
Anti-Tesis Agustus: Kemandirian Kelas Buruh dan Pilpres 2019
Menjelang pilpres tahun depan, kita dihadapkan sekali lagi dengan pertanyaan mengenai apa sikap, strategi, dan taktik yang harus diambil oleh Gerakan Kiri hari ini.
Menjelang pilpres tahun depan, kita dihadapkan sekali lagi dengan pertanyaan mengenai apa sikap, strategi, dan taktik yang harus diambil oleh Gerakan Kiri hari ini.
Berikut kami sajikan artikel teoritik berseri, Apa Itu Marxisme bagi kaum buruh dan kaum muda revolusioner. Selamat membaca
Globalisasi yang disanjung-sanjung dapat menyelesaikan permasalahan, sekarang menjadi kebalikannya. Keberhasilan kapitalisme di masa lalu menjadi bencana di masa sekarang
Bertepatan dengan 30 Agustus, hampir dua dekade berlalu sejak referendum hak menentukan nasib sendiri berlangsung di Timor Leste kita semua harus bertanya apa yang telah dicapai oleh kemerdekaan ini?
Sekilas posisi wakil presiden dalam pemerintah tidaklah menentukan. Selama 5 tahun terakhir, siapa yang ingat dengan Jusuf Kalla atau wapres-wapres lainnya? Namun, proses penunjukan cawapres mencerminkan sesuatu yang lebih dalam.
Kaum buruh mesti memahami maksud dari program ini, yang tidak lain tidak bukan adalah cara pemilik modal untuk mengurangi biaya produksi
Selama penindasan, kemiskinan, dan segala kesulitan dalam kehidupan rakyat pekerja belum diselesaikan, selama itu pula kita akan saksikan lagi kaum muda revolusioner lagi dan lagi maju ke depan untuk membela yang tertindas.
Pemilu 2019 akan sekali lagi menjadi karnival demokrasinya kelas penguasa. Rakyat pekerja hanya jadi lumbung suara untuk memenuhi ambisi sempit dari politisi ini atau itu, dari partai ini atau itu. Rakyat pekerja dihadapkan dengan satu permasalahan yang sama yang telah merudungnya cukup lama: tidak adanya partai politik yang sungguh adalah miliknya dan mewakili kepentingannya. Partai macam apa yang seharusnya dibangun?
Kekacauan dalam menentukan sikap mengenai masalah kebangsaan akan menjadi bencana bagi Revolusi Rusia. Inilah mengapa masalah kebangsaan menempati posisi sentral dalam semua debat sejak 1903
Ribuan pelajar berusia antara 13 sampai 17 tahun keluar memenuhi jalan-jalan utama di Dhaka Ibu Kota Bangladesh selama lebih dari satu pekan terakhir. Mereka menuntut agar Pemerintah segera membuat regulasi tentang keamanan berkendaraan di jalan.