Dokumen ini ditulis pada 2018 ketika berbagai gagasan borjuis-kecil seperti Politik Identitas, Interseksionalitas, Teori Queer, dsb. mulai menjadi populer di antara banyak aktivis. Tujuan dokumen ini adalah untuk menarik garis pemisah antara Marxisme dan serangkaian gagasan kelas asing yang idealis dan postmodernis, yang belakangan ini telah memengaruhi banyak aktivis kiri dan digunakan secara reaksioner di dalam gerakan. Dokumen ini merupakan seruan untuk mengintensifkan perjuangan teoritis dan politis melawan ide-ide kelas asing ini.
——————–
Krisis kapitalisme hari ini telah memicu beragam oposisi terhadap tatanan yang ada, nilai-nilainya, moralitasnya, serta ketidakadilan dan penindasan yang tak tertanggungkan. Kontradiksi sentral dalam masyarakat tetaplah antagonisme antara buruh upahan dan kapital. Namun, penindasan mengambil beragam bentuk, beberapa di antaranya jauh lebih tua dan lebih mengakar daripada perbudakan upahan.
Salah satu bentuk penindasan yang paling universal dan keji adalah penindasan terhadap perempuan di dunia yang didominasi laki-laki. Perlawanan perempuan melawan penindasan ini sangatlah penting dalam perjuangan revolusi sosialis, yang tidak dapat dicapai tanpa partisipasi penuh perempuan dalam perjuangan melawan kapitalisme.
Selama berabad-abad, salah satu pilar stabilitas masyarakat kelas adalah keluarga: yaitu, perbudakan perempuan terhadap laki-laki. Bentuk perbudakan ini jauh lebih tua daripada kapitalisme. Sebagaimana dijelaskan Engels, munculnya keluarga patriarki merupakan “kekalahan historis-dunia kaum perempuan. Laki-laki juga berkuasa di rumah tangga; perempuan direndahkan dan direduksi menjadi budak, ia menjadi budak nafsu laki-laki dan sekadar instrumen untuk melahirkan anak.”
Dominasi laki-laki dan posisi perempuan yang tertindas dalam masyarakat dan keluarga kini sedang dipertanyakan, bersama dengan semua institusi biadab lainnya yang kita warisi dari masa lalu. Mengapa perempuan harus terus menoleransi posisi subordinat? Orang-orang mulai mempertanyakan peran perempuan dalam masyarakat dan keluarga, dan ini memiliki implikasi revolusioner dan dapat membuat orang mulai mempertanyakan kapitalisme itu sendiri.
Degenerasi kapitalisme telah memperburuk kondisi hidup semua buruh, terutama perempuan dan kaum muda. Banyak yang kehilangan akses atas pekerjaan dan perumahan yang layak. Orang tua tunggal dan anak-anak mereka terjerumus dalam kemiskinan dan penderitaan yang tak berkesudahan. Bagi banyak orang, bahkan untuk memiliki tempat tinggal pun menjadi sulit atau bahkan mustahil. Di tempat kerja, perempuan menderita karena upah yang tidak setara hingga segala macam pelecehan dan kekerasan. Situasi ini benar-benar tak tertahankan.
Tingkat peradaban manusia dapat dinilai dari perlakuannya terhadap perempuan, anak-anak, dan lansia. Dari sudut pandang ini, kapitalisme modern lebih biadab, tidak manusiawi, dan kejam dibandingkan bentuk-bentuk masyarakat sebelumnya. Tingkat keterasingan dan degradasi manusia, ketidakpedulian terhadap penderitaan manusia, dan egoisme yang berlebihan telah mencapai tingkat yang belum pernah tercatat dalam sejarah.
Degenerasi masyarakat kapitalis terungkap dalam epidemi kekerasan terhadap perempuan. Di India, Pakistan, Argentina, Meksiko, dan banyak negara lainnya, penculikan, pemerkosaan, dan pembunuhan terhadap perempuan telah menjadi begitu mengerikan. Bahkan di negara-negara yang biasa mencitrakan diri mereka beradab, kengerian serupa juga terjadi. Ini adalah gejala masyarakat yang membusuk dan siap digulingkan.
Keterasingan, ketidakadilan, dan penindasan yang semakin parah memicu pemberontakan di antara kaum perempuan. Kebangkitan jutaan perempuan, terutama generasi muda yang geram atas diskriminasi, penindasan, dan penghinaan yang mereka alami, merupakan fenomena yang sangat progresif dan revolusioner yang patut kita rayakan dan dukung dengan penuh semangat.
Kaum Marxis seratus persen mendukung emansipasi penuh kaum perempuan. Tidak boleh ada sedikitpun keraguan atau ambiguitas tentang hal ini. Kita harus melawan penindasan perempuan di semua tingkatan, bukan hanya di mulut saja tetapi juga dengan perbuatan. Jangan pernah memberi kesan bahwa ini adalah isu sekunder, yang ada di bawah perjuangan kelas. Akan fatal bagi perjuangan Marxisme jika perempuan mengira bahwa kaum Marxis siap menunda perjuangan untuk hak-hak mereka hingga setelah kemenangan sosialisme. Ini anggapan yang sepenuhnya salah dan merupakan karikatur buruk Marxisme revolusioner.
Memang benar emansipasi perempuan (dan laki-laki) sepenuhnya hanya dapat dicapai dalam masyarakat tanpa kelas, tetapi juga benar bahwa masyarakat semacam itu hanya dapat dicapai melalui penggulingan kapitalisme secara revolusioner. Kaum perempuan tidak akan menunda perjuangan untuk tuntutan-tuntutan mereka yang mendesak. Mereka tidak akan menunggu datangnya sosialisme. Kemenangan Revolusi Sosialis mustahil terbayangkan tanpa perjuangan untuk reforma sehari-hari di bawah kapitalisme.
Kaum Marxis harus memperjuangkan bahkan reforma terkecil sekalipun yang dapat meningkatkan taraf hidup buruh di bawah kapitalisme, untuk dua alasan. Pertama, kita berjuang membela kaum buruh dari eksploitasi, untuk mempertahankan taraf hidup buruh dan hak-hak demokratik, dan untuk mempertahankan kebudayaan dan peradaban manusia dari barbarisme. Kedua, dan yang terpenting, hanya melalui pengalaman perjuangan sehari-hari kelas buruh dapat memahami kekuatannya sendiri, mengembangkan kekuatan organisasinya, dan meningkatkan kesadaran kolektifnya ke tingkat yang dituntut oleh sejarah.
Menuntut, seperti yang telah dilakukan kaum sektarian dan dogmatis, agar kaum buruh mengesampingkan tuntutan sehari-hari mereka “demi revolusi” adalah puncak kebodohan. Ini akan membuat kita impoten dan terisolasi, dan revolusi sosialis akan selamanya menjadi mimpi. Demikian pula, perjuangan untuk kemajuan perempuan, melawan sauvinisme reaksioner laki-laki, untuk reforma progresif dan kesetaraan penuh di ranah sosial, politik, dan ekonomi, adalah tugas fundamental semua Marxis revolusioner sejati.
Pada 8 Maret 2018, kita saksikan potensi revolusioner gerakan perempuan di Spanyol, ketika 5,3 juta orang (baik perempuan maupun laki-laki) menanggapi seruan mogok kerja. Ratusan ribu rakyat turun demo di seluruh Spanyol. Mobilisasi ini digelar di bawah panji feminisme, meskipun juga mencerminkan keresahan besar dalam masyarakat Spanyol atas berbagai isu, misalnya para pensiunan yang juga menggelar demonstrasi massal.
Namun, isu sentralnya adalah penindasan perempuan: perbedaan upah, kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan dalam keluarga, di tempat kerja, di sekolah, beban kerja rumah tangga, dll. Penindasan ini terungkap dengan begitu mencolok dalam kasus pemerkosaan berkelompok yang mengerikan di Pamplona, dan perilaku hakim sayap kanan yang memalukan, yang merupakan bukti nyata kebusukan dan karakter reaksioner seluruh negara, kepolisian, dan sistem peradilan Spanyol.
Dalam setiap gerakan massa, kaum Marxis harus dengan cermat bisa membedakan unsur reaksioner dari unsur progresif. Jelas ada unsur progresif yang luar biasa dalam gerakan ini. Kita mendukungnya dengan penuh antusias.
Namun, akan sepenuhnya keliru dan berat sebelah jika hanya menekankan aspek progresif ini dan mengabaikan sisi lainnya. Apa peran para pemimpin gerakan ini? Mereka menuntut agar hanya ada piket khusus perempuan dan blok-blok terpisah khusus perempuan dalam demonstrasi tersebut, dan hanya mengizinkan bendera ungu. Mogok kerja hanya boleh diikuti oleh perempuan, sementara laki-laki menggantikan mereka di tempat kerja – dengan kata lain, bertindak sebagai pemecah-pemogokan!
Ini akan sangat membatasi cakupan gerakan ini dan membuat pemogokan umum menjadi mustahil. Ini sepenuhnya bertentangan dengan kepentingan gerakan dan jelas mencerminkan pandangan sempit serta kebijakan reaksioner dan memecah-belah kaum feminis borjuis dan borjuis-kecil.
Kamerad-kamerad Spanyol kita mengintervensi dengan penuh semangat dalam gerakan massa ini dan memperoleh simpati besar. Meskipun mereka tidak menyebut diri mereka feminis, mereka menegaskan bahwa mereka sepenuh hati mendukung perjuangan emansipasi perempuan dan berjuang bahu-membahu dengan semua orang yang berjuang melawan penindasan. Dalam semua demonstrasi dan pertemuan, mereka tidak menemukan sedikit pun prasangka terhadap kami, setidaknya dari sebagian besar perempuan yang menganggap diri mereka feminis.
Benarkah feminisme bukanlah sebuah aliran pemikiran atau teori? Tergantung bagaimana kita melihatnya. Jutaan rakyat Spanyol yang berpartisipasi dalam pemogokan dan demonstrasi di bawah panji feminisme sama sekali tidak ada hubungannya dengan prasangka feminis yang dianut para pemimpin mereka. Mereka secara naluriah melawan penindasan yang membuat mereka geram. Itulah titik awal bagi perkembangan revolusioner.
Akan tetapi, kepemimpinan gerakan ada di tangan kaum feminis borjuis dan borjuis-kecil yang sudah pasti mewakili aliran pemikiran dan ideologi tertentu yang pada hakikatnya bertentangan bukan hanya dengan Marxisme tetapi juga dengan kepentingan perjuangan emansipasi perempuan itu sendiri.
Saat ini, konsep feminisme telah menjadi begitu luas hingga hampir tak berarti. Tiba-tiba, semua orang menjadi “feminis”. Bahkan para politisi reaksioner partai borjuis Partido Popular (PP) pun menyebut diri mereka feminis, karena mereka punya menteri perempuan. Padahal mereka semua sama reaksioner dan korupnya dengan rekan-rekan pria mereka.
Partai Ciudadanos juga mengklaim diri “feminis”. Namun, feminisme borjuis ini terbongkar dengan jelas oleh fakta bahwa pemimpin partai ini menyatakan bahwa mereka tidak dapat mendukung pemogokan feminis pada 8 Maret “karena demo ini bersifat anti-kapitalis”. Para politisi Ciudadanos yang memutuskan untuk ikut demonstrasi dicemooh oleh para demonstran dan diusir dari gerakan.
Bahkan di antara lapisan yang paling maju pun terdapat berbagai macam kebingungan dan ilusi, yang sengaja dipupuk oleh para “teoretikus” feminisme borjuis dan borjuis-kecil. Gagasan lain yang tersebar luas adalah tentang karakter “transversal” gerakan ini, yaitu bahwa gerakan ini harus melibatkan semua perempuan tanpa memandang kelas, ideologi politik, dan sebagainya.
Dengan pendekatan yang ramah dan sabar, kita dapat melawan prasangka-prasangka ini. Namun, kita tidak boleh mencampuradukkan panji kita. Untuk memenangkan elemen-elemen terbaik, kita harus mempertahankan posisi Marxis yang tegas dan jelas.
Perlukah kita menyebut diri kita feminis agar bisa terhubung dengan lapisan penting ini? Semua pengalaman kita menunjukkan tidaklah demikian. Misalnya, di Antequera (Málaga), kita menyelenggarakan pertemuan tentang pemogokan feminis 8 Maret dengan beberapa pembicara perempuan dari organisasi sayap kiri dan serikat buruh. Salah satu kamerad perempuan kita berbicara di pertemuan tersebut, menjelaskan bahwa ia adalah seorang anggota serikat buruh dan seorang Marxis revolusioner, serta menguraikan program kami. Di akhir pertemuan, sekelompok perempuan muda segera menghampirinya di stan literatur kita dan mengatakan bahwa mereka ingin bergabung. Para perempuan muda ini jelas menganggap diri mereka feminis. Namun, mereka sama sekali tidak memiliki masalah mengidentifikasi diri mereka dengan program Marxisme.
Seandainya kamerad-kamerad kita bersikap sektarian dan dogmatis, mereka pasti akan terisolasi dari perempuan-perempuan seperti ini. Kita tidak boleh bersikap sebodoh itu. Namun, di saat yang sama, kita harus prinsipil, dengan menegaskan bahwa kita adalah kaum Marxis yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan kita menganggap perjuangan ini hanya bisa menang bila diluncurkan sebagai bagian dari perjuangan kelas yang revolusioner untuk merombak masyarakat secara fundamental.
Di sini ada analogi yang sangat baik, yaitu sikap kaum Marxis terhadap masalah kebangsaan. Apakah kita mendukung tuntutan kemerdekaan Catalonia dari negara Spanyol? Ya, tentu saja. Namun, kita mendukungnya, sambil menjelaskan bahwa di atas basis kapitalisme kemerdekaan tidak akan menyelesaikan apa pun. Kita mendukung Republik Buruh Catalonia, yang di masa depan dapat menjadi bagian dari federasi sosialis Iberia.
Namun, apakah lantas kita menyebut diri kita kaum Marxis-Nasionalis? Tentu saja tidak! Kita bukan nasionalis, melainkan kaum internasionalis proletar. Justru sebagai bagian dari program internasionalis revolusioner kita mendukung perjuangan rakyat Catalan untuk membebaskan diri mereka dari belenggu negara Spanyol yang reaksioner, pemerintahan PP yang busuk, dan monarki anti- demokratik warisan Franco. Label “Marxis-Nasionalis” sebenarnya merupakan kontradiksi.
Pengalaman kita di Catalonia menunjukkan kita tidak perlu menggunakan bahasa-bahasa yang membingungkan seperti itu untuk meyakinkan elemen-elemen muda dan buruh yang terbaik dan paling revolusioner. Banyak di antara mereka mulai memahami keterbatasan serta sifat reaksioner dari nasionalisme borjuis dan borjuis-kecil dan mencari alternatif yang lebih radikal, revolusioner, dan berbasiskan kelas.
Pada akhirnya, semua masalah – masalah penindasan nasional, perjuangan emansipasi perempuan, perjuangan melawan rasisme – memiliki karakter kelas. Itulah yang memisahkan Marxisme dari nasionalisme, feminisme, dan setiap manifestasi perjuangan melawan penindasan lainnya.
Gerakan massa melawan penindasan perempuan memiliki potensi revolusioner yang luar biasa. Namun, potensi ini hanya dapat direalisasikan jika gerakan tersebut melampaui batasan sempit feminisme borjuis dan borjuis kecil dan terhubung dengan gerakan umum kelas buruh untuk mengubah masyarakat. Tugas kita adalah membantu mereka ke sana.
Ketika berpartisipasi aktif dalam gerakan-gerakan semacam itu dan berupaya untuk memenangkan elemen-elemen terbaik, kita mesti senantiasa mengekspos dengan tajam perpecahan kelas yang ada dalam semua gerakan tersebut, mendasarkan diri kita pada apa yang progresif di dalamnya, seraya menyingkap dan mengkritik elemen-elemen borjuis dan borjuis kecil dalam kepemimpinan gerakan tersebut.
Pentingnya Teori
Engels menekankan pentingnya teori bagi gerakan revolusioner. Ia menekankan bahwa perjuangan teori sama pentingnya dengan perjuangan politik dan ekonomi. Lenin sepakat dengan pandangan Engels ketika ia menulis dalam Apa yang Harus Dilakukan?:
“Tanpa teori revolusioner tidak akan ada gerakan revolusioner. Gagasan ini mesti ditekankan sekuat-kuatnya ketika ajaran oportunisme yang sedang populer berjalan seiring dengan kegemaran terhadap bentuk-bentuk aktivitas praktis yang paling sempit.”
Prasyarat untuk membangun Internasional Marxis yang sejati adalah pembelaan terhadap prinsip-prinsip dasar Marxisme. Ini berarti perjuangan tanpa henti melawan segala macam gagasan revisionis, yang pada hakikatnya mencerminkan tekanan kelas-kelas asing terhadap gerakan buruh.
Marx dan Engels melancarkan perjuangan yang gigih melawan segala upaya untuk menumpulkan gagasan revolusioner. Mereka dengan tanpa ampun menyingkap teori-teori palsu, pertama dari kaum Sosialis Utopis, kemudian dari para pengikut Proudhon dan Bakunin, dan akhirnya dari kaum oportunis seperti Dühring – para profesor universitas yang “cerdik” yang, dengan dalih “memperbarui sosialisme”, mencoba menghapus esensi revolusioner Marxisme.
Sejak awal, Lenin telah menyatakan perang terhadap orang-orang seperti Dühring, yang mengklaim bahwa gagasan Marx sudah ketinggalan zaman dan perlu direvisi, sembari menuntut “kebebasan mengkritik”. Ia menunjukkan bahwa apa yang disebut “oposisi terhadap dogmatisme” ini hanyalah dalih bagi orang-orang yang ingin mengganti esensi revolusioner Marxisme dengan kebijakan oportunis “perbuatan-perbuatan kecil”, sebuah tren yang kemudian mengkristal menjadi Menshevisme.
Kemudian, selama periode reaksi menyusul kekalahan Revolusi 1905, demoralisasi di kalangan kaum intelektual kelas menengah menemukan gaungnya di dalam Partai Bolshevik ketika sebagian pimpinannya (Bogdanov dan Lunacharsky) mulai merefleksikan filsafat idealisme subjektif (Neo-Kantianisme) dan mistisisme yang sedang populer.
Bukanlah kebetulan Lenin menulis salah satu karya filsafat terpentingnya, Materialisme dan Empirio-kritisisme, untuk melawan gagasan-gagasan ini. Perlu ditambahkan bahwa dalam melawan gagasan-gagasan asing ini Lenin siap untuk pecah dengan mayoritas pemimpin Bolshevik.
Sebelum wafat, Trotsky terlibat dalam perjuangan sengit melawan tendensi borjuis kecil di SWP Amerika (Burnham dan Shachtman) mengenai watak kelas Uni Soviet. Trotsky menjelaskan bahwa posisi keliru mereka yang menolak pembelaan Uni Soviet, di satu sisi, merupakan cerminan tekanan kelas-kelas asing (intelektual borjuis kecil) terhadap SWP, dan di sisi lain, merupakan penolakan terhadap filsafat dialektika materialis.
Dari beberapa contoh ini, kita dapat melihat peran vital perjuangan teori dalam sejarah gerakan kita. Yang membedakan organisasi kita dari semua organisasi lainnya terutama adalah keseriusan kita dalam teori. Selama lebih dari satu setengah abad, Marxisme telah membangun program ilmiah berdasarkan hukum-hukum yang mengatur pergerakan masyarakat kapitalis. Ini adalah penaklukan kolosal, yang harus kita pertahankan dari segala serangan – baik dari sayap kanan maupun sayap “kiri”.
Organisasi kita memiliki tradisi yang membanggakan dalam hal ini. Di masa ketika banyak orang mencampakkan Marxisme, termasuk banyak mantan “Komunis”, kita tetap teguh membela ide-ide fundamental Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky. Situs dan literatur terbitan kita telah membangun reputasi baik karena kejelasan teorinya. Inilah yang membedakan kita dari tendensi lain dalam gerakan buruh.
Kita menolak memberi konsesi kepada kaum revisionis yang mencerminkan tekanan ideologi borjuis dan borjuis-kecil. Kita sama sekali tidak terpengaruh oleh seruan memekakkan telinga yang menuntut “gagasan baru” untuk menggantikan gagasan Marx yang dianggap “kuno”, yang sebenarnya merupakan gagasan paling modern, satu-satunya gagasan yang dapat menjelaskan krisis saat ini dan menunjukkan jalan keluarnya.
Kemunduran budaya
Ada masa-masa dalam sejarah yang ditandai oleh pesimisme, keraguan, dan keputusasaan. Dalam masa-masa tersebut, setelah kehilangan kepercayaan pada masyarakat yang ada dan ideologinya, orang-orang mencari alternatif revolusioner. Namun, masyarakat yang tua itu, meskipun sedang sekarat, masih memiliki pengaruh yang kuat. Setelah tidak mampu lagi memperoleh dukungan positif, ia memancarkan mood yang negatif, seperti mayat yang berbau busuk.
Pada masa mudanya, kaum borjuis percaya pada kemajuan, karena, terlepas dari semua fiturnya yang brutal dan eksploitatif, kapitalisme memainkan peran yang sangat progresif dalam mengembangkan kekuatan produktif, sehingga meletakkan basis material bagi tahapan masyarakat yang lebih tinggi: sosialisme.
Di masa lalu, ketika kaum borjuis masih mampu memainkan peran progresif, mereka memiliki ideologi yang revolusioner. Mereka melahirkan para pemikir hebat dan orisinil: Locke dan Hobbes, Rousseau dan Diderot, Kant dan Hegel, Adam Smith dan David Ricardo, Newton dan Darwin. Namun, hari ini di masa kemundurannya mereka tidak bisa lagi menghasilkan pemikir hebat.
Kekacauan postmodernis – yang dianggap sebagai filsafat hari ini – merupakan pengakuan atas kebangkrutan intelektual kapitalisme hari ini. Para intelektual yang sombong ini, yang berlenggak-lenggok di kampus-kampus dengan angkuhnya, mencibir dan menghina para filsuf masa lalu. Namun, sesungguhnya para filsuf postmodernis itu begitu miskin pemikiran dan tidaklah berarti jika dibandingkan dengan para pemikir besar tersebut.
Postmodernisme menyangkal konsep kemajuan historis secara umum, karena alasan sederhana bahwa kapitalisme hari ini tidak mampu mencapai kemajuan apa pun. Fakta bahwa “narasi” postmodernis ini dapat dianggap serius sebagai sebuah filsafat baru menunjukkan betapa bangkrutnya kapitalisme dan kaum intelektual borjuis hari ini. Dalam kata-kata Hegel: “Dari hal-hal kecil yang dapat memenuhi kebutuhan jiwa manusia, kita dapat mengukur sejauh mana kehilangannya.”
Ini bukan kebetulan. Zaman sekarang ditandai oleh kebingungan, apostasi, dan disintegrasi ideologis. Dalam kondisi ini, pesimisme mencengkeram kaum intelektual, yang sebelumnya melihat kapitalisme sebagai sumber karier mereka dan jaminan standar hidup yang nyaman.
Demi menyelamatkan para bankir, kapitalisme bersiap mengorbankan seluruh masyarakat. Jutaan orang menghadapi masa depan tak pasti. Kehancuran ini tidak hanya mempengaruhi kelas pekerja, tetapi juga kelas menengah, mahasiswa dan profesor, peneliti dan teknisi, musisi dan seniman, dosen dan dokter.
Ada keresahan di antara kelas menengah, terutama di kalangan intelektual. Kelas ini, yang terjepit di antara kapitalis besar dan kelas buruh, sangat merasakan betapa tidak pastinya kehidupan mereka. Sementara beberapa teradikalisasi ke arah kiri, mayoritas, terutama di dunia akademis, didominasi oleh pesimisme dan ketidakpastian.
Ketika mereka mengatakan “tidak ada yang namanya progres”, yang mereka maksud adalah: masyarakat hari ini sama sekali tidak memberi kita jaminan bahwa hari esok tidak akan lebih buruk daripada hari ini. Dan memang benar. Alih-alih menyimpulkan bahwa kita perlu berjuang untuk menggulingkan kapitalisme, yang telah menjerumuskan umat manusia ke dalam jalan buntu historis dan mengancam masa depan peradaban dan kebudayaan manusia, bahkan mungkin umat manusia itu sendiri, mereka justru meringkuk di sudut ruangan, menarik diri, sambil menenangkan hati nurani mereka yang gelisah dengan pemikiran bahwa “tidak ada yang namanya progres.”
Dari prasangka yang sempit ini, kurangnya visi, dan kepengecutan intelektual mereka, muncullah kesimpulan-kesimpulan lain yang lebih praktis: mereka menolak revolusi demi “pencapaian-pencapaian kecil” (seperti argumen picisan mereka mengenai bahasa dan “narasi”); mereka terpuruk ke dalam subjektivitas; mereka menolak perjuangan kelas, meninggikan penindasan “saya” di atas penindasan “Anda”, yang pada gilirannya semakin mengarah pada kompartementalisasi, dan akhirnya atomisasi gerakan.
Tentu saja, ada beberapa perbedaan antara situasi saat ini dan gagasan-gagasan yang dilawan Lenin pada 1908. Namun, perbedaan tersebut hanyalah dalam bentuk. Kontennya sangat mirip, bahkan mungkin identik. Dan konsekuensi praktisnya seratus persen reaksioner.
Zaman apostasi
Lenin selalu mengungkapkan problem dan kesulitan yang dihadapinya dengan terus terang. Slogannya adalah: selalu katakan apa adanya. Terkadang kebenaran memang menyakitkan, tetapi kita harus selalu menyatakannya. Kenyataannya, karena kombinasi keadaan, baik objektif maupun subjektif, gerakan revolusioner telah terdorong mundur, dan kekuatan Marxisme sejati telah terdegradasi menjadi minoritas kecil. Demikianlah situasi hari ini dan mereka yang mengingkarinya hanya menipu diri sendiri dan orang lain.
Dalam beberapa dekade terakhir, tuntutan untuk merevisi postulat-postulat fundamental Marxisme telah menjadi semakin lantang. Marxisme, kata orang-orang ini, identik dengan “dogmatisme” atau bahkan Stalinisme. Mereka terus mencari “gagasan modern” yang konon akan menggantikan “gagasan usang Marxisme yang telah didiskreditkan”, dan ini bukanlah suatu kebetulan.
Kelas buruh tidak hidup terisolasi dari kelas-kelas lain. Mereka ada di bawah pengaruh kelas dan ideologi asing. Organisasi kita juga hidup dan bekerja di dalam masyarakat dan senantiasa berada di bawah tekanan dan mood di dalam masyarakat. Mood umum masyarakat juga dapat merasuki kelas buruh dan organisasi-organisasinya. Dalam periode di mana kelas buruh umumnya tidak bergerak, tekanan dari kaum borjuis, terutama kaum borjuis kecil, menjadi semakin intens.
Setelah kaum buruh lama tidak aktif, elemen-elemen borjuis kecil memasuki gerakan buruh dan mendesak buruh ke samping. Suara buruh tenggelam oleh paduan suara orang-orang “pintar” ini, yang sudah tidak lagi punya semangat untuk berjuang dan ingin meyakinkan buruh bahwa revolusi hanya membawa air mata dan kekecewaan.
Setelah jatuhnya Uni Soviet, kebingungan merajalela dan ada kemunduran ideologis. Banyak orang mencampakkan Sosialisme. Sinisme serta skeptisisme menjadi tren. Kecewa dengan pengkhianatan partai-partai Sosialis (reformis) dan Komunis (Stalinis), kaum intelektual sayap kiri justru menjauhi Marxisme, alih-alih pecah dengan reformisme dan Stalinisme.
Banyak orang, terutama kaum eks-Stalinis, mencampakkan Marxisme dan perjuangan untuk sosialisme, lalu mulai mencari-cari “metode baru” (yang, bagaikan pot emas di ujung pelangi, tak pernah mereka temukan). Bagi orang-orang tua yang sinis ini, mimpi masa muda mereka mengenai revolusi kini tampak seperti kebodohan. Dan ada dorongan kuat untuk memperbaiki masa lalu ini, untuk mengoreksi dosa-dosa masa muda ini, dan dengan demikian mencegah generasi muda terperosok ke dalam dosa-dosa mereka.
Organisasi-organisasi buruh perlahan-lahan terdorong ke kanan. Kaum buruh didesak ke samping oleh kaum karieris kelas-menengah, yang merebut posisi-posisi kepemimpinan dalam gerakan buruh. Ini, pada gilirannya, menyebabkan semakin banyak buruh menjadi tidak aktif, yang lalu membuka pintu bagi semakin banyak elemen borjuis kecil.
Dalam periode seperti itu, suara buruh tenggelam oleh paduan suara reformis yang menuntut “inovasi” seperti “realisme baru” [pendekatan kompromis dan pragmatis dengan kapitalis], “New Labour” [Blairisme atau filsafat Jalan Ketiga], dan sebagainya. Gagasan-gagasan borjuis kecil menjadi dominan. Gagasan-gagasan politik kelas dan sosialisme revolusioner diproklamirkan sebagai “kuno”. Alih-alih “Marxisme dogmatis”, kita disajikan beragam gagasan “baru”, seperti pasifisme, feminisme, environmentalism – pada kenyataannya, “isme” apa pun yang Anda suka, kecuali, tentu saja, sosialisme dan Marxisme.
Trotsky membahas fenomena semacam itu saat ia menulis Program Transisional pada 1938:
“Kekalahan-kekalahan tragis yang diderita oleh proletariat dunia selama periode bertahun-tahun yang panjang ini telah membuat organisasi-organisasi resmi gerakan buruh semakin terpuruk ke dalam konservatisme, dan pada saat yang sama membuat kaum “revolusioner” borjuis-kecil yang kecewa itu mencari-cari “metode baru”. Seperti yang selalu terjadi selama periode reaksi dan pembusukan, muncul di mana-mana teoretikus-teoretikus palsu dan penipu, yang ingin merevisi seluruh alur pemikiran revolusioner. Alih-alih belajar dari masa lalu, mereka “menolaknya”. Beberapa dari mereka menemukan ketidakkonsistenan dalam Marxisme, yang lain menyatakan keruntuhan Bolshevisme. Ada yang menyalahkan doktrin revolusioner sebagai penyebab kesalahan dan kejahatan orang-orang yang mengkhianati doktrin tersebut; yang lain mengutuk obatnya karena obat tersebut tidak menjamin kesembuhan yang instan dan ajaib. Mereka yang lebih berani berjanji akan menemukan panasea, dan sembari menunggu obat mujarab ini mereka menganjurkan untuk menghentikan perjuangan kelas. Cukup banyak nabi-nabi “moral baru” yang bersiap-siap untuk menghidupkan kembali gerakan buruh dengan bantuan homeopati moral. Mayoritas nabi-nabi ini telah berhasil menjadi cacat moral sebelum tiba di medan perang. Jadi, atas nama “metode baru”, resep-resep lama, yang telah lama terkubur dalam arsip sosialisme pra-Marxisme, ditawarkan kembali kepada kaum proletar.”
Sekte-sekte ultra-kiri yang mengais kehidupan di pinggiran gerakan buruh juga tidak lebih baik. Meskipun mereka selalu mengutip Marx, Lenin, dan Trotsky, mereka tidak pernah menerbitkan ulang karya-karya guru besar Marxisme ini, dan mereka lebih memilih gagasan-gagasan yang lebih “modern” (atau “postmodern”) yang telah mereka adopsi tanpa kritik dari kaum borjuis dan borjuis kecil. Sekte Mandelite (yang disebut United Secretariat of the Fourth International) adalah contoh paling jelas dari hal ini.
Di sisi ekstrem yang lain, sekte-sekte seperti Taaffeites (CWI) dan SWP di Inggris serta Lutte Ouvrière di Prancis terjerumus kembali ke dalam rawa “ekonomisme”, yang dikutuk keras oleh Lenin. Kecenderungan “buruh-isme” mereka serta penolakan mereka terhadap mahasiswa dan kaum intelektual secara keseluruhan – yang selalu jadi bagian dari demagogi mereka – hanyalah kedok untuk menutupi kedangkalan teori mereka dan upaya mereka untuk mengganti politik revolusioner dengan apa yang disebut “politik praktis” dan “isu sehari-hari”. Sulit untuk mengatakan siapa yang paling buruk di antara mereka semua.
“Ide baru untuk yang lama”
Dalam kisah Aladdin, seorang penyihir jahat menyamar sebagai pedagang kaki lima dan menawarkan lampu-lampu baru yang berkilau sebagai ganti lampu tua yang dimiliki Aladdin. Istri Aladdin dengan bodohnya menerima tawaran tersebut, sehingga kehilangan kekuatan jin dalam lampu lama tersebut. Kisah ini menghibur, tetapi mengandung pesan yang serius: sungguh bodoh menukar barang yang jelas berharga dengan emas berkilau, yang ternyata hanyalah ilusi.
Ironisnya, pada saat ini ketika krisis kapitalisme telah sepenuhnya membenarkan Marxisme, kaum “Kiri” justru berlomba-lomba mencampakkan teori Marxis, seolah-olah Marxisme hanyalah beban mati yang tak berguna. Aktivis-aktivis eks-“komunis” bahkan tidak lagi berbicara tentang sosialisme dan telah membuang tulisan-tulisan Marx dan Engels ke tong sampah.
Gagasan-gagasan Marxisme revolusioner disajikan sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan. Kaum intelektual kelas menengah dan “progresif” berlomba-lomba mendiskreditkan Marxisme. Suasana kebingungan ideologis yang umum ini, yang mempertanyakan “ortodoksi” Marxisme dan menolak teori, dapat berdampak buruk, bahkan di barisan kita sendiri.
Ini bukan pertama kalinya kita melihat hal-hal seperti itu. Kecenderungan reformis anti-revolusioner ini selalu ada dalam gerakan ini. Sebagaimana telah kita lihat, Marx, Lenin, Engels, dan Trotsky harus menghadapi kampanye “mencari ide-ide baru” yang sama, yang selalu menjadi seruan setiap kaum revisionis sejak Dühring dan Bernstein. Kita telah membahas beberapa “alternatif kontemporer” ini dalam buku karya Alan Woods, Reformism or Revolution, Socialism of the 21st Century, Reply to Heinz Dieterich.
Upaya tak henti-hentinya untuk merevisi Marxisme ini mencerminkan keputusasaan lapisan aktivis lama yang, karena sudah demor akibat kekalahan dan kegagalan di masa lalu, sudah tidak lagi ingin berjuang demi perubahan revolusioner dalam praktik. Namun, mereka ingin menenangkan hati nurani mereka dengan berpura-pura masih Marxis, yang, setelah menjadi “lebih berumur dan lebih bijak”, telah memahami bahwa “gagasan lama Marxisme” hanyalah mimpi utopis yang tidak relevan dan tidak praktis di dunia saat ini.
Satu-satunya tujuan argumen ini adalah mengalihkan perhatian kaum muda dari Marxisme, menciptakan kebingungan sebesar-besarnya, dan menghalangi generasi muda untuk bisa mengakses Marxisme. Gagasan mereka hanyalah cerminan dari kampanye kaum borjuis dalam melawan sosialisme. Namun, gagasan mereka jauh lebih berbahaya dan merusak karena diluncurkan di bawah panji palsu.
Mereka sangat menentang revolusi dan sosialisme, tetapi mereka tidak berani mengakuinya – bahkan mungkin kepada diri mereka sendiri (seberapa jauh mereka benar-benar percaya pada omong kosong yang mereka tulis adalah sesuatu yang hanya dapat dipastikan oleh psikolog ahli). Mereka menyamarkan pesan anti-revolusioner dan anti-sosialis mereka yang reaksioner dengan setumpuk fraseologi “kiri” dan “radikal” yang membuat kebanyakan orang sulit mengenalinya. Ide-ide sosialisme diencerkan, direvisi, atau dihapus begitu saja.
Barisan kaum revolusioner tidaklah imun dari tekanan kapitalisme ini. Mood pesimis kaum intelektual kelas menengah terkadang dapat menemukan gaungnya dalam gerakan Marxis, di mana mood ini memanifestasikan dirinya sebagai serangan terhadap “ortodoksi Marxisme yang mencekik” dan seruan terus-menerus untuk mencari “gagasan baru”.
Bahaya kerja di antara mahasiswa
Kaum sosialis revolusioner terbiasa dengan serangan-serangan gencar terhadap sosialisme dan komunisme – bukan hanya dari para pembela kapitalisme dan imperialisme secara terbuka, tetapi juga kaum reformis kanan maupun kiri, dan juga kaum intelektual borjuis-kecil “radikal”, yang sebagian dari mereka ingin melawan kapitalisme tetapi sama sekali tidak tahu bagaimana melakukannya.
Kita telah menekankan pentingnya kerja di antara mahasiswa dan kaum muda, dan kerja ini telah membuahkan hasil penting. Kita harus melanjutkan orientasi ini di masa mendatang, tetapi kita juga harus mempertimbangkan dengan seksama bagaimana kita melakukan kerja ini.
Memang benar bahwa bekerja di kalangan mahasiswa menawarkan banyak peluang bagi kita. Namun, juga benar bahwa kerja ini mengandung banyak risiko dan bahaya. Kita harus selalu waspada terhadap bahaya-bahaya ini, untuk menghindari konsekuensi yang sangat serius. Perlu diingat bahwa universitas adalah lingkungan yang asing, penuh dengan orang-orang dari kelas-kelas asing dan sangat dipengaruhi oleh ide-ide borjuis dan borjuis-kecil.
Lingkungan kampus masih didominasi oleh kaum borjuis dan borjuis-kecil, yang juga mempengaruhi mahasiswa yang berasal dari kelas pekerja. Sering kali, mereka begitu termotivasi mendaki tangga sosial dan lalu menendang tangga itu, meninggalkan kelas mereka jauh di belakang dalam kesibukan mengejar cita-cita menjadi dokter, pengacara, dan politisi. Mungkin tidak selalu demikian, tetapi sering kali demikian.
Universitas adalah sabuk transmisi untuk menyebar gagasan-gagasan borjuis reaksioner ke dalam masyarakat. Universitas adalah tempat kaum borjuis mengembangkan seribu satu gagasan aneh dan menakjubkan untuk membingungkan dan menyesatkan kaum muda, serta menjauhkan mereka dari revolusi. Universitas bukanlah “kuil ilmu pengetahuan”, melainkan pabrik untuk memproduksi secara massal para pembela ideologi kapitalisme.
Di era kemunduran kapitalisme yang sudah renta itu, universitas telah menjadi rawa beracun tempat ide-ide reaksioner tumbuh subur, dan tampaknya tidak ada seorang pun yang punya nyali untuk melawannya secara langsung.
Tugas pertama kaum mahasiswa Marxis adalah memerangi ide-ide ini – bukan hanya ide-ide reaksioner yang terang-terangan dari kalangan akademisi borjuis, tetapi juga berbagai macam gagasan yang membingungkan dari elemen-elemen borjuis-kecil yang “progresif” dan “radikal”, yang berpura-pura melawan sistem kapitalisme tetapi dalam praktiknya membatasi diri mereka sendiri dengan kritik yang impoten terhadap gejala ini atau itu.
Senjata ideologi reaksioner
Bukanlah kebetulan pula bahwa gagasan-gagasan kelas asing ini menjadi populer di universitas pada akhir 1980-an atau 1990-an. Seiring dengan kemunduran perjuangan kelas selama periode tersebut, kampanye anti-Marxis secara luas dilancarkan di universitas. Individu-individu yang terlibat dalam gerakan-gerakan revolusioner tahun 1970-an dan awal 1980-an diterima masuk ke universitas dan diberi posisi-posisi akademis yang empuk untuk menyerang Marxisme.
Serangan ini sebagian besar kasar dan jelas-jelas pro-kapitalis, tetapi yang lainnya lebih terselubung dan licik. Gagasan interseksionalitas dan politik identitas memberi kaum intelektual “kiri” cara yang mudah untuk mencampakkan perjuangan kelas dan sosialisme, sambil terus memberi layanan bibir pada “tujuan-tujuan progresif”.
Bukanlah kebetulan bahwa ide-ide ini sedang didorong ke seluruh sistem pendidikan saat ini oleh kelas penguasa. Misalnya, Teori Queer dapat ditelusuri kembali ke gelombang postmodernisme dan ide-ide idealis serta subjektivis lainnya yang berkembang sebagai reaksi terhadap Marxisme dalam beberapa dekade terakhir. Sebuah laporan CIA yang baru-baru ini dideklasifikasi dari tahun 1985, yang berjudul “France: Defection of the Left Intellectuals”, mengungkapkan kegembiraan CIA terhadap pergeseran ke kanan dalam dunia akademis:
“Kegagalan kebijakan Mitterrand dan aliansinya yang singkat dengan Komunis mungkin telah mempercepat ketidakpuasan terhadap pemerintahannya, tetapi kaum intelektual kiri telah menjauhkan diri mereka dari sosialisme – baik partai maupun ideologinya – setidaknya sejak awal 1970-an. Dipimpin oleh sekelompok pemuda pemberontak dari kalangan Komunis yang menyebut diri mereka sebagai Filsuf Baru, banyak intelektual Kiri Baru ini yang menolak Marxisme dan mengembangkan antipati mereka terhadap Uni Soviet. Anti-Sovietisme, pada kenyataannya, telah menjadi batu ujian legitimasi di kalangan kiri, melemahkan anti-Amerikanisme tradisional kaum intelektual kiri dan memungkinkan budaya Amerika – bahkan kebijakan politik dan ekonomi Amerika – untuk menjadi populer kembali.”
Laporan tersebut melanjutkan:
“Kebangkrutan Ideologi Marxis. Ketidakpuasan terhadap Marxisme sebagai sistem filsafat – sebagai bagian dari kemunduran yang lebih luas dari ideologi di kalangan intelektual dari semua aliran politik – merupakan sumber kekecewaan intelektual yang sangat kuat dan meluas terhadap gerakan kiri tradisional. Raymond Aaron bekerja keras selama bertahun-tahun untuk mendiskreditkan mantan teman sekamar kuliahnya, Sartre, dan, melalui dirinya, bangunan intelektual Marxisme Prancis. Namun, yang lebih efektif dalam merongrong Marxisme adalah para intelektual yang awalnya berangkat sebagai penganut sejati dalam menerapkan teori Marxis dalam ilmu-ilmu sosial, tetapi akhirnya memikirkan kembali dan menolak seluruh tradisi tersebut.”
“Di kalangan sejarawan Prancis pasca-perang, mazhab berpengaruh yang diasosiasikan dengan Marc Bloch, Lucien Febvre, dan Fernand Braudel telah mengalahkan sejarawan Marxis tradisional. Mazhab Annales, sebagaimana dikenal dari jurnal utamanya, menjungkirbalikkan kajian sejarah Prancis pada tahun 1950-an dan 1960-an, terutama dengan menantang dan kemudian menolak teori-teori Marxis tentang progres sejarah yang sebelumnya dominan. Meskipun banyak pendukungnya menyatakan bahwa mereka “menganut tradisi Marxis,” yang mereka maksud hanyalah bahwa mereka menggunakan Marxisme sebagai titik tolak kritis untuk mencoba menemukan pola-pola aktual sejarah sosial. Sebagian besar, mereka menyimpulkan bahwa gagasan Marxis tentang struktur masa lalu – tentang hubungan sosial, pola peristiwa, dan pengaruhnya dalam jangka panjang – terlalu sederhana dan tidak valid. Di bidang antropologi, mazhab strukturalis yang dipimpin oleh Claude Lévi-Strauss, Foucault, dan lainnya menjalankan misi yang hampir sama. Meskipun strukturalisme dan metodologi Annales telah mengalami masa-masa sulit, (para kritikus menuduh mereka terlalu sulit untuk dipahami oleh orang awam), kami yakin bahwa kontribusi mereka dalam menghancurkan pengaruh Marxis dalam ilmu sosial kemungkinan akan bertahan sebagai kontribusi mendalam bagi kajian modern baik di Prancis maupun di tempat lain di Eropa Barat.” (Penekanan dari kami)
Demikian pula, CIA diam-diam mendukung sejumlah publikasi sayap kiri “anti-totaliter”, seperti Partisan Review, Der Monat (yang menerbitkan artikel-artikel karya Adorno dan Arendt, antara lain), Mundo Nuevo, dan sebagainya. Tema umum yang mewarnai jurnal-jurnal ini adalah pembelaan terhadap “kaum intelektual” yang menentang perjuangan kelas.
Lewat para intelektual inilah lahir gagasan-gagasan borjuis dan borjuis-kecil yang mendominasi universitas saat ini. Foucault dianggap sebagai bapak Teori Queer. Ketika perjuangan kelas mereda, terutama karena dikhianati berulang kali oleh para pemimpin reformis dan Stalinis, para intelektual ini menyimpulkan bahwa sebenarnya perjuangan kelas dan kelas pekerjalah yang cacat, bukan kepemimpinannya. Mereka hanya menyesuaikan “filsafat” mereka dengan kepentingan kaum borjuis dan birokrasi buruh. Dalam pikiran mereka, perjuangan kelas telah teratomisasi menjadi serangkaian perjuangan-perjuangan individual yang kecil dan tak-berhingga jumlahnya, tanpa karakteristik yang sama.
Sejauh mereka mengakui perjuangan kelas, mereka mencibir “keterbelakangan” kelas buruh dan menyerukan perubahan “wacana”, alih-alih menyerukan agar para pemimpin gerakan yang ada hari ini memberikan kepemimpinan yang berani. Sebagaimana kita lihat dari laporan CIA, kelas penguasa, jauh dari merasa terancam oleh gagasan-gagasan “radikal” ini, justru menyambutnya dengan sepenuh hati sebagai senjata yang penting dalam perjuangan ideologis melawan Marxisme.
“Interseksionalitas” dan “Politik Identitas”
Salah satu varian politik identitas terbaru yang kini trendi di antara kaum borjuis kecil radikal adalah interseksionalitas. Ini bukan sekadar penyimpangan kecil atau kebingungan, melainkan ideologi yang sepenuhnya reaksioner dan kontra-revolusioner, yang harus kita lawan dengan gigih.
Kelas penguasa selalu berusaha memecah belah rakyat pekerja, sebagaimana yang telah mereka lakukan sejak zaman kuno dengan taktik divide et impera. Mereka gunakan segala cara untuk mengadu domba satu golongan pekerja dengan golongan lain. Perbedaan ras, nasionalitas, bahasa, gender, atau agama – semua ini telah digunakan, dan masih digunakan, untuk mengadu domba kelas pekerja dan mengalihkan perhatian mereka dari perjuangan kelas antara kaum kaya dan kaum miskin, antara kaum penghisap dan kaum terhisap.
Dalam melawan rasisme, seksisme, dan bentuk-bentuk penindasan lain, kita dapat bergerak ke ekstrem yang lain, meninggalkan sudut pandang kelas dan terseret ke dalam permainan kelas penguasa dengan menempatkan apa yang memecah belah kita di atas segalanya, mengabaikan akar penindasan dalam masyarakat kelas, dan memajukan kepentingan sektoral kelompok tertentu dengan mengorbankan persatuan kelas dan perjuangan kelas.
Kebanyakan orang yang fokus pada bentuk-bentuk penindasan tertentu cenderung mengabaikan atau mengecilkan basis penindasan yang sebenarnya, yaitu masyarakat kelas itu sendiri. Mereka menentang segala upaya untuk menyatukan kelas pekerja dalam perjuangan revolusioner melawan Kapital, bersikeras agar kita fokus pada isu ini atau itu saja. Hasilnya sangat negatif.
Dalam semakin banyak kasus, pihak otoritas kampus dan serikat mahasiswa, yang bersembunyi di balik “kepantasan politik” (political correctness), politik identitas, dan keinginan untuk tidak menyakiti perasaan orang-orang tertentu, mempraktikkan kebijakan diskriminasi dan sensor, melarang orang-orang tertentu untuk berbicara – bukan hanya kaum rasis dan fasis, tetapi juga kaum kiri. Sensor terhadap kaum kiri ini semakin sering terjadi.
Contoh berikut dari Kanada cukup untuk mengungkap aktivitas kontra-revolusioner dari para aktivis politik identitas ini. Setelah pemilu AS 2016, sekelompok anak muda di Toronto secara spontan mencoba mengorganisir demonstrasi anti-Trump melalui Facebook. Anak-anak muda ini langsung menjadi sasaran cercaan keras dari para aktivis “politik identitas” karena tidak menampilkan pembicara berkulit hitam di platform mereka, dll. Akibatnya, anak-anak muda ini, yang merasa terintimidasi, mengalami demoralisasi dan diusir dari gerakan, dan demonstrasi anti-Trumo ini batal. Ini bukan kasus yang terisolasi, tetapi sepenuhnya merupakan ciri khas taktik reaksioner dari tendensi ini.
Sekarang kita harus mengatakan dengan jelas, bahwa politik identitas dan semua omong kosong yang terkait dengannya, yang telah muncul dalam beberapa tahun terakhir ini, jelas merupakan kecenderungan reaksioner, yang harus diperangi dengan sekuat tenaga.
Masalah kebangsaan
Kita dapat menarik analogi tertentu antara politik identitas dan masalah kebangsaan. Tentu saja, setiap analogi memiliki batasnya. Namun dalam kasus ini, analoginya sangat mencolok dan dapat dinyatakan secara sederhana: kaum Marxis menentang dan melawan segala bentuk penindasan atau diskriminasi, baik atas dasar kebangsaan, gender, etnis, bahasa, agama, atau apa pun. Dan itu sudah cukup.
Kaum Marxis akan membela bangsa-bangsa tertindas dari negara-negara imperialis. Kita menentang penindasan dalam segala bentuknya. Itulah titik awal kita. Namun, proposisi-proposisi dasar ini sama sekali tidak menyelesaikan persoalan sikap Marxis terhadap masalah kebangsaan. Setelah A, B, dan C, masih ada huruf-huruf lain dalam alfabet.
Marx menjelaskan, masalah kelas buruh selalu menjadi masalah terpenting, dan masalah kebangsaan selalu berada di bawahnya. Hak bangsa untuk menentukan nasib sendiri bukanlah hak mutlak di luar ruang dan waktu. Hak ini selalu berada di bawah kepentingan umum revolusi proletar internasional. Lenin sering menekankan hal yang sama. Perjuangan kelas buruh melawan kapitalisme menuntut solidaritas penuh dan persatuan yang erat dari buruh di semua bangsa.
Sembari berjuang melawan segala bentuk penindasan atau diskriminasi nasional, kita perlu melawan upaya kaum nasionalis borjuis dan borjuis-kecil untuk mensubordinasikan kaum buruh pada pandangan dan kebijakan mereka sendiri. Dalam The Right of Nations to Self-Determination, ia menulis sebagai berikut:
“Tidak ada bedanya bagi buruh upahan apakah ia dieksploitasi oleh kaum borjuis Rusia Raya atau kaum borjuis non-Rusia, oleh kaum borjuis Polandia atau kaum borjuis Yahudi, dst. Buruh upahan yang telah memahami kepentingan kelasnya tidak peduli pada privilese negara kapitalis Rusia Raya dan juga tidak peduli pada janji-janji kapitalis Polandia atau Ukraina untuk membangun surga duniawi ketika mereka memperoleh privilese. Kapitalisme sedang berkembang dan akan terus berkembang, baik di negara-negara integral dengan populasi campuran maupun di negara-negara yang terpisah.”
Lenin secara konsisten mendukung tuntutan hak penentuan nasib sendiri, hingga dan termasuk kemerdekaan. Namun, itu hanyalah satu sisi. Lenin juga membela persatuan kelas buruh dan organisasi-organisasinya, dan dengan tegas ia menentang usulan pembentukan organisasi-organisasi pekerja berdasarkan garis-garis nasional (atau berdasarkan “politik identitas”).
Dalam tulisan-tulisannya tentang masalah kebangsaan, sembari menekankan hak penentuan nasib sendiri hingga dan termasuk memisahkan diri, Lenin juga menekankan kaum Marxis harus menarik garis demarkasi yang jelas antara mereka dan kaum nasionalis borjuis-kecil dan kaum Demokrat:
“Kedua, di negara kita, perjuangan yang tak terelakkan untuk memisahkan demokrasi proletar dari demokrasi borjuis umumnya dan demokrasi borjuis-kecil – sebuah perjuangan yang secara fundamental sama di setiap negara – sedang dilancarkan di bawah kondisi kemenangan teoretis Marxisme di Barat dan di negara kita. Oleh karena itu, bentuk perjuangan ini bukanlah perjuangan untuk Marxisme, melainkan perjuangan untuk atau melawan teori-teori borjuis kecil yang tersembunyi di balik frasa-frasa ‘semi-Marxis’.” (The national programme of the RSDLP, 1913)
Kita akan selalu membela hak bangsa tertindas melawan para penindasnya. Namun, ini tidak berarti kita harus menerima gagasan borjuis dari bangsa-bangsa tertindas atau menundukkan kepentingan kelas buruh di bawah tuntutan kelas borjuis. Sebaliknya, tugas terutama kaum buruh bangsa tertindas adalah mengobarkan perjuangan tanpa henti melawan borjuasi nasional mereka sendiri, menyingkap demagogi mereka, dan melawan segala upaya untuk menundukkan kaum buruh bangsa tertindas di bawah kaum borjuis “mereka”.
Dalam The Right of Nations to Self-Determination, Lenin menulis: “Kaum borjuis selalu menempatkan tuntutan nasionalnya di muka, dan melakukannya secara kategoris. Namun, bagi kaum proletar, tuntutan-tuntutan ini tunduk pada kepentingan perjuangan kelas.”
Kaum Yahudi menderita penindasan paling mengerikan di Rusia Tsar. Mereka mengalami penindasan ganda – sebagai buruh dan juga sebagai orang Yahudi. Kaum Bolshevik memperjuangkan hak kaum Yahudi dan berjuang dengan senjata melawan pogrom anti-Semit. Namun, Lenin dengan tegas mengecam upaya kaum Bund Yahudi untuk mengklaim status khusus dalam Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia. Ia menolak hak mereka untuk berbicara secara eksklusif atas nama kaum buruh Yahudi. Ia mengatakan bahwa menerima klaim semacam itu berarti menyimpang dari kebijakan proletar dan menundukkan kaum buruh di bawah kebijakan kaum borjuis. Kaum Bund tersinggung dan menyerang Lenin karena dianggap kurang peka terhadap permasalahan kaum Yahudi, tetapi Lenin hanya mengangkat bahu. Prinsip-prinsip persatuan kelas proletar dan internasionalisme harus diutamakan daripada masalah kebangsaan.
Mari kita tarik analogi antara sikap Lenin terhadap penindasan nasional dan persoalan “politik identitas” secara umum, serta feminisme khususnya. Kaum feminis borjuis dan borjuis-kecil, seperti halnya kaum nasionalis borjuis, menuntut dengan tegas bahwa persoalan gender harus didahulukan di atas segalanya, dan bahwa perempuan kelas pekerja harus mengidentifikasi diri mereka pertama-tama dan terutama dengan semua perempuan lainnya, termasuk, dan terutama, perempuan intelektual borjuis dan borjuis-kecil yang “cerdas” yang mendominasi gerakan feminis.
Kita menjawab tuntutan mereka dengan cara demikian: kita akan berjuang membela hak-hak perempuan, namun kita tidak siap untuk tunduk pada kepemimpinan perempuan borjuis dan borjuis kecil yang mengejar kepentingan mereka sendiri dengan dalih memperjuangkan “semua perempuan”. Kepentingan perempuan kelas pekerja pada dasarnya sama dengan kepentingan laki-laki kelas pekerja. Semua tertindas dan dieksploitasi oleh para bankir dan kapitalis, dan bagi mereka tidak ada bedanya apakah para bankir dan kapitalis ini laki-laki atau perempuan.
Perempuan kelas pekerja tertindas bukan hanya sebagai pekerja, tetapi juga sebagai perempuan, dan dihadapkan pada problem-problem spesifik yang harus dikedepankan dalam tuntutan programatik kita. Namun, kita tidak dapat mempercayai elemen-elemen borjuis dan borjuis kecil untuk memperjuangkan tuntutan perempuan kelas pekerja, karena pada akhirnya kepentingan mereka tidak sejalan, dan saling bertentangan.
Dalam kasus masalah kebangsaan, antagonisme antara buruh dan tani di satu sisi dan kaum borjuis nasional di sisi lain seringkali diekspresikan dalam bentuk perang sipil. Bagaimana sikap kaum Bolshevik dalam kasus-kasus seperti itu? Mari kita ambil contoh spesifik dari Revolusi Rusia. Apakah gerakan nasional di Finlandia bersifat progresif atau reaksioner? Kaum Bolshevik memberikan hak penentuan nasib sendiri kepada bangsa-bangsa tertindas, termasuk Finlandia dan Polandia. Namun, itu baru separuh cerita. Di Finlandia, terjadi perang sipil antara kaum Bolshevik dan kaum Putih, dan kaum Putih ini berjuang di bawah panji kemerdekaan Finlandia.
Tidak ada keraguan sama sekali bahwa jika Bolshevik memiliki kekuatan militer yang cukup kuat, mereka akan mengintervensi Finlandia untuk mengalahkan kaum nasionalis borjuis dan mendukung kaum pekerja, dan kemenangan kaum pekerja Finlandia tidak akan mengarah pada kemerdekaan, tetapi masuknya Finlandia ke dalam Republik Soviet.
Trotsky pernah menulis bahwa nasionalisme kaum tertindas bisa menjadi “cangkang luar Bolshevisme yang belum matang”. Pernyataan itu sepenuhnya benar – dalam kasus-kasus tertentu. Namun, tidak selalu benar. Nasionalisme bangsa-bangsa tertindas bisa menjadi cangkang luar Bolshevisme yang belum matang; bisa juga menjadi cangkang luar fasisme yang baru lahir. Ini tergantung pada keadaan konkret.
Misalnya, seandainya perimbangan kekuatan berbeda, hak penentuan nasib sendiri bangsa Finlandia akan sepenuhnya tunduk pada kepentingan revolusi proletar internasional. Sayangnya, Republik Soviet belum memiliki Tentara Merah, dan Revolusi Finlandia ditumpas oleh kaum Putih. Dalam hal ini, akan sangat reaksioner untuk berargumen bahwa nasionalisme Finlandia adalah “cangkang luar Bolshevisme yang belum matang”? Dan banyak contoh serupa dapat dikutip.
Rasisme dan politik identitas
Amerika Serikat adalah negara yang sangat beragam, sebagian besar karena sejarah perang, penaklukan, dan perbudakannya yang panjang dan brutal. Di masa mudanya, kapitalisme Amerika sangat percaya akan dirinya sendiri dan masa depannya yang cerah. Ia mampu menyerap semua imigran yang datang. Ia Di Patung Liberty tertulis: “Berikan padaku rakyatmu yang lelah, rakyatmu yang miskin, dan rakyatmu yang berdesakan yang mendambakan kebebasan.” Ini telah berubah menjadi kebalikannya. Kemunduran kapitalisme Amerika yang sudah tua renta itu terekspresikan secara gamblang dalam kebijakan Donald Trump yang reaksioner, sempit, dan xenofobia. Kebijakan “America First” menandakan upaya untuk kembali ke kebijakan isolasionisme lama justru ketika AS mustahil melepaskan diri dari dunia luar, dan dengan demikian, dari krisis kapitalisme global.
Demagogi reaksioner Trump bertujuan untuk membingungkan kaum buruh Amerika Serikat dengan menyalahkan kaum imigran dan warga negara asing atas problem pengangguran dan kemiskinan. Rasisme menguat, dan kaum imigran dan non-kulit putih merasa semakin takut. Di antara lapisan-lapisan ini, gagasan “politik identitas” dapat menemukan gaung yang simpatik. Ini cukup bisa dimaklumi. Namun, seperti semua hal lainnya, gagasan yang benar ketika dibawa ke titik ekstrem justru berubah menjadi kebalikannya.
Di Amerika Serikat, ada sejarah “identitas” yang panjang yang mendahului gagasan “politik identitas”. Konsep identitas, dalam arti mengidentifikasi diri sebagai orang Irlandia-Amerika, Italia-Amerika, Yahudi-Amerika, dan sebagainya, digunakan untuk mendorong gagasan bahwa buruh Irlandia-Amerika harus mengidentifikasi diri mereka dengan atasan Irlandia-Amerika, pekerja Italia-Amerika dengan atasan Italia-Amerika, pekerja Yahudi-Amerika dengan atasan Yahudi-Amerika, dan, yang lebih baru, pekerja kulit hitam dan Latin dengan atasan kulit hitam. Ini digunakan secara reaksioner untuk memecah belah buruh berdasarkan etnis mereka dan dengan demikian melemahkan kelas pekerja secara keseluruhan.
Meskipun demikian, keinginan kaum muda kulit hitam untuk menegaskan identitas mereka dan merasa bangga akan identitas mereka merupakan reaksi yang wajar dan dapat dibenarkan terhadap rasisme yang telah melembaga selama beberapa generasi, yang telah merendahkan orang kulit hitam, merampas tempat mereka dalam sejarah dan budaya di tanah kelahiran mereka. Perasaan yang sama juga berkembang di antara masyarakat adat di Amerika Latin, yang, karena lelah dengan eksploitasi dan penindasan, merasa bangga menjadi penduduk asli dan ingin mempertahankan bahasa dan budaya mereka.
Kaum Marxis harus secara aktif menentang segala bentuk diskriminasi dan penindasan yang berdasarkan seks, etnis, atau identitas gender mereka. Kaum Marxis mengecam semua penindasan dan ketidakadilan yang diprovokasi oleh kapitalisme. Semua momok kapitalisme, mulai dari penindasan terhadap perempuan, hingga kerusakan lingkungan hidup, atau penindasan terhadap bangsa-bangsa kecil, memenuhi kita dengan kemarahan terhadap sistem kapitalisme. Kita berdiri di bawah panji “serangan terhadap satu adalah serangan terhadap semua”.
Marxisme adalah teori perjuangan yang komprehensif untuk pembebasan umat manusia, dan menempatkan kelas buruh di pucuk pimpinan perjuangan itu karena mereka adalah kelas sosial tertindas yang paling revolusioner, mereka memiliki peran khusus dalam produksi dan masyarakat, dan karena mereka adalah produk langsung sistem kapitalis. Peran utama kelas buruh dalam perjuangan melawan segala bentuk penindasan ini juga berasal dari kondisi kehidupan dan kerja mereka sendiri yang, dalam bentuk embrio, mengandung unsur-unsur masa depan masyarakat sosialis, yang menghapus pembagian ke dalam kelas-kelas sosial, menghapus penindasan satu bangsa oleh bangsa lainnya, menghapus penindasan manusia atas manusia lainnya dan, tentu saja, menghapus penindasan kaum perempuan oleh kaum laki-laki.
Solidaritas aktif ini sama sekali tidak kompatibel dengan gagasan “allyship” (persekutuan), yang muncul dari penekanan politik identitas pada keutamaan pengalaman subjektif. Karena diyakini bahwa hanya mereka yang pernah mengalami penindasan yang memahaminya dan mampu melawannya, mereka yang bersimpati terhadap penderitaan kelompok tertindas dan kelompok yang termarjinalisasi hanya diberi peran sekunder sebagai pendukung pasif.
Namun, politik identitas sebenarnya merugikan perjuangan perempuan, orang kulit hitam, imigran, masyarakat adat, dan kaum LGBT. Politik identitas memperdalam perpecahan rasial sementara mengklaim bahwa mereka sedang menjembataninya. Mereka mengekang kebebasan berbicara dan membuat debat rasional menjadi mustahil. Para aktivis borjuis-kecil yang fanatik menggantikan argumen dengan kecaman histeris, dan mengutuk siapa pun yang berani mempertanyakan “kepantasan politik” (political correctness) mereka. Suasana histeria pun tercipta.
Orang-orang ini mengira masalah politik dan sosial dapat direduksi menjadi masalah kelompok tertindas. Mereka tampaknya berpikir bahwa tuntutan keadilan berdasarkan warna kulit dan gender akan menyelesaikan semua masalah. Kenyataannya, masalah kaum minoritas tertindas merupakan cerminan dari kontradiksi kapitalisme yang mendalam, bukan penyebabnya. Dengan demikian, tuntutan-tuntutan ini mengalihkan perhatian dari masalah yang sebenarnya dan menebar kebingungan serta perpecahan yang tak berkesudahan. Orang-orang ini menuduh kaum Marxis mengabaikan perjuangan kaum tertindas. Mereka mengatakan bahwa kita sedang menunggu revolusi yang akan menyelesaikan semua masalah dan bahwa kita tidak memiliki solusi untuk problem-problem saat ini juga. Ini sama sekali tidak benar. Kita mengusulkan metode perjuangan kelas untuk melawan penindasan. Kita mengusulkan taktik massa militan melawan semua ketidakadilan. Para aktivis politik-identitas reformislah yang hanya mengutak-atik kuota dan hukum sambil membiarkan struktur kapitalisme tetap utuh. Mereka menebar kebingungan dan memecah belah masyarakat menjadi kelompok-kelompok yang semakin kecil, membuat mereka tak berdaya untuk melawan sumber penindasan dan eksploitasi yang sebenarnya. Kita hanya menjelaskan bahwa permasalahan kaum tertindas merupakan cerminan dari kontradiksi mendalam masyarakat kelas, dan sungguh utopis jika kita percaya bahwa permasalahan ini dapat diselesaikan sepenuhnya selama perbudakan kelas masih ada. Hanya persatuan terluas dari semua kaum tertindas dan tereksploitasi yang dapat melawan penindasan saat ini, dan mempersiapkan jalan untuk menggulingkan sistem kapitalis.
Interseksionalitas sebagai Politik perpecahan
Rasisme jelas merupakan isu penting dalam masyarakat kapitalis. Rasisme selalu digunakan oleh kelas penguasa untuk memecah belah dan melemahkan kelas buruh, mengadu domba satu kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya berdasarkan etnis, warna kulit, bahasa, dan sebagainya. Oleh karena itu, perjuangan melawan rasisme dalam segala bentuknya merupakan prioritas bagi kaum Marxis yang akan selalu berupaya mencapai persatuan maksimal kelas buruh dalam perjuangannya melawan Kapital.
Rasisme di Amerika Serikat merupakan salah satu isu perjuangan yang paling penting. Munculnya gerakan Black Lives Matter merupakan perwujudan keinginan jutaan rakyat kulit hitam untuk melawan kekerasan polisi, diskriminasi, dan rasisme. Ini sepenuhnya progresif dan harus didukung.
Kaum Marxis menentang rasisme dan kekerasan polisi, tetapi kita sama sekali tidak berkewajiban untuk menerima ideologi keliru – seperti interseksionalitas – yang tidak membantu perjuangan ini dan justru menghambat dan melemahkannya.
Jelas ada berbagai bentuk penindasan selain eksploitasi kelas, seperti rasisme, seksisme, homofobia, transfobia, dan sebagainya. Sebagai kaum Marxis, kita mengakui dan melawan segala bentuk penindasan. Permasalahan dengan interseksionalitas adalah ia menekankan apa yang memecah belah kita daripada apa yang menyatukan kita. Interseksionalitas fokus pada kombinasi tak-terbatas dari berbagai bentuk penindasan dan apa-yang-disebut “privilese” yang dimiliki setiap orang, dan berargumen bahwa sebagai akibatnya kita semua memiliki kepentingan yang saling bertentangan. Ini mengadu domba berbagai kelompok tertindas dan lapisan kelas buruh, alih-alih mendorong perjuangan kelas yang kolektif dan militan yang dibutuhkan untuk melawan penindasan dan mengakhiri eksploitasi kelas.
Menurut seorang teoretikus feminis interseksional terkemuka, Patricia Hill Collins, “semua kelompok memiliki tingkat penalti dan privilese yang berbeda-beda” dan “tergantung pada konteksnya, seorang individu mungkin menjadi penindas, anggota kelompok tertindas, atau sekaligus penindas dan tertindas”. Dia menggunakan contoh perempuan kulit putih yang menerima penalti karena gender mereka tetapi diistimewakan oleh ras mereka. Sudut pandang ini bermasalah karena mengatakan jika seseorang tidak mengalami bentuk penindasan tertentu maka mereka adalah penindas yang memiliki kepentingan untuk mempertahankan bentuk penindasan tersebut atas orang lain. Fokus pada individu sebagai pelaku utama penindasan ini hanya berfungsi untuk semakin mengatomisasi perjuangan kaum tertindas. Pada kenyataannya, tidak ada satu pun lapisan kelas buruh yang berkepentingan mempertahankan penindasan terhadap orang lain. Justru sebaliknya.
Alih-alih menyatukan seluruh kaum tertindas dalam perjuangan bersama melawan kapitalisme dan negara borjuis, kaum “interseksionalis” justru ingin memecah-mecah perjuangan menjadi bagian-bagian terkecil: mengadu domba perempuan kulit hitam dengan laki-laki kulit hitam, perempuan kulit hitam penyandang disabilitas dengan perempuan kulit hitam yang sehat jasmani, dst., dst. Dengan memecah-mecah penindasan seperti ini, mereka justru memecah belah gerakan, mengalihkan perhatian dari isu-isu utama, dan mempertentangkan berbagai kelompok tertindas satu sama lain.
Dengan demikian, setiap segmen yang terpisah didorong untuk memperjuangkan hak kami melawan hak kalian. Gerakan pun terpecah menjadi bagian-bagian yang semakin kecil. Sementara itu, kaum penindas yang sesungguhnya, yaitu para bankir dan kapitalis, para baron surat kabar dan kepala polisi, kaum reaksioner dan rasis, menggosok tangan mereka tersenyum dan menyaksikan dengan gembira gerakan ini menghabiskan energinya dalam berbagai pertikaian dan konflik yang konyol.
Gagasan interseksionalitas mendorong aktivis untuk menyerang aktivis lain dengan dalih urutan atau ranking mereka dalam “hierarki privilese”. Akibatnya, laki-laki kulit hitam dianggap “lebih istimewa” dibandingkan perempuan kulit hitam, dan seterusnya. Daftar ranking “hierarki privilese” ini begitu panjang dan tidak ada akhirnya. Sebagai konsekuensinya, gerakan teratomisasi menjadi ribuan fragmen. Alih-alih melawan musuh bersama, setiap segmen kaum tertindas didorong untuk fokus pada bentuk penindasan mereka sendiri dan menentang setiap segmen kaum tertindas lainnya.
Alih-alih perjuangan massa, beragam kelompok aktivis yang kecil ini hanya memperjuangkan isu-isu mereka sendiri secara terisolasi. Namun, masalahnya tidak berakhir di situ. Bila kita tarik semua ini sampai kesimpulan logisnya, tidak ada organisasi yang mungkin terbentuk karena setiap individu pastilah unik, dan memiliki pengalaman uniknya sendiri tentang kapitalisme. Semua pembicaraan tentang “sekutu” (allies) dan persatuan hanyalah kedok untuk mengaburkan pendekatan memecah-belah yang mereka anjurkan.
Salah satu contoh absurd yang muncul dari gagasan politik identitas dan interseksionalitas adalah kehebohan transfobia baru-baru ini oleh feminis radikal, seperti Julie Bindel, Germaine Greer, dan lainnya. Mereka telah melontarkan sejumlah komentar provokatif tentang perempuan transgender, yang pada dasarnya menuduh mereka “bukan perempuan sejati”. Ini merupakan cerminan obsesi politik identitas untuk mendefinisikan kategori seseorang. Lebih lanjut, alih-alih menyediakan sanggahan politik, kedua belah pihak justru merespons dengan boikot, no-platforming, protes, dan hooliganisme, di mana mereka membubarkan pertemuan pihak lain dan mencegah debat.
Jika benar setiap segmen kaum tertindas mengalami penindasan dengan cara yang berbeda, dapat dikatakan dengan validitas yang sama bahwa setiap individu juga memiliki pengalaman penindasan yang berbeda, sehingga tidak ada orang lain yang dapat memahami problem saya, yang merupakan milik pribadi saya. Argumen ini menyeret kita kembali ke rawa filsafat idealisme subjektif yang sudah dihancurkan secara komprehensif oleh Lenin dalam Materialisme dan Empirio-kritisisme. Idealisme subjektif yang melekat pada interseksionalitas terungkap dalam bentuk paling kasarnya dalam kutipan berikut oleh Patricia Hill Collins: “matriks dominasi yang menyeluruh menaungi berbagai kelompok, masing-masing dengan pengalaman yang berbeda-beda dengan penalti dan privilese yang menghasilkan perspektif yang parsial … Tidak ada satu kelompok pun yang memiliki sudut pandang yang jelas. Tidak ada satu kelompok pun yang memiliki teori atau metodologi yang memungkinkannya menemukan ‘kebenaran’ absolut.”
Mencampakkan sudut pandang kelas
Dalam artikel dan pidato dari para penganut “interseksionalitas”, jarang sekali ditemukan pembahasan tentang kelas, apalagi kelas buruh.
Kadang-kadang, dan ini sangat langka sekali, ketika kelas disebut, ia tidak diungkapkan dari sudut pandang Marxis, melainkan sebagai satu bentuk diskriminasi (“kelas-isme”) – hanya satu dari sekian banyak bentuk diskriminasi, dan sama sekali bukan yang terpenting. Kelas buruh bukan lagi penghasil segala kekayaan, yang dieksploitasi dalam proses produksi, melainkan hanya satu kategori lagi yang “didiskriminasi”. Sungguh menyedihkan para aktivis kiri ini yang telah sepenuhnya meninggalkan sudut pandang revolusi sosialis.
Alih-alih mencari akar penindasan dalam masyarakat kelas dan, di bawah kapitalisme, dalam dominasi ekonomi para bankir dan kapitalis, kaum “interseksionalis” mencoba menemukannya dalam perilaku sosial manusia dan bahasa yang mereka gunakan. Dalam pandangan mereka, penindasan perempuan saat ini bukanlah akibat perbudakan upah kapitalis, melainkan akibat penggunaan bahasa yang diskriminatif atau struktur organisasi yang diskriminatif.
Di negara-negara bekas jajahan, akibat kebangkrutan ideologis Stalinisme, berbagai kelompok atau tendensi mencari, setelah kemenangan revolusi Tiongkok dan Kuba, sebuah bentuk baru yang lebih orisinal, di luar “ortodoksi Marxis”, sebuah filsafat pembebasan yang baru. Filsafat baru ini berargumen bahwa kunci pembebasan negara-negara bekas jajahan adalah menyingkirkan pemikiran dan bahasa Eurosentris, dan ini kabarnya akan mengarah pada dekolonisasi epistemologis dan pemikiran. Ini akan menjadi dasar untuk memahami sejarah negara-negara ini secara ‘orisinal’, dan di sanalah pembebasan mereka akan dimulai. Pemikiran reformis dan reaksioner ini mengajak kita, bukan untuk melawan kaum borjuis dan bentuk-bentuk eksploitasi brutalnya, melainkan untuk menemukan, secara epistemologis, jalan-jalan baru ke depan.
Dari sudut pandang ini, yang dibutuhkan bukanlah revolusi yang bertujuan membangun kembali masyarakat secara radikal dari fondasinya, melainkan reformasi dan perubahan mentalitas serta perilaku manusia. Tujuannya bukanlah mengubah masyarakat, melainkan memperjuangkan aktualisasi diri secara individual dan secara abstrak – terlepas dari kenyataan bahwa selama kapitalisme masih ada, eksploitasi dan penindasan pun akan terus berlanjut.
Partai revolusioner adalah alat bagi kelas buruh untuk merebut kekuasaan dan mentransformasi masyarakat. Partai bukanlah replika mini dari masyarakat baru yang ingin kita perjuangkan, melainkan katalisator untuk menciptakannya. Jelas kita harus memerangi segala bentuk penindasan di dalam barisan dan aktivitas politik kita. Namun, kaum interseksionalis membayangkan mereka dapat membangun organisasi yang murni dan bersih dari perilaku diskriminatif, yang mampu menciptakan masyarakat yang bebas diskriminasi. Mereka tidak memahami bahwa organisasi mana pun akan berada di bawah tekanan masyarakat di mana ia bekerja. Misalnya, penindasan terhadap perempuan di bawah kapitalisme membuat kecil kemungkinan kita akan memiliki representasi yang setara antara laki-laki dan perempuan di sebagian besar organisasi selama kapitalisme masih ada. Kita harus menghilangkan semua hambatan bagi perempuan dan kelompok tertindas lainnya untuk berpartisipasi, tetapi kita tidak dapat menghilangkan tekanan dari masyarakat kelas, selama masyarakat kelas itu sendiri masih ada. Kaum interseksionalis akhirnya memfokuskan seluruh energi mereka untuk membangun prototipe utopis masyarakat masa depan dalam batasan-batasan masyarakat yang lama, alih-alih membangun organisasi yang benar-benar dapat mengakhiri masyarakat ini dan perilaku diskriminatifnya. Konsepsi idealis ini merupakan negasi total terhadap konsepsi masyarakat yang materialis dan dialektis. Konsepsi idealis ini juga ditemukan dalam berbagai bentuk “reforma” yang diajukan oleh sebagian gerakan ini: penggunaan “bahasa netral gender”, “pengasuhan anak netral gender”, dll. Dengan cara-cara tersebut, kaum “interseksionalis” membayangkan bahwa entah bagaimana akar penindasan dapat ditemukan dalam ide-ide buruk yang dapat dengan mudah “disingkirkan dengan pendidikan”, sebuah konsepsi yang sepenuhnya reformis dan utopis.
“Berbagai aliran feminisme”?
Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan berbagai gerakan massa melawan penindasan dan diskriminasi di banyak negara. Mulai dari gerakan Black Lives Matter yang menentang pembunuhan kaum muda kulit hitam oleh polisi, hingga referendum pernikahan sesama jenis di Irlandia, gerakan membela hak aborsi di Polandia, dan gerakan melawan kekerasan terhadap perempuan di Argentina, Meksiko, dan negara-negara lainnya. Gerakan-gerakan ini mencerminkan sentimen progresif, yang mulai mempertanyakan sistem secara keseluruhan. Kita harus bisa menghubungkan diri kita dengan gerakan-gerakan ini.
Di Spanyol, pemogokan 8 Maret dan gerakan melawan geng pemerkosa “La Manada” (kawanan serigala), yang melibatkan ratusan ribu bahkan jutaan orang, meledak di bawah panji feminisme. Di mata masyarakat luas, kata tersebut telah memperoleh arti “perjuangan untuk kesetaraan perempuan”. Namun, para pemimpin organisasi yang menyerukan “pemogokan feminis” 8 Maret adalah feminis dalam artian mereka menganut teori feminis. Mereka berpendapat bahwa perjuangan untuk pembebasan perempuan haruslah “transversal” (yaitu melintasi batas kelas dan politik), bahwa laki-laki paling banter hanya “sekutu” (ally) dan seharusnya tidak berpartisipasi dalam pemogokan, melainkan peran mereka seharusnya menggantikan perempuan yang mogok dalam pekerjaan mereka. Mereka juga mempromosikan gagasan bahwa eksploitasi perempuan di bawah kapitalisme terjadi dalam reproduksi tenaga kerja dan oleh karena itu kita harus memperjuangkan “upah untuk kerja rumah tangga”. Ketika gerakan perempuan menjadi gerakan massa, sebagian besar partisipan tidak akan mengetahui gagasan-gagasan feminis tersebut.
Dalam kondisi seperti ini, beberapa kamerad mengajukan ide bahwa kita harus mengadopsi kata “feminis” dan menyebut diri kita “feminis”. Kami rasa ini tidak benar atau perlu. Tentu saja, akan menjadi kesalahan politik yang serius jika kita memulai argumen dan intervensi kita dengan berpolemik tentang makna kata “feminisme”. Yang perlu kita lakukan, sebagaimana dalam intervensi apa pun dalam gerakan massa, adalah menggunakan aspek-aspeknya yang paling progresif dan revolusioner serta mengusulkan, dengan cara yang positif, program dan strategi kita sendiri. Kita harus berdebat, dengan cara yang bersahabat, melawan ide-ide yang keliru dan kontraproduktif yang diajukan oleh para pemimpin gerakan ini, sambil tetap terhubung dengan semangat revolusioner yang menginspirasi para partisipan gerakan massa ini. Inilah yang telah kita lakukan sejauh ini, di tempat-tempat seperti Meksiko, di Italia (di mana terdapat gerakan massa sekitar 8 Maret 2017), dan di Spanyol. Fakta bahwa kita tidak menyebut diri kita “feminis” bukanlah halangan bagi intervensi kita.
Banyak kaum muda menyebut diri mereka feminis, padahal sebenarnya dari sudut pandang Marxis mereka bukanlah feminis. Mereka mulai menyadari ketidaksetaraan dalam masyarakat, dan yang mereka maksud dengan menyebut diri mereka feminis adalah bahwa mereka menentang penindasan terhadap perempuan dan menginginkan masyarakat yang setara. Ini dapat menjadi titik awal untuk memenangkan mereka ke Marxisme.
Kaum feminis sering menyalahkan “patriarki” atas sebagian besar permasalahan masyarakat. Memang benar bahwa perbudakan perempuan merupakan bentuk perbudakan tertua, yang muncul bersamaan dengan dominasi kelas dan telah ada selama ribuan tahun. Hanya rekonstruksi fundamental masyarakat yang dapat mengakhiri perbudakan ini untuk selamanya. Namun, perubahan fundamental seperti itu hanya dapat diwujudkan melalui aksi revolusioner kelas buruh yang bersatu. Ini mensyaratkan persatuan kaum buruh perempuan dan laki-laki yang memperjuangkan emansipasi mereka sebagai sebuah kelas. Kaum feminis cenderung memandang patriarki sebagai struktur yang terpisah dari masyarakat kelas, yang mengarah pada kesimpulan tak terelakkan bahwa perjuangan untuk emansipasi perempuan terpisah dari perjuangan untuk membebaskan kelas buruh. Ini adalah gagasan yang reaksioner dan memecah belah, yang juga hadir, meskipun dalam bentuk yang kabur, di antara banyak orang yang menyebut diri mereka feminis Marxis dan feminis sosialis.
Emansipasi perempuan yang sepenuhnya hanya dapat dicapai melalui revolusi sosial, yang akan menghapuskan eksploitasi yang menjadi dasar penindasan perempuan. Apakah itu berarti kita mengabaikan perjuangan untuk kemajuan perempuan di bawah kapitalisme? Tentu saja tidak! Kita akan melawan bahkan manifestasi terkecil sekali pun dari diskriminasi dan penindasan perempuan. Itulah prasyarat untuk mencapai persatuan militan seluruh pekerja.
Terkadang kita temui argumen bahwa ada berbagai aliran pemikiran feminis, dan ini memang benar. Ada pula berbagai jenis anarkisme, dan beberapa darinya lebih dekat dengan Marxisme daripada yang lain. Namun, ini tidak mengubah fakta bahwa ada garis pemisah yang jelas antara Marxisme dan anarkisme.
Meskipun ada berbagai jenis anarkisme, semuanya memiliki prasangka yang sama. Cara memenangkan kaum anarkis yang lebih dekat dengan Marxisme bukanlah dengan berpura-pura bahwa perbedaan-perbedaan ini tidak ada, atau dengan berkata kepada kaum anarkis: “Lihat! Kita semua sebenarnya berjuang untuk hal yang sama!” Justru sebaliknya; cara untuk menjawab kebingungan seorang anarkis yang jujur adalah dengan menjelaskan perbedaan antara gagasan anarkisme yang membingungkan dan tidak ilmiah dengan gagasan Marxisme yang jelas dan ilmiah.
Pada masa Revolusi Rusia, sejumlah orang menyebut diri mereka “anarko-komunis”. Sebagai hasil dari pengalaman Revolusi, elemen-elemen proletar terbaik di antara kaum anarkis bergerak lebih dekat ke Bolshevisme dan berjuang berdampingan dengan kaum Bolshevik dalam revolusi dan Perang Sipil. Banyak dari mereka bergabung dengan Partai Komunis. Kecenderungan “anarko-komunisme” merupakan semacam rumah singgah atau transisi dalam gerakan menuju komunisme.
Dengan cara yang sama, mungkin saja ada beberapa jenis feminisme yang lebih progresif daripada yang lain. Kaum Marxis harus berjuang dengan segala cara demi emansipasi perempuan. Orang mungkin bertanya: apa itu feminisme? Ini adalah pertanyaan yang mustahil untuk dijawab secara definitif. Feminisme adalah istilah yang digunakan baik oleh kaum konservatif maupun liberal, kaum progresif, dan kaum kiri. Istilah ini digunakan untuk mengadvokasi invasi ke Afghanistan, dengan dalih melindungi hak-hak perempuan, dan pada saat yang sama orang-orang yang ingin memperjuangkan kesetaraan dan pembebasan umat manusia juga menggunakan istilah yang sama. Bahkan, di Spanyol, partai penguasa sayap kanan juga mengenakan pita feminis ungu pada 8 Maret untuk menunjukkan bahwa mereka “juga feminis”! Kamus Oxford mendefinisikan feminisme sebagai: “Advokasi hak-hak perempuan atas dasar kesetaraan jenis kelamin.” Definisi tersebut menunjukkan masalah utama dari istilah tersebut, bahwa dari perspektif kelas istilah tersebut tidak mengatakan apa pun.
Paling banter, semua feminisme memiliki satu kesamaan, yakni mereka tidak memberikan jawaban apa pun tentang bagaimana penindasan muncul dan dengan demikian bagaimana penindasan dapat diperangi dan dihapuskan. Berbagai aliran feminisme mengajukan solusinya sendiri-sendiri. Feminisme menyiratkan bahwa entah bagaimana kita dapat menghapus penindasan terhadap perempuan sebelum menghapus akar penindasan ini: kapitalisme dan masyarakat kelas secara umum. Alih-alih memperjelas, ia mengaburkan garis kelas. Semua feminisme hanya melihat gejala dan bukan akar penyebabnya. Sebagai Marxis, kita harus menyatakan apa adanya. Kita membutuhkan garis demarkasi yang jelas terhadap feminisme. Ini bukan karena kita tidak memperjuangkan “hak-hak perempuan atas dasar kesetaraan jenis kelamin”, yang tentu saja kita lakukan, tetapi karena bahkan feminisme “terbaik” pun hanya menciptakan kebingungan dan menganjurkan persatuan lintas-kelas.
Oleh karena itu, tidak masuk akal untuk mendeklarasikan diri kita sebagai feminis Marxis. Ini justru kontraproduktif, dan tidak membantu memperjelas isu yang ada bagi kaum muda yang jujur yang menyebut diri mereka feminis. Sebaliknya, kita harus menjelaskan secara terbuka mengapa kita bukan feminis, guna membantu mereka ke jalan menuju Marxisme. Dengan demikian, kita juga tidak menciptakan jembatan bagi ide-ide borjuis kecil, non-kelas, dan idealisme filosofis untuk menyusup ke dalam barisan Marxis.
Meskipun kita tidak menyatakan diri sebagai feminis, kita tidak boleh memberi kesan bahwa kita sama sekali tidak peduli terhadap kegeraman yang dirasakan oleh massa perempuan kelas buruh yang menderita baik dalam posisi mereka sebagai buruh maupun perempuan di bawah kapitalisme. Kita juga tidak boleh mempercayai gagasan keliru bahwa kaum Marxis menunda perjuangan pembebasan perempuan sampai ke masa depan sosialis yang masih jauh. Di bawah panji feminisme, terlepas dari segala kontradiksi dan keterbatasannya, ada generasi perempuan baru yang sedang bergerak melawan kondisi penindasan saat ini. Berangkat dari situasi konkret ini, dan menyadari potensi revolusionernya, kita harus menemukan cara untuk menghubungkan penindasan perempuan dengan kondisi konkret yang muncul di bawah era kemunduran kapitalisme.
Demikian pula, ketika bekerja sebagai kaum revolusioner di serikat buruh, kita berpartisipasi dalam perjuangan sehari-hari buruh, sembari menuntut serikat buruh yang tangguh dan kebijakan sosialis. Demikian pula, kita harus berpartisipasi dalam setiap gerakan massa perempuan, berupaya mendorong gagasan yang paling militan dan menghubungkan tuntutan-tuntutan mendesak mereka dengan kebutuhan akan perubahan fundamental dalam masyarakat. Merupakan kewajiban kita untuk menjembatani transisi antara aspirasi demokratis perempuan dan perjuangan mereka untuk kesetaraan dengan gagasan perjuangan bersama seluruh buruh dalam melawan sistem kapitalisme yang menindas, dengan menekankan perlunya persatuan untuk menghantarkan pukulan telak terhadap kapitalisme, yang selalu berupaya memecah belah kelas tertindas untuk melanggengkan dominasinya.
Dengan mengatakan kita seorang “feminis Marxis”, kita justru menyiratkan bahwa gagasan Marxisme tidak mencakup perjuangan untuk kesetaraan. Memang benar bahwa Stalinisme tidak. Namun, sebagaimana kita berjuang melawan Stalinisme untuk merebut kembali legasi Marxisme, kita juga harus melawan gagasan feminisme. Kita berpendapat bahwa Stalinisme bukanlah Marxisme, dan rezim birokrasi Stalinis bukanlah Sosialisme, dan dengan cara yang sama kita harus menekankan bahwa pandangan Stalinis tentang perempuan, homoseksualitas, dll. tidak memiliki kesamaan dengan Marxisme.
Secara definisi, kategori “perempuan” mencakup perempuan dari semua kelas – kelas-kelas yang memiliki kepentingan yang tak terdamaikan. Karena feminisme mengaburkan perbedaan dan kontradiksi kelas yang menentukan ini, maka feminisme tidak dapat didamaikan dengan Marxisme, yang dimulai dengan analisis kelas. Jika kita ingin memenangkan kaum muda feminis yang sedang bergerak menuju Marxisme, ini hanya dapat dilakukan dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip kita. Kita harus berulang kali menekankan bahwa emansipasi perempuan sepenuhnya hanya dapat dicapai melalui persatuan kelas dan revolusi sosialis. Ada banyak orang yang menyebut diri mereka feminis karena mereka membela hak-hak perempuan. Kaum Marxis juga membela hak-hak perempuan, meskipun kita bukan feminis. Kita perlu menjelaskan dengan cara yang bersahabat bahwa kita tidak menentang perjuangan mereka, justru sebaliknya, kita mendukung hak-hak perempuan, tetapi kita percaya bahwa hak-hak tersebut dapat dicapai melalui perjuangan melawan kapitalisme, bukan dengan memecah belah kelas buruh. Pada saat yang sama, kita harus berdiri di garis depan dalam setiap perjuangan melawan diskriminasi dan ketidaksetaraan, berjuang bahkan untuk tuntutan terkecil yang dapat memajukan kesetaraan dan menentang segala bentuk penindasan atau diskriminasi, seperti:
1) Pekerjaan untuk semua orang, dengan upah yang sama untuk pekerjaan yang bernilai sama.
2) Penghapusan kebijakan penghematan (yang secara tidak proporsional berdampak pada perempuan, memotong upah mereka dan memaksa mereka melakukan lebih banyak pekerjaan rumah tangga, merawat anak-anak dan orang tua untuk menutupi terpangkasnya pelayanan sosial)
3) Hak aborsi
4) Pelayanan kesehatan gratis dan berkualitas untuk semua, termasuk akses gratis dan terbuka ke klinik keluarga berencana, klinik aborsi, dan pusat layanan kekerasan dalam rumah tangga
5) Cuti orang tua yang dibayar penuh
6) Program besar-besaran pembangunan rumah sosial
7) Jaringan luas penitipan anak berkualitas tinggi, yang mencakup jam kerja
8) Perawatan lansia gratis dan berkualitas tinggi, baik di rumah maupun di luar rumah
9) Penyediaan makanan dan jasa binatu gratis
10) Kantin gratis dan berkualitas tinggi di tempat kerja dan sekolah
11) Menentang dan melawan kekerasan terhadap perempuan
Namun, prasyarat bagi keberhasilan perjuangan ini adalah persatuan buruh laki-laki dan buruh perempuan sebagai satu kelas, yakni kelas buruh. Garis demarkasi fundamentalnya adalah Marxisme menjelaskan masyarakat dalam konteks kelas, bukan gender. Pembagian paling mendasar dalam masyarakat adalah antara buruh dan kapitalis, antara yang tereksploitasi dan yang mengeksploitasi. Bahwa ada beragam penindasan lainnya juga benar. Namun, pada akhirnya, tidak satu pun dari penindasan ini dapat diselesaikan di bawah kapitalisme.
Seperti halnya isu-isu lain (upah, pensiun, perumahan, kesehatan, kondisi kerja), perjuangan sehari-hari untuk reforma di bawah kapitalisme adalah satu-satunya cara untuk memobilisasi dan mengorganisir kelas buruh dalam persiapan untuk menggulingkan kapitalisme, di mana kaum buruh perempuan akan memainkan peran yang sangat penting.
Kita tentu saja menyambut baik kenyataan bahwa ada feminis yang mulai memahami keterbatasan feminisme. Namun, tren positif ini hanya dapat memiliki signifikansi sebagai tahap transisi yang pada akhirnya mengarah ke sudut pandang kelas yang revolusioner secara konsisten. Emansipasi perempuan sepenuhnya akan tercapai melalui kemenangan revolusi sosialis, atau tidak akan tercapai sama sekali.
“Radikalisme Terminologis”
Alih-alih perjuangan sejati untuk kesetaraan, kita ditawari kuota artifisial. Alih-alih perjuangan untuk emansipasi dengan merombak masyarakat secara revolusioner, kita ditawari “kepantasan politik”. Ini berujung pada perdebatan remeh-temeh yang tak ada habis-habisnya tentang bahasa dan semantik: larangan menggunakan kata ini atau itu, perlunya mengubah “bahasa berbasis gender”, dan seterusnya.
Sesuai dengan spirit “narasi” postmodernis yang menggantikan Perbuatan dengan Kata-kata, orang-orang yang menyebut diri mereka “Kiri” dan bahkan “Marxis” telah menghabiskan banyak waktu melakukan akrobat verbal untuk mengubah bahasa, menetralkan bentuk maskulin dan feminin, yang berakhir dengan mutasi seperti “compañer@s” dalam bahasa Spanyol, “compagn*” dalam bahasa Italia, dan seterusnya. Permainan bahasa semacam ini sama sekali tidak memajukan perjuangan emansipasi perempuan, orang kulit hitam, atau siapa pun. Ini adalah tokenisme yang paling vulgar dan konyol.
Dalam Ideologi Jerman, Marx dan Engels sudah membahas gagasan yang sama ini, yang mengatakan bahwa dengan mengubah kesadaran individu kita dapat mengubah kondisi material, dan bahwa untuk melakukan revolusi, kita perlu “mendidik” orang terlebih dahulu:
“Baik untuk memproduksi kesadaran komunis dalam skala massal, maupun untuk keberhasilan perjuangan itu sendiri, perubahan manusia dalam skala massal, pada hakikatnya, adalah perubahan yang hanya dapat terjadi dalam gerakan praktis, yakni dalam revolusi; revolusi ini diperlukan, bukan hanya karena kelas penguasa tidak dapat digulingkan dengan cara lain, tetapi juga karena kelas yang menggulingkannya hanya dapat berhasil membersihkan dirinya dari semua kotoran zaman dan menjadi siap untuk mendirikan masyarakat baru melalui revolusi.”
Obsesi kaum postmodernis terhadap bahasa membalikkan seluruh masalah ini. Mengubah bahasa tidak akan mengubah sedikitpun fakta penindasan yang sesungguhnya. Berpikir demikian menunjukkan pendekatan yang sepenuhnya idealis. Bahasa berubah dan berevolusi, mencerminkan perubahan di dunia nyata, dan bukan sebaliknya.
Berdebat kusir mengenai bahasa adalah kecenderungan tipikal dalam seminar universitas di mana orang-orang menghabiskan seluruh waktu mereka untuk berdebat tanpa henti tentang hal-hal yang tidak penting, seperti anjing yang mengejar ekornya sendiri. Penyair Jerman Goethe menulis: “Pada mulanya adalah Perbuatan.” Yang dibutuhkan untuk mewujudkan emansipasi perempuan adalah aksi massa melawan penindasan dan diskriminasi. Namun, aksi massa ini hanya dapat berhasil bila ada persatuan militan antara perempuan dan laki-laki kelas-buruh melawan kaum kapitalis yang kekuasaannya berdasarkan perbudakan terhadap semua buruh.
Tampaknya kaum borjuis-kecil yang “radikal” selalu menemukan hal baru untuk diributkan, misalnya apa yang disebut Teori Queer. Di sini bukan tempatnya untuk menganalisis teori ini secara detail. Ini akan kami kaji dalam dokumen dan artikel terpisah. Cukuplah untuk mengatakan bahwa Teori Queer ini adalah konsep yang sepenuhnya reaksioner yang berakar pada filsafat idealisme dalam bentuknya yang paling kasar. Konsep ini menebar perpecahan yang melemahkan perjuangan melawan penindasan dan mau tidak mau menguntungkan reaksi, terlepas dari niat baik mereka yang menganut gagasan ini.
Marxisme didasarkan pada filsafat materialisme – satu-satunya metode ilmiah sejati untuk menganalisis alam, masyarakat, dan perilaku manusia. Suka atau tidak, seks di dunia hewan (termasuk manusia) merupakan metode reproduksi yang normal. Reproduksi aseksual juga ada di dunia hewan, misalnya cacing tanah dan beberapa jenis ikan. Namun, reproduksi aseksual menghilang seiring perkembangan evolusi dan sama sekali tidak ada di antara mamalia.
Seks bukanlah sesuatu yang ditentukan atau diciptakan secara sadar oleh manusia. Seks merupakan produk evolusi. Gagasan bahwa seks dapat ditentukan secara artifisial oleh kehendak manusia adalah gagasan yang sembarangan, dan keliru secara filosofis maupun ilmiah.
Pembagian seksual yang fundamental adalah antara laki-laki dan perempuan. Pembagian ini secara alami ditentukan oleh proses reproduksi. Ini pada gilirannya membawa di dalamnya benih pembagian kerja, yang pada tahap tertentu menjadi dasar pembagian kelas dalam masyarakat. Penaklukan perempuan di bawah laki-laki, yang diekspresikan dalam hubungan keluarga patriarki, bertepatan dengan awal mula masyarakat kelas, dan baru akan dihapuskan setelah penghapusan masyarakat kelas itu sendiri.
Kaum Marxis memperjuangkan emansipasi sejati bagi perempuan dan semua lapisan masyarakat tertindas lainnya. Namun, emansipasi tidak dapat dicapai hanya dengan membayangkan bahwa gender tidak ada. Seseorang dapat membayangkan dirinya menjadi apa pun yang diinginkannya. Namun pada akhirnya, seseorang terpaksa menerima realitas material dan bukannya rekaan mental filsafat idealisme.
Di antara varian Teori Queer yang tak terhitung jumlahnya, aneh dan menakjubkan (pada kenyataannya, ini bukanlah teori), tampaknya ada satu benang merah: pertama, teori ini menyajikan gender (dan bahkan seks) sebagai konstruksi sosial semata, yang menyangkal semua aspek biologis dan material. Langkah selanjutnya adalah menciptakan dalam imajinasi beragam gender yang jumlahnya hampir tak-terbatas, yang darinya setiap orang bebas memilih.
Kita tidak menyangkal fakta bahwa selain laki-laki dan perempuan, terdapat bentuk-bentuk peralihan, yang telah dikenal sejak lama. Di Amerika pra-Columbus, orang-orang seperti itu dianggap sebagai kelompok sosial khusus dan diperlakukan dengan hormat.
Ilmu pengetahuan modern memungkinkan orang untuk mengubah jenis kelamin mereka, dan ini seharusnya tersedia bagi siapa pun yang membutuhkannya. Jelas kami sepenuhnya menentang segala bentuk diskriminasi dan intoleransi terhadap kaum transgender. Kami juga tidak menentang siapapun yang mengidentifikasi diri mereka sesuai dengan keinginan mereka. Namun, dengan menyajikan ini sebagai cara untuk mengubah masyarakat, kita berakhir dengan gagasan (yang sangat menguntungkan kelas penguasa) bahwa emansipasi hanyalah soal pilihan gaya hidup pribadi.
Kita melihat dampak negatif dari hal semacam ini dalam perpecahan yang buruk dan perseteruan sengit antara aktivis feminis radikal dan aktivis trans. Perkembangan semacam itu tidak dapat dikatakan mendukung perjuangan melawan penindasan dalam arti, bentuk, atau wujud apa pun. Perkembangan tersebut sepenuhnya reaksioner dan harus diperangi.
“Identitas” dalam gerakan buruh
Kaum Marxis memperjuangkan emansipasi perempuan dan akan membela setiap langkah progresif – bahkan bila ini hanya parsial saja – yang dapat memperbaiki status perempuan, bahkan dalam batasan sistem kapitalis saat ini. Namun, kami akan memperjuangkannya dengan metode kami sendiri, yaitu metode perjuangan kelas proletar.
Kami menunjukkan bahwa pada akhirnya, emansipasi perempuan yang sejati dan penuh hanya dapat diwujudkan melalui transformasi masyarakat yang menyeluruh, yaitu melalui revolusi sosialis. Namun, prasyarat untuk ini adalah kelas pekerja harus bersatu dan sadar akan tugas-tugas revolusionernya.
Kaum Marxis melawan segala bentuk penindasan atau diskriminasi. Namun dalam melawan penindasan dan diskriminasi, kita tidak boleh lupa bahwa tujuan utama kita adalah memperjuangkan sosialisme, dan itu berarti, di atas segalanya, mempertahankan persatuan kelas buruh. Kita memperjuangkan persatuan kelas buruh, di atas segala perbedaan gender, etnis, bahasa, atau agama. Apa pun yang dapat menjaga persatuan buruh dan meningkatkan kesadaran kelas mereka adalah progresif. Apa pun yang cenderung memecah belah buruh, apa pun alasannya, adalah reaksioner dan harus diperangi. Inilah poin yang harus kita tekankan. Penindasan terhadap perempuan – dan khususnya penindasan terhadap perempuan kelas-buruh – serta kebusukan kapitalisme lainnya, seperti perusakan lingkungan atau penindasan nasional, merupakan bagian integral dari kapitalisme. Kapitalisme mensyaratkan perbudakan domestik terhadap perempuan kelas buruh; kapitalisme berarti kehancuran planet ini demi profit korporasi multinasional; dan kapitalisme tidak dapat terwujud tanpa perbudakan bangsa-bangsa kecil oleh kekuatan-kekuatan imperialis untuk menjarah sumber daya mereka dan memastikan hegemoni mereka. Oleh karenanya, satu-satunya cara untuk mengakhiri semua kejahatan ini adalah melalui transformasi sosialis masyarakat, yang dipimpin oleh kelas buruh.
Birokrasi gerakan buruh telah belajar bagaimana mengadu domba berbagai kelompok pekerja, yang memungkinkan perbedaan upah antar berbagai lapisan pekerja. Para pemimpin serikat buruh, yang menginginkan kehidupan yang nyaman dan kompromi dengan kapitalis, mengkhianati kelompok pekerja tertentu dengan imbalan konsesi bagi kelompok lain. Di semakin banyak negara, “diskriminasi positif” secara sistematis digunakan oleh birokrasi untuk mengisi posisi-posisi penting dalam gerakan buruh dengan elemen-elemen karieris yang memanfaatkan gender atau etnis mereka untuk memajukan karier mereka sendiri, dibantu dan didukung oleh birokrasi sayap kanan, yang menyingkirkan kandidat-kandidat sayap-kiri.
Para birokrat ini begitu bersemangat memberikan “kursi khusus” bagi perempuan, orang kulit hitam, dll., demi kepentingan mereka sendiri. Birokrasi serikat buruh terutama menggunakan cara ini untuk mengurangi komposisi badan-badan terpilih. Mereka mengandalkan birokrat-birokrat karieris yang mewakili “kelompok khusus”, yang dengan demikian menapaki jenjang karier mereka melalui patronase tersebut. Dan mereka dengan senang hati mendukung kepemimpinan selama mereka diberi otonomi untuk mendorong “isu-isu” mereka. Alih-alih memberikan “perwakilan” kepada “kelompok khusus” ini, yang dicapai justru kepemimpinan yang bahkan kurang representatif, tidak dipilih berdasarkan posisi politik mereka yang sebenarnya, melainkan hanya untuk memenuhi kuota.
Penekanan pada gender atau etnis sebagai isu utama cenderung memecah belah masyarakat, bukan berdasarkan kelas melainkan pertimbangan lain. Konsekuensinya sangat negatif bagi kelas buruh. Bukanlah kebetulan para pemimpin serikat buruh sayap kanan, kaum reformis dan terutama reformis kiri, di mana-mana menggunakan “kepantasan politik” dan “politik identitas” untuk mengalihkan perhatian dari perjuangan kelas dan dari isu-isu nyata yang dihadapi kelas buruh. Mereka lebih fokus pada persoalan bahasa yang kita gunakan daripada melawan penindasan dengan perjuangan kelas yang militan.
Ide-ide beracun ini adalah senjata di tangan lapisan birokrasi serikat buruh yang paling reaksioner, yang peran utamanya adalah mengawasi kelas buruh dan membatasi cakupan serta efektivitas perjuangan kelas. Selain metode birokratik, ancaman hukuman disipliner, pemecatan aktivis buruh yang militan, dll., kini para birokrat ini memiliki metode baru: intimidasi dengan menggunakan “politik identitas”.
Di sebuah kongres serikat buruh di Inggris, para pendukung Politik Identitas mengajukan resolusi yang menyatakan bahwa serikat buruh harus secara otomatis menerima tuduhan pelecehan yang dilontarkan oleh seorang perempuan terhadap seorang laki-laki sebagai kebenaran, tanpa bukti lebih lanjut selain perkataan perempuan yang bersangkutan. Seorang delegasi laki-laki menentang resolusi ini: “Saya aktivis buruh. Bayangkan jika ada manajer perempuan yang ingin memecat saya. Dia bisa melakukan ini dengan mudah. Dia cukup menuduh saya melakukan pelecehan dan saya akan langsung dipecat, dan serikat buruh tidak dapat membela saya.” Pada kesempatan ini, resolusi tersebut ditolak. Namun, bahaya dari kebijakan semacam itu jelas terlihat.
Sampai sekarang, para pendukung gagasan Politik Identitas tidak pernah ditentang secara serius, dan ini bukanlah karena mereka telah memenangkan argumen mereka secara politik. Ini karena siapa pun yang berani menentang gagasan ini akan dicap rasis, misoginis, dan berbagai cap lainnya, dan orang pun jadi takut menyuarakan oposisi mereka. Ini telah menyuburkan perilaku hooligan dan kampanye fitnah, yang digunakan untuk menyerang aktivis sayap-kiri yang difitnah dengan tuduhan palsu. Oposisi mereka langsung ditenggelamkan oleh teriakan dan caci-maki dari para pendukung Politik Identitas, yang tak segan-segan melontarkan hinaan dan cacian paling keji terhadap lawan-lawan mereka.
Prinsip kuota pada kenyataannya merupakan bentuk kecurangan yang paling nyata. Banyak orang sayap-kanan yang terpilih dengan dalih mewakili kelompok minoritas tertentu. Namun, semua orang bungkam mengenai ini karena takut dituduh diskriminatif.
Di Inggris, Tony Blair menunjuk perempuan karieris sebagai anggota parlemen untuk memperkuat sayap kanan dan melemahkan sayap kiri. Ironisnya, kaum “Kiri”lah yang awalnya mendorong gagasan kuota ini sebagai bagian dari agenda diskriminasi positif mereka. Dengan demikian, mereka justru memberi senjata kepada sayap kanan. Sayap kanan Partai Buruh menggunakan isu kebangsaan untuk melemahkan Jeremy Corbyn, dengan mengusulkan dua kursi tambahan di NEC, satu dari Wales dan satu lagi dari Skotlandia, dengan alasan bahwa bangsa-bangsa ini harus diwakili. Secara kebetulan, Partai Buruh Skotlandia dan Wales dikendalikan oleh sayap kanan.
Kaum reformis kiri, yang selalu ingin membuktikan diri mereka dan menampilkan diri mereka sebagai yang paling feminis, bahkan lebih menekankan kebijakan diskriminasi positif. Mereka menuntut kuota dan perlakuan khusus bagi perempuan dan kelompok lainnya. Podemos, Momentum, dan lainnya bahkan melangkah lebih jauh dalam isu-isu ini, yang mencerminkan pengaruh borjuis kecil pada organisasi-organisasi tersebut. Salah satu konsekuensi reaksioner dari kebijakan kuota adalah memperdalam perpecahan dan persaingan di dalam kelas buruh.
Dalam periode krisis kapitalisme yang akut saat ini, dengan pemangkasan dan pengetatan anggaran yang dilakukan oleh semua pemerintah, selapisan kelas buruh yang terbelakang dapat dengan mudah kena makan ide-ide reaksioner. Mereka lalu menarik kesimpulan reaksioner bahwa problem mereka bukanlah disebabkan oleh kapitalisme, tetapi disebabkan oleh kaum minoritas, kaum imigran, kaum perempuan yang menuntut hak mereka, dll. Inilah basis propaganda gerakan sayap-kanan fasis yang paling reaksioner: kita tidak memiliki cukup pekerjaan atau tempat penitipan anak, atau akses ke universitas atau tunjangan sosial terbatas, dll., karena kuota yang diberikan kepada kaum minoritas. Semua ini membantu menyebarkan racun rasisme dan perpecahan di dalam kelas buruh. Selain itu, mereka yang dipilih berdasarkan kuota akan selalu diremehkan, dan apa yang mereka katakan dapat dengan mudah diabaikan dengan mengatakan, bahwa mereka tidak memiliki mandat tetapi hanya dipilih untuk memenuhi kuota.
Di Brasil, situasinya bahkan lebih parah. Hampir seluruh kaum Kiri telah menerima proposal reaksioner untuk membagi seluruh penduduk berdasarkan “etnis” untuk menerapkan kuota dalam universitas, dll. – sesuatu yang telah ditentang keras oleh kaum revolusioner di Brasil. Yang seharusnya kita perjuangkan adalah pendidikan, layanan kesehatan, perumahan, dll. untuk semua. Ini adalah tujuan yang dapat dicapai mengingat kekayaan yang ada dalam masyarakat, alih-alih menganggap sumber daya ini sebagai sesuatu yang langka dan kemudian memperjuangkan alokasinya secara proporsional.
Kaum revolusioner dengan tegas menentang apa yang disebut diskriminasi positif, kuota, dan berbagai variasinya. Kita akan bisa memastikan partisipasi maksimal kaum perempuan dan kaum minoritas dalam gerakan buruh dengan membuktikan dalam tindakan, bukan kata-kata, bahwa kita berjuang melawan segala bentuk penindasan dan diskriminasi, demi lapangan kerja untuk semua, upah yang setara untuk pekerjaan yang setara nilainya, dll. Hanya berdasarkan program demikianlah kita akan berhasil menarik lapisan masyarakat yang paling tertindas. Namun, itu berarti kepemimpinan harus berada di tangan para pejuang yang terbaik, baik pria maupun wanita, berkulit hitam maupun putih, heteroseksual maupun gay.
Tokenisme hampa politik identitas pertama kali diperkenalkan ke dalam gerakan buruh melalui serikat pekerja kerah putih, yang memiliki basis di antara lapisan kelas menengah. Mereka paling dekat dengan kaum intelektual dan mahasiswa kelas menengah. Akibat deindustrialisasi dan merger dari berbagai serikat buruh, lapisan-lapisan kelas menengah ini menyingkirkan kaum buruh. Golongan kelas menengah yang lebih fasih (atau setidaknya lebih lantang) mampu menginfeksi gerakan dengan ide-ide “trendi” mereka, yang mereka tetapkan sebagai norma umum dalam serikat.
Ini telah memengaruhi serikat buruh di banyak negara hingga taraf tertentu. Oleh karena itu, serikat-serikat ini kini menyediakan kursi khusus perempuan, LGBT, kaum kulit hitam, dan lain sebagainya. Kelompok-kelompok ini menggelar konferensi dan komite mereka sendiri-sendiri, masing-masing dengan birokrasi kecilnya sendiri. Mereka bersikeras bahwa hanya mereka yang dapat memutuskan isu-isu yang berhubungan dengan kelompok mereka. Dan selama mereka tidak mengganggu birokrasi serikat buruh, mereka diizinkan untuk menjadi raja dalam wilayah kekuasaan mereka sendiri. Kaum reformis kiri dan sektarian menerima ini, karena gagasan dan kebijakan mereka juga berkarakter borjuis kecil.
Reaksi terhadap feminisme liberal
Perempuan kelas-menengah sedang berlomba-lomba mencari peluang karier baru: menjadi bankir perempuan, CEO perempuan, uskup perempuan – atau bahkan Presiden Amerika Serikat. Ini adalah varian baru dari lagu lama kaum reformis: “Saya mendukung perbaikan kondisi kelas buruh – satu per satu, dimulai dari diri saya sendiri.”
Apakah masuknya perempuan ke dalam jajaran direksi bank akan membantu perjuangan buruh? Apakah atasan perempuan akan lebih baik kepada karyawannya dibandingkan atasan laki-laki? Sampai hari ini jawabannya masih negatif. Dan bagaimana kisah sukses Margaret Thatcher, Angela Merkel, atau Theresa May telah membantu perjuangan “saudara perempuan” mereka di pabrik masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
Perlahan-lahan, semakin banyak perempuan yang melek-politik mulai memahami aspek negatif feminisme. Mereka melihat bahwa alih-alih memerangi kapitalisme, “lean in feminism” (gagasan bahwa perempuan harus memperbaiki nasib mereka sendiri secara individual) mendorong perempuan untuk memikirkan gerakan hanya sejauh gerakan tersebut mengarah pada keuntungan individu bagi lapisan perempuan tertentu.
Dalam bukunya Why I Am Not a Feminist, Jessa Crispin menggambarkan feminisme sebagai merek yang dipopulerkan oleh para CEO dan perusahaan kosmetik, sebuah “perjuangan agar perempuan dapat berpartisipasi secara setara dalam penindasan terhadap kaum tak berdaya dan miskin.” Pernyataan itu memang tepat, meskipun perlu dicatat bahwa, terlepas dari judul bukunya, Jessa Crispin tetap menggambarkan dirinya sebagai seorang feminis.
The New Yorker berkomentar: “Buku Why I Am Not a Feminist hadir di saat sebagian perempuan liberal di Amerika mungkin siap untuk perubahan besar – tiba-tiba condong ke gagasan yang tidak mengagung-agungkan ‘penanda kesuksesan dalam kapitalisme patriarki … uang dan kekuasaan,’ seperti yang dikatakan Crispin. Tampaknya, ada hasrat yang semakin besar untuk feminisme yang lebih peduli pada kehidupan perempuan miskin daripada jumlah CEO perempuan.”
“Pandangan sebaliknya – bahwa feminisme tidak hanya secara umum kompatibel dengan kapitalisme, tetapi juga dilayani olehnya – tentu saja telah populer. Inilah pesan yang telah disebarluaskan oleh sebagian besar tokoh feminis selama sepuluh tahun terakhir: bahwa feminisme berarti perempuan yang memperoleh cukup uang untuk melakukan apapun yang diinginkannya. Crispin sangat tegas mengkritisi feminisme ini. Feminisme ini, menurutnya, berarti membeli jalan keluar dari penindasan dan kemudian melestarikannya; feminisme ini menganut model kebahagiaan patriarki, yang bergantung pada ‘penindasan terhadap orang lain’. Perempuan, yang telah dieksploitasi selama berabad-abad, secara tidak sadar telah memupuk hasrat untuk mengeksploitasi orang lain, menurut Crispin. ‘Begitu kita menjadi bagian dari sistem dan mendapatkan manfaat darinya setara dengan laki-laki, kita tidak akan peduli, sebagai sebuah kelompok, tentang giliran siapa yang akan dirugikan’.”
Krisis feminisme tercermin dalam pergeseran politik Amerika Serikat yang cepat ke arah kiri menuju sosialisme dan gagasan anti-kapitalis, terutama sejak terpilihnya Donald Trump. Karakter reaksioner politik identitas terekspos dengan jelas dalam pemilu AS 2016, ketika Hillary Clinton, perwakilan paling sempurna dari Wall Street dan kelas miliarder, mengajak perempuan untuk memilihnya “karena saya perempuan!”
Mantan Menteri Luar Negeri Madeleine Albright, seorang reaksioner dan penghasut perang, yang memperkenalkan Hillary Clinton di sebuah acara di New Hampshire, mengatakan: “Ada tempat khusus di neraka bagi perempuan yang tidak saling membantu!” Pada akhirnya, jutaan perempuan AS menolak seruan “politik gender” ini dan memalingkan punggung mereka ke Clinton serta Albright, lalu mendukung Sanders. Ini merupakan pukulan telak bagi para pendukung “Politik Identitas”.
Ini menunjukkan bahwa perempuan AS, ketika memilih kandidat pilpres, menganggap kebijakan dan gagasan kandidat jauh lebih penting daripada gender mereka. Mereka memang benar, meskipun sayangnya satu-satunya alternatif yang ada adalah Donald Trump, yang secara demagogis berpose sebagai kandidat “anti-kemapanan”. Jika saja Bernie Sanders maju sebagai kandidat, banyak yang akan memilihnya.
Legasi yang kita pertahankan
Kaum Marxis kerap dituduh mengabaikan masalah penindasan perempuan. Namun, sesungguhnya kaum Marxis telah memperjuangkan hak pilih universal sedari awal, bahkan sebelum aktivis suffragettes (aktivis kelas-menengah yang memperjuangkan hak pilih perempuan). Eleanor Marx berjuang dalam gerakan serikat buruh Inggris untuk kesetaraan upah bagi perempuan. Sejak 1848, Marx dan Engels telah menyuarakan tuntutan penghapusan keluarga borjuis, meskipun mereka menyadari bahwa ini tidak dapat tercapai dalam waktu singkat.
Begitu Partai Bolshevik berkuasa di Rusia pada 1917, mereka menerapkan program emansipasi perempuan paling komprehensif dalam sejarah, serta dekriminalisasi homoseksualitas, yang jauh lebih maju daripada apa pun yang pernah ada di dunia kapitalis pada masa itu. Dalam praktiknya, kaum Bolshevik menunjukkan bahwa penggulingan kapitalisme mampu menjamin hak perempuan dan kaum gay jauh lebih baik daripada sekadar perdebatan abstrak tentang penindasan secara umum.
Seperti yang ditunjukkan Trotsky:
“Revolusi telah mengambil langkah heroik untuk menghancurkan apa yang disebut ‘keluarga tradisional’ – institusi usang yang jenuh dan stagnan itu, di mana perempuan kelas pekerja menjadi budak domestik semenjak kecil hingga mati. Keluarga sebagai unit ekonomi kecil yang terisolasi akan digantikan, seturut rencana, oleh sistem perawatan dan akomodasi sosial yang komprehensif: rumah bersalin, tempat penitipan anak, taman kanak-kanak, sekolah, ruang makan sosial, binatu sosial, puskesmas, rumah sakit, sanatorium, klub olahraga, teater, bioskop, dll. Fungsi-fungsi rumah tangga akan diserap sepenuhnya oleh institusi-institusi masyarakat sosialis, yang akan menyatukan seluruh generasi dalam semangat solidaritas dan gotong royong dan akan membawa pembebasan sejati bagi perempuan, dan dengan demikian juga bagi setiap pasangan yang saling mencintai, dari belenggu yang telah merantai mereka selama ribuan tahun.”
“(…) Terbukti mustahil untuk menghancurkan keluarga lama dengan segera – bukan karena tekad yang kurang kuat, dan bukan karena keluarga telah begitu mengakar dalam benak manusia. Sebaliknya, setelah masa singkat ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan tempat penitipan anak, taman kanak-kanak, dan institusi-institusi serupa lainnya, kaum buruh perempuan, dan setelah mereka, lapisan petani yang lebih maju, mulai menghargai manfaat besar pengasuhan kolektif anak-anak serta sosialisasi perekonomian keluarga secara keseluruhan. Sayangnya, masyarakat [Rusia] terbukti terlalu miskin dan kurang berbudaya. Sumber daya negara tidak mencukupi untuk memenuhi rencana dan niat Partai Komunis. Kita tidak dapat “menghapuskan” keluarga; kita harus menggantinya. Pembebasan sejati kaum perempuan tidak dapat diwujudkan atas dasar “kemiskinan umum.” Pengalaman segera membuktikan kebenaran sederhana ini, yang telah dirumuskan Marx delapan puluh tahun sebelumnya.” (Revolusi yang Dikhianati, Bab 7)
Sekali lagi tentang pentingnya teori
Pertama dan terutama, kita berdiri di atas dasar gagasan-gagasan Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky, yang telah teruji oleh waktu dan tetap relevan serta valid di abad ke-21. Kita mendukung gagasan Internasional Pertama, dokumen-dokumen dari empat kongres pertama Internasional Ketiga (sebelum dimulainya degenerasi Stalinis), dan Program Transisional Trotsky. Gagasan-gagasan ini telah dikembangkan dan disempurnakan oleh tulisan-tulisan Ted Grant dalam beberapa dekade menyusul wafatnya Trotsky, yang juga merupakan bagian fundamental dari warisan ideologis kita.
Tak pelak lagi, beberapa kamerad yang baru saja bergabung dengan organisasi ini belum sepenuhnya memahami ide-ide Marxis. Ini tentu membutuhkan waktu dan bukanlah bahaya serius. Namun, akan fatal jika kita membiarkan, sekecil apa pun, penyimpangan borjuis-kecil. Jika seorang mahasiswa ingin bergabung dengan organisasi kita, kita akan mengatakan kepadanya: kamu boleh bergabung dengan organisasi ini, tetapi hanya jika kamu bersedia mengadopsi pandangan dan perspektif kelas buruh dan mendedikasikan diri untuk mempelajari Marxisme. Silakan tinggalkan prasangka-prasangka kamu sebelum masuk ke sini.
Marx menulis dalam suratnya kepada Engels (17-18 September 1879): “Jika orang-orang semacam ini, yang datang dari kelas-kelas lain, bergabung dengan gerakan proletar, syarat pertama yang harus dipenuhi adalah mereka tidak boleh membawa sisa-sisa prasangka borjuis, borjuis kecil, dsb., melainkan harus sepenuh hati menganut pandangan proletar.”
Gerakan Trotskis telah memiliki banyak pengalaman dengan hal semacam ini di masa lalu. Kita cukup merujuk pada Partai Buruh Sosialis Amerika (SWP) yang mengalami degenerasi total karena mengabaikan nasihat Trotsky. Mereka terjerumus ke dalam lingkungan mahasiswa, meninggalkan sudut pandang kelas, dan mengadopsi semua gagasan borjuis kecil yang trendi, feminisme, Nasionalisme Hitam, dll. Kini mereka ada dalam kondisi yang menyedihkan.
Kita harus mendidik seluruh organisasi mengenai masalah-masalah ini supaya tidak terjadi penyimpangan seperti itu. Kita tidak dapat menoleransi konsesi sekecil apa pun dalam organisasi kita. Membiarkan ide-ide borjuis kecil seperti itu masuk ke dalam organisasi akan menyebabkan kehancurannya sebagai kekuatan Marxis yang mampu memenangkan kelas pekerja untuk tujuan revolusi sosialis.
Lenin, seperti Engels, Marx, dan Trotsky, tidak pernah berbasa-basi ketika menyerang gagasan-gagasan asing, terutama gagasan kaum borjuis-kecil radikal. Kita harus menerbitkan ulang apa yang ditulis Lenin, Rosa Luxemburg, dan Clara Zetkin tentang feminisme. Mereka sangat jelas dalam hal ini. Kita harus secara terbuka menyatakan penolakan kita terhadap interseksionalitas dan semua varian “politik identitas” lainnya, yang jelas-jelas merupakan kecenderungan kontra-revolusioner. Tidak boleh ada ruang untuk ambiguitas: kita harus mengekspresikan diri kita dengan cara yang paling jelas dan tegas.
Kita ingin merekrut mahasiswa, tetapi mereka haruslah mahasiswa yang siap untuk secara radikal pecah dari ide-ide borjuis kecil dan menempatkan diri mereka dengan teguh pada sudut pandang kelas buruh. Mereka harus menghadap ke kelas buruh. Setiap kamerad mahasiswa harus menetapkan target untuk memenangkan setidaknya satu pekerja muda ke dalam organisasi. Trotsky menulis:
“Mahasiswa revolusioner hanya dapat berkontribusi jika, pertama-tama, ia menjalani proses pendidikan revolusioner yang ketat dan konsisten, dan, kedua, jika ia bergabung dengan gerakan buruh revolusioner saat masih menjadi mahasiswa. Pada saat yang sama, izinkan saya menegaskan bahwa ketika saya berbicara tentang pendidikan teori, yang saya maksud teori Marxisme.” (Trotsky, On Students and Intellectuals, November 1932)
Cara untuk memproletarisasi kamerad-kamerad mahasiswa kita adalah, pertama dan terutama, membekali mereka dengan landasan teori Marxis yang mendalam. Banyak mahasiswa memiliki banyak gagasan yang membingungkan yang telah mereka serap di lingkungan akademis yang buruk. Tugas kita adalah mengoreksi gagasan-gagasan keliru ini sesegera mungkin. Ini tidak akan bisa kita lakukan dengan pendekatan yang lunak. Pengalaman menunjukkan bahwa mahasiswa yang serius tidak akan tersinggung oleh pernyataan yang tegas. Mereka justru menghargainya. Orang-orang yang tidak dapat menerima argumen yang tajam sesungguhnya bukan tersinggung oleh “nada” kita, tetapi semata-mata karena mereka tidak mampu menanggalkan gagasan dan prasangka borjuis kecil mereka. Sejujurnya, kita tidak membutuhkan orang seperti itu.
Kita telah berhasil mempertahankan organisasi yang solid dan homogen secara ideologis. Ini adalah hasil dari pelatihan ideologi Marxis yang ketat selama puluhan tahun di antara kader-kader inti kami.
Namun, kesalahan kecil dalam metode, slogan dan formulasi yang keliru, dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Seperti kata Lenin, “satu goresan saja dapat menyebabkan infeksi.” Kita harus menggunakan polemik untuk meningkatkan level dan pemahaman politik agar dapat membangun organisasi kita di atas fondasi yang kokoh.
Pertumbuhan ekonomi selama puluhan tahun di negara-negara kapitalis maju telah menyebabkan degenerasi organisasi massa kelas buruh. Tendensi revolusioner terisolasi dan di mana-mana telah menyusut menjadi minoritas kecil. Selama itu, kita harus belajar berenang melawan arus.
Namun, klarifikasi gagasan, metode, dan tradisi sejati kita ini tidak dicapai dengan mudah atau tanpa perjuangan. Kita harus melalui serangkaian perpecahan. Alih-alih melemahkan organisasi kita, proses seleksi ini justru memperkuat kita. Untuk bisa berhasil di masa depan, kita harus pecah secara radikal dari tendensi oportunis dan revisionis. Sebagaimana dijelaskan Lenin, “sebelum kita dapat bersatu, dan agar kita dapat bersatu, pertama-tama kita harus menarik garis demarkasi yang tegas dan pasti.”
Dalam gerakan, kita adalah satu-satunya organisasi yang memiliki sikap serius terhadap teori Marxis. Pelatihan teori bagi para kader merupakan salah satu tugas kita yang paling mendasar dan mendesak. Inilah fondasi yang akan jadi landasan bagi sebuah organisasi revolusioner yang kuat dan berakar di kelas buruh.
Agustus, 2018
