Reportase singkat aksi 27 Agustus: “Kita butuh Revolusi”
Massa tumpah ruah di depan gedung DPR. Aksi yang diinisasi oleh rakyat Pati telah menjelma menjadi titik rujukan bagi kemarahan seluruh rakyat atas krisis kapitalisme yang mencekik mereka.
Massa tumpah ruah di depan gedung DPR. Aksi yang diinisasi oleh rakyat Pati telah menjelma menjadi titik rujukan bagi kemarahan seluruh rakyat atas krisis kapitalisme yang mencekik mereka.
Revolusi Amerika 1776 menjadi inspirasi bagi proklamasi kemerdekaan, namun ada perbedaan yang mencolok: borjuasi Indonesia adalah pengecut yang tidak mampu menuntaskan revolusi nasional.
Ketika krisis kapitalisme semakin dalam, kelas penguasa mencari kambing hitam untuk mengalihkan kemarahan rakyat dari kemiskinan, pengangguran, PHK, dan mahalnya biaya hidup.
Pembebasan perempuan hanya dapat dicapai dengan menghapus perbudakan domestik melalui layanan publik, kemandirian ekonomi, dan transformasi sosialis.
Perang Iran menguji kejernihan politik gerakan kiri untuk melawan agresi imperialisme Amerika Serikat dan Israel tanpa menjadi pendukung rezim Iran.
Untuk memahami Iran hari ini, kita perlu kembali ke Revolusi 1979, sebuah ledakan perjuangan rakyat yang membuka kemungkinan besar bagi revolusi sosialis, tetapi berakhir tragis ketika kepemimpinan revolusioner gagal menuntaskan tugas sejarahnya.
Dalam gambaran yang lebih luas, hasil perang ini menegaskan melemahnya dominasi AS dan bergesernya keseimbangan kekuatan dunia.
Membuka gerbang kampus bagi rakyat pekerja adalah kebutuhan politik, karena tanpa kekuatan kelas pekerja gerakan mahasiswa mudah diredam rejim.
Ketika perang AS-Iran terus berlangsung tanpa kepastian akhir, rakyat pekerja di berbagai negeri dipaksa membayar mahal harga dari konflik yang tidak mereka ciptakan.
Tidak sedikit aktivis kiri yang tampak keras menolak Prabowo, tetapi lunak terhadap partai borjuasi oposisi lainnya. Sikap ini menunjukkan bahwa kritik politik mereka belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan kelas.