaitkan dengan upah minimum 14.620 rubel per bulan, sepertiga dari tingkat kebutuhan hidup resmi dan sekitar sepertujuh dari upah rata-rata. Taraf hidup penganggur sering kali bahkan lebih buruk daripada yang tersirat dalam angka-angka ini karena sebagian besar layanan sosial dasar – seperti kesehatan, sekolah, dan transportasi – disediakan oleh perusahaan dan bukan oleh pemerintah daerah, dan karenanya hanya tersedia bagi orang yang bekerja.” Di bawah rezim sebelumnya, perempuan menerima 70 persen dari upah laki-laki. Angka tersebut kini hanya 40 persen. Menafkahi keluarga dengan satu upah saja sudah sulit sebelumnya di Uni Soviet. Sekarang, dengan meningkatnya kemiskinan secara dramatis, ini hampir mustahil. Dengan demikian, perempuan adalah korban utama rezim reaksioner ini. Prostitusi meningkat pesat, karena perempuan berusaha bertahan hidup dengan menjual tubuh mereka kepada mereka yang memiliki uang untuk membelinya – terutama OKB-OKB yang menjijikkan dan orang asing. Bahkan kaum perempuan yang terpaksa bekerja sebagai pelacur menjadi mangsa Mafia, yang menuntut setidaknya 20 persen penghasilan mereka. Di majalah-majalah Barat, perempuan Rusia diiklankan bersama perempuan dari negara-negara Dunia Ketiga sebagai calon istri untuk orang asing. Perempuan dijadikan budak dan statusnya direduksi menjadi komoditas, dan semua ini merangkum penghinaan yang harus diterima oleh sebuah bangsa yang dipaksa tunduk dan dieksploitasi habis-habisan.

Pada 10 Februari 1993, Menteri Tenaga Kerja saat itu, J. Melikyan, mengumumkan solusi pemerintah untuk mengatasi pengangguran. Dengan bahasa yang akan membuat politisi borjuis sayap kanan mana pun merasa bangga, ia mengatakan ia tidak melihat perlunya program khusus untuk membantu perempuan kembali bekerja. “Mengapa kita harus mencari pekerjaan untuk perempuan ketika laki-laki menganggur dan menerima tunjangan pengangguran?” tanyanya. “Biarkan laki-laki yang bekerja dan perempuan mengurus rumah dan anak-anak mereka,” lanjutnya. Bahasa seperti itu, yang sebelumnya tidak terbayangkan, sekarang jelas sudah dianggap sebagai sesuatu yang normal dan dapat diterima. Di sini kita saksikan wajah sebenarnya dari kontra-revolusi kapitalis di Rusia, yang brutal dan menjijikkan, yang menandai kemunduran besar ke masa Tsar di mana setiap budak laki-laki diizinkan berkuasa atas istri dan anak-anak mereka sebagai kompensasi atas kondisi hidup mereka yang buruk.

Situasi demikian tidak hanya menimpa Rusia. Di bekas Jerman Timur, sembilan dari sepuluh wanita sebelumnya memiliki pekerjaan penuh waktu. Bekerja adalah hak kaum perempuan. Supaya perempuan bisa tetap bekerja dan berkeluarga, negara menyediakan jasa penitipan anak yang komprehensif, serta cuti hamil satu tahun untuk setiap bayi. Sekarang, setelah runtuhnya Tembok Jerman, semua pencapaian ekonomi terencana ini telah dihancurkan. Layanan penitipan anak yang murah dan berkualitas baik sudah dihapus. Setelah unifikasi Jerman, sepertiga dari semua pekerjaan perempuan hilang akibat pengangguran massal di sektor publik, tekstil, dan pertanian. The Economist (18/7/98) melaporkan: “Selama beberapa tahun terakhir, tingkat pengangguran perempuan di Jerman Timur secara konsisten berada di sekitar angka 20 persen, sekitar lima persen di atas tingkat pengangguran laki-laki, dan dua kali lipat tingkat pengangguran laki-laki dan perempuan di Jerman Barat. Perempuan Jerman Timur, setelah tidak lagi mampu memperoleh pendapatan (serta sistem dukungan penitipan anak), mulai mengurangi jumlah anak mereka. Tingkat kelahiran di Jerman Timur turun setengahnya dari angka yang sudah rendah, dari 1,56 anak per perempuan pada 1989 menjadi sekitar setengah dari angka tersebut. Tetapi perempuan Jerman Timur tidak menyerah untuk terus mencari pekerjaan. Mereka menerima tunjangan pengangguran, dan terus melamar pekerjaan.”

‘Dunia Ketiga’

Di negara-negara kapitalis maju selama setengah abad terakhir, posisi perempuan telah meningkat secara signifikan. Setidaknya secara formal, mereka memiliki hak hukum yang sama dengan laki-laki. Mereka memiliki akses pendidikan yang sama dan, sampai batas tertentu, telah meningkatkan akses pekerjaan mereka. Namun, di dunia bekas-jajahan yang mencakup dua pertiga umat manusia, situasinya sungguh berbeda. Perbudakan perempuan saat ini lebih buruk dibandingkan masa mana pun dalam sejarah. Setiap tahun 500.000 perempuan meninggal karena komplikasi kehamilan, dan mungkin 200.000 lainnya meninggal karena aborsi. Negara-negara bekas-jajahan hanya menghabiskan 4 persen PDB mereka untuk layanan kesehatan, rata-rata $41 per orang, dibandingkan $1900 di negara-negara kapitalis maju. Diperkirakan ada 100 juta anak berusia 6-11 tahun yang tidak bersekolah. Dua pertiga dari mereka adalah perempuan. Alasan utama kemiskinan yang begitu parah di Dunia Ketiga adalah penjarahan sumber daya alam mereka dan utang sebesar dua triliun dolar mereka kepada bank-bank besar Barat.

Dominasi absolut imperialisme dan korporasi multinasional raksasa memastikan bahwa setiap tetes nilai surplus diperas tanpa ampun dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak tanpa pandang bulu. Pekerja anak sebenarnya masih ada bahkan di negara-negara kapitalis maju, tetapi di Asia, Afrika, dan Amerika Latin pekerja anak sudah menjadi hal lumrah. Keluarga yang hidup di ambang kelaparan tidak punya pilihan selain menjual anak-anak mereka ke dalam perbudakan-upahan, termasuk jenis perbudakan yang paling keji, yaitu prostitusi. Nilai surplus yang dihisap oleh peradaban Barat yang katanya manusiawi dan Kristen itu berlumuran darah, keringat, dan air mata jutaan perempuan dan anak-anak yang dieksploitasi, seperti pada zaman Marx. Kaum borjuis berpura-pura terkejut dan mengelus dada mereka menyaksikan penderitaan ini, tetapi tetap mengantongi uang mereka.

Monopoli besar seperti Disney dan Nike meraup profit dari kerja paksa di negara-negara seperti Haiti. Penetrasi modal besar telah tanpa ampun menghancurkan hubungan patriarki lama yang ada di masa lalu. Ini telah menciptakan eksploitasi yang paling ganas di Dunia Ketiga. Perlindungan yang diberikan kepada perempuan dan anak-anak di masa lalu oleh keluarga besar dan tradisi masyarakat adat telah dihancurkan dan tidak ada yang menggantikannya. Dengan demikian, di anak benua India, perempuan masih menderita penindasan lama, yang tumpang tindih dengan eksploitasi kapitalis yang barbar. Kaum borjuis India, setengah abad setelah apa yang disebut kemerdekaan, bahkan belum berhasil menghapus sistem kasta. Praktik barbar “suttee”, di mana perempuan dipaksa untuk membakar diri mereka hidup-hidup untuk menemani kremasi suami mereka yang meninggal, masih ada. Ada ratusan kasus setiap tahun. Para janda yang berhasil lolos dari nasib ini diasingkan seperti paria yang tidak berhak hidup. Mereka dipukuli, tidak diberi makan, dan dipermalukan oleh kerabat mereka sendiri, hingga akhirnya bunuh diri.

Di banyak negara Asia, terutama di pedesaan, kelahiran anak perempuan dianggap sebagai kemalangan. Pembunuhan bayi perempuan lazim terjadi. Di Tiongkok, panti asuhan negara penuh dengan anak-anak perempuan yang kelaparan dan terlantar. Ini karena masyarakat Asia  umumnya tidak memiliki tunjangan hari tua atau jaminan sosial bagi lansia, sehingga petani miskin membutuhkan keluarga yang besar untuk merawat mereka di usia tua. Anak laki-laki lebih kuat dan dapat melakukan lebih banyak jenis pekerjaan, sedangkan anak perempuan memerlukan maskawin untuk menikah. Di India, jika maskawin tidak dianggap cukup, pengantin wanita dapat dibunuh oleh keluarga pengantin pria. Inilah kondisi di India di awal abad ke-21. Situasinya tidak jauh lebih baik di Pakistan, di mana Syariat Islam adalah hukum yang berlaku. Perempuan praktis tidak memiliki hak dan dapat diperlakukan sesuka hati oleh orang tua dan suami mereka.

Tetapi Pakistan adalah surga liberal jika dibandingkan dengan Afghanistan di bawah Taliban. Sebelum Revolusi Saur pada 1978, aktivitas ekonomi utama di Afghanistan adalah penjualan perempuan sebagai pengantin. Revolusi Saur mengesahkan undang-undang yang menjamin hak perempuan. Sekarang semua itu telah hancur. Perempuan dirampas semua haknya dan dikurung di rumah. Karena mereka tidak diizinkan bekerja, mereka harus kelaparan. Hukum barbar ini diterapkan secara ketat meskipun ada kekurangan tenaga kerja yang serius akibat banyaknya laki-laki yang tewas dalam perang. Padahal banyak perempuan ini yang memiliki keterampilan sebagai guru dan perawat yang dibutuhkan. Mereka tidak boleh bekerja. Inilah barbarisme reaksi Islam Fundamentalis. Tetapi mereka yang benar-benar bertanggung jawab adalah kaum imperialis di Washington dan antek-antek mereka di Pakistan yang mempersenjatai dan membiayai monster-monster Isfun ini dalam perang mereka melawan “Sosialisme”.

Di Afghanistan, perjuangan untuk hak-hak perempuan terkait erat dengan perjuangan revolusioner untuk menggulingkan rezim agama yang reaksioner ini dan menegakkan sosialisme. Perempuan Afghanistan merupakan pasukan besar untuk revolusi. Fakta ini dibuktikan oleh pengalaman Iran. Setelah 20 tahun reaksi Islam, massa sudah mulai lelah dengan pemerintahan Mullah. Beban fundamentalisme ini sangatlah berat bagi perempuan, yang mulai menunjukkan perlawanan mereka, seperti yang kita lihat ketika Iran mengalahkan AS dalam pertandingan sepak bola, ketika perempuan Iran dengan berani turun ke jalan untuk bernyanyi dan menari bersama laki-laki tanpa mengenakan jilbab mereka, dan para Mullah tidak berdaya untuk mencegahnya. Di sini, perempuan juga akan memainkan peran kunci dalam revolusi yang akan datang di Iran. [Prognosis ini terbukti oleh gerakan massa terbesar di Iran pada September 2022 – yang dipimpin oleh kaum muda, terutama perempuan muda – yang dipicu oleh terbunuhnya Mahsa Amini oleh polisi moral hanya karena dia tidak mengenakan jilbab.]

Lenin pernah berkata bahwa “kapitalisme adalah horor tanpa akhir”. Horor itu terutama menimpa perempuan, terutama di Dunia Ketiga.

Di Aljazair, kegagalan partai Front Pembebasan Nasional (FLN) – sebuah partai nasionalis yang mengklaim “sosialis” – untuk memenangkan revolusi telah menyebabkan kebuntuan berdarah saat ini [Ini merujuk pada perang sipil 1991-2002 antara rejim dengan kelompok-kelompok Islamis]. Pembantaian terjadi di mana-mana, di mana banyak desa yang semua warganya dibantai dengan pisau dan kapak. Kekejaman ini bukan hanya monopoli para teroris Islam, tetapi juga dilakukan oleh tentara rezim. Biasanya perempuan yang jadi sasaran penculikan dan pemerkosaan. Sejumlah besar perempuan ini kemudian bunuh diri.

Penggunaan pemerkosaan sebagai senjata reaksioner juga kembali terjadi di Indonesia, di mana rezim Suharto mengorganisir pogrom terhadap orang Tionghoa [Ini merujuk pada gelombang pemerkosaan selama kerusuhan anti-Tionghoa 12-14 Mei 1998 yang diorganisir oleh rejim]. Ini sama seperti pogrom anti-Yahudi yang diluncurkan oleh rezim Tsar. Kekejaman ini menunjukkan kepada kita bahwa kelas penguasa akan melakukan segalanya untuk tetap berkuasa. Hal serupa akan menanti negara-negara maju di masa depan jika kaum buruh tidak merebut kekuasaan dalam periode berikutnya.

Beban utama penindasan selalu jatuh ke pundak perempuan dari lapisan termiskin. Namun, khususnya di Dunia Ketiga, perempuan dari kelas lain juga banyak jadi korban perlakuan brutal dan tidak manusiawi. Kaum Marxis harus melawan semua bentuk ketidakadilan dalam masyarakat, sambil mendasarkan diri kita pada kelas buruh, satu-satunya kelas yang dapat memimpin masyarakat keluar dari jalan buntu ini. Setiap ketidakadilan terhadap perempuan harus dikecam.

Tanpa melukai kepekaan religius, dengan pendekatan yang ramah, kita harus mengungkap peran agama. Perjuangan untuk revolusi di Asia dan Timur Tengah menuntut perjuangan gigih melawan segala bentuk obskurantisme dan fundamentalisme, yang, terlepas dari demagogi “anti-imperialis”-nya [seperti yang misalnya sering dilakukan oleh para Mullah Iran], selalu memainkan peran paling reaksioner dalam masyarakat. Emansipasi perempuan akan selamanya menjadi utopia kecuali jika berjalan seiring dengan perjuangan melawan obskurantisme religius, yang selalu mendukung dan melanggengkan perbudakan perempuan.

Perempuan dan pengangguran

Krisis kapitalisme mengekspresikan dirinya dalam tingginya angka pengangguran, bahkan selama periode pertumbuhan pesat. Ini memengaruhi perempuan dan kaum muda jauh lebih serius dibandingkan lapisan masyarakat lainnya. Tingkat pengangguran jauh lebih tinggi di kalangan perempuan daripada rata-rata. Dan angka ini meremehkan situasi sebenarnya karena tidak mengikutsertakan sejumlah besar perempuan yang sudah menyerah mencari pekerjaan dan tidak lagi melamar. Kecenderungan umum ke kasualisasi kerja (dengan dalih fleksibilitas tenaga kerja) berdampak paling buruk pada perempuan. Bahkan tanpa kasualisasi kerja ini sebagian besar perempuan sudah bekerja dengan upah rendah dan kondisi kerja yang sangat buruk. Sekarang kondisi mereka akan semakin terpuruk. Pekerjaan paruh-waktu dan sementara semakin meluas, yang katanya lebih cocok untuk perempuan. Ini adalah alasan ideal untuk memaksakan kondisi ketidakpastian pada lapisan masyarakat yang paling tidak berdaya, seperti yang diakui oleh The Economist (18/7/98):

“Di Amerika, dengan ekonomi yang berkembang pesat dan pasar tenaga kerja yang ketat, perempuan terbukti menjadi anugerah bagi banyak pengusaha. Mereka biasanya lebih murah daripada laki-laki, lebih siap untuk bekerja secara fleksibel, dan cenderung tidak mengeluh jika kondisi kerja buruk. Jauh lebih sedikit dari mereka yang menjadi anggota serikat buruh. Satu-satunya hal yang mengejutkan adalah tingkat pengangguran perempuan Amerika tidak lebih rendah daripada laki-laki. …”

“Banyak pekerjaan ini adalah apa yang oleh para ekonom pasar tenaga kerja disebut ‘pekerjaan tidak lazim’, yakni jenis pekerjaan yang sering kali lebih cocok untuk industri jasa: paruh waktu, sementara, melibatkan jam kerja yang tidak reguler, atau kerja kontrak. Beberapa di antaranya tidak pasti, dan banyak di antaranya bergaji rendah. Perempuan, yang ingin bisa bekerja dan berkeluarga, telah terbukti jauh lebih fleksibel dan mudah beradaptasi dengan cara kerja baru ini daripada laki-laki.”

Pekerjaan paruh waktu semakin meningkat di mana-mana. Bagi banyak perempuan, ini adalah satu-satunya pekerjaan yang dapat mereka pertimbangkan karena memungkinkan mereka untuk tetap berkeluarga. Ini sangat menguntungkan kapitalis karena mereka dapat memperlakukan karyawan mereka sesuka hati, dengan menekan mereka untuk bekerja keras dan membayar mereka dengan upah yang sangat rendah. Variasi baru dari tema ini terus bermunculan. Yang terbaru adalah pekerja “kontingen”: pada dasarnya, pekerja jangka pendek. Mereka bekerja di berbagai industri, dengan kerja kontrak atau kerja on-call. Di Amerika, jumlah pekerja “kontingen” mungkin mencapai 5,5 juta, lebih dari setengahnya adalah wanita dan hampir setengahnya adalah pekerja paruh waktu. Mereka dibayar lebih rendah daripada pekerja biasanya, dan umumnya tidak mendapatkan asuransi kesehatan atau tunjangan tambahan lainnya dari perusahaan mereka.

Versi Jermannya disebut “pekerjaan kecil”, dan banyak ekonom memperkirakan jumlah pekerja ini akan tumbuh pesat. Para pekerja ini, yang berpenghasilan kurang dari DM620 ($340) per bulan, tidak akan menerima tunjangan hari tua dan tunjangan pengangguran. Jumlah orang yang melakukan “pekerjaan kecil” ini diperkirakan mencapai lebih dari 4 juta, sekitar setengahnya adalah perempuan. The Economist (18/7/98) melaporkan:

“Karena tanggung jawab keluarga, rata-rata perempuan bekerja jauh lebih sedikit jam daripada laki-laki, sehingga gaji mingguan atau tahunan mereka bahkan jauh lebih kecil daripada laki-laki. Di Uni Eropa, sekitar sepertiga dari semua buruh perempuan bekerja kurang dari standar 35-40 jam seminggu (meskipun rata-rata tersebut menyembunyikan perbedaan yang sangat besar); di antara laki-laki, proporsi pekerja paruh waktu hanya sekitar 5 persen, dan sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa atau pekerja yang lebih tua yang akan pensiun. Di Amerika, proporsi perempuan yang bekerja paruh waktu lebih kecil daripada di Eropa, tetapi proporsi laki-laki lebih besar. Statistik Jepang tampak mirip dengan Eropa, tetapi banyak perempuan ‘pekerja paruh waktu’ di sana bekerja hampir penuh waktu; mereka hanya dibayar lebih rendah daripada pekerja penuh waktu resmi. ‘Paruh waktu’ di mana pun masih sering diartikan sebagai ‘kelas dua’.”

Beban kerja berlebihan dan keluarga

Survei terbaru tentang perempuan di tempat kerja yang diterbitkan oleh The Economist melukiskan gambaran mengerikan tentang kerja berlebihan yang menimpa rakyat Amerika modern – tidak hanya pekerja kerah-biru tetapi juga pekerja kerah-putih. Ini telah merusak kehidupan keluarga dan hubungan pribadi:

“Di mana kedua orang tua bekerja (yang merupakan hal biasa kecuali untuk para eksekutif yang paling senior), hari biasanya akan dimulai sebelum subuh untuk menyiapkan anak-anak dan mengantar mereka ke tempat penitipan anak. Kedua orang tua kemudian akan menghabiskan waktu yang panjang di tempat kerja sebelum menjemput anak-anak dari penitipan anak, berbelanja dalam perjalanan pulang, memberi makan semua orang, memasukkan cucian ke mesin cuci, membersihkan rumah, membaca untuk anak-anaknya sebelum tidur, dan kemudian tidur, setelah benar-benar kelelahan. Dan ini adalah hari-hari ketika semua berjalan mulus.”

“Sosiolog Arlie Hochschild menemukan bahwa para pekerja ini jarang mengambil cuti orang tua, biasa bekerja dengan jam kerja fleksibel, atau jarang memanfaatkan tunjangan lainnya. Sebaliknya, mereka bekerja dengan jam kerja yang semakin panjang, sering kali lembur di luar jam kerja standar mereka. Terkadang mereka benar-benar membutuhkan upah lembur tersebut. Tetapi lebih sering, dihadapkan pada pilihan antara stres di tempat kerja dan stres di rumah, baik pria maupun wanita memilih bekerja, di mana setidaknya mereka bisa bersosialisasi dengan rekan kerja mereka, dianggap serius, dan dibayar untuk kerja keras mereka, sedangkan di rumah mereka merasa terisolasi, diremehkan, dan tertekan dengan tuntutan yang tak berkesudahan. Tempat kerja telah menjadi rumah, dan rumah telah menjadi kerja keras.”

Namun para pekerja ini tidak puas dengan nasib mereka. Lebih dari separuhnya menyebut “kekurangan waktu” sebagai masalah terbesar mereka. Ini adalah salah satu kontradiksi paling mencolok dari kapitalisme modern. Ketika kemajuan iptek telah memungkinkan manusia untuk mengubah cara hidup mereka, dengan menciptakan kondisi kerja yang lebih baik dan jam kerja yang lebih pendek, jutaan rakyat justru harus menganggur, sementara jutaan lainnya yang cukup “beruntung” memiliki pekerjaan harus bekerja kerja dengan jam kerja yang panjang dan tekanan kerja yang mencekik. Mereka mengorbankan kesehatan mereka, kehidupan keluarga mereka dan waktu mereka bersama anak-anak mereka.

Justru kemajuan teknologi digunakan untuk mengintensifkan perbudakan buruh. Dengan penemuan-penemuan baru seperti telepon genggam, pager, dan laptop, kapitalis dapat semakin mengontrol buruh, bahkan tanpa pengawasan langsung. Garis pemisah antara tempat kerja dan rumah, antara jam kerja dan waktu luang, tidak lagi memiliki arti. Tirani Kapital, kuasanya atas pekerja dan keluarga mereka, menjadi absolut. Oleh karena itu, pertanyaan yang harus kita tanyakan pada diri kita sendiri di awal abad ke-21 bukanlah “Apakah ada kehidupan setelah kematian?” tetapi “Apakah ada kehidupan sebelum kematian?”

‘Shift kedua’

Agar bisa bekerja, perempuan yang memiliki anak harus mencari cara agar anak-anak mereka dapat diasuh. Dalam masyarakat yang waras, prinsip pendidikan universal gratis seharusnya diperluas kepada anak-anak sejak usia dini, dan juga cuti orang tua untuk beberapa tahun pertama. Namun, ibu-ibu kelas pekerja terpaksa meninggalkan anak-anak mereka di “tempat penitipan anak” berkualitas rendah, dengan pengasuh yang tidak berpengalaman dan tidak berkualifikasi. Dari situasi seperti itu, banyak tragedi telah terjadi. Pers yang sensasional memanfaatkan tragedi ini untuk mencerca perempuan. Tetapi mereka sama sekali tidak mencerca masyarakat yang menciptakan kondisi untuk tragedi semacam itu.

Menurut studi terbaru dari National Institute of Child Health and Human Development, sekitar 80 persen bayi Amerika diasuh oleh orang lain selain ibu mereka dalam 12 bulan pertama kehidupan mereka; sebagian besar dari mereka mulai diasuh di tempat penitipan anak sebelum berusia empat bulan; dan biasanya mereka di tempat penitipan anak selama sekitar 30 jam seminggu. Namun, studi tersebut menambahkan bahwa:

“Sebagian besar tempat penitipan anak ini jauh dari standar optimal yang kita bayangkan. Istilah ‘hampir tidak memadai’ telah menjadi istilah yang tepat untuk menggambarkan tempat penitipan anak pada umumnya di negara ini; sekitar 15-20 persen di antaranya sangat buruk dan bahkan berbahaya.” (The Economist, 18/7/98, penekanan kami.)

Bahkan tempat penitipan anak yang buruk ini terlalu mahal bagi banyak perempuan yang terpaksa menyerah mencari pekerjaan. Terlepas dari semua pembicaraan tentang emansipasi perempuan, perempuan karier, dan sebagainya, banyak yang tetap terperangkap di antara empat dinding rumah. Di Eropa secara keseluruhan, sekitar sepertiga dari mereka yang berusia produktif menyebut diri mereka sebagai “ibu rumah tangga”, menurut Panel Rumah Tangga Komunitas Eropa, meskipun itu mungkin termasuk beberapa yang memiliki pekerjaan paruh waktu. Semakin banyak anak yang mereka miliki, semakin besar kemungkinan mereka terkurung di rumah. “Terkurung di rumah belum tentu resep untuk kebahagiaan,” kata The Economist, “di hampir setiap negara Uni Eropa, perempuan yang bekerja di luar rumah tampaknya lebih sehat dan lebih puas dengan kehidupan daripada mereka yang tidak. Tetapi setidaknya mereka yang terkurung di rumah dibebaskan dari ‘shift kedua’: satu hari bekerja di rumah setelah satu hari bekerja untuk majikan mereka.”

Seratus tahun yang lalu dalam Program Erfurt Sosial Demokrasi Jerman kita membaca:

“Partisipasi perempuan dalam industri berarti menghancurkan secara total kehidupan keluarga buruh tanpa menggantinya dengan bentuk hubungan keluarga yang lebih tinggi. Sistem produksi kapitalis tidak menghancurkan rumah tangga buruh, tetapi merampoknya lebih lanjut tanpa menghancurkan fitur-fiturnya yang buruk. Keterlibatan perempuan saat ini dalam industri tidak berarti kebebasannya dari tugas-tugas rumah tangga; itu berarti menumpuk beban baru di atas beban lamanya. Tetapi seseorang tidak dapat melayani dua tuan. Rumah tangga buruh menderita setiap kali sang istri harus membantu mencari nafkah sehari-hari. Untuk menggantikan rumah tangga yang telah dihancurkan itu, masyarakat saat ini hanya menawarkan pengganti yang menyedihkan: rumah makan dan tempat penitipan anak, di mana kelas bawah hanya memperoleh remah-remah asupan fisik dan mental yang dinikmati kaum kaya.” (K. Kautsky, The Class Struggle, hlm. 26.)

Situasinya tidak berubah hari ini. Perempuan menderita perbudakan ganda: perbudakan di tempat kerja dan “shift kedua” di rumah. Istri pekerja Jepang, misalnya, menghabiskan sekitar tiga setengah jam sehari untuk tugas-tugas rumah tangga – di luar jam kerja mereka. Situasi serupa juga terjadi di negara-negara Barat lainnya yang katanya beradab.

Perempuan dan serikat buruh

Transformasi sosialis tidak akan terbayangkan tanpa perjuangan sehari-hari untuk perbaikan taraf hidup di bawah kapitalisme. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengabaikan perjuangan reforma. Namun, bagi kaum Marxis, yang terpenting adalah kenyataan bahwa kaum buruh belajar lewat perjuangan mereka. Tugas utama kita adalah “menjelaskan dengan sabar”, dimulai dari perempuan yang paling sadar-kelas dan aktif di serikat buruh dan partai buruh, mengenai perlunya transformasi sosialis, tidak hanya secara nasional tetapi juga internasional. Kita harus berusaha meningkatkan level kesadaran mereka, untuk membuat mereka tertarik pada problem-problem yang lebih luas, pada teori dan gagasan, dan memenangkan mereka ke Marxisme. Kita harus berhati-hati agar tidak jatuh ke perangkap yang sama yang telah menjerat banyak kaum Kiri, yang berpikir bahwa perempuan hanya tertarik pada apa-yang-disebut isu-isu perempuan. Meskipun isu-isu ini penting, akan menjadi kesalahan serius untuk meremehkan minat perempuan pada isu-isu yang lebih luas dan masalah-masalah fundamental lainnya. Sebaliknya, pejuang kelas perempuan terbaik akan tertarik dan antusias dengan teori dan program revolusioner Marxisme.

Perjuangan untuk kepentingan perempuan harus dimulai di tempat kerja. Perjuangan untuk mengorganisir buruh perempuan ke dalam serikat buruh, dan untuk memperjuangkan upah dan kondisi kerja yang layak, serta kesetaraan penuh dengan buruh laki-laki, merupakan tugas pertama kaum Marxis. Buruh perempuan memiliki potensi revolusioner yang sangat besar bagi gerakan buruh, yang tidak mampu dikembangkan oleh kaum birokrat serikat yang kaku dan konservatif. Kondisi produksi yang baru, dan perluasan industri jasa, telah secara masif meningkatkan jumlah perempuan yang bekerja dalam kondisi kerja yang buruk, yang sebagian besar tidak terorganisir dalam serikat buruh. Kaum Marxis di serikat buruh harus mengambil inisiatif untuk mengajukan kampanye untuk mengorganisir lapisan buruh yang tidak terorganisir, dan khususnya perempuan dan kaum muda.

Isu utamanya adalah diskriminasi terhadap perempuan di tempat kerja. Perempuan di seluruh dunia, rata-rata, dibayar lebih rendah daripada laki-laki – biasanya sekitar 20-30 persen lebih rendah – untuk jenis pekerjaan yang serupa. Dan upah yang lebih rendah biasanya berarti tunjangan yang lebih kecil dan pensiun yang lebih kecil, atau bahkan tidak sama sekali. Ini tidak hanya merugikan perempuan, tetapi juga buruh laki-laki, karena ini akan menekan upah dan kondisi kerja buruh pada umumnya. Oleh karenanya, upah rendah untuk perempuan dan kaum muda adalah sesuatu yang reaksioner, yang tujuannya memecah-belah kelas buruh, dan kita tidak bisa menerima ini. Ini juga menjelaskan mengapa banyak perempuan tidak tertarik dengan serikat buruh yang tidak berjuang untuk kepentingan mereka. Mengorganisir buruh yang tidak terorganisir adalah tugas mendasar serikat buruh, terutama di zaman sekarang ini. Yang sangat penting adalah perjuangan untuk memenangkan “upah yang sama untuk pekerjaan yang bernilai sama”. Namun, prinsip “upah sama untuk pekerjaan sama” dapat dengan mudah diputarbalikkan dan dihindari oleh kaum kapitalis, karena sering kali sulit atau bahkan tidak mungkin untuk membandingkan berbagai jenis pekerjaan yang dilakukan oleh pria dan wanita di berbagai cabang produksi.

Seperti yang dinyatakan dalam sebuah survei di The Economist (18/7/98):

“Kali ini, untungnya, kaum perempuan mendapati pekerjaan sudah menanti mereka. Seiring dengan restrukturisasi ekonomi negara-negara maju, tercipta banyak pekerjaan baru di sektor jasa, yang sangat berbeda dengan pekerjaan manufaktur yang pasti dan penuh waktu, yang sebagian besar diisi oleh laki-laki. Banyak dari pekerjaan baru ini bersifat paruh-waktu atau melibatkan jam kerja yang tidak reguler, yang menawarkan dan membutuhkan tingkat fleksibilitas yang sering kali cocok untuk perempuan. Pekerjaan ini kebanyakan ada di sektor berstatus-rendah dan bergaji rendah seperti sales, restoran, dan kebersihan, yang kurang menarik bagi pencari nafkah laki-laki.”

Di sektor yang mempekerjakan banyak perempuan tetapi sedikit laki-laki, upah cenderung rendah. Ini terutama kita temui di sektor sales, kebersihan, dan jasa restoran, dan juga di sektor pelayanan kesehatan dan pendidikan, walaupun upahnya sedikit lebih baik karena ini biasanya pekerjaan sektor publik. Dengan begitu banyak perempuan terkonsentrasi di pekerjaan bergaji-rendah, tidak mengherankan bahwa, meskipun banyak undang-undang kesetaraan upah, masih ada kesenjangan besar antara pendapatan laki-laki dan perempuan. Akibat perjuangan buruh perempuan dan serikat buruh, kesenjangan tersebut semakin mengecil: di Amerika, misalnya, dalam 20 tahun terakhir upah per jam perempuan telah meningkat dari 64 persen upah laki-laki menjadi lebih dari 80 persen. Tetapi perbedaan tersebut masih ada, dan semakin rendah upahnya maka semakin besar kesenjangan ini.

Pekerja profesional muda tanpa anak, baik laki-laki maupun perempuan, yang bekerja penuh-waktu di AS, sering kali upahnya sama. Namun untuk pekerja perempuan bergaji rendah di sektor industri, upah mereka rata-rata jauh lebih kecil daripada laki-laki.

Perempuan juga didiskriminasi karena fungsi biologis mereka. Dalam masyarakat hari ini, memiliki anak, yang seharusnya menjadi momen yang membahagiakan, sering kali menjadi malapetaka, terutama bagi sang ibu. Seringkai ini berarti kehilangan pekerjaan dan terjerumus ke dalam kemiskinan yang parah, serta ketergantungan yang memalukan pada tunjangan negara. Pers borjuis, terutama di Inggris dan Amerika, secara sinis mencap ibu tunggal sebagai parasit “yang hidup dari negara”, tanpa menjelaskan bagaimana perempuan-perempuan ini ditolak aksesnya ke pasar tenaga kerja dan dipinggirkan dari masyarakat dengan cara yang paling brutal dan tidak manusiawi. Tetapi bahkan jika ia berhasil mempertahankan pekerjaannya, pendapatannya akan menurun. “Tetapi begitu perempuan mulai memiliki anak, gaji relatif mereka turun, dan semakin banyak anak yang mereka miliki, semakin tertinggal gaji mereka,” begitu lapor The Economist (18/7/98).

Marxisme atau feminisme?

Kaum Marxis harus dengan gigih memperjuangkan hak-hak perempuan, melawan ketidaksetaraan dan segala bentuk penindasan, diskriminasi, dan ketidakadilan. Tetapi kita harus selalu melakukan ini dari sudut pandang kelas. Sambil terus berjuang untuk setiap reforma nyata bagi perempuan, kita harus menjelaskan bahwa satu-satunya cara untuk benar-benar mencapai emansipasi penuh bagi kaum perempuan – dan semua lapisan masyarakat tertindas lainnya – adalah dengan menumbangkan secara revolusioner sistem kapitalis. Ini membutuhkan persatuan yang maksimal antara buruh laki-laki dan perempuan dalam perjuangan melawan kapitalisme. Setiap gagasan yang cenderung mengadu domba perempuan dengan laki-laki, atau memecah belah dan memisahkan perempuan dari gerakan buruh lainnya atas nama “pembebasan perempuan” atau apa pun, adalah gagasan yang sangat reaksioner dan harus dilawan dengan gigih.

Kita berjuang demi persatuan proletariat, tanpa memandang jenis kelamin, ras, warna kulit, agama, atau kebangsaan. Dengan demikian, perjuangan kita untuk hak perempuan tentu saja memerlukan perjuangan tanpa henti melawan segala jenis feminisme borjuis dan borjuis kecil. Kecenderungan semacam itu selalu menguntungkan unsur-unsur yang paling reaksioner, berperan sebagai pemecah belah, dan menabur kebingungan di antara perempuan yang bergerak ke arah sosialisme. Dalam hal ini, seperti halnya masalah lainnya, kita harus mengambil posisi kelas yang tegas. Seperti yang telah kita lihat, dalam resolusi mereka partai Bolshevik dan Internasional Ketiga selalu berbicara tentang “perempuan pekerja” dan bukan perempuan secara umum. Memang perjuangan untuk hak-hak perempuan mencakup semua perempuan, dari perempuan proletar, ibu rumah tangga, perempuan pengangguran, pelajar, dll. Tetapi unsur kuncinya adalah perempuan proletar yang saat ini mencakup proporsi besar kelas buruh.

Pencapaian “hak setara” secara formal semata, tanpa mengubah hubungan sosial, sangatlah terbatas dan tidak menyentuh akar fundamental penindasan perempuan dalam masyarakat kapitalis. Selama periode terakhir, sebagian besar “reforma” yang terkait dengan “diskriminasi positif” justru menjadi alat untuk memajukan selapisan borjuis kecil yang berambisi. Dalam dekade terakhir, suara feminisme borjuis-kecil, yang biasanya begitu lantang memperjuangkan tuntutan “kesetaraan” (yakni hak untuk memiliki pendeta perempuan, manajer perempuan, CEO perempuan dan sebagainya), semakin kurang terdengar. Mengapa? Karena, kaum feminis kelas-menengah ini sebagian besar telah memperoleh apa yang mereka tuntut.

Kaum borjuis telah membuka sedikit ruang kepada segelintir perempuan kelas-menengah untuk menjabat sebagai CEO, hakim, bankir, birokrat, dan pendeta. Jumlah perempuan yang mendapatkan promosi ke level manajemen menengah telah meningkat dari 4% menjadi 40% selama 20 tahun terakhir di AS. 419 perusahaan Fortune 500 sekarang memiliki setidaknya satu perempuan di dewan direksi mereka, dan sepertiga di antaranya memiliki dua atau lebih perempuan. Jadi, segelintir perempuan telah berhasil. Para perempuan pemburu-karier dari kelas borjuis dan borjuis kecil ini selalu mendukung emansipasi perempuan, “satu per satu, dimulai dari saya sendiri”.

Itulah mengapa kita selalu menentang feminisme borjuis dan borjuis-kecil. Feminisme tersebut tidak memiliki kesamaan dengan perjuangan nyata untuk emansipasi perempuan, yang hanya dapat terwujud melalui penggulingan kapitalisme. Setelah para perempuan kelas-menengah ini menyelesaikan “masalah” pribadi mereka dalam batasan kapitalisme, mereka dengan begitu mudahnya melupakan 99 persen perempuan kelas-pekerja yang menderita penindasan dan eksploitasi paling mengerikan. Justru, para “feminis” ini kini bergabung dengan kelas penghisap dan penindas yang berkuasa. Fenomena serupa kita temui dalam gerakan kulit-hitam, di mana selapisan kaum kulit hitam kelas-menengah telah menjadi makmur dari “industri hubungan ras” dalam beberapa tahun terakhir. Kelas penguasa selalu dapat memberikan “konsesi” semacam ini kepada gerakan yang sama sekali tidak mengancam kekuasaannya.

Kaum revolusioner tidak mendukung kebijakan “diskriminasi positif” (atau “aksi afirmatif”), baik untuk perempuan, orang kulit hitam, atau kelompok tertindas lainnya. Ini adalah tuntutan borjuis-kecil yang tujuannya mengalihkan perhatian kita dari akar fundamental ketidaksetaraan. Pada hakikatnya, penetapan kuota untuk perempuan, orang kulit hitam, dll., berfungsi untuk memajukan segelintir kaum minoritas pemburu-karier, guna memberikan kesan bahwa “sesuatu sedang dilakukan” sementara masalah fundamentalnya dibiarkan tidak tersentuh. Metode kuota ini sama sekali tidak menyelesaikan masalah diskriminasi, tetapi justru mengalihkan perhatian kita dan tidak lebih dari tokenisme. Terlebih lagi, ini biasanya merupakan metode yang digunakan oleh birokrasi gerakan buruh untuk memblokir sayap kiri. Dengan kebijakan afirmatif, sayap birokrasi gerakan buruh mengisi komite, dewan, dan parlemen dengan perempuan atau orang kulit-hitam sayap-kanan dan karieris yang menjadi antek mereka. Di AS, kelas penguasa menggunakan kebijakan diskriminasi positif untuk meredam gerakan anti-rasisme, dengan cara mempromosikan selapisan orang kulit-hitam yang orientasinya hanya memburu jabatan. Lapisan kulit-hitam kelas-menengah ini menggunakan perjuangan melawan rasisme untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dan bergaji tinggi, dan lalu membuat gerakan menjadi “moderat” dan “lebih realistis”.

Memang benar ada banyak perempuan kelas-pekerja dan perempuan muda yang jujur yang mungkin menyebut diri mereka feminis tanpa memahami dengan jelas apa artinya. Kita harus bersikap fleksibel dan positif terhadap mereka, seperti halnya terhadap lapisan tertindas lainnya. Tetapi sebagaimana kita menentang nasionalisme, demikian pula kita menentang feminisme. Kita selalu mendekati masalah ketidaksetaraan dari sudut pandang kelas pekerja dan sosialisme, dan bukan dari sudut pandang lain. Ketika perempuan kelas-pekerja mengungkapkan keprihatinan mereka tentang masalah yang dihadapi oleh kaum perempuan (upah yang tidak setara, beban pekerjaan rumah tangga, pelecehan seksual dan kekerasan terhadap perempuan) dan ingin melawan hal-hal tersebut, ini berbeda dari tendensi borjuis dan borjuis-kecil yang mencoba memanfaatkan isu perempuan untuk menciptakan jurang pemisah antara perempuan dan laki-laki kelas-pekerja. Keprihatinan perempuan kelas-pekerja ini adalah semacam deklarasi bahwa mereka muak dengan ketidaksetaraan dan ingin melawannya. Ini bisa menjadi titik awal partisipasi dalam perjuangan untuk mengubah masyarakat ke arah sosialisme, sedangkan feminisme borjuis dan borjuis-kecil memperjuangkan masalah perempuan secara terpisah dan mencari solusi dalam batasan sistem kapitalis. Ini pasti mengarah pada kesimpulan reaksioner.

Ancaman terhadap budaya

Perempuan memiliki problem khusus yang harus ditangani. Bukan hanya problem diskriminasi di tempat kerja, upah yang lebih rendah, tidak adanya hak, dan lain-lain, tetapi juga problem yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan lain-lain. Peran perempuan sebagai ibu berarti kita harus memperjuangkan hak-hak khusus untuk melindungi mereka. Kesetaraan formal di mata hukum, meskipun tidak diragukan lagi merupakan langkah maju, tidak menyelesaikan masalah mendasar perempuan:

“Tuntutan feminis yang paling radikal sekali pun – seperti perluasan hak pilih untuk perempuan dalam kerangka parlementer borjuis – tidak menyelesaikan masalah kesetaraan bagi perempuan, terutama perempuan kelas-pekerja. Pengalaman perempuan pekerja di semua negara kapitalis, di mana dalam beberapa tahun terakhir kaum borjuis telah memperkenalkan kesetaraan formal, memperjelas hal ini. Hak pilih tidak menyingkirkan penyebab utama perbudakan perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Sejumlah negara borjuis telah memperkenalkan pernikahan sipil, yang menggantikan bentuk pernikahan sebelumnya yang tidak memperbolehkan perceraian. Tetapi selama perempuan proletar tetap bergantung secara ekonomi pada kapitalis dan suaminya sebagai pencari nafkah, dan tanpa adanya langkah-langkah komprehensif untuk melindungi ibu dan anak serta menyediakan pelayanan penitipan anak dan pendidikan anak yang tersosialisasi, ini tidak dapat menciptakan kesetaraan dalam kedudukan perempuan dalam perkawinan atau menyelesaikan masalah hubungan antara laki-laki dan perempuan.” (Theses, Resolutions and Manifestos of the First Four Congresses of the Third International, hal. 215.)

Seluruh sejarah reforma sosial selama abad terakhir telah menunjukkan bahwa ini sepenuhnya benar.

Masalah perempuan tidak berhenti di gerbang pabrik atau kantor, tetapi meluas ke rumah dan masyarakat. Kita harus berjuang untuk menghapus semua undang-undang yang diskriminatif; untuk kesetaraan penuh perempuan dan laki-laki di mata hukum; untuk hak cerai dan aborsi yang sepenuhnya; untuk akses gratis ke kontrasepsi dan pemeriksaan kesehatan; untuk layanan penitipan anak yang universal, gratis, dan berkualitas baik. Kita harus menyusun program tuntutan transisional, yang dimulai dari kebutuhan perempuan yang paling mendesak, tidak hanya di tempat kerja, tetapi juga di rumah, penitipan anak, pendidikan, perumahan, transportasi umum, pensiun, waktu luang, hak hukum, dll. Sambil memperjuangkan setiap tuntutan progresif yang dapat memperbaiki kesejahteraan perempuan, kita harus menanamkan konten kelas pada tuntutan-tuntutan ini. Misalnya, kita harus menuntut pendirian tempat penitipan anak berkualitas baik yang dibiayai oleh negara. Namun, perjuangan sehari-hari untuk hak-hak pekerja perempuan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk membuat perempuan menyadari posisi mereka sebagai anggota kelas yang dieksploitasi, dan perlunya memperjuangkan masyarakat sosialis di mana hak-hak mereka sebagai manusia akan dijunjung tinggi.

Kemerosotan sistem kapitalisme saat ini mengancam seluruh fondasi kehidupan manusia. Di samping problem-problem sosial dan ekonomi yang disebabkan oleh kemiskinan, upah rendah, dan pengangguran, kaum proletar semakin dihadapkan pada masalah narkoba dan berbagai macam kejahatan yang terutama mengancam perempuan, anak-anak, dan kaum muda. Kaum reaksioner dan pendeta mengeluh tentang “kemerosotan moral” tetapi tidak mampu menghubungkannya dengan krisis masyarakat kapitalis. Gerakan buruh harus berjuang untuk mempertahankan kebudayaan dan peradaban yang ada, yang kini terancam oleh kemunduran kapitalisme. Keluarga yang lama sedang luluh lantak, tetapi tidak ada yang menggantikannya. Akibatnya, jutaan perempuan, banyak di antaranya masih muda dan rentan, menghadapi kehidupan yang penuh kesengsaraan sebagai orang tua tunggal yang bergantung pada tunjangan dari pemerintah. Seolah penderitaan mereka belum cukup, kaum penguasa yang munafik menghina, mempermalukan, dan mengkriminalisasi mereka, menggambarkan mereka sebagai sampah sosial, yang “hidup seperti parasit” (padahal kaum borjuis-lah yang hidup seperti parasit).

Di Inggris, salah satu tindakan pertama pemerintahan Blair adalah menyerang tunjangan untuk ibu tunggal. Beberapa tahun lalu, seorang politisi perempuan Australia, Pauline Hanson, pemimpin Partai One Nation, menyerukan pemangkasan anggaran sosial untuk ibu tunggal jika mereka memiliki anak kedua. “Saya akan menindak tegas para perempuan lajang yang terus memiliki anak demi anak dengan ayah yang berbeda, dengan dibiayai pajak rakyat,” katanya. Di Australia, ada 360.000 orang tua tunggal yang menerima total $2,9 miliar per tahun dari total anggaran sosial sebesar $42 miliar. Usia rata-rata mereka 33 tahun, dan mereka rata-rata hanya diberi $107 per minggu untuk memberi makan, menyediakan tempat tinggal, dan pakaian untuk anak-anak mereka. Ini sesungguhnya menghemat jumlah yang jauh lebih besar bagi pemerintah  bila mereka membesarkan anak-anak ini di panti asuhan. Contoh serupa dapat kita saksikan di banyak negara lainnya, di mana kelas penguasa memangkas anggaran sosial dengan dalih menyerang “budaya ketergantungan”. Inilah kemunafikan “moral Kristen”, yang melayani kelas kapitalis dan tujuannya memangkas anggaran sosial. Ini sesungguhnya mengekspos sikap masyarakat borjuis terhadap perempuan dan anak-anak.

Posisi perempuan janda juga merupakan masalah kelas. Tergantung kelas sosial mana seorang perempuan berasal, dampak perceraian dan “menjadi orang tua tunggal” akan sangat berbeda. Misalnya, dalam kasus perceraian seorang jutawan Robert I. Goldman, seorang hakim menganugerahi 50 persen kekayaan sang jutawan – yakni $100 juta – kepada mantan istrinya. “Selamat Datang di Perceraian Eksekutif Baru,” tulis BusinessWeek (8/5/98). Menurut koran tersebut: “Kekuatan budaya, hukum, dan ekonomi bersatu padu untuk membuat perceraian di AS lebih mahal daripada sebelumnya – terutama bagi pengusaha kaya-raya (!). Dan itu, pada gilirannya, membuat seluruh proses perceraian, yang sejak awal tidak pernah menyenangkan, menjadi jauh lebih buruk. Para suami menyembunyikan uang mereka lewat bank rahasia di Karibia, para istri menuduh mantan suami mereka melakukan kekerasan, dan para pengacara memperoleh bayaran jutaan dolar.”

Para sosiolog borjuis menampilkan orang tua tunggal “modern” sebagai contoh sempurna kemajuan sosial dan emansipasi. Dalam 20 tahun terakhir, Biro Sensus AS melaporkan jumlah perempuan yang hidup sendirian telah berlipat ganda menjadi 15 juta. Sebuah buku baru-baru ini yang berjudul The Improvised Woman, Reinventing Women in a Single Life menyajikan gambaran ideal tentang perempuan yang katanya hidup tanpa beban ini: “Perempuan yang belum menikah ini membeli mobil, melahirkan atau mengadopsi anak, dan naik ke posisi berpengaruh.” Demikian klaimnya. Tetapi statistik umum tersebut menyembunyikan fakta bahwa mayoritas besar ibu tunggal, banyak di antaranya berkulit hitam, tinggal di permukiman kumuh di negara terkaya di dunia, dalam kondisi negara dunia ketiga. Ibu-ibu tunggal ini hidup dalam mimpi buruk kemiskinan, narkoba, kejahatan, dan kekerasan.

Di bawah krisis kapitalisme, pemerintah di mana-mana berupaya memangkas pengeluaran negara. Mereka menyerang taraf hidup, kesehatan, dan pendidikan, dan semua ini berdampak buruk pada kelas pekerja. Tetapi perempuan-lah yang merasakan dampak yang paling buruk. Mereka paling tereksploitasi, melakukan pekerjaan terburuk, dengan perlindungan dan keamanan kerja yang paling minim. Terlebih lagi, perempuan mengalami penindasan ganda. Mereka ditindas sebagai kelas pekerja, dan juga sebagai perempuan. Satu-satunya solusi untuk masalah perempuan adalah dengan berjuang untuk menggulingkan kapitalisme dan menggantinya dengan sosialisme, sebuah sistem yang dapat menjamin kebebasan sejati bagi laki-laki dan perempuan – kebebasan untuk mengembangkan diri secara pribadi dan intelektual.

Meskipun kita menyadari bahwa hanya masyarakat sosialis yang pada akhirnya akan menghapus eksploitasi dan penindasan, kita juga harus berjuang semaksimal mungkin melawan prasangka-prasangka terbelakang dan reaksioner, terutama dalam gerakan buruh, yang merusak persatuan kaum buruh dan menghambat perjuangan emansipasi kelas buruh. Kita harus memperjuangkan moralitas proletar sejati, di mana kita memperlakukan semua buruh, laki-laki atau perempuan, kulit hitam atau putih, sebagai setara dan sesama saudara, yang bersatu dalam perjuangan melawan Kapital.

Perempuan dalam perjuangan

Kita harus bisa menjangkau perempuan kelas-pekerja di manapun mereka berada, tidak hanya di tempat kerja. Ada banyak perempuan yang dapat dilibatkan dalam perjuangan melawan kapitalisme dalam isu-isu lain, misalnya perumahan yang buruk, krisis biaya hidup, sewa yang tinggi, dan lain-lain. Ini ditunjukkan oleh kampanye melawan Poll Tax di Inggris pada 1980an.

Selain itu, bila ada pemogokan di tempat kerja yang didominasi buruh laki-laki, sangat penting untuk melibatkan secara aktif istri-istri para buruh. Mereka dapat menjadi kekuatan yang sangat besar, tetapi ini sering diabaikan oleh buruh laki-laki. Contoh yang baik dapat kita saksikan selama pemogokan buruh tambang Inggris pada 1984-85. Istri-istri buruh tambang terorganisir dalam “komite pendukung”, yang terhubung dengan serikat buruh dan komite pemogokan. Mereka memainkan peran yang sangat penting dalam pemogokan tersebut, dan pada saat yang sama mereka belajar dengan sangat cepat. Begitu perempuan aktif dalam perjuangan, seluruh pandangan mereka berubah dengan cepat. Bahkan perempuan yang sebelumnya terbelakang secara politik, konservatif, atau religius dapat dengan cepat mengembangkan kesadaran revolusioner, terutama bila ada organisasi Marxis yang dapat membantu menjelaskan berbagai hal kepada mereka.

Dalam keadaan seperti itu, kita harus selalu siap mengambil inisiatif untuk melibatkan perempuan. Jelas, ini harus dilakukan sebagai bagian dari serikat buruh dan komite pemogokan, dan bukan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan gerakan buruh, seperti yang selalu diupayakan oleh sekte-sekte Kiri dan kaum anarkis. Komite ad hoc semacam itu tidak dapat memiliki signifikansi independen, dan cenderung akan lenyap ketika gerakan mogok berakhir. Upaya untuk mempertahankan keberadaan mereka secara artifisial berarti bahwa mereka cenderung menjadi birokratis dan dimonopoli oleh elemen-elemen yang tidak representatif, borjuis kecil, sektarian, dll., sehingga ketika gerakan dimulai kembali, mereka menjadi penghalang. Tujuan berpartisipasi dalam komite semacam itu bukanlah untuk mempertentangkan mereka dengan serikat buruh, tetapi untuk memastikan bahwa perempuan mulai aktif dalam organisasi buruh untuk mengubahnya. Seiring dengan transformasi metode produksi, di mana industri berat lama digantikan oleh metode produksi yang lebih modern dan berdasarkan teknologi informasi, perempuan menjadi bagian penting dari angkatan kerja dan semakin menjadi mayoritas.

Namun, pada akhirnya emansipasi perempuan hanya akan tercapai melalui emansipasi kelas buruh secara keseluruhan, seperti yang dipaparkan oleh Tesis Internasional Ketiga:

“Sembari menekankan bahwa tugas mendesak Partai, baik di Barat maupun Timur, adalah meningkatkan kerja Partai di kalangan proletariat perempuan, Kongres Ketiga Komintern pada saat yang sama menunjukkan kepada perempuan pekerja di seluruh dunia bahwa pembebasan mereka dari perbudakan selama berabad-abad, kurangnya hak, dan ketidaksetaraan hanya dimungkinkan melalui kemenangan Sosialisme, dan bahwa gerakan perempuan borjuis sama sekali tidak mampu menjamin perempuan apa yang dapat diberikan oleh Sosialisme. Selama kekuasaan modal dan kepemilikan pribadi masih ada, maka pembebasan perempuan dari ketergantungan pada suami tidak dapat melampaui hak yang setara untuk mengatur harta miliknya sendiri dan upahnya sendiri, serta memutuskan masa depan anak-anaknya.”

Sosialisme dan keluarga

Sejak awal, masalah emansipasi perempuan telah menempati posisi sentral dalam teori Marxisme. Menjawab pertanyaan “apa pengaruh tatanan masyarakat sosialis terhadap keluarga?” Engels menulis:

“Sosialisme akan menjadikan hubungan antara laki-laki dan perempuan sebagai urusan pribadi yang hanya menyangkut orang-orang yang terlibat, dan tidak memerlukan campur tangan masyarakat. Ini dapat dilakukan karena Sosialisme menghapus kepemilikan pribadi dan mendidik anak-anak secara kolektif, sehingga menghancurkan dua pilar perkawinan yang ada selama ini – ketergantungan istri pada suaminya dan ketergantungan anak-anak pada orang tua, keduanya dikondisikan oleh kepemilikan pribadi. Ini adalah jawaban terhadap hingar-bingar kaum filistin moralis mengenai komunitas istri komunis. Komunitas istri adalah hubungan yang sepenuhnya datang dari masyarakat borjuis dan ada saat ini dalam bentuknya yang sempurna sebagai prostitusi. Namun, prostitusi berakar pada kepemilikan pribadi dan akan runtuh bersamanya. Oleh karena itu, organisasi sosialis, alih-alih membangun komunitas perempuan, justru akan mengakhirinya.”

Asal mula perbudakan perempuan, seperti yang kemudian dijelaskan Engels, dapat ditemukan dalam kepemilikan pribadi, dan hanya akan sepenuhnya terhapus dengan menghapus secara radikal kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi dan pembagian kerja. Dalam buku Asal Usul Keluarga, Engels menulis:

“Di atas kita telah melihat bagaimana tenaga kerja manusia mampu, pada tahap awal perkembangan produksi, menghasilkan jauh lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk memelihara para produsen, dan bagaimana tahap ini, pada umumnya, bertepatan dengan munculnya pembagian kerja dan pertukaran antar individu untuk pertama kalinya. Sekarang, kita telah menemukan ‘kebenaran’ besar bahwa manusia pun dapat menjadi komoditas; bahwa tenaga manusia dapat dipertukarkan dan dimanfaatkan dengan mengubah manusia menjadi budak. Manusia baru saja mulai melakukan pertukaran ketika mereka sendiri dipertukarkan. Yang aktif menjadi pasif, tidak peduli kita menginginkannya atau tidak.”

Hubungan antara laki-laki dan perempuan di bawah kapitalisme terdistorsi dan menjadi tidak manusiawi karena sistem produksi komoditas universal mereduksi manusia menjadi benda. Bukan hanya hubungan antara laki-laki dan perempuan saja, tetapi semua hubungan sosial secara umum cenderung menjadi tidak manusiawi dan terasing di bawah apa yang digambarkan Marx dan Engels sebagai “hubungan uang”. Ini adalah masyarakat yang tidak alami, didominasi oleh hubungan yang tidak alami. Apakah mengherankan jika orang berhenti berperilaku dan berpikir sebagai manusia dan bahkan mampu bertindak seperti monster dalam beberapa kasus? Orang tua mulai menganggap anak-anak mereka sebagai milik pribadi mereka. Suami menganggap istri mereka dengan cara yang sama. Di bawah tekanan kehidupan yang tak mengenal belas kasihan, dalam “ekonomi pasar” di mana Uang adalah Tuhan, hubungan antar-manusia menjadi terdistorsi hingga tak dapat dikenali lagi. Seperti yang dijelaskan Engels:

“Hari ini, produk berkuasa atas produsen; hari ini, totalitas produksi masyarakat diatur, bukan oleh rencana yang dipikirkan bersama, tetapi oleh hukum buta, yang beroperasi dengan kekuatan elemental, dan pada analisa terakhir beroperasi dalam badai krisis komersial yang terjadi secara periodik.” (Ibid., hlm. 331.)

Untuk menyelesaikan secara serius masalah perbudakan perempuan, kita harus melihat melampaui gejalanya saja. Tentu saja, seperti yang telah kita katakan, kita harus melawan segala bentuk diskriminasi dan ketidaksetaraan. Namun selama akar penindasan terhadap perempuan tidak diberantas, maka esensi masalah ini tidak akan teratasi. Perempuan hanya akan bebas bila manusia bebas. Artinya, ketika umat manusia mulai menjalani kehidupan yang benar-benar manusiawi. Engels menjelaskan:

“Namun, yang pasti akan hilang dari monogami adalah semua karakteristik yang muncul sebagai konsekuensi dari relasi properti. Pertama, dominasi laki-laki, dan kedua, perkawinan yang tidak memperbolehkan perceraian. Dominasi laki-laki dalam perkawinan hanyalah konsekuensi dari dominasi ekonominya dan akan lenyap bersamanya secara otomatis. Perkawinan yang tidak memperbolehkan perceraian sebagian merupakan konsekuensi dari kondisi ekonomi di mana monogami muncul, dan sebagian lagi berakar dari tradisi masa lalu ketika hubungan antara kondisi ekonomi ini dan monogami belum dipahami dengan benar dan dibesar-besarkan oleh agama. Saat ini, hubungan tersebut telah dilanggar ribuan kali. Jika hanya perkawinan yang berdasarkan cinta yang bermoral, maka, perkawinan hanya bermoral bila cinta masih ada. Durasi dorongan cinta seksual individu sangatlah berbeda dari orang ke orang, terutama di antara laki-laki; dan bila cinta sudah tidak ada lagi, atau diganti dengan cinta yang baru dan penuh gairah, maka perpisahan adalah berkah bagi kedua belah pihak dan bagi masyarakat.” (Ibid., hlm. 254.)

Program Internasional Ketiga untuk peralihan menuju sosialisme membayangkan:

“Ruang makan komunal, binatu umum, tempat jahit umum, lembaga kesejahteraan sosial, komune rumah-tangga, dll., yang mengubah kehidupan sehari-hari sesuai dengan garis Sosialis yang baru dan meringankan kesulitan perempuan selama masa peralihan ke sosialisme. Lembaga-lembaga sosial semacam itu membantu membebaskan kehidupan sehari-hari perempuan, mengubah budak rumah dan keluarga menjadi anggota kelas pekerja yang bebas – kelas yang menjadi tuannya sendiri dan menciptakan bentuk-bentuk kehidupan baru.”

Namun, dalam kondisi keterbelakangan dan kemiskinan yang melanda Rusia setelah tahun 1917, ide-ide ini tidak dapat dipraktikkan secara memadai. Seperti yang dijelaskan Trotsky:

“Kita tidak dapat ‘menghapuskan’ keluarga; Kita harus menggantinya. Pembebasan perempuan yang sesungguhnya tidak dapat diwujudkan bila masih ada ‘kemiskinan umum’.” (Trotsky, Perempuan dan Keluarga, hlm. 62.)

Keluarga tidak dapat dihapuskan, sama seperti negara. Menghilangnya keluarga dan negara secara bertahap dalam masa peralihan menuju masyarakat tanpa kelas bergantung pada transformasi kondisi material kehidupan massa, dan oleh karena itu, transformasi cara orang berpikir dan berhubungan satu sama lain. Pada akhirnya, dengan tercapainya keberlimpahan dan tingkat budaya yang tinggi, kebiasaan lama dan psikologi perbudakan akan berubah dan bersamaan dengan itu hubungan antara laki-laki dan perempuan. Tetapi syarat utama untuk ini adalah transformasi dalam kondisi kehidupan itu sendiri. Pengurangan jam kerja hingga seminimal mungkin adalah syarat mutlak emansipasi sosial. Selain itu, kemajuan teknologi harus memungkinkan penghapusan pekerjaan rumah tangga, yang merupakan basis perbudakan domestik perempuan.

Akar penyebab semua penindasan, baik terhadap perempuan, orang kulit hitam, atau kelompok tertindas lainnya, pada akhirnya terletak pada perbudakan dan keterasingan yang berakar pada produksi komoditas. Hanya ketika ini dihapuskan, dan kondisi kehidupan seluruh masyarakat diubah, maka keluarga dan negara – dua sisa-sisa barbarisme – akhirnya akan lenyap. Ketika psikologi primitif dan tidak manusiawi yang lahir dari penderitaan akhirnya lenyap, kondisi material akan tercipta untuk tatanan sosial baru di mana sisa-sisa terakhir paksaan dan tekanan eksternal akan lenyap dan laki-laki dan perempuan akhirnya dapat berhubungan satu sama lain sebagai manusia yang bebas.

8 Maret, 2000

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Dunia 2025: Dunia Terjungkir Balik – Sistem Kapitalisme dalam Krisis
    Perspektif Politik 2025: Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme