Skip to content
Sosialis Revolusioner
Menu
  • Berita
  • Analisa
    • Gerakan Buruh
    • Agraria & Tani
    • Gerakan Perempuan
    • Gerakan Mahasiswa
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemilu
    • Hukum & Demokrasi
    • Imperialisme & Kebangsaan
    • Krisis Iklim
    • Lain-lain
  • Teori
    • Sosialisme
    • Materialisme Historis
    • Materialisme Dialektika
    • Ekonomi
    • Pembebasan Perempuan
    • Organisasi Revolusioner
    • Iptek, Seni, dan Budaya
    • Lenin & Trotsky
    • Marxisme vs Anarkisme
    • Sejarah
      • Revolusi Oktober
      • Uni Soviet
      • Revolusi Indonesia
      • Lain-lain
  • Internasional
    • Asia
    • Afrika
    • Amerika Latin
    • Amerika Utara
    • Eropa
    • Timur Tengah
  • Perspektif Revolusi
  • Program
  • Pendidikan
  • Bergabung
Menu

Mengikuti Pati, Pertempuran Jalanan Pecah di Jakarta dan Palu

Dipublikasi 27 August 2025 | Oleh : Moses Kabelen

Pada hari Kamis pertempuran jalanan pecah di dua kota, Jakarta dan Palu. Mengikuti Pati, demonstrasi ini meledak-ledak. Demonstrasi kali ini membawa tuntutan bubarkan DPR. Melebihi apapun demonstrasi ini menunjukkan kemarahan dan kemuakan terhadap kelas penguasa.

Takut akan demonstrasi ini menyebar dan menginspirasi kota-kota lain, siang hari buta polisi segera membubarkan demonstran dengan water cannon. Alih-alih bubar, ini segera menjadi bentrokan dan pertempuran terbuka di jalanan. Polisi dengan brutal memukul mundur demonstran.

Pertempuran jalanan berlangsung hingga tengah malam. Gas air mata menghujani setiap sudut kota. Palmerah dan Slipi menjadi medan pertempuran dan dipenuhi kabut gas air mata. Seperti kucing-kucingan, demonstran dengan sigap dapat memukul balik polisi. Demonstran sudah tidak lagi takut dengan gas air mata. Massa tidak lagi menyerah begitu saja. Kemuakan mereka lebih besar daripada ketakutan terhadap pentungan, gas air mata dan penangkapan.

Tidak hanya di Jakarta saja pertempuran terjadi. Di Palu, Sulawesi Tengah juga terjadi bentrokan serupa. Kaum muda – laki-laki dan perempuan – dengan heroik melawan polisi dengan membawa bendera One Piece. Sudah menjadi panji kehidupan mereka, bendera ini mewakili semangat zaman generasi muda hari ini. Mereka maju ke garis depan melewati gas air mata tanpa rasa takut. Pentungan tidak bisa melumat kemuakan terhadap kelas penguasa. Tekad kaum muda ini mengingatkan kita pada kaum muda Bangladesh yang telah menggulingkan Perdana Menteri Hasina pada tahun lalu.

Seperti biasa, media massa bungkam terhadap demonstrasi ini. Meskipun media sosial dibanjiri live streaming dan postingan massa yang tumpah ruah ke jalanan, paling banter mereka memberitakan ini dengan nada sinis dan meremehkan. Mereka mencoba memberi kesan bahwa demonstrasi ini bukanlah dari mahasiswa serta serikat dan partai buruh, yang berarti menurut mereka demo ini ‘tidak resmi’.

Kemuakan terhadap kelas penguasa tidak menunggu seruan dari serikat dan partai buruh serta para pemimpin mahasiswa saja. Serikat buruh kuning, partai buruh dan beberapa pemimpin mahasiswa sudah sangat dikenal birokratik dan mudah dikooptasi kelas penguasa. Inilah mengapa demonstrasi ini pecah tanpa mereka.

Stigma demonstrasi ‘tidak resmi’ ini adalah gagasannya kelas penguasa, karena apa yang ‘resmi’ dari sudut pandang mereka adalah demonstrasi yang gampang dilunakkan dan dikooptasi. Demonstrasi memang harus ‘tidak resmi’. Itu harus kurang ajar. Apa yang kurang ajar bagi kelas penguasa adalah baik dan resmi bagi kita. 

Seruan Bubarkan DPR yang menjadi slogan dari gerakan ini sangatlah maju. Beberapa kaum liberal di pinggiran menceramahi gerakan ini seolah-olah tidak ada alternatif setelah DPR dibubarkan. Mereka melihat bahwa kapitalisme dan demokrasinya adalah sesuatu yang tidak dapat diganggu-gugat. Dalam hal ini mereka membela keabsahan demokrasi dan keutuhan DPR.

Bagi mereka yang perlu dilakukan adalah memilih calon yang tepat. Tetapi dalam demokrasi borjuis hanya mereka yang kaya dapat menikmati demokrasi ini. DPR dan demokrasi borjuis ini memang harus dan layak dibubarkan.

Bagi kaum liberal setelah DPR dibubarkan, maka itu bisa menjadi kediktatoran. Tetapi pembubaran DPR dan demokrasi borjuis di tangan rakyat jelata tidak memiliki kesamaan dengan pembubaran DPR yang dilakukan oleh presiden. Bila rakyat membangun dewan-dewan rakyat mereka sendiri di seluruh kota-kota, desa-desa, kawasan industri itu akan sangat berbeda. Dewan-dewan rakyat akan menunjuk perwakilan mereka sendiri yang mewakili aspirasi rakyat jelata itu sendiri. Para perwakilan dewan rakyat ini akan tunduk pada penarikan setiap saat tanpa harus menunggu pemilu 5 tahunan. Gaji perwakilan akan diturunkan tidak lebih dari gaji rata-rata buruh. Kekuasaan dewan rakyat ini tidak sama dengan tirani lembaga eksekutif atau kediktatoran. Tetapi ini adalah kediktatoran dari mayoritas rakyat jelata yang selama ini ditindas oleh kediktatoran kelas penguasa. Gerakan yang pecah ini berpotensi menyulut api di kota-kota lain dan tanda-tandanya bahkan sudah ada. Selama artikel ini ditulis, pertempuran jalanan juga berlanjut ke Medan. Ada rapat-rapat dan konsolidasi yang tengah digalang di berbagai kota dengan tempo yang berbeda-beda. Kelas penguasa gemetar ketakutan melihat masifnya demonstrasi ini. Seperti yang diakui oleh bajingan sombong yang duduk di Komisi III DPR Ahmad Sahroni, dia ngumpet saat para demonstran di depan gedung DPR. Setiap letupan protes semakin membuat percaya diri dan memperkuat tekad perjuangan. Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan kemuakan ini. Hanya revolusi yang membubarkan DPR, serta semua instrumen demokrasi borjuis dan pada akhirnya sistem kapitalisme lah yang dapat mengakhiri penindasan, kemuakan dan kemarahan ini.

Ingin menghancurkan kapitalisme ?
Teorganisirlah sekarang !


    Dokumen Perspektif

    srilanka
    Manifesto Sosialis Revolusioner
    myanmar protest
    Perspektif Revolusi Indonesia: Tugas-tugas kita ke depan

    ©2025 Sosialis Revolusioner | Design: Newspaperly WordPress Theme