Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

Meme Muka Jokowi dan Sawit Prabowo: Ketika Kelas Penguasa Menjadi Bahan Cemoohan

Dipublikasi 11 April 2026 | Oleh : M. Husein

Karl Marx dalam pengantarnya pada Kontribusi terhadap Kritik atas Ekonomi Politik berkata: “Bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaannya, tetapi keberadaan dalam masyarakatnya-lah yang menentukan kesadarannya.” Kata-kata Marx ini merupakan intisari dari materialisme sejarah, dimana gagasan, ideologi, termasuk juga di dalamnya budaya, merefleksikan basis material yang ada di masyarakat.

Apa yang dikatakan oleh Marx sangat berkaitan dengan apa yang bisa kita lihat sehari-hari saat kita membuka media sosial. Pada media sosial manapun, baik di Twitter, Facebook, Instagram, maupun Tiktok, kita melihat jutaan orang me-like, meng-share, dan me-repost video dan foto berupa meme mengolok-olok mantan presiden kita, Jokowi, dengan presiden yang sekarang, Prabowo. Ramainya meme ini menunjukkan apa yang sedang berlangsung di bawah permukaan.

Meme muka Jokowi selalu membawa gelak tawa ketika ia berselang di FYP kita. Orang-orang yang mukanya mirip Jokowi—bahkan bukan cuman orang, bisa juga binatang, tumbuhan, atau bahkan benda mati sekalipun—langsung dibalas gambar atau komentar ”Itu kan pria Solo!” atau perkataan, ”Hm… mungkin hanya perasaanku saja.” Sindiran, ledekan, bahkan hinaan terhadap ”Raja Jawa” yang mukanya khas tetapi pasaran itu langsung menjadi favorit pengguna media sosial. Bahkan meme ”Muka Jokowi” berkembang sehingga sekarang wajahnya ditempel di karakter-karakter pada budaya populer melalui Photoshop atau AI. Meme ini persis seperti yang terjadi dengan Charlie Kirk, seorang figur sayap kanan Amerika yang mati ditembak,. Wajahnya dipasang di berbagai tempat dalam fenomena yang disebut ”Kirkification”. Tak ketinggalan, fenomena tempel wajah Jokowi disebut ”Jokowification”.

Tidak mau kalah dengan pendahulunya, Presiden petahana Prabowo Subianto juga menjadi sasaran empuk penikmat meme paling pedas. Obsesinya dengan komoditas partikular bernama ’kelapa sawit’ ini langsung disantap, terlebih setelah komentarnya sebelum dan setelah banjir bandang di Sumatera mencuat di media massa. Foto-foto hasil AI pun disebar, yang menunjukkan kecintaan Prabowo, bahkan (atau terutama!) ”secara seksual”, dengan kelapa sawit. Kelapa sawit dipersonifikasi sebagai ”waifu” atau istri virtual yang dipinang oleh Prabowo dan kawanannya. Bahkan muncul istilah baru yaitu ”Nyawit”, yang berarti orang yang tergila-gila dengan sawit.

Tenarnya meme yang mengolok kedua presiden ini menunjukkan sifat non-konformis bahkan revolusioner dalam jiwa kaum muda sekarang. Kaum muda yang mendominasi media sosial ini, yaitu generasi yang lahir dari rentang akhir 1990-an hingga awal 2010-an (”Gen Z”) dilahirkan di tengah krisis organik kapitalisme. Sepanjang hidupnya Gen Z tidak pernah melihat adanya kestabilan, jaminan, serta kesejahteraan yang diberikan oleh sistem kapitalisme yang ada. Sebaliknya, apa yang dihadapi kaum muda adalah krisis berkepanjangan, di mana pendidikan mahal dan semakin mencekik, semakin tidak berkualitas, serta jarangnya pekerjaan yang tersedia—apalagi pekerjaan yang layak. Di saat bersamaan, kaum muda melihat penguasanya yang tak ada henti-hentinya melakukan hal-hal bodoh, tidak berguna, dan boros. Kebijakan penguasa tidak berdampak positif padanya, dan justru sebaliknya.

Kaum muda pun tidak melihat para penguasa ini sebagai orang-orang yang menentukan arah hidup mereka, tetapi hanya sekedar sosok yang sering muncul di media yang mereka konsumsi.

Kelas penguasa memahami fenomena ini dengan baik, dan bahkan terlalu baik. Kampanye Prabowo-Gibran memborbardir media dengan sosok Prabowo “Gemoy”, dan lagu “Oke Gas” yang disebar di mana-mana. Ini tentunya ditujukan kepada kaum muda, yang lebih tertarik dengan rupa dan suara yang bombastis, yang ”meme-able” atau gampang dijadikan meme, dibanding gagasan dan program dari politikus itu sendiri. Bagi banyak orang yang berpikiran sempit ini menandakan kebodohan massa kaum muda yang hanya tertarik dengan hal-hal yang lucu. Namun kita harus melihat ini lebih dalam—bagi kaum muda, politikus itu tak lebih dari sekadar figur pemanis kehidupan yang mengisi konten berita, karena mereka tidak merasakan efek atau pengaruh apa pun dari jajaran kelas penguasa ini.

Namun tentu saja ini menjadi senjata makan tuan. Ketika kelas penguasa membuka tabir penindasan yang ia lakukan kepada rakyat pekerja dan kaum muda, mereka tidak memiliki sandaran apapun untuk mendukung kelas penguasanya sendiri. Mereka bisa melihatnya dengan mata kepala yang jernih—tanpa pretensi apa pun terhadap negara atau instrumen kekuasaan kelas borjuis lainnya. Mereka melihat sosok kelas penguasa yang sudah bangkrut, yang korup, tamak, bengis, dan bodoh, tidak mampu lagi memimpin dan mengelola masyarakat pada umumnya.

Kaum muda tidak punya rasa hormat bahkan sejentik pun kepada Prabowo. Padahal selama bertahun-tahun Prabowo dan para pendukungnya menyiapkan karakter kepemimpinannya sebagai ”orang tegas” atau ”keras”, yang akan memimpin Indonesia dengan tangan besi. Namun apa daya, kampanyenya yang mencitrakan diri Prabowo sebagai Si Gemoy yang suka menari-nari lucu, malah menguatkan kesadaran yang menempel di massa bahwa Prabowo adalah presiden lembek. Kebijakannya selalu berputar 180 derajat dan meliuk ke sana-ke mari. Dukungannya kepada kaum imperialis membuat gemboran Prabowo mengenai ”antek-antek asing” tampak seperti kemunafikan.

Begitu juga dengan presiden terdahulu, Jokowi. Jokowi tidak memiliki legasi apa pun yang berpengaruh bagi kaum muda. Korupsi dan nepotisme yang ia lakukan sudah terang benderang, dan kaum muda melihatnya dengan jelas. Mereka tidak punya rasa hormat, segan, ataupun segala bentuk penghargaan terhadap Jokowi dan keluarganya, termasuk anaknya Gibran sang wakil presiden hasil nepotisme.

Jiwa pemberontakan dan keberanian kaum muda bisa dilihat dari Insureksi Agustus yang terjadi tahun lalu. Di seluruh Indonesia, puluhan ribu kaum muda turun ke jalan dan slogan ”Bubarkan DPR” melayang dalam seruan massa. Semangat ini berhasil dipadamkan oleh kekuatan reaksi dan para ”pemimpin gerakan”, namun ini bukan berarti apinya betul-betul sirna. Mereka masih membara, tetapi bukan dalam bentuk perlawanan terbuka, melainkan ditunjukkan oleh meme-meme lucu yang mereka sebarkan di media sosial. Meme-meme seperti ”wajah Jokowi” dan ”Sawit Prabowo” inilah bentuk semangat revolusioner kaum muda yang tidak punya rasa hormat apa pun kepada kelas penguasa, dan masih berlanjut hingga sekarang.

Kelas penguasa mencoba menekan kejahilan kaum muda ini dengan cara mewajibkan identifikasi umur untuk menggunakan media sosial. Pemerintah menetapkan remaja di bawah 16 tahun dilarang bermain medsos. Namun hal ini tidak menyelesaikan masalah, malah ia berpotensi memperdalam krisis legitimasi kelas penguasa di masyarakat. Kita ingat apa yang terjadi di Nepal, di mana akibat pemberontakan yang semakin meningkat, pemerintah pun memutus jaringan internet. Namun apa yang terjadi malah pemberontakan memuncak hingga terjadi revolusi. Pemerintahan yang berkuasa pun tumbang.

Meme–meme yang beredar di media sosial kita sekarang mungkin hanya menjadi penghibur di tengah kebusukan kapitalisme. Ia mampu memberikan warna di alam kehidupan yang menyiksa. Namun di saat bersamaan meme ini menjadi pengingat tentang musuh kita kelas borjuis yang berkuasa. Mereka dengan wajah meme-able-nya, serta mereka yang doyan sawit, adalah penghalang utama kita untuk mewujudkan masyarakat yang lebih baik, yaitu sosialisme. Tidak ada hormat bagi mereka yang menindas kelas pekerja dan kaum muda!

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    Perspektif Dunia 2025: Dunia Terjungkir Balik – Sistem Kapitalisme dalam Krisis
    Perspektif Politik 2025: Bersiap Untuk Revolusi
    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan
    ©2026 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme