Bagaimana kaum revolusioner seharusnya menyikapi Perang Iran
Perang Iran menguji kejernihan politik gerakan kiri untuk melawan agresi imperialisme Amerika Serikat dan Israel tanpa menjadi pendukung rezim Iran.
Perang Iran menguji kejernihan politik gerakan kiri untuk melawan agresi imperialisme Amerika Serikat dan Israel tanpa menjadi pendukung rezim Iran.
Untuk memahami Iran hari ini, kita perlu kembali ke Revolusi 1979, sebuah ledakan perjuangan rakyat yang membuka kemungkinan besar bagi revolusi sosialis, tetapi berakhir tragis ketika kepemimpinan revolusioner gagal menuntaskan tugas sejarahnya.
Dalam gambaran yang lebih luas, hasil perang ini menegaskan melemahnya dominasi AS dan bergesernya keseimbangan kekuatan dunia.
Membuka gerbang kampus bagi rakyat pekerja adalah kebutuhan politik, karena tanpa kekuatan kelas pekerja gerakan mahasiswa mudah diredam rejim.
Ketika perang AS-Iran terus berlangsung tanpa kepastian akhir, rakyat pekerja di berbagai negeri dipaksa membayar mahal harga dari konflik yang tidak mereka ciptakan.
Tidak sedikit aktivis kiri yang tampak keras menolak Prabowo, tetapi lunak terhadap partai borjuasi oposisi lainnya. Sikap ini menunjukkan bahwa kritik politik mereka belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan kelas.
MBG yang awalnya dirancang sebagai warisan politik Prabowo kini berbalik menjadi beban pemerintahan akibat skandal, kritik publik, dan tekanan ekonomi.
Setelah hampir tiga dekade, Reformasi terbukti gagal karena tidak pernah membongkar fondasi ekonomi-politik yang melahirkan ketimpangan.
Said Iqbal dan para birokrat serikat bawahannya telah menyempurnakan seni menjinakkan dan mengendalikan gerakan buruh. Pelayanan ini sangat diperlukan bagi presiden.
Rupiah yang jatuh semakin dalam menjadi gambaran nyata kebuntuan kapitalisme Indonesia.