Kapital China di Nikel dan Berbagai Dampaknya
Dalam pertambangan nikel, negara tidak hanya mengatur, tetapi juga memfasilitasi kepentingan kapitalis.
Dalam pertambangan nikel, negara tidak hanya mengatur, tetapi juga memfasilitasi kepentingan kapitalis.
Tragedi seorang anak SD yang bunuh diri karena tak mampu membeli perlengkapan sekolah mengungkap kemiskinan struktural dan kegagalan sistem kapitalisme serta negara dalam menjamin kebutuhan dasar kelas pekerja.
Ada ketidakpercayaan terhadap ekonomi Indonesia. Kondisi bursa ini merupakan yang terendah setelah sempat runtuh pada 1998.
Harapan bahwa dunia multipolar akan mengurangi penindasan runtuh ketika “Doktrin Donroe” justru menormalisasi agresi baru, membuktikan bahwa selama kapitalisme tetap berdiri, konflik antar-imperialis akan terus berlangsung.
Selama kapitalisme dipertahankan, krisis upah dan kerja muncul sebagai masalah, karena akar persoalannya ada pada relasi kepemilikan dibawah struktur sistem.
Mereka menyalahkan rakyat pekerja untuk menutupi akar masalahnya. Sementara mereka sendiri di biang kerusakan lingkungan.
Mereka yang menikmati hasil dari kerusakan alam ini menyebutnya sebagai karunia Tuhan, tetapi bagi mayoritas kelas pekerja bencana ini adalah penderitaan yang tak terelakkan. Sistem kapitalisme hanya mementingkan keuntungan segelintir parasit kapitalis, dan mereka tidak peduli dengan dampaknya pada alam dan manusia.
Banjir di Sumatera Utara bukan ulah manusia, tetapi akibat kelas penguasa yang mendukung deforestasi demi keuntungan segelintir. Bencana ini mengorbankan lebih dari 600 nyawa, merekalah yang bertanggung jawab atas bencana ini.
Di balik kecepatan proyek kereta cepat, China mengambil peran sebagai kreditor raksasa, proyek ambisius ini justru memperlihatkan bagaimana imperialisme bergerak.
Meskipun sering disebut sebagai bencana alam, kenyataannya perubahan iklim yang kita hadapi saat ini adalah dampak langsung dari perusakan lingkungan yang dilakukan oleh kelas kapitalis, yang hanya mengejar keuntungan.